Minggu, 10 Juni 2012
KUMBANG JELEK JATUH CINTA
Judul Buku : Pohon – Pohon Rindu
Penulis : Dul Abdul Rahman
Tahun : 2009
Penerbit : DIVA Press (Anggota IKAPI)
Kota Penerbit : Jogjakarta
Tebal Halaman : 352 halaman
Jenis Buku : Fiksi
Novel karangan Dul Abdul Rahman ini bercerita tentang Beddu Kamase (Beddu), seorang anak pensiunan hansip yang rajin dan pandai di sekolahnya, SMA Negeri Bikeru Sinjai Selatan. Selain itu, anak yang patuh dan hormat pada guru dan orang tua ini juga aktif dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Beddu memiliki empat sahabat karib di sekolahnya, yaitu Anton yang cuek, Dayat yang Alim, Umar yang bandel dan Hutbah yang playboy.
Ketika tahun ajaran baru Beddu bertemu dengan Andi Masniar (Nia), sesosok gadis yang mengenalkannya pada perasaan yang disebut cinta. Awalnya, perasaan Beddu itu tidak disambut baik oleh Nia. Terlebih lagi Beddu harus bersaing dengan Hutbah yang sudah berpengalaman dalam urusan perempuan. Sebenarnya, dibalik itu semua, jurus maut Hutbah merayu perempuan tetap tidak ada apa-apanya tanpa kata-kata puitis olahan Beddu dalam setiap surat cinta yang Hutbah berikan kepada perempuan incarannya. Dan surat cinta yang Hutbah berikan kepada Nia pun merupakan karya Beddu yang tak lain adalah hasil penuangan isi hati Beddu sendiri pada Nia.
Nama Beddu yang tertera dalam surat cinta Hutbah tersebut mendatangkan musibah bagi Beddu. Surat cinta itu membuatnya dipermalukan oleh Nia di depan umum.
Kala itu Nia melemparkan surat cinta itu pada Beddu di depan perpustakaan seraya meneriakinya “kumbang jelek”. Kumbang adalah sebuah simbol diri Beddu yang dituangkan dalam puisi sebagai pelengkap surat cinta Hutbah. Namun, sejak kejadian itu Beddu semakin termotivasi untuk menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya kepada Nia.
Usaha Beddu tak sia-sia, Beddu berhasil menunjukkan kepandaiannya pada Nia melalui juara umum yang diraihnya. Prestasi itu kemudian membuat Nia mulai memperhatikan Beddu dan mulai sadar bahwa orang yang dijuluki kumbang jelek itu bukanlah orang sembarangan. Selain itu, Beddu menuangkan bakat menulis kata-kata puitisnya melalui mading kelasnya. Karya-karyanya pun kemudian menjadi buah bibir warga sekolah, terutama kaum perempuan. Saat itu pula, Nia semakin sadar bahwa laki-laki yang telah dipermalukan di depan umum itu bukanlah orang biasa. Nia berusaha untuk meminta maaf pada Beddu tentang kesalahannya tersebut. Nia merasa sangat bersalah atas apa yang telah dilakukannya terhadap Beddu. Meskipun Beddu sudah bisa memaafkan Nia, namun sikapnya masih dingin terhadap Nia.
Bergabungnya Nia sebagai anggota KOMPITA, Kelompok Pecinta Alam yang didirikan oleh Beddu dan kawan-kawannya, membuat hubungan Beddu dan Nia semakin dekat. Bahkan kedekatan mereka tersebut yang kemudian memberanikan Beddu untuk berkunjung ke rumah Nia sesuai dengan undangan ayah Nia. Ayah Nia, atas nama keluarga Nia, meminta maaf kepada Beddu mengenai kesalahan yang pernah Nia lakukan pada Beddu. Keluarga Nia yang berpendidikan itu membuat Beddu semakin termotivasi untuk menjadi orang yang berpendidikan juga agar dapat diterima oleh keluarga Nia.
Setamat SMA, Beddu pun melanjutkan pendidikannya ke Universitas Hasanuddin Makassar. Sebelum berangkat ke Makassar, Beddu dan Nia sempat mengucapkan janji untuk saling setia di bukit yang terletak di sebelah selatan SMA Bikeru, bukit Bulu Paccing. Dan disana pula, mereka yang sama-sama cinta lingkungan juga berjanji untuk menjaga hutan sebagai simbol dari cinta mereka. Bagi mereka, menjaga hutan sama artinya menjaga cinta mereka. Ketika enam bulan pertama menjalani masa kuliahnya, Beddu dikagetkan dengan sikap Nia yang benar-benar manja. Kala itu, Nia menelepon Beddu dan memintanya untuk segera kembali ke Sinjai dengan alasan bahwa ia sangat rindu pada Beddu.
Apakah hanya itu saja alasan Nia meminta Beddu untuk segera kembali ke kampung halaman? Silahkan rasakan nuansa romansa antara Beddu dan Nia dengan membaca secara lengkap tulisan Dul Abdul Rahman ini. Novel yang disajikan dengan sudut pandang orang pertama sebagai tokoh utama ini, mengangkat tema kasih tak sampai antara Beddu dan Nia dengan begitu menyentuh dan begitu dekat dengan kehidupan nyata. Suasana menyenangkan dan bahagia memang kurang mendapat tempat dalam novel ini, bahkan lebih di dominasi oleh suasana yang penuh haru dan mengundang air mata. Namun, penataan alur yang dibuat oleh penulis dapat menghadirkan emosi para pembaca dan memiliki daya pikat yang kuat dalam setiap tahapannya. Budaya Bugis yang begitu kental dan melekat pada tokoh utama serta tokoh-tokoh lainnya semakin menguatkan karakter mereka dalam novel ini.
Kisah cinta yang diangkat oleh penulis dituangkan ke dalam hal yang positif serta diiringi dengan pesan-pesan mendidik yang tersirat di dalamnya. Para remaja dapat menjadikan kisah ini sebagai pembelajaran moral yang positif ketika mulai merasakan apa itu cinta dan menyikapinya ke arah yang positif.
Diposkan oleh Emilia Yulisita di 7:32:00 AM
sumber tulisan: www.sitayulisita.blogspot.com
Senin, 21 Mei 2012
Catatan Monda Siregar tentang LA GALIGO
Blogwalking ke tempat sahabat, Ne, dapat kabar bahwa tanggal 17 Mei adalah Hari Buku Nasional. Maka, bertepatan juga dengan Hari Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei, ingin kuceritakan sekilas buku yang baru saja kutamatkan berjudul La Galigo, 374 halaman, novel yang ditulis oleh Dul Abdul Rahman, penerbit Divapress, Januari 2012. Kurasa epik La Galigo ini dapat membangkitkan percaya diri bangsa kita dengan prestasinya yang sudah mendunia.
Sejatinya, La Galigo adalah kisah yang diceritakan secara lisan turun temurun di masyarakat Bugis, Sulawesi Selatan, yang diperkirakan sudah ada sejak abad 14, ketika masih jaman pra Islam. Barulah pada abad 19 atas permintaan B.F Matthes (1818-1908) La Galigo ditulis oleh Colliq Pujie Arung Pancana Toa, terdiri dari 300.000 baris, lebih panjang daripada epos Mahabharata (160.000-200.000 baris) sumber : Kata Pengantar La Galigo. Salinan ini terdiri dari 12 volume dan kini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Naskah ini berbentuk puisi dan ditulis dalam aksara dan bahasa Bugis kuno.
UNESCO pada 2011 menganugerahkan La Galigo gelar sastra klasik warisan dunia, Memory of the World (MOW). Meskipun La Galigo kurang bergema di negaranya sendiri, tetapi di dunia internasional memang sudah sangat dikenal. Banyak ilmuwan yang meriset naskah ini untuk tesisnya. Hikayat La Galigo semakin dikenal dunia internasional setelah dibuat pertunjukan teater I La Galigo oleh Robert Wilson sutradara asal Amerika Serikat, pada 2004 (dari pemberitaan tentang teater inilah dulu pertama kali kudengar tentang La Galigo), tentu saja banyak dukungan seniman Indonesia, termasuk pemerannya yang berasal dari Bugis.
Isi novel La Galigo bukanlah terjemahan dari manuskrip di Leiden itu, tetapi berdasarkan apa yang ditangkap oleh penulis dari dongeng turun temurun, tetapi nama tokoh masih mengikuti manuskrip kuno. Nama ini penting, karena di banyak tempat di Sulawesi atau di Malaysia tokoh di La Galigo ini punya nama berbeda.
Dikisahkan bumi (Sulawesi) saat itu masih tak berpenghuni. Hanya ada para dewa di Dunia Atas (Boting Langiq) dipimpin oleh Sang Patotoqe dan Dunia Bawah (Peretiwi). Untuk mengisi kekosongan di bumi diutuslah putra tertua sang Raja Dewa Dunia Atas, Batara Guru, seorang diri di bumi hingga dia bisa membuktikan diri sebagai manusia biasa. Setelah itu barulah diturunkan istana dari kahyangan beserta perlengkapannya termasuk para pengikut dan selir, menjadi kerajaan bernama Ale Luwuq. Kemudian dia menikah dengan sepupunya dari Dunia Bawah, bernama We Nyiliq Timoq. Mereka berputra mahkota Batara Lattuq yang kemudian menikah dengan sepupunya , We Datu Sengngeng dari kerajaan manurung Tompoq Tikkaq (kerajaan diturunkan dari langit).
Tokoh yang paling banyak dibicarakan dan diangkat ceritanya adalah putra Batara Lattuq, bernama Sawerigading. Ia jatuh cinta kepada saudara kembar yang telah dipisahkan dari bayi, seorang putri bernama We Tenriabeng. Karena patah hati, Sawerigading bersumpah meninggalkan negrinya dan tak akan kembali lagi, hanya keturunannya yang boleh kembali ke Ale Luwuq. Atas saran We Tenriabeng ia pergi mencari jodoh ke negeri Ale Cina. Dalam perjalanan menembus lautan berbulan-bulan banyak dikisahkan keberaniannya menghadapi peperangan dengan rombongan kapal dari negeri lain, sampai akhirnya ia tiba di Ale Cina dan menikah dengan I We Cudaiq. Putra mereka bernama I La Galigo. Sampai di sini berakhirlah cerita novel ini. Sedangkan di versi aslinya cerita masih bersambung sampai dengan putra I La Galigo.
Selain tentang mitos dewa-dewa dan seni budaya Bugis kuno, di cerita ini ada juga kisah yang mirip dengan kisah yang banyak dikenal di Jawa, yaitu tentang dewi padi, Dewi Sri. Di kisah ini sang dewi bernama Sangiang Serri, yaitu padi yang menjelma dari makam bayi putri Batara Guru.
Meskipun awalnya agak susah menghafal begitu banyak nama yang asing, tetapi sangat menyenangkan bisa tahu seni budaya kuno milik bangsa kita. Semoga semakin dikenal, semakin berkibar kisah I La Galigo di negara sendiri.
Sumber: mondasiregar.wordpress.com
Senin, 16 April 2012
Mencari Jejak "Negeri Cina" dalam Kitab Sastra La Galigo
Oleh: dul abdul rahman
(Sastrawan dan peneliti budaya, penulis novel “La Galigo”)
Semula saya tertarik mengadaptasi Kitab Sastra La Galigo kedalam bentuk novel yang easy reading karena dua hal. Pertama, saya “terprovokasi” oleh tulisan Nirwan Ahmad Arsuka, “Kesakralan Sureq Galigo yang membuatnya tak dapat diakses oleh sembarang orang, tampaknya memang harus disembelih dan dikorbankan. Kesakralan itu perlu dibunuh agar seperti We Oddang Nriuq yang meninggal tujuh hari setelah dilahirkan dan menjelma Sangiang Serri, dari tubuhnya tumbuh padi yang akan menghidupi manusia beribu tahun,… wujud yang paling sederhana adalah penulisan ulang dalam bentuk novel.” Kedua, saya selalu ditagih oleh kawan-kawan yang berada di Tana Jawa yang ingin mengetahui kehebatan Sawerigading. Rupanya kisah Sawerigading ketika menaklukkan Banynyaq Paguling dari Manynyapaiq (Majapahit) juga menjadi cerita yang turun-temurun di Tana Jawa. Lalu setelah novel La Galigo diterbitkan oleh Diva Press Yogyakarta, maka pertanyaan yang muncul adalah tentang setting Negeri Cina. Apakah setting tersebut mengacu ke Negeri Cina yang sesungguhnya?
Memang, setting Cina dalam La Galigo selalu menjadi perdebatan apakah benar-benar mengacu ke Negeri Cina yang sesungguhnya, atau hanya mengacu ke Cina yang ada di Bone ataupun di Wajo. Menurut Nurhayati Rahman, penyebab terjadinya kontroversi tersebut disebabkan oleh dua hal, pertama, pada umumnya orang meletakkan La Galigo sebagai karya sejarah; kedua, pendekatan tersebut tidak didahului oleh pendekatan filologi melalui kritik teks dan telaah naskah.
Begitulah, menurut Nurhayati Rahman, para peneliti La Galigo selalu menganggap bahwa teks-teks La Galigo adalah kenyataan sejarah, sehingga selalu mencoba mencocokkan setting yang tertera dalam La Galigo ke dalam dunia nyata. Menurut pengamatan penulis sendiri, pendapat para peneliti yang bervariasi tentang latar Negeri Cina menunjukkan bahwa teks-teks La Galigo adalah teks sastra yang polyinterpretable. Itulah dunia sastra yang multitafsir.
Latar Cina mengacu ke Negeri Cina
Pendapat pertama adalah latar Negeri Cina mengacu kepada Negeri Cina yang sesungguhnya. pendapat ini berdasarkan atas perjalanan Sawerigading dari Ale Luwuq ke Negeri Cina selama berbulan-bulan. Kalau saja Negeri Cina hanya berada di Sulawesi maka tidak dibutuhkan pelayaran selama berbulan-bulan. Alasan lainnya adalah selama pelayaran ke Negeri Cina, pasukan Sawerigading dibawah komando La Pananrang dan La Massaguni melakukan pertempuran di laut selama tujuh kali sebelum sampai di Negeri Cina.
Dan pertempuran pertama adalah pasukan Sawerigading melawan pasukan Banynyaq Paguling dari Majapahit. Pasukan Sawerigading juga melakukan pertempuran dengan pasukan La Tuppuq Gellang dari Jawa ri Aja (Jawa Barat, kemungkinan dari kerajaan Pajajaran).
Data selanjutnya yang menunjukkan bahwa Sawerigading menuju Negeri Cina, setelah menaklukkan Banynyak Paguling dan La Tuppuq Gellang, serta La Tuppuq Soloq, La Togeq Tana, dan La Tenripulaq, pasukan Sawerigading bergegas ke utara menuju Laut Cina Selatan sehingga bertemu dengan pasukan La Tenrinyiwiq dari Malaka.
Latar Cina Mengacu ke Cina di Wajo
Sebagian peneliti berpendapat bahwa latar Negeri Cina bukan mengacu ke Negeri Cina yang sesungguhnya, tetapi mengacu kepada Cina yang ada di Wajo. Bahkan Andi Zainal Abidin (Nurhayati Rahman, 2006: 420) yakin bahwa Negeri Cina dalam La Galigo mengacu ke Cina di Kecamatan Pammanna, Kabupaten Sengkang. Hal ini berdasarkan silsilah raja Cina yang ada di Pammanna.
Data dalam La Galigo yang mendukung pendapat ini adalah ketika putri Sawerigading dan I We Cudaiq bernama I We Tenridio sakit keras, menurut para dukun istana dan Puang Matowa, bahwa I We Tenridio hanya bisa disembuhkan dengan peralatan bissu manurung yang ada di Ale Luwuq. Peralatan bissu tersebut milik saudara kembar Sawerigading We Tenriabeng yang sudah gaib ke Boting Langiq. Maka Sawerigading pun mengutus I La Galigo kembali berlayar ke Ale Luwuq untuk mengambil peralatan bissu tersebut. Lalu I La Galigo dengan dikawal oleh tujuh puluh pengawal khususnya berlayar menuju Ale Luwuq.
Pelayaran I La Galigo dari Negeri Cina menuju Ale Luwuq sangat bertolak belakang dari pelayaran Sawerigading dari Ale Luwuq menuju Negeri Cina. Kalau pelayaran Sawerigading selama berbulan-bulan, maka pelayaran I La Galigo hanya dalam sehari saja. Padahal perahu yang mereka tumpangi sama yaitu Perahu Welenrengnge. I La Galigo meninggalkan Negeri Cina pagi hari dan tiba di Ale Luwuq pada malam hari. Bahkan sebenarnya I La Galigo bisa berlayar hanya setengah hari seandainya mereka tidak singgah di Siwa dan Takkebiroq. Dari dua tempat yang singgahi menunjukkan bahwa Negeri Cina tidak jauh dari Ale Luwuq.
Latar Cina di Kalimantan
Selain dua pendapat di atas, ada juga pendapat yang mengatakan bahwa Negeri Cina bukan mengacu ke Negeri Cina yang sesungguhnya dan bukan pula Cina yang ada di Wajo. Pendapat ini didukung oleh Fachruddin Ambo Enre (Nurhayati Rahman, 2006: 421).
Menurut Fachruddin, Negeri Cina dalam La Galigo mengacu ke negeri Kinabalu (Kalimantan, bagian Malaysia). Menurutnya, Kinabalu berasal dari kata Cina Baru. Karena pada umumnya orang Tionghoa susah melafalkan huruf R maka lama kelamaan Cina Baru menjadi Kina Balu. Huruf C menjadi huruf K mengikuti ejaan Melayu.
Tidak ada data tersurat dalam La Galigo yang mendukung pendapat Fachruddin ini. Hanya saja dalam pelayaran Sawerigading menuju Negeri Cina, ketika pasukan Sawerigading berhasil mengalahankan pasukan La Tenriniwiq dari Malaka, tak lama kemudian Sawerigading tiba di Negeri Cina. Jadi kalau kita mengikuti arah pelayaran Sawerigading maka bisa saja Negeri Cina itu berada di Kalimantan atau paling jauh di Semenanjung Melayu (Malaysia Barat).
Setting Negeri Cina adalah sebuah Simbol?
Setelah membandingkan tiga pendapat di atas yang masing-masing punya alasan, maka penulis berpendapat bahwa sesungguhnya latar Negeri Cina dalam La Galigo lebih mengacu ke sebuah simbol. Sebagai sebuah simbol (bisa dibaca: simbol Bugis) maka tentu saja Negeri Cina mengacu ke Wajo atau Bone.
Menurut hemat penulis, bisa saja Negeri Cina hanyalah sebuah sebutan untuk menunjukkan bahwa sebuah negeri dikatakan maju. Apalagi saat itu pelayaran Negeri Cina sudah sangat pesat. Kalau pendapat penulis ini benar adanya maka akan menguatkan pendapat bahwa asal-usul manusia Bugis pertama bukan dari Luwu sebagaimana klaim banyak ahli termasuk dari Belanda yang mencoba menelusuri asal-usul manusia Bugis dari perspektif La Galigo, tetapi dari Wajo atau Bone.
Dalam data La Galigo, Sawerigading yang berasal dari Ale Luwuq (Luwu) berlayar Ke Negeri Cina yang sering disebut Tana Ugiq. Jadi bisa saja Tana Ugiq (Wajo dan Bone) disebut negeri Cina karena sudah sangat maju menyaingi Ale Luwuq. Nah kalau belakangan muncul pendapat apakah orang Luwu adalah suku Bugis atau suku Luwu? Maka itu adalah hal yang wajar. Tetapi harus dicatat bahwa versi La Galigo mengatakan bahwa yang berkuasa di Ale Luwuq (Luwu) dan Negeri Cina (Bone, dan tana Ugiq lainnya?) adalah keturunan Sawerigading dan I We Cudaiq, perpaduan Ale Luwuq dan Negeri Cina.
Epilog
Sampai saat ini perdebatan tentang setting Negeri Cina terus berlanjut. Dan itu berarti La Galigo akan terus dibicarakan. Bahkan saat ini muncul banyak versi tentang La Galigo. Karena La Galigo adalah ‘simbol’ orang Bugis, maka di setiap daerah, baik yang berada di Indonesia ataupun luar negeri, yang mengaku keturunan orang Bugis maka biasanya cerita La Galigo akan tumbuh. Cerita La Galigo dengan tokoh utama Sawerigading bisa juga menjadi simbol keheroikan orang Bugis bukan hanya di lautan tetapi di daratan. Kurru Sumange! dulabdul@gmail.com
(Sastrawan dan peneliti budaya, penulis novel “La Galigo”)
Semula saya tertarik mengadaptasi Kitab Sastra La Galigo kedalam bentuk novel yang easy reading karena dua hal. Pertama, saya “terprovokasi” oleh tulisan Nirwan Ahmad Arsuka, “Kesakralan Sureq Galigo yang membuatnya tak dapat diakses oleh sembarang orang, tampaknya memang harus disembelih dan dikorbankan. Kesakralan itu perlu dibunuh agar seperti We Oddang Nriuq yang meninggal tujuh hari setelah dilahirkan dan menjelma Sangiang Serri, dari tubuhnya tumbuh padi yang akan menghidupi manusia beribu tahun,… wujud yang paling sederhana adalah penulisan ulang dalam bentuk novel.” Kedua, saya selalu ditagih oleh kawan-kawan yang berada di Tana Jawa yang ingin mengetahui kehebatan Sawerigading. Rupanya kisah Sawerigading ketika menaklukkan Banynyaq Paguling dari Manynyapaiq (Majapahit) juga menjadi cerita yang turun-temurun di Tana Jawa. Lalu setelah novel La Galigo diterbitkan oleh Diva Press Yogyakarta, maka pertanyaan yang muncul adalah tentang setting Negeri Cina. Apakah setting tersebut mengacu ke Negeri Cina yang sesungguhnya?
Memang, setting Cina dalam La Galigo selalu menjadi perdebatan apakah benar-benar mengacu ke Negeri Cina yang sesungguhnya, atau hanya mengacu ke Cina yang ada di Bone ataupun di Wajo. Menurut Nurhayati Rahman, penyebab terjadinya kontroversi tersebut disebabkan oleh dua hal, pertama, pada umumnya orang meletakkan La Galigo sebagai karya sejarah; kedua, pendekatan tersebut tidak didahului oleh pendekatan filologi melalui kritik teks dan telaah naskah.
Begitulah, menurut Nurhayati Rahman, para peneliti La Galigo selalu menganggap bahwa teks-teks La Galigo adalah kenyataan sejarah, sehingga selalu mencoba mencocokkan setting yang tertera dalam La Galigo ke dalam dunia nyata. Menurut pengamatan penulis sendiri, pendapat para peneliti yang bervariasi tentang latar Negeri Cina menunjukkan bahwa teks-teks La Galigo adalah teks sastra yang polyinterpretable. Itulah dunia sastra yang multitafsir.
Latar Cina mengacu ke Negeri Cina
Pendapat pertama adalah latar Negeri Cina mengacu kepada Negeri Cina yang sesungguhnya. pendapat ini berdasarkan atas perjalanan Sawerigading dari Ale Luwuq ke Negeri Cina selama berbulan-bulan. Kalau saja Negeri Cina hanya berada di Sulawesi maka tidak dibutuhkan pelayaran selama berbulan-bulan. Alasan lainnya adalah selama pelayaran ke Negeri Cina, pasukan Sawerigading dibawah komando La Pananrang dan La Massaguni melakukan pertempuran di laut selama tujuh kali sebelum sampai di Negeri Cina.
Dan pertempuran pertama adalah pasukan Sawerigading melawan pasukan Banynyaq Paguling dari Majapahit. Pasukan Sawerigading juga melakukan pertempuran dengan pasukan La Tuppuq Gellang dari Jawa ri Aja (Jawa Barat, kemungkinan dari kerajaan Pajajaran).
Data selanjutnya yang menunjukkan bahwa Sawerigading menuju Negeri Cina, setelah menaklukkan Banynyak Paguling dan La Tuppuq Gellang, serta La Tuppuq Soloq, La Togeq Tana, dan La Tenripulaq, pasukan Sawerigading bergegas ke utara menuju Laut Cina Selatan sehingga bertemu dengan pasukan La Tenrinyiwiq dari Malaka.
Latar Cina Mengacu ke Cina di Wajo
Sebagian peneliti berpendapat bahwa latar Negeri Cina bukan mengacu ke Negeri Cina yang sesungguhnya, tetapi mengacu kepada Cina yang ada di Wajo. Bahkan Andi Zainal Abidin (Nurhayati Rahman, 2006: 420) yakin bahwa Negeri Cina dalam La Galigo mengacu ke Cina di Kecamatan Pammanna, Kabupaten Sengkang. Hal ini berdasarkan silsilah raja Cina yang ada di Pammanna.
Data dalam La Galigo yang mendukung pendapat ini adalah ketika putri Sawerigading dan I We Cudaiq bernama I We Tenridio sakit keras, menurut para dukun istana dan Puang Matowa, bahwa I We Tenridio hanya bisa disembuhkan dengan peralatan bissu manurung yang ada di Ale Luwuq. Peralatan bissu tersebut milik saudara kembar Sawerigading We Tenriabeng yang sudah gaib ke Boting Langiq. Maka Sawerigading pun mengutus I La Galigo kembali berlayar ke Ale Luwuq untuk mengambil peralatan bissu tersebut. Lalu I La Galigo dengan dikawal oleh tujuh puluh pengawal khususnya berlayar menuju Ale Luwuq.
Pelayaran I La Galigo dari Negeri Cina menuju Ale Luwuq sangat bertolak belakang dari pelayaran Sawerigading dari Ale Luwuq menuju Negeri Cina. Kalau pelayaran Sawerigading selama berbulan-bulan, maka pelayaran I La Galigo hanya dalam sehari saja. Padahal perahu yang mereka tumpangi sama yaitu Perahu Welenrengnge. I La Galigo meninggalkan Negeri Cina pagi hari dan tiba di Ale Luwuq pada malam hari. Bahkan sebenarnya I La Galigo bisa berlayar hanya setengah hari seandainya mereka tidak singgah di Siwa dan Takkebiroq. Dari dua tempat yang singgahi menunjukkan bahwa Negeri Cina tidak jauh dari Ale Luwuq.
Latar Cina di Kalimantan
Selain dua pendapat di atas, ada juga pendapat yang mengatakan bahwa Negeri Cina bukan mengacu ke Negeri Cina yang sesungguhnya dan bukan pula Cina yang ada di Wajo. Pendapat ini didukung oleh Fachruddin Ambo Enre (Nurhayati Rahman, 2006: 421).
Menurut Fachruddin, Negeri Cina dalam La Galigo mengacu ke negeri Kinabalu (Kalimantan, bagian Malaysia). Menurutnya, Kinabalu berasal dari kata Cina Baru. Karena pada umumnya orang Tionghoa susah melafalkan huruf R maka lama kelamaan Cina Baru menjadi Kina Balu. Huruf C menjadi huruf K mengikuti ejaan Melayu.
Tidak ada data tersurat dalam La Galigo yang mendukung pendapat Fachruddin ini. Hanya saja dalam pelayaran Sawerigading menuju Negeri Cina, ketika pasukan Sawerigading berhasil mengalahankan pasukan La Tenriniwiq dari Malaka, tak lama kemudian Sawerigading tiba di Negeri Cina. Jadi kalau kita mengikuti arah pelayaran Sawerigading maka bisa saja Negeri Cina itu berada di Kalimantan atau paling jauh di Semenanjung Melayu (Malaysia Barat).
Setting Negeri Cina adalah sebuah Simbol?
Setelah membandingkan tiga pendapat di atas yang masing-masing punya alasan, maka penulis berpendapat bahwa sesungguhnya latar Negeri Cina dalam La Galigo lebih mengacu ke sebuah simbol. Sebagai sebuah simbol (bisa dibaca: simbol Bugis) maka tentu saja Negeri Cina mengacu ke Wajo atau Bone.
Menurut hemat penulis, bisa saja Negeri Cina hanyalah sebuah sebutan untuk menunjukkan bahwa sebuah negeri dikatakan maju. Apalagi saat itu pelayaran Negeri Cina sudah sangat pesat. Kalau pendapat penulis ini benar adanya maka akan menguatkan pendapat bahwa asal-usul manusia Bugis pertama bukan dari Luwu sebagaimana klaim banyak ahli termasuk dari Belanda yang mencoba menelusuri asal-usul manusia Bugis dari perspektif La Galigo, tetapi dari Wajo atau Bone.
Dalam data La Galigo, Sawerigading yang berasal dari Ale Luwuq (Luwu) berlayar Ke Negeri Cina yang sering disebut Tana Ugiq. Jadi bisa saja Tana Ugiq (Wajo dan Bone) disebut negeri Cina karena sudah sangat maju menyaingi Ale Luwuq. Nah kalau belakangan muncul pendapat apakah orang Luwu adalah suku Bugis atau suku Luwu? Maka itu adalah hal yang wajar. Tetapi harus dicatat bahwa versi La Galigo mengatakan bahwa yang berkuasa di Ale Luwuq (Luwu) dan Negeri Cina (Bone, dan tana Ugiq lainnya?) adalah keturunan Sawerigading dan I We Cudaiq, perpaduan Ale Luwuq dan Negeri Cina.
Epilog
Sampai saat ini perdebatan tentang setting Negeri Cina terus berlanjut. Dan itu berarti La Galigo akan terus dibicarakan. Bahkan saat ini muncul banyak versi tentang La Galigo. Karena La Galigo adalah ‘simbol’ orang Bugis, maka di setiap daerah, baik yang berada di Indonesia ataupun luar negeri, yang mengaku keturunan orang Bugis maka biasanya cerita La Galigo akan tumbuh. Cerita La Galigo dengan tokoh utama Sawerigading bisa juga menjadi simbol keheroikan orang Bugis bukan hanya di lautan tetapi di daratan. Kurru Sumange! dulabdul@gmail.com
Senin, 05 Maret 2012
Hakekat Penciptaan Manusia dalam Novel La Galigo karya Dul Abdul Rahman
Oleh: Syamsuddin S
(Guru Bahasa dan Sastra Indonesia)
Sudah sejak lama saya bertanya-tanya tentang La Galigo. Yang paling membuat saya bertanya-tanya karena konon katanya karya sastra tersebut adalah kitab sastra terpanjang di dunia. Dan buku asli kitab sastra tersebut dalam bentuk tulisan tangan berada di Negeri Belanda nun jauh disana.
Suatu ketika saya mengajar bidang studi Bahasa Indonesia di kelas dengan materi pokok: Apresiasi Sastra Indonesia. Tiba-tiba seorang siswa bertanya pada saya tentang La Galigo. Saya tergagap, jujur saya tidak tahu isi kitab La Galigo tersebut. Saya meminta kepada siswa-siswi saya untuk bersabar dan memberi waktu kepada saya untuk menjawabnya. Jeda waktu untuk menjawab tentang La Galigo, saya sedikit tegang karena setiap kali saya masuk di kelas, siswa-siswa selalu menagih janji, padahal saya belum mendapatkan buku tentang La Galigo.
Alhamdulillah, akhirnya saya bisa mendapatkan sebuah novel berjudul La Galigo yang ditulis oleh sastrawan yang berasal dari Sulawesi Selatan, Dul Abdul Rahman. Novel tersebut diterbitkan oleh penerbit nasional, Diva Press Yogyakarta. Dan pada akhirnya saya bisa menjelaskan kepada siswa-siswi saya tentang isi La Galigo.
Benar kabar yang saya dengar bahwa La Galigo adalah kitab sastra terpanjang di dunia. Mengutip tulisan pengantar dari penulisnya bahwa memang La Galigo adalah kitab sastra terpanjang di dunia setara dengan kitab Mahabarata dan Ramayana dari India sebagaimana pengakuan ilmuwan Belanda bernama R.A.Kern. Bahkan tidak tanggung-tanggung, sejarawan dan ilmuwan Belanda lainnya bernama Sirtjof Koolhof berpendapat bahwa La Galigo adalah karya sastra terpanjang di dunia yang terdiri dari 300.000 baris. Epos Mahabarata jumlah barisnya hanya antara 160.000-200.000 baris saja.
Dalam novel La Galigo diceritakan bahwa dahulu kala, Kerajaan Bumi hanyalah tanah kosong yang benar-benar tak berpenghuni. Lalu Sang Dewata (Sang Patotoqe) yang berada di Kerajaan Langit segera memutuskan bahwa Kerajaan Bumi tidak bisa dibiarkan terlalu lama kosong. Manusia harus diturunkan untuk menyuburkannya dan tentu saja menyembah-Nya.
Maka atas hasil musyawarah seluruh Dewata penghuni Kerajaan Langit, maka Sang Patotoqe mengirimkan putra sulungnya bernama La Togeq Langiq menjadi manusia pertama yang menghuni bumi. Dialah kemudian menjelma menjadi Batara Guru.
Tidaklah mudah menjadi penguasa di Kerajaan Bumi, meski sang manusia adalah titisan Dewata tersebut bisa saja meminta bantuan Langit untuk mempermudah tugasnya. Tapi sang Dewata mengharuskan Batara Guru untuk berusaha. Karena memang begitulah hakekat penciptaan manusia.
“Adinda Datu Palingeq! Tidak usahlah khawatir bila anak kita kelak menjelma manusia lalu mengalamai cobaan di Bumi. Karena memang sudah menjadi hukum Bumi bahwa sesungguhnya hidup adalah cobaan. Juga bukanlah manusia bila tidak tahan menghadapi cobaan,” ujar Sang Patotoqe kepada permaisurinya. (La Galigo, hal.15)
Etos Kerja
Local wisdom utama yang dijumpai pada awal-awal novel La Galigo adalah kerja keras. Diceritakan bahwa ketika pertama kali menghuni bumi, Batara Guru bersedih dan bermalas-malasan. Bahkan ia terus menangis dan mengadu kepada ayahandanya yang berada di Kerajaan Langit. Batara Guru terus meminta agar dikirimkan makanan dan minuman serta pendamping karena ia kelaparan, kehausan, dan kesepian di bumi.
Tentu saja keinginan Batara Guru tidak diamini oleh Sang Patotoqe (Dewata) di Kerajaan Langit. Karena menurut ketentuan Dewata ketika manusia sudah menghuni Bumi maka ia tidak boleh bergantung kepada Kerajaan Langit. Tetapi manusia harus berusaha sendiri.
Naluriah manusia dalam diri Batara Guru akhirnya muncul, ia mencari makanan dan minuman sendiri. Karena memang bersamaan munculnya Batara Guru di Bumi terciptalah juga hutan-hutan, sungai-sungai, tumbuhlah segala jenis buah-buahan. Intinya Sang Patotoqe di Kerajaan Langit sudah menyebarkan rahmatnya di muka bumi, tinggallah manusia sendiri yang mencarinya.
Jadi hidup di Bumi manusia harus bekerja keras. Ini pun sejalan dengan Kitab Suci Al-Qur’an surat ar-Ra’d ayat 11 yang artinya, “…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri….” Poin ini pun sejalan dengan local wisdom Bugis-Makassar yang berbunyi “Resopa temmangingi namalomo naletei pammase dewata sewae” (Usaha yang sungguh-sungguh disertai keikhlasan yang mendapat ridha dari Tuhan Yang Maha Esa)
“Bekerja dan Bekerja”. Mungkin itulah maksud Sang Dewata ketika menurunkan kapak emas dari Langit ketika Batara Guru terus bersedih karena kelaparan dan kehausan di Bumi.
Dan ketika menurunkan kapak emas kepada Batara Guru di Bumi, seolah Sang Dewata juga ingin berkata, “Bekerjalah! Bekerjasamalah!” Itu dibuktikan karena bersamaan diturunkannya kapak emas, diturunkan pula seorang pembantu bernama La Oro Kellong. Selanjutnya La Oro Kelling membantu Batara Guru membuka lahan pertanian dengan kapak emasnya.
Selanjutnya local wisdom yang penting dari novel La Galigo gubahan Dul Abdul Rahman adalah selain bekerja diperlukan pemahaman (ilmu pengetahuan). Dikisahkan bahwa setiap ingin bekerja, sang pembantu dari Langit, La Oro Kelling sangat bersemangat. Ia selalu ingin tampil mengerjakan semua pekerjaan dan meminta Batara Guru beristirahat saja. Pada suatu hari Batara Guru dan La Oro Kelling ingin membuka lahan pertanian. Awalnya Batara Guru yang memulai menebang pohon tetapi La Oro Kelling mengambil alih pekerjaan itu karena ia merasa dirinyalah yang harus bekerja keras karena ia seorang pembantu.
La Oro Kelling pun menebang sebatang pohon. Tetapi kemudian ia mengeluh karena sebatang pohon saja ia butuh waktu yang lama untuk menebangnya. Apalagi kalau harus membabat hutan. Batara Guru tahu akan keresahan hati La Oro Kelling, ia pun mengambil kapak emas lalu menebang pohon yang besar yang letaknya paling atas. Pohon besar itu terjatuh menimpa pohon yang ada di dekatnya. Lalu pohon lainnya menimpa pohon yang ada di dekatnya pula. Hingga kawasan yang awalnya hutan menjelma jadi lahan pertanian hingga ke pinggir sungai.
Maka berkatalah Batara Guru kepada La Oro Kelling: “Begitulah La Oro Kelling! Bekerja harus pakai otak. Manusia tidak akan pernah mampu menaklukkan Bumi dengan tenaganya saja. Manusia hanya bisa menaklukkan Bumi dengan bantuan pikirannya.” (La Galigo, hal.67)
Membaca novel La Galigo tulisan Dul Abdul Rahman yang diadaptasi dari kitab sastra La Galigo sungguhlah sangat menarik. Novel yang cukup tebal tersebut memberi banyak pelajaran-pelajaran sangat berharga. Pantaslah kalau menurut penulisnya yang saya sempat bertemu dengannya bahwa kitab sastra La Galigo sangat diminati oleh mahasiswa di Belanda untuk melakukan kajian sastra. Dan yang paling melegakan adalah badan PBB, UNESCO sudah menetapkan kitab La Galigo sebagai naskah warisan dunia dan diberi anugerah Memory of the World (MOW).
Sumber: HARIAN FAJAR Ahad 4 Maret 2012
(Guru Bahasa dan Sastra Indonesia)
Sudah sejak lama saya bertanya-tanya tentang La Galigo. Yang paling membuat saya bertanya-tanya karena konon katanya karya sastra tersebut adalah kitab sastra terpanjang di dunia. Dan buku asli kitab sastra tersebut dalam bentuk tulisan tangan berada di Negeri Belanda nun jauh disana.
Suatu ketika saya mengajar bidang studi Bahasa Indonesia di kelas dengan materi pokok: Apresiasi Sastra Indonesia. Tiba-tiba seorang siswa bertanya pada saya tentang La Galigo. Saya tergagap, jujur saya tidak tahu isi kitab La Galigo tersebut. Saya meminta kepada siswa-siswi saya untuk bersabar dan memberi waktu kepada saya untuk menjawabnya. Jeda waktu untuk menjawab tentang La Galigo, saya sedikit tegang karena setiap kali saya masuk di kelas, siswa-siswa selalu menagih janji, padahal saya belum mendapatkan buku tentang La Galigo.
Alhamdulillah, akhirnya saya bisa mendapatkan sebuah novel berjudul La Galigo yang ditulis oleh sastrawan yang berasal dari Sulawesi Selatan, Dul Abdul Rahman. Novel tersebut diterbitkan oleh penerbit nasional, Diva Press Yogyakarta. Dan pada akhirnya saya bisa menjelaskan kepada siswa-siswi saya tentang isi La Galigo.
Benar kabar yang saya dengar bahwa La Galigo adalah kitab sastra terpanjang di dunia. Mengutip tulisan pengantar dari penulisnya bahwa memang La Galigo adalah kitab sastra terpanjang di dunia setara dengan kitab Mahabarata dan Ramayana dari India sebagaimana pengakuan ilmuwan Belanda bernama R.A.Kern. Bahkan tidak tanggung-tanggung, sejarawan dan ilmuwan Belanda lainnya bernama Sirtjof Koolhof berpendapat bahwa La Galigo adalah karya sastra terpanjang di dunia yang terdiri dari 300.000 baris. Epos Mahabarata jumlah barisnya hanya antara 160.000-200.000 baris saja.
Dalam novel La Galigo diceritakan bahwa dahulu kala, Kerajaan Bumi hanyalah tanah kosong yang benar-benar tak berpenghuni. Lalu Sang Dewata (Sang Patotoqe) yang berada di Kerajaan Langit segera memutuskan bahwa Kerajaan Bumi tidak bisa dibiarkan terlalu lama kosong. Manusia harus diturunkan untuk menyuburkannya dan tentu saja menyembah-Nya.
Maka atas hasil musyawarah seluruh Dewata penghuni Kerajaan Langit, maka Sang Patotoqe mengirimkan putra sulungnya bernama La Togeq Langiq menjadi manusia pertama yang menghuni bumi. Dialah kemudian menjelma menjadi Batara Guru.
Tidaklah mudah menjadi penguasa di Kerajaan Bumi, meski sang manusia adalah titisan Dewata tersebut bisa saja meminta bantuan Langit untuk mempermudah tugasnya. Tapi sang Dewata mengharuskan Batara Guru untuk berusaha. Karena memang begitulah hakekat penciptaan manusia.
“Adinda Datu Palingeq! Tidak usahlah khawatir bila anak kita kelak menjelma manusia lalu mengalamai cobaan di Bumi. Karena memang sudah menjadi hukum Bumi bahwa sesungguhnya hidup adalah cobaan. Juga bukanlah manusia bila tidak tahan menghadapi cobaan,” ujar Sang Patotoqe kepada permaisurinya. (La Galigo, hal.15)
Etos Kerja
Local wisdom utama yang dijumpai pada awal-awal novel La Galigo adalah kerja keras. Diceritakan bahwa ketika pertama kali menghuni bumi, Batara Guru bersedih dan bermalas-malasan. Bahkan ia terus menangis dan mengadu kepada ayahandanya yang berada di Kerajaan Langit. Batara Guru terus meminta agar dikirimkan makanan dan minuman serta pendamping karena ia kelaparan, kehausan, dan kesepian di bumi.
Tentu saja keinginan Batara Guru tidak diamini oleh Sang Patotoqe (Dewata) di Kerajaan Langit. Karena menurut ketentuan Dewata ketika manusia sudah menghuni Bumi maka ia tidak boleh bergantung kepada Kerajaan Langit. Tetapi manusia harus berusaha sendiri.
Naluriah manusia dalam diri Batara Guru akhirnya muncul, ia mencari makanan dan minuman sendiri. Karena memang bersamaan munculnya Batara Guru di Bumi terciptalah juga hutan-hutan, sungai-sungai, tumbuhlah segala jenis buah-buahan. Intinya Sang Patotoqe di Kerajaan Langit sudah menyebarkan rahmatnya di muka bumi, tinggallah manusia sendiri yang mencarinya.
Jadi hidup di Bumi manusia harus bekerja keras. Ini pun sejalan dengan Kitab Suci Al-Qur’an surat ar-Ra’d ayat 11 yang artinya, “…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri….” Poin ini pun sejalan dengan local wisdom Bugis-Makassar yang berbunyi “Resopa temmangingi namalomo naletei pammase dewata sewae” (Usaha yang sungguh-sungguh disertai keikhlasan yang mendapat ridha dari Tuhan Yang Maha Esa)
“Bekerja dan Bekerja”. Mungkin itulah maksud Sang Dewata ketika menurunkan kapak emas dari Langit ketika Batara Guru terus bersedih karena kelaparan dan kehausan di Bumi.
Dan ketika menurunkan kapak emas kepada Batara Guru di Bumi, seolah Sang Dewata juga ingin berkata, “Bekerjalah! Bekerjasamalah!” Itu dibuktikan karena bersamaan diturunkannya kapak emas, diturunkan pula seorang pembantu bernama La Oro Kellong. Selanjutnya La Oro Kelling membantu Batara Guru membuka lahan pertanian dengan kapak emasnya.
Selanjutnya local wisdom yang penting dari novel La Galigo gubahan Dul Abdul Rahman adalah selain bekerja diperlukan pemahaman (ilmu pengetahuan). Dikisahkan bahwa setiap ingin bekerja, sang pembantu dari Langit, La Oro Kelling sangat bersemangat. Ia selalu ingin tampil mengerjakan semua pekerjaan dan meminta Batara Guru beristirahat saja. Pada suatu hari Batara Guru dan La Oro Kelling ingin membuka lahan pertanian. Awalnya Batara Guru yang memulai menebang pohon tetapi La Oro Kelling mengambil alih pekerjaan itu karena ia merasa dirinyalah yang harus bekerja keras karena ia seorang pembantu.
La Oro Kelling pun menebang sebatang pohon. Tetapi kemudian ia mengeluh karena sebatang pohon saja ia butuh waktu yang lama untuk menebangnya. Apalagi kalau harus membabat hutan. Batara Guru tahu akan keresahan hati La Oro Kelling, ia pun mengambil kapak emas lalu menebang pohon yang besar yang letaknya paling atas. Pohon besar itu terjatuh menimpa pohon yang ada di dekatnya. Lalu pohon lainnya menimpa pohon yang ada di dekatnya pula. Hingga kawasan yang awalnya hutan menjelma jadi lahan pertanian hingga ke pinggir sungai.
Maka berkatalah Batara Guru kepada La Oro Kelling: “Begitulah La Oro Kelling! Bekerja harus pakai otak. Manusia tidak akan pernah mampu menaklukkan Bumi dengan tenaganya saja. Manusia hanya bisa menaklukkan Bumi dengan bantuan pikirannya.” (La Galigo, hal.67)
Membaca novel La Galigo tulisan Dul Abdul Rahman yang diadaptasi dari kitab sastra La Galigo sungguhlah sangat menarik. Novel yang cukup tebal tersebut memberi banyak pelajaran-pelajaran sangat berharga. Pantaslah kalau menurut penulisnya yang saya sempat bertemu dengannya bahwa kitab sastra La Galigo sangat diminati oleh mahasiswa di Belanda untuk melakukan kajian sastra. Dan yang paling melegakan adalah badan PBB, UNESCO sudah menetapkan kitab La Galigo sebagai naskah warisan dunia dan diberi anugerah Memory of the World (MOW).
Sumber: HARIAN FAJAR Ahad 4 Maret 2012
Sabtu, 04 Februari 2012
ROMANTISME DALAM SASTRA BUGIS KLASIK
Oleh: dul abdul rahman
(Sastrawan dan peneliti budaya, penulis novel “La Galigo”)
Selalu saja tema cinta menjadi inspirasi bagi para sastrawan untuk mengungkapkan perasaannya. Apapun genrenya, tanpa cinta serasa karya itu tak lezat dan kurang nikmat. Tema cinta memang selalu mendedah resah, meluah hibah, pun memadah airmata. Bahkan serupa mantra bagi para pengagum cinta, ketika mereka jatuh cinta dunia serasa penuh dengan pelangi-pelangi surgawi. Hal-hal yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Banyak kisah cinta yang melegenda. Tak pelak lagi dua kisah cinta yang paling melegenda adalah Romeo-Juliet karya William Shakespeare dan Layla-Majnun karya Syaikh Nizami. Kisah cinta yang melegenda lainnya adalah, Khusraw-Shirin, Cleopatra-Julius Caesar, Jennifer Cavileri-Oliver Barret, San Pek-Eng Tay, dan Yusuf-Zulaikha.
Dari Indonesia terdapat juga legenda cinta abadi, yaitu Layonsari-Jayaprana yang merupakan cerita cinta dari daerah Bali yang terusik karena campur tangan raja yang cemburu buta. Cerita cinta abadi lainnya dari Indonesia adalah Roro Mendut-Pranacitra, yaitu kisah cinta Tumenggung Wiraguna pada Roro Mendut, putri dari Mataram yang sudah memiliki pilihan hati, Pranacitra.
Dari Sulawesi Selatan, terdapat banyak kisah cinta abadi yang bersumber dari kitab sastra La Galigo. Selain yang termaktub dalam kitab sastra La Galigo yang berjumlah 12 jilid yang berisi 2851 halaman dan tersimpan rapih di museum Universitas Leiden, Belanda, yang ditulis oleh Colliq Pujie Arung Pancana Toa, terdapat pula berbagai macam sastra lisan yang berkembang turun temurun di Sulawesi Selatan yang punya benang merah dengan kitab La Galigo.
Adalah sangat ‘memalukan’ bila orang-orang yang mendiami Sulawesi Selatan (baca: Bugis-Makassar-Toraja-Mandar) gagap dengan cerita-cerita yang lahir dari rahim bumi tempat pijakannya sendiri. Yang tak kalah mengerikannya orang-orang yang berkecimpung dalam dunia budaya dan sastra pun gagap dan gugup dengan budaya dan sastra lokal dimana mereka berdomisili. Sesungguhnya penamaan budaya lokal dan sastra lokal bukanlah untuk menilai apakah sebuah nilai budaya atau sastra bagus atau tidak bagus, tetapi sebagai sebuah identitas dimana sastra dan budaya itu lahir dan berkembang. Sastra La Galigo adalah sastra lokal klasik milik masyarakat Sulawesi Selatan yang kini sudah mendunia. Bahkan La Galigo kini menjadi sastra milik dunia internasional setelah mendapat penghargaan Memory of The World (MOW) dari badan PBB UNESCO pada tahun 2011.
Banyak cerita-cerita atau legenda cinta yang terukir dalam kitab sastra Lagaligo, seperti Batara Guru dan We Nyiliq Timoq, Batara Lattuq dan I We Datu Sengngeng, Sawerigading dan I We Cudaiq. Cerita-cerita yang punya benang merah dengan kitab La Galigo, seperti La Sinribaleng dan I Rubaedah, La Pundarek dan Putri Salewangang.
Batara Guru dan We Nyiliq Timoq
Dalam cerita La Galigo, Batara Guru adalah manusia pertama di Kerajaan Bumi (Dunia Tengah/Ale Lino). Sebelumnya Batara Guru tinggal di Kerajaan Langit (Dunia Atas) dan bernama La Togeq Langiq. Oleh ayahnya, Sang Patotoqe, ia dikirim untuk menghuni Kerajaan Bumi. Untuk menemaninya di Kerajaan Bumi maka dikirimkanlah seorang pendamping dari Kerajaan Peretiwi (Dunia Bawah) bernama We Nyiliq Timoq.
Sewaktu We Nyiliq Timoq muncul di lautan dengan perahu keemasan, Batara Guru meminta para pengawalnya untuk menjemput calon permaisurinya, namun perahu-perahu para penjemput tidak bisa mendekati perahu We Nyiliq Timoq karena selalu terhempas oleh gelombang. Maka Batara Guru pun yang berusaha menjemput calon permaisurinya. Perahu keemasan We Nyiliq Timoq pun dengan cepat bertemu dengan perahu Batara Guru.
Batara Guru dan We Nyiliq Timoq kemudian menikah. Mereka saling mencintai dan menyayangi. Dari pasangan ini lahirlah seorang putra mahkota yang diberi nama Batara Lattuq.
Batara Lattuq dan We Datu Sengngeng
Setelah Dewasa, Batara Lattuq harus bersusah payah berlayar ke negeri Tompoq Tikkaq untuk mencari jodohnya. Batara Lattuq berlayar berbulan-bulan hingga tiba di sebuah kerajaan manurung, Tompoq Tikkaq. Pada saat itu penguasa Tompoq Tikkaq bernama La Urung Mpessi dan isterinya We Pada Uleng meninggal dunia akibat bencana yang melanda negeri itu. Negeri itu memang sedang dikutuk oleh Sang Patotoqe akibat ulah La Urung Mpessi yang membuang nasi di sungai. Padahal nasi atau padi adalah jelmaan Datu Sangiang Serri, saudara Batara Lattuq.
Saat itu pula, kedua perempuan pewaris tahta Tompoq Tikkaq berlari ke hutan karena ingin dibunuh oleh bibi mereka bernama We Tenrijelloq yang ingin menguasai Tompoq Tikkaq. Alhasil, pelayaran ke Tompoq Tikkaq bagi Batara Lattuq bukan hanya mencari jodoh tetapi untuk membebaskan Tompoq Tikkaq dari kekejaman We Tenrijelloq bersama suaminya La Tenrigiling.
Akhirnya, Batara Lattuq berhasil membebaskan Tompoq Tikkaq kemudian menikah dengan salah seorang pewaris Tompoq Tikkaq bernama We Datu Sengngeng. Lalu Batara Lattuq membawa permaisurinya kembali berlayar ke Ale Luwuq. Sedangkan yang tinggal berkuasa di Tompoq Tikkaq adalah kakak kandung We Datu Sengngeng bernama We Adiluwuq.
Batara Lattuq sangat mencintai isterinya We Datu Sengngeng. Bahkan ia menolak memiliki selir karena cintanya hanya milik We Datu Sengngeng seorang.
Sawerigading dan I We Cudaiq
Kisah cinta yang paling mengharukan dan menegangkan adalah kisah cinta Sawerigading dan Putri Cina, I We Cudaiq.
Awalnya Sawerigading jatuh cinta kepada saudara kembar emasnya bernama I We Tenriabeng. Karena kembar emas, keduanya dipisahkan sejak masih kecil. Ketika bertemu di saat dewasa, Sawerigading langsung jatuh cinta dengan kecantikan I We Tenriabeng. Ia pun ingin segera melamarnya. Namun keinginan Sawerigading ditentang keras oleh para penasehatnya karena sesungguhnya Sawerigading bersaudara kembar emas dengan I We Tenriabeng. Karena sudah dirasuki rasa cinta yang buta, Sawerigading tidak percaya dengan para penasehatnya. Bahkan ia membunuh juru bicara penasehatnya bernama Rajeng Makdopeq.
I We Tenriabeng mencoba meyakinkan Saweigading bahwa mereka benar-benar bersaudara kembar emas. Lalu ia menyarankan saudara kembar emasnya tersebut untuk berlayar ke Negeri Cina. Karena di Negeri Cina terdapat seorang perempuan yang mirip dengan dirinya bernama I We Cudaiq.
Akhirnya Sawerigading mau percaya dengan penjelasan saudari kembar emasnya. Ia pun memutuskan berlayar ke Negeri Cina untuk menemukan tambatan hatinya. Namun sesampai di Negeri Cina, I We Cudaiq tidak mau bertemu dan melihat wajah Sawerigading. I We Cudaiq mati-matian menolak dinikahi oleh Sawerigading. Ia termakan isu bahwa Sawerigading adalah lelaki yang sangat buruk rupa.
Karena merasa dilecehkan oleh Putri Cina, Sawerigading pun bermaksud membumihanguskan kerajaan Ale Cina. Karena takut dengan kekuatan pasukan Sawerigading, akhirnya I We Cudaiq mau dinikahi oleh Sawerigading dengan berbagai syarat. Salah satunya adalah Sawerigading hanya boleh mendatangi I We Cudaiq pada malam hari. Pun tidak boleh menyalakan lampu atau pelita.
Maka sejak menikah, Sawerigading hanya bisa mengunjungi isterinya di malam hari. Itupun Sawerigading tidak bisa bermesraan dengan isterinya karena sejak menikah, I We Cudaiq selalu membungkus tubuhnya dengan pakaian tujuh lapis yang sudah dijahit ujung kaki dan bagian kepala. Tapi Sawerigading tidak pernah kehabisan akal, ia berpura-pura tidak mau mengunjungi isterinya lagi. Atas bantuan kucing miko-miko dan memompalo karellae sebagai mata-mata, pada suatu malam I We Cudaiq tidak lagi membungkus tubuhnya karena mengira Sawerigading sudah tidak mau mengunjunginya. Di saat itu tiba-tiba Sawerigading muncul dan langsung memeluk isterinya. Kucing miko-miko pun langsung menyalakan pelita dengan ekornya. I We Cudaiq tetap tidak mau melihat wajah suaminya. Ia terus menutup kepalanya dengan membelakangi Sawerigading.
Sawerigading mencoba membujuk isterinya dengan bercanda, “Kalau memang kamu tidak mencintaiku, maka lebih baik aku mengunjungi kekasihku oro sadda (perempuan yang sangat jelek) yang berkepala tiga.”
I We Cudaiq langsung tertawa dan refleks berbalik ke arah Sawerigading. Dan betapa terkejut dan bahagianya I We Cudaiq karena ternyata suaminya adalah lelaki yang sangat tampan. Bahkan ia belum pernah melihat lelaki setampan Sawerigading. Sawerigading dan I We Cudaiq kemudian mempunyai anak lelaki yang diberi nama: I La Galigo.
Tentang Dul Abdul Rahman.
Sastrawan dan peneliti budaya. Ia menamatkan pendidikan menengahnya di SMA Negeri Bikeru Sinjai Selatan pada 1993. Pernah mengenyam bangku kuliah, yakni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (1993-1998), Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar (2001-2002), Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin (2004-2009). Aktif bersastra di Indonesia dan Malaysia.
Ratusan tulisannya berupa karya sastra dan kritik sastra dimuat koran lokal dan nasional di Indonesia dan Malaysia. Karya-karyanya dijadikan bahan penelitian oleh mahasiswa untuk meraih gelar sarjana dan pascasarjana, di Indonesia maupun Malaysia.
Buku-buku sastranyat:
1. Lebaran Kali Ini Hujan Turun (Kumpulan Cerpen, Nala Makassar, 2006)
2. Pohon-Pohon Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2009);
3. Daun-Daun Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2010);
4. Perempuan Poppo (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010);
5. Sabda Laut (Novel. Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010).
6. Sarifah (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2011)
7. La Galigo (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2012)
8. Dewi Padi dan Kucing Kesayangannya (Novel, Diva Press Yogyakarta, segera terbit)
(Sastrawan dan peneliti budaya, penulis novel “La Galigo”)
Selalu saja tema cinta menjadi inspirasi bagi para sastrawan untuk mengungkapkan perasaannya. Apapun genrenya, tanpa cinta serasa karya itu tak lezat dan kurang nikmat. Tema cinta memang selalu mendedah resah, meluah hibah, pun memadah airmata. Bahkan serupa mantra bagi para pengagum cinta, ketika mereka jatuh cinta dunia serasa penuh dengan pelangi-pelangi surgawi. Hal-hal yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Banyak kisah cinta yang melegenda. Tak pelak lagi dua kisah cinta yang paling melegenda adalah Romeo-Juliet karya William Shakespeare dan Layla-Majnun karya Syaikh Nizami. Kisah cinta yang melegenda lainnya adalah, Khusraw-Shirin, Cleopatra-Julius Caesar, Jennifer Cavileri-Oliver Barret, San Pek-Eng Tay, dan Yusuf-Zulaikha.
Dari Indonesia terdapat juga legenda cinta abadi, yaitu Layonsari-Jayaprana yang merupakan cerita cinta dari daerah Bali yang terusik karena campur tangan raja yang cemburu buta. Cerita cinta abadi lainnya dari Indonesia adalah Roro Mendut-Pranacitra, yaitu kisah cinta Tumenggung Wiraguna pada Roro Mendut, putri dari Mataram yang sudah memiliki pilihan hati, Pranacitra.
Dari Sulawesi Selatan, terdapat banyak kisah cinta abadi yang bersumber dari kitab sastra La Galigo. Selain yang termaktub dalam kitab sastra La Galigo yang berjumlah 12 jilid yang berisi 2851 halaman dan tersimpan rapih di museum Universitas Leiden, Belanda, yang ditulis oleh Colliq Pujie Arung Pancana Toa, terdapat pula berbagai macam sastra lisan yang berkembang turun temurun di Sulawesi Selatan yang punya benang merah dengan kitab La Galigo.
Adalah sangat ‘memalukan’ bila orang-orang yang mendiami Sulawesi Selatan (baca: Bugis-Makassar-Toraja-Mandar) gagap dengan cerita-cerita yang lahir dari rahim bumi tempat pijakannya sendiri. Yang tak kalah mengerikannya orang-orang yang berkecimpung dalam dunia budaya dan sastra pun gagap dan gugup dengan budaya dan sastra lokal dimana mereka berdomisili. Sesungguhnya penamaan budaya lokal dan sastra lokal bukanlah untuk menilai apakah sebuah nilai budaya atau sastra bagus atau tidak bagus, tetapi sebagai sebuah identitas dimana sastra dan budaya itu lahir dan berkembang. Sastra La Galigo adalah sastra lokal klasik milik masyarakat Sulawesi Selatan yang kini sudah mendunia. Bahkan La Galigo kini menjadi sastra milik dunia internasional setelah mendapat penghargaan Memory of The World (MOW) dari badan PBB UNESCO pada tahun 2011.
Banyak cerita-cerita atau legenda cinta yang terukir dalam kitab sastra Lagaligo, seperti Batara Guru dan We Nyiliq Timoq, Batara Lattuq dan I We Datu Sengngeng, Sawerigading dan I We Cudaiq. Cerita-cerita yang punya benang merah dengan kitab La Galigo, seperti La Sinribaleng dan I Rubaedah, La Pundarek dan Putri Salewangang.
Batara Guru dan We Nyiliq Timoq
Dalam cerita La Galigo, Batara Guru adalah manusia pertama di Kerajaan Bumi (Dunia Tengah/Ale Lino). Sebelumnya Batara Guru tinggal di Kerajaan Langit (Dunia Atas) dan bernama La Togeq Langiq. Oleh ayahnya, Sang Patotoqe, ia dikirim untuk menghuni Kerajaan Bumi. Untuk menemaninya di Kerajaan Bumi maka dikirimkanlah seorang pendamping dari Kerajaan Peretiwi (Dunia Bawah) bernama We Nyiliq Timoq.
Sewaktu We Nyiliq Timoq muncul di lautan dengan perahu keemasan, Batara Guru meminta para pengawalnya untuk menjemput calon permaisurinya, namun perahu-perahu para penjemput tidak bisa mendekati perahu We Nyiliq Timoq karena selalu terhempas oleh gelombang. Maka Batara Guru pun yang berusaha menjemput calon permaisurinya. Perahu keemasan We Nyiliq Timoq pun dengan cepat bertemu dengan perahu Batara Guru.
Batara Guru dan We Nyiliq Timoq kemudian menikah. Mereka saling mencintai dan menyayangi. Dari pasangan ini lahirlah seorang putra mahkota yang diberi nama Batara Lattuq.
Batara Lattuq dan We Datu Sengngeng
Setelah Dewasa, Batara Lattuq harus bersusah payah berlayar ke negeri Tompoq Tikkaq untuk mencari jodohnya. Batara Lattuq berlayar berbulan-bulan hingga tiba di sebuah kerajaan manurung, Tompoq Tikkaq. Pada saat itu penguasa Tompoq Tikkaq bernama La Urung Mpessi dan isterinya We Pada Uleng meninggal dunia akibat bencana yang melanda negeri itu. Negeri itu memang sedang dikutuk oleh Sang Patotoqe akibat ulah La Urung Mpessi yang membuang nasi di sungai. Padahal nasi atau padi adalah jelmaan Datu Sangiang Serri, saudara Batara Lattuq.
Saat itu pula, kedua perempuan pewaris tahta Tompoq Tikkaq berlari ke hutan karena ingin dibunuh oleh bibi mereka bernama We Tenrijelloq yang ingin menguasai Tompoq Tikkaq. Alhasil, pelayaran ke Tompoq Tikkaq bagi Batara Lattuq bukan hanya mencari jodoh tetapi untuk membebaskan Tompoq Tikkaq dari kekejaman We Tenrijelloq bersama suaminya La Tenrigiling.
Akhirnya, Batara Lattuq berhasil membebaskan Tompoq Tikkaq kemudian menikah dengan salah seorang pewaris Tompoq Tikkaq bernama We Datu Sengngeng. Lalu Batara Lattuq membawa permaisurinya kembali berlayar ke Ale Luwuq. Sedangkan yang tinggal berkuasa di Tompoq Tikkaq adalah kakak kandung We Datu Sengngeng bernama We Adiluwuq.
Batara Lattuq sangat mencintai isterinya We Datu Sengngeng. Bahkan ia menolak memiliki selir karena cintanya hanya milik We Datu Sengngeng seorang.
Sawerigading dan I We Cudaiq
Kisah cinta yang paling mengharukan dan menegangkan adalah kisah cinta Sawerigading dan Putri Cina, I We Cudaiq.
Awalnya Sawerigading jatuh cinta kepada saudara kembar emasnya bernama I We Tenriabeng. Karena kembar emas, keduanya dipisahkan sejak masih kecil. Ketika bertemu di saat dewasa, Sawerigading langsung jatuh cinta dengan kecantikan I We Tenriabeng. Ia pun ingin segera melamarnya. Namun keinginan Sawerigading ditentang keras oleh para penasehatnya karena sesungguhnya Sawerigading bersaudara kembar emas dengan I We Tenriabeng. Karena sudah dirasuki rasa cinta yang buta, Sawerigading tidak percaya dengan para penasehatnya. Bahkan ia membunuh juru bicara penasehatnya bernama Rajeng Makdopeq.
I We Tenriabeng mencoba meyakinkan Saweigading bahwa mereka benar-benar bersaudara kembar emas. Lalu ia menyarankan saudara kembar emasnya tersebut untuk berlayar ke Negeri Cina. Karena di Negeri Cina terdapat seorang perempuan yang mirip dengan dirinya bernama I We Cudaiq.
Akhirnya Sawerigading mau percaya dengan penjelasan saudari kembar emasnya. Ia pun memutuskan berlayar ke Negeri Cina untuk menemukan tambatan hatinya. Namun sesampai di Negeri Cina, I We Cudaiq tidak mau bertemu dan melihat wajah Sawerigading. I We Cudaiq mati-matian menolak dinikahi oleh Sawerigading. Ia termakan isu bahwa Sawerigading adalah lelaki yang sangat buruk rupa.
Karena merasa dilecehkan oleh Putri Cina, Sawerigading pun bermaksud membumihanguskan kerajaan Ale Cina. Karena takut dengan kekuatan pasukan Sawerigading, akhirnya I We Cudaiq mau dinikahi oleh Sawerigading dengan berbagai syarat. Salah satunya adalah Sawerigading hanya boleh mendatangi I We Cudaiq pada malam hari. Pun tidak boleh menyalakan lampu atau pelita.
Maka sejak menikah, Sawerigading hanya bisa mengunjungi isterinya di malam hari. Itupun Sawerigading tidak bisa bermesraan dengan isterinya karena sejak menikah, I We Cudaiq selalu membungkus tubuhnya dengan pakaian tujuh lapis yang sudah dijahit ujung kaki dan bagian kepala. Tapi Sawerigading tidak pernah kehabisan akal, ia berpura-pura tidak mau mengunjungi isterinya lagi. Atas bantuan kucing miko-miko dan memompalo karellae sebagai mata-mata, pada suatu malam I We Cudaiq tidak lagi membungkus tubuhnya karena mengira Sawerigading sudah tidak mau mengunjunginya. Di saat itu tiba-tiba Sawerigading muncul dan langsung memeluk isterinya. Kucing miko-miko pun langsung menyalakan pelita dengan ekornya. I We Cudaiq tetap tidak mau melihat wajah suaminya. Ia terus menutup kepalanya dengan membelakangi Sawerigading.
Sawerigading mencoba membujuk isterinya dengan bercanda, “Kalau memang kamu tidak mencintaiku, maka lebih baik aku mengunjungi kekasihku oro sadda (perempuan yang sangat jelek) yang berkepala tiga.”
I We Cudaiq langsung tertawa dan refleks berbalik ke arah Sawerigading. Dan betapa terkejut dan bahagianya I We Cudaiq karena ternyata suaminya adalah lelaki yang sangat tampan. Bahkan ia belum pernah melihat lelaki setampan Sawerigading. Sawerigading dan I We Cudaiq kemudian mempunyai anak lelaki yang diberi nama: I La Galigo.
Tentang Dul Abdul Rahman.
Sastrawan dan peneliti budaya. Ia menamatkan pendidikan menengahnya di SMA Negeri Bikeru Sinjai Selatan pada 1993. Pernah mengenyam bangku kuliah, yakni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (1993-1998), Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar (2001-2002), Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin (2004-2009). Aktif bersastra di Indonesia dan Malaysia.
Ratusan tulisannya berupa karya sastra dan kritik sastra dimuat koran lokal dan nasional di Indonesia dan Malaysia. Karya-karyanya dijadikan bahan penelitian oleh mahasiswa untuk meraih gelar sarjana dan pascasarjana, di Indonesia maupun Malaysia.
Buku-buku sastranyat:
1. Lebaran Kali Ini Hujan Turun (Kumpulan Cerpen, Nala Makassar, 2006)
2. Pohon-Pohon Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2009);
3. Daun-Daun Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2010);
4. Perempuan Poppo (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010);
5. Sabda Laut (Novel. Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010).
6. Sarifah (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2011)
7. La Galigo (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2012)
8. Dewi Padi dan Kucing Kesayangannya (Novel, Diva Press Yogyakarta, segera terbit)
Selasa, 31 Januari 2012
SAWERIGADING, LELAKI YANG INGIN MENIKAHI SAUDARI PEREMPUANNYA SENDIRI
Sang Patotoqe, penguasa tunggal Kerajaan Langit telah mengutus putranya yang bernama Batara Guru untuk turun ke dunia. Setelah tiba di dunia, Batara Guru kawin dengan puteri dari Kerajaan Peretiwi yang bernama We Nyiliq Timoq. Dari perkawinan Batara Guru dan We Nyiliq Timoq, lahirlah putra mahkota bernama Batara Lattuq. Dan setelah dewasa Batara Lattuq menikah dengan We Datu Sengngeng setelah berlayar selama berbulan-bulan. Dari perkawainan Batara Lattuq dan We Datu Sengngeng, lahirlah dua anak kembar berlainan jenis. Yang putra bernama Sawerigading, sedangkan yang putri bernama We Tenriabeng. Sebagaimana adat-adat kebiasaan orang bangsawan untuk kelahiran anak-anak mereka, telah diadakan upacara oleh orang tuanya.
Namun setelah mengadakan upacara itu, Batara Lattuq dan permaisurinya menghilang, naik ke Boting Langiq atau puncak langit. Kejadian ini menggemparkan penduduk Kerajaan Manurung Ale Luwuq. Setelah reda keadaannya, para pemuka pembesar Kerajaan Ale Luwuq bersepakat untuk memelihara keturunan Batara Lattuq, dengan jalan memisahkan mereka. Demikianlah sehingga We Tenriabeng dibuatkan mahligai berjauhan dari tempat pemeliharaan Sawerigading.
Sawerigading tetap dipelihara di pusat kerajaan Ale Luwuq. Mereka berdua masing-masing dirawat oleh inang pengasuh dan dayang-dayang. Khusus Sawerigading, ia diasuh dan dijaga oleh tiga puluh orang pemuda yang cakap dan tangkas. Sehingga tidak heran apabila dewasa dan berkembang menjadi seorang yang berjiwa kesatria, cekatan dan terampil dalam menggunakan senjata dan bersemangat kepahlawanan.
Keadaan yang ideal juga berlaku bagi We Tenriabeng, karena sejak kecil ia diasuh untuk dididik dan dilatih agar menguasai keterampilan dan kepandaian yang harus dimiliki oleh seorang puteri raja, sehingga tidak heranlah apabila setelah dewasa ia tumbuh kembang menjadi seorang yang berwajah cantik. Ditambah lagi ia memiliki keterampilan serta pengetahuan mengenai adat istiadat kewanitaan bangsawan.
Pada suatu hari Sawerigading yang telah dewasa serta telah menjadi penguasa Kerajaan Manurung Ale Luwuq, bersama pengiringnya pergi menjelajah untuk memeriksa daerah-daerah kekuasaannya. Dalam penjelajahannya itu, pada suatu ketika, ia tiba pada suatu mahligai yang indah dan megah sekali. Dan ia menjadi terkesima ketika bertatap muka dengan penghuninya, seorang putri yang teramat cantik jelita. Terpengaruh oleh darah remajanya, Sawerigading kemudian menanyakan nama puteri jelita itu. Dari para pengiringnya ia mendapat keterangan bahwa nama puteri jelita tersebut adalah We Tenriabeng, namun mengenai orang tuanya serta dari mana asalnya mereka tidak ada yang mengetahuinya.
Sejak itu, timbullah dorongan keras untuk mempersunting puteri tersebut di dalam hati Sawerigading. Setibanya di pusat kerajaan, ia segera mengumpulkan para pembesar dan pemuka kerajaan untuk menyampaikan niatnya tersebut. Namun oleh para penasehatnya, niatnya tersebut tidak disetujui, karena mereka tahu bahwa We Tenriabeng sebenarnya adalah saudara kembar dari rajanya. Repotnya Sawerigading tidak mau mendengarnya, ia tidak percaya dengan segala nasehat para penasehatnya, ia ngotot tetap ingin menikahi We Tenriabeng. Ia malah membunuh juru bicara dari para penasehatnya.
Kegemparan dan kegelisahan masyarakat kerajaan Ale Luwuq akhirnya terdengar oleh We Tenriabeng. Setelah mengetahui permasalahannya, maka We Tenriabeng pun berkeputusan untuk menghalangi maksud sang raja yang notabene adalah saudara kembarnya sendiri. Caranya adalah mengirim inang pengasuhnya sebagai utusannya menghadap Sawerigading. Pada utusannya itu, ia mengirimkan bukti hubungan darah mereka, yang berupa gelang, cincin, dan sehelai rambut. Dan untuk menggantinya, ia mengusulkan saudara kembarnya tersebut untuk meminang saja saudara sepupu mereka bernama I We Cudaiq yang berdiam di negeri Cina. Kecantikan I We Cudaiq tidak kalah dari Tenriabeng. Perbedaannya hanyalah pada warna kulit. Jika We Tenriabeng berkulit putih kekuning-kuningan, maka I We Cudaiq berkulit putih berkilau-kilauan.
Dengan adanya bukti hubungan kekerabatan itu, akhirnya Sawerigading mau percaya dan berkeputusan untuk pergi ke negeri Cina untuk meminang I We Cudaiq yang molek tersebut.
Sawerigading pun berlayar selama berbulan-bulan menuju negeri Cina. Ia beberapa kali berperang di laut karena dihadang oleh berbagai musuh yang tidak memberinya jalan. Akhirnya Sawerigading sampai di negeri Cina. Namun di negeri Cina Sawerigading mendapat penolakan dari Puteri Cina. Maka terjadilah pertempuran hebat antara pasukan Sawerigading dengan pasukan Ale Cina. Sanggupkah Sawerigading mengalahkan pasukan Ale Cina lalu mempersunting I We Cudaiq? Baca selengkapnya dalam novel La Galigo, diterbitkan oleh Diva Press Yogyakarta Januari 2012.
Tentang Dul Abdul Rahman.
Sastrawan dan peneliti budaya. Ia menamatkan pendidikan menengahnya di SMA Negeri Bikeru Sinjai Selatan pada 1993. Pernah mengenyam bangku kuliah, yakni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (1993-1998), Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar (2001-2002), Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin (2004-2009). Aktif bersastra di Indonesia dan Malaysia.
Ratusan tulisannya berupa karya sastra dan kritik sastra dimuat koran lokal dan nasional di Indonesia dan Malaysia. Karya-karyanya dijadikan bahan penelitian oleh mahasiswa untuk meraih gelar sarjana dan pascasarjana, di Indonesia maupun Malaysia.
Buku-buku sastranyat:
1. Lebaran Kali Ini Hujan Turun (Kumpulan Cerpen, Nala Makassar, 2006)
2. Pohon-Pohon Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2009);
3. Daun-Daun Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2010);
4. Perempuan Poppo (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010);
5. Sabda Laut (Novel. Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010).
6. Sarifah (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2011)
7. La Galigo (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2012)
8. Dewi Padi dan Kucing Kesayangannya (Novel, Diva Press Yogyakarta, segera terbit)
Namun setelah mengadakan upacara itu, Batara Lattuq dan permaisurinya menghilang, naik ke Boting Langiq atau puncak langit. Kejadian ini menggemparkan penduduk Kerajaan Manurung Ale Luwuq. Setelah reda keadaannya, para pemuka pembesar Kerajaan Ale Luwuq bersepakat untuk memelihara keturunan Batara Lattuq, dengan jalan memisahkan mereka. Demikianlah sehingga We Tenriabeng dibuatkan mahligai berjauhan dari tempat pemeliharaan Sawerigading.
Sawerigading tetap dipelihara di pusat kerajaan Ale Luwuq. Mereka berdua masing-masing dirawat oleh inang pengasuh dan dayang-dayang. Khusus Sawerigading, ia diasuh dan dijaga oleh tiga puluh orang pemuda yang cakap dan tangkas. Sehingga tidak heran apabila dewasa dan berkembang menjadi seorang yang berjiwa kesatria, cekatan dan terampil dalam menggunakan senjata dan bersemangat kepahlawanan.
Keadaan yang ideal juga berlaku bagi We Tenriabeng, karena sejak kecil ia diasuh untuk dididik dan dilatih agar menguasai keterampilan dan kepandaian yang harus dimiliki oleh seorang puteri raja, sehingga tidak heranlah apabila setelah dewasa ia tumbuh kembang menjadi seorang yang berwajah cantik. Ditambah lagi ia memiliki keterampilan serta pengetahuan mengenai adat istiadat kewanitaan bangsawan.
Pada suatu hari Sawerigading yang telah dewasa serta telah menjadi penguasa Kerajaan Manurung Ale Luwuq, bersama pengiringnya pergi menjelajah untuk memeriksa daerah-daerah kekuasaannya. Dalam penjelajahannya itu, pada suatu ketika, ia tiba pada suatu mahligai yang indah dan megah sekali. Dan ia menjadi terkesima ketika bertatap muka dengan penghuninya, seorang putri yang teramat cantik jelita. Terpengaruh oleh darah remajanya, Sawerigading kemudian menanyakan nama puteri jelita itu. Dari para pengiringnya ia mendapat keterangan bahwa nama puteri jelita tersebut adalah We Tenriabeng, namun mengenai orang tuanya serta dari mana asalnya mereka tidak ada yang mengetahuinya.
Sejak itu, timbullah dorongan keras untuk mempersunting puteri tersebut di dalam hati Sawerigading. Setibanya di pusat kerajaan, ia segera mengumpulkan para pembesar dan pemuka kerajaan untuk menyampaikan niatnya tersebut. Namun oleh para penasehatnya, niatnya tersebut tidak disetujui, karena mereka tahu bahwa We Tenriabeng sebenarnya adalah saudara kembar dari rajanya. Repotnya Sawerigading tidak mau mendengarnya, ia tidak percaya dengan segala nasehat para penasehatnya, ia ngotot tetap ingin menikahi We Tenriabeng. Ia malah membunuh juru bicara dari para penasehatnya.
Kegemparan dan kegelisahan masyarakat kerajaan Ale Luwuq akhirnya terdengar oleh We Tenriabeng. Setelah mengetahui permasalahannya, maka We Tenriabeng pun berkeputusan untuk menghalangi maksud sang raja yang notabene adalah saudara kembarnya sendiri. Caranya adalah mengirim inang pengasuhnya sebagai utusannya menghadap Sawerigading. Pada utusannya itu, ia mengirimkan bukti hubungan darah mereka, yang berupa gelang, cincin, dan sehelai rambut. Dan untuk menggantinya, ia mengusulkan saudara kembarnya tersebut untuk meminang saja saudara sepupu mereka bernama I We Cudaiq yang berdiam di negeri Cina. Kecantikan I We Cudaiq tidak kalah dari Tenriabeng. Perbedaannya hanyalah pada warna kulit. Jika We Tenriabeng berkulit putih kekuning-kuningan, maka I We Cudaiq berkulit putih berkilau-kilauan.
Dengan adanya bukti hubungan kekerabatan itu, akhirnya Sawerigading mau percaya dan berkeputusan untuk pergi ke negeri Cina untuk meminang I We Cudaiq yang molek tersebut.
Sawerigading pun berlayar selama berbulan-bulan menuju negeri Cina. Ia beberapa kali berperang di laut karena dihadang oleh berbagai musuh yang tidak memberinya jalan. Akhirnya Sawerigading sampai di negeri Cina. Namun di negeri Cina Sawerigading mendapat penolakan dari Puteri Cina. Maka terjadilah pertempuran hebat antara pasukan Sawerigading dengan pasukan Ale Cina. Sanggupkah Sawerigading mengalahkan pasukan Ale Cina lalu mempersunting I We Cudaiq? Baca selengkapnya dalam novel La Galigo, diterbitkan oleh Diva Press Yogyakarta Januari 2012.
Tentang Dul Abdul Rahman.
Sastrawan dan peneliti budaya. Ia menamatkan pendidikan menengahnya di SMA Negeri Bikeru Sinjai Selatan pada 1993. Pernah mengenyam bangku kuliah, yakni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (1993-1998), Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar (2001-2002), Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin (2004-2009). Aktif bersastra di Indonesia dan Malaysia.
Ratusan tulisannya berupa karya sastra dan kritik sastra dimuat koran lokal dan nasional di Indonesia dan Malaysia. Karya-karyanya dijadikan bahan penelitian oleh mahasiswa untuk meraih gelar sarjana dan pascasarjana, di Indonesia maupun Malaysia.
Buku-buku sastranyat:
1. Lebaran Kali Ini Hujan Turun (Kumpulan Cerpen, Nala Makassar, 2006)
2. Pohon-Pohon Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2009);
3. Daun-Daun Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2010);
4. Perempuan Poppo (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010);
5. Sabda Laut (Novel. Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010).
6. Sarifah (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2011)
7. La Galigo (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2012)
8. Dewi Padi dan Kucing Kesayangannya (Novel, Diva Press Yogyakarta, segera terbit)
Minggu, 22 Januari 2012
BALADA CINTA SANGKALA DAN SARIFAH
Cerpen: dul abdul rahman
Awalnya Sangkala ragu mengizinkan Sarifah jadi TKW di Malaysia. Di samping karena ia akan kesepian ditinggal isteri tercinta, pun ia akan menanggung malu mendengar omongan orang-orang sekampungnya, “Orowane de’ siri’na.” Selalu begitu cemoohan yang diberikan kepada laki-laki yang dianggap kurang bertanggung jawab. Artinya laki-laki tak punya malu. Tapi karena rengekan isterinya terus menerus, Sangkala bulat mengizinkan isterinya bekerja di Malaysia.
Sarifah, isteri Sangkala, punya itikad baik untuk membantu suaminya. Ia sangat ingin melihat anak-anaknya kelak lebih bernasib baik dari mereka berdua. Kuncinya adalah ketiga anak-anaknya harus sekolah tinggi-tinggi supaya bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Profesi suaminya yang hanya petani kere, tak mungkinlah menyekolahkan anak-anaknya, apalagi biaya pendidikan kian mahal saja. Jika mereka bertahan di kampung, maka pastilah anak-anaknya kelak mengikuti jejak pekerjaan mereka. Petani kere yang tak punya pendidikan. Sarifah tak mau hal itu terjadi.
Setelah melewati babak musyawarah dan konsultasi ke pihak keluarga Sangkala, pun pihak keluarga Sarifah, pun para tetua di kampung, Sangkala dan Sarifah lalu bermufakat.
“Demi masa depan anak-anak kita, saya mengizinkan kau Sarifah bekerja di Malaysia. Jagalah kehormatan keluarga kita di sana.”
Nada Sangkala bergetar. Sebentar lagi ia akan berpisah dengan isterinya untuk sementara. Hanya untuk sementara. Selalu Sangkala mengulang kalimat itu. Tahun depan Sangkala berniat menyusul isterinya ke Malaysia. Sebenarnya keluarga mereka mengusul lebih baik keduanya berangkat sama-sama. Namun karena ibu Sangkala yang sudah tua, lagipula sedang sakit, Sangkala tak tega meninggalkannya.
Sangkala berencana, cukuplah lima tahun bekerja di Malaysia, upahnya ia kirim ke kampung untuk beli tanah. Ia pun bermufakat dengan isterinya tidak memboyong anak-anaknya ke Malaysia. Biarlah mereka tetap bersekolah di kampung. Memang yang paling dipikirkan Sangkala dan Sarifah adalah pendidikan anak-anaknya.
“Iye Daeng, akan kujaga segala kehormatan keluarga kita, siri’mu siri’ku.” Sarifah menatap suaminya. Ada mendung bergelayut di wajahnya.
“Kalau tiba di sana, selalulah berkirim kabar kepada kami. Lagian Mandor Bajide tiap bulan pulang kampung mengurus para calon TKI lainnya. Bisa juga lewat Haji Hamide yang sekali dua bulan pulang ke Indonesia mengambil barang dagangan.” Sangkala tak kuasa menahan rasa haru.
“Akan kuingat segala pappaseng Daeng.”
Sarifah sesunggukan dipelukan suaminya. Sangkala diam. Ia mencoba meredam segala kesedihan yang meraja di ulu hatinya. Malam ini memang adalah malam terakhir bersama isterinya, besok adalah jadwal isterinya berangkat ke Malaysia.
“Jagalah anak-anak kita Daeng! Daeng juga harus menjaga kesehatan.” Sarifah terus sesunggukan.
“Saya selalu ingat pappasengmu Sarifah.” Sangkala mencoba menegarkan isterinya. Ia memang tak mau larut dalam kesedihan, ia harus tegar melepas isterinya. Lagipula ini malam banyak tetamu yang hadir, pihak keluarga besar mereka berdua, pun para tetangga menginap di rumah Sangkala. Selalu memang begitu di kampung Sangkala. Setiap orang yang hendak bepergian jauh atau datang dari bepergian jauh selalu para tetangga berkumpul untuk saling melepas kangen, pun mengikat kangen. Dan yang terpenting saling memberi nasehat, pun berbagi pengalaman.
“Sebagai perempuan, kau harus jaga diri baik-baik Sarifah. Selalu ingat suami dan anak-anakmu agar hatimu tak pernah luruh.” Ayah Sarifah menasehati anaknya.
“Yang terpenting, kau harus rajin sholat dan berdoa, supaya kau selalu dalam lindunganNya.” Pak Imam Kampung turut menasehati.
“Hati-hati juga dengan Mandor Bajide. Kau harus jaga jarak dengan dia, Mandor Bajide itu suka….”
“Hush! Tak boleh berburuk sangka.” Kepala kampung yang turut hadir melepas keberangkatan Sarifah memotong ucapan Sittiara.
Para tetangga yang hadir cekikikan mendengar penuturan Sittiara. Sittiara memang pernah jadi TKW di Malaysia selama dua tahun, setelah menikah di Malaysia dengan sesama TKI, ia pulang kampung bersama suaminya dan kini hidup berkecukupan. Sittiara tahu banyak Mandor Bajide, karena ia pun berangkat ke Malaysia lewat “agen” Mandor Bajide. Mandor Bajide adalah orang yang disegani dan dihormati, ia adalah ponakan kepala kampung.
Begitulah. Nasehat-nasehat para tetua, pun cerita-cerita dibalik TKI, dan linangan airmata melepas keberangkatan Sarifah.
…
Sudah setahun isterinya bekerja di Malaysia. Namun Sangkala tidak pernah mendengar kabar tentangnya. Selalu ia tanyakan pada Mandor Bajide, selalu pula lelaki yang sering dipanggil Karaeng itu menjawab tidak bertanggung jawab soal Sarifah, karena Sarifah beralih ke mandor lain. Sangkala sangat masygul. Ketika ia tanyakan nasib isterinya kepada Haji Hamide, pun tak tahu.
“Malaysia itu luas, mungkin saja isterimu tidak bekerja lagi di Sabah. Mungkin ada mandor yang menawari gaji yang tinggi untuk pindah ke Kuala Lumpur.” Maemunah berkata padanya suatu ketika. Tentu saja bukan asal bicara, karena Maemunah pernah bekerja di kawasan Genting City of Entertainment Kuala Lumpur. Apalagi perempuan cantik macam Sarifah, meski sudah bersuami dan memiliki tiga orang anak, namun masih nampak cantik nan memikat. Jadi kemungkinan Sarifah jadi…. Hanya Maemunah yang tahu jenis pekerjaan apa yang cocok buat perempuan secantik Sarifah.
“Biasanya memang perempuan cantik tak tahan bekerja sama Mandor Bajide.” Begitulah Sittiara selalu berkata padanya. Mandor Bajide memang terkenal mata keranjang, ia telah menikah berkali-kali, tetapi selalu bercerai.
Kabar terakhir yang beredar di kampung. Mandor Bajide sudah beristeri lagi dengan seorang janda cantik dari kampungnya sendiri. Begitulah pengakuan Mandor Bajide. Tak seorangpun tahu di kampungnya siapa isteri baru Mandor Bajide. Atau memang warga tak tertarik mengetahui isteri Mandor Bajide yang tukang kawin-cerai.
Hanyalah Haji Hamide yang sedikit mengetahui ciri-ciri isteri Mandor Bajide. Wajahnya sangat mirip Sarifah, isteri Sangkala. Tapi Haji Hamide hanya melihat poto pernikahannya saja. Pengakuan Haji Hamide dianggap mengada-ada. Karena pasti bukanlah Sarifah, apalagi Sarifah sudah bersuami. Pun Sarifah sudah meninggalkan Mandor Bajide menurut pengakuan Mandor Bajide sendiri. Dan yang paling membuat orang tak percaya dengan omongan Haji Hamide karena Puang Haji itu sudah katarak.
Adalah waktu yang terus berjalan. Sejak kepergian isterinya, lalu tak ada kabarnya, Sangkala benar-benar merasa kehilangan. Tak ada lagi tempatnya berbagi duka, bermadah cinta. Sangkala benar-benar kesepian. Dan kesepian Sangkala sepertinya akan melewati musim demi musim. Tak ada kabar Sarifah. Sarifah sepertinya ditelan bumi Malaysia. Bumi Malaysia memang ladang emas, pun ladang cemas bagi para TKI.
Tak ada yang bisa menghentikan waktu. Waktu ibarat maut yang terus memburu, bahkan sesekali membujuk, lalu menghunus jarum-jarum kematian. Waktu pulalah yang akhirnya merenggut jiwa Sangkala. Sangkala tak mampu bersekutu dengan waktu sambil bersidekap dengan luka lara. Luka yang tersemat oleh kepergian Sarifah.
Semua warga menangisi kepergian Sangkala. Sangkala meninggal dunia membawa kesedihan tak terperikan. Orang-orang menyesali kenapa Sarifah berangkat ke Malaysia tidak bersama Sangkala saja. Sittiara dan Maemunah bahkan mengutuk Mandor Bajide yang tidak bertanggung jawab.
…
Para sanak keluarga dan warga sangat berduka atas kematian Sangkala. Sarifah pun dianggap sudah meninggal dunia, karena tak seorang pun yang tahu kabarnya. Semua warga sangat kasihan kepada Sangkala dan Sarifah, sebaliknya mereka tidak simpatik kepada Mandor Bajide. Tapi lambat laun, ketidaksukaan mereka kepada Mandor Bajide mengendor. Itu karena Mandor Bajide bersikap simpatik pula.
Sejak kematian Sangkala, Mandor Bajide mencoba menebus kesalahannya atas hilangnya jejak Sarifah yang membuat Sangkala meninggal dunia. Mandor Bajide menyekolahkan ketiga anak-anak Sangkala dan Sarifah.
Satu-satunya warga yang tidak simpatik kepada Mandor Bajide hanyalah Haji Hamide. Haji Hamide yang berdagang antar Sinjai-Makassar-Nunukan-Sabah sangat tahu siapa sebenarnya Mandor Bajide. Haji Hamide sangat ingin membongkar kebusukan Mandor Bajide. Hanya saja Haji Hamide berpikir, kalau ia membongkar kejahatan Mandor Bajide sekarang lebih banyak mudaratnya. Lebih baik ia diam saja. “Tuhan selalu ada melihat dosa-dosa hambaNya.” Haji Hamide membatin.
…
“Kau benar-benar Sarifah Nak?”
“Iye Puang Haji, saya Sarifah.”
“Alhamdulillah Nak, ternyata kau masih hidup, padahal orang-orang di kampung menganggapmu sudah meninggal. Pulanglah Nak! Anak-anakmu sekarang merasa yatim piatu, padahal kau masih hidup.”
“Yatim piatu? Maksud Puang Haji? Saya selalu mengirim uang untuk keperluan sekolahnya.”
“Kiriman uang? Yang saya tahu selama ini biaya sekolah anak-anakmu ditanggung oleh Mandor Bajide.”
“Sama saja Puang Haji, Mandor Bajide kan suami saya.”
“Jadi kau pengantin baru Nak?”
“Pengantin baru? Kami menikah dengan Mandor Bajide setahun silam.”
“Maksudmu Nak? Sangkala suamimu kan meninggal dunia enam bulan silam.”
Haji Hamide dan Sarifah terus berkejaran dengan pertanyaan yang menyelisik dan mengcengkeram. Lalu pertanyaan dan jawaban Haji Hamide akhirnya menjelma duri-duri dan menusuk hati Sarifah. Sarifah mendadak tak sadarkan diri setelah mendengar kabar sesungguhnya dari Haji Hamide.
Haji Hamide tahu kini. Ternyata seluruh pengakuan Mandor Bajide tentang Sarifah adalah bohong belaka. Ternyata ia berbual jahat untuk merampas isteri orang. Ia menyembunyikan surat-surat Sarifah kepada suaminya, bahkan mengabarkan di kampung bahwa Sarifah menghilang, padahal ia menyembunyikannya. Lalu ia berbohong pula pada Sarifah bahwa suaminya telah meninggal dunia. Lalu merayu Sarifah menikah dengannya dengan alasan hidup Sarifah akan lebih berkecukupan sekaligus menebus utang Sarifah.
“Laknat!”
Haji Hamide menggerutu. Lalu menghubungi penyelenggara jenazah untuk mengurus pemakaman Sarifah. Ia berharap kematian Sarifah yang tahu hanyalah dirinya dan Mandor Bajide. Biarlah orang-orang di kampung menganggap bahwa Sarifah sudah lama meninggal dunia. Sekali lagi Haji Hamide berpikir manfaat-mudarat. Ia menganggap Mandor Bajide lah segala pangkal dosa dan kesalahan. Olehnya itu ia mengultimatum Mandor Bajide untuk mengurusi segala kebutuhan dan sekolah anak-anak almarhum Sangkala dan Sarifah. Kalau menelantarkan anak-anak tersebut, ia akan membongkar segala kebusukan Mandor Bajide. Tapi apakah Mandor Bajide berjanji untuk bertobat, Haji Hamide tak memikirkan itu, biar Tuhan yang tahu segala dosa hamba-hambaNya.
Haji Hamide meninggalkan pemakaman Sarifah. Ia tak menoleh sekalipun ke arah Mandor Bajide. Dibenaknya, kelak kalau tiba di kampung, ia akan berziarah ke makam Sangkala.
(Sumber: Harian Cakrawala, 22 Januari 2012)
Tentang Penulis:
Dul Abdul Rahman. Sastrawan dan peneliti budaya. Ia menamatkan pendidikan menengahnya di SMA Negeri Bikeru Sinjai Selatan pada 1993. Pernah mengenyam bangku kuliah, yakni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (1993-1998), Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar (2001-2002), Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin (2004-2009). Aktif bersastra di Indonesia dan Malaysia.
Ratusan tulisannya berupa karya sastra dan kritik sastra dimuat koran lokal dan nasional di Indonesia dan Malaysia. Karya-karyanya dijadikan bahan penelitian oleh mahasiswa untuk meraih gelar sarjana dan pascasarjana, di Indonesia maupun Malaysia.
Bukunya yang sudah terbit:
1. Lebaran Kali Ini Hujan Turun (Kumpulan Cerpen, Nala Makassar, 2006)
2. Pohon-Pohon Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2009);
3. Daun-Daun Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2010);
4. Perempuan Poppo (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010);
5. Sabda Laut (Novel. Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010).
6. Sarifah (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2011)
7. La Galigo (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2012)
Awalnya Sangkala ragu mengizinkan Sarifah jadi TKW di Malaysia. Di samping karena ia akan kesepian ditinggal isteri tercinta, pun ia akan menanggung malu mendengar omongan orang-orang sekampungnya, “Orowane de’ siri’na.” Selalu begitu cemoohan yang diberikan kepada laki-laki yang dianggap kurang bertanggung jawab. Artinya laki-laki tak punya malu. Tapi karena rengekan isterinya terus menerus, Sangkala bulat mengizinkan isterinya bekerja di Malaysia.
Sarifah, isteri Sangkala, punya itikad baik untuk membantu suaminya. Ia sangat ingin melihat anak-anaknya kelak lebih bernasib baik dari mereka berdua. Kuncinya adalah ketiga anak-anaknya harus sekolah tinggi-tinggi supaya bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Profesi suaminya yang hanya petani kere, tak mungkinlah menyekolahkan anak-anaknya, apalagi biaya pendidikan kian mahal saja. Jika mereka bertahan di kampung, maka pastilah anak-anaknya kelak mengikuti jejak pekerjaan mereka. Petani kere yang tak punya pendidikan. Sarifah tak mau hal itu terjadi.
Setelah melewati babak musyawarah dan konsultasi ke pihak keluarga Sangkala, pun pihak keluarga Sarifah, pun para tetua di kampung, Sangkala dan Sarifah lalu bermufakat.
“Demi masa depan anak-anak kita, saya mengizinkan kau Sarifah bekerja di Malaysia. Jagalah kehormatan keluarga kita di sana.”
Nada Sangkala bergetar. Sebentar lagi ia akan berpisah dengan isterinya untuk sementara. Hanya untuk sementara. Selalu Sangkala mengulang kalimat itu. Tahun depan Sangkala berniat menyusul isterinya ke Malaysia. Sebenarnya keluarga mereka mengusul lebih baik keduanya berangkat sama-sama. Namun karena ibu Sangkala yang sudah tua, lagipula sedang sakit, Sangkala tak tega meninggalkannya.
Sangkala berencana, cukuplah lima tahun bekerja di Malaysia, upahnya ia kirim ke kampung untuk beli tanah. Ia pun bermufakat dengan isterinya tidak memboyong anak-anaknya ke Malaysia. Biarlah mereka tetap bersekolah di kampung. Memang yang paling dipikirkan Sangkala dan Sarifah adalah pendidikan anak-anaknya.
“Iye Daeng, akan kujaga segala kehormatan keluarga kita, siri’mu siri’ku.” Sarifah menatap suaminya. Ada mendung bergelayut di wajahnya.
“Kalau tiba di sana, selalulah berkirim kabar kepada kami. Lagian Mandor Bajide tiap bulan pulang kampung mengurus para calon TKI lainnya. Bisa juga lewat Haji Hamide yang sekali dua bulan pulang ke Indonesia mengambil barang dagangan.” Sangkala tak kuasa menahan rasa haru.
“Akan kuingat segala pappaseng Daeng.”
Sarifah sesunggukan dipelukan suaminya. Sangkala diam. Ia mencoba meredam segala kesedihan yang meraja di ulu hatinya. Malam ini memang adalah malam terakhir bersama isterinya, besok adalah jadwal isterinya berangkat ke Malaysia.
“Jagalah anak-anak kita Daeng! Daeng juga harus menjaga kesehatan.” Sarifah terus sesunggukan.
“Saya selalu ingat pappasengmu Sarifah.” Sangkala mencoba menegarkan isterinya. Ia memang tak mau larut dalam kesedihan, ia harus tegar melepas isterinya. Lagipula ini malam banyak tetamu yang hadir, pihak keluarga besar mereka berdua, pun para tetangga menginap di rumah Sangkala. Selalu memang begitu di kampung Sangkala. Setiap orang yang hendak bepergian jauh atau datang dari bepergian jauh selalu para tetangga berkumpul untuk saling melepas kangen, pun mengikat kangen. Dan yang terpenting saling memberi nasehat, pun berbagi pengalaman.
“Sebagai perempuan, kau harus jaga diri baik-baik Sarifah. Selalu ingat suami dan anak-anakmu agar hatimu tak pernah luruh.” Ayah Sarifah menasehati anaknya.
“Yang terpenting, kau harus rajin sholat dan berdoa, supaya kau selalu dalam lindunganNya.” Pak Imam Kampung turut menasehati.
“Hati-hati juga dengan Mandor Bajide. Kau harus jaga jarak dengan dia, Mandor Bajide itu suka….”
“Hush! Tak boleh berburuk sangka.” Kepala kampung yang turut hadir melepas keberangkatan Sarifah memotong ucapan Sittiara.
Para tetangga yang hadir cekikikan mendengar penuturan Sittiara. Sittiara memang pernah jadi TKW di Malaysia selama dua tahun, setelah menikah di Malaysia dengan sesama TKI, ia pulang kampung bersama suaminya dan kini hidup berkecukupan. Sittiara tahu banyak Mandor Bajide, karena ia pun berangkat ke Malaysia lewat “agen” Mandor Bajide. Mandor Bajide adalah orang yang disegani dan dihormati, ia adalah ponakan kepala kampung.
Begitulah. Nasehat-nasehat para tetua, pun cerita-cerita dibalik TKI, dan linangan airmata melepas keberangkatan Sarifah.
…
Sudah setahun isterinya bekerja di Malaysia. Namun Sangkala tidak pernah mendengar kabar tentangnya. Selalu ia tanyakan pada Mandor Bajide, selalu pula lelaki yang sering dipanggil Karaeng itu menjawab tidak bertanggung jawab soal Sarifah, karena Sarifah beralih ke mandor lain. Sangkala sangat masygul. Ketika ia tanyakan nasib isterinya kepada Haji Hamide, pun tak tahu.
“Malaysia itu luas, mungkin saja isterimu tidak bekerja lagi di Sabah. Mungkin ada mandor yang menawari gaji yang tinggi untuk pindah ke Kuala Lumpur.” Maemunah berkata padanya suatu ketika. Tentu saja bukan asal bicara, karena Maemunah pernah bekerja di kawasan Genting City of Entertainment Kuala Lumpur. Apalagi perempuan cantik macam Sarifah, meski sudah bersuami dan memiliki tiga orang anak, namun masih nampak cantik nan memikat. Jadi kemungkinan Sarifah jadi…. Hanya Maemunah yang tahu jenis pekerjaan apa yang cocok buat perempuan secantik Sarifah.
“Biasanya memang perempuan cantik tak tahan bekerja sama Mandor Bajide.” Begitulah Sittiara selalu berkata padanya. Mandor Bajide memang terkenal mata keranjang, ia telah menikah berkali-kali, tetapi selalu bercerai.
Kabar terakhir yang beredar di kampung. Mandor Bajide sudah beristeri lagi dengan seorang janda cantik dari kampungnya sendiri. Begitulah pengakuan Mandor Bajide. Tak seorangpun tahu di kampungnya siapa isteri baru Mandor Bajide. Atau memang warga tak tertarik mengetahui isteri Mandor Bajide yang tukang kawin-cerai.
Hanyalah Haji Hamide yang sedikit mengetahui ciri-ciri isteri Mandor Bajide. Wajahnya sangat mirip Sarifah, isteri Sangkala. Tapi Haji Hamide hanya melihat poto pernikahannya saja. Pengakuan Haji Hamide dianggap mengada-ada. Karena pasti bukanlah Sarifah, apalagi Sarifah sudah bersuami. Pun Sarifah sudah meninggalkan Mandor Bajide menurut pengakuan Mandor Bajide sendiri. Dan yang paling membuat orang tak percaya dengan omongan Haji Hamide karena Puang Haji itu sudah katarak.
Adalah waktu yang terus berjalan. Sejak kepergian isterinya, lalu tak ada kabarnya, Sangkala benar-benar merasa kehilangan. Tak ada lagi tempatnya berbagi duka, bermadah cinta. Sangkala benar-benar kesepian. Dan kesepian Sangkala sepertinya akan melewati musim demi musim. Tak ada kabar Sarifah. Sarifah sepertinya ditelan bumi Malaysia. Bumi Malaysia memang ladang emas, pun ladang cemas bagi para TKI.
Tak ada yang bisa menghentikan waktu. Waktu ibarat maut yang terus memburu, bahkan sesekali membujuk, lalu menghunus jarum-jarum kematian. Waktu pulalah yang akhirnya merenggut jiwa Sangkala. Sangkala tak mampu bersekutu dengan waktu sambil bersidekap dengan luka lara. Luka yang tersemat oleh kepergian Sarifah.
Semua warga menangisi kepergian Sangkala. Sangkala meninggal dunia membawa kesedihan tak terperikan. Orang-orang menyesali kenapa Sarifah berangkat ke Malaysia tidak bersama Sangkala saja. Sittiara dan Maemunah bahkan mengutuk Mandor Bajide yang tidak bertanggung jawab.
…
Para sanak keluarga dan warga sangat berduka atas kematian Sangkala. Sarifah pun dianggap sudah meninggal dunia, karena tak seorang pun yang tahu kabarnya. Semua warga sangat kasihan kepada Sangkala dan Sarifah, sebaliknya mereka tidak simpatik kepada Mandor Bajide. Tapi lambat laun, ketidaksukaan mereka kepada Mandor Bajide mengendor. Itu karena Mandor Bajide bersikap simpatik pula.
Sejak kematian Sangkala, Mandor Bajide mencoba menebus kesalahannya atas hilangnya jejak Sarifah yang membuat Sangkala meninggal dunia. Mandor Bajide menyekolahkan ketiga anak-anak Sangkala dan Sarifah.
Satu-satunya warga yang tidak simpatik kepada Mandor Bajide hanyalah Haji Hamide. Haji Hamide yang berdagang antar Sinjai-Makassar-Nunukan-Sabah sangat tahu siapa sebenarnya Mandor Bajide. Haji Hamide sangat ingin membongkar kebusukan Mandor Bajide. Hanya saja Haji Hamide berpikir, kalau ia membongkar kejahatan Mandor Bajide sekarang lebih banyak mudaratnya. Lebih baik ia diam saja. “Tuhan selalu ada melihat dosa-dosa hambaNya.” Haji Hamide membatin.
…
“Kau benar-benar Sarifah Nak?”
“Iye Puang Haji, saya Sarifah.”
“Alhamdulillah Nak, ternyata kau masih hidup, padahal orang-orang di kampung menganggapmu sudah meninggal. Pulanglah Nak! Anak-anakmu sekarang merasa yatim piatu, padahal kau masih hidup.”
“Yatim piatu? Maksud Puang Haji? Saya selalu mengirim uang untuk keperluan sekolahnya.”
“Kiriman uang? Yang saya tahu selama ini biaya sekolah anak-anakmu ditanggung oleh Mandor Bajide.”
“Sama saja Puang Haji, Mandor Bajide kan suami saya.”
“Jadi kau pengantin baru Nak?”
“Pengantin baru? Kami menikah dengan Mandor Bajide setahun silam.”
“Maksudmu Nak? Sangkala suamimu kan meninggal dunia enam bulan silam.”
Haji Hamide dan Sarifah terus berkejaran dengan pertanyaan yang menyelisik dan mengcengkeram. Lalu pertanyaan dan jawaban Haji Hamide akhirnya menjelma duri-duri dan menusuk hati Sarifah. Sarifah mendadak tak sadarkan diri setelah mendengar kabar sesungguhnya dari Haji Hamide.
Haji Hamide tahu kini. Ternyata seluruh pengakuan Mandor Bajide tentang Sarifah adalah bohong belaka. Ternyata ia berbual jahat untuk merampas isteri orang. Ia menyembunyikan surat-surat Sarifah kepada suaminya, bahkan mengabarkan di kampung bahwa Sarifah menghilang, padahal ia menyembunyikannya. Lalu ia berbohong pula pada Sarifah bahwa suaminya telah meninggal dunia. Lalu merayu Sarifah menikah dengannya dengan alasan hidup Sarifah akan lebih berkecukupan sekaligus menebus utang Sarifah.
“Laknat!”
Haji Hamide menggerutu. Lalu menghubungi penyelenggara jenazah untuk mengurus pemakaman Sarifah. Ia berharap kematian Sarifah yang tahu hanyalah dirinya dan Mandor Bajide. Biarlah orang-orang di kampung menganggap bahwa Sarifah sudah lama meninggal dunia. Sekali lagi Haji Hamide berpikir manfaat-mudarat. Ia menganggap Mandor Bajide lah segala pangkal dosa dan kesalahan. Olehnya itu ia mengultimatum Mandor Bajide untuk mengurusi segala kebutuhan dan sekolah anak-anak almarhum Sangkala dan Sarifah. Kalau menelantarkan anak-anak tersebut, ia akan membongkar segala kebusukan Mandor Bajide. Tapi apakah Mandor Bajide berjanji untuk bertobat, Haji Hamide tak memikirkan itu, biar Tuhan yang tahu segala dosa hamba-hambaNya.
Haji Hamide meninggalkan pemakaman Sarifah. Ia tak menoleh sekalipun ke arah Mandor Bajide. Dibenaknya, kelak kalau tiba di kampung, ia akan berziarah ke makam Sangkala.
(Sumber: Harian Cakrawala, 22 Januari 2012)
Tentang Penulis:
Dul Abdul Rahman. Sastrawan dan peneliti budaya. Ia menamatkan pendidikan menengahnya di SMA Negeri Bikeru Sinjai Selatan pada 1993. Pernah mengenyam bangku kuliah, yakni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (1993-1998), Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar (2001-2002), Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin (2004-2009). Aktif bersastra di Indonesia dan Malaysia.
Ratusan tulisannya berupa karya sastra dan kritik sastra dimuat koran lokal dan nasional di Indonesia dan Malaysia. Karya-karyanya dijadikan bahan penelitian oleh mahasiswa untuk meraih gelar sarjana dan pascasarjana, di Indonesia maupun Malaysia.
Bukunya yang sudah terbit:
1. Lebaran Kali Ini Hujan Turun (Kumpulan Cerpen, Nala Makassar, 2006)
2. Pohon-Pohon Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2009);
3. Daun-Daun Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2010);
4. Perempuan Poppo (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010);
5. Sabda Laut (Novel. Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010).
6. Sarifah (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2011)
7. La Galigo (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2012)
Langganan:
Postingan (Atom)




