Sang Patotoqe, penguasa tunggal Kerajaan Langit telah mengutus putranya yang bernama Batara Guru untuk turun ke dunia. Setelah tiba di dunia, Batara Guru kawin dengan puteri dari Kerajaan Peretiwi yang bernama We Nyiliq Timoq. Dari perkawinan Batara Guru dan We Nyiliq Timoq, lahirlah putra mahkota bernama Batara Lattuq. Dan setelah dewasa Batara Lattuq menikah dengan We Datu Sengngeng setelah berlayar selama berbulan-bulan. Dari perkawainan Batara Lattuq dan We Datu Sengngeng, lahirlah dua anak kembar berlainan jenis. Yang putra bernama Sawerigading, sedangkan yang putri bernama We Tenriabeng. Sebagaimana adat-adat kebiasaan orang bangsawan untuk kelahiran anak-anak mereka, telah diadakan upacara oleh orang tuanya.
Namun setelah mengadakan upacara itu, Batara Lattuq dan permaisurinya menghilang, naik ke Boting Langiq atau puncak langit. Kejadian ini menggemparkan penduduk Kerajaan Manurung Ale Luwuq. Setelah reda keadaannya, para pemuka pembesar Kerajaan Ale Luwuq bersepakat untuk memelihara keturunan Batara Lattuq, dengan jalan memisahkan mereka. Demikianlah sehingga We Tenriabeng dibuatkan mahligai berjauhan dari tempat pemeliharaan Sawerigading.
Sawerigading tetap dipelihara di pusat kerajaan Ale Luwuq. Mereka berdua masing-masing dirawat oleh inang pengasuh dan dayang-dayang. Khusus Sawerigading, ia diasuh dan dijaga oleh tiga puluh orang pemuda yang cakap dan tangkas. Sehingga tidak heran apabila dewasa dan berkembang menjadi seorang yang berjiwa kesatria, cekatan dan terampil dalam menggunakan senjata dan bersemangat kepahlawanan.
Keadaan yang ideal juga berlaku bagi We Tenriabeng, karena sejak kecil ia diasuh untuk dididik dan dilatih agar menguasai keterampilan dan kepandaian yang harus dimiliki oleh seorang puteri raja, sehingga tidak heranlah apabila setelah dewasa ia tumbuh kembang menjadi seorang yang berwajah cantik. Ditambah lagi ia memiliki keterampilan serta pengetahuan mengenai adat istiadat kewanitaan bangsawan.
Pada suatu hari Sawerigading yang telah dewasa serta telah menjadi penguasa Kerajaan Manurung Ale Luwuq, bersama pengiringnya pergi menjelajah untuk memeriksa daerah-daerah kekuasaannya. Dalam penjelajahannya itu, pada suatu ketika, ia tiba pada suatu mahligai yang indah dan megah sekali. Dan ia menjadi terkesima ketika bertatap muka dengan penghuninya, seorang putri yang teramat cantik jelita. Terpengaruh oleh darah remajanya, Sawerigading kemudian menanyakan nama puteri jelita itu. Dari para pengiringnya ia mendapat keterangan bahwa nama puteri jelita tersebut adalah We Tenriabeng, namun mengenai orang tuanya serta dari mana asalnya mereka tidak ada yang mengetahuinya.
Sejak itu, timbullah dorongan keras untuk mempersunting puteri tersebut di dalam hati Sawerigading. Setibanya di pusat kerajaan, ia segera mengumpulkan para pembesar dan pemuka kerajaan untuk menyampaikan niatnya tersebut. Namun oleh para penasehatnya, niatnya tersebut tidak disetujui, karena mereka tahu bahwa We Tenriabeng sebenarnya adalah saudara kembar dari rajanya. Repotnya Sawerigading tidak mau mendengarnya, ia tidak percaya dengan segala nasehat para penasehatnya, ia ngotot tetap ingin menikahi We Tenriabeng. Ia malah membunuh juru bicara dari para penasehatnya.
Kegemparan dan kegelisahan masyarakat kerajaan Ale Luwuq akhirnya terdengar oleh We Tenriabeng. Setelah mengetahui permasalahannya, maka We Tenriabeng pun berkeputusan untuk menghalangi maksud sang raja yang notabene adalah saudara kembarnya sendiri. Caranya adalah mengirim inang pengasuhnya sebagai utusannya menghadap Sawerigading. Pada utusannya itu, ia mengirimkan bukti hubungan darah mereka, yang berupa gelang, cincin, dan sehelai rambut. Dan untuk menggantinya, ia mengusulkan saudara kembarnya tersebut untuk meminang saja saudara sepupu mereka bernama I We Cudaiq yang berdiam di negeri Cina. Kecantikan I We Cudaiq tidak kalah dari Tenriabeng. Perbedaannya hanyalah pada warna kulit. Jika We Tenriabeng berkulit putih kekuning-kuningan, maka I We Cudaiq berkulit putih berkilau-kilauan.
Dengan adanya bukti hubungan kekerabatan itu, akhirnya Sawerigading mau percaya dan berkeputusan untuk pergi ke negeri Cina untuk meminang I We Cudaiq yang molek tersebut.
Sawerigading pun berlayar selama berbulan-bulan menuju negeri Cina. Ia beberapa kali berperang di laut karena dihadang oleh berbagai musuh yang tidak memberinya jalan. Akhirnya Sawerigading sampai di negeri Cina. Namun di negeri Cina Sawerigading mendapat penolakan dari Puteri Cina. Maka terjadilah pertempuran hebat antara pasukan Sawerigading dengan pasukan Ale Cina. Sanggupkah Sawerigading mengalahkan pasukan Ale Cina lalu mempersunting I We Cudaiq? Baca selengkapnya dalam novel La Galigo, diterbitkan oleh Diva Press Yogyakarta Januari 2012.
Tentang Dul Abdul Rahman.
Sastrawan dan peneliti budaya. Ia menamatkan pendidikan menengahnya di SMA Negeri Bikeru Sinjai Selatan pada 1993. Pernah mengenyam bangku kuliah, yakni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (1993-1998), Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar (2001-2002), Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin (2004-2009). Aktif bersastra di Indonesia dan Malaysia.
Ratusan tulisannya berupa karya sastra dan kritik sastra dimuat koran lokal dan nasional di Indonesia dan Malaysia. Karya-karyanya dijadikan bahan penelitian oleh mahasiswa untuk meraih gelar sarjana dan pascasarjana, di Indonesia maupun Malaysia.
Buku-buku sastranyat:
1. Lebaran Kali Ini Hujan Turun (Kumpulan Cerpen, Nala Makassar, 2006)
2. Pohon-Pohon Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2009);
3. Daun-Daun Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2010);
4. Perempuan Poppo (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010);
5. Sabda Laut (Novel. Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010).
6. Sarifah (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2011)
7. La Galigo (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2012)
8. Dewi Padi dan Kucing Kesayangannya (Novel, Diva Press Yogyakarta, segera terbit)
Selasa, 31 Januari 2012
Minggu, 22 Januari 2012
BALADA CINTA SANGKALA DAN SARIFAH
Cerpen: dul abdul rahman
Awalnya Sangkala ragu mengizinkan Sarifah jadi TKW di Malaysia. Di samping karena ia akan kesepian ditinggal isteri tercinta, pun ia akan menanggung malu mendengar omongan orang-orang sekampungnya, “Orowane de’ siri’na.” Selalu begitu cemoohan yang diberikan kepada laki-laki yang dianggap kurang bertanggung jawab. Artinya laki-laki tak punya malu. Tapi karena rengekan isterinya terus menerus, Sangkala bulat mengizinkan isterinya bekerja di Malaysia.
Sarifah, isteri Sangkala, punya itikad baik untuk membantu suaminya. Ia sangat ingin melihat anak-anaknya kelak lebih bernasib baik dari mereka berdua. Kuncinya adalah ketiga anak-anaknya harus sekolah tinggi-tinggi supaya bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Profesi suaminya yang hanya petani kere, tak mungkinlah menyekolahkan anak-anaknya, apalagi biaya pendidikan kian mahal saja. Jika mereka bertahan di kampung, maka pastilah anak-anaknya kelak mengikuti jejak pekerjaan mereka. Petani kere yang tak punya pendidikan. Sarifah tak mau hal itu terjadi.
Setelah melewati babak musyawarah dan konsultasi ke pihak keluarga Sangkala, pun pihak keluarga Sarifah, pun para tetua di kampung, Sangkala dan Sarifah lalu bermufakat.
“Demi masa depan anak-anak kita, saya mengizinkan kau Sarifah bekerja di Malaysia. Jagalah kehormatan keluarga kita di sana.”
Nada Sangkala bergetar. Sebentar lagi ia akan berpisah dengan isterinya untuk sementara. Hanya untuk sementara. Selalu Sangkala mengulang kalimat itu. Tahun depan Sangkala berniat menyusul isterinya ke Malaysia. Sebenarnya keluarga mereka mengusul lebih baik keduanya berangkat sama-sama. Namun karena ibu Sangkala yang sudah tua, lagipula sedang sakit, Sangkala tak tega meninggalkannya.
Sangkala berencana, cukuplah lima tahun bekerja di Malaysia, upahnya ia kirim ke kampung untuk beli tanah. Ia pun bermufakat dengan isterinya tidak memboyong anak-anaknya ke Malaysia. Biarlah mereka tetap bersekolah di kampung. Memang yang paling dipikirkan Sangkala dan Sarifah adalah pendidikan anak-anaknya.
“Iye Daeng, akan kujaga segala kehormatan keluarga kita, siri’mu siri’ku.” Sarifah menatap suaminya. Ada mendung bergelayut di wajahnya.
“Kalau tiba di sana, selalulah berkirim kabar kepada kami. Lagian Mandor Bajide tiap bulan pulang kampung mengurus para calon TKI lainnya. Bisa juga lewat Haji Hamide yang sekali dua bulan pulang ke Indonesia mengambil barang dagangan.” Sangkala tak kuasa menahan rasa haru.
“Akan kuingat segala pappaseng Daeng.”
Sarifah sesunggukan dipelukan suaminya. Sangkala diam. Ia mencoba meredam segala kesedihan yang meraja di ulu hatinya. Malam ini memang adalah malam terakhir bersama isterinya, besok adalah jadwal isterinya berangkat ke Malaysia.
“Jagalah anak-anak kita Daeng! Daeng juga harus menjaga kesehatan.” Sarifah terus sesunggukan.
“Saya selalu ingat pappasengmu Sarifah.” Sangkala mencoba menegarkan isterinya. Ia memang tak mau larut dalam kesedihan, ia harus tegar melepas isterinya. Lagipula ini malam banyak tetamu yang hadir, pihak keluarga besar mereka berdua, pun para tetangga menginap di rumah Sangkala. Selalu memang begitu di kampung Sangkala. Setiap orang yang hendak bepergian jauh atau datang dari bepergian jauh selalu para tetangga berkumpul untuk saling melepas kangen, pun mengikat kangen. Dan yang terpenting saling memberi nasehat, pun berbagi pengalaman.
“Sebagai perempuan, kau harus jaga diri baik-baik Sarifah. Selalu ingat suami dan anak-anakmu agar hatimu tak pernah luruh.” Ayah Sarifah menasehati anaknya.
“Yang terpenting, kau harus rajin sholat dan berdoa, supaya kau selalu dalam lindunganNya.” Pak Imam Kampung turut menasehati.
“Hati-hati juga dengan Mandor Bajide. Kau harus jaga jarak dengan dia, Mandor Bajide itu suka….”
“Hush! Tak boleh berburuk sangka.” Kepala kampung yang turut hadir melepas keberangkatan Sarifah memotong ucapan Sittiara.
Para tetangga yang hadir cekikikan mendengar penuturan Sittiara. Sittiara memang pernah jadi TKW di Malaysia selama dua tahun, setelah menikah di Malaysia dengan sesama TKI, ia pulang kampung bersama suaminya dan kini hidup berkecukupan. Sittiara tahu banyak Mandor Bajide, karena ia pun berangkat ke Malaysia lewat “agen” Mandor Bajide. Mandor Bajide adalah orang yang disegani dan dihormati, ia adalah ponakan kepala kampung.
Begitulah. Nasehat-nasehat para tetua, pun cerita-cerita dibalik TKI, dan linangan airmata melepas keberangkatan Sarifah.
…
Sudah setahun isterinya bekerja di Malaysia. Namun Sangkala tidak pernah mendengar kabar tentangnya. Selalu ia tanyakan pada Mandor Bajide, selalu pula lelaki yang sering dipanggil Karaeng itu menjawab tidak bertanggung jawab soal Sarifah, karena Sarifah beralih ke mandor lain. Sangkala sangat masygul. Ketika ia tanyakan nasib isterinya kepada Haji Hamide, pun tak tahu.
“Malaysia itu luas, mungkin saja isterimu tidak bekerja lagi di Sabah. Mungkin ada mandor yang menawari gaji yang tinggi untuk pindah ke Kuala Lumpur.” Maemunah berkata padanya suatu ketika. Tentu saja bukan asal bicara, karena Maemunah pernah bekerja di kawasan Genting City of Entertainment Kuala Lumpur. Apalagi perempuan cantik macam Sarifah, meski sudah bersuami dan memiliki tiga orang anak, namun masih nampak cantik nan memikat. Jadi kemungkinan Sarifah jadi…. Hanya Maemunah yang tahu jenis pekerjaan apa yang cocok buat perempuan secantik Sarifah.
“Biasanya memang perempuan cantik tak tahan bekerja sama Mandor Bajide.” Begitulah Sittiara selalu berkata padanya. Mandor Bajide memang terkenal mata keranjang, ia telah menikah berkali-kali, tetapi selalu bercerai.
Kabar terakhir yang beredar di kampung. Mandor Bajide sudah beristeri lagi dengan seorang janda cantik dari kampungnya sendiri. Begitulah pengakuan Mandor Bajide. Tak seorangpun tahu di kampungnya siapa isteri baru Mandor Bajide. Atau memang warga tak tertarik mengetahui isteri Mandor Bajide yang tukang kawin-cerai.
Hanyalah Haji Hamide yang sedikit mengetahui ciri-ciri isteri Mandor Bajide. Wajahnya sangat mirip Sarifah, isteri Sangkala. Tapi Haji Hamide hanya melihat poto pernikahannya saja. Pengakuan Haji Hamide dianggap mengada-ada. Karena pasti bukanlah Sarifah, apalagi Sarifah sudah bersuami. Pun Sarifah sudah meninggalkan Mandor Bajide menurut pengakuan Mandor Bajide sendiri. Dan yang paling membuat orang tak percaya dengan omongan Haji Hamide karena Puang Haji itu sudah katarak.
Adalah waktu yang terus berjalan. Sejak kepergian isterinya, lalu tak ada kabarnya, Sangkala benar-benar merasa kehilangan. Tak ada lagi tempatnya berbagi duka, bermadah cinta. Sangkala benar-benar kesepian. Dan kesepian Sangkala sepertinya akan melewati musim demi musim. Tak ada kabar Sarifah. Sarifah sepertinya ditelan bumi Malaysia. Bumi Malaysia memang ladang emas, pun ladang cemas bagi para TKI.
Tak ada yang bisa menghentikan waktu. Waktu ibarat maut yang terus memburu, bahkan sesekali membujuk, lalu menghunus jarum-jarum kematian. Waktu pulalah yang akhirnya merenggut jiwa Sangkala. Sangkala tak mampu bersekutu dengan waktu sambil bersidekap dengan luka lara. Luka yang tersemat oleh kepergian Sarifah.
Semua warga menangisi kepergian Sangkala. Sangkala meninggal dunia membawa kesedihan tak terperikan. Orang-orang menyesali kenapa Sarifah berangkat ke Malaysia tidak bersama Sangkala saja. Sittiara dan Maemunah bahkan mengutuk Mandor Bajide yang tidak bertanggung jawab.
…
Para sanak keluarga dan warga sangat berduka atas kematian Sangkala. Sarifah pun dianggap sudah meninggal dunia, karena tak seorang pun yang tahu kabarnya. Semua warga sangat kasihan kepada Sangkala dan Sarifah, sebaliknya mereka tidak simpatik kepada Mandor Bajide. Tapi lambat laun, ketidaksukaan mereka kepada Mandor Bajide mengendor. Itu karena Mandor Bajide bersikap simpatik pula.
Sejak kematian Sangkala, Mandor Bajide mencoba menebus kesalahannya atas hilangnya jejak Sarifah yang membuat Sangkala meninggal dunia. Mandor Bajide menyekolahkan ketiga anak-anak Sangkala dan Sarifah.
Satu-satunya warga yang tidak simpatik kepada Mandor Bajide hanyalah Haji Hamide. Haji Hamide yang berdagang antar Sinjai-Makassar-Nunukan-Sabah sangat tahu siapa sebenarnya Mandor Bajide. Haji Hamide sangat ingin membongkar kebusukan Mandor Bajide. Hanya saja Haji Hamide berpikir, kalau ia membongkar kejahatan Mandor Bajide sekarang lebih banyak mudaratnya. Lebih baik ia diam saja. “Tuhan selalu ada melihat dosa-dosa hambaNya.” Haji Hamide membatin.
…
“Kau benar-benar Sarifah Nak?”
“Iye Puang Haji, saya Sarifah.”
“Alhamdulillah Nak, ternyata kau masih hidup, padahal orang-orang di kampung menganggapmu sudah meninggal. Pulanglah Nak! Anak-anakmu sekarang merasa yatim piatu, padahal kau masih hidup.”
“Yatim piatu? Maksud Puang Haji? Saya selalu mengirim uang untuk keperluan sekolahnya.”
“Kiriman uang? Yang saya tahu selama ini biaya sekolah anak-anakmu ditanggung oleh Mandor Bajide.”
“Sama saja Puang Haji, Mandor Bajide kan suami saya.”
“Jadi kau pengantin baru Nak?”
“Pengantin baru? Kami menikah dengan Mandor Bajide setahun silam.”
“Maksudmu Nak? Sangkala suamimu kan meninggal dunia enam bulan silam.”
Haji Hamide dan Sarifah terus berkejaran dengan pertanyaan yang menyelisik dan mengcengkeram. Lalu pertanyaan dan jawaban Haji Hamide akhirnya menjelma duri-duri dan menusuk hati Sarifah. Sarifah mendadak tak sadarkan diri setelah mendengar kabar sesungguhnya dari Haji Hamide.
Haji Hamide tahu kini. Ternyata seluruh pengakuan Mandor Bajide tentang Sarifah adalah bohong belaka. Ternyata ia berbual jahat untuk merampas isteri orang. Ia menyembunyikan surat-surat Sarifah kepada suaminya, bahkan mengabarkan di kampung bahwa Sarifah menghilang, padahal ia menyembunyikannya. Lalu ia berbohong pula pada Sarifah bahwa suaminya telah meninggal dunia. Lalu merayu Sarifah menikah dengannya dengan alasan hidup Sarifah akan lebih berkecukupan sekaligus menebus utang Sarifah.
“Laknat!”
Haji Hamide menggerutu. Lalu menghubungi penyelenggara jenazah untuk mengurus pemakaman Sarifah. Ia berharap kematian Sarifah yang tahu hanyalah dirinya dan Mandor Bajide. Biarlah orang-orang di kampung menganggap bahwa Sarifah sudah lama meninggal dunia. Sekali lagi Haji Hamide berpikir manfaat-mudarat. Ia menganggap Mandor Bajide lah segala pangkal dosa dan kesalahan. Olehnya itu ia mengultimatum Mandor Bajide untuk mengurusi segala kebutuhan dan sekolah anak-anak almarhum Sangkala dan Sarifah. Kalau menelantarkan anak-anak tersebut, ia akan membongkar segala kebusukan Mandor Bajide. Tapi apakah Mandor Bajide berjanji untuk bertobat, Haji Hamide tak memikirkan itu, biar Tuhan yang tahu segala dosa hamba-hambaNya.
Haji Hamide meninggalkan pemakaman Sarifah. Ia tak menoleh sekalipun ke arah Mandor Bajide. Dibenaknya, kelak kalau tiba di kampung, ia akan berziarah ke makam Sangkala.
(Sumber: Harian Cakrawala, 22 Januari 2012)
Tentang Penulis:
Dul Abdul Rahman. Sastrawan dan peneliti budaya. Ia menamatkan pendidikan menengahnya di SMA Negeri Bikeru Sinjai Selatan pada 1993. Pernah mengenyam bangku kuliah, yakni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (1993-1998), Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar (2001-2002), Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin (2004-2009). Aktif bersastra di Indonesia dan Malaysia.
Ratusan tulisannya berupa karya sastra dan kritik sastra dimuat koran lokal dan nasional di Indonesia dan Malaysia. Karya-karyanya dijadikan bahan penelitian oleh mahasiswa untuk meraih gelar sarjana dan pascasarjana, di Indonesia maupun Malaysia.
Bukunya yang sudah terbit:
1. Lebaran Kali Ini Hujan Turun (Kumpulan Cerpen, Nala Makassar, 2006)
2. Pohon-Pohon Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2009);
3. Daun-Daun Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2010);
4. Perempuan Poppo (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010);
5. Sabda Laut (Novel. Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010).
6. Sarifah (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2011)
7. La Galigo (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2012)
Awalnya Sangkala ragu mengizinkan Sarifah jadi TKW di Malaysia. Di samping karena ia akan kesepian ditinggal isteri tercinta, pun ia akan menanggung malu mendengar omongan orang-orang sekampungnya, “Orowane de’ siri’na.” Selalu begitu cemoohan yang diberikan kepada laki-laki yang dianggap kurang bertanggung jawab. Artinya laki-laki tak punya malu. Tapi karena rengekan isterinya terus menerus, Sangkala bulat mengizinkan isterinya bekerja di Malaysia.
Sarifah, isteri Sangkala, punya itikad baik untuk membantu suaminya. Ia sangat ingin melihat anak-anaknya kelak lebih bernasib baik dari mereka berdua. Kuncinya adalah ketiga anak-anaknya harus sekolah tinggi-tinggi supaya bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Profesi suaminya yang hanya petani kere, tak mungkinlah menyekolahkan anak-anaknya, apalagi biaya pendidikan kian mahal saja. Jika mereka bertahan di kampung, maka pastilah anak-anaknya kelak mengikuti jejak pekerjaan mereka. Petani kere yang tak punya pendidikan. Sarifah tak mau hal itu terjadi.
Setelah melewati babak musyawarah dan konsultasi ke pihak keluarga Sangkala, pun pihak keluarga Sarifah, pun para tetua di kampung, Sangkala dan Sarifah lalu bermufakat.
“Demi masa depan anak-anak kita, saya mengizinkan kau Sarifah bekerja di Malaysia. Jagalah kehormatan keluarga kita di sana.”
Nada Sangkala bergetar. Sebentar lagi ia akan berpisah dengan isterinya untuk sementara. Hanya untuk sementara. Selalu Sangkala mengulang kalimat itu. Tahun depan Sangkala berniat menyusul isterinya ke Malaysia. Sebenarnya keluarga mereka mengusul lebih baik keduanya berangkat sama-sama. Namun karena ibu Sangkala yang sudah tua, lagipula sedang sakit, Sangkala tak tega meninggalkannya.
Sangkala berencana, cukuplah lima tahun bekerja di Malaysia, upahnya ia kirim ke kampung untuk beli tanah. Ia pun bermufakat dengan isterinya tidak memboyong anak-anaknya ke Malaysia. Biarlah mereka tetap bersekolah di kampung. Memang yang paling dipikirkan Sangkala dan Sarifah adalah pendidikan anak-anaknya.
“Iye Daeng, akan kujaga segala kehormatan keluarga kita, siri’mu siri’ku.” Sarifah menatap suaminya. Ada mendung bergelayut di wajahnya.
“Kalau tiba di sana, selalulah berkirim kabar kepada kami. Lagian Mandor Bajide tiap bulan pulang kampung mengurus para calon TKI lainnya. Bisa juga lewat Haji Hamide yang sekali dua bulan pulang ke Indonesia mengambil barang dagangan.” Sangkala tak kuasa menahan rasa haru.
“Akan kuingat segala pappaseng Daeng.”
Sarifah sesunggukan dipelukan suaminya. Sangkala diam. Ia mencoba meredam segala kesedihan yang meraja di ulu hatinya. Malam ini memang adalah malam terakhir bersama isterinya, besok adalah jadwal isterinya berangkat ke Malaysia.
“Jagalah anak-anak kita Daeng! Daeng juga harus menjaga kesehatan.” Sarifah terus sesunggukan.
“Saya selalu ingat pappasengmu Sarifah.” Sangkala mencoba menegarkan isterinya. Ia memang tak mau larut dalam kesedihan, ia harus tegar melepas isterinya. Lagipula ini malam banyak tetamu yang hadir, pihak keluarga besar mereka berdua, pun para tetangga menginap di rumah Sangkala. Selalu memang begitu di kampung Sangkala. Setiap orang yang hendak bepergian jauh atau datang dari bepergian jauh selalu para tetangga berkumpul untuk saling melepas kangen, pun mengikat kangen. Dan yang terpenting saling memberi nasehat, pun berbagi pengalaman.
“Sebagai perempuan, kau harus jaga diri baik-baik Sarifah. Selalu ingat suami dan anak-anakmu agar hatimu tak pernah luruh.” Ayah Sarifah menasehati anaknya.
“Yang terpenting, kau harus rajin sholat dan berdoa, supaya kau selalu dalam lindunganNya.” Pak Imam Kampung turut menasehati.
“Hati-hati juga dengan Mandor Bajide. Kau harus jaga jarak dengan dia, Mandor Bajide itu suka….”
“Hush! Tak boleh berburuk sangka.” Kepala kampung yang turut hadir melepas keberangkatan Sarifah memotong ucapan Sittiara.
Para tetangga yang hadir cekikikan mendengar penuturan Sittiara. Sittiara memang pernah jadi TKW di Malaysia selama dua tahun, setelah menikah di Malaysia dengan sesama TKI, ia pulang kampung bersama suaminya dan kini hidup berkecukupan. Sittiara tahu banyak Mandor Bajide, karena ia pun berangkat ke Malaysia lewat “agen” Mandor Bajide. Mandor Bajide adalah orang yang disegani dan dihormati, ia adalah ponakan kepala kampung.
Begitulah. Nasehat-nasehat para tetua, pun cerita-cerita dibalik TKI, dan linangan airmata melepas keberangkatan Sarifah.
…
Sudah setahun isterinya bekerja di Malaysia. Namun Sangkala tidak pernah mendengar kabar tentangnya. Selalu ia tanyakan pada Mandor Bajide, selalu pula lelaki yang sering dipanggil Karaeng itu menjawab tidak bertanggung jawab soal Sarifah, karena Sarifah beralih ke mandor lain. Sangkala sangat masygul. Ketika ia tanyakan nasib isterinya kepada Haji Hamide, pun tak tahu.
“Malaysia itu luas, mungkin saja isterimu tidak bekerja lagi di Sabah. Mungkin ada mandor yang menawari gaji yang tinggi untuk pindah ke Kuala Lumpur.” Maemunah berkata padanya suatu ketika. Tentu saja bukan asal bicara, karena Maemunah pernah bekerja di kawasan Genting City of Entertainment Kuala Lumpur. Apalagi perempuan cantik macam Sarifah, meski sudah bersuami dan memiliki tiga orang anak, namun masih nampak cantik nan memikat. Jadi kemungkinan Sarifah jadi…. Hanya Maemunah yang tahu jenis pekerjaan apa yang cocok buat perempuan secantik Sarifah.
“Biasanya memang perempuan cantik tak tahan bekerja sama Mandor Bajide.” Begitulah Sittiara selalu berkata padanya. Mandor Bajide memang terkenal mata keranjang, ia telah menikah berkali-kali, tetapi selalu bercerai.
Kabar terakhir yang beredar di kampung. Mandor Bajide sudah beristeri lagi dengan seorang janda cantik dari kampungnya sendiri. Begitulah pengakuan Mandor Bajide. Tak seorangpun tahu di kampungnya siapa isteri baru Mandor Bajide. Atau memang warga tak tertarik mengetahui isteri Mandor Bajide yang tukang kawin-cerai.
Hanyalah Haji Hamide yang sedikit mengetahui ciri-ciri isteri Mandor Bajide. Wajahnya sangat mirip Sarifah, isteri Sangkala. Tapi Haji Hamide hanya melihat poto pernikahannya saja. Pengakuan Haji Hamide dianggap mengada-ada. Karena pasti bukanlah Sarifah, apalagi Sarifah sudah bersuami. Pun Sarifah sudah meninggalkan Mandor Bajide menurut pengakuan Mandor Bajide sendiri. Dan yang paling membuat orang tak percaya dengan omongan Haji Hamide karena Puang Haji itu sudah katarak.
Adalah waktu yang terus berjalan. Sejak kepergian isterinya, lalu tak ada kabarnya, Sangkala benar-benar merasa kehilangan. Tak ada lagi tempatnya berbagi duka, bermadah cinta. Sangkala benar-benar kesepian. Dan kesepian Sangkala sepertinya akan melewati musim demi musim. Tak ada kabar Sarifah. Sarifah sepertinya ditelan bumi Malaysia. Bumi Malaysia memang ladang emas, pun ladang cemas bagi para TKI.
Tak ada yang bisa menghentikan waktu. Waktu ibarat maut yang terus memburu, bahkan sesekali membujuk, lalu menghunus jarum-jarum kematian. Waktu pulalah yang akhirnya merenggut jiwa Sangkala. Sangkala tak mampu bersekutu dengan waktu sambil bersidekap dengan luka lara. Luka yang tersemat oleh kepergian Sarifah.
Semua warga menangisi kepergian Sangkala. Sangkala meninggal dunia membawa kesedihan tak terperikan. Orang-orang menyesali kenapa Sarifah berangkat ke Malaysia tidak bersama Sangkala saja. Sittiara dan Maemunah bahkan mengutuk Mandor Bajide yang tidak bertanggung jawab.
…
Para sanak keluarga dan warga sangat berduka atas kematian Sangkala. Sarifah pun dianggap sudah meninggal dunia, karena tak seorang pun yang tahu kabarnya. Semua warga sangat kasihan kepada Sangkala dan Sarifah, sebaliknya mereka tidak simpatik kepada Mandor Bajide. Tapi lambat laun, ketidaksukaan mereka kepada Mandor Bajide mengendor. Itu karena Mandor Bajide bersikap simpatik pula.
Sejak kematian Sangkala, Mandor Bajide mencoba menebus kesalahannya atas hilangnya jejak Sarifah yang membuat Sangkala meninggal dunia. Mandor Bajide menyekolahkan ketiga anak-anak Sangkala dan Sarifah.
Satu-satunya warga yang tidak simpatik kepada Mandor Bajide hanyalah Haji Hamide. Haji Hamide yang berdagang antar Sinjai-Makassar-Nunukan-Sabah sangat tahu siapa sebenarnya Mandor Bajide. Haji Hamide sangat ingin membongkar kebusukan Mandor Bajide. Hanya saja Haji Hamide berpikir, kalau ia membongkar kejahatan Mandor Bajide sekarang lebih banyak mudaratnya. Lebih baik ia diam saja. “Tuhan selalu ada melihat dosa-dosa hambaNya.” Haji Hamide membatin.
…
“Kau benar-benar Sarifah Nak?”
“Iye Puang Haji, saya Sarifah.”
“Alhamdulillah Nak, ternyata kau masih hidup, padahal orang-orang di kampung menganggapmu sudah meninggal. Pulanglah Nak! Anak-anakmu sekarang merasa yatim piatu, padahal kau masih hidup.”
“Yatim piatu? Maksud Puang Haji? Saya selalu mengirim uang untuk keperluan sekolahnya.”
“Kiriman uang? Yang saya tahu selama ini biaya sekolah anak-anakmu ditanggung oleh Mandor Bajide.”
“Sama saja Puang Haji, Mandor Bajide kan suami saya.”
“Jadi kau pengantin baru Nak?”
“Pengantin baru? Kami menikah dengan Mandor Bajide setahun silam.”
“Maksudmu Nak? Sangkala suamimu kan meninggal dunia enam bulan silam.”
Haji Hamide dan Sarifah terus berkejaran dengan pertanyaan yang menyelisik dan mengcengkeram. Lalu pertanyaan dan jawaban Haji Hamide akhirnya menjelma duri-duri dan menusuk hati Sarifah. Sarifah mendadak tak sadarkan diri setelah mendengar kabar sesungguhnya dari Haji Hamide.
Haji Hamide tahu kini. Ternyata seluruh pengakuan Mandor Bajide tentang Sarifah adalah bohong belaka. Ternyata ia berbual jahat untuk merampas isteri orang. Ia menyembunyikan surat-surat Sarifah kepada suaminya, bahkan mengabarkan di kampung bahwa Sarifah menghilang, padahal ia menyembunyikannya. Lalu ia berbohong pula pada Sarifah bahwa suaminya telah meninggal dunia. Lalu merayu Sarifah menikah dengannya dengan alasan hidup Sarifah akan lebih berkecukupan sekaligus menebus utang Sarifah.
“Laknat!”
Haji Hamide menggerutu. Lalu menghubungi penyelenggara jenazah untuk mengurus pemakaman Sarifah. Ia berharap kematian Sarifah yang tahu hanyalah dirinya dan Mandor Bajide. Biarlah orang-orang di kampung menganggap bahwa Sarifah sudah lama meninggal dunia. Sekali lagi Haji Hamide berpikir manfaat-mudarat. Ia menganggap Mandor Bajide lah segala pangkal dosa dan kesalahan. Olehnya itu ia mengultimatum Mandor Bajide untuk mengurusi segala kebutuhan dan sekolah anak-anak almarhum Sangkala dan Sarifah. Kalau menelantarkan anak-anak tersebut, ia akan membongkar segala kebusukan Mandor Bajide. Tapi apakah Mandor Bajide berjanji untuk bertobat, Haji Hamide tak memikirkan itu, biar Tuhan yang tahu segala dosa hamba-hambaNya.
Haji Hamide meninggalkan pemakaman Sarifah. Ia tak menoleh sekalipun ke arah Mandor Bajide. Dibenaknya, kelak kalau tiba di kampung, ia akan berziarah ke makam Sangkala.
(Sumber: Harian Cakrawala, 22 Januari 2012)
Tentang Penulis:
Dul Abdul Rahman. Sastrawan dan peneliti budaya. Ia menamatkan pendidikan menengahnya di SMA Negeri Bikeru Sinjai Selatan pada 1993. Pernah mengenyam bangku kuliah, yakni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (1993-1998), Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar (2001-2002), Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin (2004-2009). Aktif bersastra di Indonesia dan Malaysia.
Ratusan tulisannya berupa karya sastra dan kritik sastra dimuat koran lokal dan nasional di Indonesia dan Malaysia. Karya-karyanya dijadikan bahan penelitian oleh mahasiswa untuk meraih gelar sarjana dan pascasarjana, di Indonesia maupun Malaysia.
Bukunya yang sudah terbit:
1. Lebaran Kali Ini Hujan Turun (Kumpulan Cerpen, Nala Makassar, 2006)
2. Pohon-Pohon Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2009);
3. Daun-Daun Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2010);
4. Perempuan Poppo (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010);
5. Sabda Laut (Novel. Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010).
6. Sarifah (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2011)
7. La Galigo (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2012)
Minggu, 01 Januari 2012
LA GALIGO sebuah novel berdasarkan KITAB LA GALIGO kotab sastra terpanjang di dunia
Sekilas tentang isi buku
“La Galigo adalah karya sastra terpanjang dan terbesar di dunia yang setara dengan kitab Mahabharata dan Ramayana dari India serta sajak-sajak Homerus dari Yunani,” ungkap R.A, Kern.
Bahkan, tidak tanggung-tanggung, sejarawan dan ilmuwan Belanda, Sirtjof Koolhof, menyebutnya sebagai karya sastra terpanjang di dunia, terdiri dari 300.000 baris, mengalahkan Mahabharata dan yang lainnya.
Nah, novel di tangan Anda ini adalah pemiksian yang sangat menarik dari karya legendaris tersebut.
Diceritakan bahwa dahulu kala, Kerajaan Bumi hanyalah tanah kosong yang benar-benar tak berpenghuni. Lalu, Sang Dewata (Sang Pototoqe) segera memutuskan bahwa kerajaan tersebut tidak bisa dibiarkan terlalu lama kosong. Manusia harus diturunkan untuk menyuburkannya dan tentu saja menyembah-Nya!
Maka, dipilihlah sang putra sulung-Nya untuk menjadi manusia pertama yang menghuni bumi. Dialah yang kemudian menjelma Batara Guru.
Tidaklah mudah menjadi penguasa di Bumi, meski sang manusia titisan Dewata tersebut bisa saja meminta bantuan Langit untuk mempermudah tugasnya. Tapi, Sang Dewata mengharuskannya untuk berusaha sebelum pasrah. Di sinilah, ujian-ujian kehidupan mulai menerpanya. Dia dipaksa untuk melewati berbagai rintangan hingga sampailah dia pada titik di mana Sang Dewata mengizinkan Batara Guru memiliki pendamping hidup.
Lantas, bagaimana kehidupannya kemudian?
Tentu saja sepak terjang hebat keturunan-keturunannya semisal Sawerigading bakal mewarnai dengan sangat menghibur karya besar ini. Bahkan, petualangan cucu Batara Guru inilah yang nantinya sering menjadi sorotan istimewa dari para penikmat La Galigo. Selamat membaca!
“Adinda, tidak usah khawatir bila anak kita kelak menjelma manusia lalu mengalami cobaan hidup di Bumi. Karena, memang sudah menjadi hukum Bumi bahwa sesungguhnya hidup adalah cobaan. Bukanlah manusia namanya bila tidak dicoba. Juga, bukanlah manusia bila tidak tahan menghadapi cobaan,” ucap Sang Patotoqe meyakinkan istrinya.
Diterbitkan oleh DIVA PRESS Yogyakarta, cet.1 Januari 2012
“La Galigo adalah karya sastra terpanjang dan terbesar di dunia yang setara dengan kitab Mahabharata dan Ramayana dari India serta sajak-sajak Homerus dari Yunani,” ungkap R.A, Kern.
Bahkan, tidak tanggung-tanggung, sejarawan dan ilmuwan Belanda, Sirtjof Koolhof, menyebutnya sebagai karya sastra terpanjang di dunia, terdiri dari 300.000 baris, mengalahkan Mahabharata dan yang lainnya.
Nah, novel di tangan Anda ini adalah pemiksian yang sangat menarik dari karya legendaris tersebut.
Diceritakan bahwa dahulu kala, Kerajaan Bumi hanyalah tanah kosong yang benar-benar tak berpenghuni. Lalu, Sang Dewata (Sang Pototoqe) segera memutuskan bahwa kerajaan tersebut tidak bisa dibiarkan terlalu lama kosong. Manusia harus diturunkan untuk menyuburkannya dan tentu saja menyembah-Nya!
Maka, dipilihlah sang putra sulung-Nya untuk menjadi manusia pertama yang menghuni bumi. Dialah yang kemudian menjelma Batara Guru.
Tidaklah mudah menjadi penguasa di Bumi, meski sang manusia titisan Dewata tersebut bisa saja meminta bantuan Langit untuk mempermudah tugasnya. Tapi, Sang Dewata mengharuskannya untuk berusaha sebelum pasrah. Di sinilah, ujian-ujian kehidupan mulai menerpanya. Dia dipaksa untuk melewati berbagai rintangan hingga sampailah dia pada titik di mana Sang Dewata mengizinkan Batara Guru memiliki pendamping hidup.
Lantas, bagaimana kehidupannya kemudian?
Tentu saja sepak terjang hebat keturunan-keturunannya semisal Sawerigading bakal mewarnai dengan sangat menghibur karya besar ini. Bahkan, petualangan cucu Batara Guru inilah yang nantinya sering menjadi sorotan istimewa dari para penikmat La Galigo. Selamat membaca!
“Adinda, tidak usah khawatir bila anak kita kelak menjelma manusia lalu mengalami cobaan hidup di Bumi. Karena, memang sudah menjadi hukum Bumi bahwa sesungguhnya hidup adalah cobaan. Bukanlah manusia namanya bila tidak dicoba. Juga, bukanlah manusia bila tidak tahan menghadapi cobaan,” ucap Sang Patotoqe meyakinkan istrinya.
Diterbitkan oleh DIVA PRESS Yogyakarta, cet.1 Januari 2012
Sabtu, 17 Desember 2011
LA GALIGO KARYA SASTRA TERPANJANG DI DUNIA
Kitab sastra La Galigo merupakan kitab sastra klasik Bugis adalah kitab sastra terpanjang di dunia. Pengakuan ini bukan datang dari orang-orang Bugis (baca: orang Indonesia). Jangankan mengklaim sebagai sastra terpanjang di dunia, orang Bugis sendiri awam dengan La Galigo. Yang mengklaim La Galigo sebagai karya sastra terpanjang di dunia adalah para ilmuwan Belanda.
Seorang ilmuwan Belanda yang bernama R.A.Kern dalam bukunya Catalogus van de Boegineesche tot de I La Galigocyclus Behoorende Handschriften der Leidsche Universiteitbibliotheek yang diterbitkan oleh Universiteitbibliotheek Leiden (1939: 1) menempatkan Kitab La Galigo sebagai karya sastra terpanjang dan terbesar di dunia setaraf dengan kitab Mahabarata dan Ramayana dari India, serta sajak-sajak Homerus dari Yunani.
Sejalan dengan pendapat R.A. Kern, sejarawan dan ilmuwan Belanda lainnya, Sirtjof Koolhof, berpendapat bahwa Kitab Galigo adalah karya sastra terpanjang di dunia yang panjangnya mencapai lebih 300.000 baris, sementara epos Mahabarata jumlah barisnya antara 160.000 – 200.000 baris.
Pendapat R.A. Kern dan Sirtjof Koolhof berdasarkan atas 12 jilid naskah La Galigo yang kini berada di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Naskah tersebut ditulis oleh Colliq Pujie Arung Pancana Toa pada abad ke-19 atas permintaan B.F Matthes (1818-1908). B.F Matthes adalah seorang missionaris Belanda yang pernah bertugas di Sulawesi. Sejatinya, Colliq Pujie hanyalah mengumpulkan dan menyalin kembali cerita La Galigo yang sudah mengakar (cerita lisan) pada masyarakat yang mendiami jazirah selatan Pulau Sulawesi –masyarakat Bugis.
Saat ini sudah muncul buku-buku transliterasi La Galigo atas jasa-jasa para kaum intelektual Sulsel seperti Muhammad Salim, M.Johan Nyompa, Fahruddin Ambo Enre, dan Nurhayati Rahman –mereka patut disebut pejuang La Galigo– Tetapi transliterasi tersebut nampaknya masih susah dibaca dan dicerna oleh masyarakat.
La Galigo, hadir dalam bentuk sebuah novel
La Galigo mengalami ‘perjalanan panjang’. Meski lahir di Tanah Bugis, Indonesia, namun ia ‘besar’ di negeri Belanda. Selain salinan naskah aslinya yang terdiri atas 12 jilid yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, Kitab La Galigo pun menjadi primadona bagi para mahasiswa Belanda untuk melakukan riset sastra dan budaya untuk meraih gelar magister dan doktor.
Setelah pulang kampung ke negeri asalnya, hingar-bingar sebagai karya sastra klasik yang ramai diperbincangkan di negeri orang, namun tidak sebingar di tanah kelahirannya.
La Galigo, yang pada tahun 2011 ini mendapat penghargaan khusus karena badan PBB UNESCO menetapkan naskah klasik La Galigo sebagai warisan dunia dan diberi anugerah Memory of The World (MOW).
Anda yang ingin mengetahui isi La Galigo, silakan dibaca novel “La Galigo” yang diterbitkan oleh Penerbit Diva Press Yogyakarta.
(dul abdul rahman)
Seorang ilmuwan Belanda yang bernama R.A.Kern dalam bukunya Catalogus van de Boegineesche tot de I La Galigocyclus Behoorende Handschriften der Leidsche Universiteitbibliotheek yang diterbitkan oleh Universiteitbibliotheek Leiden (1939: 1) menempatkan Kitab La Galigo sebagai karya sastra terpanjang dan terbesar di dunia setaraf dengan kitab Mahabarata dan Ramayana dari India, serta sajak-sajak Homerus dari Yunani.
Sejalan dengan pendapat R.A. Kern, sejarawan dan ilmuwan Belanda lainnya, Sirtjof Koolhof, berpendapat bahwa Kitab Galigo adalah karya sastra terpanjang di dunia yang panjangnya mencapai lebih 300.000 baris, sementara epos Mahabarata jumlah barisnya antara 160.000 – 200.000 baris.
Pendapat R.A. Kern dan Sirtjof Koolhof berdasarkan atas 12 jilid naskah La Galigo yang kini berada di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Naskah tersebut ditulis oleh Colliq Pujie Arung Pancana Toa pada abad ke-19 atas permintaan B.F Matthes (1818-1908). B.F Matthes adalah seorang missionaris Belanda yang pernah bertugas di Sulawesi. Sejatinya, Colliq Pujie hanyalah mengumpulkan dan menyalin kembali cerita La Galigo yang sudah mengakar (cerita lisan) pada masyarakat yang mendiami jazirah selatan Pulau Sulawesi –masyarakat Bugis.
Saat ini sudah muncul buku-buku transliterasi La Galigo atas jasa-jasa para kaum intelektual Sulsel seperti Muhammad Salim, M.Johan Nyompa, Fahruddin Ambo Enre, dan Nurhayati Rahman –mereka patut disebut pejuang La Galigo– Tetapi transliterasi tersebut nampaknya masih susah dibaca dan dicerna oleh masyarakat.
La Galigo, hadir dalam bentuk sebuah novel
La Galigo mengalami ‘perjalanan panjang’. Meski lahir di Tanah Bugis, Indonesia, namun ia ‘besar’ di negeri Belanda. Selain salinan naskah aslinya yang terdiri atas 12 jilid yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, Kitab La Galigo pun menjadi primadona bagi para mahasiswa Belanda untuk melakukan riset sastra dan budaya untuk meraih gelar magister dan doktor.
Setelah pulang kampung ke negeri asalnya, hingar-bingar sebagai karya sastra klasik yang ramai diperbincangkan di negeri orang, namun tidak sebingar di tanah kelahirannya.
La Galigo, yang pada tahun 2011 ini mendapat penghargaan khusus karena badan PBB UNESCO menetapkan naskah klasik La Galigo sebagai warisan dunia dan diberi anugerah Memory of The World (MOW).
Anda yang ingin mengetahui isi La Galigo, silakan dibaca novel “La Galigo” yang diterbitkan oleh Penerbit Diva Press Yogyakarta.
(dul abdul rahman)
Jumat, 09 Desember 2011
CHAERUDDIN HAKIM PENYELAMAT KELONG MAKASSAR
Oleh: dul abdul rahman
(sastrawan dan peneliti budaya)
Mangkasara’ bori’ ada
Bori’ pa’rimpungang pacce
Sukku’ sungguna
Kimassing paenteng siri’
Nani areng Mangkasara’
Kania’ pacce attayang
Punna taena
Bellai ri pangngadakkang
(Makassar negeri adat
Negeri perkumpulan kasih sayang
Sangatlah baik
Jika saling tegakkan harga diri
Diberi nama Makassar
Sebab kasih sayang menanti
Jika tak ada
Jauh dari adat-istiadat)
Mungkin saja jika para mahasiswa di Makassar pernah membaca dan memahami kelong Makassar tersebut di atas maka mereka akan menjaga nama baik Makassar di mata orang-orang luar Makassar. Betapa tidak! Istilah “Makassar yang kasar” selalu saja memerah-hitamkan telinga saya ketika berkunjung ke daerah-daerah lain seperti Jakarta, Yogyakarta, hingga Padang.
Istilah “Makassar yang kasar” tentu saja “diiklankan” oleh para mahasiswa di Makassar. Bukan hanya dalam melakukan aksi-aksi demonstrasi yang sesungguhnya bertujuan untuk memperjuangkan hak-hak rakyat. Tapi yang memalukan adalah jika para mahasiswa berkelahi antar mahasiswa atau antar fakultas dalam internal kampus yang seolah menjadi trend mahasiswa di Makassar.
Dibanding dengan kota-kota besar lainnya seperi Jakarta, Bandung, Surabaya, atau Medan, wajah Makassar memang lebih dominan (baca: sangar) muncul di teve jika itu menyangkut demo anarkis. Bahkan saya sendiri mengenal baik fly over di Jalan Urip Sumoharjo lewat teve. Dan sampai saat ini bayangan saya akan fly over adalah tempat berkumpulnya para mahasiswa atau tempat mahasiswa berkejar-kejaran dengan polisi.
Untuk mengembalikan mahasiswa Makassar kepada jati dirinya. Sebagai insan akademis yang cerdas, memperjuangkan hak-hak rakyat dengan “merakyat”(tidak mengganggu kepentingan rakyat, seperti mengganggu lalu lintas) maka mahasiswa Makassar perlu diagnosa dan diobati dengan ajaran-ajaran adiluhung yang bersumber dari budaya-budaya lokal. Bukankah ajaran adilihung orang Bugis-Makassar-Mandar-Toraja yang mayoritas menghuni Sulawesi Selatan adalah prinsip sipakatau (saling menghargai), sipakainga (saling mengingatkan), sipakalebbi (saling memuliakan).
Adalah Chaeruddin Hakim, seorang seniman dan penyair Makassar, patut diapresiasi dalam menjaga dan melestarikan ajaran-ajaran adiluhung dan pappaseng dalam bahasa Makassar. Lewat bukunya “Kitab Kelong Makassar”, Chaeruddin Hakim berhasil mengumpulkan dan menuliskan kembali Kelong Makassar Tradisi yang bersumber dari kelong asli (anonim). Selanjutnya Cheruddin Hakim memberi pesan kelong-kelong tersebut sehingga mudah dipahami dan dipelajari oleh pembaca. Bukan hanya itu, Chaeruddin Hakim juga mencipta beberapa Kelong Makassar Modern yang berisi pesan-pesan moral yang berguna sebagai alat pembelajaran. Kelong yang menjadi pembuka tulisan ini adalah salah satu ciptaan Chaeruddin Hakim.
Pembelajaran nilai-nilai moral sepatutnya memang menjadi perhatian pemerintah. Dalam era otonomi daerah sekarang ini, tentu saja pelajaran muatan lokal haruslah bertumpu pada nilai-nilai lokal setempat. Memang pembangunan seharusnya bermuatan budaya. Pun pembangunan haruslah “berbudaya”. Menggusur tempat-tempat bersejarah yang menjadi lambang sejarah dan peradaban adalah sebuah pembangunan yang mengingkari wajah sejarah. Selain itu, nilai-nilai kearifan lokal yang berbasis pada bahasa dan sastra lokal haruslah menjadi perhatian pemerintah.
Pemerintah dan masyarakat memang harus turun tangan menjaga budaya dan bahasanya. Adagium Kalau Bukan Kita Siapa Lagi, seharusnya menjadi sebuah cambuk untuk melestarikan budaya sendiri. Yang menjadi keresahan utama sebenarnya adalah sebuah paradigma baru yang mengatakan bahwa sastra, bahasa, dan budaya lokal akan tergerus oleh arus deras globalisasi. Asumsi ini tidaklah mencengankan, karena diam-diam tsunami globalisasi menerjang ruang-ruang kita tanpa kita sadari. Anak-anak pada zaman dahulu yang disuguhi dongeng-dongeng pengantar tidur sebagai media pembelajaran tergantikan dengan acara-acara teve yang menawarkan sebuah trend baru. Maka kemudian, anak-anak kita lebih mengenal tokoh-tokoh macam Batman, Spiderman, Robinhood daripada tokoh-tokoh Lapundarek, Lamellong, Karaeng Pattingaloang, dan lain-lain.
Maka sepatutnya segala daya upaya Chaeruddin Hakim melestarikan kelong dan pappaseng Makassar haruslah didukung dan diapresiasi. Seniman dan penyair yang kreatif ini semestinya diberi aplaus panjang, sepanjang cita-citanya untuk terus menjaga dan melestarikan kearifan-kearifan lokal Sulawesi Selatan. Dan semoga saja budaya, sastra, dan bahasa lokal kita tidak dihanyutkan oleh arus tsunami globalisasi. Budaya lokal sebagai sumber nilai luhur harus menghablur. Ia tidak boleh kabur. Ia harus terus tumbuh subur. dulabdul@gmail.com
Dul Abdul Rahman
(sastrawan dan peneliti budaya, sejauh ini mengarang 7 buah novel)
(sastrawan dan peneliti budaya)
Mangkasara’ bori’ ada
Bori’ pa’rimpungang pacce
Sukku’ sungguna
Kimassing paenteng siri’
Nani areng Mangkasara’
Kania’ pacce attayang
Punna taena
Bellai ri pangngadakkang
(Makassar negeri adat
Negeri perkumpulan kasih sayang
Sangatlah baik
Jika saling tegakkan harga diri
Diberi nama Makassar
Sebab kasih sayang menanti
Jika tak ada
Jauh dari adat-istiadat)
Mungkin saja jika para mahasiswa di Makassar pernah membaca dan memahami kelong Makassar tersebut di atas maka mereka akan menjaga nama baik Makassar di mata orang-orang luar Makassar. Betapa tidak! Istilah “Makassar yang kasar” selalu saja memerah-hitamkan telinga saya ketika berkunjung ke daerah-daerah lain seperti Jakarta, Yogyakarta, hingga Padang.
Istilah “Makassar yang kasar” tentu saja “diiklankan” oleh para mahasiswa di Makassar. Bukan hanya dalam melakukan aksi-aksi demonstrasi yang sesungguhnya bertujuan untuk memperjuangkan hak-hak rakyat. Tapi yang memalukan adalah jika para mahasiswa berkelahi antar mahasiswa atau antar fakultas dalam internal kampus yang seolah menjadi trend mahasiswa di Makassar.
Dibanding dengan kota-kota besar lainnya seperi Jakarta, Bandung, Surabaya, atau Medan, wajah Makassar memang lebih dominan (baca: sangar) muncul di teve jika itu menyangkut demo anarkis. Bahkan saya sendiri mengenal baik fly over di Jalan Urip Sumoharjo lewat teve. Dan sampai saat ini bayangan saya akan fly over adalah tempat berkumpulnya para mahasiswa atau tempat mahasiswa berkejar-kejaran dengan polisi.
Untuk mengembalikan mahasiswa Makassar kepada jati dirinya. Sebagai insan akademis yang cerdas, memperjuangkan hak-hak rakyat dengan “merakyat”(tidak mengganggu kepentingan rakyat, seperti mengganggu lalu lintas) maka mahasiswa Makassar perlu diagnosa dan diobati dengan ajaran-ajaran adiluhung yang bersumber dari budaya-budaya lokal. Bukankah ajaran adilihung orang Bugis-Makassar-Mandar-Toraja yang mayoritas menghuni Sulawesi Selatan adalah prinsip sipakatau (saling menghargai), sipakainga (saling mengingatkan), sipakalebbi (saling memuliakan).
Adalah Chaeruddin Hakim, seorang seniman dan penyair Makassar, patut diapresiasi dalam menjaga dan melestarikan ajaran-ajaran adiluhung dan pappaseng dalam bahasa Makassar. Lewat bukunya “Kitab Kelong Makassar”, Chaeruddin Hakim berhasil mengumpulkan dan menuliskan kembali Kelong Makassar Tradisi yang bersumber dari kelong asli (anonim). Selanjutnya Cheruddin Hakim memberi pesan kelong-kelong tersebut sehingga mudah dipahami dan dipelajari oleh pembaca. Bukan hanya itu, Chaeruddin Hakim juga mencipta beberapa Kelong Makassar Modern yang berisi pesan-pesan moral yang berguna sebagai alat pembelajaran. Kelong yang menjadi pembuka tulisan ini adalah salah satu ciptaan Chaeruddin Hakim.
Pembelajaran nilai-nilai moral sepatutnya memang menjadi perhatian pemerintah. Dalam era otonomi daerah sekarang ini, tentu saja pelajaran muatan lokal haruslah bertumpu pada nilai-nilai lokal setempat. Memang pembangunan seharusnya bermuatan budaya. Pun pembangunan haruslah “berbudaya”. Menggusur tempat-tempat bersejarah yang menjadi lambang sejarah dan peradaban adalah sebuah pembangunan yang mengingkari wajah sejarah. Selain itu, nilai-nilai kearifan lokal yang berbasis pada bahasa dan sastra lokal haruslah menjadi perhatian pemerintah.
Pemerintah dan masyarakat memang harus turun tangan menjaga budaya dan bahasanya. Adagium Kalau Bukan Kita Siapa Lagi, seharusnya menjadi sebuah cambuk untuk melestarikan budaya sendiri. Yang menjadi keresahan utama sebenarnya adalah sebuah paradigma baru yang mengatakan bahwa sastra, bahasa, dan budaya lokal akan tergerus oleh arus deras globalisasi. Asumsi ini tidaklah mencengankan, karena diam-diam tsunami globalisasi menerjang ruang-ruang kita tanpa kita sadari. Anak-anak pada zaman dahulu yang disuguhi dongeng-dongeng pengantar tidur sebagai media pembelajaran tergantikan dengan acara-acara teve yang menawarkan sebuah trend baru. Maka kemudian, anak-anak kita lebih mengenal tokoh-tokoh macam Batman, Spiderman, Robinhood daripada tokoh-tokoh Lapundarek, Lamellong, Karaeng Pattingaloang, dan lain-lain.
Maka sepatutnya segala daya upaya Chaeruddin Hakim melestarikan kelong dan pappaseng Makassar haruslah didukung dan diapresiasi. Seniman dan penyair yang kreatif ini semestinya diberi aplaus panjang, sepanjang cita-citanya untuk terus menjaga dan melestarikan kearifan-kearifan lokal Sulawesi Selatan. Dan semoga saja budaya, sastra, dan bahasa lokal kita tidak dihanyutkan oleh arus tsunami globalisasi. Budaya lokal sebagai sumber nilai luhur harus menghablur. Ia tidak boleh kabur. Ia harus terus tumbuh subur. dulabdul@gmail.com
Dul Abdul Rahman
(sastrawan dan peneliti budaya, sejauh ini mengarang 7 buah novel)
PERSEKUTUAN INDONESIA DAN MALAYSIA DALAM KARYA SASTRA
(Catatan Pengantar “Tunggu Aku di Pantai Losari” karya Hasbullah Said)
Oleh: dul abdul rahman
Sejarah pertautan yang mesra antara Indonesia dan Malaysia sudah berlangsung sejak lama. Bahkan khusus pertautan antara suku Bugis-Makassar dan suku Melayu, kepustakaan Melayu mencatat bahwa beberapa Sultan di Malaysia adalah keturunan Bugis-Makassar, seperti Sultan Selangor, Johor, Pahang, dan Trenggano.
Namun pertautan yang mesra tersebut belakangan mengalami pasang surat. Berawal dari ucapan Presiden Republik Indonesia pertama Soekarno, “Ganyang Malaysia!” Awal mula kemarahan Soekarno karena Malaysia ingkar janji. Semula Malaysia memang ingin bergabung dengan Indonesia untuk menghindari bergabung dengan Cina. Alasan Malaysia untuk bergabung dengan Indonesia dibandingkan dengan Cina karena Indonesia adalah saudara serumpun. Indonesia dan Malaysia sama-sama ras Melayu. Tapi tempo itu Jepan yang menjajah Indonesia menyerah kepada tentara sekutu. Lalu Malaysia berubah arah angin ingin merdeka sendiri, menentukan nasib sendiri. Lalu Malaysia memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 31 Agustus 1957, lebih muda dua belas tahun daripada Indonesia yang merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.
Hubungan Indonesia dan Malaysia selanjutnya mengalami pasang surut. Pada tahun 1980-an, Malaysia berusaha belajar dari Indonesia untuk meningkatkan SDM mereka. Bahkan kala itu pemerintah Malaysia mengimpor guru-guru dari Indonesia, khususnya guru-guru eksakta untuk mengajari murid-murid mereka. Di saat yang sama, Malaysia mengirim guru-gurunya belajar di luar negeri, khususnya Inggeris. Maka beberapa tahun kemudian Malaysia bergerak maju di bidang pendidikan dan SDM. Bukan hanya itu, Malaysia kian maju di segala bidang. Di saat yang sama, penduduk Indonesia kian bertambah banyak tanpa ditunjang oleh lapangan pekerjaan yang memadai. Maka berbondong-bondonglah warga Indonesia mengaiz rezeki di Malaysia sebagai bangsa kuli. Lalu, perlakuan yang semena-mena dari beberapa oknum majikan di Malaysia terhadap TKI dan TKW dari Indonesia membuat masyarakat Indonesia merasa dilecehkan. Seterusnya hubungan Indonesia dan Malaysia terkadang panas.
Bahkan salim klaim antara perbatasan dan pulau perbatasan antara Indonesia dan Malaysia kian memanaskan suasana. Bahkan setelah lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan ke tangan Malaysia melalui sidang mahkamah internasional membuat hubungan Indonesia dan Malaysia merenggang. Meski demikian, laiknya saudara sendiri, saudara serumpun. Hubungan Indonesia dan Malaysia tetaplah tidak bisa dipisahkan. Saling membutuhkan. Atau mungkin saling merindukan.
Karena sejarah panjang itulah. Hubungan Indonesia-Malaysia serupa hubungan kekasih. Terkadang ada benci. Pun terkadang ada marah. Tapi disebalik rasa benci dan marah itu ada rasa kasih dan sayang. Bukankah marah sesungguhnya adalah rasa sayang yang berlebihan? Sedangkan benci adalah rasa rindu yang tak kesampaian?
Dalam kesusastraan, jalinan hubungan Indonesia dan Malaysia tetaplah mesra. Bahkan seorang Sastrawan Negara Malaysia bernama Arena Wati adalah asli suku Bugis-Makassar. Arena Wati dilahirkan pada tanggal 30 Juli 1925 di Jeneponto, Sulawesi Selatan. Sastrawan Negara yang sangat dihormati di Malaysia yang berpulang ke rahmatullah pada tahun 2009 tersebut bernama asli Muhammad Dahlan bin Abdul Biang. Dalam kepengarangannya, Arena Wati selalu berusaha untuk mempertautkan nasionalisme Melayu.
Sastrawan Negara Malaysia lainnya yang memang asli orang Melayu bernama Usman Awang berusaha mempertautkan antara rumpun Melayu. Tengoklah penggalan puisi Usman Awang berikut ini:
Melayu di Tanah Semenanjung luas maknanya
Jawa itu Melayu,
Bugis itu Melayu
Banjar juga disebut Melayu,
Minangkabau memang Melayu,
Keturunan Acheh adalah Melayu,
Jakun dan Sakai asli Melayu
Mamak dan Malbari serak ke Melayu.
Dua puluh tahun setelah Arena Wati lahir di Jeneponto, di tempat yang sama lahirlah pula seorang penulis bernama Hasbullah Said. Walaupun beliau tidak sepenuh waktu berkecimpung di dalam dunia sastra dan dunia kepenulisan laiknya Arena Wati, tetapi sosok Hasbullah Said tetaplah patut dicatat sebagai seorang penulis yang berusaha mempertautkan hubungan Indonesia dan Malaysia.
Hasbullah Said lewat cerpen-cerpennya dalam buku ini melukiskan akan kerinduan itu. Kerinduan antara Indonesia dan Malaysia. Kerinduan antara Makassar dan Selangor, atau Makassar dengan Pulau Penang. Benci tapi rindu, mungkin kalimat itulah yang mewakili rasa antara Indonesia dan Malaysia. Cerita-cerita Hasbullah Said mengalir alami serupa mata air dari pegunungan Gunung Bawakaraeng dan Gunung Lompobattang dari Sulawesi Selatan serta Gunung Tahan dan Gunung Kinabalu dari Malaysia. Percikan mata air tersebut akan membawa Anda menikmati tetesan-tetesan kerinduan itu.
Dan cerpen “Tunggu Aku di Pantai Losari” yang juga menjadi judul buku kumpulan cerpen ini kian membawa Anda akan merindukan Makassar, khususnya Pantai Losari. Tapi sayang sekali kerinduan akan Pantai Losari dengan ikon “restoran panjang”nya sudah berubah. Pantai Losari seolah menggeliat khianat. Selamat membaca!
Yogyakarta, Desember 2010
Dul Abdul Rahman
(Sastrawan dan peneliti budaya, sejauh ini mengarang 7 buah novel)
Oleh: dul abdul rahman
Sejarah pertautan yang mesra antara Indonesia dan Malaysia sudah berlangsung sejak lama. Bahkan khusus pertautan antara suku Bugis-Makassar dan suku Melayu, kepustakaan Melayu mencatat bahwa beberapa Sultan di Malaysia adalah keturunan Bugis-Makassar, seperti Sultan Selangor, Johor, Pahang, dan Trenggano.
Namun pertautan yang mesra tersebut belakangan mengalami pasang surat. Berawal dari ucapan Presiden Republik Indonesia pertama Soekarno, “Ganyang Malaysia!” Awal mula kemarahan Soekarno karena Malaysia ingkar janji. Semula Malaysia memang ingin bergabung dengan Indonesia untuk menghindari bergabung dengan Cina. Alasan Malaysia untuk bergabung dengan Indonesia dibandingkan dengan Cina karena Indonesia adalah saudara serumpun. Indonesia dan Malaysia sama-sama ras Melayu. Tapi tempo itu Jepan yang menjajah Indonesia menyerah kepada tentara sekutu. Lalu Malaysia berubah arah angin ingin merdeka sendiri, menentukan nasib sendiri. Lalu Malaysia memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 31 Agustus 1957, lebih muda dua belas tahun daripada Indonesia yang merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.
Hubungan Indonesia dan Malaysia selanjutnya mengalami pasang surut. Pada tahun 1980-an, Malaysia berusaha belajar dari Indonesia untuk meningkatkan SDM mereka. Bahkan kala itu pemerintah Malaysia mengimpor guru-guru dari Indonesia, khususnya guru-guru eksakta untuk mengajari murid-murid mereka. Di saat yang sama, Malaysia mengirim guru-gurunya belajar di luar negeri, khususnya Inggeris. Maka beberapa tahun kemudian Malaysia bergerak maju di bidang pendidikan dan SDM. Bukan hanya itu, Malaysia kian maju di segala bidang. Di saat yang sama, penduduk Indonesia kian bertambah banyak tanpa ditunjang oleh lapangan pekerjaan yang memadai. Maka berbondong-bondonglah warga Indonesia mengaiz rezeki di Malaysia sebagai bangsa kuli. Lalu, perlakuan yang semena-mena dari beberapa oknum majikan di Malaysia terhadap TKI dan TKW dari Indonesia membuat masyarakat Indonesia merasa dilecehkan. Seterusnya hubungan Indonesia dan Malaysia terkadang panas.
Bahkan salim klaim antara perbatasan dan pulau perbatasan antara Indonesia dan Malaysia kian memanaskan suasana. Bahkan setelah lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan ke tangan Malaysia melalui sidang mahkamah internasional membuat hubungan Indonesia dan Malaysia merenggang. Meski demikian, laiknya saudara sendiri, saudara serumpun. Hubungan Indonesia dan Malaysia tetaplah tidak bisa dipisahkan. Saling membutuhkan. Atau mungkin saling merindukan.
Karena sejarah panjang itulah. Hubungan Indonesia-Malaysia serupa hubungan kekasih. Terkadang ada benci. Pun terkadang ada marah. Tapi disebalik rasa benci dan marah itu ada rasa kasih dan sayang. Bukankah marah sesungguhnya adalah rasa sayang yang berlebihan? Sedangkan benci adalah rasa rindu yang tak kesampaian?
Dalam kesusastraan, jalinan hubungan Indonesia dan Malaysia tetaplah mesra. Bahkan seorang Sastrawan Negara Malaysia bernama Arena Wati adalah asli suku Bugis-Makassar. Arena Wati dilahirkan pada tanggal 30 Juli 1925 di Jeneponto, Sulawesi Selatan. Sastrawan Negara yang sangat dihormati di Malaysia yang berpulang ke rahmatullah pada tahun 2009 tersebut bernama asli Muhammad Dahlan bin Abdul Biang. Dalam kepengarangannya, Arena Wati selalu berusaha untuk mempertautkan nasionalisme Melayu.
Sastrawan Negara Malaysia lainnya yang memang asli orang Melayu bernama Usman Awang berusaha mempertautkan antara rumpun Melayu. Tengoklah penggalan puisi Usman Awang berikut ini:
Melayu di Tanah Semenanjung luas maknanya
Jawa itu Melayu,
Bugis itu Melayu
Banjar juga disebut Melayu,
Minangkabau memang Melayu,
Keturunan Acheh adalah Melayu,
Jakun dan Sakai asli Melayu
Mamak dan Malbari serak ke Melayu.
Dua puluh tahun setelah Arena Wati lahir di Jeneponto, di tempat yang sama lahirlah pula seorang penulis bernama Hasbullah Said. Walaupun beliau tidak sepenuh waktu berkecimpung di dalam dunia sastra dan dunia kepenulisan laiknya Arena Wati, tetapi sosok Hasbullah Said tetaplah patut dicatat sebagai seorang penulis yang berusaha mempertautkan hubungan Indonesia dan Malaysia.
Hasbullah Said lewat cerpen-cerpennya dalam buku ini melukiskan akan kerinduan itu. Kerinduan antara Indonesia dan Malaysia. Kerinduan antara Makassar dan Selangor, atau Makassar dengan Pulau Penang. Benci tapi rindu, mungkin kalimat itulah yang mewakili rasa antara Indonesia dan Malaysia. Cerita-cerita Hasbullah Said mengalir alami serupa mata air dari pegunungan Gunung Bawakaraeng dan Gunung Lompobattang dari Sulawesi Selatan serta Gunung Tahan dan Gunung Kinabalu dari Malaysia. Percikan mata air tersebut akan membawa Anda menikmati tetesan-tetesan kerinduan itu.
Dan cerpen “Tunggu Aku di Pantai Losari” yang juga menjadi judul buku kumpulan cerpen ini kian membawa Anda akan merindukan Makassar, khususnya Pantai Losari. Tapi sayang sekali kerinduan akan Pantai Losari dengan ikon “restoran panjang”nya sudah berubah. Pantai Losari seolah menggeliat khianat. Selamat membaca!
Yogyakarta, Desember 2010
Dul Abdul Rahman
(Sastrawan dan peneliti budaya, sejauh ini mengarang 7 buah novel)
JEJAK PEREMPUAN MAKASSAR DALAM FOLKLOR
JEJAK PEREMPUAN MAKASSAR DALAM FOLKLOR
oleh: dul abdul rahman
Foklor atau dongeng(folktale) merupakan bagian dari cerita rakyat, disamping mite(myth), dan legenda(legend). Cerita rakyat sebagai kekayaan budaya dalam suatu masyarakat tentunya merupakan ruh dari masyarakat tersebut. Cerita rakyat merupakan media yang cukup ampuh untuk menanamkan sebuah nilai luhur. Nilai luhur berupa pesan-pesan, ajaran-ajaran hidup, pengalaman batin, berbagai informasi hasil kebudayaan dan pengetahuan dari orang-orang terdahulu tersebut merupakan nilai yang diwariskan secara turun temurun.
Adalah Ery Iswary, seorang dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin yang juga seorang “Perempuan Makassar” yang telah melakukan penelitian terhadap beberapa dongeng berbahasa Makassar. Dongeng yang menjadi obyek penelitiannya adalah dongeng “Perempuan Makassar” masing-masing: “I Saribulang Dg. Macora”, “I Basse Panawa-nawa ri Galesong”, “St. Naharirah”, dan “I Marabintang”.
Dari dongeng-dongeng yang ditunjukkan oleh Ery Iswary sudah pasti memberi pembelajaran kepada pembaca atau pendengar dongeng-dongeng tersebut. Bahkan sebagaimana fungsinya menurut William Bascon sebagai media pembelajaran dan alat untuk memprotes ketidakadilan, maka dongeng-dongeng tersebut akan memberi motivasi kepada kaum perempuan untuk berkiprah di berbagai aspek kehidupan seperti halnya kaum pria.
Sosok I Basse memberi pelajaran bagaimana seorang perempuan harus memiliki ilmu pengetahuan termasuk ilmu agama. Bukan hanya ilmu agama, I Basse juga sudah menimba ilmu kekebalan. Pelajaran berikutnya adalah kemandirian St Naharirah yang hidup sebatang kara yang mengurus dirinya sendiri dan mandiri secara ekonomi. Tak kalah heroiknya adalah I Marabintang yang ikut berperang melawan Karaeng Somba Jawa dan anak buahnya yang telah membunuh suaminya.
Ery Iswary menunjukkan secara detail bagaimana posisi dan peran perempuan Makassar dalam dongeng-dongeng tersebut. Nilai pembelajaran utama dari dongeng-dongeng tersebut adalah kemandirian. Dari sosok St. Naharirah membuktikan bahwa perempuan bisa bersaing dengan pria di bidang ekonomi. Gelar saudagar kaya bukan hanya gelaran buat kaum pria tetapi juga buat perempuan. Ya, saudagar kaya St. Naharirah.
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa sejak dahulu peran perempuan dalam sejarah Makassar sudah nampak. Bahkan peran perempuan Makassar terekam jelas dalam sejarah tulis dan lisan Kerajaan Gowa. Tomanurung Bainea(1320-1345) bahkan muncul sebagai tokoh perempuan pemersatu wilayah Kerajaan Gowa.
Berdasarkan penelitiannya atas keempat dongeng “perempuan” tersebut, Ery Iswary membantah konsep Holzner tentang penyosialisasian nilai-nilai dalam masyarakat terhadap perempuan yang berlaku di Asia, yaitu nilai pemingitan dan nilai pengucilan. Perempuan hanya ditempatkan pada bagian-bagian tertentu. Ery Iswary memandang pandangan Holzner bias gender dan merugikan kaum perempuan.
Inilah saya kira yang menjadi “pertanyaan” saya atas buku ini. Dan pertanyaan itu bisa saja menjadi sebuah titik kelemahan. Tapi tentu saja sebuah titik kelemahan dari gumpalan ribuan titik yang menjadi kelebihan dan kekaguman saya. Adalah tidak ‘gentlewomen’ (yang laki-laki boleh baca: gentleman) bila menolak pendapat Holzner dengan hanya menunjukkan segelentir dongeng yang memang berjudul “perempuan” di wilayah Sulawesi Selatan. Bukankah masih banyak dongeng atau cerita lainnya yang membenarkan pendapat Holzner tersebut.
Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud mempertahankan dominasi laki-laki terhadap perempuan. Tapi tulisan ini ingin membenarkan bahwa secara kuantitas pada zaman dahulu, perempuan Asia memang mengalami perlakuan tidak adil sebagaimana klaim Holzner. Dan saya kira pendapat Holzner tidak perlu membuat kuping perempuan memerah. Yang seharusnya kita lawan sekarang adalah jangan lagi adalah labelisasi yang bias gender yang dapat merugikan perempuan. Tapi bukankah terkadang perempuan sendiri yang meminta dirinya untuk dilabelisasi. Bukankah permintaan kuota 30 persen sebagai keterwakilan perempuan pada dewan perwakilan rakyat misalnya bisa mengerdilkan perempuan. Bukankah sebutan “kuota 30 persen” akan menasbihkan bahwa kaum pria berada di “kuota 70 persen” dari perempuan. Padahal perempuan tak perlu “dilabeli” 30 persen agar kaum perempuan bisa mendapatkan lebih dari itu dengan belajar dari tokoh-tokoh perempuan dalam dongeng yang telah ditunjukkan Ery Iswary
Saya kira saat ini, sosok Ery Iswary sudah berada di garis terdepan untuk melawan jangan lagi ada labelisasi yang menempatkan perempuan sebagai makhluk kelas dua yang kadang-kadang terdiskriminasi dalam berbagai aspek kehidupan. Dan buku “Perempuan Makassar” ini akan menjadi pencerahan bahkan wejangan bagi siapa saja, khususnya perempuan, dan lebih khusus lagi perempuan Makassar. Ya! Perempuan Makassar harus baca “Perempuan Makassar” yang ditulis oleh “Perempuan Makassar”. dulabdul@gmail.com
Dul Abdul Rahman
(sastrawan dan peneliti budaya, sejauh ini mengarang 7 buah novel)
oleh: dul abdul rahman
Foklor atau dongeng(folktale) merupakan bagian dari cerita rakyat, disamping mite(myth), dan legenda(legend). Cerita rakyat sebagai kekayaan budaya dalam suatu masyarakat tentunya merupakan ruh dari masyarakat tersebut. Cerita rakyat merupakan media yang cukup ampuh untuk menanamkan sebuah nilai luhur. Nilai luhur berupa pesan-pesan, ajaran-ajaran hidup, pengalaman batin, berbagai informasi hasil kebudayaan dan pengetahuan dari orang-orang terdahulu tersebut merupakan nilai yang diwariskan secara turun temurun.
Adalah Ery Iswary, seorang dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin yang juga seorang “Perempuan Makassar” yang telah melakukan penelitian terhadap beberapa dongeng berbahasa Makassar. Dongeng yang menjadi obyek penelitiannya adalah dongeng “Perempuan Makassar” masing-masing: “I Saribulang Dg. Macora”, “I Basse Panawa-nawa ri Galesong”, “St. Naharirah”, dan “I Marabintang”.
Dari dongeng-dongeng yang ditunjukkan oleh Ery Iswary sudah pasti memberi pembelajaran kepada pembaca atau pendengar dongeng-dongeng tersebut. Bahkan sebagaimana fungsinya menurut William Bascon sebagai media pembelajaran dan alat untuk memprotes ketidakadilan, maka dongeng-dongeng tersebut akan memberi motivasi kepada kaum perempuan untuk berkiprah di berbagai aspek kehidupan seperti halnya kaum pria.
Sosok I Basse memberi pelajaran bagaimana seorang perempuan harus memiliki ilmu pengetahuan termasuk ilmu agama. Bukan hanya ilmu agama, I Basse juga sudah menimba ilmu kekebalan. Pelajaran berikutnya adalah kemandirian St Naharirah yang hidup sebatang kara yang mengurus dirinya sendiri dan mandiri secara ekonomi. Tak kalah heroiknya adalah I Marabintang yang ikut berperang melawan Karaeng Somba Jawa dan anak buahnya yang telah membunuh suaminya.
Ery Iswary menunjukkan secara detail bagaimana posisi dan peran perempuan Makassar dalam dongeng-dongeng tersebut. Nilai pembelajaran utama dari dongeng-dongeng tersebut adalah kemandirian. Dari sosok St. Naharirah membuktikan bahwa perempuan bisa bersaing dengan pria di bidang ekonomi. Gelar saudagar kaya bukan hanya gelaran buat kaum pria tetapi juga buat perempuan. Ya, saudagar kaya St. Naharirah.
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa sejak dahulu peran perempuan dalam sejarah Makassar sudah nampak. Bahkan peran perempuan Makassar terekam jelas dalam sejarah tulis dan lisan Kerajaan Gowa. Tomanurung Bainea(1320-1345) bahkan muncul sebagai tokoh perempuan pemersatu wilayah Kerajaan Gowa.
Berdasarkan penelitiannya atas keempat dongeng “perempuan” tersebut, Ery Iswary membantah konsep Holzner tentang penyosialisasian nilai-nilai dalam masyarakat terhadap perempuan yang berlaku di Asia, yaitu nilai pemingitan dan nilai pengucilan. Perempuan hanya ditempatkan pada bagian-bagian tertentu. Ery Iswary memandang pandangan Holzner bias gender dan merugikan kaum perempuan.
Inilah saya kira yang menjadi “pertanyaan” saya atas buku ini. Dan pertanyaan itu bisa saja menjadi sebuah titik kelemahan. Tapi tentu saja sebuah titik kelemahan dari gumpalan ribuan titik yang menjadi kelebihan dan kekaguman saya. Adalah tidak ‘gentlewomen’ (yang laki-laki boleh baca: gentleman) bila menolak pendapat Holzner dengan hanya menunjukkan segelentir dongeng yang memang berjudul “perempuan” di wilayah Sulawesi Selatan. Bukankah masih banyak dongeng atau cerita lainnya yang membenarkan pendapat Holzner tersebut.
Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud mempertahankan dominasi laki-laki terhadap perempuan. Tapi tulisan ini ingin membenarkan bahwa secara kuantitas pada zaman dahulu, perempuan Asia memang mengalami perlakuan tidak adil sebagaimana klaim Holzner. Dan saya kira pendapat Holzner tidak perlu membuat kuping perempuan memerah. Yang seharusnya kita lawan sekarang adalah jangan lagi adalah labelisasi yang bias gender yang dapat merugikan perempuan. Tapi bukankah terkadang perempuan sendiri yang meminta dirinya untuk dilabelisasi. Bukankah permintaan kuota 30 persen sebagai keterwakilan perempuan pada dewan perwakilan rakyat misalnya bisa mengerdilkan perempuan. Bukankah sebutan “kuota 30 persen” akan menasbihkan bahwa kaum pria berada di “kuota 70 persen” dari perempuan. Padahal perempuan tak perlu “dilabeli” 30 persen agar kaum perempuan bisa mendapatkan lebih dari itu dengan belajar dari tokoh-tokoh perempuan dalam dongeng yang telah ditunjukkan Ery Iswary
Saya kira saat ini, sosok Ery Iswary sudah berada di garis terdepan untuk melawan jangan lagi ada labelisasi yang menempatkan perempuan sebagai makhluk kelas dua yang kadang-kadang terdiskriminasi dalam berbagai aspek kehidupan. Dan buku “Perempuan Makassar” ini akan menjadi pencerahan bahkan wejangan bagi siapa saja, khususnya perempuan, dan lebih khusus lagi perempuan Makassar. Ya! Perempuan Makassar harus baca “Perempuan Makassar” yang ditulis oleh “Perempuan Makassar”. dulabdul@gmail.com
Dul Abdul Rahman
(sastrawan dan peneliti budaya, sejauh ini mengarang 7 buah novel)
Langganan:
Postingan (Atom)





