Senin, 24 Januari 2011

Cerpen: PARAKANG


PARAKANG1
Cerpen: Dul Abdul Rahman

Kampung Sumpang Ale’ benar-benar mencekam belakangan ini. Bila malam tiba, warga hanya mendekam di rumah masing-masing. Mereka takut kalau peristiwa meninggalnya beberapa warga secara aneh menimpa dirinya. Seminggu ini, dua warga yang meninggal secara aneh. Koneng, dukun beranak, meninggal tiga hari lalu padahal sebelumnya Koneng tidak sakit. Koneng pulang pada malam hari dari membantu persalinan di RT sebelah, ia ditemani Bapak Kepala Kampung. Setibanya di rumah, Koneng langsung demam, lalu mendadak tubuhnya lebam, tapi setelah diperiksa ia tidak keracunan.
“Koneng mungkin dimakan parakang.” Kepala kampung berpendapat setelah pegawai puskesmas tidak bisa memberikan keterangan penyebab kematian Koneng. Keluarga Koneng juga tidak mengizinkan Koneng diotopsi.
“Parakang?”
Seluruh warga yang menghuni kampung itu mendadak ketakutan. Wajar memang, karena kampung yang mereka huni tidak begitu banyak penduduknya, jarak antara rumah yang satu dengan lainnya paling dekat lima puluh meter. Di sebelah selatan kampung itu memang masih kawasan hutan belantara. Maka disebutlah kampung itu  Sumpang Ale’ yang berarti pintu hutan. Maka tetntu saja kampung itu tempat lalu lalangnya para makhluk halus. Konon, makhluk halus lebih senang tinggal di tempat-tempat yang rimbun seperti pepohonan besar. Dan yang paling ditakuti oleh warga di kampung itu adalah parakang. Konon, parakang adalah makhlus halus jelmaan manusia. Ia bisa berwujud manusia, pun binatang. Manusia yang menjadi parakan biasanya karena ilmu sesat karena ingin kaya secepatnya. Ilmu parakang bisa didapat secara turun temurun, pun bisa dengan berguru.
Konon, untuk mengenal orang yang menjadi parakan itu tidaklah susah. Biasanya parakang mempunyai mata memerah dan tajam. Seseorang yang menjadi parakang, bisa sekonyong-konyong tubuhnya mewujud jadi binatang, atau matanya memerah dengan pandangan menusuk-nusuk bila ingin mengambil mangsa. Menurut cerita tetua di kampung itu, biasanya kalau parakang mau memakan orang, ia melihat orang serupa ia melihat nangka. Disaat orang lagi sakit, parakang melihatnya dan merasakannya serupa nangka yang sudah masak dan lezat.
“Pak Kepala Kampung, kita harus menjaga kampung ini dari gangguan parakang.”
“Tak boleh lagi ada korban seperti Koneng.”
“Kita harus mengaktifkan ronda malam agar parakang takut berkeliaran.”
Belum sempat kepala kampung menanggapi usulan seorang tetua kampung, yang lain pada nyerocos. Mereka memang sangat antusias mengikuti rapat konsolidasi kampung untuk mencegah parakang bereaksi.
“Ini persoalan besar Pak Kepala Kampung, kalau perlu kita harus hati-hati jangan sampai para parakang yang telah membunuh warga kita adalah warga kita sendiri.”
“Haaa!!!”
Hadirin kaget mendengar pendapat seorang warga. Kalau ternyata parakang adalah warga sekampung sendiri, bagaimana bisa mengatasinya? Para warga membatin tak karuan.
“Kalau begitu kita harus memeriksa siapa penduduk kampung Sumpang Ale’ ini yang parakang.”
“Kalau perlu kita bunuh parakang itu.”
“Tangkap!”
“Bunuh!”
Para keluarga korban yang meninggal karena dimakan parakang berteriak-teriak.
“Diam! Diam!”
Tiba-tiba emosi kepala kampung meninggi karena sejak tadi warga terus nyerocos tanpa mempedulikan dirinya sebagai pemimpin rapat, sekaligus sebagai kepala kampung dan orang terhormat di kampung itu. Biasanya kalau kepala kampung bicara, tidak ada warga yang berani menyela atau memotong pembicaraannya karena kepala kampung terkenal sangar dan ringan tangan. Tapi soal parakan, rupanya warga tidak gentar menentang kepala kampung, karena bila warga mendesak untuk mencari siapa parakang di kampung Sumpang Ale’, kepala kampung selalu menolak.
Parakang itu makhlus halus, tidak bisa dimusnahkan.” Kepala kampung mencoba meredakan nyerocos warganya.
Parakang itu adalah manusia yang memiliki ilmu hitam yang bisa mencelakakan orang lain.” Rupanya ada warga yang tidak sependapat dengan kepala kampung.
Parakang itu bisa dimusnahkan yang penting kita kompak satu kampung.”
“Kalau perlu kita minta bantuan orang pintar atau orang alim.”
“Tenang! Tenang! Urusan ini kita bisa selesaikan bersama tanpa campur tangan orang luar.” Kepala kampung mencoba bijak dan kembali menenankan warganya.
“Apakah Pak Kepala Kampung yakin bisa menangkap warga yang telah menjadi parakang?”
“Tenang! Kami bisa melakukannya. Percayalah kepada kami.” Kepala kampung terlihat berdiskusi dengan dua orang tetua kampung lainnya. Lalu ketiganya manggut-manggut. Tak ada yang menyahut. Mungkin takut. Karena jenggot orang-orang terhormat itu tak tertata, kelihatan seram dan menakutkan.
Seminggu setelah kepala kampung berjanji untuk mengusut tuntas siapa yang sebenarnya parakang di kampung ini, akhirnya kepala kampung mencurigai dua orang. Keduanya terdapat tanda-tanda parakan. Yang pertama adalah Sakka, suami Koneng sendiri yang telah jadi korban keganasan parakang, akhir-akhir ini mata Sakka selalu memerah dan selalu menatap tajam pada kepala kampung setiap kali orang terhormat itu lewat di depan rumahnya.
Orang kedua yang dicurigai oleh kepala kampung sebagai parakang adalah Attu. Attu sebenarnya termasuk orang kaya di kampung itu, bahkan memiliki kebun yang luas, lebih luas dari kebun kepala kampung. Di kebun Attu terdapat banyak buah-buahan, termasuk nangka. Tapi yang membuat kepala kampung curiga, karena setiap ia lewat di kebun Attu, ia selalu melihat Attu memukul-mukul nangka.
Seluruh warga gempar setelah kapala kampung mengumumkan dua orang yang dicurigai sebagai parakang. Ada warga yang senang, karena identitas parakang sudah ditemukan, ada yang biasa-biasa saja, mereka tidak begitu yakin dengan kepala kampung. Bahkan ada desas-desus bahwa kepala kampung sengaja mencap Sakka dan Attu sebagai parakan hanya untuk menyingkirkan keduanya, kepala kampung rupanya masih dendam kepada mereka berdua.
“Kita harus berhati-hati, tidak boleh begitu saja mempercayai omongan kepala kampung.”
“Tapi kepala kampung tidak asal menuduh, ia melihat kedua orang itu punya kelakuan seperti parakang.”
“Tapi hati-hati, ada juga yang bilang bahwa parakan itu biasanya sering menuduh orang lain parakang dengan alasan yang dibuat-buat.”
“Jadi menurut kamu, apa yang dibilang kepala kampung itu salah?”
“Belum tentu juga, cuma kita harus berhati-hati.”
Ramai orang bersilat lidah pertanda pro-kontra atas pendapat kepala kampung. Tapi mereka berhati-hati karena kepala kampung bisa saja benar, pun bisa saja hanya menuduh.
“Memang bisa dipercaya kalau kepala kampung menuduh Sakka adalah parakang, matanya selalu memerah.”
“Tetapi bukankah matanya merah, karena ia masih berduka cita dengan kematian isterinya.”
“Ataukah?”
“Ataukah apa?”
“Sst! Ini sedikit rahasia, dulu kepala kampung jatuh cinta sama Koneng, tapi rupanya Koneng menampik cinta kepala kampung lalu menerima cinta Sakka.”
“Mungkinkah ini balas dendam?”
“Sst, jangan bahas itu.”
“Kalau Attu?”
“Attu juga memiliki sifat parakang kata kepala kampung, ia selalu memukul-mukul nangka.”
“Tapi Attu memang pedagang buah, pasti ia selalu mengecek nangkanya.”
“Jadi menurutmu, bisa saja ini hanyalah kecemburuan kepala kampung karena Attu lebih kaya darinya.”
“Husy! Belum tentu juga. Kita harus rapat lagi dengan kepala kampung serta warga lainnya di kampung ini.”
Karena banyak warga yang tidak puas atas penemuan kepala kampung tentang siapa parakang, maka diadakanlah kembali rapat akbar, bahkan menghadirkan seluruh warga karena penduduk kian ketakutan. Kemarin seorang anak meninggal dunia dengan tubuh lebam, padahal waktu itu baru saja kepala kampung pulang dari rumah itu.
“Tapi saudara-saudara, bukankah saya sudah mengemukakan bahwa kedua orang itu adalah parakang?”
“Kami belum begitu yakin.”
“Mengapa tidak yakin? Kemarin saja seorang anak meninggal dunia setelah Attu membawakannya buah-buahan.”
“Kita harus buktikan lagi, Pak.” Serempak warga berteriak, karena mereka tidak percayaa kalau Attu yang ‘makan’ anak itu. Attu memang dikenal dermawan dan suka membagi-bagikan buah kepada para tetangganya.
“Saya telah membuktikannya.” Kepala kampung berteriak lantang.
“Kita harus buktikan bersama-sama Pak.” Koor warga terus menantang.
Akhirnya kepala kampung tak bisa berkutik. Ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mengikuti kemauan warganya. Maka dibuatlah keputusan bersama. Akan dicari siapa sebenarnya parakan di kampung itu. Caranya adalah semua warga akan dicambuk satu kali, tetapi yang dicambuk hanyalah bayangannya. Orang yang mencambuknya harus berasal dari luar kampung.
Konon, bila seseorang jadi parakang, ia tidak sakit kalau tubuhnya yang dipukul tetapi harus bayangannya. Makanya parakan hanya mau bereaksi di tempat gelap atau kalau berada di tempat terang, ia berusaha berada tepat dibawah sumber cahaya sehingga ia tak punya bayangan. Waktu yang paling disukai parakan untuk bereaksi tepat siang hari ketika matahari tepat berada di atas kepala.
Tapi kita juga harus berhati-hati memukul bayangan parakang, karena ia hanya mempan dipukul satu kali, pukulan kedua dan seterusnya membuat pukulan pertama tidak mempan lagi.
Kini tibalah saatnya warga Sumpang Ale’ menjalani tes parakang. Semuanya sudah berkumpul di sebuah lapangan tepat matahari naik sepenggalah. Wajah-wajah tegang memucat di wajah warga setiap kali tukang pukul memukul bayangan warga yang dipanggil secara bergantian. Dan warga terlihat saling memandang setelah semuanya sudah menjalani  tes tetapi belum ditemukan parakang. Tinggallah seorang saja yang belum dipukul bayangannya yaitu kepala kampung.
Dengan langkah yang sedikit galau sambil bersitatap dengan tukang pukul bayangan, kepala kampung maju ke depan. Lalu. Buk! Lidah kepala kampung menjulur. Tukang pukul bayangan terlihat melayangkan tongkat untuk kedua kalinya, tetapi belum juga tongkatnya menyentuh bayangan kepala kampung ia ditarik oleh Sakka dan Atto. Kepala kampung lalu berharap kepada orang lain untuk memukul bayangannya. Tapi orang-orang sudah menjauh.

Sinjai Tellulimpoe, 2007     
1. Cerpen “PARAKANG” dimuat Harian Fajar, Ahad 26 Juli 2009        

Minggu, 23 Januari 2011

CERPEN: POPPO


POPPO1
Cerpen: dul abdul rahman

“Po…pop…po….”
Bunyi itu seperti menyambut gerimis. Malam kamis. Di luar angin bertiup ganas, melebas segala pepohonan. Lalu. Ada bau amis.  
            Semua penduduk di desa itu mendadak ketakutan. Tak ada yang berani keluar rumah. Anak-anak muda yang biasanya ramai bercengkerama di gardu pos ronda, pun anak-anak belasan tahun yang gemar bermain henggo lari, semuanya tak kelihatan batang hidungnya. Malam mencekam. Amat kelam. Wajah-wajah penduduk digantungi cemas. Sambil berharap tak terjadi apa-apa pada anggota keluarganya ini malam.
            Dahulu, sebagaimana cerita para orang tua, bila ada kejadian seperti ini, maka akan ada penduduk desa yang berpulang ke rahmatullah esok pagi. Dan keyakinan seperti itu telah terselip rapi di benak penduduk setempat. Wajar memang. Karena kejadian serupa setahun silam pernah terjadi. Tempo itu, kepala desa meninggal secara mengenaskan, perutnya kosong melompong sehingga ia dikubur dengan perut bolong. Meski sebagian penduduk percaya bahwa kematian tragis dan aneh kepala desa akibat perbuatannya yang selalu menyelewengkan jatah beras raskin untuk rakyat miskin, tetapi tetap saja penduduk dicekam ketakutan.
            Peristiwa dua tahun silam pun tak bisa menghilang dari ingatan penduduk ketika seorang pegusaha yang berlagak penguasa yang sering dipanggil Haji Loppo tewas mengenaskan. Konon gara-gara ia amat terkejut mendengar bunyi “po…pop…po” sehingga ia tak bisa menguasai kemudi mobilnya lalu terperosok masuk jurang yang dalam. Anehnya, perutnya luka menganga dengan isi perut menghilang. Penduduk setempat percaya bahwa isi perut Haji Loppo dimakan Poppo. Ada sebagian kecil penduduk yakin kalau Haji Loppo dikutuk oleh Tuhan. Haji Loppo memang orang paling kaya di kampung itu. Ia bahkan beberapa kali ke Tanah Suci, tapi penduduk setempat mengenalnya sebagai tengkulak cengkeh dan kakao yang sangat pelit bin kikir.
            Masih menurut cerita para tetua. Konon, yang berbunyi po…pop…po itu adalah seseorang yang memiliki ilmu hitam, bila mewujud jadi poppo, wujudnya kadang tak bisa dilihat, hanya bunyinya yang kedengaran. Sebenarnya dua macam penganut ilmu hitam yang di takuti yaitu poppo dan parakan. Bedanya, poppo bisa terbang sedangkan parakan cuma di darat. Ilmu parakan tidak mutlak diwariskan, tetapi ilmu poppo diwariskan secara turun temurun, bahkan harus diturunkan pada anak. Konon, seorang poppo tidak bisa meninggal dunia jika tidak ada anggota keluarganya yang mengambil ilmunya sebagai mana’, ia hanya tersiksa dalam himpitan sakaratul maut dengan lidah menjulur-julur serta mata terbelalak.
            Sementara semua penduduk desa dikepung kecemasan dan ketakutan. Seorang penduduk yang bernama Labillang kelihatan tenang-tenang saja. Bahkan ada harapan yang menggelayut dibenaknya. Sebagai seseorang yang berprofesi sebagai penggali kubur, ia memang selalu menggantung harapan di atas penderitaan orang lain. Prinsip penggali kubur, ada mayat ada uang, ada uang ada makanan.
            Malam itu sepertinya harapan besar buat Labillang. Karena di kampung itu seorang pengusaha kaya raya saudara almarhum Haji Loppo yang bernama Haji Lolo sakit keras. Bahkan penduduk setempat memprediksi umur Haji Lolo tak akan lama lagi. Yang was-was hanyalah keluarga calon almarhum,  mereka cemas kalau-kalau kematian Haji Lolo kelak mengikuti jejak Haji Loppo. Di rumah yang lain, Labillang kelihatan tidak begitu bersemangat. Tiba-tiba ia merasa ngeri. Makanannya berbau maut. Ia seperti diintip sakaratul maut.
            Tujuh bulan yang lalu
            “Woh…oh…woh!” Perempuan tua itu mengerang kesakitan. Antara hidup dan mati. Lidahnya menjulur-julur. Pun matanya terbelalak.
            “Woh…oh! Billang!” Ia terus merintih sambil memanggil cucu tunggalnya.
            “Nek! Aku disini, aku tak pernah meninggalkan nenek.”
            “Woh…oh…woh! Billang! Billang!” Sepertinya perempuan tua itu tidak mendengar suara cucunya.
            “Nek! Apa yang terjadi? Billang menggoyang-goyang tubuh neneknya.
            “Cucuku, Nenek tak akan lama lagi disini. Nenek sudah kangen sama kedua orang tuamu, dan kakakmu.”
            “Jangan pergi Nek!” Billang terus memeluk neneknya.
            “Nenek harus pergi. Sebelum nenek pergi, akan nenek ceritakan semua rahasia tentang keluargamu.”
            “Rahasia?“
            “Ya rahasia cucuku. Dulu orang tuamulah yang paling kaya di kampung ini. Ayahmu adalah seorang pedagang yang gigih dan ulet. Ibumu adalah anakku satu-satunya. Nenek tidak punya saudara. Sebagai anak tunggal, harta nenek adalah harta ibumu juga. Namun semuanya….” Suara perempuan tua itu tercegat. Airmata terus menghiasi wajahnya yang mengeriput. Sementara Labillang hanya terpekur di sudut.
“Lanjutkan ceritanya Nek!” 
“Baiklah cucuku. Karena kesuksesan kedua orang tuamu, banyak orang yang iri dan berusaha menjatuhkannya. Termasuk kepala desa yang telah meninggal setahun silam.”
“Kepala desa?” Labillang kian penasaran.
“Ya kepala desa itu. Sebenarnya ia adalah pamanmu sendiri. Saudara sepupu ayahmu. Namun ia benci pada ayahmu yang tidak mendukungnya sebagai kepala desa. Hanya ayahmulah satu-satunya di desa ini yang berani mengeritiknya.”
“Tapi kenapa ia bisa terpilih jadi kepala desa sampai beberapa periode Nek?”
“Tidak ada yang berani mencalonkan diri jadi kepala desa selama ia juga masih mencalonkan diri kecuali ayahmu. Dan….” Sekali lagi perempuan tua itu tercegat.  Ada duka yang menghiris wajahnya.
“Dan kenapa Nek” Labillang kian menyelidik.
“Semoga kau bisa menerima kenyataan ini cucuku, kedua orang tuamu serta kakakmu dibunuh secara kejam oleh orang suruhan kepala desa yang bersekutu dengan Haji Loppo dan Haji Lolo.”
“Tapi kenapa aku bisa selamat Nek?”
            “Tempo itu, kau masih bayi belum mengerti apa-apa, mungkin mereka tidak sampai hati membunuhmu.”
            “Bajingan!”Labillang mengutuk.
            “Sabarlah cucuku! Tak ada gunanya mendendam. Nenek telah mendendam kepada mereka yang telah mendzalimi orang tuamu tapi apa yang nenek dapatkan? Tidak ada. Hanya menumpuk dosa. Ingat cucuku! Hanya menumpuk dosa dan penyesalan.”
            “Maksud nenek?”
            “Dengarkanlah cucuku. Masih banyak yang perlu nenek ceritakan sebelum nenek mengharap keharibaanNya.”
            “Lanjutkan Nek”
            “Karena kekejaman kepala desa dan orang-orang suruhannya, nenek sangat mendendam. Tapi tak mungkin nenek bisa membalas dendam secara langsung, nenek tak punya kekuatan. Akhirnya nenek pergi berguru dan mewarisi ilmu poppo dari seorang tetua di kampung sebelah. Dan begitulah, kepala desa dan Haji Loppo telah jadi korban ilmu itu.” Perempuan tua itu berhenti sejenak.
            “Jadi…jadi.” Labillang tergeragap.
            “Maaf cucuku, nenek mengerti maksudmu. Kau tak sudi mewarisi ilmu hitam nenek. Tapi nenek terpaksa mewariskan kepadamu, karena ilmu ini tak bisa hilang dan tidak mungkin diwariskan pada orang lain sebelum diwariskan pada turunan sendiri. Dan ketika kau sudah mewarisi ilmu ini jangan lagi diwariskan pada keturunanmu kelak, pun orang lain. Nenek yakin kau bisa melepaskan diri dari ilmu sesat ini suatu saat dengan memperdalam ilmu agama, pergilah belajar pada kiyai dan ustadz.”
            “Woh…oh…woh!” Tiba-tiba perempuan tua itu merintih kesakitan. Lidahnya menjulur-julur. Mata terbelalak galak.
            Khkhkh! Perempuan tua itu telah menutup mata untuk selama-lamanya. Tapi mendadak keanehan menjelma pada Labillang. Lidah Labillang menjulur-julur, matanya memerah galak terbelalak. Lalu. Pop…po…poppo.
            Malam kamis itu masih terus mencekam. Penduduk desa masih ketakutan. Di sebuah rumah mewah, menghadap ke utara di sebelah timur rumah Labillang, ramai orang berkumpul. Mereka adalah sanak keluarga yang menunggui Haji Lolo. Haji Lolo memang lagi sakit keras.
            Sementara itu. Di rumahnya, Labillang terus komat-kamit. Ia meracau. Matanya terbelalak, pun lidah menjulur-julur. Seperti ia menahan geram yang maha dahsyat. “Bangsat kau Haji Lolo, terimalah pembalasanku.”
            Hening sejenak. Lalu. Ia kembali komat-kamit. Bukan meracau. Karena lafadz yang ia ucapkan adalah ayat-ayat suci Al-Quran. Lalu. Seperti ada dua makhluk asing yang berperang kejam dalam tubuhnya.
            “Tidak! Tidak! Aku tak boleh mendendam.”
            “Aku harus membunuhnya.”
            “Tidaaak! Aku harus ingat pesan nenek.”
            “Nyawa harus dibalas dengan nyawa.”
            “Tidaaaak.”
            Kh…kh…khkh. Tubuh Labillang terhempas melawan kekuatan dahsyat dalam tubuhnya. Sesosok bayangan hitam keluar dari mulutnya disertai bunyi po…pop…po. Lalu menghilang bersama malam. Labillang terus melantunkan ayat-ayat suci.
            Keesokan harinya. Labillang terlihat asyik menggali kuburan bersama rekan-rekannya. Haji Lolo memang telah meninggal dunia. Keluarganya sangat bersyukur karena mayat Haji Lolo tidak mengalami keanehan seperti yang mereka prediksi sebelumnya.
            Sambil menggali kuburan, mata Labillang berkaca-kaca. Ia teringat akan pesan neneknya. Ia bertekad menjaga pesan neneknya itu sebagai wasiat. Tak boleh ada dendam. Labillang berharap wasiat neneknya menjadi lampu penerang baginya menjalani hari-hari mendatang. Langit kian cerah. Secerah hati Labillang.

Sinjai-Makassar, 2008

Catatan
mana’(Bugis)= warisan
1. Cerpen ini pernah dimuat Koran Nasional Sindo, Ahad 6 Juli 2008

Sabtu, 22 Januari 2011

CERPEN


POPPO1
Oleh: dul abdul rahman

“Po…pop…po….”
Bunyi itu seperti menyambut gerimis. Malam kamis. Di luar angin bertiup ganas, melebas segala pepohonan. Lalu. Ada bau amis.  
            Semua penduduk di desa itu mendadak ketakutan. Tak ada yang berani keluar rumah. Anak-anak muda yang biasanya ramai bercengkerama di gardu pos ronda, pun anak-anak belasan tahun yang gemar bermain henggo lari, semuanya tak kelihatan batang hidungnya. Malam mencekam. Amat kelam. Wajah-wajah penduduk digantungi cemas. Sambil berharap tak terjadi apa-apa pada anggota keluarganya ini malam.
            Dahulu, sebagaimana cerita para orang tua, bila ada kejadian seperti ini, maka akan ada penduduk desa yang berpulang ke rahmatullah esok pagi. Dan keyakinan seperti itu telah terselip rapi di benak penduduk setempat. Wajar memang. Karena kejadian serupa setahun silam pernah terjadi. Tempo itu, kepala desa meninggal secara mengenaskan, perutnya kosong melompong sehingga ia dikubur dengan perut bolong. Meski sebagian penduduk percaya bahwa kematian tragis dan aneh kepala desa akibat perbuatannya yang selalu menyelewengkan jatah beras raskin untuk rakyat miskin, tetapi tetap saja penduduk dicekam ketakutan.
            Peristiwa dua tahun silam pun tak bisa menghilang dari ingatan penduduk ketika seorang pegusaha yang berlagak penguasa yang sering dipanggil Haji Loppo tewas mengenaskan. Konon gara-gara ia amat terkejut mendengar bunyi “po…pop…po” sehingga ia tak bisa menguasai kemudi mobilnya lalu terperosok masuk jurang yang dalam. Anehnya, perutnya luka menganga dengan isi perut menghilang. Penduduk setempat percaya bahwa isi perut Haji Loppo dimakan Poppo. Ada sebagian kecil penduduk yakin kalau Haji Loppo dikutuk oleh Tuhan. Haji Loppo memang orang paling kaya di kampung itu. Ia bahkan beberapa kali ke Tanah Suci, tapi penduduk setempat mengenalnya sebagai tengkulak cengkeh dan kakao yang sangat pelit bin kikir.
            Masih menurut cerita para tetua. Konon, yang berbunyi po…pop…po itu adalah seseorang yang memiliki ilmu hitam, bila mewujud jadi poppo, wujudnya kadang tak bisa dilihat, hanya bunyinya yang kedengaran. Sebenarnya dua macam penganut ilmu hitam yang di takuti yaitu poppo dan parakan. Bedanya, poppo bisa terbang sedangkan parakan cuma di darat. Ilmu parakan tidak mutlak diwariskan, tetapi ilmu poppo diwariskan secara turun temurun, bahkan harus diturunkan pada anak. Konon, seorang poppo tidak bisa meninggal dunia jika tidak ada anggota keluarganya yang mengambil ilmunya sebagai mana’, ia hanya tersiksa dalam himpitan sakaratul maut dengan lidah menjulur-julur serta mata terbelalak.
            Sementara semua penduduk desa dikepung kecemasan dan ketakutan. Seorang penduduk yang bernama Labillang kelihatan tenang-tenang saja. Bahkan ada harapan yang menggelayut dibenaknya. Sebagai seseorang yang berprofesi sebagai penggali kubur, ia memang selalu menggantung harapan di atas penderitaan orang lain. Prinsip penggali kubur, ada mayat ada uang, ada uang ada makanan.
            Malam itu sepertinya harapan besar buat Labillang. Karena di kampung itu seorang pengusaha kaya raya saudara almarhum Haji Loppo yang bernama Haji Lolo sakit keras. Bahkan penduduk setempat memprediksi umur Haji Lolo tak akan lama lagi. Yang was-was hanyalah keluarga calon almarhum,  mereka cemas kalau-kalau kematian Haji Lolo kelak mengikuti jejak Haji Loppo. Di rumah yang lain, Labillang kelihatan tidak begitu bersemangat. Tiba-tiba ia merasa ngeri. Makanannya berbau maut. Ia seperti diintip sakaratul maut.
            Tujuh bulan yang lalu
            “Woh…oh…woh!” Perempuan tua itu mengerang kesakitan. Antara hidup dan mati. Lidahnya menjulur-julur. Pun matanya terbelalak.
            “Woh…oh! Billang!” Ia terus merintih sambil memanggil cucu tunggalnya.
            “Nek! Aku disini, aku tak pernah meninggalkan nenek.”
            “Woh…oh…woh! Billang! Billang!” Sepertinya perempuan tua itu tidak mendengar suara cucunya.
            “Nek! Apa yang terjadi? Billang menggoyang-goyang tubuh neneknya.
            “Cucuku, Nenek tak akan lama lagi disini. Nenek sudah kangen sama kedua orang tuamu, dan kakakmu.”
            “Jangan pergi Nek!” Billang terus memeluk neneknya.
            “Nenek harus pergi. Sebelum nenek pergi, akan nenek ceritakan semua rahasia tentang keluargamu.”
            “Rahasia?“
            “Ya rahasia cucuku. Dulu orang tuamulah yang paling kaya di kampung ini. Ayahmu adalah seorang pedagang yang gigih dan ulet. Ibumu adalah anakku satu-satunya. Nenek tidak punya saudara. Sebagai anak tunggal, harta nenek adalah harta ibumu juga. Namun semuanya….” Suara perempuan tua itu tercegat. Airmata terus menghiasi wajahnya yang mengeriput. Sementara Labillang hanya terpekur di sudut.
“Lanjutkan ceritanya Nek!” 
“Baiklah cucuku. Karena kesuksesan kedua orang tuamu, banyak orang yang iri dan berusaha menjatuhkannya. Termasuk kepala desa yang telah meninggal setahun silam.”
“Kepala desa?” Labillang kian penasaran.
“Ya kepala desa itu. Sebenarnya ia adalah pamanmu sendiri. Saudara sepupu ayahmu. Namun ia benci pada ayahmu yang tidak mendukungnya sebagai kepala desa. Hanya ayahmulah satu-satunya di desa ini yang berani mengeritiknya.”
“Tapi kenapa ia bisa terpilih jadi kepala desa sampai beberapa periode Nek?”
“Tidak ada yang berani mencalonkan diri jadi kepala desa selama ia juga masih mencalonkan diri kecuali ayahmu. Dan….” Sekali lagi perempuan tua itu tercegat.  Ada duka yang menghiris wajahnya.
“Dan kenapa Nek” Labillang kian menyelidik.
“Semoga kau bisa menerima kenyataan ini cucuku, kedua orang tuamu serta kakakmu dibunuh secara kejam oleh orang suruhan kepala desa yang bersekutu dengan Haji Loppo dan Haji Lolo.”
“Tapi kenapa aku bisa selamat Nek?”
            “Tempo itu, kau masih bayi belum mengerti apa-apa, mungkin mereka tidak sampai hati membunuhmu.”
            “Bajingan!”Labillang mengutuk.
            “Sabarlah cucuku! Tak ada gunanya mendendam. Nenek telah mendendam kepada mereka yang telah mendzalimi orang tuamu tapi apa yang nenek dapatkan? Tidak ada. Hanya menumpuk dosa. Ingat cucuku! Hanya menumpuk dosa dan penyesalan.”
            “Maksud nenek?”
            “Dengarkanlah cucuku. Masih banyak yang perlu nenek ceritakan sebelum nenek mengharap keharibaanNya.”
            “Lanjutkan Nek”
            “Karena kekejaman kepala desa dan orang-orang suruhannya, nenek sangat mendendam. Tapi tak mungkin nenek bisa membalas dendam secara langsung, nenek tak punya kekuatan. Akhirnya nenek pergi berguru dan mewarisi ilmu poppo dari seorang tetua di kampung sebelah. Dan begitulah, kepala desa dan Haji Loppo telah jadi korban ilmu itu.” Perempuan tua itu berhenti sejenak.
            “Jadi…jadi.” Labillang tergeragap.
            “Maaf cucuku, nenek mengerti maksudmu. Kau tak sudi mewarisi ilmu hitam nenek. Tapi nenek terpaksa mewariskan kepadamu, karena ilmu ini tak bisa hilang dan tidak mungkin diwariskan pada orang lain sebelum diwariskan pada turunan sendiri. Dan ketika kau sudah mewarisi ilmu ini jangan lagi diwariskan pada keturunanmu kelak, pun orang lain. Nenek yakin kau bisa melepaskan diri dari ilmu sesat ini suatu saat dengan memperdalam ilmu agama, pergilah belajar pada kiyai dan ustadz.”
            “Woh…oh…woh!” Tiba-tiba perempuan tua itu merintih kesakitan. Lidahnya menjulur-julur. Mata terbelalak galak.
            Khkhkh! Perempuan tua itu telah menutup mata untuk selama-lamanya. Tapi mendadak keanehan menjelma pada Labillang. Lidah Labillang menjulur-julur, matanya memerah galak terbelalak. Lalu. Pop…po…poppo.
            Malam kamis itu masih terus mencekam. Penduduk desa masih ketakutan. Di sebuah rumah mewah, menghadap ke utara di sebelah timur rumah Labillang, ramai orang berkumpul. Mereka adalah sanak keluarga yang menunggui Haji Lolo. Haji Lolo memang lagi sakit keras.
            Sementara itu. Di rumahnya, Labillang terus komat-kamit. Ia meracau. Matanya terbelalak, pun lidah menjulur-julur. Seperti ia menahan geram yang maha dahsyat. “Bangsat kau Haji Lolo, terimalah pembalasanku.”
            Hening sejenak. Lalu. Ia kembali komat-kamit. Bukan meracau. Karena lafadz yang ia ucapkan adalah ayat-ayat suci Al-Quran. Lalu. Seperti ada dua makhluk asing yang berperang kejam dalam tubuhnya.
            “Tidak! Tidak! Aku tak boleh mendendam.”
            “Aku harus membunuhnya.”
            “Tidaaak! Aku harus ingat pesan nenek.”
            “Nyawa harus dibalas dengan nyawa.”
            “Tidaaaak.”
            Kh…kh…khkh. Tubuh Labillang terhempas melawan kekuatan dahsyat dalam tubuhnya. Sesosok bayangan hitam keluar dari mulutnya disertai bunyi po…pop…po. Lalu menghilang bersama malam. Labillang terus melantunkan ayat-ayat suci.
            Keesokan harinya. Labillang terlihat asyik menggali kuburan bersama rekan-rekannya. Haji Lolo memang telah meninggal dunia. Keluarganya sangat bersyukur karena mayat Haji Lolo tidak mengalami keanehan seperti yang mereka prediksi sebelumnya.
            Sambil menggali kuburan, mata Labillang berkaca-kaca. Ia teringat akan pesan neneknya. Ia bertekad menjaga pesan neneknya itu sebagai wasiat. Tak boleh ada dendam. Labillang berharap wasiat neneknya menjadi lampu penerang baginya menjalani hari-hari mendatang. Langit kian cerah. Secerah hati Labillang.

Sinjai-Makassar, 2008

Catatan
mana’(Bugis)= warisan
1. Cerpen ini pernah dimuat Koran Nasional Sindo, Ahad 6 Juli 2008