Ketika aku masih sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Buludatu dan masih duduk
di kelas satu, aku diledek oleh teman-temanku karena celana yang kupakai nampak
kebesaran. Tentu saja saat itu aku menangis dan bergegas pulang ke rumah.
Setiba di rumah aku langsung mengadu pada ibuku bahwa teman-temanku
mengolok-ngolok celanaku yang kebesaran, aku minta pada ibuku agar menjahitnya
kembali dengan ukuran yang lebih kecil dan pas di badanku. Ibuku hanya
tersenyum-senyum mendengar penjelasanku. Kemudian ia menciumku dengan penuh
kasih sayang dan menepuk-nepuk celanaku.
Lalu ibuku membuka buku bergambar
mantan Presiden Soekarno lalu berujar “Lihatlah Nak! Ini fotonya mantan Presiden
Soekarno waktu sekolah dulu, celananya besar juga kan? Makanya Presiden
Soekarno itu pintar, ibu yakin engkau juga akan pintar seperti mantan Presiden Soekarno
karena celanamu juga besar”
Ucapan
ibuku kala itu benar-benar memberiku semangat yang luar biasa, dan aku langsung
berlari kembali ke sekolah dengan tersenyum-senyum sambil menenteng buku
bergambar mantan Presiden Soekarno itu. Dan bila ada yang mengejekku lagi bahwa
celanaku kebesaran, aku tidak bersedih lagi. Aku bahkan langsung tersenyum
bangga dan langsung menunjukkan foto mantan Presiden Soekarno waktu masih kecil
yang juga celananya kebesaran, lalu berujar “Jangan salah kawan-kawan! Aku
sengaja meniru model celana mantan Presiden Soekarno biar aku juga bisa pintar
seperti beliau.”
Akhirnya
celana itu aku pakai sampai tamat di Madrasah Ibtidaiyah Buludatu. Dan
alhamdulillah pernyataan ibuku benar adanya karena aku selalu ranking satu terus
menerus sampai tamat dari Madrasah Ibtidaiyah Buludatu, bahkan di MTsN dan SMA
juga aku selalu ranking satu. Ibuku sangat bangga karena disamping aku selalu
ranking satu, ia juga sangat menghemat karena cuma sekali saja ia membelikan celana
sekolah untukku. Rupanya inilah alasan utama ibuku membelikan aku celana yang
besar karena bisa dipakai selama enam tahun. Tapi itu tak menjadi soal buatku
karena orang tuaku memang miskin. Tapi biarpun miskin, mereka tetap cerdas.
Termasuk cerdas memilih celana yang bisa dipakai sampai enam tahun.
Teropong Karaeng Pattingalloang: “Matturatema ri
Bulang dan Quo Vadis Mahasiswa Makassar”
Oleh: Dul Abdul
Rahman
(sastrawan dan
peneliti budaya)
Kerajaan
Gowa mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-15, I
Mannuntungi Daeng Mattola atau lebih dikenal dengan Sultan Malikussaid. Saat
itu, pelabuhan Makassar merupakan salah satu kota termasyhur di dunia. Di depan
istana Somba Opu, ibukota kerajaan Gowa yang berada di pesisir sungai
Jeneberang, juga tak kalah ramainya. Dermaga internasional Makassar banyak
disinggahi oleh kapal-kapal dagang dari berbagai belahan dunia, seperti
Spanyol, Portugis, Inggris, atau Belanda. Tak ketinggalan kapal-kapal dagang
dari negara-negara Arab, Afrika, atau juga Asia khususnya kapal-kapal dagang
dari negeri Tiongkok dan Campa.
Orang
yang paling berjasa dalam menggapai kejayaan kerajaan Gowa, selain raja Gowa
sendiri, adalah seorang Mangkubumi kerajaan Gowa bernama Karaeng Pattingalloang
alias I Mangadacinna Daeng Sitaba. Ia menjabat sebagai mangkubumi (perdana
menteri, juru bicara, sekaligus panglima perang). Ia pun menjabat mangkubumi
sejak era pemerintahan Sultan Alauddin, Sultan Malikussaid, dan Sultan
Hasanuddin.
Karaeng
Pattingalloang adalah seorang intelektual sejati. Ia menguasai beberapa bahasa
asing, seperti bahasa Inggeris, Latin, Spanyol, Portugis, Belanda, Perancis,
Cina, dan tentu saja bahasa Arab. Dengan penguasaan beberapa bahasa itulah,
Karaeng Pattingalloang begitu gampang bekerjasama dan berdiplomasi dengan dunia
internasional.
Karaeng
Pattingalloang juga adalah seseorang yang sangat haus dengan ilmu pengetahuan.
Menurut catatan pastor Alexander de Rhodes yang sering berkunjung ke ruang
kerjanya, ruang kerja Karaeng Pattingalloang lebih menyerupai sebuah
perpustakaan daripada sebuah ruang kerja seorang perdana menteri, apalagi
seorang panglima perang. “Masakan seorang panglima perang tidak mempunyai alat
perang atau minimal replika alat perang dalam ruang kerjanya,” begitulah batin
de Rhodes.
Buku-buku
dari beragam bahasa terpampang di ruang perpustakaan (ruang kerja) Karaeng
Pattingalloang. Dari buku-buku Al-Ghazali yang berbahasa Arab hingga buku-buku
Louis de Granada yang berbahasa Spanyol. Dari buku-buku agama, sastra dan
filsafat hingga buku-buku sains.
Bahkan
Karaeng Pattingalloang sangat tergila-gila dengan ilmu sains khususnya
matematika dan fisika. Demi menunjang minatnya yang kuat terhadap ilmu sains,
ia pun memesan langsung atlas bumi dan teropong bintang dari negeri Belanda.
Saat itu, kedua barang tersebut sangat langka dan mahal, bahkan tergolong
barang rahasia negara. Andaikan bukan karena Karaeng Pattingalloang, maka tidak
mungkin kedua barang langka tersebut dikirim ke Somba Opu. Saingan Belanda kala
itu.
Saban
malam, bila berada di benteng Somba Opu, Karaeng Pattingalloang pun selalu
menggunakan teropong. Ia membayangkan suatu saat ada ilmuwan Tana Mangkasara
yang bisa mencapai bulan. Mungkin saja, sambil meneropong bulan dan
bintang-bintang, Karaeng Pattingalloang memekik, “Matturatema ri bulang.” (Saya
sudah sampai di bulan)
…
Siang
yang sangat terik. Macet di jalan Sultan Alauddin sungguh mencekik. Mahasiswa
yang berkampus di jalan poros Gowa-Makassar menutup jalan dengan kasar. Saya,
yang kebetulan melewati jalan itu selepas memberikan materi penulisan di kampus
Universitas (sultan) Hasanuddin, terperangkap dalam kemacetan panjang. Saya
memekik kepanasan, roda dua yang saya kendarai tak ber-AC. Saya yang memang
kurang sehat kala itu tak bisa bertahan, saya hampir pingsan. Saya pun
menepikan kendaraan dan mampir di sebuah masjid.
Saya
tertidur sejenak di dalam masjid. Dalam tidur saya bermimpi melihat Karaeng
Pattingalloang sedang asyik membaca buku di perpustakaan pribadinya, sesekali
ia memperhatikan atlas bumi yang berada di depannya. Keningnya mengerut,
mungkin ia berpikir mengapa yang tercatat dalam sejarah penemu Amerika adalah
Christopher Columbus, mengapa bukan orang-orang Celebes. Bukankah perahu-perahu
Pinisi dari Celebes sudah bisa mencapai Madagaskar atau Venecia, bahkan
terdampar di Pulau Acapulco jauh sebelum Columbus juga terdampar di pantai itu
lalu mengklaim diri sebagai penemu?
Karaeng
Pattingalloang berdiri sejenak. Ia memandangi buku-buku di perpustakaannya.. Sambil
tersenyum, Karaeng Pattingalloang berharap dalam hati, “Kelak anak-cucuku harus
banyak membaca dan meneliti, tana Mangkasara harus menjadi lokomotif ilmu
pengetahuan.”
Terlihat
Karaeng Pattingalloang memasang telinganya. Ia menuju jendela perpustakaannya.
Lalu ia mengambil teropongnya. Nampak nyata tana Mangkasara di pelupuk matanya.
Buku-buku di perpustakaan kampus tetap baru tapi berdebu karena jarang
tersentuh. “Dimana mahasiswa?” Batinnya sambil mengarahkan dan menge-zoom
teropongnya ke arah jalan Sultan Alauddin. Mahasiswa membakar dan
berteriak-teriak histeris sambil menutup jalan. Karaeng Pattingalloang pun
memekik, “Quo Vadis mahasiswa Makassar?”
Seorang
pakar kebohongan (bukan pakar pembohong) berkebangsaan Amerika Serikat bernama
Duke Christoffersen pernah melakukan penelitian apakah orang-orang Amerika
berlaku jujur atau berperilaku bohong. Pertanyaan Christoffersen hanya satu,
“Apakah Anda tidak pernah berbohong?” Hasilnya, hanya 5 persen saja orang
Amerika yang diwawancari oleh Christoffersen mengaku tidak pernah berbohong.
Berarti 95 persen orang Amerika adalah pembohong.
Christoffersen
membuat simpulan, 95 persen orang Amerika adalah orang-orang jujur, selebihnya
5 persen adalah pembohong besar. Ketika Christoffersen digugat oleh 5 persen
responden yang mengaku tidak pernah berbohong tetapi dikatakan sebagai
pembohong besar, maka Christoffersen pun memberi alasan yang sangat
mengejutkan, “Jika Anda mengaku tidak pernah berbohong, maka Anda telah
melakukan kebohongan terbesar dalam hidup Anda.”
Begitulah,
Christoffersen dalam bukunya The Shameless Liar’s Guide mengurai sekilas
sejarah Amerika yang penuh dengan kebohongan. Tentu saja sejarawan Amerika bersikap
jujur dalam menjelaskan kebohongan-kebohongan tersebut. Salah satunya yang
terjadi pada tahun 1999, ketika Presiden Amerika Serikat kala itu Bill Clinton
beberapa kali muncul di teve membuat pernyataan, “Saya tidak mempunyai hubungan
seksual dengan wanita lain, kecuali dengan isteri saya sendiri (Hillary Rodam
Clinton).” Tetapi akhirnya laku Clinton ketahuan juga, ia pun mengakui
perbuatannya lalu menuliskannya dalam sebuah buku.
Otobiografi
perselingkuhan Clinton dengan mantan sekretaris pribadinya bernama Monica
Lewinsky pun menjadi buku best-seller. Salah satu alasan buku tersebut diburu oleh
publik Amerika, karena Clinton jujur menceritakan kisah perselingkuhannya.
Clinton pun mengakui pendapat Friedrich Nietzsche, “Mulut boleh bohong, tetapi
meskipun demikian wajah kita menyiratkan kebenaran.”
...
Alasan
utama manusia berbohong adalah untuk bertahan, mempertahankan harga diri. Dan
yang paling mahal tentunya adalah mempertahankan ‘harga’ jabatan. Bukankah
sering seseorang menjual harga dirinya untuk membeli ‘harga’ jabatan? Dan
ketika kebohongan seseorang terbongkar maka jabatan pun akan hangus terbakar.
Kebohongan
memang adalah senjata untuk bertahan. Tetapi orang tidak sadar bahwa setiap
kali senjata kebohongan ditembakkan maka senjata tersebut akan mengalami kemiringan
beberapa derajat. Karena ketika senjata kebohongan ditembakkan maka saat itu
juga peluru-peluru kebenaran akan bergetar dalam sanubari sang pembohong. Ketika
kemiringan senjata kebohongan sudah mencapai angka 90 derajat, maka bila
seseorang tidak berhati-hati atau bertobat, dan terus menembakkan senjata
kebohongan, maka peluru-peluru kebenaran akan semakin bergetar menuju angka 180
derajat. Saat itu juga senjata kebohongan akan menembak diri sendiri.
Berbeda
dengan kebohongan, sesungguhnya kejujuran juga adalah alat untuk bertahan. Tetapi
kejujuran bukanlah sebuah senjata, ia adalah sebuah tameng. Semakin tameng kejujuran
terus terpasang maka tameng itu semakin menebal. Ketika tameng pertahanan diri
semakin menebal maka hati pun akan menjadi tenteram. Harga diri, apalagi ‘harga
jabatan’ pun akan bertahan.
Maka
sebelum senjata kebohongan mencapai kemiringan maksimal 180 derajat dan
menembaki dirinya sendiri, maka Clinton pun berusaha bertahan. Ia membuang
senjata kebohongan dan mencoba memasang tameng kejujuran. Ia pun selamat.
Bahkan isterinya Hillary, yang awalnya sangat sakit hati atas ulah sang suami,
akhirnya bisa memaafkan suaminya yang dengan gentlemen memasang tameng
kejujuran.
Bagaimana
dengan Muhammad Nazaruddin? Apakah aktor fenomenal dalam sandiwara korupsi di
Indonesia itu aman dari senjata kebohongan seperti halnya Clinton?
Meski
tema dan tingkat kedalaman kebohongan berbeda, tetapi rupanya Nazaruddin juga
paham bahwa alat untuk bertahan bukan hanya dengan senjata kebohongan, tetapi
ada yang lebih terhormat, tameng kejujuran. Maka, di saat-saat senjata
kebohongan sudah hampir mencapai kemiringan 180 derajat, Nazaruddin pun cepat
memasang tameng kejujuran. Ia membongkar dengan jujur segala senjata-senjata
kebohongan yang ia telah tembakkan secara berjamaah bersama rekan-rekannya
(berubah menjadi musuh-musuhnya).
Selamatkah
Nazaruddin? Sang Alim dari kepercayaan dan agama apa pun akan sepakat dengan
sebuah pernyataan, “Manusia akan selamat dengan memasang tameng kejujuran.”
Saya
kira Nazaruddin juga percaya dengan kalimat tersebut, sangat percaya malah.
Hanya saja, tameng kejujuran yang dipasang oleh Nazaruddin adalah tameng yang
terlalu tipis untuk menahan beribu-ribu senjata kebohongan yang terlanjur
membidik dirinya sendiri. Bukan hanya itu, senjata kebohongan Nazaruddin juga
siap menembak teman-teman aktornya dalam sandiwara korupsi di Indonesia.
Bermula
dari cerita I La Galigo, sebuah napak tilas manusia pertama di kerajaan bumi,
bahwa manusia pertama yang menghuni bumi adalah Batara Guru. Ia adalah tomanurung
(orang yang turun) dari langit. Sang tomanurung (Batara Guru) berjodoh
dengan We Nyiliq Timoq, perempuan totompoq (orang yang muncul) dari
dunia bawah (Peretiwi). Duet tomanurung dan totompoq yang maddara
takkuq (berdarah putih, bangsawan) kemudian beranak-pinak membentuk
kerajaan di jazirah Sulawesi.
Selanjutnya,
akibat pengaruh epik I La Galigo, yang dulunya sangat disakralkan dan dianggap
sebagai sebuah kitab suci, maka sejarah dan asal-usul kerajaan di jazirah
Sulawesi ikut terselubung oleh mitos tomanurung. Semua raja pertama
konon adalah tomanurung, manusia suci atau manusia sakti dari langit. Tentu
saja ini hanyalah sebuah mitos, tetapi sejak dahulu hingga sekarang orang tetap
percaya kepada mitos atau hal-hal gaib lainnya.
Sebenarnya,
pengakuan sebagai manusia tomanurung sengaja di-lontara-kan oleh pihak istana
kerajaan, lalu dituturkan secara lisan agar masyarakat semakin tunduk dan patuh
kepada sang raja yang notabene adalah tomanurung atau turunan tomanurung.
Itulah sebabnya, lontara I La Galigo hanya dimiliki keluarga kerajaan yang
dianggap sebagai kitab yang sangat sakral, dan tidak bisa dipindahtangankan
kepada pihak yang bukan turunan tomanurung. Makanya, ketika B.F Matthes
ingin memiliki lontara I La Galigo, ia terpaksa meminta Colliq Pujie Arung
Pancana Toa menyalin lontara tersebut untuknya.
Dalam
sejarah kerajaan di jazirah Sulawesi, konsep tomanurung tetap terjaga. Bila
suatu kerajaan mengalahkan kerajaan lain, maka sang pemenang tidak akan
mengganggu sistem kepemimpinan tomanurung pada kerajaan yang kalah.
Ketika Gowa takluk, Arung Palakka tidak serta merta punya hak berkuasa di Gowa.
Sebab Gowa hanya boleh dipimpin oleh turunan tomanurung di Gowa. Hanya
saja Arung Palakka yang bercita-cita ingin menyatukan kerajaan di Sulawesi
Selatan (termasuk Sulawesi Barat) punya taktik jitu, ia menikahkan La Patau
(putra mahkota kerajaan Bone) dengan putri Raja Gowa Karaeng Sanrabone alias I
Mappadulung Daeng Mattimung Sultan Abdul Jalil.
Yang
sangat menarik, dengan konsep tomanurung, tidak ada huru-hara dalam
pergantian kekuasan pada kerajaan-kerajaan terdahulu di Sulawesi Selatan. Tidak
ada peristiwa ala Ken Arok yang membunuh Tunggul Ametung lalu memperisteri Ken
Dedes dan berkuasa, selanjutnya adalah perebutan kekuasan dan pertumpahan
darah.
…
Di
era demokrasi sekarang ini, konsep tomanurung sebenarnya tidaklah hilang
(atau jangan dihilangkan). Ia hanya berubah wajah menjadi pemilu/pilkada.
Pemimpin yang terpilih lewat pilkada sebagai wajah lain konsep tomanurung,
semestinya disambut dengan suka cita sebagai orang ‘manurung’ (turun) untuk
membangun daerahnya menjadi lebih baik. Pihak yang kalah harus menyadari bahwa
mereka bukanlah tomanurung yang dinginkan oleh rakyat.
Di
sisi lain, mereka yang terpilih, harus juga sadar bahwa mereka adalah tomanurung,
orang yang turun membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Dan yang
terpenting, mereka yang terpilih harus benar-benar berperilaku sebagai tomanurung,
manusia suci yang turun dari langit suci demokrasi, manusia yang yang
bertanggung jawab, jujur, dan amanah. Sebab jika tidak, sang tomanurung
akan mendapat kutukan.
Pada
akhir cerita I La Galigo, Sang Patotoe menutup pintu langit sebagai sebuah
hukuman kepada tomanurung yang semena-mena memerintah di kerajaan bumi. Sejarah
juga mencatat, meski seorang pemimpin (raja) sudah terpilih, tetapi jika ia
menyalahi sumpah dan janji maka ia pun akan dicap sebagai sang peresola
(sang perusak) yang harus disingkirkan. Itulah yang menimpa Raja Gowa ke-13
Karaeng Tunipasulu Tepukaraeng Daeng Marabbung, ia dimakzulkan oleh Bate
Salapang (Dewan Adat) Kerajaan Gowa karena dianggap semena-mena dan tidak adil.
…
Sejatinya, bilamana pemilu/pilkada dianggap sebagai
wajah lain konsep tomanurung, yang akan melahirkan sang pemimpin yang
akan turun membawa perubahan ke arah yang lebih baik, maka tidak ada lagi
huru-hara yang mewarnai pesta demokrasi di negeri ini, khususnya Sulawesi
Selatan sebagai Bumi Tomanurung. Sebab yang terpilih haruslah diselamati
sebagai tomanurung yang turun membawa perubahan. Pun, sang tomanurung
yang terpilih harus berjanji pada dirinya sendiri untuk turun gelanggang,
menyingsingkan lengan baju untuk menjalankan janji-janji program kampanyenya.
Sebab tomanurung dalam wajah demokrasi sekarang ini lebih bermakna
sebagai seorang pelayan
Sekitar abad XVI, persekutuan
Kerajaan Tellulimpoe (Lamatti, Bulo-Bulo, dan Tondong) melakukan perjanjian
dengan Raja Gowa X Karaeng Tunipallanggaalias I Manriogau Daeng Bonto Karaeng Lakiung. Ketiga kerajaan yang
menjadi cikal-bakal Kabupaten Sinjai itu bersama persekutuan Pitulimpoe, diwakili
oleh Arung Lamatti bernama Arung Pali’e. Perjanjian tersebut berlangsung di
Aruhu di bawah pohon beringin. Perjanjian itu berisi kesepakatan antara
Kerajaan Gowa dan persekutuan Kerajaan Tellulimpoe untuk saling membantu dan
saling mengingatkan dalam hal kebaikan. Barang siapa yang mengingkari isi
perjanjian tersebut, maka ia akan ditimpa oleh pohon beringin yang sudah
ditanam bersama di Aruhu. Isi perjanjian lainnya, Gowa dan Tellulimpoe adalah
bersaudara. Gowa dan Tellulimpoe harus bersatu padu, bila Gowa meninggal di
pagi hari, maka Tellulimpoe menyusul di sore hari. Gowa dan Tellulimpoe akan Mate
Siwalung (mati bersama).
Belum cukup setahun peristiwa perjanjian
Aruhu tersebut, datanglah utusan Raja Gowa ke Tellulimpoe. Raja Gowa Karaeng
Tunipallangga meminta bantuan dari persekutuan Tellulimpoe untung menyerang
Kerajaan Bone. Tentu saja para arung di Tellulimpoe sangat terkejut dengan
permintaan Raja Gowa, sebab bagi Tellulimpoe, menyerang Bone sama dengan
menyerang dan mengkhianati saudara sendiri.
Maka berkumpullah para arung dan
bangsawan ketiga kerajaan persekutuan Tellulimpoe. Pertemuan berlangsung
hening, para bangsawan hanya terdiam, umumnya mereka menyesalkan Raja Gowa yang
ingin menyerang Bone, tetapi ada juga yang bisa memahami langkah Raja Gowa,
sebab Bone merupakan pesaing utama Gowa, apalagi saat itu Bone sudah menjalin
kerjasama erat dengan Soppeng dan Wajo atas prakarsa utama penasehat Kerajaan
Bone, La Mellong Kajao Laliddong.
Di tengah keheningan tersebut, Arung
Pali’e yang menjadi wakil persekutuan Tellulimpoe ketika mengadakan perjanjian
dengan Karaeng Tunipallangga, berdiri sambil memandang semua yang hadir.
“Kita tidak mungkin ikut menyerang
Bone yang merupakan saudara kita sendiri,” Arung Pali’e menggeleng-gelengkan
kepalanya, lalu melanjutkan kalimatnya, “tetapi kita tidak bisa juga menolak
permintaan Raja Gowa karena kita sudah mengikat perjanjian dengan mereka.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan,
Puang?” Tanya La Patolai yang kelak akan menggantikan Arung Pali’e bertahta di
Lamatti.
“Saya tidak rela pasukan Tellulimpoe
ikut menyerang Bone, tetapi karena Tellulimpoe terlanjur sudah mengikat
perjanjian dengan Gowa maka saya tetap akan mengutus seorang panglima
Tellulimpoe untuk bergabung dengan pasukan Gowa. Karena sayalah yang bertanggung
jawab langsung atas segala perjanjian dengan Gowa di Aruhu, maka saya
sendirilah satu-satunya utusan Tellulimpoe. Dan, kelak bila saya gugur dalam
perang, maka janganlah kalian menganggap saya gugur karena berperang melawan
saudara sendiri, tetapi anggaplah saya gugur dalam menegakkan harga diri orang
Tellulimpoe, harga diri kita adalah taro ada taro gau (satunya kata
dengan perbuatan).
Maka bergabunglah Arung Pali’e
seorang diri dari Tellulimpoe dengan pasukan Gowa untuk menyerang Bone. Dalam peperangan
antara Gowa dan Bone yang terkenal dengan nama perang Tobala tersebut, Arung
Pali’e pun tewas terbunuh. Orang Tellulimpoe pun menggelari Arung Pali’e
sebagai arung tolempu na magetteng (orang jujur dan teguh pendirian)
…
Arung Pali’e adalah sosok lelaki
Bugis yang memegang prinsip taro ada taro gau. Ia adalah sosok pemimpin
yang malempu (jujur) dan magetteng (teguh pendirian). Ia adalah
perwujudan nilai-nilai keteladanan orang Bugis-Makassar “Eppa’i gau’na
gettennge: tesalaie janci, tessoroe ulu ada, telluka anu pua teppinra
assituruseng, mabbicarai naparapi mabbinru’i tepupi napaja.” (Ada empat
perbuatan nilai keteguhan: tidak mengingkari janji, tidak menghianati
kesepakatan, tidak membatalkan keputusan, tidak mengubah kesepakatan).
Adakah
lelaki Bugis sekarang seperti Arung Pali’e? Lelaki Bugis yang rela menyerang
saudaranya sendiri, menyerang dirinya sendiri, mengorbankan dirinya sendiri, demi
menegakkan harga dirinya: taro ada taro gau.
Ah!
Jangan-jangan sekarang, lelaki Bugis berubah menjadi lelaki bengis. Lelaki yang
begitu gampang membuat janji lalu dengan sangat gampang pula menghianati janji
dan kesepakatan, karena ia adalah lelaki pengemis, pengemis harta dan jabatan.
Ataukah lelaki Bugis menjadi lelaki gamis, lelaki yang sering puasa
senin-kamis, tapi korupsinya juga berjalan lancar seperti air yang tak
bertapis. Maka, wahai lelaki Bugis! Jangan pernah memahat janji lalu sibuk
mencari alibi untuk tidak menepati janji. Ya, termasuk janji-janji politik. Assekki
Ada Jancie (Berpegang teguhlah pada janji).
Sekitar abad XVII, Raja Bone
mendengar kabar tentang seorang pemuda yang berani dan cerdas. Pemuda yang
bernama La Mellong tersebut berasal dari Kampung Laliddong, kampung kecil yang
masih berada dalam wilayah kekuasan Kerajaan Bone.
Raja
Bone pun memanggil pemuda tersebut untuk dijadikan sebagai kajao (penasehat
kerajaan). Tetapi sebelumnya, sang raja ingin mengetes kecerdasan pemuda
tersebut. Maka, sang raja pun memerintahkan La Mellong untuk mengumpulkan 70
orang buta dalam waktu yang singkat. Sang raja juga meminta La Mellong untuk
membawa benda pusaka miliknya. Setelah berpikir sejenak, La Mellong pun
mengiyakan kedua permintaan sang raja.
La
Mellong segera kembali ke rumahnya di kampung Laliddong. Ia mengambil tangga
rangkiang tua miliknya. Lalu ia menyeret tangga itu menuju istana kerajaan Bone.
Di tengah jalan, orang-orang pun bertanya, “Apa yang engkau bawa La Mellong?”
Setiap
ada orang yang bertanya, maka La Mellong pun meminta orang itu ikut bersamanya
menuju istana. Setiba di depan istana, sudah ada 69 orang yang mengikuti La Mellong.
“Hei!
Apa yang engkau bawa itu, La Mellong?” Tanya seorang pengawal istana ketika La
Mellong menyeret tangga rangkiang tuanya melewati gerbang istana.
“Pammasena
Dewatae (Syukur Alhamdulillah), saya sudah menemukan 70 orang buta,” ujar
La Mellong dalam hati sambil bergegas menemui sang raja.
“Tabek
Puang, saya sudah membawakan 70 orang buta dan juga benda pusaka milikku,” ujar
La Mellong.
“Ha?
Orang buta? Tangga rangkiang? Engkau jangan main-main La Mellong!” ujar sang
raja dengan suara meninggi.
“Ampun
Puang!” La Mellong menyembah, “Sungguh saya tidak bermaksud bermain-main
apalagi mau mengelabui Puang, tapi ketahuilah bahwa 70 orang yang datang bersamaku
ini adalah orang-orang buta. Buktinya, ketika saya berjalan sambil menyeret
tangga rangkiang dari kampungku menuju istana ini, mereka bertanya padaku
tentang apa yang saya bawa, andaikan mereka melihat bahwa yang saya bawa adalah
tangga rangkiang maka tentu mereka tidak akan bertanya. Begitulah Puang, banyak
diantara kita yang matanya melihat tetapi mata hatinya tidak melihat.”
Seketika
sang raja menggeleng-geleng kepala sambil tersenyum, “Engkau benar La Mellong.”
Lalu sang raja menatap lekat-lekat tangga rangkiang tua milik La Mellong.
“Tapi
mengapa engkau membawa tangga rangkiang tuamu yang sudah mulai lapuk?”
La
Mellong cepat mengangkat tangga rangkiang tua miliknya yang terbuat dari bambu,
“Tabek Puang, inilah benda pusaka milikku.”
“Hah?
Benda pusaka? Lalu apa keistimewaan tangga rangkiangmu itu?” Cecar raja.
“Tabek
Puang, tangga ini mempunyai tiga keistimewaan. Pertama, bila saya
menemukan dua orang yang berselisih maka saya akan memberikan tangga ini kepada
keduanya agar mereka bisa bertemu dan saling mengenal, sebab penyebab utama dua
orang bertengkar atau berselisih paham karena mereka tidak saling mengenal. Kedua,
bila saya bertemu dengan orang yang lapar di tengah hutan sedangkan mereka
tidak bisa memanjat pohon, maka saya cukuplah memberi tangga ini agar orang
lapar itu bisa memetik sendiri buah-buahan yang ranum di pepohonan, kalau saya
memberikan mereka buah maka mereka akan kelaparan lagi bila buah pemberian
tersebut sudah habis. Ketiga, ketika saya berjumpa dengan seorang
pejabat kerajaan, maka saya akan memberikan tangga ini, agar mereka
berhati-hati naik tangga atau pun turun tangga, sebab bila seseorang terlalu
serakah melompat maka bisa saja ia akan terpeleset dan terjatuh,” jelas La
Mellong.
“Engkau
benar-benar cerdas La Mellong, mulai sekarang engkau akan kuangkat menjadi
penasehat utama kerajaan,” tegas sang raja.
La
Mellong pun resmi menjadi seorang penasehat kerajaan. Ia diberi gelar Kajao
Laliddong.
…
Makassar,
kota yang acapkali dicap kasar, karena penduduknya berkelahi melulu di layar
teve-teve juga mungkin kurang ajar
karena hanya mengejar pasar- padahal masih banyak sudut kota Makassar yang
damai tapi tak diberitakan. Makassar butuh tangga La Mellong agar warga yang
selalu bertikai tidak lagi saling melempar, tetapi saling mengunjungi dan
berdamai dengan hati sabar dan jiwa yang besar.
Tak
hanya sebatas kota Makassar, tetapi Indonesia saat ini sangat butuh tangga La
Mellong. Para pemimpin perlu memiliki tangga La Mellong, agar mereka selalu
berhati-hati dalam memanjat, baik memanjat pangkat maupun memanjat harta.
Karena bisa saja kalau mereka memanjat harta dengan melompat terlalu tinggi,
lalu mengambil yang bukan haknya, maka mereka akan terjatuh dalam penjara Komisi Pemberantasan Korupsi. Maka,
sebelum mereka terkena kutukan adagium ‘sudah terjatuh tertimpa tangga pula’
maka sebaiknya mereka meminjam tangga La Mellong.
Setelah berhitung segala ongkos
kepulangannya, pun plus-minusnya, akhirnya Sangkala memutuskan untuk mudik.
Lagipula tidak ada alasan baginya untuk tidak mudik. Tidak seperti lima tahun
sebelumnya, setiap lebaran tiba, Sangkala selalu terburu-buru memburu mudik.
Saat itu ia masih berstatus mahasiswa. Saat itu pula ia benar-benar menikmati
mudik. Mudik baginya seperti sebuah terapi untuk melupakan segala rutinitasnya
di kampus. Ia bisa bercengkerama dengan teman-teman sekolahnya, pun teman masa
kecilnya di kampungnya dulu. Ia bisa menikmati wajah-wajah kampung ramah dan
bersahabat. Pun ia bisa menjadi sosok idola bagi para bunga-bunga desa di
kampungnya. Predikat mahasiswa yang ia sandang kala itu seperti sebuah azimat
yang dapat meluluhkan hati setiap bunga desa yang ayu dan kemayu.
Tapi kini, setiap lebaran tiba,
Sangkala benar-benar berhitung masak-masak. Jarak antara Makassar dengan
kampung halamannya tidaklah terlalu jauh di pelosok desa di kabupaten Sinjai.
Uang transport pulang pergi cukuplah seratus lima puluh ribu rupiah saja. Tapi
bukan itu yang membuat Sangkala berpikir keras. Tapi oleh-oleh buat para
kerabat dekatnya, ponakan-ponakannya, bahkan para tetangganya adalah sesuatu
yang ia harus persiapkan. Ia malu bila ia tiba di rumah orang tuanya di kampung,
lalu banyak kerabat yang mengunjunginya tapi tidak diberikan apa-apa. Apalagi
Sangkala telah dicap di kampungnya sebagai orang sukses. Padahal sesungguhnya
pendapatan Sangkala hanyalah cukup untuk biaya hidup saja. Ia belum mapan,
apalagi mau disebut orang kaya. Tapi Sangkala harus mudik. Lalu. Mau tak mau ia
harus mengeringkan rekeningnya di bank.
…
Orang-orang seperti Sangkala sangat
mudah kita lihat dimana-mana. Di pelabuhan-pelabuhan, di terminal-terminal,
tapi jangan lihat di bandara-bandara. Kita bisa melihat wajah para pemudik yang
kuyu tetapi tetap terpancar kebahagiaan karena akan bertemu dengan para kerabat
dan handai tolan, meski kebanyakan dari mereka tetap membawa sebungkus
kegelisahan karena biaya mudik. Tapi hakekatnya mereka tetap bahagia.
Kata
mudik tidak persis sama dengan pulang, tapi jelasnya bila kita mendengar idiom
mudik maka yang terbayang dalam ingatan kita adalah pulang atau pulang kampung.
Berbeda dengan kata pulang, mudik mengandung arti tersendiri. Istilah mudik
baru dibicarakan pada saat-saat tertentu yang dianggap sakral seperti saat
lebaran, pun natalan.
Dengan mudik, orang-orang yang sudah
kehilangan jati dirinya dalam hiruk pikuk dan kepalsuan kota, ingin menemukan
dirinya kembali dengan mengenang masa-masa lalunya di kampung halaman yang
penuh dengan kenangan indah. Mereka yang di kota hanya dihitung sebagai angka-angka
pecahan, pun sebagai mor kecil yang berkarat dalam mesin raksasa kota yang
rakus ingin menemukan jati dirinya sebagai manusia. Mereka juga ingin melupakan
wajah-wajah kota yang garang untuk menikmati keramahan wajah-wajah kampung
dengan girang. Para pembantu rumah tangga ingin bebas sementara dari
majikan-majikan perempuan yang galak, atau mata majikan laki-laki yang jalang.
Para buruh-buruh pabrik ingin bebas dari raungan mesin-mesin yang pongah dengan
menikmati desahan sungai-sungai yang renyah. Dengan mudik, mereka dapat
merenungkan apa yang telah dikerjakannya dan merenungkan eksistensi dirinya
sebagai manusia. Itulah makna mudik.
“Mudik adalah salah satu terapi
untuk manusia modern,” kata Jalaluddin Rakhmat. “Manusia modern melahirkan
manusia robot,” kata Lewis Yablonsky. Manusia robot telah kehilangan
kreativitas, mereka menjadi mesin yang terikat pada rutinitas yang monoton,
mereka digerakkan secara massal oleh para pemegang kebijakan, baik penguasa
maupun pengusaha yang terkadang susah dibedakan. Pagi hari bangun, mandi,
sarapan lalu ke kantor untuk mengerjakan pekerjaan yang itu-itu juga. Sehingga
kota-kota besar telah menjadi rumah sakit jiwa yang besar yang dihuni oleh para
manusia robot sehingga penyembuhannya memerlukan suatu terapi yang memanusiakan
manusia. Ya, itulah makna mudik.
Sayang! Kebanyakan yang berburu dan
terburu-buru untuk mudik hanyalah orang-orang kecil saja. Alangkah indahnya
bila mudik sebagai terapi manusia modern dilakukan pula oleh para penguasa pun
pengusaha. Dan mudik jangan hanya pada waktu lebaran saja, sehingga mereka itu
para penguasa dan pengusaha bukan lagi manusia robot yang melibas manusia
dengan tangan kekuasaannya, tetapi mereka memperlakukan manusia secara
manusiawi sebab dengan mudik mereka akan menemukan kemanusiaan dirinya sebagai
manusia.