Minggu, 22 Januari 2012

BALADA CINTA SANGKALA DAN SARIFAH

Cerpen: dul abdul rahman

Awalnya Sangkala ragu mengizinkan Sarifah jadi TKW di Malaysia. Di samping karena ia akan kesepian ditinggal isteri tercinta, pun ia akan menanggung malu mendengar omongan orang-orang sekampungnya, “Orowane de’ siri’na.” Selalu begitu cemoohan yang diberikan kepada laki-laki yang dianggap kurang bertanggung jawab. Artinya laki-laki tak punya malu. Tapi karena rengekan isterinya terus menerus, Sangkala bulat mengizinkan isterinya bekerja di Malaysia.

Sarifah, isteri Sangkala, punya itikad baik untuk membantu suaminya. Ia sangat ingin melihat anak-anaknya kelak lebih bernasib baik dari mereka berdua. Kuncinya adalah ketiga anak-anaknya harus sekolah tinggi-tinggi supaya bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Profesi suaminya yang hanya petani kere, tak mungkinlah menyekolahkan anak-anaknya, apalagi biaya pendidikan kian mahal saja. Jika mereka bertahan di kampung, maka pastilah anak-anaknya kelak mengikuti jejak pekerjaan mereka. Petani kere yang tak punya pendidikan. Sarifah tak mau hal itu terjadi.
Setelah melewati babak musyawarah dan konsultasi ke pihak keluarga Sangkala, pun pihak keluarga Sarifah, pun para tetua di kampung, Sangkala dan Sarifah lalu bermufakat.

“Demi masa depan anak-anak kita, saya mengizinkan kau Sarifah bekerja di Malaysia. Jagalah kehormatan keluarga kita di sana.”

Nada Sangkala bergetar. Sebentar lagi ia akan berpisah dengan isterinya untuk sementara. Hanya untuk sementara. Selalu Sangkala mengulang kalimat itu. Tahun depan Sangkala berniat menyusul isterinya ke Malaysia. Sebenarnya keluarga mereka mengusul lebih baik keduanya berangkat sama-sama. Namun karena ibu Sangkala yang sudah tua, lagipula sedang sakit, Sangkala tak tega meninggalkannya.

Sangkala berencana, cukuplah lima tahun bekerja di Malaysia, upahnya ia kirim ke kampung untuk beli tanah. Ia pun bermufakat dengan isterinya tidak memboyong anak-anaknya ke Malaysia. Biarlah mereka tetap bersekolah di kampung. Memang yang paling dipikirkan Sangkala dan Sarifah adalah pendidikan anak-anaknya.

“Iye Daeng, akan kujaga segala kehormatan keluarga kita, siri’mu siri’ku.” Sarifah menatap suaminya. Ada mendung bergelayut di wajahnya.

“Kalau tiba di sana, selalulah berkirim kabar kepada kami. Lagian Mandor Bajide tiap bulan pulang kampung mengurus para calon TKI lainnya. Bisa juga lewat Haji Hamide yang sekali dua bulan pulang ke Indonesia mengambil barang dagangan.” Sangkala tak kuasa menahan rasa haru.

“Akan kuingat segala pappaseng Daeng.”

Sarifah sesunggukan dipelukan suaminya. Sangkala diam. Ia mencoba meredam segala kesedihan yang meraja di ulu hatinya. Malam ini memang adalah malam terakhir bersama isterinya, besok adalah jadwal isterinya berangkat ke Malaysia.

“Jagalah anak-anak kita Daeng! Daeng juga harus menjaga kesehatan.” Sarifah terus sesunggukan.

“Saya selalu ingat pappasengmu Sarifah.” Sangkala mencoba menegarkan isterinya. Ia memang tak mau larut dalam kesedihan, ia harus tegar melepas isterinya. Lagipula ini malam banyak tetamu yang hadir, pihak keluarga besar mereka berdua, pun para tetangga menginap di rumah Sangkala. Selalu memang begitu di kampung Sangkala. Setiap orang yang hendak bepergian jauh atau datang dari bepergian jauh selalu para tetangga berkumpul untuk saling melepas kangen, pun mengikat kangen. Dan yang terpenting saling memberi nasehat, pun berbagi pengalaman.

“Sebagai perempuan, kau harus jaga diri baik-baik Sarifah. Selalu ingat suami dan anak-anakmu agar hatimu tak pernah luruh.” Ayah Sarifah menasehati anaknya.

“Yang terpenting, kau harus rajin sholat dan berdoa, supaya kau selalu dalam lindunganNya.” Pak Imam Kampung turut menasehati.

“Hati-hati juga dengan Mandor Bajide. Kau harus jaga jarak dengan dia, Mandor Bajide itu suka….”

“Hush! Tak boleh berburuk sangka.” Kepala kampung yang turut hadir melepas keberangkatan Sarifah memotong ucapan Sittiara.

Para tetangga yang hadir cekikikan mendengar penuturan Sittiara. Sittiara memang pernah jadi TKW di Malaysia selama dua tahun, setelah menikah di Malaysia dengan sesama TKI, ia pulang kampung bersama suaminya dan kini hidup berkecukupan. Sittiara tahu banyak Mandor Bajide, karena ia pun berangkat ke Malaysia lewat “agen” Mandor Bajide. Mandor Bajide adalah orang yang disegani dan dihormati, ia adalah ponakan kepala kampung.

Begitulah. Nasehat-nasehat para tetua, pun cerita-cerita dibalik TKI, dan linangan airmata melepas keberangkatan Sarifah.

Sudah setahun isterinya bekerja di Malaysia. Namun Sangkala tidak pernah mendengar kabar tentangnya. Selalu ia tanyakan pada Mandor Bajide, selalu pula lelaki yang sering dipanggil Karaeng itu menjawab tidak bertanggung jawab soal Sarifah, karena Sarifah beralih ke mandor lain. Sangkala sangat masygul. Ketika ia tanyakan nasib isterinya kepada Haji Hamide, pun tak tahu.

“Malaysia itu luas, mungkin saja isterimu tidak bekerja lagi di Sabah. Mungkin ada mandor yang menawari gaji yang tinggi untuk pindah ke Kuala Lumpur.” Maemunah berkata padanya suatu ketika. Tentu saja bukan asal bicara, karena Maemunah pernah bekerja di kawasan Genting City of Entertainment Kuala Lumpur. Apalagi perempuan cantik macam Sarifah, meski sudah bersuami dan memiliki tiga orang anak, namun masih nampak cantik nan memikat. Jadi kemungkinan Sarifah jadi…. Hanya Maemunah yang tahu jenis pekerjaan apa yang cocok buat perempuan secantik Sarifah.

“Biasanya memang perempuan cantik tak tahan bekerja sama Mandor Bajide.” Begitulah Sittiara selalu berkata padanya. Mandor Bajide memang terkenal mata keranjang, ia telah menikah berkali-kali, tetapi selalu bercerai.

Kabar terakhir yang beredar di kampung. Mandor Bajide sudah beristeri lagi dengan seorang janda cantik dari kampungnya sendiri. Begitulah pengakuan Mandor Bajide. Tak seorangpun tahu di kampungnya siapa isteri baru Mandor Bajide. Atau memang warga tak tertarik mengetahui isteri Mandor Bajide yang tukang kawin-cerai.

Hanyalah Haji Hamide yang sedikit mengetahui ciri-ciri isteri Mandor Bajide. Wajahnya sangat mirip Sarifah, isteri Sangkala. Tapi Haji Hamide hanya melihat poto pernikahannya saja. Pengakuan Haji Hamide dianggap mengada-ada. Karena pasti bukanlah Sarifah, apalagi Sarifah sudah bersuami. Pun Sarifah sudah meninggalkan Mandor Bajide menurut pengakuan Mandor Bajide sendiri. Dan yang paling membuat orang tak percaya dengan omongan Haji Hamide karena Puang Haji itu sudah katarak.

Adalah waktu yang terus berjalan. Sejak kepergian isterinya, lalu tak ada kabarnya, Sangkala benar-benar merasa kehilangan. Tak ada lagi tempatnya berbagi duka, bermadah cinta. Sangkala benar-benar kesepian. Dan kesepian Sangkala sepertinya akan melewati musim demi musim. Tak ada kabar Sarifah. Sarifah sepertinya ditelan bumi Malaysia. Bumi Malaysia memang ladang emas, pun ladang cemas bagi para TKI.

Tak ada yang bisa menghentikan waktu. Waktu ibarat maut yang terus memburu, bahkan sesekali membujuk, lalu menghunus jarum-jarum kematian. Waktu pulalah yang akhirnya merenggut jiwa Sangkala. Sangkala tak mampu bersekutu dengan waktu sambil bersidekap dengan luka lara. Luka yang tersemat oleh kepergian Sarifah.

Semua warga menangisi kepergian Sangkala. Sangkala meninggal dunia membawa kesedihan tak terperikan. Orang-orang menyesali kenapa Sarifah berangkat ke Malaysia tidak bersama Sangkala saja. Sittiara dan Maemunah bahkan mengutuk Mandor Bajide yang tidak bertanggung jawab.


Para sanak keluarga dan warga sangat berduka atas kematian Sangkala. Sarifah pun dianggap sudah meninggal dunia, karena tak seorang pun yang tahu kabarnya. Semua warga sangat kasihan kepada Sangkala dan Sarifah, sebaliknya mereka tidak simpatik kepada Mandor Bajide. Tapi lambat laun, ketidaksukaan mereka kepada Mandor Bajide mengendor. Itu karena Mandor Bajide bersikap simpatik pula.

Sejak kematian Sangkala, Mandor Bajide mencoba menebus kesalahannya atas hilangnya jejak Sarifah yang membuat Sangkala meninggal dunia. Mandor Bajide menyekolahkan ketiga anak-anak Sangkala dan Sarifah.

Satu-satunya warga yang tidak simpatik kepada Mandor Bajide hanyalah Haji Hamide. Haji Hamide yang berdagang antar Sinjai-Makassar-Nunukan-Sabah sangat tahu siapa sebenarnya Mandor Bajide. Haji Hamide sangat ingin membongkar kebusukan Mandor Bajide. Hanya saja Haji Hamide berpikir, kalau ia membongkar kejahatan Mandor Bajide sekarang lebih banyak mudaratnya. Lebih baik ia diam saja. “Tuhan selalu ada melihat dosa-dosa hambaNya.” Haji Hamide membatin.


“Kau benar-benar Sarifah Nak?”
“Iye Puang Haji, saya Sarifah.”
“Alhamdulillah Nak, ternyata kau masih hidup, padahal orang-orang di kampung menganggapmu sudah meninggal. Pulanglah Nak! Anak-anakmu sekarang merasa yatim piatu, padahal kau masih hidup.”

“Yatim piatu? Maksud Puang Haji? Saya selalu mengirim uang untuk keperluan sekolahnya.”

“Kiriman uang? Yang saya tahu selama ini biaya sekolah anak-anakmu ditanggung oleh Mandor Bajide.”

“Sama saja Puang Haji, Mandor Bajide kan suami saya.”
“Jadi kau pengantin baru Nak?”
“Pengantin baru? Kami menikah dengan Mandor Bajide setahun silam.”
“Maksudmu Nak? Sangkala suamimu kan meninggal dunia enam bulan silam.”

Haji Hamide dan Sarifah terus berkejaran dengan pertanyaan yang menyelisik dan mengcengkeram. Lalu pertanyaan dan jawaban Haji Hamide akhirnya menjelma duri-duri dan menusuk hati Sarifah. Sarifah mendadak tak sadarkan diri setelah mendengar kabar sesungguhnya dari Haji Hamide.

Haji Hamide tahu kini. Ternyata seluruh pengakuan Mandor Bajide tentang Sarifah adalah bohong belaka. Ternyata ia berbual jahat untuk merampas isteri orang. Ia menyembunyikan surat-surat Sarifah kepada suaminya, bahkan mengabarkan di kampung bahwa Sarifah menghilang, padahal ia menyembunyikannya. Lalu ia berbohong pula pada Sarifah bahwa suaminya telah meninggal dunia. Lalu merayu Sarifah menikah dengannya dengan alasan hidup Sarifah akan lebih berkecukupan sekaligus menebus utang Sarifah.

“Laknat!”
Haji Hamide menggerutu. Lalu menghubungi penyelenggara jenazah untuk mengurus pemakaman Sarifah. Ia berharap kematian Sarifah yang tahu hanyalah dirinya dan Mandor Bajide. Biarlah orang-orang di kampung menganggap bahwa Sarifah sudah lama meninggal dunia. Sekali lagi Haji Hamide berpikir manfaat-mudarat. Ia menganggap Mandor Bajide lah segala pangkal dosa dan kesalahan. Olehnya itu ia mengultimatum Mandor Bajide untuk mengurusi segala kebutuhan dan sekolah anak-anak almarhum Sangkala dan Sarifah. Kalau menelantarkan anak-anak tersebut, ia akan membongkar segala kebusukan Mandor Bajide. Tapi apakah Mandor Bajide berjanji untuk bertobat, Haji Hamide tak memikirkan itu, biar Tuhan yang tahu segala dosa hamba-hambaNya.

Haji Hamide meninggalkan pemakaman Sarifah. Ia tak menoleh sekalipun ke arah Mandor Bajide. Dibenaknya, kelak kalau tiba di kampung, ia akan berziarah ke makam Sangkala.

(Sumber: Harian Cakrawala, 22 Januari 2012)

Tentang Penulis:
Dul Abdul Rahman. Sastrawan dan peneliti budaya. Ia menamatkan pendidikan menengahnya di SMA Negeri Bikeru Sinjai Selatan pada 1993. Pernah mengenyam bangku kuliah, yakni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (1993-1998), Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar (2001-2002), Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin (2004-2009). Aktif bersastra di Indonesia dan Malaysia.

Ratusan tulisannya berupa karya sastra dan kritik sastra dimuat koran lokal dan nasional di Indonesia dan Malaysia. Karya-karyanya dijadikan bahan penelitian oleh mahasiswa untuk meraih gelar sarjana dan pascasarjana, di Indonesia maupun Malaysia.

Bukunya yang sudah terbit:
1. Lebaran Kali Ini Hujan Turun (Kumpulan Cerpen, Nala Makassar, 2006)
2. Pohon-Pohon Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2009);
3. Daun-Daun Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2010);
4. Perempuan Poppo (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010);
5. Sabda Laut (Novel. Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010).
6. Sarifah (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2011)
7. La Galigo (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar