Selasa, 17 Februari 2015

Lelaki Tomanurung dan Seorang Perempuan Setia



Lelaki Tomanurung dan Seorang Perempuan Setia
Cerpen: dul abdul rahman

            Seolah bersekutu dengan matahari pagi, seorang lelaki berada di pematang memandangi bulir-bulir padi. Matanya menyapu hamparan persawahan yang membentang luas diantara lereng pegunungan. Tanah yang landai membuat pemandangan sawah seperti anak tangga yang menjulur ke bawah. Lelaki itu berdiri tepat di pematang paling atas. Matanya tak pernah berkedik. Sepertinya ia takut kehilangan panorama hamparan sawah yang indah walau sedetikpun.

            Ia berdiri tegak. Seperti memberi hormat kepada sang dewi padi, Dewi Sri, agar bulir-bulir padi padat berisi. Ia mematung. Mutung. Angin pagi yang hanya sepoi-sepoi mengibarkan helai rambutnya yang mungkin tak pernah tersentuh sisir. Wajahnya tirus. Mungkin tak terurus. Kelihatan pakaiannya agak basah. Embun pagi telah memandikannya.

            Aku mengawasinya dari jauh. Aku teramat ingin tahu tentang lelaki itu.  Tapi aku tak berani mendekatinya seorang diri. Aku hanya berpindah dari pematang ke pematang.

            “Apakah orang itu waras?” Tanyaku pada seorang petani yang baru saja tiba di lokasi persawahan.

            “Yang mana?”

            “Lelaki yang di ujung sana.”

            “Lelaki yang menghadap ke timur itu?”

            “Benar.”

            “Oo…ma…masyarakat disini mengenalnya sebagai lelaki tomanurung,” petani itu menjawab geragapan. Kerongkongannya seperti dicegat sebaris rahasia.

            “Lelaki tomanurung?”

            “Lelaki penentu baik-buruknya hasil panen padi petani.”

            “Hah! Berarti lelaki itu jelmaan dewa, atau jelmaan Tuhan?”

            “Sa…saya tidak tahu,” petani itu nampak pucat dan ketakutan. Aku bisa memahaminya, membicarakan lelaki sang penentu nasib bisa-bisa merugikan nasib sendiri.

 “Coba tanya kepada orang itu,” petani itu menjauh sambil menunjuk seseorang tetua yang datang ke pematang tempat aku berdiri.

            Rupanya yang datang adalah seorang lelaki tua yang cukup disegani di kampung itu. Aku mengenalnya sewaktu ia dan kepala desa datang menjemputku di kantor kecamatan saat acara penjemputan penyuluh pertanian. Dari raut wajahnya, jenggot yang sudah memutih dan memanjang, aku bisa meraba-raba seperti apa orang tua itu. Seorang ponakan kepala desa pernah bercerita kepadaku, lelaki tua itu menguasai ilmu gaib. 

Lelaki tua itu semakin mendekat. Syukurlah. Ada tempatku bertanya mengenai lelaki tomanurung penentu nasib petani tersebut.

            “Sudah tujuh hari aku melihatnya mematung di situ, Pak.”

            “Memang baru seminggu kamu berada di desa ini, Nak.”

            “Maksud Bapak?”

            “Lelaki itu sudah bertahun-tahun disitu.”

            “Bertahun-tahun?”

            “Sudah tujuh tahun.”

            “Setiap hari?”

            “Yah, setiap hari disaat padi berbuah,” orang tua berjenggot itu mendesah, “Tetapi lelaki itu hanya datang bersamaan munculnya bulir-bulir padi. Ia datang menjelang matahari terbit. Lalu menghilang ketika matahari naik sepenggalah. Esoknya datang lagi lalu menghilang. Terus menerus. Hingga menjelang panen, ia benar-benar menghilang. Tapi musim berikutnya, ia akan muncul bersamaan munculnya bulir-bulir padi.”

            “Apakah orang-orang disini tidak takut, Pak?”

            “Ada yang takut, ada juga tidak.”

            “Jadi?”

            “Jadi begitulah. Biasanya petani yang takut akan turun melihat sawahnya selesai sholat dhuha disaat lelaki itu sudah menghilang. Bagi yang tidak takut tetap seperti biasa. Mereka menganggap biasa lelaki itu.”

            “Tapi mengapa orang disini tidak berusaha mengusir lelaki itu, Pak?”

            Diam. Orang tua itu hanya mengangkat jari telunjuk ke mulutnya. Aku tahu maksudnya. Orang tuaku berlaku serupa bila aku menanyakan hal-hal yang berbau pamali. Aku juga diam. Beberapa jenak kemudian, orang tua itu melanjutkan ceritanya dengan suara yang melemah.

            “Nak! Kami sudah menganggap lelaki itu sebagai lelaki tomanurung, ia adalah utusan Dewi Sri, ia penentu hasil panen kami.”

            “Dewi Sri?”

            “Ya, bahkan seandainya ia seorang perempuan, kami pasti sudah menganggapnya jelmaan Dwi Sri.”

            “Mungkin Dewa Sri, Pak.”

            Aku tak bisa menahan keceplas-ceplosanku. Tapi kulihat orang tua itu tak terpengaruh dengan omonganku. Ia melanjutkan ceritanya. Aku semakin tertarik mendengarnya. Amat tertarik. Gaya bertutur orang tua itu mengingatkan aku pada almarhum kakekku yang bijaksana. Tidak seperti sosok almarhum ayahku, yang setiap ucapannya bagaikan titah dan sabda bercampur pamali.

            “Kami benar-benar menganggapnya tomanurung utusan Dewi Sri, Nak.”

            “Pernah dulu kami bermufakat untuk mengusir lelaki itu. Tapi kami baru berencana, lelaki itu sudah menghilang. Semusim lelaki itu menghilang. Tapi kami semua beroleh celaka. Selama musim itu panen kami gagal total. Padi diserang hama yang mengganas. Burung pipit, wereng, pun tikus memorak-morandakan padi kami. Kami tak bisa mengatasinya meski kami melakukan penjagaan ketat. Lalu…” Orang tua itu kelihatan sedih mengingat masa-masa gagal panen.

            Aku turut bersedih.

            “Musim selanjutnya kami berkumpul memohon kepada Sang Patatoqe agar panen kami tidak gagal lagi. Agar kami tidak kelaparan lagi. Kami berjanji akan menjadi warga yang baik, tidak mengusir siapa saja yang datang ke kampung kami, akan menjaga kelestarian alam kami. Akhirnya kami semua bersyukur, panen padi kami semakin melimpah seiring dengan munculnya juga lelaki itu. Kami benar-benar berterima kasih pada lelaki itu.”

            Orang tua itu melirik kepada lelaki yang berdiri mematung di sana. Aku juga melirik. Kami sama-sama kaget.

            “Matahari memang sudah naik sepenggalah.”

            Aku mengerti maksud orang tua itu. Tapi aku masih sedikit penasaran dengan lelaki itu. Seberapa hebatkah ia, lalu bisa menentukan baik-buruknya hasil panen. Mungkinkah aku bisa mengenalnya? Mengapa penduduk disini tidak berusaha mendekati dan mengenalnya. Aku memang sudah membaca dongeng Dewi Sri sebagai dewi padi, dewi kesuburan. Tapi bukankah itu hanya dongeng?

            “Nak! Saat-saat seperti ini, ketika matahari naik sepenggalah, penduduk akan turun memeriksa sawahnya, membersihkan rumput yang tumbuh di pematang, termasuk saya, Nak.”

            “Tapi mohon waktunya sebentar lagi, Pak.”

            “Apa belum jelas tadi, Nak?”

            “Begini Pak, apakah aku boleh mengenalnya secara dekat. Kalau boleh biarlah besok atau mungkin lusa aku langsung menemuinya saja.”

            “Hush!”

            Sekali lagi orang tua itu meletakkan telunjuk di mulutnya. Orang-orang memang sudah mulai berdatangan ke sawah. Bahkan sebagian perempuan terlihat menjinjing rantang yang berisi lauk-pauk untuk bekal makan siang suami mereka.

            “Nak! Lelaki itu tak mungkin didekati. Ia akan menghilang kalau kita mendekatinya. Ia hanya nampak dari kejauhan.”

            “Seperti pelangi, Pak?”

            “Mungkin saja, Nak. Tapi jangan coba-coba berniat mendekatinya, nanti kau beroleh celaka.”
            Orang tua itu menjawab sambil bergegas meninggalkan aku. “Ih!” Aku juga bergidik mendengar cerita orang tua itu.

            Matahari telah merangkak lewat sepenggalah. Ramai orang bekerja di hamparan sawah itu. Ada yang mencabuti rumput. Ada yang mengecek lubang, takut kalau ada tikus yang bersarang. “Akh!” Pantas saja desa ini surplus beras karena penduduknya tiap hari mendekam di sawah.” Aku membatin memuji sambil meninggalkan area persawahan yang luas itu.
            Aku begitu menikmati profesiku sebagai penyuluh pertanian di Desa Sangiasserri ini. Senang rasanya aku bisa bergaul kembali dengan lingkungan pedesaan.

            Sepuluh tahun berjalan aku tinggal di Desa Sangiasserri. Aku begitu bahagia. Lahan-lahan pertanian menghijau, menghampar luas. Benarlah kata orang-orang Eropa sana, apapun yang ditanam di negeriku akan tumbuh subur. Ya benar.

            Desa Sangiasserri memang tidak pernah berubah. Sejak dulu selalu surplus beras. Selain sebutan surplus beras, satu lagi belum berubah di kampung ini. Kuasa orang tua terhadap anak gadisnya masih mengcengkeram. Meski surplus beras, lelaki lajang tetap tak berdaya. Uang panai semakin tak tergapai. Tetapi sebagian lelaki lajang tak mau terperdaya, mereka memilih jadi TKI di Sabah Malaysia, lalu menikah di sana dengan biaya yang tak menyiksa. Lalu kembali ke kampung halaman.

            Alhasil, Desa Sangiasserri dibanjiri oleh perempuan-perempuan berumur yang gigit jodoh. Kekasih mereka terpaksa lari ke lain hati, ke lain desa, karena mereka tak menjangkau uang panai yang dipatok oleh orang tua sang perempuan. Dari perempuan-perempuan berumur itulah, aku mendapat cerita asal mula lelaki tomanurung versi lain. Konon, lelaki tomanurung itu adalah jelmaan seorang lelaki yang terpaksa bunuh diri di pematang sawah tujuh belas tahun silam. Musabab lelaki itu bunuh diri, ia tak mampu memenuhi uang panai yang dipatok oleh orang tua kekasihnya. Versi lain kudengar, lelaki itu berusaha bunuh diri bersama kekasihnya, tetapi perempuan itu bisa diselamatkan, bahkan perempuan itu akhirnya pindah ke kota. Ada yang menambahkan, perempuan setia itu bisa mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.

            Warga Desa Sangiasserri, terutama kaum perempuan berumur, memang pandai berkisah. Belum juga aku meninggalkan desa itu, mereka sudah mencipta kisah tentang diriku: Ibu penyuluh sang perawan tua.

            Sinjai-Bulukumba, 2013

Tomanurung    = orang yang turun dari langit.
Sang Patotoqe = Sang penentu nasib, dewa tertinggi dalam kepercayaan Bugis Kuno
Uang panai      = uang belanja, uang mahar bagi masyarakat Bugis-Makassar

Jumat, 29 Agustus 2014

Menyelisik Ruang-ruang Kecemasan Tiga Orang Penulis


Tiga Orang Penulis

Saya selalu memosisikan diri, bila membaca sebuah buku atau tulisan, maka seumpama saya memasuki sebuah rumah. Tentu saja, saya adalah seorang tamu. Dan, kata-kata, frase, pun kalimat adalah suguhan dari sang empunya rumah. Manis, pahit, amis, kecut, sesungguhnya hanyalah rasa saja. Dan selalu saja, soal rasa hanyalah soal selera. Aha! Siapalah yang bisa memaksakan selera orang sama. Dan siapalah yang mau berdosa memastikan, manis itu obat, dan pahit itu racun.

Setelah bertamu ke ruang-ruang narasi ketiga penulis muda ini, segala rasa membuncah, lalu meluah. Luahan-luahan rasa itu menumpuk pada sebuah ruang. Itulah ruang-ruang kecemasan. Ruang yang di dalamnya terdiri dari bilik-bilik yang berbeda. Itulah bilik interpretasi. Dan, tentu saja, kesuksesan awal tulisan-tulisan dalam buku ini adalah mampu menghadirkan ruang-ruang kecemasan.

Tapi, tentu saja, membaca ruang-ruang kecemasan dalam sebuah karya sastra bukanlah sebuah keniscayaan bagi seorang pembaca. Bukankah, soal rasa hanyalah soal selera saja. Tapi rasa, sebagaimana halnya dengan kata, juga butuh harmonisasi. Manalah kopi enak diteguk kalau terasa teh, dan dimana pula letak enaknya kalau teh beraroma kopi.

 Ya! Bolehlah kita bersilang rasa soal selera, tapi yang jelasnya, ruang-ruang kecemasan dalam karya sastra bukan hanya harus ditafsirkan sebagai sebuah kegalauan pengarang atas dunia atau realitas yang dihadapinya, tetapi juga merupakan sebuah dunia hiper-real yang berusaha dibangunnya.

Bagi seorang pengarang, dunia kecemasan merupakan salah satu hal yang urgen yang harus disajikan dalam karya-karyanya. Dalam ruang-ruang kecemasan ini, seorang pengarang berusaha membangun dunianya sendiri, minimal mereka berusaha menghadirkan ketidak-setujuannya atau penentangannya terhadap realitas yang berserakan di masyarakat yang dianggapnya bertentangan dengan nilai-nilai yang diyakininya. Sebab dari dunia kecemasan inilah, manusia akan selalu dapat mengintrospeksi diri. Dan itu berhasil dilakukan oleh ketiga penulis dalam buku ini. Dunia hiper-real yang dibangun oleh Damang Averroes Al-Kharizmi terlihat sebangun dengan dunia hiper-real Andi Paramata Anum, dunia hitam-putih. Sedikit agak lain, Irhyl R Makkatutu membangun dunia hiper-realnya dengan warna abu-abu, sebuah warna yang sebenarnya manipulatif, tak hitam tak putih. Ya, Irhyl R Makkatutu lebih memilih berteriak lembut daripada Damang Averroes Al-Khawarismi dan Andi Paramata Anum. Tapi ini juga soal selera, bukankah kata-kata yang ‘direndahkan’ belum tentu bermakna lembut, dan siapalah yang berani mengklaim bahwa suara yang ‘ditinggikan’ selalu saja kasar.

Dalam banyak hal, pertentangan nilai yang dialami oleh pengarang kadang memunculkan dunia-dunia baru yang diyakininya sebagai dunia yang berisi nilai-nilai baik yang seharusnya dijalankan oleh setiap individu. Dalam dunia-dunia baru ini seorang pengarang menyajikan nilai-nilai yang diyakininya. Dunia makna dikelola berdasarkan nilai-nilai kebenaran yang ingin disampaikan seorang pengarang pada pembaca. Tentu saja, dari bilik-bilik kecemasan yang sunyi, Andi Paramata Anum, Damang Averroes Al-Khawarismi, dan Irhyl R Makkatutu berteriak dan berbisik menyuguhkan nilai-nilai yang diyakininya.

Bilik-bilik Kesunyian Andi Paramata Anum
            Meski berdiri di bilik-bilik kesunyian, Andi Paramata Anum tetap berteriak dalam kisah-kisahnya. Lihatlah penggalan dalam cerita “Derita Ragita”:

Rembulan, bintang, purnama tak habisnya kata mewakili kiasan indah untuk diselami. Terkadang itu hanya perwakilan yang tak berujung kebaikan. Ada yang meremehkan dengan buah bibir begitu busuk untuk dinikahi, ada yang menyanjung namun begitu jorok untuk diselami. Lalu setelah itu, semuanya akan diperhadapkan pada masalah-masalah yang hakekatnya akan merasa terpatih dengan rekayasa yang disajikan. Aku tak ingin menyampur ragaku dengan mereka, biarlah mereka yang jalani. Aku punya jalanku. Aku belajar memahami jalanku. Jalan yang nantinya menjadi petunjuk setelah aku menemui luka dan kerinduan.

            Teriakan lain Andi Paramata Anum dari bilik-bilik kesunyiannya, yang sesungguhnya adalah sebuah tangisan terekam dalam kisah “Sisa Mimpi Semalam”:

Aku menoleh pada teriknya malam, rasanya itu nyata, tapi sesaat aku sadar, apa ini halusinasi bagiku ataukah nyata dalam hidupku. Baru kali ini aku melihat teriknya malam, padahal biasanya malam membias rembulan yang begitu indah. Mengapa saat ini terasa begitu penat, ngeri juga galau bagiku. Ah, kuingkari apa yang kurasa. Rasanya aku berlari ke dalam dunia mimpi. Mimpi yang tak mengembalikanku pada kenyataan. Aku memang bahagia, ya bahagia, tapi bukan dalam ketidakpastian dengan keraguan hidupku.

Ada dua hal yang unik dalam kisah-kisah Andi Paramata Anum dalam buku ini. Pertama, ruang-ruang kegelisahan yang dibangunnya adalah sebuah dunia multi-tafsir atas realiatas yang dihadapinya dari kacamata seorang perempuan. Kedua, dari “kacamata” seorang perempuan, Andi Paramata Anum kadangkala dengan mata “sembab” mengusung potongan-potongan kegelisahannya dengan cara menggedor-gedor bahkan menghentakkan palu godam secara “brutal” sehingga pembaca tersentak dan terkepung kengerian.

Batu-batu Kesedihan Irhyl R Makkatutu
            Ketimbang berteriak dalam ruang-ruang kecemasan yang sunyi, Irhyl R Makkatutu lebih memilih benyanyi riang di atas alam yang tak mengenal batas. Lihatlah kutipan penggalan kisah “Madah Gelombang”:

Riuh gelombang menghampir di telinga. Seorang lelaki duduk di hadapan gelombang laut. Menikmati sepoi. Mengecuplah kenangan yang malu-malu menampakkan dirinya. Di ujuang lazuardi sana, matahari mengintip tajam ke arah lelaki itu. Warna yang dilahirkan mengagumkan merah dan kuning. Kedua warna tersebut menyatu, menyempurnakan dirinya jadi jingga yang eksotik; Jingga.

            Dalam kisah “Kelopak Rindu”, dengan lihai Irhyl R Makkatutu mendedahkan kisahnya:
Seorang gadis duduk melamun memegang dagunya. Pandangannya lurus ke barat. Cemberut dan kecewa terlukis di wajahnya. Sebuah batu kecil berwarna putih digenggamannya, sesekali jemarinya mempermainkan benda itu dan tatapannya menyapu semua sisinya. “Kapan batu jodoh ini berubah jadi pertemuan?”

            Dalam semua bangunan kisah-kisahnya, terlihat Irhyl R Makkatutu berdiri di atas batu-batu kepedihan sampi berdendang lirih. Tetapi di akhir kisah-kisahnya, serupa Kahlil Gibran, Irhyl R Makkatutu seolah berbisik, “Semakin dalam sang duka menggoreskan luka dalam sukma, semakin mampu sang kalbu mewadahi bahagia.”

Jejak-jejak Kerinduan Damang Averroes Al-Kharismi
            Dalam jejak kisah-kisahnya, Damang Averroes Al-Kharismi seumpama adalah seorang pejalan kaki. Ia adalah seorang pengelana yang mencoba menapaki kembali jalan-jalan yang dilaluinya. Lihatlah salah satu jejak kerinduan itu, dalam penggalan kisah “Hujan Airmata”:

Dusun Batuleppa telah membawaku pada kedewasaan berpikir. Membawa pada usia yang menjadi senja. Seakan uban ketuaan menjadi petanda. Tidakkah kampung ini menjadi saksi. Bahwa, ia jauh lebih tua dibanding para penghuni yang tiap hari lalu-lalang. Setiap udara pagi yang terbuka. Diramaikan oleh mereka yang turun dari bukit Banyira menjajakan buah langsat dan rambutan di pasar Lancibung. Telah menjadi pemandangan dan ocehan dari para pedagang eceran untuk memanipulasi harga dalam mencari keuntungan pasar.

            Jejak kerinduan lain Damang Averroes Al-Kharismi yang mendedah airmata terekam dalam kisah “Memori Kematian”:
Tak lupa untuk ayahku yang ada di pemakaman. Di kampung. Punya kenangan jelak dengan kematian. Di sini aku benar-benar merasakan yang namanya kepedihan dan rasa sakit saat orang kesayangan kita telah pergi. Engkau memang telah pergi bertahun-tahun. Tapi kadang aku masih diingatkan dengan dirimu. Kematian.

            Meski berjalan di atas jalan-jalan berdebu, terlihat Damang Averroes Al-Khawarismi terlihat tidak gamang. Bahkan ia berteriak, “Jalan-jalan yang berdebu ini telah meninggalkan jejak-jejak makna dalam hidupku.” Begitulah, air mata tidaklah selalu wakil kelemahan. Pun, air mata menetes tidak selalu mewakili kesedihan, tetapi ia mewakili rasa. Rasa bahagia yang terekam indah lewat jejak-jejak makna.
Saya merasa lega. Seumpama juga seorang pejalan kaki, saya sudah berhasil memasuki semua ruang-ruang kecemasan ketiga penulis muda ini. Dari bilik-bilik kesunyian Andi Paramata Anum, batu-batu kesedihan Irhyl R Makkatutu, hingga menyelami jejak-jejak kerinduan Damang Averroes Al-Khawarismi.

Dan, satu yang pasti. Bilik-bilik kesunyian, batu-batu kesedihan, dan jejak-jejak kerinduan, semuanya menyuguhkan menu utama: Cinta.

Akhirnya saya pun meninggalkan rumah kecemasan ketiga penulis muda berbakat ini. Saya pun bernyanyi riang. Saya harap mereka mendengarkan nyanyian saya, nyanyian yang pernah berkali-kali didendangkan oleh sosok yang sangat mengagungkan cinta, Jalaluddin Rumi. “Andai tidak ada cinta, alam menjadi tidak mempesona, kicauan burung tidak lagi merdu, panorama alam tidak lagi mengagumkan, bahkan kehidupan membeku tanpa makna.”
                                                                                    Matabubu, 27 Februari 2014


[1] Sastrawan dan peneliti budaya. Menulis buku sastra: Lebaran Kali ini Hujan Turun (Makassar 2006), Pohon-Pohon Rindu (Yogyakarta, 2009), Daun-Daun Rindu (Yogyakarta, 2010), Perempuan Poppo (Yogyakarta, 2010), Sabda Laut (Yogyakarta, 2010), Sarifah (Yogyakarta, 2011), La Galigo, Napak Tilas Manusia Pertama di Kerajaan Bumi (Yogyakarta, 2012), dan La Galigo, Gemuruh Batin Sang Penguasa Laut (Yogyakarta, 2012)

Tulisan ini adalah pengantar dari buku: MENETAK SUNYI

KURSI DAN INDONESIA



Oleh :Arif Saifudin Yudistira

Santri Bilik Literasi Solo
 Peminat masalah sosial dan politik
  
Pemimpin mestinya tak banyak bicara, tapi banyak bekerja.

Para Calon Anggota Legislatif (Caleg) saat ini memang lagi ramai memperebutkan “kursi.” Mereka mulai menarik simpati, mulai dari spanduk di jalan raya, sampai iklan di televisi. Wajah mereka memang hadir sehari-hari, meski tanpa visi, mereka rajin menampakkan diri. Bagi mereka, kursi adalah yang utama, meski harus keluar berapapun biayanya. Kursi adalah tempat dan tujuan mereka, sebab rakyat hanya jembatan semata.

Berfoya-foya dan main perempuan menjadi berita memalukan, meski begitu, mereka tak merasa malu dan menyesal. Anggota dewan kita memang terhormat, tapi juga pengkhianat. Mereka sibuk dengan janji dan wajah manis mereka ketika kampanye, ketika mereka jadi, mereka lupa dan sibuk dengan belanja negara. Calon wakil rakyat kita memang cerdik, mereka pandai merayu dan mengundang simpatik. Mereka rajin blusukan, meski hanya saat menjelang coblosan.

Pejabat sekarang memang identik dengan merebut “kursi.” Kursi, dahulu dimaknai dengan singgasana dan kedudukan raja, serta tempat teragung. Kini. kursi di kantor DPR kita justru kursi kosong. Banyak para anggota dewan kita justru bolos dan tak hadir rapat. Mungkin benar kata Buya Syafii Maarif, kita telah kehilangan negarawan.

Pemilu sebentar lagi, mereka saling berebut “kursi,” sikut kanan-sikut kiri, asal dapat duduk di kursi. Dari yang halal sampai yang haram, dari tebar pesona sampai obral omongan. Tiap lima tahun sekali kita seperti disuguhi gambar dan iklan, tak ada visi atau pandangan bagaimana mengubah Indonesia ke depan. Partai politik seperti tak tahu malu, tak punya kader tangguh dan bermutu. Maka, kita tak perlu heran, bila mereka hanya mengandalkan popularitas dan selebritas.

DPR memang penuh dengan akronim dan plesetan miring, dari Dewan Pengkhianat Rakyat, sampai Dewan Pemeras Rakyat. Maklum, mereka tak kerja, mau gaji tinggi, mereka tak rajin rapat maunya bonus dan insentif tinggi. Bagaimana rakyat akan percaya kata-kata mereka, bila yang dahulu-dahulu sudah banyak kasus dan contohnya.

Mulai dari anggota dewan yang ribut dan ricuh di ruangannya, sampai anggota DPR yang terlihat Closed-Circuit television (CCTV) sedang nonton video porno ketika siding. Dari kasus korupsi sampai kasus impor sapi, dari kasus dan skandal perempuan  sampai kasus terlibat sogokan. Mereka seperti tak layak disebut sebagai yang terhormat, tapi lebih tepat disebut sebagai pengkhianat. Mereka bersumpah di depan Alquran, dan kitab suci, tapi perilaku mereka seperti melupakan janjinya sendiri.
Rasanya Caleg kita memang belum memahami makna pemimpin. Pemimpin mestinya tak banyak bicara, tapi banyak bekerja. Mereka tak harus banyak bersuara, tapi banyak merenung dan banyak mendengar.

Politikus dan pejabat negeri kita kini memang seperti sajak yang ditulis WS Rendra : Semua politisi mencintai rakyat/di hari libur mereka pergi ke Amerika dan mereka berkata/bahwa mereka adalah penyambung lidah rakyat/kadang-kadang mereka anti demonstrasi/kadang-kadang mereka menggerakkan demonstrasi/dan kalau ada demonstran mati yang ditembaki/mereka berkata : itulah pengorbanan/yang lumrah terjadi di setiap perjuangan/lalu ia mengirim karangan bunga/dan mengucapkan pernyataan duka cita/… politisi hanya tahu kekuasaan tanpa diplomasi/ sedang massa tanpa daulat pribadi…(Politisi Itu adalah).

Sajak Rendra tadi seperti menjelaskan bagaimana politikus dan pejabat negeri ini, mereka sibuk untuk mengurusi kekuasaan dan mempertahankannya daripada menjalankan dan menunaikan amanahnya. Sebagaimana puisi Rendra yang lain ia mengatakan : Meskipun hidup berbangsa perlu politik/tetapi politik tidak boleh menjamah ruang iman dan akal/ di dalam daulat manusia.
Sepertinya para politikus, Caleg dan pejabat kita memang sudah menaruh politik tanpa hati nurani. Sehingga, mereka tak malu untuk korupsi dan menipu diri. Justru tersenyum dan tertawa seolah-olah mereka sedang bahagia. Hal ini membuat kita semakin risih dan tak percaya pada pemimpin kita sendiri. Hal ini yang menimbulkan kita semakin apatis dan pesimis melihat negeri ini ke depan.
Kita pernah punya tokoh dan negarawan seperti Habibie. Meski penuh kontroversi, ia bekerja tanpa peduli caci maki. Ia memanggul tugas negarawan di masa persimpangan dan peralihan rezim. Tidak dimungkiri, ia adalah tokoh yang membuka keran demokrasi, meski orang sering mencibir demokrasi sekarang terlanjur seperti politik dagang sapi, loe jual gue beli! Kita memang masih berharap di tengah pesimisme dan keputusasaan.

Sudah waktunya para politikus dan partai politik berbenah. Agar masyarakat dan rakyat makin percaya pada pemimpinnya sendiri bukan sebaliknya. Kita memang sudah seperti salah kaprah dalam memilih pemimpin kita. Salah sekali, bisa lima tahun kita menyesali dan meratapi. Kita tentu tak berharap demokrasi hanya menjadi ajang perebutan “kursi.” Kita juga tak ingin demokrasi justru berujung anarki dan chaos seperti di Mesir dan negara lain. Kita ingin Pemilu ke depan menghasilkan wakil-wakil yang kompeten dan memiliki kapabilitas memimpin negeri ini. Bukan pemimpin yang rajin belanja dan wisata ke luar negeri, atau yang rajin melakukan kunjungan dan studi banding ke negara lain yang cuma menghabiskan anggaran negara dan foya-foya.

Rasanya kita perlu membuka kembali sejarah kita di masa lalu. Pemimpin kita adalah pemimpin yang tak pernah berfikir tentang ego dan apa yang menjadi kepentingan mereka. Mereka mendharmabaktikan apa yang mereka miliki untuk bangsa dan negara. Soekarno, Mohammad Hatta, Syahrir, Suwardi Suryaningrat adalah figur pemimpin dan politikus kita yang tak memiliki jiwa haus kuasa dan jabatan. Mereka tak menginginkan duduk di “kursi” kekuasaan apalagi uang.

Ketika mereka diminta untuk memimpin, mereka cenderung berbuat dengan tanggungjawab. Inilah yang ditunjukkan oleh Syahrir, ketika rakyat meminta ia untuk berhenti, maka  Syahrir pun mundur dan menyerahkan kekuasaannya kepada penggantinya tanpa ikut campur dan ikhlas. Berbeda dengan presiden, maupun calon legislatif kita, mereka justru merancang dan menyusun rencana bagaimana cara mereka maju dan menang lagi untuk ke dua kalinya.

Apa yang dialami oleh negeri kita hari ini memang mirip dengan sajak yang ditulis sastrawan makasar Dul Abdul Rahman :  

dunia memang sudah retak/ para penguasa galak-galak/ mereka tak memakai otak/ mereka begitu lihai melompat seperti katak/ memangsa apa saja dengan  congkak/ sumpah dan janji hanya disimpan di ketiak/ lalu mereka berteriak-teriak/ “Atas nama rakyat kami bertindak!”/lalu rakyat pun ikut berteriak : “Sekak!”.

Kita memang perlu memberikan “sekak’’ kepada mereka, agar mereka insaf dan lekas sadar. Para Caleg dan wajah calon pemimpin kita memang sudah bermunculan. Tapi kita masih merenung dan bimbang. Siapa sebenarnya pemimpin kita lima tahun mendatang. Indonesia memang dibentuk dan ditentukan dari siapa yang duduk di “kursi”. Kursi dalam kosmologi politik di Indonesia memang rentan dan penuh goda. Ia bisa menjerat orang yang duduk di dalamnya atau sebaliknya menjunjung tinggi dan mengangkat martabat serta kehormatannya. Semua itu tergantung pada siapa yang duduk di “kursi’ kita di masa mendatang.

Sabtu 15-03-2014