Sabtu, 13 April 2013

STUDI TENTANG ALUR CERITA NOVEL POHON-POHON RINDU KARYA DUL ABDUL RAHMAN DENGAN PENDEKATAN STRUKTURAL



STUDI TENTANG ALUR CERITA NOVEL POHON-POHON RINDU KARYA DUL ABDUL RAHMAN DENGAN PENDEKATAN STRUKTURAL


(Skripsi Nairawati, 2011, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yayasan Perguruan Islam Maros, dibimbing oleh Prof DR H.Kaharuddin, M.Hum dan Drs.Mappa Zubair, S.Pd, M.Pd.)

Ringkasan Hasil Penelitian:
Setelah melakukan penelitian terhadap novel Pohon-Pohon Rindu karya Dul Abdul Rahman menunjukkan bahwa alur yang digunakan dalam cerita ini ditinjau dari penggambaran peristiwa adalah alur maju. Dimana cerita berkembang secara berurutan dari peristiwa ke peristiwa secara teratur, mulai dari pembeberan awal, komplikasi, klimaks, dan penyelesaian cerita. Namun terlihat bahwa alur tersebut sangatlah tinggi sehingga kelihatan ada alur untuk melihat suatu pengenalan awal cerita, komplikasi, klimaks, dan penyelesaian. Cerita terus berjalan secara rata. Namun demikian, dapat dilihat perkembangannya dari konflik batin dan lingkungannya untuk menggambarkan suatu struktur alur dalam cerita.
Hubungan antara alur dengan tema cerita ini, dapat dikatakan sangatlah tepat dengan menggambarkan pengalaman pribadinya dengan dikelola oleh alur cerita dari peristiwa ke peristiwa secara beraturan.
Hubungan alur dan perwatakan dalam cerita dikatakan bahwa penggambaran hidup pelaku utama dalam cerita diwarnai dengan pemikiran yang tinggi dan begitupun dengan tindakan-tindakan yang berpengaruh pada pola pemikiran yang mengarah kepada perubahan nasib yang mengarahkan pola alur menjadi tinggi.
Dapat dikatakan bahwa ada benturan atau konflik yang nyata didalamnya untuk membedakan suatu perkembangan alur dari loncatan perkembangan. Dari perkembangan inilah dapat dilihat perkembangan alur dalam novel Pohon-Pohon Rindu ini, akan tergambar melalui ringkasan pemaparan dan pembahasan berikut:

1. Struktur alur dalam novel Pohon-Pohon Rindu
            Pada tahap pengenalan cerita dalam novel Pohon-Pohon Rindu, pengarang menggambarkan seperlunya tentang berbagai hal yang berhubungan dengan cerita, dari lingkungan, tokoh-tokoh yang terlihat di dalamnya, dan berbagai hal lain yang menggambarkan latar belakang cerita untuk proses selanjutnya.
            Dalam novel Pohon-Pohon Rindu, pengarang terlebih dahulu memperkenalkan suasana sekolah para tokoh.

“Masih dalam suasana orientasi penerimaan siswa baru di SMA Negeri Bikeru Sinjai Selatan, semua siswa baru tampak sungguh-sungguh mengikuti acara itu, sebab acara itu memang benar-benar pengenalan sekolah terhadap siswa dari jenjang SMP ke SMA.” (Pohon-Pohon Rindu, 2009: 5-6)


            Dalam novel Pohon-Pohon Rindu, pengarang memperkenalkan ceritanya dengan menggambarkan karakter pelaku utama ‘aku’ dan para pelaku lainnya, yaitu Anton, Dayat, Umar, dan Hutbah.

“Aku membuat striker  di ranselku bertuliskan ‘No Time For Love’, Anton anak kepala kampung menempelkan striker bertuliskan ‘No Problem’ sesuai dengan kepribadiannya yang cuek bebek, lain lagi dengan Dayat yang bapaknya imam kampung, ia merasa aman dan bangga dengan striker bertuliskan ‘100 % Muslim’ yang merasa alim meskipun di masjid selalu bikin ulah. Meski perokok berat, Umar biasanya merokok secara sembunyi-sembunyi di kantin sekolah, strikernya bertuliskan ‘No Smoking’ maksudnya agar guru BP Pak Chaeruddin tidak mencurigainya. Lain lagi dengan  Hutbah, tasnya ditempeli striker bertuliskan ‘Love is Blind’, kata-kata yang dia dapatkan dariku.” (Pohon-Pohon Rindu, 2009: 11)


            Selanjutnya diceritakan tentang pengalaman merayu perempuan oleh tokoh utama (aku, Beddu) melalui sepucuk surat atas nama sahabatnya (Hutbah), walaupun sebenarnya dia juga menyukai perempuan tersebut.

“Kala itu pula, aku belajar menerima pil pahit kenyataan. Merayu perempuan yang ayu dengan perasaan mendayu-dayu karena memang adalah ungkapan hati yang paling dalam, lalu terkirim dengan nama laki-laki lain yang tak punya perasaan, tapi apa boleh buat terkadang hatiku menjerit meratap. Inilah konsekuensi cowok yang tak cakep dan tak punya nyali seperti diriku.” (Pohon-Pohon Rindu, 2009: 28)


            Selanjutnya digambarkan kejadian yang membuat tokoh ‘aku’ (Beddu) merasa malu atas tindakannya yang salah menulis nama pada sepucuk surat yang diberikan kepada Nia. Dan Nia mengembalikan surat cinta tersebut dan menyebut Beddu sebagai kumbang jelek yang merindukan sang rembulan, dan itu pula yang menjadi pengalaman pertama Beddu dipermalukan di depan umum. Susah bagi Beddu untuk menggambarkan rasa malu tingkat tinggi tersebut, karena semua yang ada di sekitarnya seolah-olah menertawainya. Dari kutipan inilah muncul konflik.

“Ambil! Aku tak sudi bungaku dihinggapi kumbang jelek. Nia melempar surat cinta yang kutulis kemarin, tapi bukan ke arah Hutbah, melainkan ke arahku. Semua yang di depan perpustakaan itu mendadak menoleh ke arahku dengan pandangan bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi, aku tak bisa berkata apa-apa. Aku seperti mati suri.” (Pohon-Pohon Rindu, 2009: 35)


            Sejak kejadian nama yang salah dalam surat itu, Beddu benar-benar malu. Malu kepada teman-teman satu sekolah, terutama pada Hutbah dan Nia. Setiap waktu istirahat tiba, tidak ada lagi acara kantin-kantinan buatnya. Dan setelah kejadian itu pula, Beddu benar-benar jadi penghuni kelas paling setia. Dia jarang meninggalkan kelas meskipun waktu istirahat, dia hanya keluar bila ingin ke WC atau ke ruangan guru. Waktu demi waktu terus berlalu, pada akhirnya Nia mengakui semua tindakannya itu salah dan mencoba minta maaf kepada Beddu. Tetapi Beddu sudah terlanjur malu, dan ia hanya fokus terhadap pelajarannya saja.
            Ketika Beddu dan teman-temannya duduk di bangku kelas tiga, dan menghadapi ujian akhir sekolah, mereka tidak bisa lagi aktif pada acara-acara eksternal Kompita (Korps Pencinta Alam). Akhirnya mereka mengadakan pemilihan ketua kompita yang baru untuk menggantikan Umar. Pemilihan tersebut diadakan di Bukit Bulu Paccing, bukit yang ada di belakang sekolah mereka. Mereka mendukung terpilihnya Nia sebagai ketua kompita yang baru karena Nia mempunyai visi yang visioner.
            Akhirnya Beddu dan kawan-kawannya melewati ebtanas (saat ini: UN) dengan perasaan deg-degan. Ketika tiba saat pengumuman kelulusan sekolah, mereka berlima berencana akan langsung menanam pohon pinus dan pohon-pohon lainnya di Bukit Bulu Paccing sebagai ungkapan nazar, bila lulus sekolah.
            Selanjutnya digambarkan kejadian yang dapat membuat Beddu putus asa dan hilanglah semua angan-angannya untuk jadi mahasiswa dan kandaslah harapannya untuk bisa bersama orang yang dia sayangi:

“Aku menangis, sirnalah angan-anganku untuk jadi mahsiswa dan kandaslah cintaku pada Nia. Aku benar-benar malu, malu kepada kedua orang tuaku, kepada Nia, dan kedua orang tua Nia. Aku mengutuk dan meratapi diri sendiri, mengapa aku tak lulus padahal soal-soal UMPTN bisa kujawab dengan mudah.” (Pohon-Pohon Rindu, 2009: 250)


            Beddu sedikit terhibur dengan nasihat klise agen koran bahwa kegagalan itu adalah kesuksesan yang tertunda. Ternyata Beddu salah melihat pengumuman, karena ternyata Beddu lulus UMPTN masuk ke Universitas Hasanuddin. Akhirnya Beddu dan kawan-kawannya menjadi mahasiswa.
            Tak terasa Beddu sudah satu semester kuliah di Jurusan Sastra Inggeris Universitas Hasanuddin. Beddu begitu rindu dengan kampung halaman yang telah ia tinggalkan selama enam bulan. Ia rindu kepada kedua orang tuanya yang sangat ia cinta dan junjung. Pun, perempuan yang sangat ia rindukan adalah Nia. Perempuan yang pertama kali menyentuh kisi-kisi cintanya dan menjajahnya. Nia adalah perempuan yang pertama kali membuatnya patah hati karena menyebutnya sebagai kumbang jelek dan mengembalikan surat cintanya dengan kasar. Tentang kegelisahan Beddu dapat terlihat pada petikan berikut:

“Sejak ada telepon dari Nia di Bikeru yang memintaku pulang kampung, apalagi katanya ada acara kumpul-kumpul keluarga, perasaanku sungguh tidak tenang. Aku terus mendesah resah, suasana itu membuatku tak nyaman yang akan menghadapi final test. Kupikir, sebaiknya aku pulang saja dulu ke Sinjai barang satu atau dua hari. Menunggu pagi untuk pulang ke Sinjai adalah sebuah keresahan panjang yang membuat hatiku berdebar-debar, kadang bergetar, seolah-olah menghadapi badai besar. Malam itu benar-benar penantian panjang bagiku, aku bolak-balik masuk kamar kostku, meski teman-temanku terus berteriak memanggilku untuk menonton bersama, aku tak menghiraukannya.” (Pohon-Pohon Rindu, 2009: 304)


            Petikan di atas, menggambarkan adanya kegelisahan pada diri Beddu. Ia terus gelisah karena tiba-tiba mendapat telepon dari orang yang dia sayangi. Lewat telepon, Nia memang terus merajuk meminta Beddu pulang ke Sinjai. Lalu akhirnya Beddu memutuskan untuk pulang ke Sinjai.
            Dalam perjalan pulang ke Sinjai, Beddu mengkhayalkan dirinya bersama Nia yang akan menikah muda. Beddu juga mengingat pesan para tetua di kampungnya tentang seorang laki-laki yang ingin menikah.

“Khayalanku bersama Nia benar-benar bolak-balik, karena sesungguhnya aku tak mau menikah kalau aku belum mampu menafkahi isteriku. Aku teringat pesan seorang tetua di kampungku, bila seorang lelaki ingin menikah ia harus mampu mengelilingi dapur tujuh kali terlebih dahulu. Makna dari pesan itu adalah laki-laki tak boleh menikah sebelum merasa mampu menafkahi isterinya. Terus terang, aku belum mampu menafkahi Nia.” (Pohon-Pohon Rindu: 2009: 308)

            Dari gambaran di atas terlihat bahwa pelaku utama memiliki pemikiran yang sangat dewasa. Ia memiliki rasa tanggung jawab bilamana sudah menikah kelak, meski ia harus menikah muda.
            Dalam perjalanan pulang ke Sinjai, khayalan Beddu setengah mimpi bersama dengan Nia. Mereka berdua seolah berada di bibir Pantai Tanjung Bira dalam balutan busana pengantin. Tapi Beddu memakai pakaian pengantin serba hitam seperti orang Kajang atau orang sedang berduka cita. Pakaian Beddu sangat kontras dengan pakaian Nia yang berwarna putih bak Puteri Cinderella. Mereka berdua terus bergandengan tangan. Nia terus merajuk agar Beddu menggendongnya menuju ke laut lepas. Ketika berada di bibir pantai, tiba-tiba mereka mendengar gemuruh ombak laksana tsunami yang tiba-tiba menerjang mereka dengan kecepatan setan. Beddu berusaha menyelamatkan Nia, namun Nia terseret ke tengah lautan. Begitulah mimpi Beddu.
            Kepahitan yang dihadapi oleh sang tokoh utama Beddu karena kehilangan perempuan yang pertama kali membuatnya jatuh cinta. Seperti pada kutipan berikut:

“Beri minum dulu, baru diberi tahu kabar kekasihnya. Seorang tetangga ikut prihatin, aku kian deg-degan. Tiba-tiba kakak Nia yang koas di Rumah Sakit Regional Wahidin Sudirohusodo sebagai dokter muda, Mila, datang meraung-raung memanggil nama adiknya dan juga namaku. Ia langsung menubruk dan memelukku. ‘Innalillahi…’ Kudengar kalimat itu dari seseorang yang sejak aku berada di rumah itu sudah meneteskan airmata. Aku tak mendengar semua isi kalimatnya, karena tiba-tiba aku merasakan ada gelombang tsunami yang menerjang aku dan Nia. Kulihat Nia terseret oleh ombak dan aku hanya bisa berteriak. ‘Niaaaa….!!!” (Pohon-Pohon Rindu, 2009: 327)


            Petikan cerita di atas menunjukkan betapa hancurnya hati Beddu dan keluarga Nia serta kerabatnya yang kehilangan orang yang sangat mereka sayangi. Setelah Beddu sadar, para kerabat dan tetangga almarhumah Nia memeluknya secara bergantian dan memintanya bersabar.
            Ketika jasad Nia akan dikebumikan, Beddu dipanggil dan dipapah untuk melihat jenazah orang yang dicintainya untuk terakhir kalinya. Beddu membuka penutup wajah jenazah kekasihnya pelan-pelan. Tanggul airmatanya tak bisa terbendung lagi. Bobol untuk kesekian kalinya. Dia mengecup kening jasad Nia penuh haru, bahkan air matanya terus berlinang membasahi wajah kekasihnya yang tak bernyawa. Akhirnya, tanah merah pemakaman Nia menjadi tumpuan air mata Beddu yang kesekian kalinya, saat itu Beddu berjanji untuk menerima takdir itu dengan ikhlas.
            Setelah Nia meninggalkannya untuk selama-lamanya karena kanker darah yang menggerogoti tubuhnya, Beddu merasa seperti kehilangan separuh hidupnya. Dan dia tidak ingin keluarga Nia terus menumpahkan kerinduannya kepada orang tercintanya yang telah tiada lewat bayang-bayang dirinya. Dan Beddu takut bila terus seperti itu, ia menampakkan dirinya sebagai Nia, lama-kelamaan dia akan menjadi halusinasi buat mereka, ujung-ujungnya mereka terkena penyakit halusinasi yang akan membuat mereka gila.
            Akhirnya Beddu mengambil keputusan untuk meninggalkan Sinjai, Makassar, bahkan Indonesia. Dan ini pula yang menjadi penyelesaian dari cerita. Itu dapat dilihat pada kutipan berikut:

“Aku sudah membuat satu keputusan, aku akan meninggalkan Makassar dan Sinjai, bahkan Indonesia. Aku tak mau membiarkan keluarga Nia terus-menerus menumpahkan airmata. Terkadang, hatiku pun masih menjerit manakala teringat Nia, terhimpit sakit yang menggigit. Teramat sedih dan perih tapi aku harus mencari kehidupan baru untuk menatap hidupku ke depan dengan wajah baru. Tempat yang aku tuju adalah Malaysia, aku akan tinggal di Kedah dan kuliah di UUM(Universiti Utara Malaysia) di kawasan Hutan Sintok, Kedah Darul Aman.” (Pohon-Pohon Rindu, 2009: 343)

            Gambaran ini merupakan penggambaran akhir sebuah penyelesaian cerita dimana Beddu akan meninggalkan kampung halamannya yang penuh kenangan indah yang sudah mereka lalui bersama dengan orang-orang yang ia sayangi. Beddu melakukan semua itu demi keluarga almarhumah Nia karena Beddu tidak ingin kerabat almarhumah Niaa hidup dalam halusinasi terus menerus. Dan Beddu pun berjanji, bahwa dimanapun berada ia akan selalu menjaga dan merawat hutan karena pohon-pohon adalah lambang cinta antara Beddu dan Nia ketika mereka mengikrarkan hubungan mereka dulu di Bukit Bulu Paccing di Bikeru Sinjai.
            Sebelum berangkat ke Malaysia, Beddu akan minta izin dulu kepada kedua orang tua dan kakak-kakak Nia. Beddu akan berpamitan dengan alasan untuk melakukan penelitian dan biaya penelitian akan ditanggung oleh Universitas Hasanuddin. Beddu khawatir, bila ia jujur, maka keluarga almarhumah Nia akan bertambah sedih.
            Pagi-pagi sekali Beddu tiba di pusara kekasihnya, Beddu bersimpuh luluh di depan pusara perempuan yang amat dicintainya. Airmatanya menetes, airmata kerinduan, airmata perpisahan.

“Sebagai janjiku dulu ketika kami sepakat untuk saling mengasihi dan mencintai, bahwa jika aku merusak hutan, berarti aku menyakitinya. Hutan dan Nia adalah dua hal yang tak bisa kulupakan. Oh Sinjaiku! Niaku! Bidadariku! Aku mencintaimu, merindukanmu. Kini aku akan pergi jauh, tapi aku akan selalu menjagamu. Aku berjanji akan menjaga dan melestarikan kawasan Hutan Lindung Balang sebagai tempat peristirahatanmu yang terakhir, Duhai Cintaku. Aku akan menjaga semua hutan yang ada di Sinjai bahkan di seluruh Indonesia dan dunia sekalipun.” (Pohon-Pohon Rindu, 2009: 349)


            Demikianlah akhir cerita dengan keputusan Beddu untuk meninggalkan kampung halamannya. Ia bertekad menjaga seluruh hutan dimana saja ia berada. Maka Beddu pun menyatakan, “Tersenyumlah duhai pepohonan, tersenyumlah duhai hutan, tersenyumlah duhai kekasihku. Oh Niaku! Bidadariku! Hutanku!”
            Akhirnya Beddu kian jauh meninggalkan pusara Nia, meninggalkan Hutan Lindung Balang. Dan samar-samar yang nampak hanyalah pepohonan, terlihat senyum Nia disitu, sambil melambaikan tangan.
            Airmata bercucuran.

2. Hubungan antara tema dan alur cerita novel Pohon-Pohon Rindu
            Tema digunakan secara luas untuk menyatakan makna total mengenai kesatuan artistic. Dari tema tersebutlah cerita dikembangkan oleh plot atau alur dalam sebuah cerita. Plot merupakan mesin dari tema, lebih dari tema itu sendiri. Plot juga merupakan garis-garis dalam sebuah cerita yang merupakan proyeksi temporal terhadap struktur tematik. Dengan demikian dapat digambarkan sebagai suatu sistim, oleh sebab itu, tema merupakan bahan baku yang akan diproses oleh alur dan menghasilkan suatu cerita dengan dukungan perwatakan dan latar.
            Tema dapat terbentuk dari sejumlah ide, tendensi, motif, atau amanat yang sama, yang tidak bertentangan satu sama lain. Dalam arti yang luas, tema adalah sebuah cerita yang memiliki gagasan, tujuan, bentuk, dan ajaran yang dikandungnya, tapi diberbagai bentuk mempunyai suatu hubungan yang erat dalam suatu sisi pokok yang menjadi penekanan pengarang dalam sebuah cerita. Dengan demikian, tema di interrelasikan dan diproses dalam plot atau alur, sehingga dapat terbentuk suatu cerita.
            Agar lebih jelas hubungan antara tema dan alur dalam novel Pohon-Pohon Rindu, maka terlebih dahulu ditentukan tema cerita tersebut. Berdasarkan informasi dalam novel ini, maka temanya adalah pengalaman menjaga hutan yang ada di lingkungannya. Tema cerita ini disimpulkan berdasarkan gambaran peristiwa yang ada dalam cerita yang mengarah kepada suatu pengalaman hidup sang pengarang yang sekaligus sebagai pelaku utama dalam cerita dengan sudut pandang ‘aku’. Dalam cerita ini dikisahkan tentang peristiwa yang dialami oleh pelaku utama dan sahabat-sahabatnya tentang bagaimana menjaga dan melestarikan hutan yang ada di lingkungannya. Diceritakan antara lain tentang siswi baru, nama dalam sepucuk surat, hutan lindung balang, Sungai Bejo, cinta di Bukit Gojeng, parakang di Sumpang Ale’, falsafah hidup, janji di Bulu Paccing, menjadi mahasiswa, rindu, mimpi aneh, cinta dan halusinasi, dan lain-lainnya.
            Informasi yang dapat mendukung tema cerita, akan digambarkan melalui penjelasan di bawah ini, sehingga penentuan tema tersebut berdasarkan pada pandangan yang logis dan dapat mendukung cerita.
            Pada bagian-bagian awal, pengarang memulai ceritanya dengan mengisahkan keadaan Sungai Bejo yang banyak dikunjungi oleh penduduk dari berbagai penjuru. Sungai tersebut dianggap sebagai sungai keramat. Seperti cerita berikut ini:

“Aku mengusulkan Sungai Bejo sebagai tempat pertama yang dikunjungi karena lokasi sungai itu masih termasuk dalam kawasan Hutan Lindung Balang, dan dianggap keramat oleh masyarakat setempat. Sungai Bejo amatlah kecil untuk dikatakan sebuah sungai bila dibandingkan dengan Sungai Apareng yang merupakan sungai terpanjang di Sinjai, Sungai Mangottong, Sungai Pangesoreng, atau Sungai Garaccing. Bila melewati Sungai Bejo cukup dengan melompat saja, tapi tidak ada yang berani melewati Sungai Bejo dengan melompat karena khawatir lompatannya tidak sampai dan akan terperosok ke dalam sungai yang dalam itu.” (Pohon-Pohon Rindu, 2009: 101)


            Penggalan cerita di atas terlihat suata gambaran pengarang tentang pengalamannya pada saat mengunjungi Sungai Bejo. Sungai yang juga sangat ramai dikunjungi oleh penduduk karena dianggap sungai keramat. Sungai yang sesungguhnya tidak luas tetapi sangat dalam dan berbahaya.
            Selanjutnya Beddu menceritakan tentang perjalanannya bersama anggota Kompita (Korps Pencinta Alam) mengunjungi salah satu tempat bersejarah yaitu taman purbakala Batu Pakke Gojeng. Seperti berikut ini:

“Salah satu tempat bersejarah yang akan dikunjungi anggota Kompita adalah taman purbakala Batu Pakke Gojeng. Taman purbakala itu terletak di sebelah barat Kota Balannipa, ibukota Kabupaten Sinjai, tepatnya di Bukit Gojeng dengan ketinggian 85 meter dari permukaan laut. Untuk mencapai puncak, pengunjung harus menyusuri kurang lebih 182 anak tangga. Dan, dari puncak gojeng itulah, para pengunjung dapat menyaksikan deretan sembilan pulau yang menyembul dari dasar laut.” (Pohon-Pohon Rindu, 2009: 123)


            Petikan di atas jelas tergambar suatu tempat bersejarah yang ada di ibukota Kabupaten Sinjai. Taman beresejarah tersebut banyak dikunjungi oleh masyarakat. Dari ketinggian tempat tersebut, para pengunjung bisa menikmati pemandangan kota Sinjai dan juga deretan pulau di Pulau Sembilan.
            Beddu juga menceritakan pengalamannya bersama para sahabatnya mengunjungi Hutan Sumpang Ale’. Hutan tersebut terletak di perbatasan Sinjai dan Bulukumba yang mulai ramai dibabat untuk dijadikan lahan pertanian. Seperti berikut ini:
“Hutan Sumpang Ale’ terletak di daerah perbatasan Sinjai dan Bulukumba, hutan ini merupakan pemasok oksigen terbesar di wilayah Sinjai dan Bulukumba. Sayangnya, sedikit demi sedikit hutan itu menjadi lahan pertanian bagi warga, meski tidak ada hak kepemilikan tanah, warga tetap saja menggarapnya dengan semena-mena. Anehnya, pemerintah setempat tak peduli sama sekali, bahkan mantan pejabat daerah turut menguasai lahan tersebut.” (Pohon-Pohon Rindu, 2009: 209)


            Petikan di atas menunjukkan bahwa tidak adanya perhatian pemerintah setempat dengan kondisi hutan yang kaya akan pemasok oksigen, tapi justru sebagian aparat pemerintah ikut merusak kelestarian hutan tersebut dengan beramai-ramai membuka lahan pertanian di hutan tersebut.
            Setelah mengunjungi berbagai macam tempat, dan berkampanye tentang pentingnya menjaga lingkungan, akhirnya tibalah saatnya Beddu dan kawan-kawan mengikuti ujian akhir sekolah. Ketika tiba saat pengumuman kelulusan sekolah, mereka pun bernadzar akan menanam pepohonan di Bukit Bulu Paccing. Berikut kutipannya:

“Kami berlima berencana akan langsung menanam pohon pinus atau pohon-pohon lainnya di Bukit Bulu Paccing sebagai ungkapan nadzar, bila lulus sekolah.” (Pohon-Pohon Rindu, 2009: 238)


            Gambaran di atas merupakan gambaran yang patut dicontoh oleh anak-anak generasi sekarang. Betapa mulianya niat mereka untuk menanam pohon demi kelestarian pepohonan di Bukit Bulu Paccing.
            Semenjak tamat SMA, mereka semua tetap menjaga dan merawat hutan seperti saat-saat mereka di SMA. Bahkan Beddu bersama orang yang paling disayanginya mengucapkan janji bahwa sampai kapanpun tetap akan mencintai hutan karena hutan dan pepohonan menjadi lambang dan simbol cinta mereka.
            Dengan demikian, dari tema cerita ini apabila dihubungkan dengan alur umum maka dapat dikatakan bahwa antara tema, alur cerita terjadi suatu hubungan baik secara fisik maupun secara batiniah. Dalam arti bahwa hubungan alur dalam tema secara batin melalui rangkaian pemikiran pengarang tentang proses cerita yang dirangkaikan dengan berdasarkan peristiwa fisik dan dari berbagai peristiwa yang diawali selama perjalanan hidupnya menjaga dan merawat hutan yang ada di lingkungannya.
            Hal ini menunjukkan bahwa alur menjadi alat atau sarana yang memproses tema. Tema yang lahir dari berbagai pengalaman hidup pelaku, kemudian dijalankan oleh alur sebagai mesin yang menjadi sebuah cerita. Dari pokok persoalan yang dialami pelaku utama dan sahabat-sahabatnya kemudian dirangkai atau dihubungkan oleh alur peristiwa ke peristiwa menjadi rangkaian yang logis. Antara tema dan alur tersebut merupakan bagian yang saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Sebab tema tak akan mungkin berjalan tanpa kehadiran alur yang akan merangkai pokok persoalan tersebut. Sedangkan alur tak akan mungkin berjalan tanpa adanya persoalan pokok atau persoalan utama yang akan dibicarakan atau dipersoalkan. Jadi, kedua bentuk struktur cerita ini saling mengisi dan mendorong dalam sebuah cerita.
            Dengan demikian, keterkaitan antara tema cerita dan alur cerita dalam novel Pohon-Pohon Rindu menunjukkan bahwa tema cerita yang menyangkut pengalaman hidup menjaga dan melestarikan hutan. Pelaku utama dan para sahabatnya ini dirangkai dengan alur maju. Tema yang diangkat pengarang tersebut kemudian diproses alur secarai berangkai dan beraturan dari awal sampai akhir cerita.
Demikianlah gambaran antara alur dan tema dalam novel Pohon-Pohon Rindu yang telah memberikan informasi tentang suasana cerita yang memperlihatkan hubungan logis, yang melahirkan sebuah cerita nyata.

3. Hubungan antara alur dan perwatakan cerita novel Pohon-Pohon Rindu
            Dalam suatu karya sastra, kita lebih cenderung melihat pada keterlibatan perwatakan dalam suatu cerita daripada alur atau plot. Menurut JW Marriot dalam Muzakkar, menegaskan bahwa seluruh cerita pada dasarnya dapat dipelajari melalui perwatakan. Dari perwatakan itulah kita dapat melihat alur cerita, latar, gaya bahasa, dan hal lain dalam cerita. Karakter dalam cerita dapat menumbuhkan plot atau plot digerakkan oleh tindakan. Plot cerita dapat berkembang sesuai dengan perwatakan. Ke arah mana sebenarnya cerita berkembang didasari oleh bagaimana perwatakan cerita tersebut.
            Bila dalam novel Pohon-Pohon Rindu perkembangan plot dikatakan tinggi karena novel itu menceritakan suatu perjalanan hidup pelaku utama semasa di SMA sampai ke jenjang perguruan tinggi. Dimana perjalanan hidup yang menggambarkan suatu hal yang sangat wajar dalam pemikiran dan pengalamannya. Apa yang dilihat, apa yang didengar, dan apa yang dirasakannya digambarkan secara lengkap. Dengan suatu peristiwa yang luar biasa yang dapat mengalihkan jalan nasibnya.
            Watak yang dimiliki oleh pelaku utama adalah seseorang yang dapat dikatakan dalam tahap belajar pada segala situasi dan pemeliharaan dan juga pelestarian hutan di lingkungannya. Sehingga peristiwa yang dialami pelaku utama tak lepas dari peristiwa yang terjadi dalam kemasyarakatan. Dalam cerita ini sederhana tapi unik karena perkembangan alur yang tinggi, dimana para pelaku dapat bersosialisasi dengan masyarakat yang ada di sekelilingnya, dengan menyatakan bahwa kelestarian hutan sangat penting, dan para pelaku melakukan kegiatan yang sangat mengagumkan yaitu mereka menjaga dan melestarikan hutan sama halnya seperti mereka menjaga dan merawat cinta yang mereka miliki. Dan dapat membedakan perkembangan alur yang menyatakan suatu alur menuju ke penyelesaian cerita.
            Hal itu menunjukkan bahwa watak yang dimiliki pelaku utama diwarnai oleh pemikiran yang tinggi, karena dalam berbuat dan bertindak dapat mempengaruhi perkembangan alut cerita. Hal ini yang menyebabkan alur cerita menjadi tinggi hingga cerita sampai selesai. Adapun konflik yang terjadi dalam cerita ini yaitu yang dapat merubah nasib pelaku, dan memberikan pengalaman yang sangat luar biasa bagi pelaku.
            Namun demikian, perubahan nasib pelaku ada juga bila ditinjau dari sudut pandang pengalaman hidupnya. Dari konflik dalam cerita yang berkaitan dengan lingkungan memberikan suatu kekayaan batin dan banyak belajar dari peristiwa tersebut dan di sinilah perubahan jalan nasibnya tentang bagaimana seharusnya ia bertindak, berfikir dan mengambil suatu keputusan. Hal itu diambil dari pengalaman hidupnya dalam lingkungan keluarganya dan juga masyarakat.
            Dengan demikian, hubungan antara alur dan perwatakan dalam novel Pohon-Pohon Rindu ini, jelas seperti cerita pada umumnya bahwa perwatakan dapat mempengaruhi alur cerita. Alur diarahkan sesuai dengan perwatakan dalam cerita. Namun pada novel ini, dapat dikatakan bahwa perwatakan cerita yang besar dilihat dari sudut pandang pelaku utama. Dimana cerita berkembang seiring dengan perkembangan waktu dari hari ke hari sesuai dengan lingkungannya, baik dalam arti lingkungan tempat tinggalnya maupun lingkungan ditinjau dari sudut hubungan dalam keluarga Beddu dan masyarakat tempat tinggalnya. Persoalan yang digambarkan adalah pengalaman Beddu bersama para sahabatnya dalam menjaga dan melestarikan hutan di lingkungannya sampai akhirnya dia harus meninggalkan kampung halaman yang dia cintai demi meraih impiannya. Peristiwa yang dialami pelaku utama dalam kurun waktu tersebut digambarkan secara rinci baik peristiwa yang muncul dari lingkungan pemikirannya dan para sahabatnya yang melahirkan sikap atau keputusan maupun peristiwa yang lahir dari lingkungan fisik (tempat tinggalnya) yang dapat merubah nasib mereka semua.

Daftar Pustaka
-          Abdul Rahman, Dul. 2009. Pohon-Pohon Rindu. Yogyakarta: Penerbit Diva Press

-          Alam, Syamsul. 2005. Mengungkap Tabir Seputar Roman, Novel dan Cerpen. Makassar: Zamrud Nusantara.

-          Arifin, Bustanul, dkk. 1986. Sastra Indonesia (Lama, Baru, Modern). Bandung: Lubuk Agung.

-          Bachri, Sutardji Calzoum. 2008. Dari Menghirup Pucuk Mawar Hujan. Pekanbaru: Dewan Kesenian Riau.

-          Junaedi, Moha. 1990. Apresiasi Kesusatraan Indonesia. Ujung Pandang: Pustaka Maspul.

-          Lubis, Mochtar. 1960. Teknik Mengarang. Jakarta: Balai Pustaka.

-          Moeliono, M.Anton. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

-          Saad, Saleh. 1967. Bahasa dan Kesusastraan sebagai Cermin Manusia Indonesia Baru. Jakarta: Gunung Agung.

-          Sukade, Made. 1987. Pembinaan Kritik Sastra Indonesia. Bandung: Angkasa.

-          Sumardjo, Jakob. 1991. Pengantar Novel Indonesia. Bandung: Remaja Rosda Karya.

-          Sutrisno, Sulastin. 1979. Analisa Struktur dan Fungsi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

-          Tarigan, Henry Guntur. 1991. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.

-          Tirtawirya, Putu Arya. 1984. Kritik Sastra Sebuah Antologi. Ende-Flores: Nusa Indah.
-          http://yuditouch.ning.com/profiles/blogs/pohonpohon-rindu-novel-populerFiled under: Novel Ditandai: POHON-POHON RINDU
-          www.darsastra.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar