Sabtu, 04 Februari 2012

ROMANTISME DALAM SASTRA BUGIS KLASIK

Oleh: dul abdul rahman
(Sastrawan dan peneliti budaya, penulis novel “La Galigo”)

Selalu saja tema cinta menjadi inspirasi bagi para sastrawan untuk mengungkapkan perasaannya. Apapun genrenya, tanpa cinta serasa karya itu tak lezat dan kurang nikmat. Tema cinta memang selalu mendedah resah, meluah hibah, pun memadah airmata. Bahkan serupa mantra bagi para pengagum cinta, ketika mereka jatuh cinta dunia serasa penuh dengan pelangi-pelangi surgawi. Hal-hal yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Banyak kisah cinta yang melegenda. Tak pelak lagi dua kisah cinta yang paling melegenda adalah Romeo-Juliet karya William Shakespeare dan Layla-Majnun karya Syaikh Nizami. Kisah cinta yang melegenda lainnya adalah, Khusraw-Shirin, Cleopatra-Julius Caesar, Jennifer Cavileri-Oliver Barret, San Pek-Eng Tay, dan Yusuf-Zulaikha.

Dari Indonesia terdapat juga legenda cinta abadi, yaitu Layonsari-Jayaprana yang merupakan cerita cinta dari daerah Bali yang terusik karena campur tangan raja yang cemburu buta. Cerita cinta abadi lainnya dari Indonesia adalah Roro Mendut-Pranacitra, yaitu kisah cinta Tumenggung Wiraguna pada Roro Mendut, putri dari Mataram yang sudah memiliki pilihan hati, Pranacitra.

Dari Sulawesi Selatan, terdapat banyak kisah cinta abadi yang bersumber dari kitab sastra La Galigo. Selain yang termaktub dalam kitab sastra La Galigo yang berjumlah 12 jilid yang berisi 2851 halaman dan tersimpan rapih di museum Universitas Leiden, Belanda, yang ditulis oleh Colliq Pujie Arung Pancana Toa, terdapat pula berbagai macam sastra lisan yang berkembang turun temurun di Sulawesi Selatan yang punya benang merah dengan kitab La Galigo.

Adalah sangat ‘memalukan’ bila orang-orang yang mendiami Sulawesi Selatan (baca: Bugis-Makassar-Toraja-Mandar) gagap dengan cerita-cerita yang lahir dari rahim bumi tempat pijakannya sendiri. Yang tak kalah mengerikannya orang-orang yang berkecimpung dalam dunia budaya dan sastra pun gagap dan gugup dengan budaya dan sastra lokal dimana mereka berdomisili. Sesungguhnya penamaan budaya lokal dan sastra lokal bukanlah untuk menilai apakah sebuah nilai budaya atau sastra bagus atau tidak bagus, tetapi sebagai sebuah identitas dimana sastra dan budaya itu lahir dan berkembang. Sastra La Galigo adalah sastra lokal klasik milik masyarakat Sulawesi Selatan yang kini sudah mendunia. Bahkan La Galigo kini menjadi sastra milik dunia internasional setelah mendapat penghargaan Memory of The World (MOW) dari badan PBB UNESCO pada tahun 2011.

Banyak cerita-cerita atau legenda cinta yang terukir dalam kitab sastra Lagaligo, seperti Batara Guru dan We Nyiliq Timoq, Batara Lattuq dan I We Datu Sengngeng, Sawerigading dan I We Cudaiq. Cerita-cerita yang punya benang merah dengan kitab La Galigo, seperti La Sinribaleng dan I Rubaedah, La Pundarek dan Putri Salewangang.

Batara Guru dan We Nyiliq Timoq

Dalam cerita La Galigo, Batara Guru adalah manusia pertama di Kerajaan Bumi (Dunia Tengah/Ale Lino). Sebelumnya Batara Guru tinggal di Kerajaan Langit (Dunia Atas) dan bernama La Togeq Langiq. Oleh ayahnya, Sang Patotoqe, ia dikirim untuk menghuni Kerajaan Bumi. Untuk menemaninya di Kerajaan Bumi maka dikirimkanlah seorang pendamping dari Kerajaan Peretiwi (Dunia Bawah) bernama We Nyiliq Timoq.

Sewaktu We Nyiliq Timoq muncul di lautan dengan perahu keemasan, Batara Guru meminta para pengawalnya untuk menjemput calon permaisurinya, namun perahu-perahu para penjemput tidak bisa mendekati perahu We Nyiliq Timoq karena selalu terhempas oleh gelombang. Maka Batara Guru pun yang berusaha menjemput calon permaisurinya. Perahu keemasan We Nyiliq Timoq pun dengan cepat bertemu dengan perahu Batara Guru.
Batara Guru dan We Nyiliq Timoq kemudian menikah. Mereka saling mencintai dan menyayangi. Dari pasangan ini lahirlah seorang putra mahkota yang diberi nama Batara Lattuq.

Batara Lattuq dan We Datu Sengngeng

Setelah Dewasa, Batara Lattuq harus bersusah payah berlayar ke negeri Tompoq Tikkaq untuk mencari jodohnya. Batara Lattuq berlayar berbulan-bulan hingga tiba di sebuah kerajaan manurung, Tompoq Tikkaq. Pada saat itu penguasa Tompoq Tikkaq bernama La Urung Mpessi dan isterinya We Pada Uleng meninggal dunia akibat bencana yang melanda negeri itu. Negeri itu memang sedang dikutuk oleh Sang Patotoqe akibat ulah La Urung Mpessi yang membuang nasi di sungai. Padahal nasi atau padi adalah jelmaan Datu Sangiang Serri, saudara Batara Lattuq.

Saat itu pula, kedua perempuan pewaris tahta Tompoq Tikkaq berlari ke hutan karena ingin dibunuh oleh bibi mereka bernama We Tenrijelloq yang ingin menguasai Tompoq Tikkaq. Alhasil, pelayaran ke Tompoq Tikkaq bagi Batara Lattuq bukan hanya mencari jodoh tetapi untuk membebaskan Tompoq Tikkaq dari kekejaman We Tenrijelloq bersama suaminya La Tenrigiling.

Akhirnya, Batara Lattuq berhasil membebaskan Tompoq Tikkaq kemudian menikah dengan salah seorang pewaris Tompoq Tikkaq bernama We Datu Sengngeng. Lalu Batara Lattuq membawa permaisurinya kembali berlayar ke Ale Luwuq. Sedangkan yang tinggal berkuasa di Tompoq Tikkaq adalah kakak kandung We Datu Sengngeng bernama We Adiluwuq.
Batara Lattuq sangat mencintai isterinya We Datu Sengngeng. Bahkan ia menolak memiliki selir karena cintanya hanya milik We Datu Sengngeng seorang.

Sawerigading dan I We Cudaiq
Kisah cinta yang paling mengharukan dan menegangkan adalah kisah cinta Sawerigading dan Putri Cina, I We Cudaiq.
Awalnya Sawerigading jatuh cinta kepada saudara kembar emasnya bernama I We Tenriabeng. Karena kembar emas, keduanya dipisahkan sejak masih kecil. Ketika bertemu di saat dewasa, Sawerigading langsung jatuh cinta dengan kecantikan I We Tenriabeng. Ia pun ingin segera melamarnya. Namun keinginan Sawerigading ditentang keras oleh para penasehatnya karena sesungguhnya Sawerigading bersaudara kembar emas dengan I We Tenriabeng. Karena sudah dirasuki rasa cinta yang buta, Sawerigading tidak percaya dengan para penasehatnya. Bahkan ia membunuh juru bicara penasehatnya bernama Rajeng Makdopeq.

I We Tenriabeng mencoba meyakinkan Saweigading bahwa mereka benar-benar bersaudara kembar emas. Lalu ia menyarankan saudara kembar emasnya tersebut untuk berlayar ke Negeri Cina. Karena di Negeri Cina terdapat seorang perempuan yang mirip dengan dirinya bernama I We Cudaiq.

Akhirnya Sawerigading mau percaya dengan penjelasan saudari kembar emasnya. Ia pun memutuskan berlayar ke Negeri Cina untuk menemukan tambatan hatinya. Namun sesampai di Negeri Cina, I We Cudaiq tidak mau bertemu dan melihat wajah Sawerigading. I We Cudaiq mati-matian menolak dinikahi oleh Sawerigading. Ia termakan isu bahwa Sawerigading adalah lelaki yang sangat buruk rupa.

Karena merasa dilecehkan oleh Putri Cina, Sawerigading pun bermaksud membumihanguskan kerajaan Ale Cina. Karena takut dengan kekuatan pasukan Sawerigading, akhirnya I We Cudaiq mau dinikahi oleh Sawerigading dengan berbagai syarat. Salah satunya adalah Sawerigading hanya boleh mendatangi I We Cudaiq pada malam hari. Pun tidak boleh menyalakan lampu atau pelita.

Maka sejak menikah, Sawerigading hanya bisa mengunjungi isterinya di malam hari. Itupun Sawerigading tidak bisa bermesraan dengan isterinya karena sejak menikah, I We Cudaiq selalu membungkus tubuhnya dengan pakaian tujuh lapis yang sudah dijahit ujung kaki dan bagian kepala. Tapi Sawerigading tidak pernah kehabisan akal, ia berpura-pura tidak mau mengunjungi isterinya lagi. Atas bantuan kucing miko-miko dan memompalo karellae sebagai mata-mata, pada suatu malam I We Cudaiq tidak lagi membungkus tubuhnya karena mengira Sawerigading sudah tidak mau mengunjunginya. Di saat itu tiba-tiba Sawerigading muncul dan langsung memeluk isterinya. Kucing miko-miko pun langsung menyalakan pelita dengan ekornya. I We Cudaiq tetap tidak mau melihat wajah suaminya. Ia terus menutup kepalanya dengan membelakangi Sawerigading.

Sawerigading mencoba membujuk isterinya dengan bercanda, “Kalau memang kamu tidak mencintaiku, maka lebih baik aku mengunjungi kekasihku oro sadda (perempuan yang sangat jelek) yang berkepala tiga.”

I We Cudaiq langsung tertawa dan refleks berbalik ke arah Sawerigading. Dan betapa terkejut dan bahagianya I We Cudaiq karena ternyata suaminya adalah lelaki yang sangat tampan. Bahkan ia belum pernah melihat lelaki setampan Sawerigading. Sawerigading dan I We Cudaiq kemudian mempunyai anak lelaki yang diberi nama: I La Galigo.

Tentang Dul Abdul Rahman.


Sastrawan dan peneliti budaya. Ia menamatkan pendidikan menengahnya di SMA Negeri Bikeru Sinjai Selatan pada 1993. Pernah mengenyam bangku kuliah, yakni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (1993-1998), Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar (2001-2002), Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin (2004-2009). Aktif bersastra di Indonesia dan Malaysia.

Ratusan tulisannya berupa karya sastra dan kritik sastra dimuat koran lokal dan nasional di Indonesia dan Malaysia. Karya-karyanya dijadikan bahan penelitian oleh mahasiswa untuk meraih gelar sarjana dan pascasarjana, di Indonesia maupun Malaysia.

Buku-buku sastranyat:
1. Lebaran Kali Ini Hujan Turun (Kumpulan Cerpen, Nala Makassar, 2006)
2. Pohon-Pohon Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2009);
3. Daun-Daun Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2010);
4. Perempuan Poppo (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010);
5. Sabda Laut (Novel. Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010).
6. Sarifah (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2011)
7. La Galigo (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2012)
8. Dewi Padi dan Kucing Kesayangannya (Novel, Diva Press Yogyakarta, segera terbit)

Selasa, 31 Januari 2012

SAWERIGADING, LELAKI YANG INGIN MENIKAHI SAUDARI PEREMPUANNYA SENDIRI

Sang Patotoqe, penguasa tunggal Kerajaan Langit telah mengutus putranya yang bernama Batara Guru untuk turun ke dunia. Setelah tiba di dunia, Batara Guru kawin dengan puteri dari Kerajaan Peretiwi yang bernama We Nyiliq Timoq. Dari perkawinan Batara Guru dan We Nyiliq Timoq, lahirlah putra mahkota bernama Batara Lattuq. Dan setelah dewasa Batara Lattuq menikah dengan We Datu Sengngeng setelah berlayar selama berbulan-bulan. Dari perkawainan Batara Lattuq dan We Datu Sengngeng, lahirlah dua anak kembar berlainan jenis. Yang putra bernama Sawerigading, sedangkan yang putri bernama We Tenriabeng. Sebagaimana adat-adat kebiasaan orang bangsawan untuk kelahiran anak-anak mereka, telah diadakan upacara oleh orang tuanya.

Namun setelah mengadakan upacara itu, Batara Lattuq dan permaisurinya menghilang, naik ke Boting Langiq atau puncak langit. Kejadian ini menggemparkan penduduk Kerajaan Manurung Ale Luwuq. Setelah reda keadaannya, para pemuka pembesar Kerajaan Ale Luwuq bersepakat untuk memelihara keturunan Batara Lattuq, dengan jalan memisahkan mereka. Demikianlah sehingga We Tenriabeng dibuatkan mahligai berjauhan dari tempat pemeliharaan Sawerigading.

Sawerigading tetap dipelihara di pusat kerajaan Ale Luwuq. Mereka berdua masing-masing dirawat oleh inang pengasuh dan dayang-dayang. Khusus Sawerigading, ia diasuh dan dijaga oleh tiga puluh orang pemuda yang cakap dan tangkas. Sehingga tidak heran apabila dewasa dan berkembang menjadi seorang yang berjiwa kesatria, cekatan dan terampil dalam menggunakan senjata dan bersemangat kepahlawanan.

Keadaan yang ideal juga berlaku bagi We Tenriabeng, karena sejak kecil ia diasuh untuk dididik dan dilatih agar menguasai keterampilan dan kepandaian yang harus dimiliki oleh seorang puteri raja, sehingga tidak heranlah apabila setelah dewasa ia tumbuh kembang menjadi seorang yang berwajah cantik. Ditambah lagi ia memiliki keterampilan serta pengetahuan mengenai adat istiadat kewanitaan bangsawan.

Pada suatu hari Sawerigading yang telah dewasa serta telah menjadi penguasa Kerajaan Manurung Ale Luwuq, bersama pengiringnya pergi menjelajah untuk memeriksa daerah-daerah kekuasaannya. Dalam penjelajahannya itu, pada suatu ketika, ia tiba pada suatu mahligai yang indah dan megah sekali. Dan ia menjadi terkesima ketika bertatap muka dengan penghuninya, seorang putri yang teramat cantik jelita. Terpengaruh oleh darah remajanya, Sawerigading kemudian menanyakan nama puteri jelita itu. Dari para pengiringnya ia mendapat keterangan bahwa nama puteri jelita tersebut adalah We Tenriabeng, namun mengenai orang tuanya serta dari mana asalnya mereka tidak ada yang mengetahuinya.

Sejak itu, timbullah dorongan keras untuk mempersunting puteri tersebut di dalam hati Sawerigading. Setibanya di pusat kerajaan, ia segera mengumpulkan para pembesar dan pemuka kerajaan untuk menyampaikan niatnya tersebut. Namun oleh para penasehatnya, niatnya tersebut tidak disetujui, karena mereka tahu bahwa We Tenriabeng sebenarnya adalah saudara kembar dari rajanya. Repotnya Sawerigading tidak mau mendengarnya, ia tidak percaya dengan segala nasehat para penasehatnya, ia ngotot tetap ingin menikahi We Tenriabeng. Ia malah membunuh juru bicara dari para penasehatnya.

Kegemparan dan kegelisahan masyarakat kerajaan Ale Luwuq akhirnya terdengar oleh We Tenriabeng. Setelah mengetahui permasalahannya, maka We Tenriabeng pun berkeputusan untuk menghalangi maksud sang raja yang notabene adalah saudara kembarnya sendiri. Caranya adalah mengirim inang pengasuhnya sebagai utusannya menghadap Sawerigading. Pada utusannya itu, ia mengirimkan bukti hubungan darah mereka, yang berupa gelang, cincin, dan sehelai rambut. Dan untuk menggantinya, ia mengusulkan saudara kembarnya tersebut untuk meminang saja saudara sepupu mereka bernama I We Cudaiq yang berdiam di negeri Cina. Kecantikan I We Cudaiq tidak kalah dari Tenriabeng. Perbedaannya hanyalah pada warna kulit. Jika We Tenriabeng berkulit putih kekuning-kuningan, maka I We Cudaiq berkulit putih berkilau-kilauan.

Dengan adanya bukti hubungan kekerabatan itu, akhirnya Sawerigading mau percaya dan berkeputusan untuk pergi ke negeri Cina untuk meminang I We Cudaiq yang molek tersebut.

Sawerigading pun berlayar selama berbulan-bulan menuju negeri Cina. Ia beberapa kali berperang di laut karena dihadang oleh berbagai musuh yang tidak memberinya jalan. Akhirnya Sawerigading sampai di negeri Cina. Namun di negeri Cina Sawerigading mendapat penolakan dari Puteri Cina. Maka terjadilah pertempuran hebat antara pasukan Sawerigading dengan pasukan Ale Cina. Sanggupkah Sawerigading mengalahkan pasukan Ale Cina lalu mempersunting I We Cudaiq? Baca selengkapnya dalam novel La Galigo, diterbitkan oleh Diva Press Yogyakarta Januari 2012.



Tentang Dul Abdul Rahman.
Sastrawan dan peneliti budaya. Ia menamatkan pendidikan menengahnya di SMA Negeri Bikeru Sinjai Selatan pada 1993. Pernah mengenyam bangku kuliah, yakni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (1993-1998), Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar (2001-2002), Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin (2004-2009). Aktif bersastra di Indonesia dan Malaysia.

Ratusan tulisannya berupa karya sastra dan kritik sastra dimuat koran lokal dan nasional di Indonesia dan Malaysia. Karya-karyanya dijadikan bahan penelitian oleh mahasiswa untuk meraih gelar sarjana dan pascasarjana, di Indonesia maupun Malaysia.

Buku-buku sastranyat:
1. Lebaran Kali Ini Hujan Turun (Kumpulan Cerpen, Nala Makassar, 2006)
2. Pohon-Pohon Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2009);
3. Daun-Daun Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2010);
4. Perempuan Poppo (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010);
5. Sabda Laut (Novel. Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010).
6. Sarifah (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2011)
7. La Galigo (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2012)
8. Dewi Padi dan Kucing Kesayangannya (Novel, Diva Press Yogyakarta, segera terbit)

Minggu, 22 Januari 2012

BALADA CINTA SANGKALA DAN SARIFAH

Cerpen: dul abdul rahman

Awalnya Sangkala ragu mengizinkan Sarifah jadi TKW di Malaysia. Di samping karena ia akan kesepian ditinggal isteri tercinta, pun ia akan menanggung malu mendengar omongan orang-orang sekampungnya, “Orowane de’ siri’na.” Selalu begitu cemoohan yang diberikan kepada laki-laki yang dianggap kurang bertanggung jawab. Artinya laki-laki tak punya malu. Tapi karena rengekan isterinya terus menerus, Sangkala bulat mengizinkan isterinya bekerja di Malaysia.

Sarifah, isteri Sangkala, punya itikad baik untuk membantu suaminya. Ia sangat ingin melihat anak-anaknya kelak lebih bernasib baik dari mereka berdua. Kuncinya adalah ketiga anak-anaknya harus sekolah tinggi-tinggi supaya bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Profesi suaminya yang hanya petani kere, tak mungkinlah menyekolahkan anak-anaknya, apalagi biaya pendidikan kian mahal saja. Jika mereka bertahan di kampung, maka pastilah anak-anaknya kelak mengikuti jejak pekerjaan mereka. Petani kere yang tak punya pendidikan. Sarifah tak mau hal itu terjadi.
Setelah melewati babak musyawarah dan konsultasi ke pihak keluarga Sangkala, pun pihak keluarga Sarifah, pun para tetua di kampung, Sangkala dan Sarifah lalu bermufakat.

“Demi masa depan anak-anak kita, saya mengizinkan kau Sarifah bekerja di Malaysia. Jagalah kehormatan keluarga kita di sana.”

Nada Sangkala bergetar. Sebentar lagi ia akan berpisah dengan isterinya untuk sementara. Hanya untuk sementara. Selalu Sangkala mengulang kalimat itu. Tahun depan Sangkala berniat menyusul isterinya ke Malaysia. Sebenarnya keluarga mereka mengusul lebih baik keduanya berangkat sama-sama. Namun karena ibu Sangkala yang sudah tua, lagipula sedang sakit, Sangkala tak tega meninggalkannya.

Sangkala berencana, cukuplah lima tahun bekerja di Malaysia, upahnya ia kirim ke kampung untuk beli tanah. Ia pun bermufakat dengan isterinya tidak memboyong anak-anaknya ke Malaysia. Biarlah mereka tetap bersekolah di kampung. Memang yang paling dipikirkan Sangkala dan Sarifah adalah pendidikan anak-anaknya.

“Iye Daeng, akan kujaga segala kehormatan keluarga kita, siri’mu siri’ku.” Sarifah menatap suaminya. Ada mendung bergelayut di wajahnya.

“Kalau tiba di sana, selalulah berkirim kabar kepada kami. Lagian Mandor Bajide tiap bulan pulang kampung mengurus para calon TKI lainnya. Bisa juga lewat Haji Hamide yang sekali dua bulan pulang ke Indonesia mengambil barang dagangan.” Sangkala tak kuasa menahan rasa haru.

“Akan kuingat segala pappaseng Daeng.”

Sarifah sesunggukan dipelukan suaminya. Sangkala diam. Ia mencoba meredam segala kesedihan yang meraja di ulu hatinya. Malam ini memang adalah malam terakhir bersama isterinya, besok adalah jadwal isterinya berangkat ke Malaysia.

“Jagalah anak-anak kita Daeng! Daeng juga harus menjaga kesehatan.” Sarifah terus sesunggukan.

“Saya selalu ingat pappasengmu Sarifah.” Sangkala mencoba menegarkan isterinya. Ia memang tak mau larut dalam kesedihan, ia harus tegar melepas isterinya. Lagipula ini malam banyak tetamu yang hadir, pihak keluarga besar mereka berdua, pun para tetangga menginap di rumah Sangkala. Selalu memang begitu di kampung Sangkala. Setiap orang yang hendak bepergian jauh atau datang dari bepergian jauh selalu para tetangga berkumpul untuk saling melepas kangen, pun mengikat kangen. Dan yang terpenting saling memberi nasehat, pun berbagi pengalaman.

“Sebagai perempuan, kau harus jaga diri baik-baik Sarifah. Selalu ingat suami dan anak-anakmu agar hatimu tak pernah luruh.” Ayah Sarifah menasehati anaknya.

“Yang terpenting, kau harus rajin sholat dan berdoa, supaya kau selalu dalam lindunganNya.” Pak Imam Kampung turut menasehati.

“Hati-hati juga dengan Mandor Bajide. Kau harus jaga jarak dengan dia, Mandor Bajide itu suka….”

“Hush! Tak boleh berburuk sangka.” Kepala kampung yang turut hadir melepas keberangkatan Sarifah memotong ucapan Sittiara.

Para tetangga yang hadir cekikikan mendengar penuturan Sittiara. Sittiara memang pernah jadi TKW di Malaysia selama dua tahun, setelah menikah di Malaysia dengan sesama TKI, ia pulang kampung bersama suaminya dan kini hidup berkecukupan. Sittiara tahu banyak Mandor Bajide, karena ia pun berangkat ke Malaysia lewat “agen” Mandor Bajide. Mandor Bajide adalah orang yang disegani dan dihormati, ia adalah ponakan kepala kampung.

Begitulah. Nasehat-nasehat para tetua, pun cerita-cerita dibalik TKI, dan linangan airmata melepas keberangkatan Sarifah.

Sudah setahun isterinya bekerja di Malaysia. Namun Sangkala tidak pernah mendengar kabar tentangnya. Selalu ia tanyakan pada Mandor Bajide, selalu pula lelaki yang sering dipanggil Karaeng itu menjawab tidak bertanggung jawab soal Sarifah, karena Sarifah beralih ke mandor lain. Sangkala sangat masygul. Ketika ia tanyakan nasib isterinya kepada Haji Hamide, pun tak tahu.

“Malaysia itu luas, mungkin saja isterimu tidak bekerja lagi di Sabah. Mungkin ada mandor yang menawari gaji yang tinggi untuk pindah ke Kuala Lumpur.” Maemunah berkata padanya suatu ketika. Tentu saja bukan asal bicara, karena Maemunah pernah bekerja di kawasan Genting City of Entertainment Kuala Lumpur. Apalagi perempuan cantik macam Sarifah, meski sudah bersuami dan memiliki tiga orang anak, namun masih nampak cantik nan memikat. Jadi kemungkinan Sarifah jadi…. Hanya Maemunah yang tahu jenis pekerjaan apa yang cocok buat perempuan secantik Sarifah.

“Biasanya memang perempuan cantik tak tahan bekerja sama Mandor Bajide.” Begitulah Sittiara selalu berkata padanya. Mandor Bajide memang terkenal mata keranjang, ia telah menikah berkali-kali, tetapi selalu bercerai.

Kabar terakhir yang beredar di kampung. Mandor Bajide sudah beristeri lagi dengan seorang janda cantik dari kampungnya sendiri. Begitulah pengakuan Mandor Bajide. Tak seorangpun tahu di kampungnya siapa isteri baru Mandor Bajide. Atau memang warga tak tertarik mengetahui isteri Mandor Bajide yang tukang kawin-cerai.

Hanyalah Haji Hamide yang sedikit mengetahui ciri-ciri isteri Mandor Bajide. Wajahnya sangat mirip Sarifah, isteri Sangkala. Tapi Haji Hamide hanya melihat poto pernikahannya saja. Pengakuan Haji Hamide dianggap mengada-ada. Karena pasti bukanlah Sarifah, apalagi Sarifah sudah bersuami. Pun Sarifah sudah meninggalkan Mandor Bajide menurut pengakuan Mandor Bajide sendiri. Dan yang paling membuat orang tak percaya dengan omongan Haji Hamide karena Puang Haji itu sudah katarak.

Adalah waktu yang terus berjalan. Sejak kepergian isterinya, lalu tak ada kabarnya, Sangkala benar-benar merasa kehilangan. Tak ada lagi tempatnya berbagi duka, bermadah cinta. Sangkala benar-benar kesepian. Dan kesepian Sangkala sepertinya akan melewati musim demi musim. Tak ada kabar Sarifah. Sarifah sepertinya ditelan bumi Malaysia. Bumi Malaysia memang ladang emas, pun ladang cemas bagi para TKI.

Tak ada yang bisa menghentikan waktu. Waktu ibarat maut yang terus memburu, bahkan sesekali membujuk, lalu menghunus jarum-jarum kematian. Waktu pulalah yang akhirnya merenggut jiwa Sangkala. Sangkala tak mampu bersekutu dengan waktu sambil bersidekap dengan luka lara. Luka yang tersemat oleh kepergian Sarifah.

Semua warga menangisi kepergian Sangkala. Sangkala meninggal dunia membawa kesedihan tak terperikan. Orang-orang menyesali kenapa Sarifah berangkat ke Malaysia tidak bersama Sangkala saja. Sittiara dan Maemunah bahkan mengutuk Mandor Bajide yang tidak bertanggung jawab.


Para sanak keluarga dan warga sangat berduka atas kematian Sangkala. Sarifah pun dianggap sudah meninggal dunia, karena tak seorang pun yang tahu kabarnya. Semua warga sangat kasihan kepada Sangkala dan Sarifah, sebaliknya mereka tidak simpatik kepada Mandor Bajide. Tapi lambat laun, ketidaksukaan mereka kepada Mandor Bajide mengendor. Itu karena Mandor Bajide bersikap simpatik pula.

Sejak kematian Sangkala, Mandor Bajide mencoba menebus kesalahannya atas hilangnya jejak Sarifah yang membuat Sangkala meninggal dunia. Mandor Bajide menyekolahkan ketiga anak-anak Sangkala dan Sarifah.

Satu-satunya warga yang tidak simpatik kepada Mandor Bajide hanyalah Haji Hamide. Haji Hamide yang berdagang antar Sinjai-Makassar-Nunukan-Sabah sangat tahu siapa sebenarnya Mandor Bajide. Haji Hamide sangat ingin membongkar kebusukan Mandor Bajide. Hanya saja Haji Hamide berpikir, kalau ia membongkar kejahatan Mandor Bajide sekarang lebih banyak mudaratnya. Lebih baik ia diam saja. “Tuhan selalu ada melihat dosa-dosa hambaNya.” Haji Hamide membatin.


“Kau benar-benar Sarifah Nak?”
“Iye Puang Haji, saya Sarifah.”
“Alhamdulillah Nak, ternyata kau masih hidup, padahal orang-orang di kampung menganggapmu sudah meninggal. Pulanglah Nak! Anak-anakmu sekarang merasa yatim piatu, padahal kau masih hidup.”

“Yatim piatu? Maksud Puang Haji? Saya selalu mengirim uang untuk keperluan sekolahnya.”

“Kiriman uang? Yang saya tahu selama ini biaya sekolah anak-anakmu ditanggung oleh Mandor Bajide.”

“Sama saja Puang Haji, Mandor Bajide kan suami saya.”
“Jadi kau pengantin baru Nak?”
“Pengantin baru? Kami menikah dengan Mandor Bajide setahun silam.”
“Maksudmu Nak? Sangkala suamimu kan meninggal dunia enam bulan silam.”

Haji Hamide dan Sarifah terus berkejaran dengan pertanyaan yang menyelisik dan mengcengkeram. Lalu pertanyaan dan jawaban Haji Hamide akhirnya menjelma duri-duri dan menusuk hati Sarifah. Sarifah mendadak tak sadarkan diri setelah mendengar kabar sesungguhnya dari Haji Hamide.

Haji Hamide tahu kini. Ternyata seluruh pengakuan Mandor Bajide tentang Sarifah adalah bohong belaka. Ternyata ia berbual jahat untuk merampas isteri orang. Ia menyembunyikan surat-surat Sarifah kepada suaminya, bahkan mengabarkan di kampung bahwa Sarifah menghilang, padahal ia menyembunyikannya. Lalu ia berbohong pula pada Sarifah bahwa suaminya telah meninggal dunia. Lalu merayu Sarifah menikah dengannya dengan alasan hidup Sarifah akan lebih berkecukupan sekaligus menebus utang Sarifah.

“Laknat!”
Haji Hamide menggerutu. Lalu menghubungi penyelenggara jenazah untuk mengurus pemakaman Sarifah. Ia berharap kematian Sarifah yang tahu hanyalah dirinya dan Mandor Bajide. Biarlah orang-orang di kampung menganggap bahwa Sarifah sudah lama meninggal dunia. Sekali lagi Haji Hamide berpikir manfaat-mudarat. Ia menganggap Mandor Bajide lah segala pangkal dosa dan kesalahan. Olehnya itu ia mengultimatum Mandor Bajide untuk mengurusi segala kebutuhan dan sekolah anak-anak almarhum Sangkala dan Sarifah. Kalau menelantarkan anak-anak tersebut, ia akan membongkar segala kebusukan Mandor Bajide. Tapi apakah Mandor Bajide berjanji untuk bertobat, Haji Hamide tak memikirkan itu, biar Tuhan yang tahu segala dosa hamba-hambaNya.

Haji Hamide meninggalkan pemakaman Sarifah. Ia tak menoleh sekalipun ke arah Mandor Bajide. Dibenaknya, kelak kalau tiba di kampung, ia akan berziarah ke makam Sangkala.

(Sumber: Harian Cakrawala, 22 Januari 2012)

Tentang Penulis:
Dul Abdul Rahman. Sastrawan dan peneliti budaya. Ia menamatkan pendidikan menengahnya di SMA Negeri Bikeru Sinjai Selatan pada 1993. Pernah mengenyam bangku kuliah, yakni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (1993-1998), Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar (2001-2002), Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin (2004-2009). Aktif bersastra di Indonesia dan Malaysia.

Ratusan tulisannya berupa karya sastra dan kritik sastra dimuat koran lokal dan nasional di Indonesia dan Malaysia. Karya-karyanya dijadikan bahan penelitian oleh mahasiswa untuk meraih gelar sarjana dan pascasarjana, di Indonesia maupun Malaysia.

Bukunya yang sudah terbit:
1. Lebaran Kali Ini Hujan Turun (Kumpulan Cerpen, Nala Makassar, 2006)
2. Pohon-Pohon Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2009);
3. Daun-Daun Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2010);
4. Perempuan Poppo (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010);
5. Sabda Laut (Novel. Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010).
6. Sarifah (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2011)
7. La Galigo (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2012)

Minggu, 01 Januari 2012

LA GALIGO sebuah novel berdasarkan KITAB LA GALIGO kotab sastra terpanjang di dunia

Sekilas tentang isi buku

“La Galigo adalah karya sastra terpanjang dan terbesar di dunia yang setara dengan kitab Mahabharata dan Ramayana dari India serta sajak-sajak Homerus dari Yunani,” ungkap R.A, Kern.
Bahkan, tidak tanggung-tanggung, sejarawan dan ilmuwan Belanda, Sirtjof Koolhof, menyebutnya sebagai karya sastra terpanjang di dunia, terdiri dari 300.000 baris, mengalahkan Mahabharata dan yang lainnya.
Nah, novel di tangan Anda ini adalah pemiksian yang sangat menarik dari karya legendaris tersebut.
Diceritakan bahwa dahulu kala, Kerajaan Bumi hanyalah tanah kosong yang benar-benar tak berpenghuni. Lalu, Sang Dewata (Sang Pototoqe) segera memutuskan bahwa kerajaan tersebut tidak bisa dibiarkan terlalu lama kosong. Manusia harus diturunkan untuk menyuburkannya dan tentu saja menyembah-Nya!
Maka, dipilihlah sang putra sulung-Nya untuk menjadi manusia pertama yang menghuni bumi. Dialah yang kemudian menjelma Batara Guru.
Tidaklah mudah menjadi penguasa di Bumi, meski sang manusia titisan Dewata tersebut bisa saja meminta bantuan Langit untuk mempermudah tugasnya. Tapi, Sang Dewata mengharuskannya untuk berusaha sebelum pasrah. Di sinilah, ujian-ujian kehidupan mulai menerpanya. Dia dipaksa untuk melewati berbagai rintangan hingga sampailah dia pada titik di mana Sang Dewata mengizinkan Batara Guru memiliki pendamping hidup.
Lantas, bagaimana kehidupannya kemudian?
Tentu saja sepak terjang hebat keturunan-keturunannya semisal Sawerigading bakal mewarnai dengan sangat menghibur karya besar ini. Bahkan, petualangan cucu Batara Guru inilah yang nantinya sering menjadi sorotan istimewa dari para penikmat La Galigo. Selamat membaca!

“Adinda, tidak usah khawatir bila anak kita kelak menjelma manusia lalu mengalami cobaan hidup di Bumi. Karena, memang sudah menjadi hukum Bumi bahwa sesungguhnya hidup adalah cobaan. Bukanlah manusia namanya bila tidak dicoba. Juga, bukanlah manusia bila tidak tahan menghadapi cobaan,” ucap Sang Patotoqe meyakinkan istrinya.

Diterbitkan oleh DIVA PRESS Yogyakarta, cet.1 Januari 2012

Sabtu, 17 Desember 2011

LA GALIGO KARYA SASTRA TERPANJANG DI DUNIA

Kitab sastra La Galigo merupakan kitab sastra klasik Bugis adalah kitab sastra terpanjang di dunia. Pengakuan ini bukan datang dari orang-orang Bugis (baca: orang Indonesia). Jangankan mengklaim sebagai sastra terpanjang di dunia, orang Bugis sendiri awam dengan La Galigo. Yang mengklaim La Galigo sebagai karya sastra terpanjang di dunia adalah para ilmuwan Belanda.

Seorang ilmuwan Belanda yang bernama R.A.Kern dalam bukunya Catalogus van de Boegineesche tot de I La Galigocyclus Behoorende Handschriften der Leidsche Universiteitbibliotheek yang diterbitkan oleh Universiteitbibliotheek Leiden (1939: 1) menempatkan Kitab La Galigo sebagai karya sastra terpanjang dan terbesar di dunia setaraf dengan kitab Mahabarata dan Ramayana dari India, serta sajak-sajak Homerus dari Yunani.

Sejalan dengan pendapat R.A. Kern, sejarawan dan ilmuwan Belanda lainnya, Sirtjof Koolhof, berpendapat bahwa Kitab Galigo adalah karya sastra terpanjang di dunia yang panjangnya mencapai lebih 300.000 baris, sementara epos Mahabarata jumlah barisnya antara 160.000 – 200.000 baris.

Pendapat R.A. Kern dan Sirtjof Koolhof berdasarkan atas 12 jilid naskah La Galigo yang kini berada di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Naskah tersebut ditulis oleh Colliq Pujie Arung Pancana Toa pada abad ke-19 atas permintaan B.F Matthes (1818-1908). B.F Matthes adalah seorang missionaris Belanda yang pernah bertugas di Sulawesi. Sejatinya, Colliq Pujie hanyalah mengumpulkan dan menyalin kembali cerita La Galigo yang sudah mengakar (cerita lisan) pada masyarakat yang mendiami jazirah selatan Pulau Sulawesi –masyarakat Bugis.

Saat ini sudah muncul buku-buku transliterasi La Galigo atas jasa-jasa para kaum intelektual Sulsel seperti Muhammad Salim, M.Johan Nyompa, Fahruddin Ambo Enre, dan Nurhayati Rahman –mereka patut disebut pejuang La Galigo– Tetapi transliterasi tersebut nampaknya masih susah dibaca dan dicerna oleh masyarakat.

La Galigo, hadir dalam bentuk sebuah novel

La Galigo mengalami ‘perjalanan panjang’. Meski lahir di Tanah Bugis, Indonesia, namun ia ‘besar’ di negeri Belanda. Selain salinan naskah aslinya yang terdiri atas 12 jilid yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, Kitab La Galigo pun menjadi primadona bagi para mahasiswa Belanda untuk melakukan riset sastra dan budaya untuk meraih gelar magister dan doktor.

Setelah pulang kampung ke negeri asalnya, hingar-bingar sebagai karya sastra klasik yang ramai diperbincangkan di negeri orang, namun tidak sebingar di tanah kelahirannya.

La Galigo, yang pada tahun 2011 ini mendapat penghargaan khusus karena badan PBB UNESCO menetapkan naskah klasik La Galigo sebagai warisan dunia dan diberi anugerah Memory of The World (MOW).

Anda yang ingin mengetahui isi La Galigo, silakan dibaca novel “La Galigo” yang diterbitkan oleh Penerbit Diva Press Yogyakarta.

(dul abdul rahman)

Jumat, 09 Desember 2011

CHAERUDDIN HAKIM PENYELAMAT KELONG MAKASSAR

Oleh: dul abdul rahman
(sastrawan dan peneliti budaya)

Mangkasara’ bori’ ada
Bori’ pa’rimpungang pacce
Sukku’ sungguna
Kimassing paenteng siri’
Nani areng Mangkasara’
Kania’ pacce attayang
Punna taena
Bellai ri pangngadakkang

(Makassar negeri adat
Negeri perkumpulan kasih sayang
Sangatlah baik
Jika saling tegakkan harga diri
Diberi nama Makassar
Sebab kasih sayang menanti
Jika tak ada
Jauh dari adat-istiadat)

Mungkin saja jika para mahasiswa di Makassar pernah membaca dan memahami kelong Makassar tersebut di atas maka mereka akan menjaga nama baik Makassar di mata orang-orang luar Makassar. Betapa tidak! Istilah “Makassar yang kasar” selalu saja memerah-hitamkan telinga saya ketika berkunjung ke daerah-daerah lain seperti Jakarta, Yogyakarta, hingga Padang.

Istilah “Makassar yang kasar” tentu saja “diiklankan” oleh para mahasiswa di Makassar. Bukan hanya dalam melakukan aksi-aksi demonstrasi yang sesungguhnya bertujuan untuk memperjuangkan hak-hak rakyat. Tapi yang memalukan adalah jika para mahasiswa berkelahi antar mahasiswa atau antar fakultas dalam internal kampus yang seolah menjadi trend mahasiswa di Makassar.

Dibanding dengan kota-kota besar lainnya seperi Jakarta, Bandung, Surabaya, atau Medan, wajah Makassar memang lebih dominan (baca: sangar) muncul di teve jika itu menyangkut demo anarkis. Bahkan saya sendiri mengenal baik fly over di Jalan Urip Sumoharjo lewat teve. Dan sampai saat ini bayangan saya akan fly over adalah tempat berkumpulnya para mahasiswa atau tempat mahasiswa berkejar-kejaran dengan polisi.
Untuk mengembalikan mahasiswa Makassar kepada jati dirinya. Sebagai insan akademis yang cerdas, memperjuangkan hak-hak rakyat dengan “merakyat”(tidak mengganggu kepentingan rakyat, seperti mengganggu lalu lintas) maka mahasiswa Makassar perlu diagnosa dan diobati dengan ajaran-ajaran adiluhung yang bersumber dari budaya-budaya lokal. Bukankah ajaran adilihung orang Bugis-Makassar-Mandar-Toraja yang mayoritas menghuni Sulawesi Selatan adalah prinsip sipakatau (saling menghargai), sipakainga (saling mengingatkan), sipakalebbi (saling memuliakan).

Adalah Chaeruddin Hakim, seorang seniman dan penyair Makassar, patut diapresiasi dalam menjaga dan melestarikan ajaran-ajaran adiluhung dan pappaseng dalam bahasa Makassar. Lewat bukunya “Kitab Kelong Makassar”, Chaeruddin Hakim berhasil mengumpulkan dan menuliskan kembali Kelong Makassar Tradisi yang bersumber dari kelong asli (anonim). Selanjutnya Cheruddin Hakim memberi pesan kelong-kelong tersebut sehingga mudah dipahami dan dipelajari oleh pembaca. Bukan hanya itu, Chaeruddin Hakim juga mencipta beberapa Kelong Makassar Modern yang berisi pesan-pesan moral yang berguna sebagai alat pembelajaran. Kelong yang menjadi pembuka tulisan ini adalah salah satu ciptaan Chaeruddin Hakim.

Pembelajaran nilai-nilai moral sepatutnya memang menjadi perhatian pemerintah. Dalam era otonomi daerah sekarang ini, tentu saja pelajaran muatan lokal haruslah bertumpu pada nilai-nilai lokal setempat. Memang pembangunan seharusnya bermuatan budaya. Pun pembangunan haruslah “berbudaya”. Menggusur tempat-tempat bersejarah yang menjadi lambang sejarah dan peradaban adalah sebuah pembangunan yang mengingkari wajah sejarah. Selain itu, nilai-nilai kearifan lokal yang berbasis pada bahasa dan sastra lokal haruslah menjadi perhatian pemerintah.

Pemerintah dan masyarakat memang harus turun tangan menjaga budaya dan bahasanya. Adagium Kalau Bukan Kita Siapa Lagi, seharusnya menjadi sebuah cambuk untuk melestarikan budaya sendiri. Yang menjadi keresahan utama sebenarnya adalah sebuah paradigma baru yang mengatakan bahwa sastra, bahasa, dan budaya lokal akan tergerus oleh arus deras globalisasi. Asumsi ini tidaklah mencengankan, karena diam-diam tsunami globalisasi menerjang ruang-ruang kita tanpa kita sadari. Anak-anak pada zaman dahulu yang disuguhi dongeng-dongeng pengantar tidur sebagai media pembelajaran tergantikan dengan acara-acara teve yang menawarkan sebuah trend baru. Maka kemudian, anak-anak kita lebih mengenal tokoh-tokoh macam Batman, Spiderman, Robinhood daripada tokoh-tokoh Lapundarek, Lamellong, Karaeng Pattingaloang, dan lain-lain.


Maka sepatutnya segala daya upaya Chaeruddin Hakim melestarikan kelong dan pappaseng Makassar haruslah didukung dan diapresiasi. Seniman dan penyair yang kreatif ini semestinya diberi aplaus panjang, sepanjang cita-citanya untuk terus menjaga dan melestarikan kearifan-kearifan lokal Sulawesi Selatan. Dan semoga saja budaya, sastra, dan bahasa lokal kita tidak dihanyutkan oleh arus tsunami globalisasi. Budaya lokal sebagai sumber nilai luhur harus menghablur. Ia tidak boleh kabur. Ia harus terus tumbuh subur. dulabdul@gmail.com

Dul Abdul Rahman
(sastrawan dan peneliti budaya, sejauh ini mengarang 7 buah novel)

PERSEKUTUAN INDONESIA DAN MALAYSIA DALAM KARYA SASTRA

(Catatan Pengantar “Tunggu Aku di Pantai Losari” karya Hasbullah Said)

Oleh: dul abdul rahman

Sejarah pertautan yang mesra antara Indonesia dan Malaysia sudah berlangsung sejak lama. Bahkan khusus pertautan antara suku Bugis-Makassar dan suku Melayu, kepustakaan Melayu mencatat bahwa beberapa Sultan di Malaysia adalah keturunan Bugis-Makassar, seperti Sultan Selangor, Johor, Pahang, dan Trenggano.

Namun pertautan yang mesra tersebut belakangan mengalami pasang surat. Berawal dari ucapan Presiden Republik Indonesia pertama Soekarno, “Ganyang Malaysia!” Awal mula kemarahan Soekarno karena Malaysia ingkar janji. Semula Malaysia memang ingin bergabung dengan Indonesia untuk menghindari bergabung dengan Cina. Alasan Malaysia untuk bergabung dengan Indonesia dibandingkan dengan Cina karena Indonesia adalah saudara serumpun. Indonesia dan Malaysia sama-sama ras Melayu. Tapi tempo itu Jepan yang menjajah Indonesia menyerah kepada tentara sekutu. Lalu Malaysia berubah arah angin ingin merdeka sendiri, menentukan nasib sendiri. Lalu Malaysia memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 31 Agustus 1957, lebih muda dua belas tahun daripada Indonesia yang merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.

Hubungan Indonesia dan Malaysia selanjutnya mengalami pasang surut. Pada tahun 1980-an, Malaysia berusaha belajar dari Indonesia untuk meningkatkan SDM mereka. Bahkan kala itu pemerintah Malaysia mengimpor guru-guru dari Indonesia, khususnya guru-guru eksakta untuk mengajari murid-murid mereka. Di saat yang sama, Malaysia mengirim guru-gurunya belajar di luar negeri, khususnya Inggeris. Maka beberapa tahun kemudian Malaysia bergerak maju di bidang pendidikan dan SDM. Bukan hanya itu, Malaysia kian maju di segala bidang. Di saat yang sama, penduduk Indonesia kian bertambah banyak tanpa ditunjang oleh lapangan pekerjaan yang memadai. Maka berbondong-bondonglah warga Indonesia mengaiz rezeki di Malaysia sebagai bangsa kuli. Lalu, perlakuan yang semena-mena dari beberapa oknum majikan di Malaysia terhadap TKI dan TKW dari Indonesia membuat masyarakat Indonesia merasa dilecehkan. Seterusnya hubungan Indonesia dan Malaysia terkadang panas.

Bahkan salim klaim antara perbatasan dan pulau perbatasan antara Indonesia dan Malaysia kian memanaskan suasana. Bahkan setelah lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan ke tangan Malaysia melalui sidang mahkamah internasional membuat hubungan Indonesia dan Malaysia merenggang. Meski demikian, laiknya saudara sendiri, saudara serumpun. Hubungan Indonesia dan Malaysia tetaplah tidak bisa dipisahkan. Saling membutuhkan. Atau mungkin saling merindukan.

Karena sejarah panjang itulah. Hubungan Indonesia-Malaysia serupa hubungan kekasih. Terkadang ada benci. Pun terkadang ada marah. Tapi disebalik rasa benci dan marah itu ada rasa kasih dan sayang. Bukankah marah sesungguhnya adalah rasa sayang yang berlebihan? Sedangkan benci adalah rasa rindu yang tak kesampaian?

Dalam kesusastraan, jalinan hubungan Indonesia dan Malaysia tetaplah mesra. Bahkan seorang Sastrawan Negara Malaysia bernama Arena Wati adalah asli suku Bugis-Makassar. Arena Wati dilahirkan pada tanggal 30 Juli 1925 di Jeneponto, Sulawesi Selatan. Sastrawan Negara yang sangat dihormati di Malaysia yang berpulang ke rahmatullah pada tahun 2009 tersebut bernama asli Muhammad Dahlan bin Abdul Biang. Dalam kepengarangannya, Arena Wati selalu berusaha untuk mempertautkan nasionalisme Melayu.

Sastrawan Negara Malaysia lainnya yang memang asli orang Melayu bernama Usman Awang berusaha mempertautkan antara rumpun Melayu. Tengoklah penggalan puisi Usman Awang berikut ini:

Melayu di Tanah Semenanjung luas maknanya
Jawa itu Melayu,
Bugis itu Melayu
Banjar juga disebut Melayu,
Minangkabau memang Melayu,
Keturunan Acheh adalah Melayu,
Jakun dan Sakai asli Melayu
Mamak dan Malbari serak ke Melayu.

Dua puluh tahun setelah Arena Wati lahir di Jeneponto, di tempat yang sama lahirlah pula seorang penulis bernama Hasbullah Said. Walaupun beliau tidak sepenuh waktu berkecimpung di dalam dunia sastra dan dunia kepenulisan laiknya Arena Wati, tetapi sosok Hasbullah Said tetaplah patut dicatat sebagai seorang penulis yang berusaha mempertautkan hubungan Indonesia dan Malaysia.

Hasbullah Said lewat cerpen-cerpennya dalam buku ini melukiskan akan kerinduan itu. Kerinduan antara Indonesia dan Malaysia. Kerinduan antara Makassar dan Selangor, atau Makassar dengan Pulau Penang. Benci tapi rindu, mungkin kalimat itulah yang mewakili rasa antara Indonesia dan Malaysia. Cerita-cerita Hasbullah Said mengalir alami serupa mata air dari pegunungan Gunung Bawakaraeng dan Gunung Lompobattang dari Sulawesi Selatan serta Gunung Tahan dan Gunung Kinabalu dari Malaysia. Percikan mata air tersebut akan membawa Anda menikmati tetesan-tetesan kerinduan itu.


Dan cerpen “Tunggu Aku di Pantai Losari” yang juga menjadi judul buku kumpulan cerpen ini kian membawa Anda akan merindukan Makassar, khususnya Pantai Losari. Tapi sayang sekali kerinduan akan Pantai Losari dengan ikon “restoran panjang”nya sudah berubah. Pantai Losari seolah menggeliat khianat. Selamat membaca!

Yogyakarta, Desember 2010
Dul Abdul Rahman
(Sastrawan dan peneliti budaya, sejauh ini mengarang 7 buah novel)