Minggu, 15 Mei 2011

“MEMBONGKAR” EPISTEMOLOGI SASTRA
Oleh: dul abdul rahman

“Garis demarkasi antara sastra dan bukan sastra tidak begitu tetap dan pasti”
(Jan Van Luxemburg)

Saya terpaksa meminjam pendapat Jan Van Luxemburg sebagai “tameng” untuk memulai tulisan ini. Alasannya karena saya sadar tulisan ini pasti mendapat tanggapan pro-kontra. Pun saya takut “bongkaran” yang saya lakukan hanya kian merusak bangunan sastra itu sendiri. Tapi saya percaya setiap “bangunan”(boleh dibaca: karya sastra) akan selalu mengundang pro-kontra. Pro-kontra ini(boleh dibaca: polemik) dari sejak dulu sampai sekarang masih terjadi, maka polemik itu sendiri akhirnya mendapat legitimasi sebagai sebuah khasanah sastra. Bahkan saya yakin suatu karya yang mendapat tanggapan pro-kontra akan menjadi nilai tersendiri bagi karya sastra itu sendiri.

Sebuah “Pembongkaran” Sastra?

Entah, sesuatu yang pro-kontra selalu menarik untuk dibaca. Simaklah! Buku History of the Decline and Fall of the Roman Empire karya sejarawan ternama Inggeris, Thomas Gibbons yang awalnya tidak dianggap sebagai sebuah karya sastra akhirnya kini digolongkan sebagai sebuah karya sastra. Alasan digolongkannya buku sejarah itu ke dalam sebuah karya sastra karena bahasa yang digunakan begitu metaforis dan diksitif. Dari sini bisa muncul pertanyaan, apakah suatu berita atau sejarah yang ditulis secara sastrawi bisa digolongkan menjadi sebuah karya sastra?
Memang saat ini banyak tulisan-tulisan yang sebenarnya hanyalah sebuah laporan atau berita tetapi penulisannya dengan gaya sastrawi, Linda Christanty misalnya, dia adalah seorang cerpenis sekaligus wartawan, sehingga kadang tulisannya “ngecerpen”. Bahkan saya pernah membaca cerpen M Aan Mansyur yang berjudul Kerbau-kerbau dalam Buku John yang sebenarnya hanyalah cerita tentang kerbau yang mana cerita itu sudah diketahui oleh masyarakat umum, tetapi sebagai seorang penyair, Aan sangat piawai mengolahnya dengan kata-katanya yang khas sehingga membentuk sebuah dunia baru tapi sebenarnya dunia itu tidak sepenuhnya baru. Jadi pertanyaan selanjutnya yang muncul, apakah bahasa menjadi patokan utama sebuah karya atau tulisan bisa disebut sebuah karya sastra?

Sekarang ini pun perdebatan-perdebatan tentang layak-tidaknya sebuah karya disebut sebagai sebuah karya sastra terdengar kian santer. Laskar Pelangi misalnya, banyak pembaca(entah mereka paham atau tidah begitu paham dengan sastra) mengatakan bahwa Laskar Pelangi bukan sebuah novel(baca karya sastra). Tentang Laskar Pelangi ini bisa dibaca pada tulisan saya berjudul Benarkah Laskar Pelangi Bukan Sebuah Novel?(Fajar, 12 April 2009). Selanjutnya Ayat-Ayat Cinta juga mendapat tanggapan pro-kontra dari para pembaca(boleh juga dibaca: pengamat). Alasannya karena dalam Ayat-Ayat Cinta, pembaca hanya disuguhi nasehat-nasehat (baca: dakwah) sehingga pembaca tidak punya ruang gerak untuk berimajinatif. Bahkan novel ini pun disertai dengan buku-buku reference yang kian mengesankan bahwa memang Ayat-Ayat Cinta hanyalah sebuah buku dakwah. Pembaca yang lain yang agak “bersahabat” tetapi tetap nampak tidak “ikhlas” dengan menyebut bahwa sesungguhnya Ayat-Ayat Cinta adalah karya sastra tetapi sastra islami.

Penamaan sastra islami (yang sebenarnya lahir berdampingan dengan istilah sastra sekuler) sebenarnya kian membingunkan. Bukankah pengkotak-kotakan semacam itu hanya kian memperkeruh bangunan sastra itu sendiri? Lalu. Kalau ada istilah sastra islami yang sudah pasti “rohnya” adalah Islam, lalu sastra sekuler itu rohnya apa? Bukankah istilah “kebarat-baratan” sangat naif bila diidentikkan dengan “kekristenan?” Kalau begitu ada jugakah yang disebut sastra kristiani, sastra hindu, sastra Buddha?

Sebenarnya, bila ada “pengkotak-kotakan” istilah, apakah itu sastra islami atau sastra lainnya yang dimaksudkan sebagai sebuah identitas maka sesungguhnya bisa menjadi khazanah sastra. Namun bila pengkotakan yang dimaksudkan sebagai “pemisahan” bukan “pengklasifikasian” karena alasan-alasan tertentu misalnya urusan kualitas, maka rasa-rasanya harus ada pemikiran dan perenungan ulang.

Sebuah “Pembangunan”

Istilah “pembangunan” yang saya pakai disini tidak identik dengan kata building atau development tapi lebih identik dengan reparation atau re-building. Jadi bisa saja “bangunan” saya ini disinggahi ataupun tidak disinggahi oleh pembaca. Tapi saya berharap pembaca singgah di bangunan saya, berdiskusi dengan saya, pro-kontra itu urusan belakangan. Intinya mari membangun khazanah sastra, diskusi, polemik. Lupakan dulu politik yang penuh intrik dan munafik.

Bangunan pertama. Fiksionalitas.
Sastra bukan kenyataan, tapi sastra adalah sebuah cermin dari sebuah kenyataan. Sastra menciptakan sebuah dunia tersendiri. Itulah sebabnya Laskar Pelangi bagi sebagian orang dianggap bukan sebuah novel melainkan hanya pengalaman hidup seorang Andrea Hirata. Saya kira pembaca yang menganggap Laskar Pelangi bukan sebuah novel “terkecoh” dalam dua hal. Pertama, sesungguhnya dalam novel Laskar Pelangi meski dianggap sebagai perjalanan Andrea Hirata, tapi buku itu sudah “dimanipulasi” dengan “licik” dan menarik sehingga menjadi sebuah cerita yang utuh laiknya sebuah fiksi. Walau alur novel itu konon benar adanya tetapi sebagai sebuah fiksi maka tak bisa dihindari pembohongan data. Pembohongan disini bukan berarti memutarbalikkan fakta, tetapi mengimajiner sebuah fakta menjadi lebih menarik dan unik. Kedua, andai memang Laskar Pelangi bukan sebuah novel, tetapi dengan bahasanya yang sastrawi serta membawa muatan makna perubahan khususnya di bidang pendidikan, bukankah tetap ada peluang untuk disebut karya sastra?

Bangunan Kedua. Gaya bahasa.
Karya sastra bersifat multi-interpretif. Karena karya sastra senantiasa hadir dalam wujud yang berlapis-lapis serta beraneka ragam di dalamnya, maka tentu saja karya sastra harus memiliki kemampuan untuk menimbulkan ambiguitas lewat metafora-metafora atau gaya bahasa yang membangunnya. Inilah yang membuat buku History of the Decline and Fall of the Roman Empire dikategorikan sebagai sebuah karya sastra meski sebagian yang lain mencibirnya, khususnya dari kelompok berhaluan Amerikanis(ini hanyalah istilah saya pada sebagian orang yang begitu “setia” pada kajian Amerika)

Bangunan Ketiga. Makna.
Sebuah karya meski sudah terbangun dari bangunan pertama dan kedua di atas tapi tidak memuat muatan makna, maka karya itu akan hambar rasanya. Bahkan bisa saja disebut bukan sebuah karya sastra, atau kadar “kesastraannya” berkurang. Atau mungkin sebagian orang menyebutnya bukan sastra serius melainkan hanyalah sastra pop. Dan bukankah sastra pop juga adalah sebuah karya sastra? Ataukah hanyalah sastra picisan? Terserah pembaca yang menilai.


Dari “bahan-bahan bangunan” karya sastra diatas, maka silakan pembaca menilai mana yang layak disebut karya sastra yang baik? Saman oleh Ayu Utami yang sebagian kritikus sudah “bersekutu” mengatakannya bagus, bahkan “Fiksi Alat Kelamin” itu sudah mendapatkan penghargaan dari Mastera(Majelis Sastra Asia Tenggara) atas “jasa-jasa” Gunawan Mohamad sebagai seorang yang berpengaruh di Mastera. Ataukah novel Ayat-Ayat Cinta oleh Habuburrahman El Shirazy yang dianggap oleh sebagian orang sebagai novel dakwah, yang juga sudah mendapatkan penghargaan dari Pusat Bahasa atas “jasa-jasa” Taufik Ismail. Ataukah Laskar Pelangi oleh Andrea Hirata yang sudah membius sebagian pembaca sastra di Indonesia.

Pintu Penutup
Dari berbagai polemik yang terjadi baik dalam konteks sejarah sastra dunia, apalagi dalam konteks sejarah Indonesia, sepertinya epistemologi sastra bisa dibongkar-pasang sesuai dengan “kebutuhan”. Tapi saya kira tiga bangunan sastra yang saya kemukakan di atas tetaplah menjadi acuan. Semoga saja. (dulabdul@gmail.com)

FAJAR, 24 Mei 2009

Kamis, 12 Mei 2011

MENYELISIK JEJAK CINTA SUFISTIK
Oleh: dul abdul rahman

Ada satu catatan khusus yang perlu diingat bila membaca ataupun mambahas novel-novel “Timur Tengah”. Pada umumnya sastrawan(boleh dibaca penyair) dari kawasan Timur Tengah tak bisa melepaskan diri dari pengaruh sastra sufistik dari Rumi, Attar, Nizhami, Hafizh, Syabistari, ataupun Sa’di. Para sufi tersebut mengajarkan cinta kepada Tuhan lewat karya-karyanya dengan mencoba menghadirkan sosok Tuhan sebagai seorang Kekasih. Saya mencoba mengemukakan lima jejak benang merah yang tak pernah “kusut” dari karya para sufi tersebut.

Jejak pertama

Cinta kepada Tuhan dilukishadirkan dalam sosok Aku dan Engkau. Aku adalah pecinta, Engkau adalah yang dicinta. Hakekatnya, Aku adalah hamba, Engkau adalah Tuhan. Namun supaya Aku bisa memiliki Engkau (Tuhan), maka Engkau dihadirkan dalam bentuk rupa seperti Aku. Dan karena Aku adalah sosok laki-laki, maka Engkau dihadirkan dalam sosok perempuan. Begitulah, maka dalam novel Layla Majnun karya Nizhami, hubungan cinta antara Qais dan Layla sesungguhnya bukan hubungan cinta antara manusia dengan manusia, tetapi hubungan cinta antara manusia dengan Tuhan.

Jejak kedua

Meski sosok Tuhan “dilukishadirkan” pada sosok manusia(baca perempuan), bukan berarti sosok Tuhan “wujud” dalam sosok manusia itu sendiri. Namun manusia hanya bisa mengenal Tuhan bila manusia itu mengenal dirinya sendiri. Untuk itulah, agar manusia bisa mencintai Tuhan, maka Tuhan dihadirkan(baca disatukan) dengan manusia itu sendiri. Begitulah, buat kaum sufi cinta adalah sebuah penyatuan diri. Bila seorang hamba mencintai Tuhan maka ia harus menyatu dengan Tuhan. Makna sesungguhnya adalah menyatu dengan sifat Tuhan. Karena Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang, maka seorang hamba bisa disebut mencintai Tuhan bilamana ia menyatukan sifat Tuhan itu dalam dirinya. Dari pemahaman inilah, maka kaum sufi sangat peduli(baca menyayangi) masyarakat, khususnya masyarakat kecil(kaum mustadh’afin). Bahkan ada sufi yang menjadi syahid ditangan penguasa Bani Umayyah, seperti yang dialami oleh Al-Hallaj. Al-Hallaj berprinsip bahwa mana mungkin seorang hamba bisa mencintai Tuhan bila hamba itu tidak mencintai dirinya sendiri. Diri seorang hamba itu adalah manusia itu sendiri. Saya “menebak asumtif”(maaf ini cuma istilah saya), sesungguhnya Al-Hallaj ingin berkata bahwa tidak sah hajinya seseorang bila ia pergi ke tanah suci tetapi “tetangganya” masih ada yang kelaparan. Untuk itulah, kaum sufi cenderung menolak formalistik-legalistik. Dalam kaitan ini buku Kang Jalal(Jalaluddin Rakhmat) Dahulukan Akhlak Daripada Ibadah adalah sebuah buku yang “sufistik” dan menarik untuk dibaca.

Jejak ketiga

Manusia bisa menyatu dengan Tuhan dalam sifatnya, bukan zatnya. Manusia adalah manusia, Tuhan adalah Tuhan. Tuhan bukan manusia, manusia bukan Tuhan, pun manusia bukan malaikat. Untuk itulah, kiranya manusia hanya bisa “nyaman” bersama dengan manusia itu sendiri, bukan bersama dengan Malaikat, apalagi bersama dengan Tuhan. Inilah alasannya mengapa nabi-nabi yang diutus oleh Tuhan untuk membimbing manusia adalah dari kaum manusia itu sendiri. Rumi pun menggambarkan konsep ini lewat suatu karyanya berjudul “Bayi Di Atas Atap”. Suatu ketika seorang bayi memanjat tangga dan berada di atap rumah, tentu saja sang ibu sangat panik karena anaknya bisa saja terjatuh. Sang ibu pun berusaha naik ke atap untuk mengambil anaknya turun, tapi ketika ibu itu mendekat, si bayi mengira ibunya mengajaknya bermain, sehingga merangkak cepat makin ke pinggir. Sang ibu pun panik dan berteriak memanggil bayinya, diteriaki malah bayi itu menangis, sang ibupun kian panik. Dalam keadaan penuh bahaya ini datanglah Imam Ali, sang ibu pun meminta tolong pada Imam Ali. Imam Ali pun berkata, “Jangan buang-buang waktu, kalau kau mau menyelamatkan nyawa putramu, maka naikkan lagi putramu yang lainnya.” Ibu itupun kian kalut dengan nasehat Imam Ali, menaikkan lagi putranya sama dengan mencarikan kematian lagi putranya. Tapi ibu itu tak sanggup menolak usul Imam Ali karena Sang Imam adalah orang termasyhur dan sangat bijaksana. Dan Tak lama kemudian, si bayi yang asyik bermain di pinggiran atap merangkak mendekat ketika ia melihat abangnya. Begitulah, Rumi menjelaskan bahwa karena cintan-Nya pada manusia, Tuhan mengirim seorang utusan(nabi) dari kaum manusia itu sendiri, dimana manusia sering bemain-main dipinggir atap yang bahaya(baca dekat jurang dosa).

Jejak keempat

Dalam karya-karya sufistik, tak pernah terjadi pengkhianatan(boleh dibaca perselingkuhan) dalam cinta. Karena buat para sufi, cinta adalah sebuah totalitas dari sebuah penghambaan seorang pecinta pada yang dicintainya. Cinta tidak pernah terbagi, sebab ia bukan sesuatu yang immaterial. Dan kalau pun “terbagi”, maka cinta tak akan pernah berkurang. Ia akan tetap menjadi sebuah cinta yang utuh, meski harus “terbagi” hingga titik kepuasan tertinggi membaginya. Begitulah, hubungan cinta antara Qais dan Laila, atau Yusuf dan Sulaikha tak pernah “berkurang” padahal dalam novel itu hubungan cinta mereka tetap diterpa badai Tsunami yang dahsyat.

Jejak kelima

Karena para sufi adalah orang yang sangat mengedepankan cinta dan kasih sayang, maka wajar bila lambang yang mereka gunakan dalam karya-karyanya umumnya adalah pengalaman erotic love(cinta-asmara) yang meluap-luap dan meletup-letup. Pengalaman antara dua manusia berlainan jenis diperguankan untuk “melukishadirkan” Tuhan. Tengoklah, cinta Qais pada Layla tidak akan pernah terjadi pada diri manusia. Menurut sastrawan Abdul Hadi WM dalam pengantar buku terjemahan Taman Para Sufistik, lambang-lambang lain yang perlu diperhatikan adalah lambang-lambang kebudayaan, karena kebanyakan para sufi berlatar belakang budaya Persia, maka pembaca pun tak pula “semena-mena” menerima kata-kata secara harfiah. Contohnya kata anggur dan kemabukan. Kata-kata ini hanyalah sekedar symbol. Seperti juga orang yang jatuh cinta akan mabuk kepayang, maka “anggur” cinta kasih pada Tuhan pun bisa sangat memabukkan.

Begitulah, dalam novel Mustafa Chamran yang ditulis oleh Habibah Ja’farian yang notabene juga adalah penulis Persia(Iran) mengandung muatan makna yang tak bisa lepas dari “jejak-jejak cinta” dari para sastra klasik-sufistik yang kharismatik dan puitik.

Ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi dalam kisah tersebut, diantaranya adalah:

Pertama. Yang membuat novel itu sangat menarik karena settingnya adalah peperangan(Libanon Selatan dan Iran). Peperangan yang notabene adalah sebuah setting yang menyakitkan(bisa dibaca kematian) tetapi dihadirkan menjadi sebuah keindahan. Mustafa Chamran dan Ghadeh yang menjadi tokoh utama dalam novel tersebut adalah dua sosok yang saling mencintai dengan sepenuh ikhlas dan ridho. Simaklah pesan terakhir Mustafa Chamran pada isterinya, Ghadeh, sebelum ia syahid, “Engkau memerlukan cinta yang lebih besar dariku, yaitu cinta Allah. Engkau harus mencapai kesempurnaan yang menjadikanmu tak merasa puas, kecuali Allah dan cinta-Nya. Sekarang aku akan pergi dengan tenang.”(Mustafa Chamran, hal 89).

Kedua. Meski Mustafa dan Ghadeh saling mencintai, dan keduanya bisa saja menikah, tetapi Mustafa lebih memaknai bahwa cinta bukanlah sebuah ego yang hanya dimakanai bahwa cinta harus memiliki lalu membuat orang lain terluka. Simaklah pernyataan Mustafa kepada Ghadeh ketika cinta mereka awalnya tak direstui oleh orang tua Ghadeh, “Berusahalah dengan cinta dan kasih sayang membuat mereka ridha! Aku tak suka, sementara aku menikah denganmu, hati ayah dan ibumu terluka.”(Mustafa Chamran, hal 22).

Ketiga. Kisah percintaan antara Mustafa dan Ghadeh disamping digambarkan secara sufistik, pun secara romantik dan puitik. Simaklah surat terakhir Mustafa pada Ghadeh sebelum ia syahid, “Aku berada di Iran, tapi hatiku bersamamu di Selatan, di yayasan, dan di kota Shur. Bersamamu aku merasakan berteriak, bahkan terbakar. Bersamamu aku berlari di bawah hujan bom dan mesiu. Bersamamu aku merasa sedang pergi menuju kematian, kesyahidan, menuju perjumpaan dengan Ilahi, membawa kemuliaan.”

Begitulah sekelumit makna yang harum semerbak yang bisa saya tangkap dari novel tersebut. Mungkin saja pembaca yang lain akan menangkap makna yang berbeda. Karena memang karya sastra senantiasa hadir dengan wujud yang berlapis-lapis dan beraneka ragam tafsir. Karya sastra adalah polyinterpretable. (dulabdul@gmail.com)

FAJAR, 14 Maret 2010

Senin, 09 Mei 2011

SASTRA TIDAK PERNAH BERBOHONG!
Oleh: dul abdul rahman

Sepertinya sudah menjadi kesepakatan umum bahwa ada dua jenis karya tulis, yaitu karya fiksi dan karya non-fiksi. Kedua kosa kata ini masih bisa dimodifikasi dengan memindahkan kata non, sehingga fiksi dibaca non-ilmiah, non-fiksi dibaca ilmiah. Selanjutnya muncul penafsiran-penafsiran ‘ala kadarnya’. Fiksi atau non-ilmiah adalah tulisan yang berdasarkan hayalan, misalnya novel atau cerpen. Non-fiksi atau ilmiah adalah tulisan yang berdasarkan kenyataan, misalnya laporan penelitian, penulisan sejarah, dan lain sebagainya.

Selanjutnya muncul lagi penafsiran ‘asal-asalan’, fiksi atau non-ilmiah atau hayalan adalah kebohongan. Mungkin karena terhasut dari penafsiran ala kadarnya dan penafsiran asal-asalan itulah, maka banyak penulis sastra(baca novel) yang juga mungkin mempunyai penafsiran ala kadarnya tentang fiksi yang terjung menulis novel(baca sastra?) terpaksa berteriak-teriak: “Novel ini terinspirasi dari kisah nyata”. Teriakan-teriakan tersebut didengar oleh umumnya pembaca di Indonesia yang sebenarnya tidak peduli apakah membaca fiksi atau non-fiksi, yang penting buat mereka karya itu bisa menginspirasi. Maka larislah Laskar Pelangi dan Negeri 5 Menara. Dan tentu saja lahirlah karya-karya sejenis walau nasibnya tidak sebaik kedua novel laris tersebut. Sekali lagi persoalan nasib.

Sastra dan Kenyataan
Istilah fiksi atau hayalan dalam dunia sastra bukan sekedar hayalan belaka. Kata hayalan sesungguhnya mengacu pada daya kreatifitas dari seorang pengarang untuk mencipta dunia baru dalam bentuk karya sastra. Dunia baru sesungguhnya adalah dunia yang bersumber dari fakta yang sudah diramu sedimikian rupa menjadi dunia tersendiri. Karena sudah tercipta menjadi dunia tersendiri atau dunia baru dalam hayalan pengarang maka muncullah banyak interpretasi dari tiap-tiap pembaca. Pembaca punya interprestasi masing-masing yang juga berlandaskan daya kreatifitas membaca.

Jadi, seyogyanya memang penulis novel(baca fiksi) tidak perlu berkoar-koar bahwa novel yang ditulisnya adalah kisa nyata. Sefiksi-fiksinya suatu karya sastra tetaplah sebuah lukisan kenyataan. Bahkan penafsiran mimetik memang menuntut agar sastra mencerminkan kenyataan. Dan sefakta-faktanya suatu karya sastra tetaplah sebuah lukisan imaginasi (kebohongan?) sang pengarang. Contoh sederhana saja, apakah semua isi novel Laskar Pelangi atau Negeri 5 Menara adalah seratus persen kisah nyata? Tidak bukan? Apakah semua cerita tentang pendaratan orang di planet Mars adalah kebohongan belaka? Tidak juga bukan? Cara melukiskan pendaratan di planet mars misalnya bukan dengan omong kosong belaka tetapi berdasarkan teori pengetahuan. Bukankah sebelum Neil Amstrong dan Edwin Aldrin mendarat di bulan bersama pesawat Apollo 11, sudah ada pendaratan di bulan lewat karya sastra. Jadi Science-fiction sesungguhnya adalah hayalan atau penggambaran atas serpihan-serpihan teknologi yang merupakan kenyataan, bukan? Jadi sastra bolehlah juga dikatakan serpihan-serpihan kenyataan dan bolehlah juga disebut serpihan-serpihan kebohongan. Tetapi masalah kebohongan, mari menyimak pendapat Mark Twain, “Pengalaman masing-masing individu adalah sebuah fakta bahwa kebenaran tidak sulit untuk ditiadakan dan kebohongan yang diucapkan dengan baik adalah sebuah keabadian.”

Karya Sastra, karya Tuhan?
Meski dianggap karya fiksi atau karya rekaan, tetapi mata sastra bahkan lebih tajam dari mata karya non-fiksi. Tengoklah! Yang banyak menginspirasi dan melakukan perlawanan adalah teks-teks sastra. Untuk mengetahui ketajaman teks sastra, kita bisa membaca novel karya Gabriel Garcia Marquez, Cien Anos de Soledad (1967). Novel karya peraih Nobel Sastra tahun 1982 ini bercerita tentang kepahlawanan keluarga Kolombia. Novel ini seperti menghipnotis dan menumbuhkan jiwa patriotisme bagi semua warga negara Kolombia. Novel ini benar-benar menyadarkan warga Kolombia untuk bangkit melakukan perubahan dan perjuangan. Mereka sangat yakin bahwa hanya mereka sendiri yang bisa melakukan perubahan.

Tak kalah tajamnya dengan karya Gabriel Garcia Marquez, Luis Sepulveda dalam novelnya Un viejo que leia historias de amor (1989) --telah diindonesiakan menjadi ‘Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta’-- berhasil menyadarkan masyarakat akan terjadinya penggundulan hutan tropis di belantara Amazon. Sepulveda dengan sangat cekatan membangun teks tentang desa kecil di tengah hutan Ekuador. Seorang kakek tua menyepi untuk mencari kedamaian dengan ditemani novel-novel cinta picisan. Tapi akhirnya ketenangannya terusik ketika terjadi penebangan hutan, terjadi perburuan, pengeboran minyak, ladang emas. Lalu alam pun membalas dendam lewat seekor macan kumbang. Penduduk desa terancam dan kakek tua itu tahu bahwa hanya dirinyalah yang mampu menghadapi hewan itu karena selama ini hanya dirinyalah yang mengerti keadaan hewan tersebut.

Tak kalah lebih tajamnya, bacalah teks-teks sastra Chairil Anwar dalam bentuk puisi ketika ia berteriak “Aku mau hidup seribu tahun lagi”. Meski kala itu Chairil sudah sakit-sakitan yang memang meninggal di usia yang masih sangat muda. Tapi Chairil sudah mengajarkan semangat hidup dalam teks sastra yang sangat luar biasa.
Sebagai contoh terakhir, mari melihat Laskar Pelangi. Sebelum novel ini muncul, nama Belitong tidak familiar bahkan terlupakan dibenak masyarakat Indonesia. Tapi setelah mengklaim diri sebagai tanah Laskar Pelangi maka orang ramai-ramai membaca, mengenal, bahkan mengunjungi daerah tersebut. Meski memang daerah itu terkenal sebagai penghasil timah terbesar di Indonesia tapi nanti teks sastralah yang membuatnya kian terkenal.

Dengan kekuatan dan kedahsyatan teks-teks sastra tersebut, maka kalau ada istilah Suara Rakyat Suara Tuhan, maka saya pun akan mengatakan Karya Sastra, Karya Tuhan. Apakah saya terlalu berhayal atau berbohong? Hm, bukankah karya sastra juga sebagai alat untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan seperti karya Gabriel Garcia Marquez yang saya contohkan di atas. Suara kebenaran, suara keadilan adalah suara Tuhan, bukan?


Tetapi sebagai catatan, ketika saya berteriak Karya Sastra Karya Tuhan, saya sama sekali tidak bermaksud berteriak bahwa bawalah ayat-ayat Tuhan dalam karya sastra. Kalau terpaksa membawa ayat-ayat Tuhan dalam karya sastra mungkin ada motif lain. Dan tentu saja butuh penjelasan lain yang panjang.

Sastra Tidak Pernah Berbohong!
Jadi sangat jelas bahwa sastra bukanlah kebohongan. Sastra juga tidak pernah berbohong. Kalau saja ada yang terlanjur mencap bahwa sastra adalah kebohongan, pendapat itu juga sah-sah saja. Mungkin saja pendapat itu adalah sebuah interpretasi dari hasil pembacaannya terhadap karya sastra. Sastra adalah polyinterpretable yang memungkinkan banyak penafsiran. Mungkin memang sastra tidak bisa terlepas dari ‘kebohongan-kebohongan’ tertentu, tapi yakinlah bahwa kebohongan-kebohongan tersebut adalah jalan untuk mengungkap kebenaran-kebenaran tertentu. Sebagaimana pesan seniman Spanyol, Pablo Picasso(1881-1973) “Seni (boleh dibaca sastra) adalah sebuah kebohongan yang menyadarkan kita akan kebenaran.” Begitulah! (dulabdul@gmail.com)

FAJAR, 15 Agustus 2010

Sabtu, 30 April 2011

cerpen dul abdul rahman: S A B D A L A U T

SABDA LAUT
Oleh: dul abdul rahman

Subuh itu. Setelah perahu kecil kami merapat kembali di bibir Sungai Jeneberang. Aku bergegas naik ke daratan sambil membawa ikan tangkapan kami. Meski malam itu hasil tangkapan kami tidak seberapa banyak, tetapi aku menenteng ikan bak seorang nelayan ulung yang tiada takut dengan ombak yang bergulung-gulung. Ataukah aku serupa lanun yang berhasil membajak kapal laut atau perahu nelayan tanpa ampun.
Setiba di daratan, aku tak perduli ketika angin pagi memiuh-miuh dan menantangku. Bahkan menampar-nampar wajahku. Pun aku tak khawatir masuk angin. Hembusan angin pagi itu begitu nakal mempreteli sebagian kancing bajuku. Aku tak peduli. Kubiarkan saja bajuku melambai-lambai berterima kasih kepada Pantai Barombong. Lambaian bajuku pun serupa sambutan kemenangan. Sambutan daratan buat lautan. Bagi kami anak-anak nelayan, angin dan hujan, atau bahkan sengatan mentari adalah sahabat-sahabat sejati kami. Kami tumbuh dan bersahabat dengan laut. Laut Barombong yang tak sombong.

Segera setelah ayahku menambatkan perahunya, ia pun bergegas naik ke daratan. Angin daratan langsung menyambutnya. Ia pun tak perduli. Wajah kisutnya pastilah setiap subuh dibelai oleh angin pagi yang kadang diam-diam menusuk pori-pori. Lalu kami berdua pun berjalan beriringan menuju Jembatan Barombong. Di pinggir jembatan yang terpanjang di Kota Makassar itulah kami selalu menjual ikan-ikan hasil tangkapan kami.

Setibanya di Jembatan yang megah itu, aku serupa penjual ikan profesional meletakkan ikan tangkapan kami di sebuah bangku panjang yang mulai lapuk. Selain aku berdua dengan ayahku, ada juga nelayan kecil lainnya menjajakan ikan hasil tangkapan mereka. Sebenarnya bisa saja kami cepat pulang ke rumah dengan menjual langsung semua hasil tangkapan kami kepada para pagandeng1, tetapi kami ingin mendapatkan sedikit uang lebih. Atau mungkin uang letih. Pagandeng hanya mau menghargai ikan kami terlalu murah. Padahal kami menangkapnya dengan lelah. Bahkan kami harus berkelahi dengan angin dan ombak yang terkadang pongah.

Tetapi subuh itu rupanya dewi fortuna tidak bersahabat dengan kami. Sudah sejam kami menjajakan ikan kami tapi tak ada seorang pun yang singgah membelinya. Hanyalah penjual ikan di samping kami yang kedatangan pembeli, itupun sekira dua orang saja.

“Juku sambalo!”2 Aku dan ayahku menyapa bergantian setiap orang yang lewat tetapi tetap saja tak ada peduli dengan ikan-ikan kami. Ya, tak ada yang peduli dengan nasib-nasib kami.

Setelah matahari keluar dari persembunyiannya, dan nampak tersenyum di kaki langit. Lalu cahayanya membentuk siluet dan mengirimkan pesan pada kami lewat permukaan air Sungai Jeneberang. Seolah ia ingin berkata kepada kami, hari baru bersama harapan baru telah datang. Tetapi tetap saja belum ada pembeli yang menghampiri lapak ikan kami.

Seteluh berpeluh karena berteriak-teriak mempromosikan ikan-ikan kami. Akhirnya seseorang pembeli mendekat. “Wah! Ikannya mahal sekali Daeng, padahal ikannya tidak segar lagi!” Pembeli itu menawar ikan kami dengan kalimat yang meneror. Masakan ia menyebut ikan kami tidak segar lagi padahal baru saja kami menangkapnya di laut. Apakah ia menganggap ayahku sangat bodoh soal ikan? Padahal ayahku puluhan tahun kerjanya hanyalah sebagai nelayan. Meski hanya nelayan kecil, tapi aku yakin tetek-bengek soal ikan pastilah ayahku sudah mengetahuinya.

Setelah pembeli itu menawar berkali-kali. Kulihat ayahku merasa kasihan. Dalam hati aku membatin, mungkin saja orang itu kehabisan uang. Ayahku lalu memberi harga terendah. “Bapak tidak bisa lagi mendapatkan ikan begini di bawah harga yang saya berikan.” Pembeli itu mengambil ikan yang disodorkan oleh ayahku dan membayarnya dengan senyum kemenangan. Ia pun bergegas menuju mobilnya yang terparkir di ujung jalan. Aku dan ayahku hanya geleng-geleng kepala melihat pembeli itu yang ternyata mengendarai mobil pribadi merek CR-V. Tetapi kami tetap kagum pada orang kaya itu, ia mau berbelanja pada kami. Lalu kami cepat melupakan pembeli yang naik mobil mewah tersebut ketika seorang pembeli lainnya datang.

“Nak Samad tidak pergi ke sekolah?” Ujar pembeli itu yang ternyata guru matematikaku di SD Negeri Barombong.

“Sebentar lagi ia akan berangkat ke sekolah Pak Guru.” Ayahku cepat menjawab pertanyaan guruku. Ayahku juga sibuk memilihkan ikan buat guruku tersebut. Setelah ia menyodorkan uang sesuai dengan kesepakatan harga. Bahkan aku hanya mendengarkan ayah dan guruku sekali saja saling menawar lalu saling deal dan tersenyum. Guruku dengan motor vespa bututnya pun meraung-raung meninggalkan kami. Raungan vespa butut guruku mungkin sebagai raungan nasibnya yang konon katanya bertahun-tahun jadi guru honorer. Tetapi kami tetap mengantarnya dengan tatapan berbinar-binar hingga vespa butut itu menghilang ditelan mobil-mobil pribadi milik orang-orang berduit.

“Benar kata orang, hanyalah orang-orang kecil yang sangat tahu nasib orang kecil.”

Ayah menggumam setelah vespa butut guruku benar-benar menghilang. Aku tidak begitu mengerti dengan pernyataan ayahku. Tetapi tatapan mata ayahku seolah mengirimkan doa semoga guru matematikaku selamat sampai tujuan.

Matahari sudah merangkak naik. Air sungai Jeneberang pun kian berkilau-kilau dan tersenyum manis serupa perempuan belia yang kasmaran karena terus ditatap oleh sang pangeran matahari. Kami para penjual pun menatap setiap orang yang lalu lalang dan berharap mereka singgah membeli ikan-ikan kami. Aku sibuk memercik ikan-ikan kami dengan air tawar agar nampak semakin segar dan tidak mengantuk.

“Nak! Cukuplah ayah saja yang menjajakan ikan di sini. Engkau bergegaslah pulang ke rumah mengganti pakaianmu lalu berangkat ke sekolah.” Ujar ayah kepadaku ketika ia melihat iring-iringan murid sekolah dasar menuju sekolah.

Aku mencoba tak menghiraukan kalimat ayahku. Hari itu memang aku berniat untuk tidak pergi bersekolah. Aku ingin menemani ayahku melaut dan menjual ikan. Aku tak bercita-cita muluk-muluk. Cukuplah kelak aku bisa seperti ayahku, melaut.

“Lihatlah teman-teman sekolahmu, Nak! Mereka sudah berangkat ke sekolah.” Ayahku mengulangi lagi kalimatnya setelah melihatku hanya terpaku pada ikan-ikan kami.
Melihat aku tidak begitu bersemangat, ayahku langsung menasehatiku. “Manna majai tedongnu, mattambung barang-barangnu, susajakontu punna tena sikolamu.”3 Meski secara formal ayahku hanya tamat sekolah dasar tapi aku kagum sama ayahku yang banyak tahu dan selalu menasehatiku dengan filosofi-filosofi Bugis-Makassar.
Kulihat mata ayahku berkaca-kaca mengucapkan kalimat itu. Di matanya seperti tersimpan berjuta-juta penyesalan. Aku memang pernah mendengar cerita bahwa sesungguhnya dulu kakekku adalah orang berada di daerah Barombong. Daerah yang berada dipinggiran Kota Makassar. Tempo itu ayah tidak berkehendak sekolah karena ia merasa tanpa bersekolah pun mereka bisa hidup layak. Bahkan ia hidup berfoya-foya karena merasa sangat bergelimang harta. Untuk ukuran kampung Barombong, kekayaan kakek tempo itu sangatlah diperhitungkan. Tetapi setelah usaha bisnis kakek bangkrut karena terbelit masalah utang sehingga kekayaan kakek melewati titik nol dan berada di titik minus dengan utang yang bertumpuk, barulah ayah menyadari betapa pentingnnya sekolah untuk mengadu nasib di kota. Nasib telah menjadi bubur, masa depan ayah menjadi kabur.

Tapi ayah tetap bersemangat, ia tak mau nasibnya menghablur dan menular pada anak-anaknya. Itulah sebabnya, meski hanyalah nelayan kecil, tetapi ayah selalu bertekad untuk menyekolahkan aku. Semangat ayah seperti semangat Laut Barombong. Laut yang tidak pernah berhenti menawarkan gelombang kehidupan. Gelombang harapan.
Mengingat semua keterpurukan kakekku tempo dulu yang berimbas pada ayahku yang semasa kecilnya menganggap sekolah tidak penting. Pun aku bisa menangkap makna dari pesan ayahku bahwa manusia hendaknya mengutamakan pendidikan agar tidak kesulitan dalam hidup, harta yang bertumpuk tidak akan menyelesaikan persoalan dunia. Maka aku pun bergegas.

“Aku harus pergi ke sekolah.” Ujarku sambil berlari menuju rumah kami di pinggiran Sungai Jeneberang. Aku masih sempat menengok sesaat pada ayahku. Ia tersenyum melihat kesungguhanku. Senyumnya masih seperti dulu. Senyum setulus Sungai Jeneberang. Tetapi tetap ada bias penyesalan. Sebagaimana Sungai Jeneberang yang menyesali nasibnya karena pohon-pohon di hulunya sering ditebang secara kasar oleh penebang-penebang liar. Mungkin ayahku juga menyesal mengapa ia tidak bersekolah sewaktu muda dulu dan sewaktu kakek belum bangkrut.

Dan yang paling membuatku bangga pada ayahku. Karena aku masih sempat mendengar seorang penjual ikan berujar pada ayahku, “Daeng Rewa! Anak-anakku juga harus bersekolah seperti Samad.” Ayahku hanya tersenyum kepada penjual ikan itu. Lalu ayahku pun masih sempat berujar kepadaku, “Cepat ke sekolah anakku. Pendidikan adalah nomor satu buatmu. Ayah berjanji akan mewariskan pendidikan kepadamu.” Ketika kulihat mata ayahku berkaca-kaca, aku terus berlari menuju rumahku yang reot. Airmata ayahku adalah airmata penyesalan karena dulu tidak bersungguh-sungguh sekolah. Pun airmata ayahku adalah airmata doa dan harapan buatku untuk menggapai pendidikan.

Aku kian berlari sekencang-kencangnya di bibir Sungai Jeneberang. Tetapi celakanya kakiku terpeleset dan aku jatuh terguling-guling hingga masuk Sungai Jeneberang. Untungnya pinggir Sungai tersebut tidaklah dalam dan aku biasa bermain-main di pinggir sungai itu bersama teman-temanku.

Melihat aku terjatuh, ayahku dan para penjual ikan hanya bertepuk tangan. Ayahku bahkan mengacungkan tangannya. Aku tahu mereka memberiku semangat. Bahkan kebiasaan ayahku mengacungkan tangan kuat-kuat buatku selalu kuartikan “Anakku Samad! Engkau harus kuat, engkau anak hebat, engkau anak laut, engkau sabda laut.”

Sebenarnya aku sedikit meringis karena jari-jari kakiku tertusuk kulit kerang. Tetapi ketika aku melihat murid-murid sekolah dasar yang lewat yang umumnya perempuan menutup mulutnya dengan sapu tangan, mungkin mereka menahan ketawanya karena melihatku terjatuh berguling-guling di sungai, maka aku pun bergegas merangkak naik ke bibir Sungai Jeneberang. Lalu kembali aku berlari sekencang-kencangnya menuju rumahku. Air Sungai Jeneberang yang mengalir menuju Laut Barombong juga seolah mengejarku, bahkan aku seperti mendengar bisikan Sungai Jeneberang, “Duhai lelaki penguasa hilir Sungai Jeneberang! Duhai lelaki Pantai Barombong! Berlarilah terus meraih impian dan cita-citamu! Jatuh bangun adalah hal biasa. Engkau harus bisa!”

Akhirnya aku tiba di rumahku dengan nafas yang tak sempurna. Seluruh kancing bajuku lepas satu-satu. Tapi aku tak peduli. Dan yang paling membuatku kian bersemangat, pagi itu seolah aku mendengar lagi bisikan, tapi kali itu bisikan dari Laut Barombong, “Hari ini dan hari-hari selanjutnya, engkau harus pergi ke sekolah walaupun badanmu bau ikan. Engkau memang anak nelayan!”
Pantai Barombong, Makassar, 2010

Catatan:
1. Penjual ikan keliling dengan sepeda motor
2. “Ikan, Langgananku!”
3. “Walau banyak kerbaumu, bertumpuk hartamu, engkau tetap susah jika tak ada sekolahmu.”
FAJAR, 21 Nopember 2010

Selasa, 05 April 2011

CERPEN dul abdul rahman: SAM PARA DAN SAMARA

SAMPARA DAN SAMARA1
Cerpen: dul abdul rahman

Mujur benar nasib Sampara dan Samara. Sepasang suami isteri tersebut tidak jadi berangkat ke Malaysia sebagai TKI dan TKW. Keluarga Pak Fatih dan Ibu Fatimah mengangkat keduanya jadi pembantu sekaligus. Jadilah Sampara dan Samara tetap satu rumah dan berumah tangga. Berarti program untuk mendapatkan momongan secepatnya tetap terlaksana dengan baik. Sampara dan Samara adalah pasangan muda yang telah menikah selama lima tahun tetapi belum dikaruniai anak. Keduanya bertetangga di kampungnya, kedua orang tua mereka berprofesi sebagai petani. Sampara dan Samara hanya bersekolah sampai sekolah dasar. Mereka belum sempat mengikuti program pendidikan sembilan tahun, bukan berarti mereka tidak mau, tetapi kedua orang tua mereka memang tak sanggup menyekolahkan mereka. Sedangkan pendidikan gratis masih sebatas janji manis penghias kampanye pilkada. Boro-boro bersekolah, makan saja susah.

Meski hanya tamatan sekolah dasar, rupanya Sampara dan Samara punya visi yang baik. Mereka berdua berniat jadi TKI dan TKW bersama-sama. Mereka akan menabung gajinya sebagai modal usaha kelak. Cita-citanya yang paling mulia adalah menyekolahkan anak-anaknya kelak. Mereka sangat ingin anak-anaknya menjadi guru. Dulu, Sampara sangat mengidolakan sosok Pak Fatih, guru Bahasa Indonesianya di sekolah dasar. Pak Fatih begitu gagah perkasa dengan pakaian safari sambil mendongeng atau membaca puisi. Pun Samara sangat mengidolakan Ibu Fatimah, guru kesenian yang pintar menyanyi, tidak seperti Ibu Ros yang guru kesenian tapi tak bisa menyanyi. Ibu Fatimah juga cantik sehingga Samara selalu membayangkan dirinya sebagai Ibu Fatimah.

Kini. Pak Fatih dan Ibu Fatimah telah pindah ke ibukota propinsi, posisinya pun kian bagus. Setempo jadi guru di kampung, mereka hanya tinggal di kampus sekolah. Karena prestasi mereka yang bagus, sepasang suami isteri itu mendapat promosi, posisi yang lebih tinggi plus fasilitas yang memadai.

Laiknya orang-orang yang sudah punya jabatan, keluarga Pak Fatih dan Ibu Fatimah tergolong orang kaya. Mereka sudah punya rumah yang besar dan mewah, berlokasi di perumahan elit, kendaraan pribadi, pun fasilitas lainnya.

Sampara dan Samara bisa jadi pembantu di rumah Pak Fatih dan Ibu Fatimah, karena keluarga guru tersebut sudah mengenal Sampara dan Samara sejak di sekolah dasar. Mereka menilai Sampara dan Samara adalah murid yang jujur dan pintar dulu yang kebetulan berjodoh.

Sampara dan Samara sangat senang karena kedua majikannya adalah gurunya. Mereka tetap memanggil keduanya Pak Guru dan Ibu Guru. Tidak ada memang mantan guru. Buat Sampara dan Samara, semua guru yang mengajarnya di sekolah dasar dulu dianggapnya sebagai gurunya, mereka tak pernah bilang, “Ia mantan guruku.” Mereka selalu bilang “Ia guruku di sekolah dasar.”

Sampara bekerja sebagai sopir pribadi. Pak Fatih dan Ibu Fatimah berbeda kantor. Pak Fatih bisa berkendara sendiri dan tidak bisa selalu mengantar isterinya, apalagi kantor Pak Fatih terletak di timur kota, sedangkan Ibu Fatimah di barat kota. Ibu Fatimah takut mengendarai mobil, ia trauma sewaktu tabrakan setahun silam. Sampara mengantar-jemput Ibu Fatimah. Di sela-sela waktu, Sampara mengurusi kebersihan pekarangan rumah. Samara mengurusi urusan rumah tangga. Dari mencuci hingga urusan masak-memasak.

Di sela-sela pekerjaan mereka, Sampara dan Samara juga bercinta. Mereka sangat bahagia bisa bercinta dengan buas di kasur empuk serta kamar yang luas. Sampara dan Samara benar-benar puas. Bila kedua majikannya berangkat ke kantor, tinggallah mereka berdua di rumah. Kedua putra-putri Pak Fatih dan Ibu Fatimah tinggal di pesantren putra dan pesantren putri. Biasanya mereka pulang ke rumah sebulan sekali. Mungkin karena bersekolah di pesantren, kedua anak majikannya berlaku sopan kepada pembantu.


“Asyik ya Mama, bekerja disini seperti di rumah sendiri.”

“Betul Papa, Pak Guru dan Ibu Guru baik sekali.” Samara mengamini suaminya. Laiknya suami isteri lainnya, Sampara dan Samara selalu berpapa-mama.

“Pak Guru dan Ibu Guru benar-benar baik Mama, mereka memberi kita kasur empuk agar kometku semangat menerjang rembulan Mama.”

“Papa!” Samara mencubit suaminya. Sampara memang suka menggunakan metafora sebagaimana yang diajarkan oleh Pak Fatih dulu di sekolah.

“Mama! itu bukan bahasa papa, tetapi bahasa Pak Guru Fatih dulu.”

Sampara dan Samara bila menyebut nama Pak fatih dan Ibu Fatimah selalu diikuti oleh nama “guru”. Padahal para tetangga selalu tercengang kalau menyebut nama guru. Mungkin para tetangga berpikir bahwa guru tak bisa memiliki rumah seperti itu. Guru biasanya hanya mampu membeli rumah sederhana dengan sistem kredit. Para tetangganya mungkin tidak tahu bahwa Pak Fatih dan Ibu Fatimah tidak lagi sebagai guru, tetapi mereka hanya mengurusi para guru.

“Papa…!”

“Mama…!”

Sampara dan Samara berandai-andai. Kelak anak-anaknya cakep, cantik, pintar seperti anak-anak majikannya, karena mereka juga bercinta di kasur empuk dan di rumah mewah seperti Pak Fatih dan Ibu Fatimah.

Rupanya, Sampara dan Samara semakin punya visi bervariasi. Dulu, yang penting anak-anaknya bisa bersekolah. Sekarang macam-macam dan terkadang seperti punguk merindukan bulan. Padahal peribahasa itu sering diungkapkan dulu oleh Pak Fatih pada Sampara di sekolah.

Sampara dan Samara ingin mempunyai anak laki-laki yang berbadan tinggi, berhidung mancung dan rambut lurus seperti putra Pak Fatih dan Ibu Fatimah. Atau seperti artis mandarin yang sering mereka tonton di teve, padahal Sampara berhidung penyok seperti sudah diseruduk mobil, pun rambut keriting serupa indomie. Lalu mereka menginginkan anak perempuan berparas cantik, kulit putih bersih, serti bibir tipis seperti putri Pak Fatih dan Ibu Fatimah, padahal Sampara dan Samara berkulit gelap dan berdower.

Sejak tinggal di rumah Pak Fatih dan Ibu Fatimah, mereka tak ketinggalan informasi. Bahkan Sampara dan Samara menghafal semua jadwal acara teve. Pun keduanya sudah menghafal gosip seputar selebriti, keduanya pun sudah paham makna berselingkuh. Sampara sangat mengidolakan artis Beby Silvia yang mirip Ibu Fatimah. Samara mengidolakan aktor Hengky Tornando yang mirip Pak Fatih. Kalau Hengky Tornando dan Beby Silvia selalu akur karena memang pasangan suami isteri, atau tentu saja Pak Fatih dan Ibu Fatimah, Sampara dan Samara terkadang sudah berani mengejek pasangan masing-masing.

“Andaikan hidung papa mancung seperti hidung Pak Fatih.”

“Andaikan bibir mama seperti bibir Ibu Fatimah.”

“Ih papa! Tidak berkaca.”

“Mama yang tidak berkaca.”

“Papa yang mulai.”

“Mama yang mulai.”

“Sudahlah, Pa! Iklannya sudah selesai.”

Mungkin ada juga manfaatnya keduanya selalu bertengkar di setiap jeda iklan. Karena jika iklan pun dilahapnya, entah bagaimana lagi mimpi-mimpi Sampara dan Samara. Mungkin keduanya berlomba-lomba mau di rebounding, atau Samara selalu ingin memakai sabun Giv biar kulitnya seputih Santi atau Sinta. Atau Sampara ingin pakai rexona, agar ada cewek secantik Cut Tari mendekatinya.

“Pak Fatih!” Samara setengah menjerit. Sampara melompat segera membuka pintu garasi. Samara cekikikan. Sampara pun gusar dibuatnya karena Pak Fatih belum datang, ternyata artis Hengky Tornando yang mirip Pak Fatih muncul di teve.

“Hati-hati menyebut nama Pak Fatih!”

“Papa juga hati-hati menyebut nama Ibu Fatimah!”

Akhirnya, karena mengidolakan Hengky Tornando, Samara senang melihat Pak Fatih. Sampara yang mengidolakan Beby Silvia, sangat deg-degan bila dekat dengan Ibu Fatimah.

“Oh Fatimah, Sayang!”

“Oh Fatih, Sayang!”

“Sudah lama aku merindukanmu Fatimah.”

“Sudah lama aku mengimpikanmu Fatih.”

Keduanya berpelukan erat. Lekat. Keduanya benar-benar bernafsu. Mereka tak menghiraukan sekitarnya. Kasur empuk seolah menjelma dunia yang hanya milik mereka berdua. Malam itu memang gelap. Terjadi pemadaman listrik secara bergiliran oleh pihak PLN.

Tiba-tiba lampu di kamar yang hanya terdengar nama Fatih dan Fatimah menyala. Kedua pasangan pembantu rumah tangga itu bersitatap malu.

“Mengapa mama menyebut nama Pak Fatih?”

“Nuduh, papa yang selalu menyebut nama Ibu Fatimah.”

“Mama tidak mencintaiku lagi.”

“Papa yang tidak mencintaiku.”

“Ssst! Nanti kedengaran oleh Pak Fatih dan Ibu Fatimah.” Sampara meletakkan jari telunjuk di hidungnya karena mendengar ada gerak langkah mendekati kamarnya. Sampara dan Samara semakin deg-degan, langkah itu kian dekat. Mereka berdua bersegera berkemas sesopan mungkin. Dan…

“Tok! Tok! Tok!”

Sampara membuka pintu. Wajah Sampara dan Samara memucat karena majikannya sudah berdiri di depannya. Sampara dan Samara tak berani melihat majikannya. Keduanya hanya menunduk seolah sudah tahu apa kesalahannya.

“Sampara!”

“Samara!”

“Cintailah diri sendiri! Cintailah isterimu! Cintailah suamimu! Jangan mimpi macam-macam! Besok tidak boleh lagi nonton teve.”

“Awas kalau kamu mengganggu suamiku.”

“Awas kalau kamu mengganggu isteriku.”

Sampara dan Samara semakin ketakutan dan tak berani mengangkat kepala. Tapi hati keduanya berangsur tenang karena kedua majikannya bergegas meninggalkan mereka setelah mengancamnya. Pak Fatih dan Ibu Fatimah hanya bisa menggeleng-geleng kepala sambil tersenyum. Ternyata diam-diam, para pembantunya mengidolakan mereka berdua.

“Papa memang cakep, mirip Hengky Tornando.”

“Ah mama! Mama yang mirip Beby Silvia.”


Pak Fatih dan Ibu Fatimah bersitatap mesra. Tapi kemiringan tatapannya seperti pura-pura. Lalu keduanya bergegas masuk kamar. Pak Fatih sudah tak tahan ingin membayangkan wajah sekretarisnya di kantor yang selalu sok sibuk keluar masuk ruang kerjanya. Ibu Fatimah bahkan sudah merinding membayangkan pelukan teman sekantornya yang selalu menemaninya makan siang di luar kantor walau masih jam sepuluh pagi.

1. Cerpen “SAMPARA DAN SAMARA” dimuat Harian Fajar, Ahad 18 Juli 2010

Kamis, 17 Maret 2011

dul abdul rahman, MELESTARIKAN HUTAN DALAM SASTRA

Oleh : Dul Abdul Rahman

Tak bisa dipungkiri bahwa lingkungan kita saat ini masuk dalam kategori krisis. Banyaknya bencana alam yang menimpa negeri ini karena alam dijamah dengan serakah oleh manusia yang berwajah tak ramah. Jamak manusia terlalu tamak mengeruk hasil hutan untuk kepentingan pribadi. Mereka tidak sadar bahwa ulahnya itu akan menimbulkan amarah alam di kemudian hari. Banjir bandang, erosi, longsor, adalah bahasa alam untuk menegur manusia yang kadang tak berperikemanusiaan dan berperikealaman.

Dengan amarah alam itu, maka krisis lingkungan terjadi di berbagai aspek, seperti krisis air, tanah, udara, bahkan krisis iklim. Bukan hanya itu, pun terjadi krisis lingkungan biologis dan lingkungan sosial. Krisis lingkungan biologis terjadi dengan tidak produktifnya lahan-lahan pertanian, pun punahnya flora dan fauna berupa satwa-satwa langka disekitar kita seiring dengan semakin menipisnya hutan.

Itulah akibat dari eksploitasi lingkungan yang semena-mena tanpa memikirkan efek yang akan ditimbulkannya kelak. Fenomena seperti ini seharusnya menyadarkan kita akan pentingnya menjaga dan “menghormati” lingkungan sekitar kita. Semua pihak seharusnya berperan mendorong sikap menjaga lingkungan, termasuk para sastrawan.
Untuk itu, saya mencoba mengemukakan gagasan-gagasan pelestarian hutan dalam novel saya Pohon-Pohon Rindu(PPR). Ada beberapa hal yang dikemukakan dalam novel tersebut.

Pertama. Kampanye mencintai hutan dan lingkungan sekitar seharusnya dilakukan secara dini. Kalau di perguruan tinggi dikenal organisasi pencinta alam semisal KORPALA (Korps Pencinta Alam), MAPALA (Mahasiswa Pencinta Alam), atau apapun namanya. Maka sebaiknya organisasi semacam ini harus diaktifkan pada siswa-siwa SMU. Hal ini dimaksudkan agar gerakan mencintai alam dan lingkungan mengakar di daerah-daerah dimana terletak hutan-hutan yang perlu dijaga dan dilestarikan. Dalam PPR, sekolompok siswa membentuk kelompok pencinta alam yang disebut Kompita. Program utamanya adalah menjaga hutan.

“Kami peduli Hutan Lindung Balang. Setiap hari minggu, kami menyusuri Hutan Lindung Balang. Setiap ketemu warga, kami memberikan pengarahan mengenai betapa pentingnya menjaga kelestarian hutan. Kami menjelaskan bahwa hutan sangat berperan dalam menjagaa ekosistem alam. Hutan berfungsi sebagai paru-paru dunia. Hutan menjaga kestabilan udara. Di samping itu, hutan mencegah terjadinya banjir bandang. Intinya merusak hutan berarti merusak kehidupan itu sendiri.” (PPR hal 89)

Kedua. Local wisdom (kearifan lokal) harus diperhatikan. Termasuk penamaan dari hutan itu sendiri menjadi “hutan lindung”. Istilah ini sebaiknya diganti menjadi “hutan adat”.

“Menurut pendapatku, sebaiknya pemerintah tidak lagi memakai istilah hutan lindung, tetapi diganti saja dengan istilah hutan adat. Nama hutan adat lebih sakral daripada hutan lindung. Aku yakin, masyarakat takut membabat hutan adat karena terkait dengan hukum adat dan mitos setempat, sedangkan hutan lindung cuma penamaan saja, bahkan kadang tidak terlindungi.” (PPR hal 205)

Ketiga. Belajar pada kearifan orang Kajang di Bulukumba dalam menjaga dan memperlakukan hutannya.

“Masyarakat boleh menebang pohon di hutan, tetapi harus ada izin dan pertimbangan dari ammatoa dulu, karena hutan dan pohon terkait pasang, pertimbangan dari ammatoa mencakup jumlah, ukuran, tujuan penggunaan, serta jenis kayu yang akan diambil. Masyarakat yang menebang pohon harus menggantinya. Setiap penebangan satu pohon harus diganti dengan menanam dua pohon yang sejenis di lokasi yang ditentukan oleh ammatoa. Masyarakat yang sudah diberi izin menebang pohon diawasi oleh orang-orang kepercayaan ammatoa, tetapi ada kawasan hutan yang tak boleh ditebang sama sekali yaitu borong karamaya.” (PPR, hal 194)

Keempat. Memaknai bahwa bumi adalah ibu yang harus dicintai.

“Ibu dan ibu pertiwi adalah dua hal yang harus disayang karena dari keduanyalah sumber cinta dan kasih sayang yang suci. Agar seorang anak tumbuh dengan sehat dan cerdas, ia harus menyusu pada ibu. Dan, bila anak itu sudah dewasa dan ingin hidup bahagia dan sejahtera, maka ia harus menyusu pada ibu pertiwi. Bila ibu dan ibu pertiwi murka, maka tidak ada lagi kehidupan. Dan, yang paling harus dicamkan oleh semuanya adalah bahwa murka ibu dan murka ibu pertiwi merupakan murka Tuhan.” (PPR hal 237)

Kelima. Mengkampanyekan bahwa bumi itu adalah perempuan yang harus dijunjung tinggi. Sehingga seorang perempuan menjaga hutan karena sama dengan menjaga eksistensi dirinya sendiri. Pun kaum adam menjaga hutan karena sama dengan menjaga isteri, ibu, atau kekasihnya sendiri.

“Perempuan lebih menjiwai perannya sebagai anggota Kompita (Kelompok Pencinta Alam) karena alam identik dengan perempuan. Umar mengatakan bahwa alam memang berjenis kelamin perempuan. Buktinya, kita hanya menyebut ibu pertiwi bukan bapak pertiwi, atau ibu kota bukan bapak kota.” (PPR hal 95-96)

Keenam. Memaknai secara filosofis bahwa hutan adalah sosok kekasih yang harus dicintai dan dijaga keberadaannya.

“Aku berjanji akan menjaga dan melestarikan kawasan Hutan Lindung Balang sebagai tempat peristirahatanmu yang terakhir duhai cintaku. Aku akan menjaga seluruh hutan di Sinjai, bahkan di seluruh Indonesia dan dunia yang akan aku kunjungi kelak. Jangan lagi ada penggundulan hutan di sini. Jangan lagi ada penggundulan hutan di sana. Jangan lagi ada banjir bandang di sini. Jangan lagi ada banjir bandang di sana. Jangan lagi ada air mata yang membandang karena tertimpa banjir bandang. Maka tersenyumlah duhai pepohonan. Tersenyumlah duhai hutan. Tersenyumlah duhai kekasihku.” (PPR hal 349)

Begitulah, semoga saja poin-poin yang penulis ungkapkan di atas bisa menjadi bahan pertimbangan bagi siapa saja. Karena peran sebagai penjaga lingkungan seharusnya menjadi tanggung jawab bersama sehingga kita bisa mendapatkan lingkungan yang baik sebagaimana tertera dalam UU RI No.23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagai berikut:

* Setiap orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.
* Setiap orang mempunyai hak atas informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dan pengelolaan lingkungan hidup.

Menutup tulisan ini, sebagai “penjaga lingkungan”, mari mencamkan dialog Tuhan dengan Malaikat yang tertera dalam Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 30: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman pada malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Malaikat berkata: “Mengapa Engkau akan menjadikan khalifah di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau”. Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Semoga saja kita bukan khalifah yang sejak awal sudah diwanti-wanti oleh malaikat untuk membuat kerusakan di bumi ini.

(Sastrawan dan peneliti budaya, Pengarang novel bertema lingkungan “Pohon-Pohon Rindu” aktif bersastra di Makassar)

Sumber Tulisan:
- www.aceh.tribunnews.com
- www.publiksastra.com

Senin, 14 Maret 2011

DUL ABDUL RAHMAN, MENULIS UNTUK KEBANGKITAN BUDAYA SULAWESI-SELATAN

OLEH: MUHAMMAD NURSAM

MESKIPUN kamu tidak punya apa-apa, tidak punya banyak uang. Tapi, jika kamu punya sesuatu yang bisa diwariskan dan bisa membuatmu dikenang, itu sudah lebih dari cukup.

Kata-kata itu meluncur dari mulut Dul Abdul Rahman. Sekira pukul 10 pagi, saya baru tiba di kediaman pribadi novelis Sulsel yang cukup produktif ini. Suasana di kediamannya cukup sepi. Dia tinggal seorang diri. Namun kesendiriannya itu terobati oleh buku-buku yang terpajang di rak pada kedua sisi dinding di rumahnya.

Saya mengamati rak buku tersebut. Didominasi oleh buku sastra dan budaya. Ada pula buku agama serta filsafat. Beberapa buku yang terpajang mencolok merupakan karyanya sendiri.

Nama lengkapnya Abdul Rahman R, namun dia lebih dikenal di dunia sastra sebagai Dul Abdul Rahman. Bagi pembaca setia Halaman Budaya FAJAR, tentu sudah tak asing lagi dengan nama ini. Saking produktifnya menulis tentang sastra dan budaya, nyaris tiap bulan tulisannya muncul di halaman tersebut.

Bang Dul, demikian sapaannya, mengaku mulai aktif menulis sejak masih duduk di bangku SMA. Saat itu karya-karyanya sudah dimuat di Surat Kabar Harian (SKH) Mimbar Karya. Kemudian pada tahun 1993 dia terdaftar sebagai mahasiswa Unhas. Pada kurun waktu 1993 hingga 1997, dia cukup produktif menulis cerpen dan puisi.

"Seusai kuliah, saya menjadi dosen yayasan di STIMIK AKBA. Hingga lima tahun setelahnya, saya hanya fokus bekerja sebagai dosen dan vakum berkarya," tuturnya mengenang kembali masa-masa paceklik karya yang dialaminya.

Ternyata, Harian FAJAR punya andil besar membangkitkan kembali semangat Dul Abdul Rahman untuk menulis. Dia kembali menggeluti dunia tulis menulis setelah terpilih sebagai Dewan Pembaca Harian FAJAR.

"Awal kebangkitan saya menulis, ketika menjadi anggota Dewan Pembaca Harian FAJAR pada 2002 silam. Ketika itu, saya diberi tugas membaca dan mengamati Harian FAJAR edisi Minggu. Di situ saya melihat, banyak yang menulis asal saja, tanpa menggali nilai-nilai budaya yang ada di Sulsel. Sejak itu hingga sekarang, saya bertekad menekuni dunia sastra dan budaya," ungkapnya.

Sebagai seorang penulis dan pekerja budaya, Dul Abdul Rahman bertekad memperkenalkan Epos La Galigo melalui novel. "Proyek besar"-nya saat ini adalah berusaha menovelkan kitab La Galigo dengan bahasa populer.

"La Galigo adalah karya besar serupa Mahabarata dari India. Sayang sekali tidak ada gaungnya karena tidak ada pembacanya. Saya sedang menyiapkan novel trilogi tentang La Galigo," terang alumni SMA Negeri 1 Bikeru Sinjai ini. (muhammadnursam@ymail.com)

Sumber: Harian Fajar, Ahad 13 Maret 2011