Jumat, 25 Januari 2013

PESAN CINTA DARI HEWAN



Pesan Cinta dari Hewan

Sepasang burung merpati hidup berkasih-kasihan di sebuah pohon besar. Sang merpati jantan sangat mencintai dan menyayangi sang merpati betina, pun sang merpati betina sangat menghormati dan patuh terhadap sang merpati jantan. Sang merpati jantan adalah sosok suami yang sangat bertanggung jawab, setiap hari ia keluar mencari makanan. Ia pun tidak pernah memakan sendirian makanan yang didapatkanya kecuali bersama-sama dengan isterinya sang merpati betina. Sang merpati betina adalah sosok isteri yang sangat menjaga kehormatan dirinya dan suaminya. Ia tidak pernah pergi meninggalkan sarangnya selama suaminya pergi mencari nafkah. Bahkan sang merpati betina tidak pernah tergoda bilamana ada merpati jantan lainnya yang datang menggodanya manakala suaminya pergi mencari nafkah.
Saat itu, musim kemarau segera berakhir, dan musim hujan segera tiba. Sang merpati jantan pun kian rajin mencari makanan sebagai persediaan di kala musim hujan. Karena musim hujan biasanya agak lama, maka sang merpati jantan sebagai kepala rumah tangga berusaha keras agar hidup mereka berdua terjamin pada saat musim hujan nantinya.
Sang merpati jantan mendengar kabar dari burung-burung lainnya, bahwa musim hujan yang akan tiba kali itu lebih panjang daripada musim-musim hujan sebelumnya. Lalu, untuk mengantisipasi musim penghujan yang lebih lama tersebut maka sang merpati jantan pun terus bekerja siang dan malam mengumpulkan persediaan makanan.
Musim kering yang panjang membuat tanaman jagung dan padi petani juga berkurang, sehingga para sang merpati jantan pun susah untuk mengumpulkan makanan. Karena itulah, sang merpati jantan meminta isterinya untuk berhemat.
“Wahai isteriku sayang, karena susah mendapatkan makanan di akhir-akhir musim kemarau yang panjang ini maka kita harus menghemat makanan kita, biar pada musim hujan nanti makanan kita terjamin,” ujar sang merpati jantan.
“Saya hanyalah seorang isteri yang harus taat dan menurut kata suami,” ujar sang merpati betina tersenyum.
Sang merpati jantan sangat senang mendengar ucapan isterinya. Apalagi ia tahu bahwa isterinya adalah sosok yang jujur, apa yang dikatakannya selalu ditepatinya. Pun ia tahu bahwa isterinya adalah sosok yang setia.
Sang merpati jantan pun kian bersemangat. Ia kembali membuat sarang cadangan yang ia gunakan untuk menyimpan bahan-bahan makanan. Setelah bekerja siang dan malam selama berhari-hari, sarang tempat menyimpan jagung dan padi pun sudah penuh.
“Alhamdulillah, kita sudah punya persediaan khusus menjelang musim dingin, isteriku sayang,” ujar sang merpati jantan sambil menatap sarangnya.
“Saya benar-benar bersyukur bisa bersama dengan sosok pendamping yang sangat baik dan bertanggung jawab,” sang merpati betina memuji suaminya.
“Terima kasih isteriku saying,” balas sang merpati jantan sambil merapatkan tubuhnya ke tubuh isterinya.
Menjelang musim penghujan tiba, biasanya bangsa burung melakukan pertemuan khusus di puncak Gunung Bawakaraeng. Semua jenis burung diwajibkan mengirimkan wakilnya pada pertemuan tersebut. Sang merpati jantan yang tinggal di pohon besar itu pun yang mewakili bangsa burung merpati.
Ketika hendak menuju puncak Gunung Bawakareng, kembali sang merpati jantan berpesan, “wahai isteriku sayang, jagalah persediaan makanan kita baik-baik, sebab kalau persediaan makanan kita berkurang sebelum masuk musim penghujan maka dipastikan persediaan makanan kita selama musim hujan tidak akan cukup.”
“Janganlah engkau khawatir suamiku sayang, saya akan menjaga persediaan makanan kita. Dan yakinlah ketika engkau pulang maka persediaan makanan kita dalam sarang itu tidak akan berkurang walau sebijipun,” jawab sang merpati betina sambil memeriksa lumbung makanan mereka.
Sang merpati jantan cepat memagut mesra sang merpati betina, lalu mereka pun memadu kasih bersama. Setelah itu, sang merpati jantan bergegas terbang menuju puncak Gunung Bawakaraeng yang letaknya nun jauh di sana.
Selama kepergian suaminya, sang merpati betina sangat memegang amanah suaminya kuat-kuat, ia pun terus menunggui biji-biji jagung dan padinya. Ia tidak ingin ada burung lain yang mencuri persediaan makanannya tersebut.
Karena pertemuan para bangsa burung berlangsung selama tujuh hari tujuh malam di puncak Gunung Bawakaraeng, maka selama itu pula sang merpati betina bertekad menjaga amanah suaminya. Tetapi baru saja hari ketiga kepergian suaminya, sang merpati betina melihat persediaan makanan mereka berkurang.
“Celaka! Persediaan makanan kami berkurang, padahal seingatku tidak pernah ada burung lain berkunjung ke tempat ini,” ujar sang merpati betina dalam hati.
Memasuki hari keempat, persediaan makanan pun semakin berkurang, sang merpati pun betina semakin panik. Agar persediaan makanan mereka tidak semakin berkurang, maka sang merpati betina pun semakin memperketat penjagaannya. Sang merpati betina bahkan tidak pernah tidur di waktu malam demi menjaga amanah dari suaminya tercinta.
Hingga hari ketujuh, sang merpati betina sudah nampak kurus karena tidak pernah tidur, pun tidak pernah makan karena ia tidak mau persediaan makanannya terus berkurang. Tetapi tetap saja persediaan makanan mereka semakin berkurang, hingga makanan yang ada dalam sarang tinggallah separuhnya saja.
Hari ketujuh itu, sang merpati jantan pun sudah kembali ke sarangnya. Ia begitu kaget mendapati isterinya yang nampak kurus dan pucat.
“Hai isteriku sayang! Mengapa engkau begitu pucat dan kurus?” tanya sang merpati jantan dengan lembut.
“Saya agak kurus dan pucat karena tidak pernah tidur, wahai suamiku sayang,” jawab sang merpati betina dengan sedikit bergetar.
“Mengapa engkau terlihat begitu ketakutan isteriku,” sang merpati jantan agak curiga.
Sang merpati betina semakin gemetaran, “wahai suamiku, siang malam selama kepergianmu saya menjaga baik-baik makanan kita, tetapi entah mengapa persediaan makanan kita semakin berkurang saja.”
Sang merpati jantan langsung menoleh ke sarang tempat persediaan makanan mereka, “Ha? Tinggal setengahnya saja?”
“Saya juga heran persediaan makanan kita berkurang, padahal saya tidak pernah memakannya walau sebijipun,” jawab sang burung betina semakin gemetaran.
Seketika sang merpati jantan berteriak, “Apa katamu? Persediaan makanan kita berkurang tetapi engkau tidak pernah memakannya? Lalu siapa yang memakannya?”
“Sungguh saya tidak pernah memakannya, saya juga tidak pernah melihat ada burung lain yang datang memakannya,” jawab sang merpati betina semakin ketakutan.
“Omong kosong! Tidak mungkin makanan kita berkurang kalau tidak ada yang memakannya,” sang merpati jantan terbang ke ranting yang lebih tinggi dengan emosi yang kian meninggi, “saya yakin ada merpati jantan lain yang datang selama kepergianku, engkau pasti diam-diam menjalin cinta terlarang dengan merpati jantan tersebut.”
Sang merpati betina langsung menangis mendengar tuduhan suaminya. “Demi Allah pencipta alam raya ini, saya tidak pernah berkhianat sebagaimana yang engkau tuduhkan wahai suamiku tercinta,” ujar sang merpati betina di sela-sela tangisnya.
Melihat ada seekor merpati jantan lainnya yang melintas di atas pohon, emosi dan cemburu merpati jantan kian terbakar, “Hei sang betina pelacur, janganlah engkau sok suci, baru sekarang saya tahu bahwa engkau bukanlah isteri yang baik, engkau hanya berpura-pura baik dan penurut agar saya semakin bekerja keras sehingga engkau bisa makan sepuas-puasmu tanpa perlu berusaha, padahal dibelakangku engkau diam-diam menyeleweng.”
Sang merpati betina hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Sang merpati jantan merasa isterinya hanya berpura-pura dan bersandiwara. Ia pun semakin marah. Ia terbang mendekati sang betina. Ia pun langsung mematuk kepala sang merpati betina hingga berkali-kali. Karena kesehatannya memang menurun, sang merpati betina pun terjatuh dari pohon dan mati seketika.
Setelah emosinya agak mereda, sang merpati jantan sedikit menyesali sikapnya. Ia pun terbang ke tanah untuk mengambil jasad isterinya. Kemudian jasad tersebut ia simpan di sarangnya.
“Engkau memang pantas mati karena engkau telah berbohong dan mengkhianatiku,” batin sang merpati jantan.
Sehari setelah sang merpati jantan membunuh isterinya, hujan pun mulai turun. Biji-bijian yang masih tersimpan di sarang merpati ikut kehujanan. Biji-bijian itu kembali mekar sehingga sarang kembali penuh seperti semula.
“Astagfirullah!” teriak sang merpati jantan ketika melihat kejadian itu, “ternyata isteriku tidak bersalah, biji-bijian itu sebelumnya hanya menyusut karena mengering.”
Sang merpati jantan pun bergegas menuju sarangnya, ia menangis sejadi-jadinya sambil memeluk jasad isterinya.
“Maafkan aku wahai isteriku tercinta! Sungguh aku sudah dzalim padamu, aku sudah menuduhmu, memfitnahmu, bahkan membunuhmu. Sungguh aku menyesal, aku tidak akan bisa menemukan lagi sosok pendamping sepertimu,” sang merpati jantan terus terisak-isak memeluk jasad isterinya.
“Wahai isteriku tercinta, sungguh tak ada lagi maknanya seluruh kehidupan apalagi biji-bijian tanpa engkau berada disisiku,” sang merpati jantan terus meratap, “wahai isteriku tercinta, tanpamu entah apalagi yang indah di dunia ini buatku.”
Berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, sang merpati jantan itu terus menangis dan meratapi kematian isterinya. Ia pun terus memeluk tubuh isterinya yang tidak lagi bernyawa. Sang merpati jantan tak mau lagi makan dan minum. Ia bahkan sudah membuang seluruh biji-bijian karena gara-gara biji-bijian tersebutlah ia membunuh isterinya.
Akhirnya sang merpati jantan terbujur kaku dengan posisi kedua kaki dan kedua sayapnya memeluk jasad isterinya.
Segerombolan semut rangrang yang mencium bau amis segera menuju sarang sepasang burung merpati yang sudah mati tersebut. Tetapi rombongan semut rangrang berhenti sejenak ketika melihat posisi kedua jasad burung merpati tersebut, sang merpati jantan memeluk sang merpati betina. Semua semut rangrang iba melihat sepasang jasad burung merpati tersebut.
“Sungguh mereka adalah sepasang burung yang saling mencintai dan mengasihi, kita tidak boleh memakan jasad mereka,” ujar raja semut rangrang.
Semua semut rangrang mengiyakan sambil terisak-isak, sebelum mereka meninggalkan sarang burung merpati, terlebih dahulu para semut rangrang bergotong-royong mengambil dedaunan untuk menutupi kedua bangkai burung merpati tersebut.

 Dul Abdul Rahman. Sastrawan dan peneliti. Aktif bersastra di Indonesia dan Malaysia.

Tulisan-tulisannya berupa karya sastra, kritik sastra, dan artikel budaya pernah dimuat koran lokal dan nasional di Indonesia dan Malaysia. Beberapa karya sastranya seperti:
  1. Lebaran Kali ini Hujan Turun (kumpulan cerpen, Nala Cipta Litera Makassar, 2006)
  2. Pohon-Pohon Rindu (novel, DIVA Press Yogyakarta, 2009),
  3. Daun-Daun Rindu (novel, DIVA Press Yogyakarta, 2010),
  4. Perempuan Poppo (novel, Penerbit OMBAK Yogyakarta, 2010)
  5. Sabda Laut (novel, Penerbit OMBAK Yogyakarta, 2010)
  6. Sarifah (novel, DIVA Press Yogyakarta, 2011),
  7. La Galigo 1, Napak Tilas Manusia Pertama di Kerajaan Bumi (novel, DIVA Press Yogyakarta, 2012),
  8. La Galigo 2, Gemuruh Batin sang Penguasa Laut (novel, DIVA Press Yogyakarta, 2012).

Lewat novelnya La Galigo, ia pernah diundang dalam Borobudur Writers’ & Cultural Festival 2012. Karya-karyanya banyak dijadikan sebagai bahan acuan dan penelitian bagi para mahasiswa.

Alamat elektronik: dulabdul@gmail.com Penulis bisa juga ditemui di blog pribadinya www.darsastra.blogspot.com. Facebook Page: dul abdul rahman (pengarang). Twitter: @dulabdulrahman


Senin, 03 Desember 2012

LA GALIGO 2 GEMURUH BATIN SANG PENGUASA LAUT


(CATATAN PENERBIT DIVA PRESS)
 
Buat yang Penasaran dengan Karya Sastra Legendaris dari Bugis, Telah Kami Siapkan Pemiksiannya: LA GALIGO 2 Karya Dul Abdul Rahman

I We Cudaiq, istri Sawerigading, melahirkan seorang bayi laki-laki. Dialah La Galigo. Namun, I We Cuda
iq malu mengakui bahwa dirinya telah bersedia tidur dengan suaminya. Untuk menutupi rasa malunya, ia terus "maggali-gali" (banyak ulah).

Sakit hati mendengar ucapan-ucapan istrinya, Sawerigading memutuskan membawa bayi itu dari Istana La Tanete di negeri Cina ke Istana Mallimongang di Mario. La Galigo dirawat dan dibesarkan di sana oleh ibu tirinya, I We Cimpauq,

Namun, La Galigo ingin ke negeri Cina, tempat ibu kandungnya berasal. Sawerigading mengizinkan, bahkan menemani anaknya tersebut. Mendengar rencana mereka, I We Cimpauq sempat merasa khawatir jika suami dan anak tirinya tersebut tidak akan kembali. I La Galigo pun berusaha meyakinkan ibu tirinya bahwa ia pasti kembali.

Setelah sekian lama terpisah, Sawerigading dan I We Cudaiq kembali saling jatuh cinta. I We Cudaiq juga sangat rindu kepada La Galigo dan hendak memintanya tinggal di negeri Cina. Dan, apa yang dikhawatirkan I We Cimpauq terjadi. Sawerigading dan La Galigo pun akhirnya menetap di negeri Cina. Meskipun demikian, ketika I We Cudaiq hendak membunuh I We Cimpauq karena cemburu, La Galigo menepati janjinya untuk melindungi ibu tirinya tersebut.

Bagaimana kehidupan La Galigo selanjutnya?

Setelah mengantarkan kita dengan perjalanan awal bumi diciptakan pada novel "La Galigo; Napak Tilas Manusia Pertama di Kerajaan Bumi", Dul Abdul Rahman kembali mengajak kita menelusuri jejak para keturunan Sang Patotoqe. Pada karya keduanya inilah perjalanan putra Sawerigading sekaligus lakon utama karya sastra terpanjang dan terbesar di dunia ini, La Galigo, dimulai.

Sabtu, 10 November 2012

CATATAN SIRTJO KOOLHOF TENTANG LA GALIGO



La Galigo sebagai cermin budaya; Beberapa catatan
Ringkasan presentasi pada Seminar I La Galigo
Masamba, 25 April 2012
Apa sebenarnya La Galigo?
Sureq Galigo, atau La Galigo, atau Bicaranna Sawérigading bukan karya sastera seperti kita biasa mendefinisikan karya sastera: Tidak ada penulis atau pengarangnya; jalur cerita cukup jelas, namun tidak tetap; perkataan tidak tetap, walau gaya bahasanya sangat konsisten; besar, atau panjangnya, tidak tetap; dan tidak pasti pengarangnya sudah tamat atau belum. Kita kenal La Galigo kebanyakan dari sejumlah naskah yang masing-masing mengandung satu, dua atau kadang-kadang tiga episode. Tidak ada naskah yang memuat cerita dari awal sampai akhir. Bahkan jumlah episode tidak diketahui. Di samping tradisi naskah (yang sebenarnya juga sangat penting aspek kelisanannya, karena dilagukan), ada juga tradsisi lisan yang dapat dianggap merupakan bagaian dari tradisi La Galigo. Dan sejak tahun 2004 teater internasional juga menjadi bagian dari tradisi tersebut.
Tahun-tahun terakhir juga terbit novel berdasarkan cerita La Galigo, antara lain dikarang oleh Idwar Anwar (diterbitkan oleh Pustaka Sawerigading Makassar) dan Dul Abdul Rahman (diterbitkan oleh Diva Press Yogyakarta). Dan barangkali seminar-seminar yang mengambil topik La Galigo dapat dianggap pula bagian baru dari tradisi tersebut.
Daripada dianggap satu karya sastra, mungkin lebih baik kita anggap La Galigo sebagai tradisi atau kumpulan cerita berseri. Tidak terlalu jauh berbeda dari serial TV sinetron di mana cerita juga cukup cair (fluid), tidak pasti panjangnya, dan setiap episode dapat dinikmati tanpa persis mengetahui jalur cerita utama.

Isinya?
La Galigo menceritakan awal penghunian dunia dan asal-usul manusia. Enam generasi pertama manusia yang berasal dari dewata di dunia atas, Boting Langiq, dan dunia bawah, Peretiwi, jelajahnya di dunia tengah diceritakan. Setelah enam generasi dunia kosong lagi, penghuninya kembali ke dunia atas dan dunia bawah. Generasi-generasi Batara Guru, Batara Lattuq, Sawerigading, I La Galigo, La Tenritattaq dan Apung ri Toja masing-masing diceritakan kehidupannya di dunia (dan sebagian kecil di dunia atas dan dunia bawah). Dari kehidupannya kita khusus mengetahu mengenai kehidupan social tokoh-tokoh: kelahiran, pendidikan, perkawinan dan perjuangannya. Dan semua cerita itu dibangun atas silsilah tokoh-tokoh.

Bagaimana cara transmisinya?
Transmisi cerita-cerita La Galigo kebanyakaan dalam bentuk naskah. Bagaimana cara menulis atau mengarang naskah tidak diketahui. Namun dapat kita perkirakan bahwa salah satu cara adalah sebagai ‘writing composer’ seperti dalam tradisi lisan seorang pengarang mengarang cerita berdasarkan ‘alat’, misalnya: formula, paralelisme, ulangan dan metrum. Garis besar alur cerita menjadi ‘batang’ cerita.
Selain ‘writing composer’ dapat juga dipastikan naskah dapat disalin dari naskah yang lain. Bagaimana cara iti, tidak begitu jelas. Seandainya pada umumnya salinan sangat teliti, seharusnya kita dapat jauh lebih banyak naskah yang lebih bermiripan. Tapi, justru variasi antara naskah-naskah salah satu episode sangat besar. Hal itu sesuatu yang khas untuk tradisi La Galigo: hampir tidak dapat naskah isinya pasto dikopikan dari naskah yang lain. Berarti juga tidak dapat dipastikan ada versi ‘asli’.
Di sini juga perlu dikemukakan bahwa untuk mayoritas konsumen cerita La Galigo merupakan tradisi lisan: mereka selalu mendengar seorang passureq membacakan ceritanya. Buat mereka tidak ada bdanya antara cerita yang dituliskan atau cerita yang dikarang pada saat performancenya. Sebuah naskah mengandung satu atau dua episode. Jalur cerita utama, yang memuat ‘semua’ episode tidak ada dalam bentuk tertulis.

Apa fungsi cerita?
Sebuah karya (atau koleksi karya) seperti La Galigo, selain mempunyai fungsi penghiburan dalam masyarakat ada fungsi lain pula. Manusia tidak bisa hidup tanpa cerita. Dua minggu lalu ada buku diterbitkan dengan judul: The Storytelling Animal (Binatang yang bercerita). Intinya, manusia selalu memerlukan cerita untuk mengerti dan mengertikan dunia dan lingkungannya. Setiap pengalaman diberikan tempat di dalam sebuah cerita. Dan otak kita hanya dapat memproseskan informasi (baik dari luar, maupun dari dalam) melalui cerita.
Mungkin cirri khas kemanusiaan yang paling menonjol adalah sifat social kita. Setiap orang mempunyai jaringan dan hubungan dengan ratusan orang lain. Setiap manusia harus menyesuaikan diri dengan orang lain, dan perlu mempunyai ketrampilan bergaul dan mencari jalan hidup di antara masyarakat lain yang harus berbuat begitu juga. Untuk menghadapi tantangan yang bermuncul dalam jaringan sosial manusia mempunyai bahasa. Dengan kata lain: kita punya budaya.
Robin Dunbar berpendapat bahwa kemampuan berbahasa manusia  berasal dari tantangan jaringan sosial yang meluas. Hanya dengan bahasa kita dapat memelihara hubungan sosial dengan begitu banyak orang lain. Dan menurut Dunbar fungui awal  bahasa adalah gossip: cerita atau tukara informasi mengenai orang lain di lingkungan kita. Berarti, bukan hanya gossip dalam arti sempit –menukarkan informasi negative mengenai orang di sekitar– tapi yang luas, semua informasi mengenai orang lain, mengenai hubungan antara orang lain, mengenai perbuatan oranag lain, mengenai pendapat orang lain, mengenai karakternya, dst.
Untuk bertahan di dalam lingkungan sosial dan alam tidak cukup hanya bercerita, kita memerlukan pengalaman. Dari pengalaman kita belajar dan dapat menangani sebuah situasi yang pernah sebelumnya kita alami lebih baik dan tepat. Namun, tidak mungkin kita dapat mengalami setiap situasi dalam kenyataan. Dan kadang-kadang lebih baik begitu: banyak situasi terlalu bahaya dan risikonya kita terluka atau malah mati terlalu besar.
Kita juga dapat mengalami sesuatu atau sebuah situasi melalui cerita. Dan bukan hanya melalui cerita yang benar atau nyata, tetapi juga melalui fiksi, cerita yang tidak pernah terjadi dalam kenyataan tapi muncul dari imajinasi seseorang atau sekelompok orang. Pasti kita semua pernah mengalami emosi kita pada saat lagi menikmati sebuah karya fiksi, seperti film, sinetron, novel atau dongeng. Ada yang ketawa, menangis, marah, berteriak atau terharu, walaupun kita sudah mengetahui dengan pasti bahwa kejadian yang membuat kita beremosi tidak nyata. Hanya fiksi. Hal sama terjadi di dalam fiksi yang paling pribadi, yaitu mimpi: kita dapat mengalami situasi apa saja, tanpa ada bahaya. Dan itu merupakan pelajaran buat situasi yang nyata.


La Galigo sebagai gossip?
Mengingat apa yang dikemukakan di atas, kita kembali ke La Galigo. Jika melihat isinya dapat dikatakan bahwa sebagian besar merupakan gossip: cerita mengenai orang dan hubungan soasilnya. Setiap episode menceritakan mengenai kehidupan social dan masalah-masalahnya. Siapa calon suami atau isteri yang paling cocok, dia sudah punya jodoh, mau kawin atau tidak, dsb? Siapa musuh, siapa dapat dipercaya, siapa teman? Malah, jarang ada deskripsi yang intinya bukan social. Tidak ada deskripsi jelas mengenai bentuk perahu atau rumah, tidak ada deskripsi pemandangan alam, atau kota, atau Negara. Kalau disebut, perkataannya pendek dan hanya terdiri dari formula-formula.
Bahwa intinya La Galigo adalah gossip dalam arti yang luas, tidak mengherankan. Setiap karya sastra atau fiksi dari seluruh sudut dunia mempunyai inti begitu: dari Ilias dan Odyssee dari Yunani Kuno, Mahabharata dan Ramayana dari India, Hikayat Hang Tuah dari daerah Melayu sampai film Bollywood dan Hallywood, sinetron dan telenovela, dan sastra pop. Tema dan motifnya universal. Kalau mau diringkaskan: cinta, perang dan penjelajahan.
Di mana-mana dan pada setiap zaman hal itu yang ternyata paling menarik untuk diceritakan. Tidak aneh, karena itu hal yang paling penting dalam kenyataan kehidupan social juga. Dari awal La Galigo pencarian isteri yang cocok untuk Batara Guru menjadi pokok cerita, kemudian perkawinannya dan kelahiran anak-anaknya. Dan itu diteruskan pada setiap generasi: pencarian isteri Batara Lattuq di Tompoq Tikkaq, Sawerigading di Cina, I La Galigo di beberapa Negara lain, dan puluhan tokoh lain.
Perang sebagai halangan dalam perjalanan hidup juga sering menjadi pokok cerita. Baik sebagai halangan dalam pencarian jodoh di mana dua pesaing harus dipastikan siapa yang mendapat jodoh, atau sebagai halangan yang harus dihadapi untuk meraih tujuan salah satu tokoh. Misalnya Sawerigading yang harus melawan tujuh musuh selama perjalanan dari Luwuq ke Cina. Salah satu musuhnya Settia Bonga, tunangannya I We Cudaiq, calon  isteri Sawerigading

La Galigo: sumber atau cermin?
Dari karya sastra yang begitu panjang, jelas kita masih bisa mengambil banyak contoh yang lain, namun tidak mungkin dalam rangka satu presentasi. Lebih baik sekarang kita bertanya apakah yang diceritakan dalam La Galigo merupakan contoh yang perlu diikuto oleh masyarakat, atau mungkin La Galigo merupakan cermin budaya pada zaman-zaman naskah ditulis? Atau, dan itu pendapat saya, La Galigo mencerminkan imajinasi masyarakat mengenai dunia nenek moyangnya yang diagungkan dan dicocokkan dengan dunia dan budaya mereka sendiri? Pada titik ini kita kembali lagi ke bentuk tradisi La Galigo. Seperti dikatakan pada awal presentasi ini, bentuk dan isi naskah dan tradidi La Galigo tidak tetap. Banyak variasi di antara naskah, dan malah kadang-kadang ada yang bertentangan. La Galigo berabad-abad lamanya bertumbuh: ada tambahan episode, ada perluasan episode tertentu (misalnya ada satu naskah di mana deskripsi kelahiran I La Galigo sepanjang 100 halaman, padahal di naskah lain jauh lebih pendek).
Salah satu episode yang mungkin baru ditambah setelah intinya La Galigo sudah terbentuk adalah episode kelahiran Sangiang Serri dan asal-usulnya padi. Ada beberapa versi yang cukup berbeda, dan sebenarnya ceritanya agak berbeda dengan cerita lain dalam La Galigo. Mungkin episode tersebut baru diciptakan setelah padi dikenal oleh masyarakat Bugis. Yang menurut saya agak aneh juga, walaupun daerah Luwuq menonjol pada awal La Galigo setahu saya sama sekali tidak disebut kapurung, makanan khas daerah itu. Berhubungan dengan makanan juga kami bisa pertanyakan apakah mungkin babi juga dihilangkan dari tradisi La Galigo setelah agama Islam masuk di Sulawesi Selatan? Kemungkinan besar masyarakat tidak mau nenek moyangnya makan barang yang haram. Sayangnya, tidak dapat dipastikan karena tidak ada lagi naskah dari zaman pra Islam.
Salah satu episode yang saya suka sebagai orang Belanda paling suka adalah mengenai asal-usul orang Belanda. Cerita ini setahu saya hanya ada dalam bentuk lisan. Sawerigading bepergian ke dunia arwah, Pammessareng, dan di situ jatuh cinta dengan In Pinrakati. Maunya membawa I Pinrakati ke dunia tengah, tapi tidak mungkin karena orang yang telah meninggal tidak bisa kembali lagi. Setelah beberapa bulan, I Pinrakati hamil. Datang waktunya Sawerigading harus kembali ke dunia tengah. I Pinrakati mengantar Sawerigading ke perbatasan dunia bawah dan dunia tengah. Pas tiba di situ dia melahirkan. Karena I Pinrakati sebenarnya sudah meninggal, kulit bayinya pucat dan matanya kayak kaca. Sawerigading ingin bawa anaknya ke dunia tengah dan setelah dia naik, orang dunia tengah tarik bayinya juga ke atas, memegang hidunynya, sampai hidungnya jadi mancung. Berarti orang Belanda juga keturunan Sawerigading.
Beberapa hal bisa kita lihat dari cerita ini. Pasti baru diciptakan setelah orang Belanda masuk di daerah Sulawesi Selatan, abad ke-17. namun mengapa justru orang Belanda? Padahal, ada juga orang Arab, Portugis, Inggeris dan lainlain yang mulai kunjungi Sulawesi pada zaman itu. Saya kira karena orang Belanda sebagai penjajah dan penguasa perannya cukup penting. Daripada dikuasai oleh orang laon dari jauh, lebih baik mengartikan posisi orang Belanda sebagai saudara yang wibawanya berasal dari sumber yang sama dengan penguasa sendiri. Ini juga sebuah contoh dari fleksibilitas tradisi La Galigo: selalu disesuaikan dengan situasi baru. Masuknya agama Islam dan intergrasinya dalam tradisi La Galigo dapat dilihat pada episode Doa-­doa I Attaweq yang ada beberapa doa dalam bahasa Arab. Episode Taggilinna Sinapatie mengandung arti cerita bagaimana zaman La Galigo berakhir dan Sawerigading ke Mekkah, lalu bawa agama Islam ke Sulawesi.
Dari contoh-contoh di atas dapat dilihat bahwa La Galigo bukan satu tradisi yang statis dan abadi. Justru sebaliknya. Setiap generasi atau zaman dapat menyesuaikan tradisi dengan situasi yang baru, dengan zaman yang berubah. Jelas, banyak hal yang tetap sama dan tidak atau hampir tidak berubah: silsilah tokoh, masalah mencari jodoh, persaingan antara tokoh-tokoh dan sebagainya. Mungkin justru karena fleksibilitas itu La Galigo bertahan dan tumbuh begitu besar selama ratusan tahun. Apakah tradisi La Galigo juga mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman modern? Budaya modern bukan hanya membawa perubahan budaya dalam arti yang luas, namun juga perubahan media. Tradisi naskah tidak ada lgi, malah seringkali tulisan tangan ditinggalkan. Kebanyakan orang tidak menulis lagi, tapi langsung mengetik ceritanya di dalam computer. Untuk hiburan tidak lagi perlu ada passureq yang membacakan atau menceritakan. Sekarang bisa nonton TV, dengar radio, membaca novel, atau nonton YouTube di internet. Cerita fiksi yang begitu menarik dan penting buat manusia dan jaingan sosialnya terdapat di mana-mana. Malah setiap orang bisa ikut di dalam pengarangan fiksi melalui akun Facebook atau Twitternya.     
Tahun-tahun terakhir juga muncul sejumlah blog di internet yang topiknya La Galigo. Siapa tahu tradisi La Galigo bisa mengadaptasi juga dengan media baru, dan dilanjutkan melalui blog, Twitter, film dan/atau sinetron.

Sabtu, 03 November 2012

Epilog Buku: Jejak Dunia Yang Retak

Dul Abdul Rahman[1]

“Manusia mencela zaman
Padahal tak ada cela pada zaman selain pada diri kita
Kita kecam zaman padahal kecaman itu ada pada kita
Sekiranya zaman dapat berkata
Ia akan menggugat kita”
(Ali Ridha)

            Saya sengaja mengutip pendapat Ali Ridha, salah seorang cucu Ali bin Abi Thalib, untuk memulai tulisan epilog ini. Itu karena, selepas membaca semua tulisan dalam buku ini saya juga ikut-ikutan berteriak:
Dunia memang sudah retak,
Para penguasa galak-galak,
Mereka tak memakai otak,
Mereka begitu lihai melompat serupa katak,
Memangsa apa saja dengan congkak,
Sumpah dan janji hanya disimpan di ketiak,
Lalu mereka berteriak-teriak:
“Atas nama rakyat kami bertindak!”
Lalu rakyat pun ikut berteriak:
“Sekak!”

Kalaulah saya berteriak demikian, itu berarti saya sudah “terprovokasi” oleh tulisan-tulisan dalam buku ini. Kata “terprovokasi” bisa mencipta banyak act word, seperti demonstrasi atau inspirasi. Tentu saja buat saya sebagai penulis akan menjadi sebuah inspirasi. Contoh kecil adalah puisi atau teriakan sederhana yang saya buat di atas. Dan itulah kesuksesan awal dari kumpulan tulisan dalam buku ini: Memprovokasi.
            Tetapi tentu saja, tulisan yang baik bukan hanya sekedar menyemprotkan kata-kata emosi serupa sang suami menyemprot nyamuk dengan baygon di sebuah gang kumuh di pinggir kota metropolitan karena ingin nyaman bercinta dengan istrinya yang masih meneteki seorang bayi. Seorang penulis memang berhak menggunakan bahasa emotif. Bahasa yang bisa membuat pembaca bersimpati, berantipati, ikut marah-marah, kecewa, bahagia, dan lain-lain. Tetapi bukan berarti seorang penulis harus ‘emosi’ dalam menuliskan ide-idenya. Tujuan utama bahasa emotif yaitu untuk menyentuh kesadaran pembaca, bukan sekedar membuat pembaca marah-marah, resah, gelisah, gundah, dan gulana.
            Aristoteles menyebut tiga cara untuk memengaruhi pembaca atau pendengar, yaitu: ethos, logos, dan pathos. Dengan ethos, seorang penulis atau pembicara bisa dipercaya, mengungkapkan fakta yang sebenarnya, memiliki pengetahuan yang luas, sehingga ia bisa memengaruhi pembaca atau pendengar. Dengan logos, seorang penulis atau pembicara bisa meyakinkan orang lain akan kebenaran argumentasinya. Mengajak pembaca berpikir, menggunakan akal sehat dan berpikir kritis. Dengan pathos, penulis atau pembicara membujuk para pembaca atau pendengar mengikuti pendapatnya. Ali Syariati menyimpulkan teknik komunikasi ala Aristoteles dengan sebuah kalimat, “Seorang penulis atau pembicara harus mengerti bahasa kaumnya.” Tetapi Ali Syariati menambahkan, “Mengerti saja tidak cukup, tetapi harus memberi solusi.”
            Saya yang mengagumi tokoh Ali Syariati seolah-olah merasakan bisikan dari beliau, “Menulis tidak cukup dengan memprovikasi tetapi harus memberi solusi.”
Kritikus Mensonge
            Komunikasi ala Aristoteles yang disederhanakan oleh Ali Syariati rupanya sudah bisa dimengerti oleh keempat penulis dalam buku ini, walau mungkin masih terbatas pada kata memprovokasi. Dan memang saya kira keempat penulis dalam buku ini adalah “provokator” kampus. Tetapi mereka bukanlah provokator kotor. Dengan membaca tulisan-tulisan mereka, saya bisa merasakan bahwa kelima penulis muda ini jiwa-jiwa yang ingin mengikuti jejak Al-Farabi yang ingin menghidupkan ajaran Aristoteles yang rasional. Atau mereka ingin mengikuti jejak Syihabuddin Suhrawardi yang ingin menghidupkan ajaran Plato yang ideal.
Dan saya berharap kelima penulis dalam buku ini terus membuktikan “tuduhan” saya dalam tulisan-tulisan mereka selanjutnya. Karena sungguh banyak pengeritik yang akhirnya jadi itik, ikut arus dan membeo. Para pengeritik akhirnya takluk oleh sebuah adagium: Primum vivere deinde philosopari, hiduplah dahulu baru berfilsafat.
            Maka tak heran, zaman sekarang bermunculanlah kritikus-kritikus dan akademikus mensonge. Kata Mensonge berasal dari bahasa Perancis yang berarti berbohong. Kebohongan memang adalah sebuah alat yang lihai untuk mendapatkan sesuatu. Maka tak heran di kalangan masyarakat Bugis, ada istilah belle-belle fatuo, kebohongan untuk hidup. Maka ramai-ramailah orang berbohong untuk memuluskan niatnya. Dan rasa-rasanya kalau para politikus yang berbohong maka tidaklah terlalu menggelisahkan, karena mereka memang adalah pinokio-pinokio yang mabuk kekuasaan. Hidung mereka serupa karet yang bisa lentur sana sini mencium kue kekuasaan dan kekayaan.
Tetapi bagaimana kalau kaum akademisi yang menjadi kritikus mensonge? Adakah kaum akademisi yang ikut mensonge-mensongean? Entahlah! Tetapi rupanya juga para akademisi sudah terbiasa main akal-akalan untuk mencari dana penelitian, membikin-bikin proyek, bahkan dengan hidung yang semakin memanjang serupa hidung pinokio, membuat argumentasi canggih agar apa yang dikatakannya benar-benar ilmiah.
Seorang akademisi sekaligus novelis Perancis, Malcolm Bradbury, mencoba mengeritik para kaum pengeritik yang merasa sok hebat, sok suci, padahal mereka mengeritik untuk mendapatkan sesuatu. Malcolm Bradbury menulis novel berjudul Mensonge. Tokoh utama dalam novel tersebut bernama Henri Mensonge alias Henri Sang Pembohong. Novel satire tersebut menceritakan kehidupan Henri Mensonge yang seorang akademisi terkemuka. Ketika berbicara, ia lebih banyak membelakangi publik daripada berhadapan dengan publik. Ia pun sering mengutip teori-teori yang menurut seleranya sendiri untuk mendukung pendapatnya. Bahkan dengan semena-mena, ia memutarbalikkan fakta dan data untuk memuluskan niat dan idenya.
Begitulah, satire Malcolm Bradbury memang sudah menjalar dimana-mana. Dari kaum akademisi hingga politisi. Kaum pengacara apalagi. Mereka terus bernyanyi dengan irama koplo: Membela yang bayar.

Benarkah Dunia sudah Retak?
            Konon menurut Kitab Sastra La Galigo, dunia yang mula-mula tercipta adalah Dunia Atas (Dunia Langit) dan Dunia Peretiwi (Dunia Bawah). Sedangkan Dunia Tengah (Bumi) tercipta kemudian. Lalu penguasa Dunia Atas, Sang Patotoqe bermaksud mengirimkan salah seorang putranya menjadi manusia di Dunia Tengah. Setelah diadakan musyawarah dengan melibatkan para penghuni Dunia Peretiwi, maka terpilihlah putra sulung Sang Patotoqe bernama La Togeq Langiq untuk menghuni Bumi.
            La Togeq Langiq pun menjadi manusia pertama di Bumi lalu berganti nama menjadi Batara Guru. Laiknya seorang manusia, Batara Guru pun berusaha keras mengolah Bumi. Lalu Batara Guru pun beranak-pinak. Putra Batara Guru bernama Batara Lattuq memiliki putra bernama Sawerigading. Sawerigading pun memiliki putra pewaris tahta bernama I La Galigo.
            I La Galigo sebagai turunan keempat dari Batara Guru di Bumi mulai melakukan tindakan sewenang-wenang. Ia dengan semena-mena mengubah peraturan yang sudah dibuat oleh Batara Guru yang juga sudah disetujui oleh Sang Patotoqe. Tersebutlah seorang perempuan We Tenriolleq yang sudah menjadi bissu, perantara dunia atas, dunia bawah, dan dunia tengah. Seorang bissu haram hukumnya menikah dengan manusia. Tetapi karena I La Galigo jatuh cinta kepada kecantikan We Tenriolleq, maka I La Galigo sebagai penguasa Bumi menentang peraturan langit tersebut. I La Galigo mengemukakan banyak alasan untuk menikahi We Tenriolleq, salah satunya adalah ia merasa keturunan Sang Patotoqe yang berarti dirinya adalah manusia setengah dewa yang bisa menikah dengan siapa saja, termasuk dengan dewa sekalipun.
            I La Galigo yang maggali-gali, banyak tingkah, membuat penghuni langit meminta kepada Sang Patotoqe agar pintu Langit ditutup rapat sehingga para keturunan Sang Patotoqe di Bumi tidak seenaknya meminta bantuan kepada Langit. Saat itu memang I La Galigo dan Sawerigading begitu gampang meminta bantuan ke Langit kalau menemui kesulitan di Bumi. Saudara kembar emas Sawerigading bernama We Tenriabeng memang tinggal di Langit yang selalu membantu manusia di Bumi.
            Lalu Sang Patotoqe pun meminta kepada kedua dewata penjaga palang pintu Langit bernama I La Becociq dan I La Sualang agar menutup rapat pintu Langit hingga kiamat. Maka saat itu antara Bumi dan Langit benar-benar terpisah. Penghuni Bumi pun termasuk I La Galigo dan Sawerigading tidak bisa lagi seenaknya meminta bantuan ke Langit.
            Kini I La Galigo sudah tiada tetapi jejak-jejak I La Galigo yang semena-mena diwarisi oleh banyak penguasa di Bumi. Salah satu yang mewarisinya adalah Henri Mensonge. Tetapi dizaman edan sekarang, tidaklah sulit untuk menemukan sosok manusia I La Galigo. Wah! Susah rasanya saya melanjutkan tulisan ini karena bisa saja saya ikut-ikutan jadi kritikus mensonge-mensongean. Lebih baik saya menutup tulisan ini dengan mengutip pesan Ali bin Abi Thalib.
            Siapa yang merasa aman menghadapi zaman,
            Zaman akan menipunya.
            Siapa yang tinggi hati menghadapi zaman,
            Zaman akan merendahkannya.
            Siapa yang bersandar pada tanda-tanda zaman,
            Zaman akan menyelamatkannya.
           
            Wallaahu a’lamu bi al-shawaab! Kurru Sumange! Dan selamat kepada kelima penulis muda yang berusaha memaknai zaman lewat-lewat tulisan-tulisan mereka yang: Provokatif.
                                                                                    Makassar, April 2012


[1]               Sastrawan dan peneliti budaya. Menulis buku sastra: Lebaran Kali ini Hujan Turun (Makassar 2006), Pohon-Pohon Rindu (Yogyakarta, 2009), Daun-Daun Rindu (Yogyakarta, 2010), Perempuan Poppo (Yogyakarta, 2010), Sabda Laut (Yogyakarta, 2010), Sarifah (Yogyakarta, 2011), La Galigo (Yogyakarta, 2012), dan Dewi Padi dan Kucing Kesayangannya (Yogyakarta, 2012)

Catatan Monda Siregar tentang LA GALIGO

       Blogwalking ke tempat sahabat, Ne, dapat kabar bahwa tanggal 17 Mei adalah Hari Buku Nasional. Maka, bertepatan juga dengan Hari Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei, ingin kuceritakan sekilas buku yang baru saja kutamatkan berjudul La Galigo, 374 halaman, novel yang ditulis oleh Dul Abdul Rahman, penerbit Divapress, Januari 2012. 

      Kurasa epik La Galigo ini dapat membangkitkan percaya diri bangsa kita dengan prestasinya yang sudah mendunia. Sejatinya, La Galigo adalah kisah yang diceritakan secara lisan turun temurun di masyarakat Bugis, Sulawesi Selatan, yang diperkirakan sudah ada sejak abad 14, ketika masih jaman pra Islam. Barulah pada abad 19 atas permintaan B.F Matthes (1818-1908) La Galigo ditulis oleh Colliq Pujie Arung Pancana Toa, terdiri dari 300.000 baris, lebih panjang daripada epos Mahabharata (160.000-200.000 baris) sumber : Kata Pengantar La Galigo. Salinan ini terdiri dari 12 volume dan kini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Naskah ini berbentuk puisi dan ditulis dalam aksara dan bahasa Bugis kuno. UNESCO pada 2011 menganugerahkan La Galigo gelar sastra klasik warisan dunia, Memory of the World (MOW). 

      Meskipun La Galigo kurang bergema di negaranya sendiri, tetapi di dunia internasional memang sudah sangat dikenal. Banyak ilmuwan yang meriset naskah ini untuk tesisnya. Hikayat La Galigo semakin dikenal dunia internasional setelah dibuat pertunjukan teater I La Galigo oleh Robert Wilson sutradara asal Amerika Serikat, pada 2004 (dari pemberitaan tentang teater inilah dulu pertama kali kudengar tentang La Galigo), tentu saja banyak dukungan seniman Indonesia, termasuk pemerannya yang berasal dari Bugis. Isi novel La Galigo bukanlah terjemahan dari manuskrip di Leiden itu, tetapi berdasarkan apa yang ditangkap oleh penulis dari dongeng turun temurun, tetapi nama tokoh masih mengikuti manuskrip kuno. Nama ini penting, karena di banyak tempat di Sulawesi atau di Malaysia tokoh di La Galigo ini punya nama berbeda. 

      Dikisahkan bumi (Sulawesi) saat itu masih tak berpenghuni. Hanya ada para dewa di Dunia Atas (Boting Langiq) dipimpin oleh Sang Patotoqe dan Dunia Bawah (Peretiwi). Untuk mengisi kekosongan di bumi diutuslah putra tertua sang Raja Dewa Dunia Atas, Batara Guru, seorang diri di bumi hingga dia bisa membuktikan diri sebagai manusia biasa. Setelah itu barulah diturunkan istana dari kahyangan beserta perlengkapannya termasuk para pengikut dan selir, menjadi kerajaan bernama Ale Luwuq. Kemudian dia menikah dengan sepupunya dari Dunia Bawah, bernama We Nyiliq Timoq. Mereka berputra mahkota Batara Lattuq yang kemudian menikah dengan sepupunya , We Datu Sengngeng dari kerajaan manurung Tompoq Tikkaq (kerajaan diturunkan dari langit). 

      Tokoh yang paling banyak dibicarakan dan diangkat ceritanya adalah putra Batara Lattuq, bernama Sawerigading. Ia jatuh cinta kepada saudara kembar yang telah dipisahkan dari bayi, seorang putri bernama We Tenriabeng. Karena patah hati, Sawerigading bersumpah meninggalkan negrinya dan tak akan kembali lagi, hanya keturunannya yang boleh kembali ke Ale Luwuq. Atas saran We Tenriabeng ia pergi mencari jodoh ke negeri Ale Cina. 

     Dalam perjalanan menembus lautan berbulan-bulan banyak dikisahkan keberaniannya menghadapi peperangan dengan rombongan kapal dari negeri lain, sampai akhirnya ia tiba di Ale Cina dan menikah dengan I We Cudaiq. Putra mereka bernama I La Galigo. Sampai di sini berakhirlah cerita novel ini. Sedangkan di versi aslinya cerita masih bersambung sampai dengan putra I La Galigo. Selain tentang mitos dewa-dewa dan seni budaya Bugis kuno, di cerita ini ada juga kisah yang mirip dengan kisah yang banyak dikenal di Jawa, yaitu tentang dewi padi, Dewi Sri. Di kisah ini sang dewi bernama Sangiang Serri, yaitu padi yang menjelma dari makam bayi putri Batara Guru. Meskipun awalnya agak susah menghafal begitu banyak nama yang asing, tetapi sangat menyenangkan bisa tahu seni budaya kuno milik bangsa kita. Semoga semakin dikenal, semakin berkibar kisah I La Galigo di negara sendiri. Sumber: mondasiregar.wordpress.com

Minggu, 10 Juni 2012

KUMBANG JELEK JATUH CINTA Judul Buku : Pohon – Pohon Rindu Penulis : Dul Abdul Rahman Tahun : 2009 Penerbit : DIVA Press (Anggota IKAPI) Kota Penerbit : Jogjakarta Tebal Halaman : 352 halaman Jenis Buku : Fiksi Novel karangan Dul Abdul Rahman ini bercerita tentang Beddu Kamase (Beddu), seorang anak pensiunan hansip yang rajin dan pandai di sekolahnya, SMA Negeri Bikeru Sinjai Selatan. Selain itu, anak yang patuh dan hormat pada guru dan orang tua ini juga aktif dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Beddu memiliki empat sahabat karib di sekolahnya, yaitu Anton yang cuek, Dayat yang Alim, Umar yang bandel dan Hutbah yang playboy. Ketika tahun ajaran baru Beddu bertemu dengan Andi Masniar (Nia), sesosok gadis yang mengenalkannya pada perasaan yang disebut cinta. Awalnya, perasaan Beddu itu tidak disambut baik oleh Nia. Terlebih lagi Beddu harus bersaing dengan Hutbah yang sudah berpengalaman dalam urusan perempuan. Sebenarnya, dibalik itu semua, jurus maut Hutbah merayu perempuan tetap tidak ada apa-apanya tanpa kata-kata puitis olahan Beddu dalam setiap surat cinta yang Hutbah berikan kepada perempuan incarannya. Dan surat cinta yang Hutbah berikan kepada Nia pun merupakan karya Beddu yang tak lain adalah hasil penuangan isi hati Beddu sendiri pada Nia. Nama Beddu yang tertera dalam surat cinta Hutbah tersebut mendatangkan musibah bagi Beddu. Surat cinta itu membuatnya dipermalukan oleh Nia di depan umum. Kala itu Nia melemparkan surat cinta itu pada Beddu di depan perpustakaan seraya meneriakinya “kumbang jelek”. Kumbang adalah sebuah simbol diri Beddu yang dituangkan dalam puisi sebagai pelengkap surat cinta Hutbah. Namun, sejak kejadian itu Beddu semakin termotivasi untuk menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya kepada Nia. Usaha Beddu tak sia-sia, Beddu berhasil menunjukkan kepandaiannya pada Nia melalui juara umum yang diraihnya. Prestasi itu kemudian membuat Nia mulai memperhatikan Beddu dan mulai sadar bahwa orang yang dijuluki kumbang jelek itu bukanlah orang sembarangan. Selain itu, Beddu menuangkan bakat menulis kata-kata puitisnya melalui mading kelasnya. Karya-karyanya pun kemudian menjadi buah bibir warga sekolah, terutama kaum perempuan. Saat itu pula, Nia semakin sadar bahwa laki-laki yang telah dipermalukan di depan umum itu bukanlah orang biasa. Nia berusaha untuk meminta maaf pada Beddu tentang kesalahannya tersebut. Nia merasa sangat bersalah atas apa yang telah dilakukannya terhadap Beddu. Meskipun Beddu sudah bisa memaafkan Nia, namun sikapnya masih dingin terhadap Nia. Bergabungnya Nia sebagai anggota KOMPITA, Kelompok Pecinta Alam yang didirikan oleh Beddu dan kawan-kawannya, membuat hubungan Beddu dan Nia semakin dekat. Bahkan kedekatan mereka tersebut yang kemudian memberanikan Beddu untuk berkunjung ke rumah Nia sesuai dengan undangan ayah Nia. Ayah Nia, atas nama keluarga Nia, meminta maaf kepada Beddu mengenai kesalahan yang pernah Nia lakukan pada Beddu. Keluarga Nia yang berpendidikan itu membuat Beddu semakin termotivasi untuk menjadi orang yang berpendidikan juga agar dapat diterima oleh keluarga Nia. Setamat SMA, Beddu pun melanjutkan pendidikannya ke Universitas Hasanuddin Makassar. Sebelum berangkat ke Makassar, Beddu dan Nia sempat mengucapkan janji untuk saling setia di bukit yang terletak di sebelah selatan SMA Bikeru, bukit Bulu Paccing. Dan disana pula, mereka yang sama-sama cinta lingkungan juga berjanji untuk menjaga hutan sebagai simbol dari cinta mereka. Bagi mereka, menjaga hutan sama artinya menjaga cinta mereka. Ketika enam bulan pertama menjalani masa kuliahnya, Beddu dikagetkan dengan sikap Nia yang benar-benar manja. Kala itu, Nia menelepon Beddu dan memintanya untuk segera kembali ke Sinjai dengan alasan bahwa ia sangat rindu pada Beddu. Apakah hanya itu saja alasan Nia meminta Beddu untuk segera kembali ke kampung halaman? Silahkan rasakan nuansa romansa antara Beddu dan Nia dengan membaca secara lengkap tulisan Dul Abdul Rahman ini. Novel yang disajikan dengan sudut pandang orang pertama sebagai tokoh utama ini, mengangkat tema kasih tak sampai antara Beddu dan Nia dengan begitu menyentuh dan begitu dekat dengan kehidupan nyata. Suasana menyenangkan dan bahagia memang kurang mendapat tempat dalam novel ini, bahkan lebih di dominasi oleh suasana yang penuh haru dan mengundang air mata. Namun, penataan alur yang dibuat oleh penulis dapat menghadirkan emosi para pembaca dan memiliki daya pikat yang kuat dalam setiap tahapannya. Budaya Bugis yang begitu kental dan melekat pada tokoh utama serta tokoh-tokoh lainnya semakin menguatkan karakter mereka dalam novel ini. Kisah cinta yang diangkat oleh penulis dituangkan ke dalam hal yang positif serta diiringi dengan pesan-pesan mendidik yang tersirat di dalamnya. Para remaja dapat menjadikan kisah ini sebagai pembelajaran moral yang positif ketika mulai merasakan apa itu cinta dan menyikapinya ke arah yang positif. Diposkan oleh Emilia Yulisita di 7:32:00 AM sumber tulisan: www.sitayulisita.blogspot.com