Jumat, 26 Mei 2017

Bukugrafi Dul Abdul Rahman




Dul Abdul Rahman. Bekerja sebagai sastrawan, peneliti budaya. Aktif bersastra di Indonesia dan Malaysia.

Tulisan-tulisannya berupa karya sastra, kritik sastra, dan artikel budaya pernah dimuat koran lokal dan nasional di Indonesia dan Malaysia.

Beberapa karya sastranya:
  1. Lebaran Kali ini Hujan Turun (Kumpulan Cerpen, Nala Makassar, 2006)
  2. Pohon-Pohon Rindu (Novel, DIVA Press Yogyakarta, 2009)
  3. Daun-Daun Rindu (Novel, DIVA Press Yogyakarta, 2010)
  4. Perempuan Poppo (Novel, Ombak Yogyakarta, 2010)
  5. Sabda Laut (Novel, Ombak Yogyakarta, 2010)
  6. Sarifah (Novel, DIVA Press Yogyakarta, 2011)
  7. La Galigo, Napak Tilas Manusia Pertama di Kerajaan Bumi (Novel Klasik, DIVA Press Yogyakarta, 2012)
  8. La Galigo 2, Gemuruh Batin Sang Penguasa Laut (Novel Klasik, DIVA Press Yogyakarta, 2012).
  9. Insyaallah, Aku Bisa Sekolah (Novel, DIVA Press Yogyakarta, 2015)
  10. Pohon-Pohon Peluru (Kumpulan Cerpen, Pustaka Puitika Yogyakarta 2015)
  11. Hikayat Cinta Lelaki Monyet dan Kupu-kupu Bantimurung (Novel, Ombak Yogyakarta, 2016)
  12. Terbunuhnya Sang Nabi (Novel, Penerbit Kakilangit Jakarta, 2017)
  13. Pada Sebuah Perpustakaan di Surga (Novel, Ombak Yogyakarta, 2017)


Karya-karyanya banyak dijadikan bahan penelitian akademik oleh mahasiswa untuk meraih gelar sarjana dan pascasarjana, diantaranya:


  1. Nilai Budaya dalam Novel Daun-Daun Rindu karya Dul Abdul Rahman. (Tesis 2017, Ria Prasetyaningrum, Program S2 Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Negeri Malang).

  1. Kadar Realisme Magis dalam Novel Perempuan Poppo karya Dul Abdul Rahman. (Tesis 2014. Burhan Kadir, Program S2 Studi Ilmu Sastra, FIB Universitas Gajah Mada, Yogyakarta).

  1. Nilai-nilai Religius dalam Novel Insyaallah Aku Bisa Sekolah karya Dul Abdul Rahman. (Tesis 2015. Khomsatun, Program S2 Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Islam Malang).

  1. Novel Perempuan Poppo karya Dul Abdul Rahman: Analisis Plot dan Kesatuan Antar Unsur. (Skripsi 2012. Retno Susanti, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, UGM Yogyakarta).

  1. Nilai Genonik dalam Novel Pohon-Pohon Rindu karya Dul Abdul Rahman: Pendekatan Semiotik. (Skripsi 2010, Hufrawati, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS UNM Makassar)

  1. Mimpi dan Fantasi dalam Novel Pohon-Pohon Rindu karya Dul Abdul Rahman dan Alternatif Bahan Ajar Apresiasi Sastra bagi Siswa SMA. (Skripsi 2011, Esi Susi Pratiwi, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FPBS IKIP PGRI Semarang)

  1. Aspek Psikologi dalam Novel Daun-Daun Rindu karya Dul Abdul Rahman dan Implementasi Pembelajarannya di Kelas XII SMK Negeri 1 Jepara. (Skripsi 2011, Rohmad Widodo. Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FPBS IKIP PGRI Semarang.

  1. Studi Alur Cerita Novel Pohon-Pohon Rindu karya Dul Abdul Rahman dengan Pendekatan Stuktural (Skripsi 2011, Nairawati, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, STKIP Yapim Maros)

  1. Kode Genonik dalam Novel Pohon-pohon Rindu karya Dul Abdul Rahman: Suatu Tinjauan Roland Barthes. (Skripsi 2011, Yuliana, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS UNM Makassar)

  1. Permasalahan Agraria dalam Novel Sarifah karya Dul Abdul Rahman: Tinjauan Sosiologi Sastra (Skripsi 2012, Riani Eka Saputri, Mahasiswa STKIP PGRI Pacitan Jawa Timur)

  1. Gaya Bahasa Novel Sarifah karya Dul Abdul Rahman. (Skripsi 2012, Erti Erriyawati, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Unismuh, Surabaya.

  1. Konflik Sosial dalam Novel Sarifah karya Dul Abdul Rahman. (Skripsi 2015, Vegi Nidia Arsya, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP STKIP PGRI Sumatra Barat)

  1. Analisis Tokoh Sawerigading dalam Novel La Galigo karya Dul Abdul Rahman (Suatu Tinjauan Karakter). (Skripsi 2012. Ridwan Mansyur, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Unismuh Makassar).

  1. Analisis Karakter Tokoh Utama Perempuan dalam Novel Pohon-pohon Rindu karya Dul Abdul Rahman. (Skripsi 2012. Asir Aswandi Jalil, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, STKIP Muhammadiyah Bulukumba).

  1. Analisis Nilai Sipakatau dalam Novel Pohon-Pohon Rindu karya Dul Abdul Rahman. (Skripsi 2011. Suhena, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Unismuh Makassar).

  1. Eksistensi Tokoh Wanita dalam Novel Sarifah karya Dul Abdul Rahman. (Skripsi 2013, Mardiana, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Unismuh Makassar).

  1. Eksistensi Sipakatau dalam novel Sabda Laut karya Dul Abdul Rahman. (Skripsi 2013, Andi Paramata, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,  FKIP Unismuh Makassar).

  1. Nasionalisme dalam Novel Daun-daun Rindu karya Dul Abdul Rahman. (Skripsi 2013, Uci Novita Sari, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Universitas Bung Hatta Padang)

  1. Analisis Nilai-nilai Ekologi dalam Novel Pohon-pohon Rindu karya Dul Abdul Rahman (Suatu Tinjauan Strukturalisme Genetik Goldman). (Skripsi 2014, Darwis, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Unismuh Makassar).

  1. Analisis Nilai Pendidikan dalam Novel Insyaallah Aku Bisa Sekolah karya Dul Abdul Rahman. (Tesis 2015, Yuspita Urai Mega, FKIP IKIP PGRI Pontianak).

  1. Inovasi Nilai-nilai Pendidikan dalam Novel Insyaallah Aku Bisa Sekolah karya Dul Abdul Rahman. (Skripsi 2015, Sunarsih, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Nusantara PGRI Kediri).

  1. Perspektif Kehidupan Sosial dalam novel Sarifah karya Dul Abdul Rahman. (Skripsi 2016, Mirna Devi Anita, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Nusantara PGRI Kediri).

  1. Nilai Moral dalam Novel Perempuan Poppo karya Dul Abdul Rahman. (Skripsi 2016, Muh Surya Pratama, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Unismuh Makassar).

  1. Analisis Karakter Tokoh Protagonis dan Antagonis Novel Sarifah karya Dul Abdul Rahman dengan Model Pembelajaran Kooperatif Siswa Kelas VII SMP Muhammadiyah 04 Medan. (Skripsi 2017, Rahmat Kartolo, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah Medan).

  1. Nilai Perjuangan Tokoh Utama Novel Sarifah karya Dul Abdul Rahman. (Skripsi 2017, Agus Setiawan, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP STKIP PGRI Ponorogo).

  1. Analisis Nilai Pendidikan Novel Insyaallah Aku Bisa Sekolah karya Dul Abdul Rahman dan Implementasinya pada Pembelajaran Pola Gilir dalam Berkomunikasi Siswa SMK kelas XI Tahun Pelajaran 2015/2016. (Skripsi 2017, Yeni Charnia, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Muhammadiyah Purworejo.

  1. Analisis Citra Wanita dalam Novel Sarifah karya Dul Abdul Rahman. (Skripsi 2018, Yuhafliza, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Almuslim Bireuen Aceh).

  1. Fenomena Sosial dan Pesan Religius dalam Novel Terbunuhnya Sang Nabi karya Dul Abdul Rahman. (Skripsi 2018, Ratih Aulia Azhar, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Trunojoyo Madura Jawa Timur).

  1. Motivasi Diri Menyongsong Masa Depan: Kajian Psikologi Sastra dalam Novel Insyaallah Aku Bisa Sekolah karya Dul Abdul Rahman dan Implementasinya Sebagai Bahan Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA Negeri 2 Sukoharjo. (Skripsi 2018, Erma Desy Ismail, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta, Solo Jawa Tengah).
Alamat email dulabdul@gmail.com Penulis bisa juga ditemui di blog pribadinya www.darsastra.blogspot.com. Facebook Page: dul abdul rahman. Twitter: @dulabdulrahman


Kamis, 25 Mei 2017

Terbunuhnya Sang Nabi



Sudah dua musim, para petani kampung Sumpang Ale mengalami gagal panen. Setelah melewati dua musim yang gagal, dan kali itu memasuki musim ketiga, para petani kampung Sumpang Ale tetap menggarap sawah mereka sambil berharap agar musim kali itu tanaman padi tidak gagal panen lagi.
Musim pertama kegagalan panen padi diakibatkan oleh munculnya burung-burung pipit misterius di saat bulir-bulir padi mulai padat berisi. Meski para petani menjaga sawah mereka pada siang hari, tetapi tetap saja burung pipit misterius tersebut memakan bulir-bulir padi mereka. Lalu yang tersisa hanyalah bulir-bulir padi yang kosong berdiri menuding penguasa langit yang mengirimkan burung pipit misterius dan bengis.
Para petani kampung Sumpang Ale heran dan kelimpungan, karena burung pipit misterius tersebut muncul bersamaan dengan berhembusnya angin. Padahal saban pagi, siang, sore, dan malam, kampung Sumpang Ale selalu diterpa oleh anging mammiri yang berhembus dari arah gunung Lompobattang dan gunung Bawakaraeng. Para petani pun tidak bisa berbuat apa-apa karena burung pipit misterius memakan padi mereka secara diam-diam dan sesuka hati di saban waktu, secara tak menentu.
Pada musim kedua kegagalan panen diakibatkan oleh hama wereng. Saat itu burung pipit misterius menghilang, tetapi hama yang lain yaitu hama wereng datang lebih mengganas lagi. Hama tersebut juga muncul secara misterius bersamaan dengan turunnya hujan. Padahal kampung Sumpang Ale terletak di bagian timur gunung Lompobattang dan gunung Bawakaraeng. Daerah-daerah yang terletak dibagian timur kedua gunung kembar yang dikeramatkan tersebut lebih tinggi curah hujannya dibandingkan dengan daerah yang terletak di bagian barat. Para petani pun semakin kebingungan karena mereka tidak mampu lagi membeli pupuk untuk menyuburkan tanaman padi mereka. Pun, mereka tidak bisa membeli racun untuk membunuh hama wereng. Jangankan membeli pupuk dan racun untuk tanaman padi mereka, untuk membeli barang-barang keperluan sehari-hari saja mereka susah, karena mereka tidak punya uang akibat gagal panen musim sebelumnya secara beruntun.
            Di musim menanam padi kali itu, warga kampung Sumpang Ale berharap-harap cemas, semoga tidak muncul lagi segala jenis hama yang bisa menggagalkan panen mereka nantinya. Karena kalau terjadi gagal panen lagi maka warga semakin menderita. Berbagai macam cara sudah mereka lakukan. Yang penting buat mereka, cara tersebut tidak mengeluarkan uang. Maka, ketika ingin memulai menanam padi, para petani kampung Sumpang Ale beramai-ramai memanggil imam kampung bernama Puang Mattuang untuk melakukan ritual khusus agar segala hama menjauh.
            Dengan senang hati, Puang Mattuang pun melayani permintaan para petani. Puang Mattuang yang biasanya diberikan balas jasa berupa uang yang diselipkan pada sehelai daun waru selepas membaca doa, tetapi kali itu Puang Mattuang membuat transaksi dengan para petani.
“Bila padi kalian berhasil kelak maka padi kalian harus diselamati kembali agar sumange[1] padi terus ada. Dan acara selamatan nantinya cukuplah saya yang mengadakan ritual khusus, kalian cukuplah mengirim sekarung beras dan dua ekor ayam yang bersisik hitam dan berbulu putih.”
            Tentu saja para petani kampung Sumpang Ale senang dengan transaksi doa yang diberikan oleh Puang Mattuang. Sebab utang beras sekarung yang tidak ditentukan jenis karungnya serta dua ekor ayam, akan mereka bayarkan manakala padi mereka tidak gagal panen lagi. Stimulan doa yang diberikan oleh imam kampung Sumpang Ale tersebut benar-benar membuat para petani semakin bersemangat menggarap sawah mereka.
            Ketika ada warga bertanya penyebab kegagalan padi mereka, maka dengan sangat khusyu Puang Mattuang pun menjelaskan, “Kalian kan tahu bahwa gunung Lompobattang dan gunung Bawakaraeng dihuni oleh sepasang raksasa. Raksasa perempuan menghuni gunung Lompobattang, sedangkan raksasa laki-laki menghuni gunung Bawakaraeng. Pagi-pagi sekali kedua raksasa tersebut memeriksa kampung kita, bilamana mereka tidak menemukan seorang petani di sawah maka merekapun akan mengutuk sawah-sawah di kampung kita dengan mengambil sumange padi kita.”
Meski sebagian petani tidak begitu yakin dengan penjelasan Puang Mattuang yang memang seorang imam sekaligus dukun, tetapi semua petani berlomba-lomba menuju sawah mereka di saat matahari belum terbit. Penjelasan Puang Mattuang menjadi semangat baru buat para petani kampung Sumpang Ale yang sudah hampir putus asa.
            Ketika ayam jantan baru saja berkokok, kampung Sumpang Ale mulai menggeliat. Para petani sudah beramai-ramai menuju sawah mereka. Mereka mengolah sawah sambil berharap Raksasa Lompobattang dan Raksasa Bawakaraeng bersahabat dengan mereka. Tetapi setelah musim menanam padi selesai, para petani kembali harap-harap cemas, karena di kampung mereka muncul berita yang sangat menggemparkan. Seorang petani yang bisu dan tuli bernama Jamalang Kundung hidup kembali setelah empat malam menghuni kubur.



[1] Semangat, spirit, roh

Sabtu, 06 Mei 2017

TERBUNUHNYA SANG NABI



TERBUNUHNYA SANG NABI (Penerbit Kakilangit Jakarta, 2017)
 
Jamalang Kundung, seorang petani yang bisu dan tuli yang telah wafat, tiba-tiba hidup kembali dari kuburnya di tengah paceklik berkepanjangan yang melanda Kampung Sumpang Ale di kaki Gunung Bawakaraeng. Sebagian besar warga Sumpang Ale percaya bahwa Jamalang Kundung adalah seorang bissu (pemimpin ritual kepercayaan Bugis Kuno) yang sengaja diutus oleh penguasa Gunung Bawakaraeng dan Lompobattang untuk menyelamatkan kampung itu dari paceklik. Namun kebencian imam kampung, Puang Mattuang, yang didukung oleh beberapa warga Sumpang Ale membuat Jamalang Kundung terusir ke puncak Gunung Bawakaraeng. Setelah itu, kampung tersebut mendapat pengaruh dan menjadi basis perjuangan DII/TII (Darul Islam Indonesia/Tentara Islam Indonesia) pimpinan Kahar Muzakkar. Bagaimana nasib Sumpang Ale dan Jamalang Kundung kemudian?