<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340</id><updated>2012-03-05T00:05:06.397-08:00</updated><title type='text'>DAR SASTRA</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>54</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-5650873307122331871</id><published>2012-03-05T00:05:00.000-08:00</published><updated>2012-03-05T00:05:06.414-08:00</updated><title type='text'>Hakekat Penciptaan Manusia dalam Novel La Galigo karya Dul Abdul Rahman</title><content type='html'>Oleh: Syamsuddin S&lt;br /&gt;(Guru Bahasa dan Sastra Indonesia)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sudah sejak lama saya bertanya-tanya tentang La Galigo. Yang paling membuat saya bertanya-tanya karena konon katanya karya sastra tersebut adalah kitab sastra terpanjang di dunia. Dan buku asli kitab sastra tersebut dalam bentuk tulisan tangan berada di Negeri Belanda nun jauh disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika saya mengajar bidang studi Bahasa Indonesia di kelas dengan materi pokok: Apresiasi Sastra Indonesia. Tiba-tiba seorang siswa bertanya pada saya tentang La Galigo. Saya tergagap, jujur saya tidak tahu isi kitab La Galigo tersebut. Saya meminta kepada siswa-siswi saya untuk bersabar dan memberi waktu kepada saya untuk menjawabnya. Jeda waktu untuk menjawab tentang La Galigo, saya sedikit tegang karena setiap kali saya masuk di kelas, siswa-siswa selalu menagih janji, padahal saya belum mendapatkan buku tentang La Galigo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, akhirnya saya bisa mendapatkan sebuah novel berjudul La Galigo yang ditulis oleh sastrawan yang berasal dari Sulawesi Selatan, Dul Abdul Rahman. Novel tersebut diterbitkan oleh penerbit nasional, Diva Press Yogyakarta. Dan pada akhirnya saya bisa menjelaskan kepada siswa-siswi saya tentang isi La Galigo.&lt;br /&gt;Benar kabar yang saya dengar bahwa La Galigo adalah kitab sastra terpanjang di dunia. Mengutip tulisan pengantar dari penulisnya bahwa memang La Galigo adalah kitab sastra terpanjang di dunia setara dengan kitab Mahabarata dan Ramayana dari India sebagaimana pengakuan ilmuwan Belanda bernama R.A.Kern. Bahkan tidak tanggung-tanggung, sejarawan dan ilmuwan Belanda lainnya bernama Sirtjof Koolhof berpendapat bahwa La Galigo adalah karya sastra terpanjang di dunia yang terdiri dari 300.000 baris. Epos Mahabarata jumlah barisnya hanya antara 160.000-200.000 baris saja.&lt;br /&gt;Dalam novel La Galigo diceritakan bahwa dahulu kala, Kerajaan Bumi hanyalah tanah kosong yang benar-benar tak berpenghuni. Lalu Sang Dewata (Sang Patotoqe) yang berada di Kerajaan Langit segera memutuskan bahwa Kerajaan Bumi tidak bisa dibiarkan terlalu lama kosong. Manusia harus diturunkan untuk menyuburkannya dan tentu saja menyembah-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka atas hasil musyawarah seluruh Dewata penghuni Kerajaan Langit, maka Sang Patotoqe mengirimkan putra sulungnya bernama La Togeq Langiq menjadi manusia pertama yang menghuni bumi. Dialah kemudian menjelma menjadi Batara Guru.&lt;br /&gt;Tidaklah mudah menjadi penguasa di Kerajaan Bumi, meski sang manusia adalah titisan Dewata tersebut bisa saja meminta bantuan Langit untuk mempermudah tugasnya. Tapi sang Dewata mengharuskan Batara Guru untuk berusaha. Karena memang begitulah hakekat penciptaan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adinda Datu Palingeq! Tidak usahlah khawatir bila anak kita kelak menjelma manusia lalu mengalamai cobaan di Bumi. Karena memang sudah menjadi hukum Bumi bahwa sesungguhnya hidup adalah cobaan. Juga bukanlah manusia bila tidak tahan menghadapi cobaan,” ujar Sang Patotoqe kepada permaisurinya. (La Galigo, hal.15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etos Kerja&lt;br /&gt; Local wisdom utama yang dijumpai pada awal-awal novel La Galigo adalah kerja keras. Diceritakan bahwa ketika pertama kali menghuni bumi, Batara Guru bersedih dan bermalas-malasan. Bahkan ia terus menangis dan mengadu kepada ayahandanya yang berada di Kerajaan Langit. Batara Guru terus meminta agar dikirimkan makanan dan minuman serta pendamping karena ia kelaparan, kehausan, dan kesepian di bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tentu saja keinginan Batara Guru tidak diamini oleh Sang Patotoqe (Dewata) di Kerajaan Langit. Karena menurut ketentuan Dewata ketika manusia sudah menghuni Bumi maka ia tidak boleh bergantung kepada Kerajaan Langit. Tetapi manusia harus berusaha sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Naluriah manusia dalam diri Batara Guru akhirnya muncul, ia mencari makanan dan minuman sendiri. Karena memang bersamaan munculnya Batara Guru di Bumi terciptalah juga hutan-hutan, sungai-sungai, tumbuhlah segala jenis buah-buahan. Intinya Sang Patotoqe di Kerajaan Langit sudah menyebarkan rahmatnya di muka bumi, tinggallah manusia sendiri yang mencarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jadi hidup di Bumi manusia harus bekerja keras. Ini pun sejalan dengan Kitab Suci Al-Qur’an surat ar-Ra’d ayat 11 yang artinya, “…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri….” Poin ini pun sejalan dengan local wisdom Bugis-Makassar yang berbunyi “Resopa temmangingi namalomo naletei pammase dewata sewae” (Usaha yang sungguh-sungguh disertai keikhlasan yang mendapat ridha dari Tuhan Yang Maha Esa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Bekerja dan Bekerja”. Mungkin itulah maksud Sang Dewata ketika menurunkan kapak emas dari Langit ketika Batara Guru terus bersedih karena kelaparan dan kehausan di Bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dan ketika menurunkan kapak emas kepada Batara Guru di Bumi, seolah Sang Dewata juga ingin berkata, “Bekerjalah! Bekerjasamalah!” Itu dibuktikan karena bersamaan diturunkannya kapak emas, diturunkan pula seorang pembantu bernama La Oro Kellong. Selanjutnya La Oro Kelling membantu Batara Guru membuka lahan pertanian dengan kapak emasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selanjutnya local wisdom yang penting dari novel La Galigo gubahan Dul Abdul Rahman adalah selain bekerja diperlukan pemahaman (ilmu pengetahuan). Dikisahkan bahwa setiap ingin bekerja, sang pembantu dari Langit, La Oro Kelling sangat bersemangat. Ia selalu ingin tampil mengerjakan semua pekerjaan dan meminta Batara Guru beristirahat saja. Pada suatu hari Batara Guru dan La Oro Kelling ingin membuka lahan pertanian. Awalnya Batara Guru yang memulai menebang pohon tetapi La Oro Kelling mengambil alih pekerjaan itu karena ia merasa dirinyalah yang harus bekerja keras karena ia seorang pembantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; La Oro Kelling pun menebang sebatang pohon. Tetapi kemudian ia mengeluh karena sebatang pohon saja ia butuh waktu yang lama untuk menebangnya. Apalagi kalau harus membabat hutan. Batara Guru tahu akan keresahan hati La Oro Kelling, ia pun mengambil kapak emas lalu menebang pohon yang besar yang letaknya paling atas. Pohon besar itu terjatuh menimpa pohon yang ada di dekatnya. Lalu pohon lainnya menimpa pohon yang ada di dekatnya pula. Hingga kawasan yang awalnya hutan menjelma jadi lahan pertanian hingga ke pinggir sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Maka berkatalah Batara Guru kepada La Oro Kelling: “Begitulah La Oro Kelling! Bekerja harus pakai otak. Manusia tidak akan pernah mampu menaklukkan Bumi dengan tenaganya saja. Manusia hanya bisa menaklukkan Bumi dengan bantuan pikirannya.” (La Galigo, hal.67)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Membaca novel La Galigo tulisan Dul Abdul Rahman yang diadaptasi dari kitab sastra La Galigo sungguhlah sangat menarik. Novel yang cukup tebal tersebut memberi banyak pelajaran-pelajaran sangat berharga. Pantaslah kalau menurut penulisnya yang saya sempat bertemu dengannya bahwa kitab sastra La Galigo sangat diminati oleh mahasiswa di Belanda untuk melakukan kajian sastra. Dan yang paling melegakan adalah badan PBB, UNESCO sudah menetapkan kitab La Galigo sebagai naskah warisan dunia dan diberi anugerah Memory of the World (MOW).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Sumber: HARIAN FAJAR Ahad 4 Maret 2012&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-h22nm-emIjo/T1RzpfzagUI/AAAAAAAAAE4/j5NFsN-vRX4/s1600/BUKU%2B7%2BLA%2BGALIGO.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="214" src="http://2.bp.blogspot.com/-h22nm-emIjo/T1RzpfzagUI/AAAAAAAAAE4/j5NFsN-vRX4/s320/BUKU%2B7%2BLA%2BGALIGO.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-5650873307122331871?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/5650873307122331871/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2012/03/hakekat-penciptaan-manusia-dalam-novel.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/5650873307122331871'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/5650873307122331871'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2012/03/hakekat-penciptaan-manusia-dalam-novel.html' title='Hakekat Penciptaan Manusia dalam Novel La Galigo karya Dul Abdul Rahman'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-h22nm-emIjo/T1RzpfzagUI/AAAAAAAAAE4/j5NFsN-vRX4/s72-c/BUKU%2B7%2BLA%2BGALIGO.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-8263563190963469560</id><published>2012-02-04T19:42:00.000-08:00</published><updated>2012-02-04T19:42:58.276-08:00</updated><title type='text'>ROMANTISME DALAM SASTRA BUGIS KLASIK</title><content type='html'>Oleh: dul abdul rahman&lt;br /&gt;(Sastrawan dan peneliti budaya, penulis novel “La Galigo”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selalu saja tema cinta menjadi inspirasi bagi para sastrawan untuk mengungkapkan perasaannya. Apapun genrenya, tanpa cinta serasa karya itu tak lezat dan kurang nikmat. Tema cinta memang selalu mendedah resah, meluah hibah, pun memadah airmata. Bahkan serupa mantra bagi para pengagum cinta, ketika mereka jatuh cinta dunia serasa penuh dengan pelangi-pelangi surgawi. Hal-hal yang tidak mungkin menjadi mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kisah cinta yang melegenda. Tak pelak lagi dua kisah cinta yang paling melegenda adalah Romeo-Juliet karya William Shakespeare dan Layla-Majnun karya Syaikh Nizami. Kisah cinta yang melegenda lainnya adalah, Khusraw-Shirin, Cleopatra-Julius Caesar, Jennifer Cavileri-Oliver Barret, San Pek-Eng Tay, dan Yusuf-Zulaikha. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Indonesia terdapat juga legenda cinta abadi, yaitu Layonsari-Jayaprana yang merupakan cerita cinta dari daerah Bali yang terusik karena campur tangan raja yang cemburu buta. Cerita cinta abadi lainnya dari Indonesia adalah Roro Mendut-Pranacitra, yaitu kisah cinta Tumenggung Wiraguna pada Roro Mendut, putri dari Mataram yang sudah memiliki pilihan hati, Pranacitra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Sulawesi Selatan, terdapat banyak kisah cinta abadi yang bersumber dari kitab sastra La Galigo. Selain yang termaktub dalam kitab sastra La Galigo yang berjumlah 12 jilid yang berisi 2851 halaman dan tersimpan rapih di museum Universitas Leiden, Belanda, yang ditulis oleh Colliq Pujie Arung Pancana Toa, terdapat pula berbagai macam sastra lisan yang berkembang turun temurun di Sulawesi Selatan yang punya benang merah dengan kitab La Galigo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah sangat ‘memalukan’ bila orang-orang yang mendiami Sulawesi Selatan (baca: Bugis-Makassar-Toraja-Mandar) gagap dengan cerita-cerita yang lahir dari rahim bumi tempat pijakannya sendiri. Yang tak kalah mengerikannya orang-orang yang berkecimpung dalam dunia budaya dan sastra pun gagap dan gugup dengan budaya dan sastra lokal dimana mereka berdomisili. Sesungguhnya penamaan budaya lokal dan sastra lokal bukanlah untuk menilai apakah sebuah nilai budaya atau sastra bagus atau tidak bagus, tetapi sebagai sebuah identitas dimana sastra dan budaya itu lahir dan berkembang. Sastra La Galigo adalah sastra lokal klasik milik masyarakat Sulawesi Selatan yang kini sudah mendunia. Bahkan La Galigo kini menjadi sastra milik dunia internasional setelah mendapat penghargaan Memory of The World (MOW) dari badan PBB UNESCO pada tahun 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak cerita-cerita atau legenda cinta yang terukir dalam kitab sastra Lagaligo, seperti Batara Guru dan We Nyiliq Timoq, Batara Lattuq dan I We Datu Sengngeng, Sawerigading dan I We Cudaiq. Cerita-cerita yang punya benang merah dengan kitab La Galigo, seperti La Sinribaleng dan I Rubaedah, La Pundarek dan Putri Salewangang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Batara Guru dan We Nyiliq Timoq&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam cerita La Galigo, Batara Guru adalah manusia pertama di Kerajaan Bumi (Dunia Tengah/Ale Lino). Sebelumnya Batara Guru tinggal di Kerajaan Langit (Dunia Atas) dan bernama La Togeq Langiq. Oleh ayahnya, Sang Patotoqe, ia dikirim untuk menghuni Kerajaan Bumi. Untuk menemaninya di Kerajaan Bumi maka dikirimkanlah seorang pendamping dari Kerajaan Peretiwi (Dunia Bawah) bernama We Nyiliq Timoq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu We Nyiliq Timoq muncul di lautan dengan perahu keemasan, Batara Guru meminta para pengawalnya untuk menjemput calon permaisurinya, namun perahu-perahu para penjemput tidak bisa mendekati perahu We Nyiliq Timoq karena selalu terhempas oleh gelombang. Maka Batara Guru pun yang berusaha menjemput calon permaisurinya. Perahu keemasan We Nyiliq Timoq pun dengan cepat bertemu dengan perahu Batara Guru.&lt;br /&gt;Batara Guru dan We Nyiliq Timoq kemudian menikah. Mereka saling mencintai dan menyayangi. Dari pasangan ini lahirlah seorang putra mahkota yang diberi nama Batara Lattuq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Batara Lattuq dan We Datu Sengngeng&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; Setelah Dewasa, Batara Lattuq harus bersusah payah berlayar ke negeri Tompoq Tikkaq untuk mencari jodohnya. Batara Lattuq berlayar berbulan-bulan hingga tiba di sebuah kerajaan manurung, Tompoq Tikkaq. Pada saat itu penguasa Tompoq Tikkaq bernama La Urung Mpessi dan isterinya We Pada Uleng meninggal dunia akibat bencana yang melanda negeri itu. Negeri itu memang sedang dikutuk oleh Sang Patotoqe akibat ulah La Urung Mpessi yang membuang nasi di sungai. Padahal nasi atau padi adalah jelmaan Datu Sangiang Serri, saudara Batara Lattuq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saat itu pula, kedua perempuan pewaris tahta Tompoq Tikkaq berlari ke hutan karena ingin dibunuh oleh bibi mereka bernama We Tenrijelloq yang ingin menguasai Tompoq Tikkaq. Alhasil, pelayaran ke Tompoq Tikkaq bagi Batara Lattuq bukan hanya mencari jodoh tetapi untuk membebaskan Tompoq Tikkaq dari kekejaman We Tenrijelloq bersama suaminya La Tenrigiling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Akhirnya, Batara Lattuq berhasil membebaskan Tompoq Tikkaq kemudian menikah dengan salah seorang pewaris Tompoq Tikkaq bernama We Datu Sengngeng. Lalu Batara Lattuq membawa permaisurinya kembali berlayar ke Ale Luwuq. Sedangkan yang tinggal berkuasa di Tompoq Tikkaq adalah kakak kandung We Datu Sengngeng bernama We Adiluwuq.&lt;br /&gt; Batara Lattuq sangat mencintai isterinya We Datu Sengngeng. Bahkan ia menolak memiliki selir karena cintanya hanya milik We Datu Sengngeng seorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sawerigading dan I We Cudaiq&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; Kisah cinta yang paling mengharukan dan menegangkan adalah kisah cinta Sawerigading dan Putri Cina, I We Cudaiq.&lt;br /&gt; Awalnya Sawerigading jatuh cinta kepada saudara kembar emasnya bernama I We Tenriabeng. Karena kembar emas, keduanya dipisahkan sejak masih kecil. Ketika bertemu di saat dewasa, Sawerigading langsung jatuh cinta dengan kecantikan I We Tenriabeng. Ia pun ingin segera melamarnya. Namun keinginan Sawerigading ditentang keras oleh para penasehatnya karena sesungguhnya Sawerigading bersaudara kembar emas dengan I We Tenriabeng. Karena sudah dirasuki rasa cinta yang buta, Sawerigading tidak percaya dengan para penasehatnya. Bahkan ia membunuh juru bicara penasehatnya bernama Rajeng Makdopeq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; I We Tenriabeng mencoba meyakinkan Saweigading bahwa mereka benar-benar bersaudara kembar emas. Lalu ia menyarankan saudara kembar emasnya tersebut untuk berlayar ke Negeri Cina. Karena di Negeri Cina terdapat seorang perempuan yang mirip dengan dirinya bernama I We Cudaiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Akhirnya Sawerigading mau percaya dengan penjelasan saudari kembar emasnya. Ia pun memutuskan berlayar ke Negeri Cina untuk menemukan tambatan hatinya. Namun sesampai di Negeri Cina, I We Cudaiq tidak mau bertemu dan melihat wajah Sawerigading. I We Cudaiq mati-matian menolak dinikahi oleh Sawerigading. Ia termakan isu bahwa Sawerigading adalah lelaki yang sangat buruk rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Karena merasa dilecehkan oleh Putri Cina, Sawerigading pun bermaksud membumihanguskan kerajaan Ale Cina. Karena takut dengan kekuatan pasukan Sawerigading, akhirnya I We Cudaiq mau dinikahi oleh Sawerigading dengan berbagai syarat. Salah satunya adalah Sawerigading hanya boleh mendatangi I We Cudaiq pada malam hari. Pun tidak boleh menyalakan lampu atau pelita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Maka sejak menikah, Sawerigading hanya bisa mengunjungi isterinya di malam hari. Itupun Sawerigading tidak bisa bermesraan dengan isterinya karena sejak menikah, I We Cudaiq selalu membungkus tubuhnya dengan pakaian tujuh lapis yang sudah dijahit ujung kaki dan bagian kepala. Tapi Sawerigading tidak pernah kehabisan akal, ia berpura-pura tidak mau mengunjungi isterinya lagi. Atas bantuan kucing miko-miko dan memompalo karellae sebagai mata-mata, pada suatu malam I We Cudaiq tidak lagi membungkus tubuhnya karena mengira Sawerigading sudah tidak mau mengunjunginya. Di saat itu tiba-tiba Sawerigading muncul dan langsung memeluk isterinya. Kucing miko-miko pun langsung menyalakan pelita dengan ekornya. I We Cudaiq tetap tidak mau melihat wajah suaminya. Ia terus menutup kepalanya dengan membelakangi Sawerigading. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sawerigading mencoba membujuk isterinya dengan bercanda, “Kalau memang kamu tidak mencintaiku, maka lebih baik aku mengunjungi kekasihku oro sadda (perempuan yang sangat jelek) yang berkepala tiga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I We Cudaiq langsung tertawa dan refleks berbalik ke arah Sawerigading. Dan betapa terkejut dan bahagianya I We Cudaiq karena ternyata suaminya adalah lelaki yang sangat tampan. Bahkan ia belum pernah melihat lelaki setampan Sawerigading. Sawerigading dan I We Cudaiq kemudian mempunyai anak lelaki yang diberi nama: I La Galigo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tentang Dul Abdul Rahman. &lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-QXeMsYsO3jg/Ty36tTKl7aI/AAAAAAAAAEs/OJVYeYXl2HM/s1600/BUKU%2B7%2BLA%2BGALIGO.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="214" src="http://2.bp.blogspot.com/-QXeMsYsO3jg/Ty36tTKl7aI/AAAAAAAAAEs/OJVYeYXl2HM/s320/BUKU%2B7%2BLA%2BGALIGO.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sastrawan dan peneliti budaya. Ia menamatkan pendidikan menengahnya di SMA Negeri Bikeru Sinjai Selatan pada 1993. Pernah mengenyam bangku kuliah, yakni  Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (1993-1998), Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar (2001-2002), Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin (2004-2009). Aktif bersastra di Indonesia dan Malaysia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratusan tulisannya berupa karya sastra dan kritik sastra dimuat koran lokal dan nasional di Indonesia dan Malaysia. Karya-karyanya dijadikan bahan penelitian oleh mahasiswa untuk meraih gelar sarjana dan pascasarjana, di Indonesia maupun Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku sastranyat:  &lt;br /&gt;1. Lebaran Kali Ini Hujan Turun (Kumpulan Cerpen, Nala Makassar, 2006)&lt;br /&gt;2. Pohon-Pohon Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2009); &lt;br /&gt;3. Daun-Daun Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2010);  &lt;br /&gt;4. Perempuan Poppo (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010); &lt;br /&gt;5. Sabda Laut (Novel. Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010). &lt;br /&gt;6. Sarifah (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2011) &lt;br /&gt;7. La Galigo (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2012)&lt;br /&gt;8. Dewi Padi dan Kucing Kesayangannya (Novel, Diva Press Yogyakarta, segera terbit)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-8263563190963469560?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/8263563190963469560/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2012/02/romantisme-dalam-sastra-bugis-klasik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/8263563190963469560'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/8263563190963469560'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2012/02/romantisme-dalam-sastra-bugis-klasik.html' title='ROMANTISME DALAM SASTRA BUGIS KLASIK'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-QXeMsYsO3jg/Ty36tTKl7aI/AAAAAAAAAEs/OJVYeYXl2HM/s72-c/BUKU%2B7%2BLA%2BGALIGO.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-7740683879603280570</id><published>2012-01-31T04:09:00.000-08:00</published><updated>2012-01-31T04:09:33.898-08:00</updated><title type='text'>SAWERIGADING, LELAKI YANG INGIN MENIKAHI SAUDARI PEREMPUANNYA SENDIRI</title><content type='html'>Sang Patotoqe, penguasa tunggal Kerajaan Langit telah mengutus putranya yang bernama Batara Guru untuk turun ke dunia. Setelah tiba di dunia, Batara Guru kawin dengan puteri dari Kerajaan Peretiwi yang bernama We Nyiliq Timoq. Dari perkawinan Batara Guru dan We Nyiliq Timoq, lahirlah putra mahkota bernama Batara Lattuq. Dan setelah dewasa Batara Lattuq menikah dengan We Datu Sengngeng setelah berlayar selama berbulan-bulan. Dari perkawainan Batara Lattuq dan We Datu Sengngeng, lahirlah dua anak kembar berlainan jenis. Yang putra bernama Sawerigading, sedangkan yang putri bernama We Tenriabeng. Sebagaimana adat-adat kebiasaan orang bangsawan untuk kelahiran anak-anak mereka, telah diadakan upacara oleh orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Namun setelah mengadakan upacara itu, Batara Lattuq dan permaisurinya menghilang, naik ke Boting Langiq atau puncak langit. Kejadian ini menggemparkan penduduk Kerajaan Manurung Ale Luwuq. Setelah reda keadaannya, para pemuka pembesar Kerajaan Ale Luwuq bersepakat untuk memelihara keturunan Batara Lattuq, dengan jalan memisahkan mereka. Demikianlah sehingga We Tenriabeng dibuatkan mahligai berjauhan dari tempat pemeliharaan Sawerigading.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sawerigading tetap dipelihara di pusat kerajaan Ale Luwuq. Mereka berdua masing-masing dirawat oleh inang pengasuh dan dayang-dayang. Khusus Sawerigading, ia diasuh dan dijaga oleh tiga puluh orang pemuda yang cakap dan tangkas. Sehingga tidak heran apabila dewasa dan berkembang menjadi seorang yang berjiwa kesatria, cekatan dan terampil dalam menggunakan senjata dan bersemangat kepahlawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Keadaan yang ideal juga berlaku bagi We Tenriabeng, karena sejak kecil ia diasuh untuk dididik dan dilatih agar menguasai keterampilan dan kepandaian yang harus dimiliki oleh seorang puteri raja, sehingga tidak heranlah apabila setelah dewasa ia tumbuh kembang menjadi seorang yang berwajah cantik. Ditambah lagi ia memiliki keterampilan serta pengetahuan mengenai adat istiadat kewanitaan bangsawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada suatu hari Sawerigading yang telah dewasa serta telah menjadi penguasa Kerajaan Manurung Ale Luwuq, bersama pengiringnya pergi menjelajah untuk memeriksa daerah-daerah kekuasaannya. Dalam penjelajahannya itu, pada suatu ketika, ia tiba pada suatu mahligai yang indah dan megah sekali. Dan ia menjadi terkesima ketika bertatap muka dengan penghuninya, seorang putri yang teramat cantik jelita. Terpengaruh oleh darah remajanya, Sawerigading kemudian menanyakan nama puteri jelita itu. Dari para pengiringnya ia mendapat keterangan bahwa nama puteri jelita tersebut adalah We Tenriabeng, namun mengenai orang tuanya serta dari mana asalnya mereka tidak ada yang mengetahuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sejak itu, timbullah dorongan keras untuk mempersunting puteri tersebut di dalam hati Sawerigading. Setibanya di pusat kerajaan, ia segera mengumpulkan para pembesar dan pemuka kerajaan untuk menyampaikan niatnya tersebut. Namun oleh para penasehatnya, niatnya tersebut tidak disetujui, karena mereka tahu bahwa We Tenriabeng sebenarnya adalah saudara kembar dari rajanya. Repotnya Sawerigading tidak mau mendengarnya, ia tidak percaya dengan segala nasehat para penasehatnya, ia ngotot tetap ingin menikahi We Tenriabeng. Ia malah membunuh juru bicara dari para penasehatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kegemparan dan kegelisahan masyarakat kerajaan Ale Luwuq akhirnya terdengar oleh We Tenriabeng. Setelah mengetahui permasalahannya, maka We Tenriabeng pun berkeputusan untuk menghalangi maksud sang raja yang notabene adalah saudara kembarnya sendiri. Caranya adalah mengirim inang pengasuhnya sebagai utusannya menghadap Sawerigading. Pada utusannya itu, ia mengirimkan bukti hubungan darah mereka, yang berupa gelang, cincin, dan sehelai rambut. Dan untuk menggantinya, ia mengusulkan saudara kembarnya tersebut untuk meminang saja saudara sepupu mereka bernama I We Cudaiq yang berdiam di negeri Cina. Kecantikan I We Cudaiq tidak kalah dari Tenriabeng. Perbedaannya hanyalah pada warna kulit. Jika We Tenriabeng berkulit putih kekuning-kuningan, maka I We Cudaiq berkulit putih berkilau-kilauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dengan adanya bukti hubungan kekerabatan itu, akhirnya Sawerigading mau percaya dan berkeputusan untuk pergi ke negeri Cina untuk meminang I We Cudaiq yang molek tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sawerigading pun berlayar selama berbulan-bulan menuju negeri Cina. Ia beberapa kali berperang di laut karena dihadang oleh berbagai musuh yang tidak memberinya jalan. Akhirnya Sawerigading sampai di negeri Cina. Namun di negeri Cina Sawerigading mendapat penolakan dari Puteri Cina. Maka terjadilah pertempuran hebat antara pasukan Sawerigading dengan pasukan Ale Cina. Sanggupkah Sawerigading mengalahkan pasukan Ale Cina lalu mempersunting I We Cudaiq? Baca selengkapnya dalam novel La Galigo, diterbitkan oleh Diva Press Yogyakarta Januari 2012.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-sFkby6wKCzA/TyfZ6izZrVI/AAAAAAAAAEg/kcfy8XPwFVs/s1600/BUKU%2B7%2BLA%2BGALIGO.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="214" src="http://1.bp.blogspot.com/-sFkby6wKCzA/TyfZ6izZrVI/AAAAAAAAAEg/kcfy8XPwFVs/s320/BUKU%2B7%2BLA%2BGALIGO.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Dul Abdul Rahman. &lt;br /&gt;Sastrawan dan peneliti budaya. Ia menamatkan pendidikan menengahnya di SMA Negeri Bikeru Sinjai Selatan pada 1993. Pernah mengenyam bangku kuliah, yakni  Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (1993-1998), Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar (2001-2002), Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin (2004-2009). Aktif bersastra di Indonesia dan Malaysia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratusan tulisannya berupa karya sastra dan kritik sastra dimuat koran lokal dan nasional di Indonesia dan Malaysia. Karya-karyanya dijadikan bahan penelitian oleh mahasiswa untuk meraih gelar sarjana dan pascasarjana, di Indonesia maupun Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku sastranyat:  &lt;br /&gt;1. Lebaran Kali Ini Hujan Turun (Kumpulan Cerpen, Nala Makassar, 2006)&lt;br /&gt;2. Pohon-Pohon Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2009); &lt;br /&gt;3. Daun-Daun Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2010);  &lt;br /&gt;4. Perempuan Poppo (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010); &lt;br /&gt;5. Sabda Laut (Novel. Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010). &lt;br /&gt;6. Sarifah (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2011) &lt;br /&gt;7. La Galigo (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2012)&lt;br /&gt;8. Dewi Padi dan Kucing Kesayangannya (Novel, Diva Press Yogyakarta, segera terbit)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-7740683879603280570?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/7740683879603280570/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2012/01/sawerigading-lelaki-yang-ingin-menikahi.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/7740683879603280570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/7740683879603280570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2012/01/sawerigading-lelaki-yang-ingin-menikahi.html' title='SAWERIGADING, LELAKI YANG INGIN MENIKAHI SAUDARI PEREMPUANNYA SENDIRI'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-sFkby6wKCzA/TyfZ6izZrVI/AAAAAAAAAEg/kcfy8XPwFVs/s72-c/BUKU%2B7%2BLA%2BGALIGO.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-9205421359336224399</id><published>2012-01-22T20:16:00.000-08:00</published><updated>2012-01-22T20:16:20.694-08:00</updated><title type='text'>BALADA CINTA SANGKALA DAN SARIFAH</title><content type='html'>Cerpen: dul abdul rahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya Sangkala ragu mengizinkan Sarifah jadi TKW di Malaysia. Di samping karena ia akan kesepian ditinggal isteri tercinta, pun ia akan menanggung malu mendengar omongan orang-orang sekampungnya, “Orowane de’ siri’na.” Selalu begitu cemoohan yang diberikan kepada laki-laki yang dianggap kurang bertanggung jawab. Artinya laki-laki tak punya malu. Tapi karena rengekan isterinya terus menerus, Sangkala bulat mengizinkan isterinya bekerja di Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sarifah, isteri Sangkala, punya itikad baik untuk membantu suaminya. Ia sangat ingin melihat anak-anaknya kelak lebih bernasib baik dari mereka berdua. Kuncinya adalah ketiga anak-anaknya harus sekolah tinggi-tinggi supaya bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Profesi suaminya yang hanya petani kere, tak mungkinlah menyekolahkan anak-anaknya, apalagi biaya pendidikan kian mahal saja. Jika mereka bertahan di kampung, maka pastilah anak-anaknya kelak mengikuti jejak pekerjaan mereka. Petani kere yang tak punya pendidikan. Sarifah tak mau hal itu terjadi.&lt;br /&gt; Setelah melewati babak musyawarah dan konsultasi ke pihak keluarga Sangkala, pun pihak keluarga Sarifah, pun para tetua di kampung, Sangkala dan Sarifah lalu bermufakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Demi masa depan anak-anak kita, saya mengizinkan kau Sarifah bekerja di Malaysia. Jagalah kehormatan keluarga kita di sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Nada Sangkala bergetar. Sebentar lagi ia akan berpisah dengan isterinya untuk sementara. Hanya untuk sementara. Selalu Sangkala mengulang kalimat itu. Tahun depan Sangkala berniat menyusul isterinya ke Malaysia. Sebenarnya keluarga mereka mengusul lebih baik keduanya berangkat sama-sama. Namun karena ibu Sangkala yang sudah tua, lagipula sedang sakit, Sangkala tak tega meninggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sangkala berencana, cukuplah lima tahun bekerja di Malaysia, upahnya ia kirim ke kampung untuk beli tanah. Ia pun bermufakat dengan isterinya tidak memboyong anak-anaknya ke Malaysia. Biarlah mereka tetap bersekolah di kampung. Memang yang paling dipikirkan Sangkala dan Sarifah adalah pendidikan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Iye Daeng, akan kujaga segala kehormatan keluarga kita, siri’mu siri’ku.” Sarifah menatap suaminya. Ada mendung bergelayut di wajahnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kalau tiba di sana, selalulah berkirim kabar kepada kami. Lagian Mandor Bajide tiap bulan pulang kampung mengurus para calon TKI lainnya. Bisa juga lewat Haji Hamide yang sekali dua bulan pulang ke Indonesia mengambil barang dagangan.” Sangkala tak kuasa menahan rasa haru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Akan kuingat segala pappaseng Daeng.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sarifah sesunggukan dipelukan suaminya. Sangkala diam. Ia mencoba meredam segala kesedihan yang meraja di ulu hatinya. Malam ini memang adalah malam terakhir bersama isterinya, besok adalah jadwal isterinya berangkat ke Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Jagalah anak-anak kita Daeng! Daeng juga harus menjaga kesehatan.” Sarifah terus sesunggukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Saya selalu ingat pappasengmu Sarifah.” Sangkala mencoba menegarkan isterinya. Ia memang tak mau larut dalam kesedihan, ia harus tegar melepas isterinya. Lagipula ini malam banyak tetamu yang hadir, pihak keluarga besar mereka berdua, pun para tetangga menginap di rumah Sangkala. Selalu memang begitu di kampung Sangkala. Setiap orang yang hendak bepergian jauh atau datang dari bepergian jauh selalu para tetangga berkumpul untuk saling melepas kangen, pun mengikat kangen. Dan yang terpenting saling memberi nasehat, pun berbagi pengalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Sebagai perempuan, kau harus jaga diri baik-baik Sarifah. Selalu ingat suami dan anak-anakmu agar hatimu tak pernah luruh.” Ayah Sarifah menasehati anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Yang terpenting, kau harus rajin sholat dan berdoa, supaya kau selalu dalam lindunganNya.” Pak Imam Kampung turut menasehati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Hati-hati juga dengan Mandor Bajide. Kau harus jaga jarak dengan dia, Mandor Bajide itu suka….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Hush! Tak boleh berburuk sangka.” Kepala kampung yang turut hadir melepas keberangkatan Sarifah memotong ucapan Sittiara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Para tetangga yang hadir cekikikan mendengar penuturan Sittiara. Sittiara memang pernah jadi TKW di Malaysia selama dua tahun, setelah menikah di Malaysia dengan sesama TKI, ia pulang kampung bersama suaminya dan kini hidup berkecukupan. Sittiara tahu banyak Mandor Bajide, karena ia pun berangkat ke Malaysia lewat “agen” Mandor Bajide. Mandor Bajide adalah orang yang disegani dan dihormati, ia adalah ponakan kepala kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Begitulah. Nasehat-nasehat para tetua, pun cerita-cerita dibalik TKI, dan linangan airmata melepas keberangkatan Sarifah.&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt; Sudah setahun isterinya bekerja di Malaysia. Namun Sangkala tidak pernah mendengar kabar tentangnya. Selalu ia tanyakan pada Mandor Bajide, selalu pula lelaki yang sering dipanggil Karaeng itu menjawab tidak bertanggung jawab soal Sarifah, karena Sarifah beralih ke mandor lain. Sangkala sangat masygul. Ketika ia tanyakan nasib isterinya kepada Haji Hamide, pun tak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Malaysia itu luas, mungkin saja isterimu tidak bekerja lagi di Sabah. Mungkin ada mandor yang menawari gaji yang tinggi untuk pindah ke Kuala Lumpur.” Maemunah berkata padanya suatu ketika. Tentu saja bukan asal bicara, karena Maemunah pernah bekerja di kawasan Genting City of Entertainment Kuala Lumpur. Apalagi perempuan cantik macam Sarifah, meski sudah bersuami dan memiliki tiga orang anak, namun masih nampak cantik nan memikat. Jadi kemungkinan Sarifah jadi…. Hanya Maemunah yang tahu jenis pekerjaan apa yang cocok buat perempuan secantik Sarifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Biasanya memang perempuan cantik tak tahan bekerja sama Mandor Bajide.” Begitulah Sittiara selalu berkata padanya. Mandor Bajide memang terkenal mata keranjang, ia telah menikah berkali-kali, tetapi selalu bercerai.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kabar terakhir yang beredar di kampung. Mandor Bajide sudah beristeri lagi dengan seorang janda cantik dari kampungnya sendiri. Begitulah pengakuan Mandor Bajide. Tak seorangpun tahu di kampungnya siapa isteri baru Mandor Bajide. Atau memang warga tak tertarik mengetahui isteri Mandor Bajide yang tukang kawin-cerai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hanyalah Haji Hamide yang sedikit mengetahui ciri-ciri isteri Mandor Bajide. Wajahnya sangat mirip Sarifah, isteri Sangkala. Tapi Haji Hamide hanya melihat poto pernikahannya saja. Pengakuan Haji Hamide dianggap mengada-ada. Karena pasti bukanlah Sarifah, apalagi Sarifah sudah bersuami. Pun Sarifah sudah meninggalkan Mandor Bajide menurut pengakuan Mandor Bajide sendiri. Dan yang paling membuat orang tak percaya dengan omongan Haji Hamide karena Puang Haji itu sudah katarak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Adalah waktu yang terus berjalan. Sejak kepergian isterinya, lalu tak ada kabarnya, Sangkala benar-benar merasa kehilangan. Tak ada lagi tempatnya berbagi duka, bermadah cinta. Sangkala benar-benar kesepian. Dan kesepian Sangkala sepertinya akan melewati musim demi musim. Tak ada kabar Sarifah. Sarifah sepertinya ditelan bumi Malaysia. Bumi Malaysia memang ladang emas, pun ladang cemas bagi para TKI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tak ada yang bisa menghentikan waktu. Waktu ibarat maut yang terus memburu, bahkan sesekali membujuk, lalu menghunus jarum-jarum kematian. Waktu pulalah yang akhirnya merenggut jiwa Sangkala. Sangkala tak mampu bersekutu dengan waktu sambil bersidekap dengan luka lara. Luka yang tersemat oleh kepergian Sarifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Semua warga menangisi kepergian Sangkala. Sangkala meninggal dunia membawa kesedihan tak terperikan. Orang-orang menyesali kenapa Sarifah berangkat ke Malaysia tidak bersama Sangkala saja. Sittiara dan Maemunah bahkan mengutuk Mandor Bajide yang tidak bertanggung jawab.&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Para sanak keluarga dan warga sangat berduka atas kematian Sangkala. Sarifah pun dianggap sudah meninggal dunia, karena tak seorang pun yang tahu kabarnya. Semua warga sangat kasihan kepada Sangkala dan Sarifah, sebaliknya mereka tidak simpatik kepada Mandor Bajide. Tapi lambat laun, ketidaksukaan mereka kepada Mandor Bajide mengendor. Itu karena Mandor Bajide bersikap simpatik pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sejak kematian Sangkala, Mandor Bajide mencoba menebus kesalahannya atas hilangnya jejak Sarifah yang membuat Sangkala meninggal dunia. Mandor Bajide menyekolahkan ketiga anak-anak Sangkala dan Sarifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Satu-satunya warga yang tidak simpatik kepada Mandor Bajide hanyalah Haji Hamide. Haji Hamide yang berdagang antar Sinjai-Makassar-Nunukan-Sabah sangat tahu siapa sebenarnya Mandor Bajide. Haji Hamide sangat ingin membongkar kebusukan Mandor Bajide. Hanya saja Haji Hamide berpikir, kalau ia membongkar kejahatan Mandor Bajide sekarang lebih banyak mudaratnya. Lebih baik ia diam saja. “Tuhan selalu ada melihat dosa-dosa hambaNya.” Haji Hamide membatin.&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kau benar-benar Sarifah Nak?” &lt;br /&gt; “Iye Puang Haji, saya Sarifah.”&lt;br /&gt; “Alhamdulillah Nak, ternyata kau masih hidup, padahal orang-orang di kampung menganggapmu sudah meninggal. Pulanglah Nak! Anak-anakmu sekarang merasa yatim piatu, padahal kau masih hidup.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Yatim piatu? Maksud Puang Haji? Saya selalu mengirim uang untuk keperluan sekolahnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kiriman uang? Yang saya tahu selama ini biaya sekolah anak-anakmu ditanggung oleh Mandor Bajide.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Sama saja Puang Haji, Mandor Bajide kan suami saya.”&lt;br /&gt; “Jadi kau pengantin baru Nak?”&lt;br /&gt; “Pengantin baru? Kami menikah dengan Mandor Bajide setahun silam.”&lt;br /&gt; “Maksudmu Nak? Sangkala suamimu kan meninggal dunia enam bulan silam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Haji Hamide dan Sarifah terus berkejaran dengan pertanyaan yang menyelisik dan mengcengkeram. Lalu pertanyaan dan jawaban Haji Hamide akhirnya menjelma duri-duri dan menusuk hati Sarifah. Sarifah mendadak tak sadarkan diri setelah mendengar kabar sesungguhnya dari Haji Hamide.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Haji Hamide tahu kini. Ternyata seluruh pengakuan Mandor Bajide tentang Sarifah adalah bohong belaka. Ternyata ia berbual jahat untuk merampas isteri orang. Ia menyembunyikan surat-surat Sarifah kepada suaminya, bahkan mengabarkan di kampung bahwa Sarifah menghilang, padahal ia menyembunyikannya. Lalu ia berbohong pula pada Sarifah bahwa suaminya telah meninggal dunia. Lalu merayu Sarifah menikah dengannya dengan alasan hidup Sarifah akan lebih berkecukupan sekaligus menebus utang Sarifah.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Laknat!”&lt;br /&gt; Haji Hamide menggerutu. Lalu menghubungi penyelenggara jenazah untuk mengurus pemakaman Sarifah. Ia berharap kematian Sarifah yang tahu hanyalah dirinya dan Mandor Bajide. Biarlah orang-orang di kampung menganggap bahwa Sarifah sudah lama meninggal dunia. Sekali lagi Haji Hamide berpikir manfaat-mudarat. Ia menganggap Mandor Bajide lah segala pangkal dosa dan kesalahan. Olehnya itu ia mengultimatum Mandor Bajide untuk mengurusi segala kebutuhan  dan sekolah anak-anak almarhum Sangkala dan Sarifah. Kalau menelantarkan anak-anak tersebut, ia akan membongkar segala kebusukan Mandor Bajide. Tapi apakah Mandor Bajide berjanji untuk bertobat, Haji Hamide tak memikirkan itu, biar Tuhan yang tahu segala dosa hamba-hambaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Haji Hamide meninggalkan pemakaman Sarifah. Ia tak menoleh sekalipun ke arah Mandor Bajide. Dibenaknya, kelak kalau tiba di kampung, ia akan berziarah ke makam Sangkala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber: Harian Cakrawala, 22 Januari 2012)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Penulis:&lt;br /&gt;Dul Abdul Rahman. Sastrawan dan peneliti budaya. Ia menamatkan pendidikan menengahnya di SMA Negeri Bikeru Sinjai Selatan pada 1993. Pernah mengenyam bangku kuliah, yakni  Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (1993-1998), Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar (2001-2002), Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin (2004-2009). Aktif bersastra di Indonesia dan Malaysia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratusan tulisannya berupa karya sastra dan kritik sastra dimuat koran lokal dan nasional di Indonesia dan Malaysia. Karya-karyanya dijadikan bahan penelitian oleh mahasiswa untuk meraih gelar sarjana dan pascasarjana, di Indonesia maupun Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukunya yang sudah terbit:  &lt;br /&gt;1. Lebaran Kali Ini Hujan Turun (Kumpulan Cerpen, Nala Makassar, 2006)&lt;br /&gt;2. Pohon-Pohon Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2009); &lt;br /&gt;3. Daun-Daun Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2010);  &lt;br /&gt;4. Perempuan Poppo (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010); &lt;br /&gt;5. Sabda Laut (Novel. Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010). &lt;br /&gt;6. Sarifah (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2011) &lt;br /&gt;7. La Galigo (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2012)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-9205421359336224399?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/9205421359336224399/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2012/01/balada-cinta-sangkala-dan-sarifah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/9205421359336224399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/9205421359336224399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2012/01/balada-cinta-sangkala-dan-sarifah.html' title='BALADA CINTA SANGKALA DAN SARIFAH'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-2382334078546553145</id><published>2012-01-01T00:48:00.000-08:00</published><updated>2012-01-01T00:48:57.077-08:00</updated><title type='text'>LA GALIGO sebuah novel berdasarkan KITAB LA GALIGO kotab sastra terpanjang di dunia</title><content type='html'>Sekilas tentang isi buku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“La Galigo adalah karya sastra terpanjang dan terbesar di dunia yang setara dengan kitab Mahabharata dan Ramayana dari India serta sajak-sajak Homerus dari Yunani,” ungkap R.A, Kern. &lt;br /&gt;Bahkan, tidak tanggung-tanggung, sejarawan dan ilmuwan Belanda, Sirtjof Koolhof, menyebutnya sebagai karya sastra terpanjang di dunia, terdiri dari 300.000 baris, mengalahkan Mahabharata dan yang lainnya.&lt;br /&gt;Nah, novel di tangan Anda ini adalah pemiksian yang sangat menarik dari karya legendaris tersebut.&lt;br /&gt;Diceritakan bahwa dahulu kala, Kerajaan Bumi hanyalah tanah kosong yang benar-benar tak berpenghuni. Lalu, Sang Dewata (Sang Pototoqe) segera memutuskan bahwa kerajaan tersebut tidak bisa dibiarkan terlalu lama kosong. Manusia harus diturunkan untuk menyuburkannya dan tentu saja menyembah-Nya!&lt;br /&gt;Maka, dipilihlah sang putra sulung-Nya untuk menjadi manusia pertama yang menghuni bumi. Dialah yang kemudian menjelma Batara Guru. &lt;br /&gt;Tidaklah mudah menjadi penguasa di Bumi, meski sang manusia titisan Dewata tersebut bisa saja meminta bantuan Langit untuk mempermudah tugasnya. Tapi, Sang Dewata mengharuskannya untuk berusaha sebelum pasrah. Di sinilah, ujian-ujian kehidupan mulai menerpanya. Dia dipaksa untuk melewati berbagai rintangan hingga sampailah dia pada titik di mana Sang Dewata mengizinkan Batara Guru memiliki pendamping hidup.&lt;br /&gt;Lantas, bagaimana kehidupannya kemudian? &lt;br /&gt;Tentu saja sepak terjang hebat keturunan-keturunannya semisal Sawerigading bakal mewarnai dengan sangat menghibur karya besar ini. Bahkan, petualangan cucu Batara Guru inilah yang nantinya sering menjadi sorotan istimewa dari para penikmat La Galigo. Selamat membaca!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adinda, tidak usah khawatir bila anak kita kelak menjelma manusia lalu mengalami cobaan hidup di Bumi. Karena, memang sudah menjadi hukum Bumi bahwa sesungguhnya hidup adalah cobaan. Bukanlah manusia namanya bila tidak dicoba. Juga, bukanlah manusia bila tidak tahan menghadapi cobaan,” ucap Sang Patotoqe meyakinkan istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterbitkan oleh DIVA PRESS Yogyakarta, cet.1 Januari 2012&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-0E82kTe9A4Y/TwAd7o17LLI/AAAAAAAAAEU/cdTtACgfZM0/s1600/BUKU%2B7%2BLA%2BGALIGO.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="214" src="http://4.bp.blogspot.com/-0E82kTe9A4Y/TwAd7o17LLI/AAAAAAAAAEU/cdTtACgfZM0/s320/BUKU%2B7%2BLA%2BGALIGO.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-2382334078546553145?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/2382334078546553145/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2012/01/la-galigo-sebuah-novel-berdasarkan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/2382334078546553145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/2382334078546553145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2012/01/la-galigo-sebuah-novel-berdasarkan.html' title='LA GALIGO sebuah novel berdasarkan KITAB LA GALIGO kotab sastra terpanjang di dunia'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-0E82kTe9A4Y/TwAd7o17LLI/AAAAAAAAAEU/cdTtACgfZM0/s72-c/BUKU%2B7%2BLA%2BGALIGO.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-8075123239245220495</id><published>2011-12-17T19:19:00.000-08:00</published><updated>2011-12-17T19:19:51.565-08:00</updated><title type='text'>LA GALIGO KARYA SASTRA TERPANJANG DI DUNIA</title><content type='html'>Kitab sastra La Galigo merupakan kitab sastra klasik Bugis adalah kitab sastra terpanjang di dunia. Pengakuan ini bukan datang dari orang-orang Bugis (baca: orang Indonesia). Jangankan mengklaim sebagai sastra terpanjang di dunia, orang Bugis sendiri awam dengan La Galigo. Yang mengklaim La Galigo sebagai karya sastra terpanjang di dunia adalah para ilmuwan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ilmuwan Belanda yang bernama R.A.Kern dalam bukunya Catalogus van de Boegineesche tot de I La Galigocyclus Behoorende Handschriften der Leidsche Universiteitbibliotheek yang diterbitkan oleh Universiteitbibliotheek Leiden (1939: 1) menempatkan Kitab La Galigo sebagai karya sastra terpanjang dan terbesar di dunia setaraf dengan kitab Mahabarata dan Ramayana dari India, serta sajak-sajak Homerus dari Yunani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan pendapat R.A. Kern, sejarawan dan ilmuwan Belanda lainnya, Sirtjof Koolhof, berpendapat bahwa Kitab Galigo adalah karya sastra terpanjang di dunia yang panjangnya mencapai lebih 300.000 baris, sementara epos Mahabarata jumlah barisnya antara 160.000 – 200.000 baris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat R.A. Kern dan Sirtjof Koolhof berdasarkan atas 12 jilid naskah La Galigo yang kini berada di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Naskah tersebut ditulis oleh Colliq Pujie Arung Pancana Toa pada abad ke-19 atas permintaan B.F Matthes (1818-1908). B.F Matthes adalah seorang missionaris Belanda yang pernah bertugas di Sulawesi. Sejatinya, Colliq Pujie hanyalah mengumpulkan dan menyalin kembali cerita La Galigo yang sudah mengakar (cerita lisan) pada masyarakat yang mendiami jazirah selatan Pulau Sulawesi –masyarakat Bugis.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Saat ini sudah muncul buku-buku transliterasi La Galigo atas jasa-jasa para kaum intelektual Sulsel seperti Muhammad Salim, M.Johan Nyompa, Fahruddin Ambo Enre, dan Nurhayati Rahman –mereka patut disebut pejuang La Galigo– Tetapi transliterasi tersebut nampaknya masih susah dibaca dan dicerna oleh masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;La Galigo, hadir dalam bentuk sebuah novel&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;La Galigo mengalami ‘perjalanan panjang’. Meski lahir di Tanah Bugis, Indonesia, namun ia ‘besar’ di negeri Belanda. Selain salinan naskah aslinya yang terdiri atas 12 jilid yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, Kitab La Galigo pun menjadi primadona bagi para mahasiswa Belanda untuk melakukan riset sastra dan budaya untuk meraih gelar magister dan doktor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pulang kampung ke negeri asalnya, hingar-bingar sebagai karya sastra klasik yang ramai diperbincangkan di negeri orang, namun tidak sebingar di tanah kelahirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;La Galigo, yang pada tahun 2011 ini mendapat penghargaan khusus karena badan PBB UNESCO menetapkan naskah klasik La Galigo sebagai warisan dunia dan diberi anugerah Memory of The World (MOW).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda yang ingin mengetahui isi La Galigo, silakan dibaca novel “La Galigo” yang diterbitkan oleh Penerbit Diva Press Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(dul abdul rahman)&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-C2OvtVZoyhA/Tu1bz52TnWI/AAAAAAAAAEI/pJUJhJReWhM/s1600/la%2Bgaligo.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="214" src="http://2.bp.blogspot.com/-C2OvtVZoyhA/Tu1bz52TnWI/AAAAAAAAAEI/pJUJhJReWhM/s320/la%2Bgaligo.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-8075123239245220495?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/8075123239245220495/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/12/la-galigo-karya-sastra-terpanjang-di.html#comment-form' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/8075123239245220495'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/8075123239245220495'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/12/la-galigo-karya-sastra-terpanjang-di.html' title='LA GALIGO KARYA SASTRA TERPANJANG DI DUNIA'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-C2OvtVZoyhA/Tu1bz52TnWI/AAAAAAAAAEI/pJUJhJReWhM/s72-c/la%2Bgaligo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-9111510627956841422</id><published>2011-12-09T18:29:00.000-08:00</published><updated>2011-12-09T18:29:39.869-08:00</updated><title type='text'>CHAERUDDIN HAKIM PENYELAMAT KELONG MAKASSAR</title><content type='html'>Oleh: dul abdul rahman&lt;br /&gt;(sastrawan dan peneliti budaya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mangkasara’ bori’ ada&lt;br /&gt;Bori’ pa’rimpungang pacce&lt;br /&gt;Sukku’ sungguna&lt;br /&gt;Kimassing paenteng siri’&lt;br /&gt;Nani areng Mangkasara’&lt;br /&gt;Kania’ pacce attayang&lt;br /&gt;Punna taena&lt;br /&gt;Bellai ri pangngadakkang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Makassar negeri adat&lt;br /&gt;Negeri perkumpulan kasih sayang&lt;br /&gt;Sangatlah baik&lt;br /&gt;Jika saling tegakkan harga diri&lt;br /&gt;Diberi nama Makassar&lt;br /&gt;Sebab kasih sayang menanti&lt;br /&gt;Jika tak ada&lt;br /&gt;Jauh dari adat-istiadat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mungkin saja jika para mahasiswa di Makassar pernah membaca dan memahami kelong Makassar tersebut di atas maka mereka akan menjaga nama baik Makassar di mata orang-orang luar Makassar. Betapa tidak! Istilah “Makassar yang kasar” selalu saja memerah-hitamkan telinga saya ketika berkunjung ke daerah-daerah lain seperti Jakarta, Yogyakarta, hingga Padang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Istilah “Makassar yang kasar” tentu saja “diiklankan” oleh para mahasiswa di Makassar. Bukan hanya dalam melakukan aksi-aksi demonstrasi yang sesungguhnya bertujuan untuk memperjuangkan hak-hak rakyat. Tapi yang memalukan adalah jika para mahasiswa berkelahi antar mahasiswa atau antar fakultas dalam internal kampus yang seolah menjadi trend mahasiswa di Makassar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibanding dengan kota-kota besar lainnya seperi Jakarta, Bandung, Surabaya, atau Medan, wajah Makassar memang lebih dominan (baca: sangar) muncul di teve jika itu menyangkut demo anarkis. Bahkan saya sendiri mengenal baik fly over di Jalan Urip Sumoharjo lewat teve. Dan sampai saat ini bayangan saya akan fly over adalah tempat berkumpulnya para mahasiswa atau tempat mahasiswa berkejar-kejaran dengan polisi.&lt;br /&gt;Untuk mengembalikan mahasiswa Makassar kepada jati dirinya. Sebagai insan akademis yang cerdas, memperjuangkan hak-hak rakyat dengan “merakyat”(tidak mengganggu kepentingan rakyat, seperti mengganggu lalu lintas) maka mahasiswa Makassar perlu diagnosa dan diobati dengan ajaran-ajaran adiluhung yang bersumber dari budaya-budaya lokal. Bukankah ajaran adilihung orang Bugis-Makassar-Mandar-Toraja yang mayoritas menghuni Sulawesi Selatan adalah prinsip sipakatau (saling menghargai), sipakainga (saling mengingatkan), sipakalebbi (saling memuliakan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Chaeruddin Hakim, seorang seniman dan penyair Makassar, patut diapresiasi dalam menjaga dan melestarikan ajaran-ajaran adiluhung dan pappaseng dalam bahasa Makassar. Lewat bukunya “Kitab Kelong Makassar”, Chaeruddin Hakim berhasil mengumpulkan dan menuliskan kembali Kelong Makassar Tradisi yang bersumber dari kelong asli (anonim). Selanjutnya Cheruddin Hakim memberi pesan kelong-kelong tersebut sehingga mudah dipahami dan dipelajari oleh pembaca. Bukan hanya itu, Chaeruddin Hakim juga mencipta beberapa Kelong Makassar Modern yang berisi pesan-pesan moral yang berguna sebagai alat pembelajaran. Kelong yang menjadi pembuka tulisan ini adalah salah satu ciptaan Chaeruddin Hakim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran nilai-nilai moral sepatutnya memang menjadi perhatian pemerintah. Dalam era otonomi daerah sekarang ini, tentu saja pelajaran muatan lokal haruslah bertumpu pada nilai-nilai lokal setempat. Memang pembangunan seharusnya bermuatan budaya. Pun pembangunan haruslah “berbudaya”. Menggusur tempat-tempat bersejarah yang menjadi lambang sejarah dan peradaban adalah sebuah pembangunan yang mengingkari wajah sejarah. Selain itu, nilai-nilai kearifan lokal yang berbasis pada bahasa dan sastra lokal haruslah menjadi perhatian pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah dan masyarakat memang harus turun tangan menjaga budaya dan bahasanya. Adagium Kalau Bukan Kita Siapa Lagi, seharusnya menjadi sebuah cambuk untuk melestarikan budaya sendiri. Yang menjadi keresahan utama sebenarnya adalah sebuah paradigma baru yang mengatakan bahwa sastra, bahasa, dan budaya lokal akan tergerus oleh arus deras globalisasi. Asumsi ini tidaklah mencengankan, karena diam-diam tsunami globalisasi menerjang ruang-ruang kita tanpa kita sadari. Anak-anak pada zaman dahulu yang disuguhi dongeng-dongeng pengantar tidur sebagai media pembelajaran tergantikan dengan acara-acara teve yang menawarkan sebuah trend baru. Maka kemudian, anak-anak kita lebih mengenal tokoh-tokoh macam Batman, Spiderman, Robinhood daripada tokoh-tokoh Lapundarek, Lamellong, Karaeng Pattingaloang, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Yx6QZ0Y722Q/TuLEDvnpm2I/AAAAAAAAAD8/hrQv6YBMysI/s1600/KITAB%2BKELONG%2BMAKASSAR.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="248" src="http://4.bp.blogspot.com/-Yx6QZ0Y722Q/TuLEDvnpm2I/AAAAAAAAAD8/hrQv6YBMysI/s320/KITAB%2BKELONG%2BMAKASSAR.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Maka sepatutnya segala daya upaya Chaeruddin Hakim melestarikan kelong dan pappaseng Makassar haruslah didukung dan diapresiasi. Seniman dan penyair yang kreatif ini semestinya diberi aplaus panjang, sepanjang cita-citanya untuk terus menjaga dan melestarikan kearifan-kearifan lokal Sulawesi Selatan. Dan semoga saja budaya, sastra, dan bahasa lokal kita tidak dihanyutkan oleh arus tsunami globalisasi. Budaya lokal sebagai sumber nilai luhur harus menghablur. Ia tidak boleh kabur. Ia harus terus tumbuh subur. dulabdul@gmail.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dul Abdul Rahman&lt;br /&gt;(sastrawan dan peneliti budaya, sejauh ini mengarang 7 buah novel)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-9111510627956841422?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/9111510627956841422/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/12/chaeruddin-hakim-penyelamat-kelong.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/9111510627956841422'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/9111510627956841422'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/12/chaeruddin-hakim-penyelamat-kelong.html' title='CHAERUDDIN HAKIM PENYELAMAT KELONG MAKASSAR'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-Yx6QZ0Y722Q/TuLEDvnpm2I/AAAAAAAAAD8/hrQv6YBMysI/s72-c/KITAB%2BKELONG%2BMAKASSAR.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-5209742906524373084</id><published>2011-12-09T18:26:00.000-08:00</published><updated>2011-12-09T18:26:51.637-08:00</updated><title type='text'>PERSEKUTUAN INDONESIA DAN MALAYSIA DALAM KARYA SASTRA</title><content type='html'>(Catatan Pengantar “Tunggu Aku di Pantai Losari” karya Hasbullah Said)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: dul abdul rahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah pertautan yang mesra antara Indonesia dan Malaysia sudah berlangsung sejak lama. Bahkan khusus pertautan antara suku Bugis-Makassar dan suku Melayu, kepustakaan Melayu mencatat bahwa beberapa Sultan di Malaysia adalah keturunan Bugis-Makassar, seperti Sultan Selangor, Johor, Pahang, dan Trenggano.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pertautan yang mesra tersebut belakangan mengalami pasang surat. Berawal dari ucapan Presiden Republik Indonesia pertama Soekarno, “Ganyang Malaysia!” Awal mula kemarahan Soekarno karena Malaysia ingkar janji. Semula Malaysia memang ingin bergabung dengan Indonesia untuk menghindari bergabung dengan Cina. Alasan Malaysia untuk bergabung dengan Indonesia dibandingkan dengan Cina karena Indonesia adalah saudara serumpun. Indonesia dan Malaysia sama-sama ras Melayu. Tapi tempo itu Jepan yang menjajah Indonesia menyerah kepada tentara sekutu.  Lalu Malaysia berubah arah angin ingin merdeka sendiri, menentukan nasib sendiri. Lalu Malaysia memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 31 Agustus 1957, lebih muda dua belas tahun daripada Indonesia yang merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan Indonesia dan Malaysia selanjutnya mengalami pasang surut. Pada tahun 1980-an, Malaysia berusaha belajar dari Indonesia untuk meningkatkan SDM mereka. Bahkan kala itu pemerintah Malaysia mengimpor guru-guru dari Indonesia, khususnya guru-guru eksakta untuk mengajari murid-murid mereka. Di saat yang sama, Malaysia mengirim guru-gurunya belajar di luar negeri, khususnya Inggeris. Maka beberapa tahun kemudian Malaysia bergerak maju di bidang pendidikan dan SDM. Bukan hanya itu, Malaysia kian maju di segala bidang. Di saat yang sama, penduduk Indonesia kian bertambah banyak tanpa ditunjang oleh lapangan pekerjaan yang memadai. Maka berbondong-bondonglah warga Indonesia mengaiz rezeki di Malaysia sebagai bangsa kuli. Lalu, perlakuan yang semena-mena dari beberapa oknum majikan di Malaysia terhadap TKI dan TKW dari Indonesia membuat masyarakat Indonesia merasa dilecehkan. Seterusnya hubungan Indonesia dan Malaysia terkadang panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan salim klaim antara perbatasan dan pulau perbatasan antara Indonesia dan Malaysia kian memanaskan suasana. Bahkan setelah lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan ke tangan Malaysia melalui sidang mahkamah internasional membuat hubungan Indonesia dan Malaysia merenggang. Meski demikian, laiknya saudara sendiri, saudara serumpun. Hubungan Indonesia dan Malaysia tetaplah tidak bisa dipisahkan. Saling membutuhkan. Atau mungkin saling merindukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sejarah panjang itulah. Hubungan Indonesia-Malaysia serupa hubungan kekasih. Terkadang ada benci. Pun terkadang ada marah. Tapi disebalik rasa benci dan marah itu ada rasa kasih dan sayang. Bukankah marah sesungguhnya adalah rasa sayang yang berlebihan? Sedangkan benci adalah rasa rindu yang tak kesampaian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesusastraan, jalinan hubungan Indonesia dan Malaysia tetaplah mesra. Bahkan seorang Sastrawan Negara Malaysia bernama Arena Wati adalah asli suku Bugis-Makassar. Arena Wati dilahirkan pada tanggal 30 Juli 1925 di Jeneponto, Sulawesi Selatan. Sastrawan Negara yang sangat dihormati di Malaysia yang berpulang ke rahmatullah pada tahun 2009 tersebut bernama asli Muhammad Dahlan bin Abdul Biang. Dalam kepengarangannya, Arena Wati selalu berusaha untuk mempertautkan nasionalisme Melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastrawan Negara Malaysia lainnya yang memang asli orang Melayu bernama Usman Awang berusaha mempertautkan antara rumpun Melayu. Tengoklah penggalan puisi Usman Awang berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melayu di Tanah Semenanjung luas maknanya&lt;br /&gt;Jawa itu Melayu, &lt;br /&gt;Bugis itu Melayu&lt;br /&gt;Banjar juga disebut Melayu, &lt;br /&gt;Minangkabau memang Melayu,&lt;br /&gt;Keturunan Acheh adalah Melayu,&lt;br /&gt;Jakun dan Sakai asli Melayu&lt;br /&gt;Mamak dan Malbari serak ke Melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh tahun setelah Arena Wati lahir di Jeneponto, di tempat yang sama lahirlah pula seorang penulis bernama Hasbullah Said. Walaupun beliau tidak sepenuh waktu berkecimpung di dalam dunia sastra dan dunia kepenulisan laiknya Arena Wati, tetapi sosok Hasbullah Said tetaplah patut dicatat sebagai seorang penulis yang berusaha mempertautkan hubungan Indonesia dan Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasbullah Said lewat cerpen-cerpennya dalam buku ini melukiskan akan kerinduan itu. Kerinduan antara Indonesia dan Malaysia. Kerinduan antara Makassar dan Selangor, atau Makassar dengan Pulau Penang. Benci tapi rindu, mungkin kalimat itulah yang mewakili rasa antara Indonesia dan Malaysia. Cerita-cerita Hasbullah Said mengalir alami serupa mata air dari pegunungan Gunung Bawakaraeng dan Gunung Lompobattang dari Sulawesi Selatan serta Gunung Tahan dan Gunung Kinabalu dari Malaysia. Percikan mata air tersebut akan membawa Anda menikmati tetesan-tetesan kerinduan itu. &lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-xiphm622z7s/TuLDZJl85nI/AAAAAAAAADw/J1cCDHM9Gpc/s1600/TUNGGU%2BAKU%2BDI%2BPANTAI%2BLOSARI.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="222" src="http://1.bp.blogspot.com/-xiphm622z7s/TuLDZJl85nI/AAAAAAAAADw/J1cCDHM9Gpc/s320/TUNGGU%2BAKU%2BDI%2BPANTAI%2BLOSARI.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan cerpen “Tunggu Aku di Pantai Losari” yang juga menjadi judul buku kumpulan cerpen ini kian membawa Anda akan merindukan Makassar, khususnya Pantai Losari. Tapi sayang sekali kerinduan akan Pantai Losari dengan ikon “restoran panjang”nya sudah berubah. Pantai Losari seolah menggeliat khianat. Selamat membaca!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, Desember 2010&lt;br /&gt;Dul Abdul Rahman &lt;br /&gt;(Sastrawan dan peneliti budaya, sejauh ini mengarang 7 buah novel)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-5209742906524373084?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/5209742906524373084/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/12/persekutuan-indonesia-dan-malaysia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/5209742906524373084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/5209742906524373084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/12/persekutuan-indonesia-dan-malaysia.html' title='PERSEKUTUAN INDONESIA DAN MALAYSIA DALAM KARYA SASTRA'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-xiphm622z7s/TuLDZJl85nI/AAAAAAAAADw/J1cCDHM9Gpc/s72-c/TUNGGU%2BAKU%2BDI%2BPANTAI%2BLOSARI.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-3329550441494129553</id><published>2011-12-09T18:22:00.000-08:00</published><updated>2011-12-09T18:22:42.797-08:00</updated><title type='text'>JEJAK PEREMPUAN MAKASSAR DALAM FOLKLOR</title><content type='html'>JEJAK PEREMPUAN MAKASSAR DALAM FOLKLOR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh: dul abdul rahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Foklor atau dongeng(folktale) merupakan bagian dari cerita rakyat, disamping mite(myth), dan legenda(legend). Cerita rakyat sebagai kekayaan budaya dalam suatu masyarakat tentunya merupakan ruh dari masyarakat tersebut. Cerita rakyat merupakan media yang cukup ampuh untuk menanamkan sebuah nilai luhur. Nilai luhur berupa pesan-pesan, ajaran-ajaran hidup, pengalaman batin, berbagai informasi hasil kebudayaan dan pengetahuan dari orang-orang terdahulu tersebut merupakan nilai yang diwariskan secara turun temurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Adalah Ery Iswary, seorang dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin yang juga seorang “Perempuan Makassar” yang telah melakukan penelitian terhadap beberapa dongeng berbahasa Makassar. Dongeng yang menjadi obyek penelitiannya adalah dongeng “Perempuan Makassar” masing-masing: “I Saribulang Dg. Macora”, “I Basse Panawa-nawa ri Galesong”, “St. Naharirah”, dan “I Marabintang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dari dongeng-dongeng yang ditunjukkan oleh Ery Iswary sudah pasti memberi pembelajaran kepada pembaca atau pendengar dongeng-dongeng tersebut. Bahkan sebagaimana fungsinya menurut William Bascon sebagai media pembelajaran dan alat untuk memprotes ketidakadilan, maka dongeng-dongeng tersebut akan memberi motivasi kepada kaum perempuan untuk berkiprah di berbagai aspek kehidupan seperti halnya kaum pria. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok I Basse memberi pelajaran bagaimana seorang perempuan harus memiliki ilmu pengetahuan termasuk ilmu agama. Bukan hanya ilmu agama, I Basse juga sudah menimba ilmu kekebalan. Pelajaran berikutnya adalah kemandirian St Naharirah yang hidup sebatang kara yang mengurus dirinya sendiri dan mandiri secara ekonomi. Tak kalah heroiknya adalah I Marabintang yang ikut berperang melawan Karaeng Somba Jawa dan anak buahnya yang telah membunuh suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ery Iswary menunjukkan secara detail bagaimana posisi dan peran perempuan Makassar dalam dongeng-dongeng tersebut. Nilai pembelajaran utama dari dongeng-dongeng tersebut adalah kemandirian. Dari sosok St. Naharirah membuktikan bahwa perempuan bisa bersaing dengan pria di bidang ekonomi. Gelar saudagar kaya bukan hanya gelaran buat kaum pria tetapi juga buat perempuan. Ya, saudagar kaya St. Naharirah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak bisa dipungkiri bahwa sejak dahulu peran perempuan dalam sejarah Makassar sudah nampak. Bahkan peran perempuan Makassar terekam jelas dalam sejarah tulis dan lisan Kerajaan Gowa. Tomanurung Bainea(1320-1345) bahkan muncul sebagai tokoh perempuan pemersatu wilayah Kerajaan Gowa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Berdasarkan penelitiannya atas keempat dongeng “perempuan” tersebut, Ery Iswary membantah konsep Holzner tentang penyosialisasian nilai-nilai dalam masyarakat terhadap perempuan yang berlaku di Asia, yaitu nilai pemingitan dan nilai pengucilan. Perempuan hanya ditempatkan pada bagian-bagian tertentu. Ery Iswary memandang pandangan Holzner bias gender dan merugikan kaum perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Inilah saya kira yang menjadi “pertanyaan” saya atas buku ini. Dan pertanyaan itu bisa saja menjadi sebuah titik kelemahan. Tapi tentu saja sebuah titik kelemahan dari gumpalan ribuan titik yang menjadi kelebihan dan kekaguman saya. Adalah tidak ‘gentlewomen’ (yang laki-laki boleh baca: gentleman) bila menolak pendapat Holzner dengan hanya menunjukkan segelentir dongeng yang memang berjudul “perempuan” di wilayah Sulawesi Selatan. Bukankah masih banyak dongeng atau cerita lainnya yang membenarkan pendapat Holzner tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud mempertahankan dominasi laki-laki terhadap perempuan. Tapi tulisan ini ingin membenarkan bahwa secara kuantitas pada zaman dahulu, perempuan Asia memang mengalami perlakuan tidak adil sebagaimana klaim Holzner. Dan saya kira pendapat Holzner tidak perlu membuat kuping perempuan memerah. Yang seharusnya kita lawan sekarang adalah jangan lagi adalah labelisasi yang bias gender yang dapat merugikan perempuan. Tapi bukankah terkadang perempuan sendiri yang meminta dirinya untuk dilabelisasi. Bukankah permintaan kuota 30 persen sebagai keterwakilan perempuan pada dewan perwakilan rakyat misalnya bisa mengerdilkan perempuan. Bukankah sebutan “kuota 30 persen” akan menasbihkan bahwa kaum pria berada di “kuota 70 persen” dari perempuan. Padahal perempuan tak perlu “dilabeli” 30 persen agar kaum perempuan bisa mendapatkan lebih dari itu dengan belajar dari tokoh-tokoh perempuan dalam dongeng yang telah ditunjukkan Ery Iswary&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-ovXNw7KH9OQ/TuLCbCOk_iI/AAAAAAAAADk/HLfwnYHsSSM/s1600/PEREMPUAN%2BMAKASSAR%2B1.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="270" src="http://1.bp.blogspot.com/-ovXNw7KH9OQ/TuLCbCOk_iI/AAAAAAAAADk/HLfwnYHsSSM/s320/PEREMPUAN%2BMAKASSAR%2B1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya kira saat ini, sosok Ery Iswary sudah berada di garis terdepan untuk melawan jangan lagi ada labelisasi yang menempatkan perempuan sebagai makhluk kelas dua yang kadang-kadang terdiskriminasi dalam berbagai aspek kehidupan. Dan buku “Perempuan Makassar” ini akan menjadi pencerahan bahkan wejangan bagi siapa saja, khususnya perempuan, dan lebih khusus lagi perempuan Makassar. Ya! Perempuan Makassar harus baca “Perempuan Makassar” yang ditulis oleh “Perempuan Makassar”. dulabdul@gmail.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dul Abdul Rahman&lt;br /&gt;(sastrawan dan peneliti budaya, sejauh ini mengarang 7 buah novel)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-3329550441494129553?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/3329550441494129553/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/12/jejak-perempuan-makassar-dalam-folklor.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/3329550441494129553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/3329550441494129553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/12/jejak-perempuan-makassar-dalam-folklor.html' title='JEJAK PEREMPUAN MAKASSAR DALAM FOLKLOR'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-ovXNw7KH9OQ/TuLCbCOk_iI/AAAAAAAAADk/HLfwnYHsSSM/s72-c/PEREMPUAN%2BMAKASSAR%2B1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-8224271401037778881</id><published>2011-11-15T04:06:00.000-08:00</published><updated>2011-11-15T04:06:26.922-08:00</updated><title type='text'>cerpen pilihan: Guy de Maupasant dan dul abdul rahman</title><content type='html'>SEUNTAI KALUNG&lt;br /&gt;Oleh: Guy de Maupasant&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia adalah salah satu di antara sekian gadis cantik dan menarik yang terkadang karena kesalahan takdir, terlahir di tengah keluarga juru tulis. Dia tidak memiliki mas kawin, harapan-harapan, sarana untuk terkenal, dipahami, dicintai, atau dinikahi oleh pria kaya dan terhormat. Dan akhirnya dia pasrah hanya dinikahi oleh seorang juru tulis biasa yang bekerja di Kementerian Penerangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dandanannya sederhana saja karena dia memang tidak bisa berdandan lebih bagus lagi. Tapi dia bersedih seakan-akan dirinya memang sungguh-sungguh terjatuh dari statusnya yang semestinya, karena dia menjadi seperti wanita kebanyakan pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tak pernah berhenti merasa menderita, dia merasa dirinya dilahirkan untuk tidak menikmati segala keempukan dan kemewahan. Dia menderita karena rumahnya yang sangat sederhana, dindingnya yang buruk, kursi-kursi yang sudah usang, dan tirai-tirai yang sudah jelek. Segala hal itu, yang bagi wanita lain yang sederajat dengannya dianggap biasa saja, telah membuatnya sangat kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia melamunkan ruang depan yang tenang, di mana dinding-dindingnya dipasangi permadani oriental, serta diterangi dengan kandil perunggu yang panjang. Dan juga adanya dua orang pelayan bertubuh kekar bercelana pendek yang tertidur di kursi-kursi belakang. Mereka terkantuk oleh kehangatan udara perapian.&lt;br /&gt;Dia pun melamunkan ruang tamu panjang yang dihiasi sutera kuno, mebel-mebel yang antik, dan kamar rias yang semerbak dengan aroma wewangian yang menggoda untuk tempat bercengkerama setiap pukul lima sore dengan pria-pria terkenal yang digandrungi, di mana wanita-wanita yang lain akan merasa cemburu karena ingin mendapat perhatian seperti itu juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari yang lalu ketika sedang duduk makan malam di depan meja bundar yang berlapis taplak, di depan suaminya yang membuka mangkuk sup dan berkata penuh kekaguman, “Ah, daging sup yang lezat! Tak ada yang lebih enak daripada ini”. Wanita itu justru sedang melamunkan makan malam yang mewah, peralatan makan dari perak yang berkilau, permadani yang memenuhi dinding dengan gambar tokoh-tokoh terkemuka dari masa lalu dan burung-burung aneh yang beterbangan di antara rerimbunan hutan yang ada di negeri dongeng. Dia pun melamunkan hidangan-hidangan lezat yang disajikan di piring yang elok, dan mendengarkan bisikan-bisikan menggoda sambil mengulum senyum ketika sedang menyantap daging ikan trout yang berwarna pink atau sayap burung puyuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tidak memiliki gaun-gaun, perhiasan-perhiasan, tidak memiliki apa-apa. Dan tak ada yang disukainya kecuali itu, dia merasa dirinya adalah untuk itu. Sebuah kemewahan. Dia begitu ingin dirinya bahagia, dicemburui, menarik, dan membuat orang lain tergila-gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu. Ketika masih bersekolah di biara, dia memiliki seorang teman yang kaya. Tapi dia tak mau lagi mengunjunginya, karena dia begitu merasa menderita setelah pulang dari rumah temannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun suatu sore suaminya pulang ke rumah dengan perasaan penuh kemenangan dan membawa sebuah amplop besar di tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini,” katanya. “Ada sesuatu untukmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu segera merobeknya dan menarik selembar kartu bertuliskan:&lt;br /&gt;Menteri Penerangan dan Nyonya Georges Ramponneau dengan hormat mengundang Tuan dan Nyonya Loisel di Gedung Kementerian pada hari Senin sore tanggal delapan belas Januari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya gembira seperti yang diharapkan oles suaminya, tapi justru dilemparkannya undangan itu begitu saja di atas meja. Dengan suara lirih dia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kau inginkan dariku dengan undangan itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tetapi, Sayang, kupikir kau akan senang. Kau kan tidak pernah pergi-pergi, dan ini adalah kesempatan yang bagus. Aku telah bersusah payah mendapatkannya. Setiap orang ingin datang, ini sangat diseleksi, dan mereka tidak memberikan banyak undangan untuk para juru tulis. Semua pejabat akan hadir di sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memandang suaminya dengan tatapan pedih dan berkata dengan gusar:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan menurutmu aku harus memakai apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaminya tidak berpikir ke situ, ia berkata dengan gagap:&lt;br /&gt;“Kenapa, gaun yang dulu kau pakai ke teater, bagiku gaun itu cukup bagus.”&lt;br /&gt;Suaminya terdiam, bingung, melihat isterinya menangis. Air matanya jatuh dari kedua ujung matanya dan mengalir perlahan-lahan sampai ke ujung mulutnya. Suaminya berkata gagap:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa? Ada apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dengan usaha keras wanita itu segera dapat mengatasi kepedihannya, dan dia menjawab dengan suara yang tenang sambil menyapu kedua belah pipinya yang basah:&lt;br /&gt;“Tak apa-apa. Hanya aku tidak punya gaun dan oleh sebab itu aku tidak bisa berangkat ke pesta. Berikan saja undangan itu kepada salah seorang di antara teman-temanmu yang isterinya lebih baik dan dananya lebih banyak daripada aku.”&lt;br /&gt;Suaminya putus asa. Ia melanjutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo kita bahas, Mathilde. Berapa harganya sebuah gaun pantas, yang nanti bisa kau pakai lagi untuk kesempatan lainnya, gampang kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isterinya berpikir beberapa detik, membuat kalkulasi harga sambil memperkirakan jumlah yang dapat diajukannya. Jumlah yang dapat diterima serta tidak mengejutkan untuk perekonomian seorang juru tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dia berkata dengan ragu-ragu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak tahu pasti, tapi kurasa aku bisa mengatasinya dengan empat ratus franc.” &lt;br /&gt;Suaminya agak pucat, karena ia sendiri telah menyisihkan uang sejumlah itu untuk membeli sebuah bedil yang akan digunakan berburu di musim panas nanti di Dataran Nanterre dengan beberapa orang teman yang pada hari Ahad lalu menembak burung-burung lark di sana bersamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ia berkata:&lt;br /&gt;“Baiklah. Aku akan memberimu empat ratus franc. Dan usahakan untuk mendapat sebuah gaun yang cantik.”&lt;br /&gt;Hari penyelenggaraan pesta itu sudah semakin dekat, tapi Nyonya Loisel nampak murung dan gelisah. Padahal gaunnya sudah siap. Suatu sore suaminya berkata kpadanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa? Ayolah, kau kelihatan begitu ganjil tiga hari terakhir ini.”&lt;br /&gt;Isterinya menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bingung karena tidak memiliki sebuah perhiasan pun, tidak ada sebutir perhiasan pun, tidak ada sebutir permata, tidak ada yang bisa dipakai. Aku akan kelihatan payah sekali. Lebih baik tidak usah pergi saja.”&lt;br /&gt;Suaminya berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau bisa memakai perhiasan dari bunga-bunga alami. Tahun ini hal itu sedang jadi mode. Dengan sepuluh franc kau bisa memperoleh dua atau tiga bunga mawar yang indah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi isterinya tidak bisa diyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, tak ada yang lebih memalukan daripada terlihat miskin di antara wanita-wanita lain yang kaya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi suaminya berseru:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bodohnya kamu! Pergilah ke rumah temanmu, Nyonya Forestier, dan mintalah kepadanya untuk meminjamimu beberapa perhiasan. Kau cukup akrab dengannya untuk melakukan itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu berseru gembira:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul! Aku tak pernah memikirkannya.”&lt;br /&gt;Hari berikutnya dia pergi mengunjungi temannya dan menceritakan kesulitannya. &lt;br /&gt;Nyonya Forestier berjalan ke sebuah lemari pakaian yang berpintu kaca, mengambil sebuah kotak besar berisi perhiasan, membawanya kembali, membukanya dan berkata kepada nyonya Loisel:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pilihlah, sayangku.”&lt;br /&gt;Pertama kali dipandangi semua gelang, kemudian seuntai kalung mutiara, lalu salib Veneia, emas, dan batu-batu perhiasan hasil karya seniman yang luar biasa. Dia mencoba perhiasan-perhiasan itu di depan cermin sambil terkagum-kagum. Rasanya dia tak ingin melepasnya lagi, mengembalikannya lagi. Dia selalu bertanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kau masih punya yang lain?”&lt;br /&gt;“Kenapa, tentu saja. Lihatlah. Aku tak tahu mana yang kau sukai.”&lt;br /&gt;Tiba-tiba dia menemukan, di dalam sebuah kotak satin berwarna hitam, seuntai kalung permata yang luar biasa indah, dan jantungnya pun mulai berdebar kencang. Kedua tangannya gemetar saat mengambilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipasangnya kalung itu di lehernya, di luar gaunnya yang sampai ke leher. Dan perasaannya terombang-ambing di awang-awang ketika dia menatap dirinya di depan cermin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia meminta dengan ragu dan memelas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dapatkah kau meminjamkan yang ini, hanya yang ini saja?”&lt;br /&gt;“Kenapa? Ya, tentu saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia melompat meraih leher temannya, menciuminya, lalu berlari dengan perhiasannya.&lt;br /&gt;Hari pesta itu pun tiba. Nyonya Loisel meraih kemenangan besar.&lt;br /&gt;Dia adalah satu-satunya wanita tercantik di antara mereka semua.&lt;br /&gt;Anggun, sangat ramah, selalu tersenyum, dan sangat gembira. Semua pria meliriknya, menanyakan namanya, dan berusaha berkenalan. Semua atase kabinet ingin berdansa dengannya. Bahkan menteri sendiri juga mengajaknya berdansa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia baru selesai sekitar pukul empat pagi. Suaminya telah tertidur sejak tengah malam tadi di sebuah ruang depan yang sepi bersama tiga orang pria lainnya yang isteri-isteri mereka juga bersenang-senang. Pria itu lalu melampirkan selembar selendang yang telah dibawanya sejak tadi ke bahu isterinya, selendang biasa saja, yang mana saking sederhananya sangat kontras dengan gaun pesta yang dipakainya. Wanita itu merasakannya, dan ingin menghindar sehingga dirinya tidak menjadi bahan pembicaraan wanita-wanita lain yang membungkus tubuh-tubuh mereka dengan mantel bulu yang mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Loisel menahan punggung isterinya.&lt;br /&gt;“Tunggu sebentar. Kau akan kedinginan di luar. Aku akan pergi memanggil sebuah taksi.”&lt;br /&gt;Tapi tak dihiraukannya suaminya, dan dengan cepat ia menuruni tangga. Ketika sudah berada di jalan mereka tidak menemukan kendaraan, dan mereka mulai mencarinya. Mereka berteriak ke arah sopir-sopir taksi yang kendaraannya melaju di kejauhan.&lt;br /&gt;Mereka berjalan turun menuju Seine, dalam keputusasaan dan menggigil kedinginan. Akhirnya di sebuah dermaga mereka mendapatkan sebuah mobil kuno yang tertutup dan berpintu dua, yang hanya muncul di Paris ketika malam telah turun.&lt;br /&gt;Kendaraan itu mengantar mereka sampai ke depan pintu rumah di Rue des Martyrs, dan sekali lagi, dengan sedih, mereka berjalan pulang ke rumah. Segalanya telah berakhir bagi wanita itu. Dan bagi sang suami, ia berpikir bahwa ia sudah harus berada di kementerian pada pukul sepuluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu melepas selendang yang membungkus bahunya di depan cermin, sehingga sekali lagi ingin melihat dirinya dalam segala kejayaannya. Tapi tiba-tiba dia menjerit. Kalungnya tidak lagi berada di lehernya.&lt;br /&gt;Suaminya yang sedang melepas pakaian bertanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa denganmu?”&lt;br /&gt;Dengan perasaan panik dia berpaling ke arah suaminya.&lt;br /&gt;“Aku… aku… aku telah menghilangkan kalungnya Nyonya Forestier.”&lt;br /&gt;Suaminya bangkit, kalut.&lt;br /&gt;“Apa? Bagaimana? Mustahil!”&lt;br /&gt;Dan mereka berdua mencari di antara lipatan-lipatan gaunnya, dalam lipatan-lipatan mantelnya, dalam dompet-dompetnya, di mana saja. Tapi mereka tidak menemukannya.&lt;br /&gt;Suaminya bertanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau yakin tadi masih memakainya ketika meninggalkan pesta?”&lt;br /&gt;“Ya, aku masih merasakannya di ruang depan gedung.”&lt;br /&gt;“Tapi jika kau menghilangkannya di jalan, kita mestinya mendengar bunyinya ketika jatuh. Jangan-jangan di dalam mobil.”&lt;br /&gt;“Ya, mungkin saja. Apakah kau mencatat nomornya?”&lt;br /&gt;“Tidak. Dan kau, apakah kau memperhatikannya?”&lt;br /&gt;“Tidak.”&lt;br /&gt;Bagai disambar petir, mereka saling memandang. Akhirnya Loisel mengenakan kembali pakaiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan kembali menelusuri jalan tadi dengan berjalan kaki,” katanya, “ke seluruh rute yang telah kita lalui untuk memeriksa kalau-kalau dapat menemukannya.”&lt;br /&gt;Lalu ia pun pergi ke luar. Sedangkan isterinya menunggu di kursi dengan gaun pestanya, tanpa ada tenaga untuk pergi ke tempat tidur, tak berdaya, tanpa semangat, tanpa pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaminya kembali lagi sekitar pukul tujuh pagi. Ia tidak menemukan apa-apa.&lt;br /&gt;Kemudian laki-laki itu pergi lagi ke kantor-kantor polisi, kantor-kantor surat kabar, untuk menawarkan imbalan bagi siapa yang menemukannya. Ia pergi ke perusahaan-perusahaan taksi, ke mana saja, sesungguhnya, ke mana dirinya terdorong oleh seberkas harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isterinya menunggu sepanjang hari, dalam kecemasan yang sama seperti sebelum petaka itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya Loisel pulang dengan lemah dan pucat. Ia kembali tak menemukan apa-apa.&lt;br /&gt;“Kau harus menulis surat pada temanmu,” katanya, “bahwa kau telah merusak jepitan kalung itu sehingga kau harus membetulkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian kita masih punya kesempatan untuk mengembalikannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menulis mengikuti dikte dari suaminya.&lt;br /&gt;Pada akhir dari pesan itu mereka kehilangan semua harapan.&lt;br /&gt;Dan Loisel, yang tampak semakin cepat bertambah tua lima tahun, memutuskan:&lt;br /&gt;“Sekarang kita harus memikirkan bagaimana caranya untuk mengganti perhiasan itu.”&lt;br /&gt;Hari berikutnya mereka membawa kotak kalung itu menuju ke toko perhiasan yang namanya tercantum di kotak itu. Pemilik toko tadi kemudian memeriksa catatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan saya yang menjual kalung itu, Nyonya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian mereka pergi dari satu toko perhiasan yang lain untuk mencari kalung seperti itu. Mereka berdua saling mencocokkan ingatan masing-masing satu sama lain. Keduanya merasa tersiksa dan menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya di sebuah toko di Palais Royal mereka menemukan seuntai kalung permata yang benar-benar mirip dengan yang mereka cari.&lt;br /&gt;Kalung itu berharga empat puluh ribu franc. mereka bisa menawarnya sampai tiga puluh enam ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka meminta kepada penjual kalung itu untuk tidak menjualnya kepada orang lain selama tiga hari ini. Dan mereka menawarkan bahwa si penjual tadi bisa membeli kembali kalungnya seharga tiga puluh empat ribu franc seandainya mereka berdua bisa menemukan kalung yang hilang sebelum akhir Februari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Loisel memiliki delapan belas ribu franc dari peninggalan ayahnya. Ia harus meminjam sisanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun mencari pinjaman. Meminta seribu franc dari sesorang, lima ratus franc dari yang lainnya, lima louis di sini, tiga louis di sana. Ia memberi surat utang, mengambil utang-utang yang berbunga tinggi, membuat persetujuan dengan para rentenir dan semua orang yang bisa meminjamkan uang. Ia mempertaruhkan sisa hidupnya, mempertaruhkan tanda tangannya tanpa mengetahui apakah ia nanti mampu memenuhi janjinya atau tidak. Tanpa menyadari halangan dan musibah yang akan menimpanya, dan kemungkinan tekanan-tekanan batin yang harus ditanggungnya. Ia pergi untuk memperoleh kalung yang baru, membayar dulu kepada penjualnya tiga puluh enam ribu franc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Nyonya Loisel mengembalikan kalung itu, Nyonya Forestier berkata dingin kepadanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seharusnya kau kembalikan lebih cepat, mungkin aku akan memakainya.”&lt;br /&gt;Dia tidak membuka kotaknya, karena temannya tampak begitu ketakutan. Seandainya ia mengetahui penggantian itu, apa yang akan dipikirnya, apa yang akan dikatakannya? Apakah dia tidak akan menuduh Nyonya Loisel sebagai pencuri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Nyonya Loisel mengerti betapa mengerikannya kemiskinan.&lt;br /&gt;Dia terjun ambil bagian, dengan tiba-tiba, secara heroik. Utang-utang yang mengerikan itu harus dibayar. Dan dia akan membayarnya. Mereka memulangkan pembantu, mengubah tata ruang tempat tinggal mereka dan menyewakan ruangan di loteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini dia merasakan betapa beratnya pekerjaan rumah tangga dan merawat dapur yang kotor. Dia mencuci peralatan makan, dengan kuku-kukunya yang kemerahan pada panci dan periuk yang berminyak. Dia mencuci kain-kain kotor, baju-baju dan lap-lap, yang kemudian dijemur pada seutas tali. Dia membuang air limbah setiap pagi ke jalanan, lalu mengambil air bersih, kemudian berhenti untuk menarik nafas setiap kali sampai. Dan, berdandan seperti wanita kebanyakan pada umumnya. Dia pergi berbelanja ke tukang buah, grosir, tukang daging, membawa keranjang, melakukan tawar-menawar, menahan hinaan, mempertahankan uangnya yang sedikit sou demi sou. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap bulan mereka harus melunasi beberapa utang dan mencari pinjaman yang lain lagi, mengulur waktu.&lt;br /&gt;Suaminya pada petang hari bekerja membuat salinan untuk beberapa catatan dari pedagang, dan pada larut malam ia sering menyalin berkas-berkas dengan upah lima sou per lembar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kehidupan seperti ini berakhir setelah sepuluh tahun. Dan sesudah sepuluh tahun berlalu, mereka telah membayar semuanya, semua utang dan bunga-bunganya.&lt;br /&gt;Nyonya Loisel terlihat tua sekarang. Dia telah menjadi seorang ibu rumah tangga dari kalangan biasa. Kuat, keras, dan kasar. Dengan rambut tak teratur rapi, rok miring, dan tangan yang merah. Dia berbicara dengan lantang ketika sedang membersihkan lantai di antara gemericiknya bunyi air. Namun terkadang, ketika suaminya sedang berada di kantor, dia duduk di samping jendela, dan mengenang malam yang indah yang telah berlalu dulu. Tentang pesta itu, di mana dirinya begitu cantik dan begitu memesona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi seandainya dia tidak menghilangkan kalung itu?&lt;br /&gt;Siapa yang tahu? Siapa yang tahu? Betapa kehidupan ini begitu aneh dan mudah berubah-ubah! Betapa mudahnya kita kehilangan sesuatu atau tetap memilikinya!&lt;br /&gt;Namun, pada suatu hari Ahad, ketika sedang berjalan-jalan di Champs Elysees untuk menyegarkan pikirannya dari pekerjaan rutin selama sepekan, dia tiba-tiba mengenali seorang wanita yang sedang membimbing anak kecil. Wanita itu adalah Nyonya Forestier. Dia terlihat masih muda, cantik, dan tetap memikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyonya Loisel merasakan kepiluan di hatinya. Akankah dia mengajaknya berbicara? Ya, pasti. Dan sekarang karena dirinya telah melunasi semuanya, dia akan menceritakan kepada wanita itu tentang segala yang telah terjadi. Kenapa tidak? &lt;br /&gt;“Selamat sore, Jeanne.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu disapa terperanjat atas keramahan dari seorang ibu rumah tangga yang sederhana itu, bahkan sama sekali tak dapat mengenalinya. Ia berkata gagap:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, Nyonya, saya tidak kenal. Anda pasti keliru?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak. Aku adalah Mathilde Loisel.”&lt;br /&gt;Kawannya itu memekik kecil.&lt;br /&gt;“Oh, Mathilde-ku yang malang. Kenapa kau bisa berubah sampai seperti ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, aku telah melewati hari-hari yang berat, sejak aku mengunjungimu dulu, hari-hari yang sangat buruk. Dan semua itu karena engkau.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena aku?!” bagaimana mungkin?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kau masih ingat tentang kalung permata yang telah kau pinjamkan kepadaku dulu untuk pergi ke pesta di kementerian?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Lalu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yeah, aku menghilangkannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksudmu? Bukankah kau telah mengembalikannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang kukembalikan padamu dulu itu adalah gantinya yang benar-benar persis dengan itu. Dan untuk itu kami harus membayarnya selama sepuluh tahun. Engkau tentu tahu bahwa hal itu tidaklah mudah bagi kami, kami yang tidak punya apa-apa ini. Akhirnya berlalulah sudah, dan aku sangat senang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyonya Forestier menghentikan langkahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau mengatakan bahwa kalian telah membeli kalung permata untuk mengganti milikkku itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, dan kau tidak pernah memperhatikannya! Kedua kalung itu  memang benar-benar serupa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pun tersenyum gembira dengan perasaan bangga dan naïf sekaligus.&lt;br /&gt;Nyonya Forstier merasa sangat iba, dipegangnya kedua belah tangan temannya itu.&lt;br /&gt;“Oh, Mathilde-ku yang malang! Mengapa? Kalungku itu hanyalah imitasi. Harganya paling mahal cuma lima ratus franc saja!”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEORANG PENULIS DAN KOMPUTER TUANYA&lt;br /&gt;Cerpen: dul abdul rahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Larut malam. Lam bergegas memulai tulisannya. Ia harus menyelesaikannya ini malam. Besok ia harus kirim ke redaktur budaya di sebuah koran harian yang memesan tulisannya.&lt;br /&gt;Tadi sore Lam harus menemani isterinya berbelanja bahan-bahan untuk membuat kue buat jualan esok hari. Isteri Lam memang berusaha meringankan beban suaminya dengan berjualan penganan di depan rumah mereka. Apalagi rumah mereka berhadapan dengan sekolah dasar sehingga anak-anak sekolah selalu menyerbu jualannya saban pulang sekolah atau istirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi petang, Lam harus mengawasi dan menemani putranya belajar matematika. Ia berharap kelak anaknya bisa kuliah di fakultas kedokteran, bukan di fakultas sastra seperti dirinya. Ia tidak tertarik mengarahkan anaknya jadi penulis. Sebenarnya Lam sangat mencintai profesinya, tetapi ia tak bisa menutup mata pendapat masyarakat tentang profesinya tersebut. Bahkan mertuanya dulu pernah mencapnya pengangguran. Lam ingat, ia geragapan menjawab pertanyaan dari calon mertuanya dulu tentang kantornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“S…saya tak punya kantor, Pak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lha, katanya sudah bekerja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I…iya Pak, tapi…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudnya kantornya digusur?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang sejak dulu tak punya kantor Pak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aneh!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya seorang penulis Pak.” Lam cepat menyebut jenis profesinya. Takut kalau calon mertuanya menyebutnya orang aneh. Padahal ia sangat mencintai anak gadisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penulis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, saya seorang penulis Pak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lam terus meyakinkan. Sementara calon mertuanya mengernyitkan alis seolah penulis bukan bagian dari profesi yang ia pahami. Ia memang seorang kepala desa yang selalu mengurusi KTP buat warganya. Selama ia menangani KTP, belum pernah ia melihat profesi seseorang tertulis penulis. Biasanya adalah dokter, pilot, polisi, guru, PNS, wiraswasta, petani, atau yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nak! Kalau profesi penulis itu tertulis apa di KTP, soalnya pada draft biodata KTP tidak ada penulis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lam kian geragapan. Ia membatin tidak karuan. Ia ragu, calon mertuanya memang tidak tahu menahu soal penulis. Atau calon mertuanya sengaja mau menjebaknya bahwa ia benar-benar pengangguran. Lalu menolaknya jadi mantu. Dalam hati Lam menggerutu. &lt;br /&gt;Lam tersenyum-senyum mengingat pengalamannya waktu melamar dulu. Untungnya, tempo itu ia bisa meyakinkan calon mertuanya bahwa meskipun ia cuma seorang penulis tapi ia yakin mampu menafkahi isteri dan anak-anaknya kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lam bergegas menyalakan komputernya. Tapi ia harus menunggu bermenit-menit. Mungkin komputer miliknya sudah mulai kelelahan. Ia sepertinya tak sanggup lagi mengikuti jejak-jejak pikiran Lam yang tidak dibatasi oleh makhluk yang bernama pentium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah! Apakah Lapundarek* jadi menikah dengan putri raja?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lam terperanjat. Kaget. Ternyata putranya belum jua tidur. Padahal tadi ia berhenti bercerita karena menyangka putranya sudah tidur. Sudah menjadi kebiasaan Lam mendongeng sebagai pengantar tidur anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lapundarek menikah dengan siapa, Yah? Yang bungsu, yang tua, atau yang tengah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang bungsu, Sayang.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lam segera melayani pertanyaan putranya. Ia memang selalu ingin tahu setiap cerita yang diutarakan ayahnya. Lam bahagia. Lam senang. Dengan bercerita, ia mencoba meningkatkan keingintahuan serta cara merespons anak-anaknya. Biasanya Lam membuat cerita bersambung laiknya sinetron di teve.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Horeee! Lapundarek menikah dengan yang paling cantik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan hanya itu, tapi baik pula budinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beruntung sekali Lapundarek ya, Yah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lapundarek kan orang tabah dan sabar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi Yah, masa putri raja yang cantik mau sama Lapundarek. Lapundarek kan jelek dan bau.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hush! Tak boleh menghina.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, saya lupa. Lanjutkan ceritanya Yah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidurlah sayang, besok malam ayah lanjutkan ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi ayah harus janji.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah berjanji, Sayang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lam kembali menatap komputernya. Malam ini ia akan menulis tentang seorang penulis yang hidupnya pas-pasan. Meskipun demikian, sang penulis tersebut tetap setia pada profesinya. Mungkin Lam mencoba melukis dirinya lewat tulisan itu. Entah.&lt;br /&gt;Lam terus memilih dan memilah kata yang tepat. Lalu merangkainya menjadi kalimat yang mendayu-dayu. Salah satu kelebihan Lam memang adalah penggunaan diksi yang benar-benar bisa mengharubirukan perasaan pembaca. Bahkan tidak sah rasanya membaca tulisan Lam tanpa ditemani sapu tangan penyeka airmata. Begitulah pengakuan salah seorang fans Lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Istirahat dululah Bang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini suara isterinya yang lembut membuyarkan pikiran Lam. Tapi tidak masalah. Lam sangat mencintai isterinya. Bahkan sebentuk perhatian, pun pengabdian dari isterinya adalah sebuah inspirasi Lam untuk terus menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lam memang sangat beruntung. Ia bisa mempersunting anak kepala desa di kampungnya yang baik budi bahasanya, cantik pula. Mata bening isterinya, serta wajah yang ayu, senyum yang menawan selaksa sketsa Siti Nurhaliza, penyanyi dari negeri seberang yang memang menjadi idola Lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak capeklah abang, Sayang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abang harus jaga kesehatan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abang sehat-sehat selalu, Sayang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi jangan terlalu memforsir diri Bang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lam bangkit. Ia mengecup kening isterinya sebagai tanda sayang. Pun ia tak lupa mencium anak-anaknya yang sudah pulas terbawa cerita Lapundarek yang sangat mereka suka. Lam berharap, semoga orang-orang yang sangat ia cintai dan kasihi bisa istirahat dengan tenang. Pun ia tidak mendapat gangguan lagi supaya tulisannya bisa selesai ini malam. Honor tulisannya kali ini buat beli replika cincin pernikahan buat isterinya menjelang ulang tahun pernikahan yang kesepuluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isteri Lam memang terpaksa menjual cincin pernikahan sebagai modal usaha jual-jualan. Sebenarnya isteri Lam tak pernah menuntut suaminya menggantinya, cuma Lam selalu ingin membuat isterinya bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lam duduk kembali. Ia melanjutkan tulisannya. Di luar, angin malam berhembus pelan menyanyikan lagu alam. Malam merilis lirik buat Lam seirama dengan ayunan pulpennya.&lt;br /&gt;Lam tersenyum-senyum. Tokoh utama dalam cerpennya ia beri nama Lampe. Lampe sebenarnya adalah nama bapaknya. Lampe dalam bahasa Bugis berarti panjang. Kakek Lam dulu memberi nama Lampe pada anaknya supaya panjang umur, panjang angan-angan(tinggi cita-cita), atau panjang rezeki(banyak rezeki). Selanjutnya ayah Lam memberi nama anaknya Lampugu. Meski nama Lampugu terkesan Bugis, tapi sesungguhnya meng-Indonesia, Lampugu berarti lampu penerang di gelap gulita. Itulah nama lengkap Lam. Dan begitulah orang-orang tua dulu memberi nama. Selalu terselip doa dibalik nama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya yang membuat Lam tersenyum-senyum, karena yang ia maksudkan Lampe adalah diri Lam sendiri. Lam penulis. Begitulah nama Lampe versi Lam. Lam memang selalu mengangkat tema-tema berkenaan dengan dirinya sehingga banyak pembaca mencap dirinya sebagai penulis soliloquist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lam berhenti sejenak. Ada virus bergambar tengkorak mendadak mengangkangi tulisannya. Ia cepat memprogram program anti virus yang ia beli tadi. Klik. Gambar tengkorak menghilang seketika. Namun perasaan deg-degan Lam belum hilang. Ia takut datanya hilang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lam kembali melanjutkan tulisannya. Kali ini ia agak berhati-hati, tapi sedikit tergesa-gesa. Ia ingin secepatnya menyudahi tulisannya. Ia memang mengantuk dan lelah karena seharian menemani isteri dan anak-anaknya. Lam menutup cerita dengan kejutan-kejutan sekaligus menyedihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Larut malam. Akhirnya, setelah dua jam lamanya Lam mengutak-atik kalimat menjadi paragraf-paragraf, tulisannya selesai jua. Meski Lam belum memberi judul, tapi ia yakin tulisannya kali ini benar-benar membuat pembaca terharu atas kegigihan dan ketabahan seorang penulis yang sangat mencintai profesinya, seluruh honor tulisannya buat isteri dan ank-anaknya yang ia sangat cintai. Dari cinta untuk cinta. Begitulah Lam mengangkat tema cerita kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mendadak Lam cemas. Virus tengkorak kembali mengangkangi tulisannya. Lalu. Klik. komputer Lam mati seketika. Lam mendadak lemas. Karena ia tahu datanya ini kali tidak terselamatkan. Komputer tua miliknya tidak bisa lagi mengamankan data-data bila mati seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lam beranjak. Ia masuk kamar. Mengecup kening isteri dan anak-anaknya. Lalu tidur di sampingnya. Besok ia akan mengetik ulang lagi cerpennya. Ada senyum mengembang di wajahnya. Karena ia sudah menemukan judul yang cocok buat cerpennya. Seorang penulis dan komputer tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makassar-Jakarta, Juli 2007&lt;br /&gt;Catatan: Lapundarek adalah cerita rakyat Sulawesi Selatan. Tokoh utamanya bernama Lapundarek yang bertampan buruk. Setelah ia berhasil mempersunting putri raja, ia terlepas dari kutukan. Lapundarek sebenarnya adalah pangeran yang dikutuk menyerupai monyet.&lt;br /&gt;Sumber:  &lt;br /&gt;Harian Fajar 9 Desember 2007&lt;br /&gt;www.sriti.com&lt;br /&gt;www.fajar.co.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-8224271401037778881?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/8224271401037778881/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/11/cerpen-pilihan-guy-de-maupasant-dan-dul.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/8224271401037778881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/8224271401037778881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/11/cerpen-pilihan-guy-de-maupasant-dan-dul.html' title='cerpen pilihan: Guy de Maupasant dan dul abdul rahman'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-8456055877971970411</id><published>2011-10-13T04:15:00.000-07:00</published><updated>2011-10-13T04:15:27.481-07:00</updated><title type='text'>K E M A R A U cerpen dul abdul rahman</title><content type='html'>K E M A R A U&lt;br /&gt;Oleh: dul abdul rahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim kemarau kali itu sangat panjang. Padahal bulan-bulan seperti itu biasanya hujan sudah datang. Hanyalah mendung yang sesekali datang menawarkan hujan lalu menghilang. Matahari terus bersinar seperti mata perempuan jalang. Bumi terus meradang. Tanah mulai gersang. Pohon-pohon meranggas sambil berdiri kaku seperti dirajam. Binatang-binatang nampak resah karena kepanasan. Rumput-rumput pun mengering seolah dipanggang. Pawang hujan sudah mulai bosan. Mantra-mantranya meminta hujan tak lagi mempan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini benar-benar kutukan Raksasa Bawakaraeng dan Lompobattang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah batin dan prasangka banyak orang. Mereka memang nampak gamang. Di kampung mereka berkali-kali terjadi keangkaramurkaan. Pun tragedi kemanusian. Jadi kemarau panjang bisa saja adalah sebuah peringatan bagi orang yang ber-Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, petani-petani bersahaja Desa Tibona tetap sabar memelihara binatang ternak dan kebun-kebun mereka dengan hati lapang. Meski kemarau panjang membuat tanaman-tanaman mereka mengering, tetapi mereka berusaha menyiram tanaman. Walau mereka harus mengambil air yang jauh di Sungai Lolisan bahkan Sungai Pallangisang. &lt;br /&gt;Di musim kemarau, bagi para petani hanyalah Sungai Lolisan yang menjadi tumpuan dan harapan. Untungnya Sungai Lolisan tetap setia menjadikan petani-petani bukan sebagai lawan. Airnya tidak pernah mengering walau terjadi kemarau panjang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga Desa Tibona sangat percaya bahwa selama penghuni Sungai Lolisan yang berwujud buaya masih ada maka sungai itu tidak akan pernah kering kerontang. Buaya tersebut memang bukan buaya sembarang. Tetapi konon buaya jelmaan orang. Olehnya itu, untuk menghargai penghuni Sungai Lolisan sekaligus menjaga agar tidak terjadi abrasi, maka petani setempat pantang menebang pepohonan yang tumbuh dipinggir Sungai Lolisan. Tapi kebiasaan itu mulai dilupakan orang. Orang-orang sudah mulai berani menebang pohon di pinggir Sungai Lolisan dengan sembarangan bahkan serampangan. &lt;br /&gt;Untungnya ada dua tokoh masyarakat bernama Lahajji dan Mattorang terus berkampanye bahwa warga harus menjaga pohon-pohon di sekitar Sungai Lolisan. Warga juga harus belajar menjaga pohon-pohon serupa masyarakat suku Kajang memperlakukan pepohonan di Tanah adat Kajang. Selalu begitu nasehat Lahajji dan Mattorang yang tiada pernah bosan memberikan peringatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahajji dan Mattorang memang bertekad untuk terus berjuang melestarikan lingkungan serta menjaga kampung halaman. Semangat dan tekad almarhum kedua kawan mereka bernama Barra Tobarani dan Sallasa Tomacca terus menginspirasi mereka untuk terus berjuang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan-pesan menjaga kampung halaman dan lingkungan dari kedua almarhum temannya tersebut terus terngiang-ngiang di telinga Lahajji dan Mattorang. Bahkan Lahajji dan Mattorang terus menggalakkan LSM pada bidang lingkungan. Kampanye betapa pentingnya mencintai kampung halaman dan lingkungan terus digalakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu. Untuk menghormati jasa-jasa Barra Tobarani dan Sallasa Tomacca sekaligus mengenang masa-masa persahabatan mereka yang indah dan menyenangkan, Lahajji dan Mattorang selalu mengunjungi makam kedua temannya tersebut saban hari Jumat pagi atau petang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, bertepatan dengan hari Jumat. Di sebuah pemakaman khusus yang terletak di perbatasan antara kebun petani dan perkebunan karet, nampak Lahajji dan Mattorang sedang menabur bunga di dua makam yang saling berdekatan.&lt;br /&gt;Keduanya nampak meneteskan airmata di depan kedua batu nisan tersebut. Keduanya memang tidak bisa menahan rasa haru mereka. Di tempat itu, tiga belas tahun yang lalu ketika Barra Tobarani mappaolli , mereka berempat berjanji akan melawan kaum bermodal yang ingin merampas kampung halaman mereka lalu menjadikannya sebagai lahan perkebunan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkenang lagi akan kalimat berani Barra Tobarani kala itu, “Pokoknya tanah saya yang berbatasan langsung dengan pihak perkebunan akan menjadi perisai bagi tanah-tanah petani lainnya.” Dan sekarang itu bukan hanya tanah milik Barra Tobarani yang akan menjadi perisai tetapi juga jasad almarhum Barra Tobarani bersama jasad almarhum Sallasa Tomacca yang tertanam di tanah itu. Komitmen kedua almarhum temannya tersebut adalah komitmen mereka berdua serta orang-orang yang pro LSM Tobarani yang memperjuangkan nasib petani. Mereka akan terus menjaga dan memelihara komitmen tersebut. Bahkan ketika Barra Tobarani dan Sallasa Tomacca telah tiada, semakin banyak petani yang bergabung dalam LSM Tobarani. Mereka adalah petani-petani pilihan yang berani melawan pihak mana pun yang selalu bertindak sewenang-wenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tak jauh dari makam itu nampak pohon-pohon karet bergoyang-goyang oleh tiupan angin dari arah selatan. Saat itu goyangan pohon-pohon karet tersebut nampak lebih girang. Mereka seperti berdendang riang melihat kesedihan dua petani pejuang.&lt;br /&gt;Lahajji dan Mattorang terus menangis di depan dua makam tersebut. Meski menangis, keduanya terus bersumpah untuk melanjutkan kiprah LSM Tobarani meski dua rekannya telah tiada. Bahkan sejak kedua rekannya tersebut gugur, Lahajji dan Mattorang dibantu oleh Mappiasse, Beddu Rassa, dan Sattu Sobbu terus melakukan pembelaan pada warga yang tanahnya akan diambil paksa oleh pihak perkebunan dengan sewenang-wenang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga terus melakukan pengusutan atas tragedi penembakan yang dilakukan oleh aparat keamanan dan mandor perkebunan yang menewaskan dua rekannya tersebut. Tidak tanggung-tanggung, Lahajji dan Mattorang bekerjasama dengan LSM yang sangat terkenal dari Jakarta. LSM itu terus membela kaum yang tertindas bahkan fokus membela orang-orang yang hilang karena sengaja dihilangkan oleh rezim orde baru yang tak mengenal rasa kasihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Lahajji dan Mattorang terus berdoa dan menangis di depan makam itu, terlihat tiga orang menuju makam itu juga. Tetapi ketika dilihatnya Lahajji dan Mattorang sedang menangis, mereka tidak sampai hati mendekat. Ketiga orang itu berencana meninjau lokasi makam Barra Tobarani dan Sallasa Tomacca. Mereka bersepakat untuk memperbaiki makam kedua orang tersebut selayaknya sebagai makam para pahlawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga orang itu adalah Mappiasse, Beddu Rassa, dan Sattu Sobbu. Mereka bertiga memang mendapatkan rezeki yang melimpah tahun itu, hasil panen mereka berhasil tiga kali lipat daripada tahun-tahun sebelumnya. Rupanya Raksasa Lompobattang dan Raksasa Bawakaraeng terus menaungi hidup mereka yang selalu berbuat baik pada orang.&lt;br /&gt;Tapi, baik Lahajji dan Mattorang maupun Mappiasse, Beddu Rassa, dan Sattu Sobbu tidak sadar kalau dari kejauhan ada juga orang yang memperhatikan mereka. Orang itu yang hanya datang seorang diri saja nampak pula meneteskan air mata. Yang membuatnya bersedih bukan karena kematian Barra Tobarani dan Sallasa Tomacca, tetapi ia khawatir tak ada orang yang akan menangisi kuburannya ketika ia meninggal dunia kelak. Meski kala itu ia terkenal sebagai sosok dermawan, tapi ia selalu ragu kalau suatu waktu masyarakat akan tahu bahwa dirinyalah yang berhasil menembak mati para petani yang berani melawan pihak perkebunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kedua rombongan tersebut meninggalkan pemakaman itu, barulah lelaki itu yang sebenarnya adalah seorang mandor perkebunan bernama Mandor Lamakking mendekat. Ia lalu tertunduk di depan makam Barra Tobarani. Sambil menteskan airmata, mulut Mandor Lamakking komat-kamit, tetapi ia tidak berdoa melainkan meminta maaf atas kesalahannya pada almarhum Barra Tobarani dan Sallasa Tomacca.&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;Kemarau kian panjang. Hujan enggan datang. Hanyalah mendung yang sesekali datang menawarkan hujan lalu menghilang. Matahari terus bersinar seperti mata perempuan jalang. Bumi terus meradang. Tanah mulai gersang.&lt;br /&gt;Warga Desa Tibona pun saling bersilat lidah memberi jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Raksasa Bawakaraeng dan Lompobattang memang sedang murka lalu menghalau hujan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Inilah akibat sering terjadinya keangkaramurkaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pun tragedi kemanusiaan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-LyRCIiRvAA8/TpbISNOafII/AAAAAAAAADM/QwKpTXVp7_I/s1600/BUKU%2B5%2BSARIFAH.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="218" src="http://3.bp.blogspot.com/-LyRCIiRvAA8/TpbISNOafII/AAAAAAAAADM/QwKpTXVp7_I/s320/BUKU%2B5%2BSARIFAH.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-8456055877971970411?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/8456055877971970411/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/10/k-e-m-r-u-cerpen-dul-abdul-rahman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/8456055877971970411'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/8456055877971970411'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/10/k-e-m-r-u-cerpen-dul-abdul-rahman.html' title='K E M A R A U cerpen dul abdul rahman'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-LyRCIiRvAA8/TpbISNOafII/AAAAAAAAADM/QwKpTXVp7_I/s72-c/BUKU%2B5%2BSARIFAH.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-1205578877751640733</id><published>2011-09-14T05:30:00.000-07:00</published><updated>2011-09-14T05:30:21.729-07:00</updated><title type='text'>novel terbaru dul abdul rahman: SARIFAH, Wanita yang Memilih Setia pada Pilihan Hidupnya</title><content type='html'>“Sebuah novel yang kaya konflik, bahkan muslihat, yang mampu menyeret setiap pembacanya untuk terus mengikuti alur kisahnya. Sebuah novel yang mengandung ajaran-ajaran hidup penuh kesetiaan dalam goda apa pun. Menarik sekali….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(KH. D. Zawawi Imron; kiai, budayawan, penyair senior nusantara, yang tinggal di Madura)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampul belakang…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barra Tobarani, Lahajji, Sallasa, dan Mattorang terus mempertahankan tanah dari pihak perkebunan PT Lonsum yang didukung pemerintah. Barra Tobarani berada di garis depan kemudian memprakarsai terbentuknya sebuah LSM demi membebaskan penduduk dari teror yang datang silih berganti. Tapi, usaha itu sepertinya selalu menemui jalan buntu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamakking pun diutus oleh pihak perkebunan untuk menghalau Barra Tobarani dan kawan-kawannya. Lamakking sebenarnya bukanlah tokoh antagonis, tapi ia punya dendam pribadi terhadap Barra Tobarani. Ia tanpaa ragu menjalankan tugasnya demi membalas rasa sakit hatinya. Ia tidak peduli jika akhirnya dirinya hanya akan jauh lebih merasa sakit hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini membawa kita jauh menyeberang hingga Negeri Jiran, Malaysia. Konflik demi konflik datang silih berganti mewarnai perjalanan hidup Barra Tobarani dan Lamakking. Jika Barra Tobarani sibuk memperjuangkan tanahnya, maka Lamakking tidak kalah gigih dalam memperjuangkan cintanya pada Sarifah. Lalu, di mana konflik itu akhirnya berakhir? Kapan segala huru-hara berhenti untuk selamanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temukan jawabnya dalam novel luar biasa ini!!!&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-5QpW1H5tadU/TnCeU8fx_PI/AAAAAAAAADE/hpn1RrxkR68/s1600/SARIFAH%252C%2Bsebuah%2Bnovel.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="232" src="http://3.bp.blogspot.com/-5QpW1H5tadU/TnCeU8fx_PI/AAAAAAAAADE/hpn1RrxkR68/s320/SARIFAH%252C%2Bsebuah%2Bnovel.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-1205578877751640733?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/1205578877751640733/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/09/novel-terbaru-dul-abdul-rahman-sarifah.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/1205578877751640733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/1205578877751640733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/09/novel-terbaru-dul-abdul-rahman-sarifah.html' title='novel terbaru dul abdul rahman: SARIFAH, Wanita yang Memilih Setia pada Pilihan Hidupnya'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-5QpW1H5tadU/TnCeU8fx_PI/AAAAAAAAADE/hpn1RrxkR68/s72-c/SARIFAH%252C%2Bsebuah%2Bnovel.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-5687247565565313981</id><published>2011-08-23T02:18:00.000-07:00</published><updated>2011-08-23T02:18:54.604-07:00</updated><title type='text'>cerpen dul abdul rahman LEBARAN DI SURGA</title><content type='html'>LEBARAN DI SURGA&lt;br /&gt;Oleh: dul abdul rahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	“Mama! Lebaran nanti kita buat masakan yang enak kan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	“Horeee…! Kita akan makan enak karena lebaran sebentar lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Selalu begitu celotehan si kembar Saribulang dan Saribanong kepada ibunya menjelang lebaran. &lt;br /&gt;Kali ini Samintang menatap putri kembarnya nanar. Tangannya gemetar memegang surat dari suaminya yang dibawa oleh Bajide, teman seprofesi suaminya yang jadi TKI di Malaysia. Samintang berharap selain surat mudah-mudahan ada juga lembaran rupiah untuk membeli baju lebaran putri kembarnya, atau minimal pembeli daging untuk menu lebaran. Tapi ia ranap karena surat itu hanyalah berisi selembar kertas dan sebuah foto kusam suaminya. Hatinya kian ratap manakala ia baca surat suaminya yang tak bisa mengirim apa-apa karena setahun ia jadi TKI tapi belum menerima sepersen pun gaji. Katanya ia “dijual” oleh Taikong Lamakking yang membawanya ke Malaysia. Samintang yang mengira Malaysia adalah ladang emas, ternyata kini hanyalah ladang cemas baginya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebaran nanti kita masak apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gulai ayam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gulai kambing yang lebih enak.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gulai ayam yang lebih sedap.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celoteh putri kembarnya kian membakar kesedihan Samintang. Ia memang sudah menjanjikan kepada putri kembarnya untuk membuat masakan enak saat lebaran nanti. Janji ini sebenarnya hanyalah janji alibi ketika putri kembarnya merayu-rayu minta dibelikan baju baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mama! Aku mau baju baru seperti baju barunya Salma.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mama! Kalau aku seperti baju barunya Salwa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samintang terdiam sejenak. Ada kelam tiba-tiba menggantung di wajahnya ketika Saribulang dan Saribanong ingin dibelikan baju baru seperti baju baru milik Salma dan Salwa, putri kembar Haji Loppo yang seorang pengusaha sukses. Jangankan membeli pakaian apalagi pakaian mahal serupa pakaian Salma dan Salwa, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja Samintang terkadang harus pontang-panting mengutang sana-sini. Upahnya yang hanya sebagai tukang cuci harian tidaklah mencukupi, apalagi belakangan ini harga sembako kian melonjak sedangkan upah mencuci semakin menyusut. Samintang harus menerima kenyataan ini. Orang-orang yang tempatnya menggantung nasib tidak bersedia mempekerjakan orang lain untuk mencucikan pakaian mereka untuk menghemat kas keuangan rumah tangga akibat harga kian melonjak. Tapi Samintang tetap meminta dipekerjakan walau diupah seminim mungkin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana Mama? Kalau Mama tidak suka model bajunya Salma dan Salwa lebih baik seperti model bajunya Rima dan Rina saja.” Saribulang mengusul diamini Saribanong dengan anggukan sambil sesunggukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samintang masih terdiam. Tatapannya masih terus tertancap pada foto kusam suaminya yang tertawa lepas seperti menertawai dirinya sendiri yang sudah setahun bekerja di Malaysia tapi belum menerima gaji. Samintang seperti meminta jawaban dari suaminya atas permintaan baju baru putri kembarnya. Tapi sekali lagi Samintang hanya meranap ketika menyaksikan foto suaminya yang hanya memakai sarung yang ujung bawahnya menggelambir hingga ke lutut, serta baju dalam yang bolong-bolong dan sandal jepit yang bukan lagi pasangannya. Foto suaminya benar-benar sebagai surat non-verbal seorang TKI yang teraniaya di Malaysia. Kalaupun dalam foto itu suaminya tersenyum, tetapi sesungguhnya senyum itu semata-mata diperuntukkan untuk isteri dan putri kembarnya tercinta. Bukan pada yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana dong Ma? Masak mama tak suka model baju baru Salma dan Salwa.” Saribulang protes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mama sepertinya tak mengikuti perkembangan mode, masak model bajunya Rima dan Rina juga tak disukai?” Si bungsu Saribanong ikut protes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samintang menarik nafas panjang. Ia menyimpan foto dan surat suaminya yang sama sekali tak bisa membantunya melepaskan diri dari jeratan dan jeritan kemiskinan. Ia lalu menatap kedua putri kembarnya dengan tersenyum. Seperti senyum suaminya. Senyum kegetiran. Kegetiran dari tirani kehidupan yang tak terperikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurut Mama, model baju baru milik Salma dan Salwa juga Rima dan Rina tak cocok buat Nak Bulang dan Nak Banong. Kalian berdua masih nampak cantik dengan baju baru yang dipakai lebaran tahun lalu.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samintang berharap kedua putrinya percaya padanya. Lagian baju lebaran Saribulang dan Saribanong sudah diberi pewarna wantex sehingga warnanya terang cemerlang. Baju baru yang dipakai dua pasangan kembar yang disebutkan anaknya tadi hanya bisa ia beli dengan menabung semua upah mencucinya selama lima bulan. Baju baru Rima dan Rina juga semahal dengan baju baru Salma dan Salwa. Rima dan Rina adalah putri kembar Haji Lolo. Haji Lolo adalah adik kandung Haji Loppo yang juga saudagar sukses. &lt;br /&gt;Kedua putri kembarnya terdiam. Samintang memang sangat senang karena kedua putrinya tidak banyak menuntut bila sudah diberi penjelasan. Kedua putri kembarnya memang seumpama dua bidadari kecil yang diutus Tuhan dari surga untuk menghibur kemiskinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah! Anak mama tercinta, meski nanti baju lebarannya tetap seperti lebaran tahun lalu tapi lebaran kali ini kita akan membuat masakan yang lebih enak.” Samintang mencoba menghibur kedua putri kembarnya yang terdiam karena tak bisa memakai baju lebaran model Salma dan Salwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hore…! Kita akan menikmati makanan enak.” Koor celotehan Saribulang dan Saribanong membuat Samintang tersenyum. Tapi cuma senyum dikulum. Karena di Bulan Ramadan kali ini tak ada pesanan pakaian untuk dicucinya. Padahal harga daging pun semakin mahal. &lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;Sudah menjadi acara rutin setiap tahunnya menjelang lebaran, dua bersaudara saudagar sukses Haji Loppo dan Haji Lolo membagi-bagikan zakat kepada kaum duafa secara langsung. Mereka khawatir bila pembagian zakat lewat badan amil zakat yang sudah dibentuk pemerintah, zakatnya tidak akan sampai ke kaum duafa. Kalau pun sampai mungkin sudah terjadi penyunatan. Apalagi mereka membagikan zakat dalam bentuk rupiah. Naluri bisnis yang kuat dari kedua saudagar tersebut mencium gelagat bisa saja zakat itu diendapkan di bank dulu. Sayangnya, prasangka dari kedua saudagar tersebut terkadang tidak memikirkan faktor lain yang bisa mendatangkan mara bahaya. Bahkan prasangka negatif kepada badan amal zakat sesungguhnya dilandasi oleh keinginan mereka untuk membagikan sendiri zakatnya secara langsung. Mereka ingin menasbihkan kepada publik bahwa mereka adalah orang kaya.&lt;br /&gt;Masih pagi ketika Samintang tiba di rumah Haji Loppo dan Haji Lolo, tapi ia masih kalah cepat dengan para calon penerima zakat lainnya. Meski acara pembagian zakat dimulai jam sepuluh tapi calon penerima zakat sudah berdatangan sejak jam enam pagi. Bahkan banyak calon penerima zakat yang berasal dari luar kota yang datang selepas shalat subuh. Mereka khawatir tidak kebagian zakat. &lt;br /&gt;Samintang sangat berharap bisa mendapatkan zakat untuk membeli daging sebagaimana janjinya pada kedua putri kembarnya. Tapi sudah hampir empat jam lamanya Samintang menunggu, pembagian zakat belum dimulai. Samintang melihat orang-orang yang ingin menerima zakat terus berdatangan seperti ingin menonton acara dangdutan pilkada. Sambil menunggu, Samintang sedikit menggerutu. Mengapa ia harus antri berlama-lama dan berpanas-panasan menunggu zakat yang tidak cukup untuk membeli satu kilo daging sapi. Bukankah rumahnya hanya berjarak seratus meter dari rumah kedua Puang Haji tersebut. Samintang berandai-andai, andai dirinya kelak punya harta yang berkecukupan, ia akan mendata orang miskin di wilayahnya lalu membagikan zakat dari pintu ke pintu. Samintang akan mengikuti model badan amil zakat tapi ia juga tak bermaksud menyerahkan zakatnya pada badan tersebut karena pembagian zakat yang dilakukan badan itu menurutnya tak becus, buktinya meski ia tergolong orang miskin tapi tak pernah sekalipun mendapat zakat lewat badan zakat tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harap tenang! Pembagian zakat segera dimulai”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengumuman lewat pengeras suara membuyarkan angan-angan Samintang jadi orang kaya yang akan membagikan zakat. Haji Loppo dan Haji Lolo memberikan sambutan seolah mengundang Malaikat Raqib untuk mencatat amal zakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembagian zakat pun dimulai. Acara yang awalnya tertib tiba-tiba menjadi kacau balau karena orang-orang berebutan ke depan karena takut tak kebagian zakat. Samintang juga berusaha sekuat tenaga menembus ke depan agar janjinya kepada kedua putri kembarnya terpenuhi. Tapi tubuh Samintang mendadak lemas. Ia tak sanggup menahan himpitan kerumunan orang yang berdesak-desakan ingin menerima zakat. Tubuh ringkih Samintang tak sanggup melawan sibakan segerombolan penerima zakat yang sudah dilihatnya maju dua kali. Artinya ada sebagian orang yang sudah menerima pembagian zakat dua kali sedangkan Samintang belum bisa mencapai deretan bangku depan tempat Haji Loppo dan Haji Lolo membagikan zakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenang! Tenang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semprot air!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aba-aba dari arah depan mencoba menenankan dan mendinginkan suasana. Tapi penetrasi dari orang-orang dari belakang kian tak terkendali. Samintang dan beberapa perempuan tua kian terjepit dan tak bisa bernapas. Samintang kian mengendap-endap. Cahaya matahari yang terik, apalagi ia sedang berpuasa membuat napasnya semakin megap-megap. Lalu. Samintang benar-benar tak sanggup lagi. Ia terjatuh. Lalu segerombolan penerima zakat yang ingin menerima dobel kian merengsek maju ke depan. Tubuh Samintang dan beberapa tubuh perempuan tua lainnya terinjak-injak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bulang…! Banong...!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sisa desah napasnya Samintang hanya bisa berteriak sebisanya memanggil kedua putri kembarnya tercinta. Lamat-lamat suaranya menghilang disumbat maut. Malaikat maut bergegas datang menjemputnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt; Di sebuah gubuk yang reyot. Dua bocah kecil Saribulang dan Saribanong ketiduran menunggui ibunya yang pergi menerima zakat di rumah Haji Loppo.  Tiba-tiba keduanya terbangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak, aku mendengar suara mama yang memanggil-manggil kita berlebaran di surga.” Saribanong menatap kakaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saribulang memeluk adik kembarnya dengan sesunggukan, karena ia juga terbangun karena panggilan ibunya. Keduanya berangkulan pilu sambil mengharap ibunya segera pulang ke rumah. Sementara itu, Malaikat maut yang pulang selepas menjemput ajal ibu kedua anak kembar tersebut memalingkan wajah ketika lewat gubuk reyot itu. Ia tak sanggup melihat tangisan kedua bocah itu bila mengetahui ibu mereka telah meninggal dunia. &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-5687247565565313981?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/5687247565565313981/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/08/cerpen-dul-abdul-rahman-lebaran-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/5687247565565313981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/5687247565565313981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/08/cerpen-dul-abdul-rahman-lebaran-di.html' title='cerpen dul abdul rahman LEBARAN DI SURGA'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-7057828101387584158</id><published>2011-08-06T22:02:00.000-07:00</published><updated>2011-08-06T22:02:17.463-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Tips menulis dul abdul rahman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIAPA ITU PENULIS?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, &lt;br /&gt;ia akan hilang dalam masyarakat dan sejarah. &lt;br /&gt;Menulis adalah bekerja untuk keabadian…” &lt;br /&gt;(Pramoedya Ananta Toer)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapakah itu penulis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah orang yang menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau tidak menulis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja dia bukan penulis. Tapi kalau ia berniat menulis maka ia adalah calon penulis. Kalau ia tak pernah berniat menulis dan ingin jadi penulis maka ia bermimpi jadi penulis. Begitulah Kawan! Masakan ada penulis tapi tidak menulis. Makanya menulislah sekarang ini juga supaya kamu bisa disebut penulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana caranya menjadi penulis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya cara untuk menjadi penulis adalah dengan menulis hari ini juga. Ambil buku atau kertas dan pulpen, atau nyalakan komputer atau laptop Kamu, kemudian tuangkan isi kepala dan perasaan Kamu. Kalau kamu sudah menuangkan ide dalam bentuk tulisan. Selamat ya! Kamu sudah berhak disebut sebagai penulis, Kawan. Penulis pemula.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Apa-apa saja karakteristik dari seorang penulis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak, Kawan. Diantaranya adalah seorang penulis juga adalah seorang pecinta bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok penulis itu pencinta bahasa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Kamu mau jadi penulis maka Kamu juga harus pencinta bahasa. Kemampuan berbahasa menjadi syarat utama bagi seorang penulis. Bahasa tulis menjadi alat ekspresi utama bagi seorang penulis. Ini mutlak, Kawan. Tidak bisa ditawar-tawar lagi. Kalau bahasa seorang penulis kacau, maka tulisannya juga cenderung kacau dan sudah pasti orang malas membacanya. Dan mungkin saja tak ada media cetak yang mau memuatnya, dan sudah pasti tak ada penerbit yang mau menerbitkannya. Sebaliknya jika bahasanya bagus, maka pembaca akan tertarik membacanya. Saya kira novel tetralogi Laskar Pelangi asyik dibaca karena kepiawaian Andrea Hirata mempermainkan kata-kata, kata-kata Andrea Hirata benar-benar menggoda dan terkadang menggelikan bagi pembacanya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“So, gimana caranya supaya bahasa menjadi bagus?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya harus dengan belajar, Kawan! Belajarnya bisa dengan banyak membaca puisi-puisi, judul lagu, judul film, pokoknya kalimat-kalimat yang indah seperti iklan-iklan yang bertebaran di jalan-jalan, ataupun di teve. Perhatikan dan rasakan keindahan dan keunikan kalimat-kalimat berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-  Pohon-pohon Rindu (judul novel dul abdul rahman)&lt;br /&gt;- Ayat-ayat Cinta (judul novel Habiburrahman El Shirazy)&lt;br /&gt;- Terus Terang Philip Terang Terus (iklan lampu neon merek Philip)&lt;br /&gt;- Perempuan Berkalung Sorban (Judul novel Abidah El Khalieqy)&lt;br /&gt;- Hujan Rintih-rintih (judul kumpulan puisi M.Aan Mansyur)&lt;br /&gt;- Sabda Laut (judul novel dul abdul rahman)&lt;br /&gt;Sekali lagi, Kawan, bahwa memang seorang penulis itu harus banyak membaca. Coba bacalah karya-karya yang baik serta pelajarilah cara mereka menggunakan bahasa. Baca dan pelajarilah bagaimana Jalaluddin Rumi mencipta bahasa yang sufistik, Kahlil Gibran mencipta bahasa yang syahdu dan merdu, Buya Hamka menggugah dengan kata-kata yang indah. Jangan lupa pelajari gaya Agatha Christy membuat kata-kata yang sangat menegangkan, atau gaya Guy de Maupasant membuat kata-kata yang lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apalagi karakteristik dari seorang penulis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah pembaca yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katanya ada penulis yang malas membaca ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masak sih, kalau memang ada penulis yang malas membaca, jangan diikuti Kawan, pasti dia penulis musiman. Lebih baik kita mengikuti pendapat Robert Silverberg. Kata Silverbeg, ada tiga aturan sukses menulis, yaitu: &lt;br /&gt;1. Banyak membaca&lt;br /&gt;2. Banyak menulis &lt;br /&gt;3. Banyak membaca lagi, banyak menulis lagi. &lt;br /&gt;Nah kan? Makanya perbanyaklah membaca. Tak perlu juga ada persyaratan bahwa harus baca ini, harus baca itu, atau jangan baca ini, jangan baca itu. Bacalah buku atau apa saja yang kamu rasa tertarik untuk membacanya, bisa berupa majalah, koran, kitab suci, bahkan coretan dinding sekalipun. Cuma kalau boleh saya berpesan, kalau misalnya Kamu suka baca buku porno, tolong dibaca sembunyi-sembunyi saja ya, supaya hobi kamu tidak menular kepada yang lain, hehehe. &lt;br /&gt;Begitulah kawan. Dengan banyak membaca, tentu saja Kamu akan mendapatkan setumpuk wawasan yang dapat merangsang munculnya ide untuk menulis. Dengan banyak membaca pula, ide-idemu selalu update. Ingat! Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Penulis yang produktif adalah pembaca yang rajin dan tekun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih adakah persyaratan lain supaya bisa disebut penulis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah masih ada Kawan. Publikasikan tulisanmu! &lt;br /&gt;Ingatlah, Kawan! Kamu hanya bisa disebut sebagai penulis jika Kamu menulis. Dan tentu saja Kamu baru diakui oleh masyarakat keberadaanmu sebagai penulis jika tulisanmu sudah terpublikasikan dan masyarakat membacanya. Jadi jika tulisanmu sudah selesai jangan cuma disimpan di file komputer saja, kirimkanlah tulisan-tulisanmu ke media massa. Biarkanlah tulisan-tulisanmu dibaca oleh orang lain sehingga mereka mengakui bahwa Kamu adalah penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau tulisan yang kami buat cukup dipajang saja di blog pribadi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh juga tuh. Tapi biasanya kalau media cetak yang memuatnya berarti ada tahap seleksi dulu, dan biasanya yang menyeleksi sudah punya pengalaman sebagai penulis. Kalaulah dipasang di situs-situs yang memang keberadaannya sudah diakui, itu tak masalah. Tapi seorang kawan penyair dari Makassar yang bernama M.Aan Mansyur berani “menggugat”, saya lihat puisi-puisinya nongol duluan di blog pribadinya sebelum nongol di Koran Kompas. Kamu bisa mengikuti gaya Aan, atau siapa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah media cetak lebih diakui keberadaannya dari pada media internet?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya saat ini begitu, Kawan. Tapi karena teknologi sudah maju, hampir semua media cetak punya media online. Semua berita yang dimuat di media cetak juga di-online-kan. Ada juga media online sastra seperti www.sriti.com yang hanya memuat tulisan(cerpen) yang sudah dimuat oleh media cetak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi sebaiknya sebuah tulisan itu dipublikasikan ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan sebaiknya lagi, tapi seharusnya. Karena publikasi sebuah tulisan adalah puncak dari proses kreativitas sebuah kepenulisan. Dan asal tahu saja kawan, bagi seorang penulis, tidak ada pengalaman yang paling berbahagia dan mengesankan kecuali saat tulisannya untuk pertama kali dimuat di media cetak, baik berupa koran, tabloid, maupun majalah. Dan ingat, Kawan! Biasanya publikasi tulisan perdana akan membuka jalan bagi dimuatnya tulisan-tulisan selanjutnya.&lt;br /&gt;Buat saya Kawan, meski –alhamdulillah- ratusan tulisan saya baik cerpen, esai, maupun kritik sastra dimuat di berbagai koran lokal maupun nasional. Tapi sampai sekarang ini setiap kali saya melihat tulisan sendiri di media massa, hati saya selalu “berbunga-bunga” (kayaknya narsis abis ya kawan, hehehe). Tentu saja berbunga-bunga dalam arti saya bahagia, pun dalam arti saya akan memetik bunga uang lagi, maksudnya honor tulisan, Kawan. Hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau tulisan kami dipublikasikan dalam bentuk sebuah buku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah! Itu artinya Kamu benar-benar sudah jadi penulis, kawan.&lt;br /&gt;“Maaf, pertanyaan ini sedikit agak nyeleneh.”&lt;br /&gt;Maksudmu, kawan?&lt;br /&gt;“Apakah penulis itu bisa juga disebut artis?”&lt;br /&gt;Artis? Haaa…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hidup memang perlu dijalani terus, dipahami atau tidak. &lt;br /&gt;Maka aku pun bersyukur dengan keadaanku sekarang.&lt;br /&gt; Memang aku tidak punya jabatan, tanpa uang berlebihan,&lt;br /&gt; tapi kurasa sudah ada juga yang kuberikan untuk keluarga, &lt;br /&gt;famili, masyarakat, bangsa, dan ummat. &lt;br /&gt;Ya, buku-buku yang kutulis”&lt;br /&gt;(Deliar Noer)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dul Abdul Rahman. Bekerja sebagai sastrawan dan peneliti. Ia menamatkan pendidikan menengahnya di SMA Negeri Bikeru Sinjai Selatan pada 1993. Pernah mengenyam bangku kuliah, yakni  Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (1993-1998), Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar (2001-2002), Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin (2004-2009). Aktif bersastra di Indonesia dan Malaysia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan-tulisannya berupa karya sastra, kritik sastra, dan artikel budaya dimuat koran lokal dan nasional di Indonesia dan Malaysia. Buku sastranya yang sudah terbit:&lt;br /&gt;1. Lebaran Kali Ini Hujan Turun (Kumpulan cerpen, Nala Makassar, 2006)&lt;br /&gt;2. Pohon-Pohon Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2009). &lt;br /&gt;3. Daun-Daun Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2010)&lt;br /&gt;4. Perempuan Poppo (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010)&lt;br /&gt;5. Sabda Laut (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novelnya yang segera terbit:&lt;br /&gt;- Pohon-Pohon Meranggas&lt;br /&gt;- Kupu-Kupu Bantimurung&lt;br /&gt;- I La Galigo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karyanya dijadikan bahan penelitian oleh mahasiswa untuk meraih gelar sarjana bahkan pascasarjana. Novelnya Daun-Daun Rindu dijadikan bahan rujukan oleh banyak mahasiswa di Malaysia dari program diploma hingga doktoral untuk meneliti hubungan Indonesia-Malaysia.&lt;br /&gt;Alamat surat elektronik: dulabdul@gmail.com. Atau emanarr@yahoo.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-7057828101387584158?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/7057828101387584158/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/08/tips-menulis-dul-abdul-rahman-siapa-itu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/7057828101387584158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/7057828101387584158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/08/tips-menulis-dul-abdul-rahman-siapa-itu.html' title=''/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-553952914647204907</id><published>2011-08-06T21:59:00.000-07:00</published><updated>2011-08-06T21:59:13.513-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Tips menulis dul abdul rahman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;APAKAH PENULIS HARUS BERBAKAT?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua orang memiliki bakat.&lt;br /&gt;Yang jarang dijumpai adalah keberanian untuk mengikuti &lt;br /&gt;bakat itu ke lorong-lorong gelap yang dilaluinya.”&lt;br /&gt;(Erica Jong)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah penulis harus berbakat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bakat? Mengutip pendapat seorang pakar kepenulisan Erica Jong di atas, bahwa semua orang itu memiliki bakat, kawan. Jadi kamu juga punya bakat menulis kok. Tak percaya sama Erica Jong? Tak apa-apa, karena banyak penulis percaya bahwa sebenarnya untuk menulis tidaklah memerlukan bakat. Bakat hanyalah 5% saja, sedangkan 95% adalah kerja keras. Jadi intinya adalah berusaha, berusaha menulis, kawan. Masih ingat dengan pendapat Thomas Alfa Edison yang mengatakan bahwa, “Genius is 98 percent perspiration”(Jenius/kepandaian adalah 98% adalah keringat/usaha)? &lt;br /&gt;Begitulah kawan, segalanya butuh usaha dan kerja keras, termasuk dalam menulis. Jadi tak usah peduli apakah kamu berbakat menulis atau tidak. Menurut saya, ketika kamu sudah punya niat untuk menulis artinya kamu sudah mulai mengenal bakat menulismu. Dan ketika kamu sudah mulai menulis maka saat itulah kamu menemukan bakat menulismu. Maka kembangkanlah terus bakatmu dengan terus menulis dan menulis, membaca, dan menulis lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau bakat bukanlah merupakan faktor utama yang menentukan sukses seseorang jadi penulis, lalu apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motivasi dan keterampilan(skill), kawan. Jadi kalau seseorang punya motivasi untuk jadi penulis maka tentu saja ia akan menulis dan terus menulis. Jika ia terus menulis maka skill-nya semakin bagus sebagaimana pepatah mengatakan practice make perfect. Kalau dalam mempelajari bahasa ada istilah yang sering disebut language is only a habit, maka saya pun akan mengatakan bahwa dalam menulis juga ada istilah writing is only a habit. Begitulah kawan, menulis juga hanyalah kebiasaan. Tapi ingat! faktor skill juga bisa didapatkan dan dipelajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana caranya  kami bisa mendapatkan skill menulis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacalah buku ini sampai selesai, Kawan. Semoga kamu bisa mendapatkan sesuatu, atau minimal kamu bisa membandingkan pengalaman menulis saya dengan pengalaman menulismu sendiri, pun pengalaman menulis orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, apakah benar jadi penulis tidak diperlukan bakat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja seseorang itu punya bakat menulis, tapi siapa yang tahu ia punya bakat menulis ketika ia tidak menulis? Maka menulis sajalah supaya semua orang tahu bahwa kamu punya bakat menulis. Meskipun kamu merasa punya bakat menulis tapi selama kamu tidak menulis, maka tak ada seorang pun yang akan percaya bahwa kamu punya bakat menulis. Iya kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi bakat menulis itu sesungguhnya ada kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah Kawan! Ternyata keingintahuanmu tentang bakat sangatlah besar. Bakat sebenarnya ada. Karena bakat itu ada, maka muncul istilah pemandu bakat atau pencari bakat. Tapi bakat itu tidak berarti apa-apa tanpa ditunjang oleh usaha dan kerja keras. Contoh: Si A punya bakat menulis 10%, sedangkan Si B hanya 2%. Si A berusaha menulis hanya 50%, sedangkan Si B berusaha keras sampai 98%. Lalu siapa dari keduanya yang paling sukses sebagai penulis? Tentu saja Si B karena hasilnya bisa mencapai 100%, sedangkan Si A hanya 60%. Faktor apa yang menentukan? Tentu saja usaha. Ya, yang menentukan adalah usaha, Kawan. Maka berusahalah kawan! Berusahalah untuk menulis! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kira-kira siapa penulis sekarang ini yang lebih mengandalkan usaha daripada bakat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi kan saya sudah bilang bahwa tidak ada yang bisa mengetahui dan percaya kepada seseorang apakah ia berbakat menulis atau tidak berbakat sebelum ia menulis. Tapi baiklah, memang bakat biasanya dihasilkan dari garis keturunan. Dari asumsi ini, saya bisa mengatakan bahwa banyak penulis yang bukan berasal dari keluarga penulis. Mereka bisa menjadi penulis karena mereka menekuni sendiri dunia tulis-menulis. Mereka belajar dengan terus menulis serta membaca karya orang lain, termasuk belajar pada penulis-penulis(sastrawan) dunia yang terkenal. Mereka diantaranya adalah Goenawan Muhammad, Arswendo Atmowiloto, Mohammad Sobari, dan masih banyak lagi yang lain. &lt;br /&gt;Dan asal tahu saja Kawan, bila bakat itu memang dihasilkan dari faktor keturunan, maka saya sendiri sesungguhnya tak berbakat jadi penulis sama sekali, tapi dengan usaha yang sungguh-sungguh maka alhamdulillah saya juga bisa jadi penulis sekarang ini, hehehe. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau Bang Dul merasa tak punya bakat jadi penulis,&lt;br /&gt; lalu apa yang membuat Bang Dul yakin bisa jadi penulis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saya tahu mengaji, saya punya sticker favorit yang “menempel” di otak saya. Sticker itu bersumber dari Al Qur’anul Karim surah Ar-ra’d ayat 11 yang dalam Bahasa Indonesia berbunyi: “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”&lt;br /&gt;Dari sticker yang saya anggap “keramat” itulah Kawan, saya tidak peduli apakah saya berbakat atau tidak berbakat menulis, yang terpenting adalah saya berusaha menulis. Bahkan sticker itu seolah berbisik pada saya setiap kali saya mulai menulis, “Dul! Jangan percaya pada orang lain bahwa kamu tak berbakat menulis, percayalah pada dirimu sendiri bahwa kamu punya bakat menulis dengan mulai menulis sekarang ini juga!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu saya akan mulai menulis hari ini juga supaya orang lain percaya bahwa saya punya bakat menulis.&lt;br /&gt; Lalu apa pesan Bang Dul pada kami hari ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulislah sekarang ini juga supaya kamu disebut penulis. Pokoknya menulis saja dulu, tak usah takut dan sedih bila ada yang menyebut tulisanmu jelek. Seperti pekerjaan lainnya, menulis juga butuh proses. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau esok saja baru kami mulai menulis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya Kamu bukan penulis, Kamu hanyalah calon penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan percaya pada orang lain bahwa kamu tak berbakat menulis, percayalah pada dirimu sendiri bahwa kamu punya bakat menulis dengan mulai menulis sekarang ini juga!”&lt;br /&gt;(Dul Abdul Rahman)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dul Abdul Rahman. Bekerja sebagai sastrawan dan peneliti. Ia menamatkan pendidikan menengahnya di SMA Negeri Bikeru Sinjai Selatan pada 1993. Pernah mengenyam bangku kuliah, yakni  Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (1993-1998), Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar (2001-2002), Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin (2004-2009). Aktif bersastra di Indonesia dan Malaysia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan-tulisannya berupa karya sastra, kritik sastra, dan artikel budaya dimuat koran lokal dan nasional di Indonesia dan Malaysia. Buku sastranya yang sudah terbit:&lt;br /&gt;1. Lebaran Kali Ini Hujan Turun (Kumpulan cerpen, Nala Makassar, 2006)&lt;br /&gt;2. Pohon-Pohon Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2009). &lt;br /&gt;3. Daun-Daun Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2010)&lt;br /&gt;4. Perempuan Poppo (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010)&lt;br /&gt;5. Sabda Laut (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novelnya yang segera terbit:&lt;br /&gt;- Pohon-Pohon Meranggas&lt;br /&gt;- Kupu-Kupu Bantimurung&lt;br /&gt;- I La Galigo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karyanya dijadikan bahan penelitian oleh mahasiswa untuk meraih gelar sarjana bahkan pascasarjana. Novelnya Daun-Daun Rindu dijadikan bahan rujukan oleh banyak mahasiswa di Malaysia dari program diploma hingga doktoral untuk meneliti hubungan Indonesia-Malaysia.&lt;br /&gt;Alamat surat elektronik: dulabdul@gmail.com atau emanarr@yahoo.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-553952914647204907?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/553952914647204907/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/08/tips-menulis-dul-abdul-rahman-apakah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/553952914647204907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/553952914647204907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/08/tips-menulis-dul-abdul-rahman-apakah.html' title=''/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-5200328672393946108</id><published>2011-07-05T21:22:00.001-07:00</published><updated>2011-07-05T21:22:58.253-07:00</updated><title type='text'>SABDA LAUT, sebuah novel</title><content type='html'>Judul           : Sabda Laut&lt;br /&gt;Pengarang     : Dul Abdul Rahman &lt;br /&gt;Penerbit       : Ombak (Yogyakarta) &lt;br /&gt;Tahun Terbit    : 2010 &lt;br /&gt;Tebal   : V + 202 halaman &lt;br /&gt;ISBN            : 602-8335-52-5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SABDA LAUT (Sebuah Novel)&lt;br /&gt;Dari tempat penjualan ikan, aku berlari sekencang-kencangnya menuju rumahku. Air Sungai Je’neberang yang mengalir menuju Laut Barombong juga seolah mengejarku, bahkan aku seperti mendengar bisikan Sungai Je’neberang, “Duhai lelaki penguasa hilir Sungai Je’neberang! Duhai lelaki Pantai Barombong! Berlarilah terus meraih impian dan cita-citamu! Jatuh bangun adalah hal biasa. Engkau harus bisa!” &lt;br /&gt;Akhirnya aku tiba di rumahku dengan nafas yang tak sempurna. Seluruh kancing bajuku lepas satu-satu. Dadaku kembang kempis. Tapi aku tak peduli. Hanya ada satu tekad di jiwaku, “Hari ini aku akan pergi ke sekolah walaupun badanku masih bau ikan. Aku memang anak nelayan!”&lt;br /&gt;Novel ini mengisahkan tentang cita-cita seorang anak nelayan bernama Samad. Ia bercita-cita menjadi pelaut professional dengan bersekolah di sekolah pelayaran yang biayanya sangat mahal untuk ukuran nelayan kecil seperti mereka. Namun cita-citanya kandas setelah ayahnya meninggal dunia. Namun Samad tidak patah semangat. Ia tetap bertekad bersekolah tinggi-tinggi sebagaimana pesan almarhum ayahnya.&lt;br /&gt; Di novel Sabda Laut ini, DAR tetap bertahan pada ciri khas kepenulisannya, penuh dengan nuansa lokal. Berikut kutipan local wisdom yang dihadirkan oleh DAR:&lt;br /&gt; “Manna majai tedonnu, mattambung barang-barannu, susajakontu, punna tena sikolannu.”6 (Biarpun banyak kerbaumu, banyak hartamu, kamu tetap akan susah bila tidak punya pendidikan) (Sabda Laut, 10)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-9I4cZRYcROc/ThPjGD-TNeI/AAAAAAAAAC8/JIaX2GoSDOE/s1600/BUKU%2B5%2BSABDA%2BLAUT.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="213" src="http://1.bp.blogspot.com/-9I4cZRYcROc/ThPjGD-TNeI/AAAAAAAAAC8/JIaX2GoSDOE/s320/BUKU%2B5%2BSABDA%2BLAUT.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-5200328672393946108?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/5200328672393946108/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/07/sabda-laut-sebuah-novel.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/5200328672393946108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/5200328672393946108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/07/sabda-laut-sebuah-novel.html' title='SABDA LAUT, sebuah novel'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-9I4cZRYcROc/ThPjGD-TNeI/AAAAAAAAAC8/JIaX2GoSDOE/s72-c/BUKU%2B5%2BSABDA%2BLAUT.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-9053908284072682036</id><published>2011-07-05T21:21:00.001-07:00</published><updated>2011-07-05T21:21:24.768-07:00</updated><title type='text'>PEREMPUAN POPPO, sebuah novel</title><content type='html'>Judul           : Perempuan Poppo&lt;br /&gt;Pengarang     : Dul Abdul Rahman &lt;br /&gt;Penerbit       : Ombak (Yogyakarta) &lt;br /&gt;Tahun Terbit     : 2010 &lt;br /&gt;Tebal   : V + 197 halaman &lt;br /&gt;ISBN            : 602-8335-48-7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEREMPUAN POPPO (Sebuah Novel)&lt;br /&gt;Novel ini menceritakan tentang seorang penulis bernama Lam yang sedang melakukan penelitian tentang poppo. Ia ingin menuliskan hasil penelitiannya dalam bentuk novel. Konon, poppo adalah seorang perempuan cantik yang memiliki ilmu khusus. Lam sangat bersemangat menulis novelnya tentang poppo tersebut. Seorang kawannya yang memiliki usaha penerbitan di Kota Yogyakarta memang akan menerbitkan novelnya dan akan langsung memberinya royalti tiga cetakan sekaligus. Kawannya tersebut sangat yakin bahwa novel tentang poppo akan laris manis. Lam sangat bahagia, karena dengan uang royalti tersebut maka tak lama lagi ia akan memiliki rumah sendiri. Namun ending novel tersebut sangat mengharukan karena isteri yang ia sangat cinta ternyata adalah seorang poppo. Lam baru mengetahui bahwa ternyata isterinya adalah poppo setelah isterinya meninggal dunia. Dan menyedihkannya, karena poppo yang ternyata isterinya dibunuh sendiri oleh Lam. Perempuan Poppo benar-benar sebuah etno-novel yang unik.&lt;br /&gt;Di novel Perempuan Poppo ini, DAR pun menghadirkan local wisdom seperti kutipan berikut ini:&lt;br /&gt;“Selain itu, Lam juga ingat pappaseng lainnya yang ditujukan pada dirinya sebagai laki-laki. Sebagi laki-laki, ia harus memiliki aju tellu, yaitu waju, ikkaju, dan aju-aju. Waju berarti pakaian, maknanya suami sanggup memberi kebutuhan pakaian dan rumah pada isterinya; Ikkaju berarti sayur, maknanya suami harus mampu memberi makan isteri;  Aju-aju berarti simbol kejantanan pria, maknanya suami harus mampu menafkahi isteri secara batin.” (Perempuan Poppo, 113)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-u3r6SDAcfYA/ThPivoqzKgI/AAAAAAAAAC0/QM5Xt6CFNsQ/s1600/BUKU%2B4%2BPEREMPUAN%2BPOPPO.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="219" src="http://3.bp.blogspot.com/-u3r6SDAcfYA/ThPivoqzKgI/AAAAAAAAAC0/QM5Xt6CFNsQ/s320/BUKU%2B4%2BPEREMPUAN%2BPOPPO.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-9053908284072682036?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/9053908284072682036/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/07/perempuan-poppo-sebuah-novel.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/9053908284072682036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/9053908284072682036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/07/perempuan-poppo-sebuah-novel.html' title='PEREMPUAN POPPO, sebuah novel'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-u3r6SDAcfYA/ThPivoqzKgI/AAAAAAAAAC0/QM5Xt6CFNsQ/s72-c/BUKU%2B4%2BPEREMPUAN%2BPOPPO.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-1439481061984853230</id><published>2011-07-05T21:19:00.001-07:00</published><updated>2011-07-05T21:19:51.485-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Judul          : Daun-Daun Rindu&lt;br /&gt;Pengarang      : Dul Abdul Rahman &lt;br /&gt;Penerbit       : Diva Press (Yogyakarta) &lt;br /&gt;Tahun Terbit   : Juni 2010 &lt;br /&gt;Tebal        : 308 halaman &lt;br /&gt;ISBN         &lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-ATDHvyJN9n0/ThPiX5vvpdI/AAAAAAAAACs/z68k-QfBpxA/s1600/BUKU%2B3%2BDAUN-DAUN%2BRINDU.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="244" src="http://4.bp.blogspot.com/-ATDHvyJN9n0/ThPiX5vvpdI/AAAAAAAAACs/z68k-QfBpxA/s320/BUKU%2B3%2BDAUN-DAUN%2BRINDU.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;  : 978-602-955-825-8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAUN-DAUN RINDU (Sebuah Novel)&lt;br /&gt;Novel ini merupakan sekuel dari Pohon-Pohon Rindu. Novel ini berkisah ketika Beddu Kamase berangkat ke Malaysia. Dul Abdul Rahman mengeksploitasi bagaimana suku Bugis-Makassar berangkat ke Malaysia dan menetap disana sehingga menjadi suku bangsa yang diperhitungkan. Novel ini berusaha mengungkap hubungan Indonesia dan Malaysia, sehingga novel ini seolah napas tilas pengembaraan suku Bugis-Makassar ke Malaysia.&lt;br /&gt;DAR menghadirkan beberapa local wisdom di novel ini. Ia pun mengutip syair pasompe seperi berikut ini.&lt;br /&gt;Pittek cina uala ranreng lopi&lt;br /&gt;Jarung sipeppak uala balango&lt;br /&gt;Nakusompek mua;&lt;br /&gt;Somperennge uala paddaga-daga&lt;br /&gt;Tasik-e uala lino pottanang&lt;br /&gt;Lolangeng ri masagena-e;&lt;br /&gt;Nalawa mua salaren riu&lt;br /&gt;Nakuguncirik gulikku&lt;br /&gt;Kuola mui telling-e natowali-e;&lt;br /&gt;Dua sompe kupattinja&lt;br /&gt;Dua guling kupattejjok&lt;br /&gt;Dua balango kuppanngatta&lt;br /&gt;Makkarewangeng maneng.&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;Benang cina kujadikan tali temali perahu&lt;br /&gt;Jarum sebatang kujadikan jangkar&lt;br /&gt;Aku berlayar jua;&lt;br /&gt;Pelayaran kujadikan sebagai hiburan&lt;br /&gt;Pelayaran kujadikan sebagai alam daratan&lt;br /&gt;Pengembaraan yang penuh kebebasan;&lt;br /&gt;Biar aku dihadang oleh angin topan&lt;br /&gt;Aku akan putar kemudiku&lt;br /&gt;Aku memilih tenggelam dari pada kembali;&lt;br /&gt;Dua layar kusiapkan&lt;br /&gt;Dua kemudi kutancapkan&lt;br /&gt;Dua jangkar kusediakan &lt;br /&gt;Semuanya akan turut terpasang.&lt;br /&gt;(Daun-Daun Rindu, hal 13-14)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-1439481061984853230?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/1439481061984853230/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/07/judul-daun-daun-rindu-pengarang-dul.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/1439481061984853230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/1439481061984853230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/07/judul-daun-daun-rindu-pengarang-dul.html' title=''/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-ATDHvyJN9n0/ThPiX5vvpdI/AAAAAAAAACs/z68k-QfBpxA/s72-c/BUKU%2B3%2BDAUN-DAUN%2BRINDU.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-6179827978701993036</id><published>2011-07-05T21:18:00.000-07:00</published><updated>2011-07-05T21:18:01.531-07:00</updated><title type='text'>POHON-POHON RINDU, sebuah novel</title><content type='html'>Judul          : Pohon-Pohon Rindu&lt;br /&gt;Pengarang    : Dul Abdul Rahman &lt;br /&gt;Penerbit      : Diva Press (Yogyakarta) &lt;br /&gt;Tahun Terbit  : Juni 2009 (Cetakan Pertama)&lt;br /&gt;Tebal  : 352 halaman &lt;br /&gt;ISBN           : 979-963-791-0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;POHON-POHON RINDU (Sebuah Novel)&lt;br /&gt;Novel ini mengisahkan bagaimana mencintai lingkungan. Tersebutlah sepasang kekasih bernama Beddu Kamase dan Andi Masniar yang saling mencintai. Mereka meresmikan hubungan cinta mereka di sebuah bukit yang gersang bernama Bulu Paccing di Kabupaten Sinjai. Mereka berjanji akan menjaga hutan dan lingkungan. Mereka saling berjanji bila kelak mereka berpisah dan saling merindukan maka cukuplah mereka menatap pohon-pohon atau hutan. Karena di pohon-pohon itulah akan menjelma wajah kekasih, wajah mereka. Pohon-pohon memang adalah simbol cinta mereka. Namun takdir memang sudah menghitung pasti usia manusia. Pada suatu ketika Andi Masniar meninggal dunia. Betapa sedih hati Beddu Kamase atas kepergian perempuan yang ia sangat cintai. Ia pun bertekad untuk menjaga hutan dan pepohonan. Karena hutan dan pepohonan adalah kekasihnya.&lt;br /&gt;Di novel Pohon-Pohon Rindu ini, dul abdul rahman (DAR) menggunakan pendekatan lokal untuk menggambarkan bagaimana caranya menjaga lingkungan. DAR menjelaskan bagaimana suku Kajang menjaga hutan mereka.&lt;br /&gt;“Masyarakat boleh menebang pohon di hutan tetapi harus ada izin dan pertimbangan dari Ammatoa dulu karena hutan dan pohon terkait pasang (peraturan adat). Pertimbangan dari Ammatoa mencakup jumlah, ukuran, tujuan penggunaan serta jenis kayu yang akan diambil. Masyarakat yang menebang pohon harus menggantinya, setiap penebangan satu pohon harus diganti dengan menanam dua pohon yang sejenis di lokasi yang ditentukan oleh Ammatoa. Masyarakat yang sudah diberi izin menebang pohon diawasi oleh orang-orang kepercayaan Ammatoa. Tetapi ada kawasan hutan yang tidak boleh ditebang pohonnya sama sekali yaitu borong karamaya,(hutan keramat)” (Pohon-Pohon Rindu, 194)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-rJxVqjt7SZk/ThPh5ewsotI/AAAAAAAAACk/WUBxPt6tf4E/s1600/BUKU%2B2%2BPOHON-POHON%2BRINDU.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="226" src="http://3.bp.blogspot.com/-rJxVqjt7SZk/ThPh5ewsotI/AAAAAAAAACk/WUBxPt6tf4E/s320/BUKU%2B2%2BPOHON-POHON%2BRINDU.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-6179827978701993036?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/6179827978701993036/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/07/pohon-pohon-rindu-sebuah-novel.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/6179827978701993036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/6179827978701993036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/07/pohon-pohon-rindu-sebuah-novel.html' title='POHON-POHON RINDU, sebuah novel'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-rJxVqjt7SZk/ThPh5ewsotI/AAAAAAAAACk/WUBxPt6tf4E/s72-c/BUKU%2B2%2BPOHON-POHON%2BRINDU.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-5410386649701310038</id><published>2011-06-14T19:47:00.000-07:00</published><updated>2011-06-14T19:47:59.816-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>LELAKI TAK PERNAH MANDUL&lt;br /&gt;Oleh: dul abdul rahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lelaki tidak pernah mandul.” &lt;br /&gt;Selalu begitu ucapan Basir setiap kali ia ketemu denganku. Nadanya begitu provokatif seolah memecahkan gendang kelaki-lakianku. Entah, ia bermaksud menyemangati atau menyudutkan aku. Tetapi tetap saja wajahku bersemu merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan tersinggung dulu Bur, kalimat itu hanya kukutip dari kakekku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, aku setuju saja. Lihat sendiri kan, aku berumah tangga dengan Dinny selama tujuh tahun tapi tak punya anak. Dinny selalu menuduhku mandul. Tapi setelah aku menikah lagi dengan Hesty akhirnya aku bisa punya anak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudmu, kau menyuruhku menceraikan isteriku lalu menikah lagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak perlu Bur, bisa kok poligami.” Nada Basir semakin provokatif seakan ingin memproklamirkan bahwa dirinya benar-benar pejantan tangguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski pernyataan-pernyataan Basir hanya kuanggap angin lalu. Tetapi tetap saja berarak di langit-langit akalku. Lalu menjelma hujan, membasahi hatiku, membasahi hati isteriku, membasahi kerinduan kami akan hadirnya buah hati perekat tali kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana Bur? Lelaki boleh kok punya lebih dari satu isteri.” Basir meruntuhkan lamunanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kata siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kata laki-laki.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kata perempuan?” Sergahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basir hanya tergeragap. Walau kami sesama lelaki dan bersahabat sejak masih kuliah dulu, tetapi banyak pendapatnya tentang perempuan yang aku kurang setuju. Ia memang begitu mudah meluluhkan hati perempuan. Perempuan manasih yang tidak tertarik pada Basir. Selain wajah cakep, pun harta warisannya tidak akan habis dimakan sampai tujuh turunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang tidak pernah setuju dengan omongan Basir. Buaya darat yang selalu lupa daratan. Yang menganggap perempuan hanyalah tempat persinggahan yang bisa didatangi kalau rindu menggoda, dan ditinggalkan pergi begitu saja kalau rasa bosan datang menyergap. Tidak. Aku tidak akan pergi meninggalkan isteriku walau sementara, apalagi harus menceraikannya. “Bedebah Basir, buaya darat.” Umpatku dalam hati.&lt;br /&gt;Tak mungkin aku menyakiti isteriku. Aku mencintainya. Teramat mencintainya. Tak sia-sia rasanya aku mengejar-ngejarnya selama dua tahun demi mendapatkan sekerat cintanya yang menurutku tidak akan basi dihembus waktu yang beraroma perselingkuhan yang saat ini makin trend.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Safitri. Isteriku tercinta. Memang cantik luar dalam. Blasteran Arab-Ambon. Meski sedikit berkulit gelap tapi manisnya melebihi madu Arab. Soal kesetiaan jangan ditanya lagi. Selama sepuluh tahun kami berumah tangga, tak pernah aku melihat mendung di wajahnya. Tak pernah aku menatap bola api di matanya. Tak pernah ada resah, apalagi keluh kesah yang menghiasi bibirnya yang selalu basah. Isteriku memang bukan sembarang perempuan. Senyumnya kembang segala bunga. Ia tetesan dari taman surga, taman dari segala harum bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bang! Kita harus selalu bersabar ya, boleh jadi Allah belum menitipkan buah hati kepada kita berdua karena Dia masih ingin menguji kesabaran dan kesetiaan kita.” Isteriku selalu meredakan kegelisahanku dengan nadanya serupa cericit burung di pagi hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih sayang, betapa kau begitu berarti buatku.” Aku terus membelai-belai rambutnya yang semerbak. Sesekali aku menutup bibirnya dengan bibirku. Protes cecak di dinding yang ber-ck..ck..ck tak aku hiraukan. Peduli amat. Kami sudah menikah kok. Sejak menikah, memang aku tak pernah membiarkan malam berlalu tanpa bait-bait kemesraan. Aku tak pernah membiarkan pagi menyapa tanpa lakon-lakon asmaradana. Tetapi tetap saja cecak bertingkah di dinding seolah-olah bersekutu dengan Basir menertawaiku. “Payah Bur, menanam terus tiap hari, tapi tak pernah ada yang tumbuh. Dasar petani mandul.”&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;Yang aku kurang sependapat dengan Basir hanyalah soal perempuan saja. Meski aku sering mengutuknya karena komentar-komentarnya tentang perempuan yang terlalu menyudutkan, apalagi aku yang sangat mencintai dan menghormati sosok ibuku dan isteriku. Terkadang aku melihat komentar-komentar tersebut ada pula sisi realnya, cuma aku tetap mengedepankan sisi kesetiaan. Aku memang alumni Fakultas Sastra, sedangkan Basir alumni Fakultas Ekonomi. Tapi aku tak pernah berpikir bahwa Fakultas Sastra itu lebih “setia” daripada Fakultas Ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku cukup mengagumi sosok Basir. Meski masih muda, tetapi jiwa entrepreneur-nya sungguh luar biasa. Usaha yang dikelolanya berkembang pesat. Ia juga sangat memperhatikan kesejahteraan para karyawannya. Ia pun sosok yang sangat merakyat di mata karyawan. Dan karyawannya yang teristimewa tentu saja adalah aku. Aku adalah tangan kanan di perusahaannya. Pertemanan kami sejak kuliah tak pernah berubah. Kami tetap saja menyapa dengan nama masing-masing tanpa embel-embel kata pak, kecuali dalam pertemuan-pertemuan formal. Dan gelarnya sebagai buaya darat cap kampus yang pernah kusematkan padanya sewaktu kuliah dulu sepertinya tetap lestari. Tetapi yang kukagumi ia tak pernah macam-macam pada karyawannya. Padahal aku tahu, ia punya sekertaris yang masih muda dan cantik sekaligus primadona di kantor tersebut, namanya Indri. Aku juga mengaguminya, hanya sebatas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begitulah aku Bur. Sejak dulu memang prinsipku begitu, ya lelaki tak pernah mandul,” Basir mulai lagi memprovokasi. Aku hanya terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begini Bur, supaya kau tak berpikiran macam-macam tentang kakekku, akan kujelaskan makna kalimat tersebut. Kakekku selalu mengucapkan kalimat ‘lelaki tidak pernah mandul’ hanya untuk menyemangatiku. Maksudnya kita sebagai lelaki harus terus dan terus berusaha, pantang menyerah. Laki-laki adalah tumpuan keluarga. Dan aku pikir berkat semangat dari kakekku itu pulalah aku bisa seperti sekarang ini.” Kali ini kata-kata Basir begitu bijak dan menyemangati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tetapi kau selalu mengaitkan filosofi itu kepada perempuan,” ujarku seperti tidak percaya seratus persen omongan Basir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa salahnya Bur? Bukankah salah satu alasan utama menikah untuk mendapatkan keturunan? Coba bayangkan Bur, kalau nanti kau jadi kakek-kakek, siapa yang akan mengurusimu. Ponakan? Saudara? Paling-paling mereka hanya menginginkan hartamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basir beranjak pergi setelah menghunjamkan kata-katanya di dadaku. Dalam kesendirian aku hanya termangu. Terpekur. Sejurus kemudian pandanganku gelap, tetapi sekilas ada seberkas cahaya yang diam-diam memantul di dinding-dinding kalbuku. Adapula desiran angin perlahan-lahan menyejukkan batinku lalu menjelma jadi tangisan bayi yang teramat aku rindukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena aku tak mau lagi Basir terus mengaduk-aduk perasaanku dan menggerogoti kesetiaanku pada isteriku. Akhirnya aku bermufakat dengan isteriku untuk mengadopsi anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku terserah Abang saja, aku sangat percaya dan sayang sama Abang,” ujarnya sambil memamerkan senyum simpulnya yang selalu membuat perasaanku berdesir-desir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demi kau yang teramat kucinta, apapun bisa kulakukan yang penting halal.” Aku menarik dan memeluk tubuh isteriku. Cecak yang selalu bertingkah setiap aku bermesraan dengan isteriku entah kemana. Mungkin ia telah bersepakat dengan Basir untuk tidak menertawaiku lagi. Atau mungkin ia mengira aku sudah masuk dalam perangkapnya. Bah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi Bang, aku ingin kita punya anak sepasang ya, laki dan perempuan.” Isteriku nampak bahagia sekali, seolah bayi sudah ada dalam gendongannya. Akh!&lt;br /&gt;Basir begitu bersemangat ketika kuceritakan bahwa aku dan isteriku bersepakat untuk mengadopsi anak. Setiap ada permasalahan memang selalu aku terbuka padanya. Ia pun selalu terbuka padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ok Bur, aku mengagumi kesetiaanmu pada isteri, sungguh beruntung isterimu bersuamikan denganmu.” Basir mengangguk-angguk seolah-olah apa yang kuungkapkan padanya adalah sebuah proyek besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sangat mencintai Safitri, Basir. Aku tak akan pernah meninggalkannya.”&lt;br /&gt;Basir terus mengangguk-angguk seolah-olah ia pemenang tender dalam sebuah proyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik…baik…Bur. Tapi ingat, tak boleh asal mengadopsi anak. Anak yang diadopsi harus ada pertalian darah denganmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tolong aku ya Basir, yang penting aku dan isteriku bisa punya anak, walau hanya anak adopsi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik! Jangan khawatir Bur, serahkan padaku. Aku akan mencarikan jalan terbaik.” Basir melipat map-nya seperti dana proyek sudah cair. Selanjutnya kami berdua hanya bersitatap. Lalu tersenyum. Hanya kami berdua yang bisa memaknai senyuman itu.&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;Bayi perempuan itu berhidung mancung. Berkulit putih. Bermata tajam. Berambut lurus. Dalam tangisnya ia tersenyum teramat ikhlas padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bang! Anak kita cantik ya, pintar sekali abang mencari anak adopsi ya, akh aku tak akan pernah bilang lagi anak adopsi, anak kandung ya.” Isteriku terus menggendong bayi mungil itu. Laiknya seorang ibu, ia terus berkicau dan berkicau. Tak pernah kulihat sebelumnya isteriku sebahagia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mmm…lihat Bang! Hidung dan matanya mirip sekali hidung dan mata Abang.” Isteriku mengecup kening bayi itu sambil melirikku mesra sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tergeragap. Namun cepat aku menguasai keadaan. Aku tersenyum. Lalu mendekat dan mencium kening isteriku. Mataku basah. Mata isteriku juga basah.&lt;br /&gt;Isteriku tidak mengetahui asal-usul bayi tersebut. Menurut Basir, sebaiknya seorang ibu tidak usah mengetahui asal-usul bayi yang diadopsi, karena bisa saja rasa sayang ibu berkurang apabila mengetahui siapa sebenarnya bayi tersebut.&lt;br /&gt;Anak yang ada dalam gendongan isteriku sebenarnya adalah anak dari teman sekantorku. Indri memang sudah menikah dengan seorang pria beristeri. Ia rela dijadikan isteri kedua. Sayang, takdir berkata lain. Sesaat setelah melahirkan anaknya, ia meninggal dunia. Seluruh teman-teman sekantor Indri sangat berduka cita. Dan entah, akulah yang merasa paling bersedih atas kepergiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi itu tumbuh sehat dan lucu. Isteriku sangat mencintainya. Terang saja aku teramat bahagia. “Abang! Sejak dulu kan aku pingin sekali punya sepasang anak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Isteriku sayang, kalau aku sejak dulu ingin punya sebelas anak, satu kesebelasanlah.” Ujarku setengah menggodanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu Abang boleh menikah lagi.” Ujar isteriku cemberut sambil membelakangiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayangku! Aku hanya menginginkan anak dari rahimmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isteriku berbalik kearahku. Matanya berkaca-kaca. Rupanya ia terluka dengan kata-kataku  yang seolah-olah menagih anak dari rahimnya. “Aku ikhlas Abang berpoligami.” Hujan semakin membadai di matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memeluk isteriku. “Sayangku, untuk apa aku berpoligami? Aku sudah punya isteri yang cantik dan setia, pun punya seorang anak perempuan yang cantik nan jelita.”&lt;br /&gt;“Tapi bukan darah daging sendiri?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayangku, yang namanya anak tetap anak, tak perduli anak apa namanya. Hakekatnya sama, pertanggungjawaban dihadapan Allah tetap sama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isteriku terus terisak di pangkuanku.”Abang adalah sosok yang sempurna buatku, aku  sebenarnya tak pernah rela kalau Abang berpoligami, aku cuma ingin mengetes kesetiaan Abang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi aku tergeragap. Cepat aku menguasai keadaan. Aku terus memeluk isteriku. Aku teramat bahagia. Aku mengecup keningnya berkali-kali. Mataku basah. Lalu mataku semakin basah saja ketika aku mengecup kening putriku, aku terkenang akan ibu kandungnya yang telah meninggal dunia, isteriku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendari-Makassar,  2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-5410386649701310038?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/5410386649701310038/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/06/lelaki-tak-pernah-mandul-oleh-dul-abdul.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/5410386649701310038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/5410386649701310038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/06/lelaki-tak-pernah-mandul-oleh-dul-abdul.html' title=''/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-4931746551470032783</id><published>2011-06-09T01:28:00.001-07:00</published><updated>2011-06-09T01:28:00.696-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>KRITIKUS LUMUS&lt;br /&gt;Oleh: dul abdul rahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku heran dengan sikap isteriku belakangan ini. Saban pulang dari acara-acara bedah buku, ia mendedah dengan mimik resah. “Cinderamata melulu.” Akh! Apa yang salah dengan cinderamata? Ataukah isteriku sudah berubah? Aku membatin galau. Bukankah selama ini ia tahu bahwa profesiku memang sebagai kritikus, setiap pekan atau dua kali dalam satu pekan selalu saja ada acara bedah buku, dan biasanya akulah yang yang menjadi salah satu pembicara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ataukah isteriku sudah lupa bahwa awal perkenalan kami adalah saat pertama dari yang pertama? Tulisan kritik sastra yang pertama kali aku buat dan pertama kali dimuat di media cetak adalah telaah atas cerpen yang berjudul Isteri Pertama yang ditulis oleh Andi Cammaleng, isteriku sendiri. Kata isteriku, cerpen itu juga adalah cerpen yang pertama ia tulis sekaligus cerpen pertamanya yang dimuat oleh media cetak. Dan klopnya lagi, ia mengaku bahwa akulah cinta pertamanya. Untuk mengimbangi kemagisan cintanya, aku juga mengaku bahwa ia adalah cinta pertamaku. Sebenarnya lebih tepatnya ia perempuan yang pertama menerima cintaku. Aku tak mau mengatakan padanya bahwa sebenarnya aku sudah berkali-kali ditolak oleh perempuan. Aku khawatir poin laki-lakiku akan jatuh di matanya. Karena aku mengamati sekarang, yang bagus dan menarik itu tergantung image dan pencitraan saja. Pastilah isteriku merasa minder bila kelak bertemu dengan perempuan yang pernah menolakku lalu perempuan itu berkata, “Aha! Suami kamu itu sesungguhnya laki-laki yang sangat menyukaiku tapi aku menolaknya mentah-mentah.” Lalu mungkin isteriku berpikir “Ternyata suamiku tidak membanggakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, itu cuma keresahanku saja. Tapi begitulah. Sebagai kritikus aku mencoba jujur membahas sebuah karya menurut konsep yang aku pelajari dari ratusan buku-buku kritik sastra yang menghuni perpustakaan pribadiku. Terkadang ada karya sastra yang lagi best seller tapi aku menganggapnya karya yang biasa-biasa saja, pun terkadang sebaliknya, ada karya sastra hanya sekali cetak tapi aku menganggapnya bagus. Sangat berbeda dengan pendapat isteriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah payah Papa, kok kritikus selera sastranya rendah?” Isteriku protes ketika ia baca tulisanku di sebuah koran harian tadi pagi yang memuji-muji sebuah novel yang memang dianggap novel jadah oleh sebahagian orang karena bahasanya terlalu berani menyebut alat kelamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mama! Jangan terlalu apriori dulu, novel itu sama sekali tidak membahas kelamin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Papa! Novel itu ratusan kali menyebut alat kelamin kok dikatakan tidak membahas kelamin?” Protes isteriku kian menjadi-jadi. Kalimatnya kian meninggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mama! Tepatnya novel itu membela kelamin. Jadi kalau ratusan kali menyebut kelamin artinya ratusan kali membela kelamin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isteriku terdiam. Mungkin ia sudah paham. Perlahan-lahan aku beranjak dari tempat tidur. Aku tafakur di meja kerjaku untuk meresensi sebuah novel yang dikirim oleh seorang penulis kemarin pagi. Isteriku masih mendengkur di kasur. Mungkin ia tertidur. Meski tadi ada sedikit perdebatan selepas bercinta di siang hari, ia tetap nampak sangat puas. Sebagai kritikus aku bukan hanya menguasai teori sastra tetapi juga teori bercinta. Bahkan teks-teks Lontara Akkalaibineang sudah aku hafal.  Intinya aku ingin menjaga kebahagiaan kelaminku dan kelamin isteriku. Aku tak mau kelamin isteriku mengkhianati kelaminku hanya karena kelaminku kampungan dan tak profesional. Aku juga berjanji tak akan membiarkan kelaminku mengkhianati kelamin isteriku hanya karena sok pahlawan membela kelamin perempuan lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Luar biasa novel ini. Ia menggunakan simbol kelamin untuk melawan tirani kelamin, sungguh jujur, polos, dan menggugah. Misi novel itu agar tak ada lagi pelecehan dan pengingkaran atas kelamin, tujuan yang mulia sesungguhnya, sayangnya pembaca kita banyak yang munafik dan menafikan hakikat dirinya sendiri.” Begitulah kalimat pembuka yang aku buat. Namun, belum juga novel itu selesai aku resensi, isteriku tiba-tiba berada disampingku dan sungguh teganya merampas buku itu dari tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Papa! Buku ini juga jadah, sama seperti buku yang papa resensi kemarin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak sama Ma!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sama, Papa. Kalau buku yang kemarin itu banyak menyebut kelamin perempuan, buku ini banyak menyebut kelamin laki-laki.” Ujarnya membolik-balik buku itu tanpa membukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pengarangnya juga sama, Papa.”  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Berarti pengarang itu adil dong, Mama. Ia bukan hanya membela kelamin perempuan tapi juga membela kelamin laki-laki.” Kataku enteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi Papa tidak boleh selalu baca buku beginian”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mama! Karya yang bagus itu tergantung pada apa yang ingin dikatakannya, bukan perkataannya saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksud Papa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karya yang bagus itu punya misi yang kuat, tidak ada sekat antar golongan, tidak mencerca dan mencaci, membela kaum tertindas, memperjuangkan keadilan. Sedangkan menyebut kelamin itu hanya bahasa kejujuran saja, karena memang kelamin ya kelamin. Kelamin tak boleh dibahasakan lain, nanti perjuangannya juga lain-lain dan macam-macam. Menulis harus fokus. Tak usah neko-neko segala. Ya, tak usah munafiklah!” Jawabku seperti menjawab pertanyaan peserta acara bedah buku tadi malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isteriku sebenarnya bukan tipe isteri yang suka berdebat. Ia tipe isteri yang siap menerima suami apa adanya, bukan ada apanya. Apa yang ada padaku lebih dari cukup untuk membahagiakan isteriku. Soal materi sudah lumayan cukup, meski sebagai kritikus tidak begitu menghasilkan tetapi aku laku sebagai dosen mata kuliah kesusastraan di berbagai perguruan tinggi. Soal nafkah batin. Jangan ditanya. Setiap selesai aku mainkan lakon-lakon asmaradana, isteriku selalu mengangkat dua jempol pertanda puas. “Papa memang striker haus gol.” Aku sangat bangga dengan pengakuan isteriku. Aku memang penganut total-football ala timnas Belanda, sekaligus mengadopsi permainan cantik jogo bonito ala timnas Brazil dengan gol-gol indahnya. Sekali-sekali juga aku memperagakan gaya kick and rush ala timnas Inggeris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat isteriku belakangan ini mulai mendebatku, karena ia ikut kelompok kajian yang notabene punya teori dan persepsi sendiri tentang bacaan yang baik. Aku memang selalu memberi kebebasan isteriku untuk beraktifitas sesuai dengan keinginannya. Yang penting buatku, ia tak melupakan kodratnya sebagai seorang isteri dan seorang ibu. Aku juga berusaha tak melupakan kodratku sebagai seorang suami dan seorang ayah. Begitulah. Hubungan kami bukan hubungan vertikal, tapi hubungan horizontal yang saling melengkapi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kelompok kajian isteriku lah, aku dicap sebagai kritikus yang edan karena selalu membahas dan memuji karya-karya yang mereka anggap tidak baik. Kelompok mereka tak mau mendebatku secara terbuka, mungkin saja pengetahuan teori sastra mereka pas-pasan, maka mereka memanfaatkan jasa isteriku untuk ‘menyadarkan’ aku. Begitulah taktiknya. Mereka tak tahu bahwa sesungguhnya aku bukan tipe yang tunduk pada person, tapi tunduk pada teori dan undang-undang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking ngototnya isteriku ingin supaya aku berubah ‘teori sastra’. Ia pernah keceplosan minta cerai segala. Tempo itu aku hanya tersenyum teramat indah padanya dan langsung membopongnya ke tempat tidur. Selepas bercinta, aku hanya memintanya untuk menunjukkan apa kesalahanku, kapan aku menyakitinya. Aku bahkan menciumnya berkali-kali sambil memohon maaf kalau aku pernah menyakitinya, pun kalau aku suami yang egois selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia hanya menangis terisak-isak dipelukanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Papa tak pernah menyakitiku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Papa juga bukan suami yang egois.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Termasuk mengizinkamu masuk anggota kelompok yang menghujat Papa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Papa!” Isteriku kian membenamkan wajahnya dipelukanku. Siang itu kami melanjutkan lakon-lakon asmaradana kami. Aku terus membuktikan bahwa kesetiaan kelamin adalah kunci segalanya untuk membina keluarga bahagia mawaddah warahmah, sebagaimana isi novel yang dianggap jadah oleh kelompok isteriku. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;Masih di hari Minggu siang berikutnya. Selepas bercinta ala Lontara Akkalaibineng, aku mencoba meresensi sebuah novel yang sebelumnya dianggap isteriku bagus. Meski aku berat melakukannya karena memang aku pikir novel itu terkesan dibagus-baguskan saja, tapi sebagai suami yang baik, sesekali aku harus menyenangkan pendapat dan hati isteri. Tips ini juga aku dapatkan dari novel yang dianggap jadah, suami harus berkorban demi menyenangkan perasaan isteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sangat suka baca novel ini, novel ini bertema cinta segitiga. Seorang perempuan rela dimadu. Konon, dengan mengizinkan suami menikah berarti sang isteri meniti jalan ke surga. Sebaliknya dengan berpoligami, suami berlatih berlaku adil.” Begitulah kalimat pembuka yang aku buat pada resensi itu. Dan asal tahu saja, baru kali ini aku membuat resensi yang susahnya minta ampun. Aku tak mampu menyelesaikannya sekali duduk. Akhirnya, aku terpaksa istirahat. Baru kali ini aku tidur siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bangun, aku bergegas menyelesaikan tulisan itu. Aku ingin sekali membuat isteriku teramat bahagia hari ini. Aku membaca hati-hati. Aku mengucek mataku. Mungkin aku masih dalam suasana mengantuk hingga salah baca atau salah lihat. Tapi aku benar-benar tak salah baca. Di kalimat pembuka tadi aku mendapatkan tambahan kalimat, tapi kalimat tersebut bukan pernyataan tapi kalimat pertanyaan yang sungguh menggugat, aku yakin isteriku yang menambahkannya. Kalimat tambahan itu berbunyi. “Apakah berpoligami hanyalah satu-satunya jalan buat laki-laki untuk berlaku adil? Pun, apakah dengan mengizinkan suami berpoligami adalah satu-satunya jalan bagi perempuan mendekatkan diri pada surga?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makassar-Jogya, 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-4931746551470032783?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/4931746551470032783/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/06/kritikus-lumus-oleh-dul-abdul-rahman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/4931746551470032783'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/4931746551470032783'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/06/kritikus-lumus-oleh-dul-abdul-rahman.html' title=''/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-4668930511607397589</id><published>2011-06-04T20:25:00.000-07:00</published><updated>2011-06-04T20:25:08.006-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>DILARANG MURUNG DI BANTIMURUNG&lt;br /&gt;Oleh: dul abdul rahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Macaca Maura dan kupu-kupu Bantimurung!” &lt;br /&gt;Pekikku tertahan ketika tiba di pintu gerbang permandian alam Bantimurung. Ketika aku meninggalkan Bantimurung tujuh tahun silam di pintu gerbang tersebut hanyalah terdapat patung monyet jenis Macaca Maura. Tapi kedatanganku kali itu sebagai wartawan terasa berbeda, karena patung monyet tersebut sudah ditemani oleh kupu-kupu Bantimurung. Kupu-kupu Bantimurung itu diangkat  dengan mesra oleh sang Macaca Maura. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semoga saja Macaca Maura dan kupu-kupu Bantimurung berjodoh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membatin sambil melangkah memasuki kawasan Bantimurung. Setiap ayunan langkahku serupa alur cerita yang menyeretku kembali ke masa silam. Bermula ketika aku terlibat perkelahian dengan preman di Tanjung Priok di Jakarta, lalu orang tuaku yang memang asli Bugis-Makassar memindahkan aku bersekolah di SMA Negeri Bantimurung, padahal kala itu aku sedang duduk di kelas tiga. Lalu ketika bersekolah di Bantimurung, aku dimusuhi oleh dua siswa yang paling ditakuti di sekolah bernama Hendra dan Rusdi. Keduanya memusuhiku karena aku bersahabat akrab dengan seorang siswi yang tercantik di sekolah itu bernama Rani. Hendra dan Rusdi memang bersaing untuk mendapatkan Rani, namun rupanya Rani menampik cinta mereka.&lt;br /&gt;Kala itu aku memang jatuh cinta pada Rani. Tapi aku tak pernah menyampaikan isi hatiku. Hingga akhirnya aku berteman baik dengan Hendra dan Rusdi. Awalnya Hendra dan Rusdi memanggil aku baik-baik sepulang sekolah. Keduanya ingin menghajarku, tetapi mereka tidak tahu bahwa aku pernah melumpuhkan preman di Jakarta. Maka dengan pencak silat baruga ala Bugis plus silat Betawi, aku berhasil melumpuhkan Hendra dan Rusdi. Sejak saat itu, aku bersahabat dengan Hendra dan Rusdi. Persahabatan kami sangatlah akrab. Aku pun mengikhlaskan keduanya bersaing secara sehat untuk menundukkan hati Rani. Saat itu aku membujuk Rani untuk menerima cinta salah satu sahabatku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sudah punya kekasih, Patiroi,” jawab Rani saat aku menyampaikan isi hati Hendra. Aku terdiam. Tapi aku merasa beruntung karena yang kusampaikan bukanlah isi hatiku. Karena aku orang baru di Bantimurung, maka pastilah aku akan malu bila cintaku ditolak oleh Rani. Untungnya Rani tidak pernah menolak cintaku karena aku memang tidak pernah menyampaikan rasa cintaku padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa nama kekasihmu, Rani?” Tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pokoknya rahasia dong, tapi aku sangat menyayanginya,” jawab Rani sambil melirikku. Aku hanya terdiam sambil melempar batu ke Sungai Bantimurung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kamu juga sudah punya kekasih, Roi?” Tanya Rani ketika melihatku hanya terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, aku juga punya kekasih,” jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa namanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pokoknya rahasia dong, tapi sama seperti dirimu aku juga sangat menyayanginya,” jawabku sambil menatap wajah Rani karena yang kumaksud kekasihku adalah Rani sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Curang kamu Roi,” Rani memukul bahuku manja…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rani!” Batinku sambil melangkah memasuki wilayah permandian alam Bantimurung. Aku berdecak kagum. Keindahan Bantimurung masih seperti tujuh tahun silam. Aku menikmati kembali indahnya puncak-puncak batu karst yang nampak serupa raksasa yang tersenyum. Senyum pepohonan yang menghijau yang tumbuh menggelantung ataupun menempel pada dinding-dinding batu karst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pandanganku tertuju ke arah dinding batu karst di bagian sebelah kiri. Tiga atau empat pepohonan tumbuh dengan batang menyembul keluar. Batang-batang yang menyembul itu serupa pinggul barisan perempuan-perempuan seksi Bugis-Makassar yang sedang menari pakkarena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terus memandangi gunung-gunung batu karst yang indah. Aku merasakan sebuah kedamaian yang menyeruak dalam kalbuku. Inilah lukisan alam, lukisan Sang Maha Pencipta yang teramat indah. Di Jakarta tak akan ada tempat seindah dan sealami seperti ini. Gumamku. Di Jakarta aku hanya bisa memandangi gedung-gedung pencakar langit yang terkadang pongah dan serakah. Bahkan di musim penghujan dan di saat Kota Jakarta terkepung banjir, gedung-gedung tinggi tersebut seolah mencibir dan menertawai kawasan kumuh yang banjir di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku terus berjalan sambil menatap pohon-pohon yang tumbuh menempel pada dinding-dinding batu karst. Halimun tipis masih setia bergelantungan pada dinding-dinding gunung batu karst yang mengapit kawasan permandian alam Bantimurung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seksinya!” Ucapku tertahan melihat titik-titik air yang menetes dari stalaktit yang menjulur dari langit-langit gua di sisi kiri jalan masuk permandian alam Bantimurung. Jejeran stalaktit yang meneteskan air tersebut serupa pula jejeran pangeran-pangeran Bantimurung yang sedang berlomba membuang air kecil. Aku singgah sejenak untuk merasakan sejuknya air yang menetes dari stalaktit-stalaktit yang indah. Aku semakin kagum tatkala melihat jejeran stalagmit yang menggigil kedinginan di lantai gua karena dikencingi dengan semena-mena oleh pangeran-pangeran stalaktit yang nakal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku keluar dari jejeran stalaktit dan stalagmit. Aku menuju sebuah rumah mungil. Di gerbang itu tertera papan nama: Penangkaran Kupu-kupu Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Di tempat itulah tujuh tahun silam aku selalu bertemu dengan Rani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kupu-kupu yang indah!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bergumam sambil mengingat-ingat jasa baik seorang ilmuwan Inggeris Alfred Russel Wallacae yang membuat Bantimurung dikenal di seluruh dunia. Wallace bahkan menyebut Bantimurung sebagai The Kingdom of Butterfly atau Kerajaan Kupu-kupu. Di kala penelitiannya lebih seratus tahun yang lalu, Wallace menemukan 270 jenis kupu-kupu di wilayah Bantimurung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengamati rumah penangkaran, aku lalu duduk pada sebongkah batu menghadap Sungai Bantimurung di samping rumah penangkaran. Seperti tujuh tahun silam sebelumnya, aku selalu bersama Rani, tetapi sayang sekali saat itu Rani sudah punya kekasih seperti pengakuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu memang adalah hari terakhirku di Bantimurung. Aku sengaja menghabiskan waktu di kawasan wisata itu sebelum kembali ke Jakarta. Aku sudah mewawancarai sahabat terbaikku di SMA dulu, Hendra. Hendra adalah penyelamat jenis monyet tanpa ekor Macaca Maura bersama dengan ayahnya, Pak Haro. Pun aku sudah mewawancarai sahabatku lainnya, Rusdi. Rusdi juga mendapat penghargaan sebagai penyelamat kupu-kupu Bantimurung. Rusdi terus mengajak warga untuk tidak melakukan penangkapan kupu-kupu secara liar, Rusdi bahkan mengajari warga bagaimana cara menangkar kupu-kupu. Aku bangga dengan kedua sahabatku tersebut yang menjadi penyelamat Macaca Maura dan kupu-kupu, dua species khas Bantimurung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menikmati riak-riak Sungai Bantimurung, aku mengingat Rani. Sayang sekali Hendra dan Rusdi tak tahu lagi kemana jejak Rani. Aku pun setamat SMA kehilangan kontak dengan gadis cantik yang selalu kami panggil sebagai kupu-kupu Bantimurung tersebut. Aku sendiri karena kulitku gelap pernah dipanggil sebagai Macaca Maura oleh Hendra dan Rusdi pada saat aku masih dimusuhi oleh keduanya. Tetapi setelah kami bersahabat akrab, kami bertiga selalu mengaku sebagai Macaca Maura. Alasannya karena menurut dongeng di Bantimurung, konon Macaca Maura adalah pasangan kupu-kupu Bantimurung.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Dilarang murung di Bantimurung!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat aku merenung, tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rani?” Aku cepat berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu benar-benar Rani kan?” Tanyaku kembali karena Rani hanya terus tersenyum.&lt;br /&gt;“Roi! Masakan kamu tak mengenalku lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin karena kamu semakin cantik saja, Rani,” jawabku dengan bahasa umum seorang laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku dan Rani pun bercerita tentang keadaan kami masing-masing. Aku duluan bercerita bahwa aku adalah seorang wartawan sekaligus pengarang. Aku sangat gembira karena Rani mengaku sudah mengoleksi semua novel-novelku. Lalu Rani pun bercerita bahwa ia sudah menjadi seorang perawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perawat?” Tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa kalau perawat?” Rani menyelidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak aku terdiam. Jawaban yang tertahan di hatiku hanyalah, “Kamu sepertinya semakin sulit untuk kugapai Rani, bukankah umumnya seorang perawat yang cantik jelita akan bersuamikan seorang dokter?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa tidak datang bersama kekasihmu, Rani?” Aku mencoba memancing.&lt;br /&gt;Rani tersenyum. Ia balik bertanya, “Kamu juga mengapa tidak datang bersama kekasihmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sudah berpisah dengan kekasihku sejak tamat SMA dulu, tapi aku masih sangat menyayanginya, makanya aku menunggunya di sini,” ujarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat Rani terdiam. Ia menunduk. Aku lalu bertanya padanya, “Mengapa kamu nampak sedih Rani?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Roi! Mungkin kamu lebih beruntung daripada aku. Aku sendiri setiap bulan sekali datang ke sini untuk menunggu seseorang yang sangat kucintai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah ia tak pernah datang?” Pancingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rani hanya menunduk. Aku lalu mengangguk-angguk. Aku tersenyum, hatiku seolah sejuk. Tiba-tiba aku seperti bisa memahami perasaan Rani..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku yakin ia akan datang, dan semoga saja kedatangannya kali ini memberi arti bagiku,” jawab Rani kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rani!” Aku segera berjongkok di hadapannya. Aku pikir tibalah saatnya untuk mengungkapkan rahasia hatiku. “Rani! Sejak awal pertemuan kita delapan tahun silam di tempat ini, aku sudah jatuh cinta padamu, hanya saja rasa itu terpaksa kupendam karena aku menjaga hubungan dengan Hendra dan Rusdi. Hingga aku pun berbohong padamu bahwa aku punya kekasih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rani mengangkat wajah dengan mata sembab, ia berujar perlahan, “Alhamdulillah! Tuhan masih mendengar doa-doa dan harapanku. Tahukah kamu Roi? Yang kumaksud dengan kekasihku adalah kamu sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku lalu mencium tangan Rani. Lalu kami pun meresmikan hubungan cinta kami sebagai sepasang kekasih secara sederhana. Kami saling mencium tangan. Lalu kami pun saling berjanji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kekasihku Rani! Demi cintaku padamu, aku akan terus menjaga habitat kupu-kupu Bantimurung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kekasihku Patiroi! Demi cintaku jua padamu, aku pun akan menjaga Macaca Maura.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah saling berjanji untuk menjaga Bantimurung. Menjaga spesies Bantimurung. Aku dan Rani menuju air terjun Bantimurung untuk merayakan cinta kami. Kami akan membanting rasa murung kami berdua disana. “Paradiso! Aku tak mau lagi murung di Bantimurung!” Rani hanya tersenyum simpul lalu kembali berujar. “Memang dilarang murung di Bantimurung!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Bantimurung-Bulusaraung, 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-4668930511607397589?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/4668930511607397589/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/06/dilarang-murung-di-bantimurung-oleh-dul.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/4668930511607397589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/4668930511607397589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/06/dilarang-murung-di-bantimurung-oleh-dul.html' title=''/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-8640152408150159553</id><published>2011-05-15T05:41:00.000-07:00</published><updated>2011-05-15T05:41:20.063-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>“MEMBONGKAR” EPISTEMOLOGI SASTRA&lt;br /&gt;Oleh: dul abdul rahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Garis demarkasi antara sastra dan bukan sastra tidak begitu tetap dan pasti”&lt;br /&gt;(Jan Van Luxemburg)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya terpaksa meminjam pendapat Jan Van Luxemburg sebagai “tameng” untuk memulai tulisan ini. Alasannya karena saya sadar tulisan ini pasti mendapat tanggapan pro-kontra. Pun saya takut “bongkaran” yang saya lakukan hanya kian merusak bangunan sastra itu sendiri. Tapi saya percaya setiap “bangunan”(boleh dibaca: karya sastra) akan selalu mengundang pro-kontra. Pro-kontra ini(boleh dibaca: polemik) dari sejak dulu sampai sekarang masih terjadi, maka polemik itu sendiri akhirnya mendapat legitimasi sebagai sebuah khasanah sastra. Bahkan saya yakin suatu karya yang mendapat tanggapan pro-kontra akan menjadi nilai tersendiri bagi karya sastra itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah “Pembongkaran” Sastra?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah, sesuatu yang pro-kontra selalu menarik untuk dibaca. Simaklah! Buku History of the Decline and Fall of the Roman Empire karya sejarawan ternama Inggeris, Thomas Gibbons yang awalnya tidak dianggap sebagai sebuah karya sastra  akhirnya kini digolongkan sebagai sebuah karya sastra. Alasan digolongkannya buku sejarah itu ke dalam sebuah karya sastra karena bahasa yang digunakan begitu metaforis dan diksitif. Dari sini bisa muncul pertanyaan, apakah suatu berita atau sejarah yang ditulis secara sastrawi bisa digolongkan menjadi sebuah karya sastra?&lt;br /&gt;Memang saat ini banyak tulisan-tulisan yang sebenarnya hanyalah sebuah laporan atau berita tetapi penulisannya dengan gaya sastrawi, Linda Christanty misalnya, dia adalah seorang cerpenis sekaligus wartawan, sehingga kadang tulisannya “ngecerpen”. Bahkan saya pernah membaca cerpen M Aan Mansyur yang berjudul Kerbau-kerbau dalam Buku John yang sebenarnya hanyalah cerita tentang kerbau yang mana cerita itu sudah diketahui oleh masyarakat umum, tetapi sebagai seorang penyair, Aan sangat piawai mengolahnya dengan kata-katanya yang khas sehingga membentuk sebuah dunia baru tapi sebenarnya dunia itu tidak sepenuhnya baru. Jadi pertanyaan selanjutnya yang muncul, apakah bahasa menjadi patokan utama sebuah karya atau tulisan bisa disebut sebuah karya sastra? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini pun perdebatan-perdebatan tentang layak-tidaknya sebuah karya disebut sebagai sebuah karya sastra terdengar kian santer. Laskar Pelangi misalnya, banyak pembaca(entah mereka paham atau tidah begitu paham dengan sastra) mengatakan bahwa Laskar Pelangi bukan sebuah novel(baca karya sastra). Tentang Laskar Pelangi ini bisa dibaca pada tulisan saya berjudul Benarkah Laskar Pelangi Bukan Sebuah Novel?(Fajar, 12 April 2009). Selanjutnya Ayat-Ayat Cinta juga mendapat tanggapan pro-kontra dari para pembaca(boleh juga dibaca: pengamat). Alasannya karena dalam Ayat-Ayat Cinta, pembaca hanya disuguhi nasehat-nasehat (baca: dakwah) sehingga pembaca tidak punya ruang gerak untuk berimajinatif. Bahkan novel ini pun disertai dengan buku-buku reference yang kian mengesankan bahwa memang Ayat-Ayat Cinta hanyalah sebuah buku dakwah. Pembaca yang lain yang agak “bersahabat” tetapi tetap nampak tidak “ikhlas” dengan menyebut bahwa sesungguhnya Ayat-Ayat Cinta adalah karya sastra tetapi sastra islami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penamaan sastra islami (yang sebenarnya lahir berdampingan dengan istilah sastra sekuler) sebenarnya kian membingunkan. Bukankah pengkotak-kotakan semacam itu hanya kian memperkeruh bangunan sastra itu sendiri? Lalu. Kalau ada istilah sastra islami yang sudah pasti “rohnya” adalah Islam, lalu sastra sekuler itu rohnya apa? Bukankah istilah “kebarat-baratan” sangat naif bila diidentikkan dengan “kekristenan?” Kalau begitu ada jugakah yang disebut sastra kristiani, sastra hindu, sastra Buddha? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, bila ada “pengkotak-kotakan” istilah, apakah itu sastra islami atau sastra lainnya yang dimaksudkan sebagai sebuah identitas maka sesungguhnya bisa menjadi khazanah sastra. Namun bila pengkotakan yang dimaksudkan sebagai “pemisahan” bukan “pengklasifikasian” karena alasan-alasan tertentu misalnya urusan kualitas, maka rasa-rasanya harus ada pemikiran dan perenungan ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah “Pembangunan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Istilah “pembangunan” yang saya pakai disini tidak identik dengan kata building atau development tapi lebih identik dengan reparation atau re-building. Jadi bisa saja “bangunan” saya ini disinggahi ataupun tidak disinggahi oleh pembaca. Tapi saya berharap pembaca singgah di bangunan saya, berdiskusi dengan saya, pro-kontra  itu urusan belakangan. Intinya mari membangun khazanah sastra, diskusi, polemik. Lupakan dulu politik yang penuh intrik dan munafik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan pertama. Fiksionalitas. &lt;br /&gt;Sastra bukan kenyataan, tapi sastra adalah sebuah cermin dari sebuah kenyataan. Sastra menciptakan sebuah dunia tersendiri. Itulah sebabnya Laskar Pelangi bagi sebagian orang dianggap bukan sebuah novel melainkan hanya pengalaman hidup seorang Andrea Hirata. Saya kira pembaca yang menganggap Laskar Pelangi bukan sebuah novel “terkecoh” dalam dua hal. Pertama, sesungguhnya dalam novel Laskar Pelangi meski dianggap sebagai perjalanan Andrea Hirata, tapi buku itu sudah “dimanipulasi” dengan “licik” dan menarik sehingga menjadi sebuah cerita yang utuh laiknya sebuah fiksi. Walau alur novel itu konon benar adanya tetapi sebagai sebuah fiksi maka tak bisa dihindari pembohongan data. Pembohongan disini bukan berarti memutarbalikkan fakta, tetapi mengimajiner sebuah fakta menjadi lebih menarik dan unik. Kedua, andai memang Laskar Pelangi bukan sebuah novel, tetapi dengan bahasanya yang sastrawi serta membawa muatan makna perubahan khususnya di bidang pendidikan, bukankah tetap ada peluang untuk disebut karya sastra?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan Kedua. Gaya bahasa. &lt;br /&gt;Karya sastra bersifat multi-interpretif. Karena karya sastra senantiasa hadir dalam wujud yang berlapis-lapis serta beraneka ragam di dalamnya, maka tentu saja karya sastra harus memiliki kemampuan untuk menimbulkan ambiguitas lewat metafora-metafora atau gaya bahasa yang membangunnya. Inilah yang membuat buku History of the Decline and Fall of the Roman Empire dikategorikan sebagai sebuah karya sastra meski sebagian yang lain mencibirnya, khususnya dari kelompok berhaluan Amerikanis(ini hanyalah istilah saya pada sebagian orang yang begitu “setia” pada kajian Amerika)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan Ketiga. Makna. &lt;br /&gt;Sebuah karya meski sudah terbangun dari bangunan pertama dan kedua di atas tapi tidak memuat muatan makna, maka karya itu akan hambar rasanya. Bahkan bisa saja disebut bukan sebuah karya sastra, atau kadar “kesastraannya” berkurang. Atau mungkin sebagian orang menyebutnya bukan sastra serius melainkan hanyalah sastra pop. Dan bukankah sastra pop juga adalah sebuah karya sastra? Ataukah hanyalah sastra picisan? Terserah pembaca yang menilai.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-07ECcWb2moo/Tc_J6uiqpgI/AAAAAAAAACY/xcNlGTlkyzo/s1600/darsastra3.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="255" src="http://2.bp.blogspot.com/-07ECcWb2moo/Tc_J6uiqpgI/AAAAAAAAACY/xcNlGTlkyzo/s320/darsastra3.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari “bahan-bahan bangunan” karya sastra diatas, maka silakan pembaca menilai mana yang layak disebut karya sastra yang baik? Saman oleh Ayu Utami yang sebagian kritikus sudah “bersekutu” mengatakannya bagus, bahkan “Fiksi Alat Kelamin” itu sudah mendapatkan  penghargaan dari Mastera(Majelis Sastra Asia Tenggara) atas “jasa-jasa” Gunawan Mohamad sebagai seorang yang berpengaruh di Mastera. Ataukah novel Ayat-Ayat Cinta oleh Habuburrahman El Shirazy yang dianggap oleh sebagian orang sebagai novel dakwah, yang juga sudah mendapatkan penghargaan dari Pusat Bahasa atas “jasa-jasa” Taufik Ismail. Ataukah Laskar Pelangi oleh Andrea Hirata yang sudah membius sebagian pembaca sastra di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu Penutup&lt;br /&gt; Dari berbagai polemik yang terjadi baik dalam konteks sejarah sastra dunia, apalagi dalam konteks sejarah Indonesia, sepertinya epistemologi sastra bisa dibongkar-pasang sesuai dengan “kebutuhan”. Tapi saya kira tiga bangunan sastra yang saya kemukakan di atas tetaplah menjadi acuan. Semoga saja. (dulabdul@gmail.com) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FAJAR, 24 Mei 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-8640152408150159553?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/8640152408150159553/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/05/membongkar-epistemologi-sastra-oleh-dul.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/8640152408150159553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/8640152408150159553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/05/membongkar-epistemologi-sastra-oleh-dul.html' title=''/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-07ECcWb2moo/Tc_J6uiqpgI/AAAAAAAAACY/xcNlGTlkyzo/s72-c/darsastra3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-3207820725909340003</id><published>2011-05-12T04:13:00.000-07:00</published><updated>2011-05-13T13:31:22.768-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>MENYELISIK JEJAK CINTA SUFISTIK&lt;br /&gt;Oleh: dul abdul rahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ada satu catatan khusus yang perlu diingat bila membaca ataupun mambahas novel-novel “Timur Tengah”. Pada umumnya sastrawan(boleh dibaca penyair) dari kawasan Timur Tengah tak bisa melepaskan diri dari pengaruh sastra sufistik dari Rumi, Attar, Nizhami, Hafizh, Syabistari, ataupun Sa’di. Para sufi tersebut mengajarkan cinta kepada Tuhan lewat karya-karyanya dengan mencoba menghadirkan sosok Tuhan sebagai seorang Kekasih. Saya mencoba mengemukakan lima jejak benang merah yang tak pernah “kusut” dari karya para sufi tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jejak pertama&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cinta  kepada Tuhan dilukishadirkan dalam sosok Aku dan Engkau. Aku adalah pecinta, Engkau adalah yang dicinta. Hakekatnya, Aku adalah hamba, Engkau adalah Tuhan. Namun supaya Aku bisa memiliki Engkau (Tuhan), maka Engkau dihadirkan dalam bentuk rupa seperti Aku. Dan karena Aku adalah sosok laki-laki, maka Engkau dihadirkan dalam sosok perempuan. Begitulah, maka dalam novel Layla Majnun karya Nizhami, hubungan cinta antara Qais dan Layla sesungguhnya bukan hubungan cinta antara manusia dengan manusia, tetapi hubungan cinta antara manusia dengan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jejak kedua &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sosok Tuhan “dilukishadirkan” pada sosok manusia(baca perempuan), bukan berarti sosok Tuhan “wujud” dalam sosok manusia itu sendiri. Namun manusia hanya bisa mengenal Tuhan bila manusia itu mengenal dirinya sendiri. Untuk itulah, agar manusia bisa mencintai Tuhan, maka Tuhan dihadirkan(baca disatukan) dengan manusia itu sendiri. Begitulah, buat kaum sufi cinta adalah sebuah penyatuan diri. Bila seorang hamba mencintai Tuhan maka ia harus menyatu dengan Tuhan. Makna sesungguhnya adalah menyatu dengan sifat Tuhan. Karena Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang, maka seorang hamba bisa disebut mencintai Tuhan bilamana ia menyatukan sifat Tuhan itu dalam dirinya. Dari pemahaman inilah, maka kaum sufi sangat peduli(baca menyayangi) masyarakat, khususnya masyarakat kecil(kaum mustadh’afin). Bahkan ada sufi yang menjadi syahid ditangan penguasa Bani Umayyah, seperti yang dialami oleh Al-Hallaj. Al-Hallaj berprinsip bahwa mana mungkin seorang hamba bisa mencintai Tuhan bila hamba itu tidak mencintai dirinya sendiri. Diri seorang hamba itu adalah manusia itu sendiri. Saya “menebak asumtif”(maaf ini cuma istilah saya), sesungguhnya Al-Hallaj ingin berkata bahwa tidak sah hajinya seseorang bila ia pergi ke tanah suci tetapi “tetangganya” masih ada yang kelaparan. Untuk itulah, kaum sufi cenderung menolak formalistik-legalistik. Dalam kaitan ini buku Kang Jalal(Jalaluddin Rakhmat) Dahulukan Akhlak Daripada Ibadah adalah sebuah buku yang “sufistik” dan menarik untuk dibaca.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jejak ketiga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Manusia bisa menyatu dengan Tuhan dalam sifatnya, bukan zatnya. Manusia adalah manusia, Tuhan adalah Tuhan. Tuhan bukan manusia, manusia bukan Tuhan, pun manusia bukan malaikat. Untuk itulah, kiranya manusia hanya bisa “nyaman” bersama dengan manusia itu sendiri, bukan bersama dengan Malaikat, apalagi bersama dengan Tuhan. Inilah alasannya mengapa nabi-nabi yang diutus oleh Tuhan untuk membimbing manusia adalah dari kaum manusia itu sendiri. Rumi pun menggambarkan konsep ini lewat suatu karyanya berjudul “Bayi Di Atas Atap”. Suatu ketika seorang bayi memanjat tangga dan berada di atap rumah, tentu saja sang ibu sangat panik karena anaknya bisa saja terjatuh. Sang ibu pun berusaha naik ke atap untuk mengambil anaknya turun, tapi ketika ibu itu mendekat, si bayi mengira ibunya mengajaknya bermain, sehingga merangkak cepat makin ke pinggir. Sang ibu pun panik dan berteriak memanggil bayinya, diteriaki malah bayi itu menangis, sang ibupun kian panik. Dalam keadaan penuh bahaya ini datanglah Imam Ali, sang ibu pun meminta tolong pada Imam Ali. Imam Ali pun berkata, “Jangan buang-buang waktu, kalau kau mau menyelamatkan nyawa putramu, maka naikkan lagi putramu yang lainnya.” Ibu itupun kian kalut dengan nasehat Imam Ali, menaikkan lagi putranya sama dengan mencarikan kematian lagi putranya. Tapi ibu itu tak sanggup menolak usul Imam Ali karena Sang Imam adalah orang termasyhur dan sangat bijaksana. Dan Tak lama kemudian, si bayi yang asyik bermain di pinggiran atap merangkak mendekat ketika ia melihat abangnya. Begitulah, Rumi menjelaskan bahwa karena cintan-Nya pada manusia, Tuhan mengirim seorang utusan(nabi) dari kaum manusia itu sendiri, dimana manusia sering bemain-main dipinggir atap yang bahaya(baca dekat jurang dosa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jejak keempat &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam karya-karya sufistik, tak pernah terjadi pengkhianatan(boleh dibaca perselingkuhan) dalam cinta. Karena buat para sufi, cinta adalah sebuah totalitas dari sebuah penghambaan seorang pecinta pada yang dicintainya. Cinta tidak pernah terbagi, sebab ia bukan sesuatu yang immaterial. Dan kalau pun “terbagi”, maka cinta tak akan pernah berkurang. Ia akan tetap menjadi sebuah cinta yang utuh, meski harus “terbagi” hingga titik kepuasan tertinggi membaginya. Begitulah, hubungan cinta antara Qais dan Laila, atau Yusuf dan Sulaikha tak pernah “berkurang” padahal dalam novel itu hubungan cinta mereka tetap diterpa badai Tsunami yang dahsyat.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Jejak kelima&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Karena para sufi adalah orang yang sangat mengedepankan cinta dan kasih sayang, maka wajar bila lambang yang mereka gunakan dalam karya-karyanya umumnya adalah pengalaman erotic love(cinta-asmara) yang meluap-luap dan meletup-letup. Pengalaman antara dua manusia berlainan jenis diperguankan untuk “melukishadirkan” Tuhan. Tengoklah, cinta Qais pada Layla tidak akan pernah terjadi pada diri manusia. Menurut sastrawan Abdul Hadi WM dalam pengantar buku terjemahan Taman Para Sufistik, lambang-lambang lain yang perlu diperhatikan adalah lambang-lambang kebudayaan, karena kebanyakan para sufi berlatar belakang budaya Persia, maka pembaca pun tak pula “semena-mena” menerima kata-kata secara harfiah.  Contohnya kata anggur dan kemabukan. Kata-kata ini hanyalah sekedar symbol. Seperti juga orang yang jatuh cinta akan mabuk kepayang, maka “anggur” cinta kasih pada Tuhan pun bisa sangat memabukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, dalam novel Mustafa Chamran yang ditulis oleh Habibah Ja’farian yang notabene juga adalah penulis Persia(Iran) mengandung muatan makna yang tak bisa lepas dari “jejak-jejak cinta” dari para sastra klasik-sufistik yang kharismatik dan puitik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi dalam kisah tersebut, diantaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama. Yang membuat novel itu sangat menarik karena settingnya adalah peperangan(Libanon Selatan dan Iran). Peperangan yang notabene adalah sebuah setting yang menyakitkan(bisa dibaca kematian) tetapi dihadirkan menjadi sebuah keindahan. Mustafa Chamran dan Ghadeh yang menjadi tokoh utama dalam novel tersebut adalah dua sosok yang saling mencintai dengan sepenuh ikhlas dan ridho. Simaklah pesan terakhir Mustafa Chamran pada isterinya, Ghadeh, sebelum ia syahid, “Engkau memerlukan cinta yang lebih besar dariku, yaitu cinta Allah. Engkau harus mencapai kesempurnaan yang menjadikanmu tak merasa puas, kecuali Allah dan cinta-Nya. Sekarang aku akan pergi dengan tenang.”(Mustafa Chamran, hal 89).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua. Meski Mustafa dan Ghadeh saling mencintai, dan keduanya bisa saja menikah, tetapi Mustafa lebih memaknai bahwa cinta bukanlah sebuah ego yang hanya dimakanai bahwa cinta harus memiliki lalu membuat orang lain terluka. Simaklah pernyataan Mustafa kepada Ghadeh ketika cinta mereka awalnya tak direstui oleh orang tua Ghadeh, “Berusahalah dengan cinta dan kasih sayang  membuat mereka ridha! Aku tak suka, sementara aku menikah denganmu, hati ayah dan ibumu terluka.”(Mustafa Chamran, hal 22).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga. Kisah percintaan antara Mustafa dan Ghadeh disamping digambarkan secara sufistik, pun secara romantik dan puitik. Simaklah surat terakhir Mustafa pada Ghadeh sebelum ia syahid, “Aku berada di Iran, tapi hatiku bersamamu di Selatan, di yayasan, dan di kota Shur. Bersamamu aku merasakan berteriak, bahkan terbakar. Bersamamu aku berlari di bawah hujan bom dan mesiu. Bersamamu aku merasa sedang pergi menuju kematian, kesyahidan, menuju perjumpaan dengan Ilahi, membawa kemuliaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah sekelumit makna yang harum semerbak yang bisa saya tangkap dari novel tersebut. Mungkin saja pembaca yang lain akan menangkap makna yang berbeda. Karena memang karya sastra senantiasa hadir dengan wujud yang berlapis-lapis dan beraneka ragam tafsir. Karya sastra adalah polyinterpretable. (dulabdul@gmail.com)  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FAJAR, 14 Maret 2010&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-YPDmAVbOyD4/TcvBA28iMdI/AAAAAAAAACQ/0Xop52r8hjM/s1600/darsastra4.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="312" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-YPDmAVbOyD4/TcvBA28iMdI/AAAAAAAAACQ/0Xop52r8hjM/s320/darsastra4.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-3207820725909340003?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/3207820725909340003/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/05/menyelisik-jejak-cinta-sufistik-oleh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/3207820725909340003'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/3207820725909340003'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/05/menyelisik-jejak-cinta-sufistik-oleh.html' title=''/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-YPDmAVbOyD4/TcvBA28iMdI/AAAAAAAAACQ/0Xop52r8hjM/s72-c/darsastra4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-6085801094442553154</id><published>2011-05-09T04:00:00.000-07:00</published><updated>2011-05-09T04:00:15.254-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>SASTRA TIDAK PERNAH BERBOHONG!&lt;br /&gt;Oleh: dul abdul rahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya sudah menjadi kesepakatan umum bahwa ada dua jenis karya tulis, yaitu karya fiksi dan karya non-fiksi. Kedua kosa kata ini masih bisa dimodifikasi dengan memindahkan kata non, sehingga fiksi dibaca non-ilmiah, non-fiksi dibaca ilmiah. Selanjutnya muncul penafsiran-penafsiran ‘ala kadarnya’. Fiksi atau non-ilmiah adalah tulisan yang berdasarkan hayalan, misalnya novel atau cerpen. Non-fiksi atau ilmiah adalah tulisan yang berdasarkan kenyataan, misalnya laporan penelitian, penulisan sejarah, dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya muncul lagi penafsiran ‘asal-asalan’, fiksi atau non-ilmiah atau hayalan adalah kebohongan. Mungkin karena terhasut dari penafsiran ala kadarnya dan penafsiran asal-asalan itulah, maka banyak penulis sastra(baca novel) yang juga mungkin mempunyai penafsiran ala kadarnya tentang fiksi yang terjung menulis novel(baca sastra?) terpaksa berteriak-teriak: “Novel ini terinspirasi dari kisah nyata”. Teriakan-teriakan tersebut didengar oleh umumnya pembaca di Indonesia yang sebenarnya tidak peduli apakah membaca fiksi atau non-fiksi, yang penting buat mereka karya itu bisa menginspirasi. Maka larislah Laskar Pelangi dan Negeri 5 Menara. Dan tentu saja lahirlah karya-karya sejenis walau nasibnya tidak sebaik kedua novel laris tersebut. Sekali lagi persoalan nasib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra dan Kenyataan&lt;br /&gt; Istilah fiksi atau hayalan dalam dunia sastra bukan sekedar hayalan belaka. Kata hayalan sesungguhnya mengacu pada daya kreatifitas dari seorang pengarang untuk mencipta dunia baru dalam bentuk karya sastra. Dunia baru sesungguhnya adalah dunia yang bersumber dari fakta yang sudah diramu sedimikian rupa menjadi dunia tersendiri. Karena sudah tercipta menjadi dunia tersendiri atau dunia baru dalam hayalan pengarang maka muncullah banyak interpretasi dari tiap-tiap pembaca. Pembaca punya interprestasi masing-masing yang juga berlandaskan daya kreatifitas membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jadi, seyogyanya memang penulis novel(baca fiksi) tidak perlu berkoar-koar bahwa novel yang ditulisnya adalah kisa nyata. Sefiksi-fiksinya suatu karya sastra  tetaplah  sebuah lukisan kenyataan. Bahkan penafsiran mimetik memang menuntut agar sastra mencerminkan kenyataan. Dan sefakta-faktanya suatu karya sastra tetaplah sebuah lukisan imaginasi (kebohongan?) sang pengarang. Contoh sederhana saja, apakah semua isi novel Laskar Pelangi atau Negeri 5 Menara adalah seratus persen kisah nyata? Tidak bukan? Apakah semua cerita tentang pendaratan orang di planet Mars adalah kebohongan belaka? Tidak juga bukan? Cara melukiskan pendaratan di planet mars misalnya bukan dengan omong kosong belaka tetapi berdasarkan teori pengetahuan. Bukankah sebelum Neil Amstrong dan Edwin Aldrin mendarat di bulan bersama pesawat Apollo 11, sudah ada pendaratan di bulan lewat karya sastra. Jadi Science-fiction sesungguhnya adalah hayalan atau penggambaran atas serpihan-serpihan teknologi yang merupakan kenyataan, bukan? Jadi sastra bolehlah juga dikatakan serpihan-serpihan kenyataan dan bolehlah juga disebut serpihan-serpihan kebohongan. Tetapi masalah kebohongan, mari menyimak pendapat Mark Twain, “Pengalaman masing-masing individu adalah sebuah fakta bahwa kebenaran tidak sulit untuk ditiadakan dan kebohongan yang diucapkan dengan baik adalah sebuah keabadian.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya Sastra, karya Tuhan?&lt;br /&gt;Meski dianggap karya fiksi atau karya rekaan, tetapi mata sastra bahkan lebih tajam dari mata karya non-fiksi. Tengoklah! Yang banyak menginspirasi dan melakukan perlawanan adalah teks-teks sastra. Untuk mengetahui ketajaman teks sastra, kita bisa membaca novel karya Gabriel Garcia Marquez, Cien Anos de Soledad (1967). Novel karya peraih Nobel Sastra tahun 1982 ini bercerita tentang kepahlawanan keluarga Kolombia. Novel ini seperti menghipnotis dan menumbuhkan jiwa patriotisme bagi semua warga negara Kolombia. Novel ini benar-benar menyadarkan warga Kolombia untuk bangkit melakukan perubahan dan perjuangan. Mereka sangat yakin bahwa hanya mereka sendiri yang bisa melakukan perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kalah tajamnya dengan karya Gabriel Garcia Marquez, Luis Sepulveda dalam novelnya Un viejo que leia historias de amor (1989) --telah diindonesiakan menjadi ‘Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta’--  berhasil menyadarkan masyarakat akan terjadinya penggundulan hutan tropis di belantara Amazon. Sepulveda dengan sangat cekatan membangun teks tentang desa kecil di tengah hutan Ekuador. Seorang kakek tua menyepi untuk mencari kedamaian dengan ditemani novel-novel cinta picisan. Tapi akhirnya ketenangannya terusik ketika terjadi penebangan hutan, terjadi perburuan, pengeboran minyak, ladang emas. Lalu alam pun membalas dendam lewat seekor macan kumbang. Penduduk desa terancam dan kakek tua itu tahu bahwa hanya dirinyalah yang mampu menghadapi hewan itu karena selama ini hanya dirinyalah yang mengerti keadaan hewan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kalah lebih tajamnya, bacalah teks-teks sastra Chairil Anwar dalam bentuk puisi ketika ia berteriak “Aku mau hidup seribu tahun lagi”. Meski kala itu Chairil sudah sakit-sakitan yang memang meninggal di usia yang masih sangat muda. Tapi Chairil sudah mengajarkan semangat hidup dalam teks sastra yang sangat luar biasa. &lt;br /&gt;Sebagai contoh terakhir, mari melihat Laskar Pelangi. Sebelum novel ini muncul, nama Belitong tidak familiar bahkan terlupakan dibenak masyarakat Indonesia. Tapi setelah mengklaim diri sebagai tanah Laskar Pelangi maka orang ramai-ramai membaca, mengenal, bahkan mengunjungi daerah tersebut. Meski memang daerah itu terkenal sebagai penghasil timah terbesar di Indonesia tapi nanti teks sastralah yang membuatnya kian terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kekuatan dan kedahsyatan teks-teks sastra tersebut, maka kalau ada istilah Suara Rakyat Suara Tuhan, maka saya pun akan mengatakan Karya Sastra, Karya Tuhan. Apakah saya terlalu berhayal atau berbohong? Hm, bukankah karya sastra juga sebagai alat untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan seperti karya Gabriel Garcia Marquez yang saya contohkan di atas. Suara kebenaran, suara keadilan adalah suara Tuhan, bukan?&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-l5t7h15W3Uc/TcfJLXZAC6I/AAAAAAAAACI/cMU0dqjqiGE/s1600/darsastra3.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="255" src="http://3.bp.blogspot.com/-l5t7h15W3Uc/TcfJLXZAC6I/AAAAAAAAACI/cMU0dqjqiGE/s320/darsastra3.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sebagai catatan, ketika saya berteriak Karya Sastra Karya Tuhan, saya sama sekali tidak bermaksud berteriak bahwa bawalah ayat-ayat Tuhan dalam karya sastra. Kalau terpaksa membawa ayat-ayat Tuhan dalam karya sastra mungkin ada motif lain. Dan tentu saja butuh penjelasan lain yang panjang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra Tidak Pernah Berbohong!&lt;br /&gt; Jadi sangat jelas bahwa sastra bukanlah kebohongan. Sastra juga tidak pernah berbohong. Kalau saja ada yang terlanjur mencap bahwa sastra adalah kebohongan, pendapat itu juga sah-sah saja. Mungkin saja pendapat itu adalah sebuah interpretasi dari hasil pembacaannya terhadap karya sastra. Sastra adalah polyinterpretable yang memungkinkan banyak penafsiran. Mungkin memang sastra tidak bisa terlepas dari ‘kebohongan-kebohongan’ tertentu, tapi yakinlah bahwa kebohongan-kebohongan tersebut adalah jalan untuk mengungkap kebenaran-kebenaran tertentu. Sebagaimana pesan seniman Spanyol, Pablo Picasso(1881-1973) “Seni (boleh dibaca sastra) adalah sebuah kebohongan yang menyadarkan kita akan kebenaran.” Begitulah! (dulabdul@gmail.com) &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;FAJAR, 15 Agustus 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-6085801094442553154?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/6085801094442553154/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/05/sastra-tidak-pernah-berbohong-oleh-dul.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/6085801094442553154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/6085801094442553154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/05/sastra-tidak-pernah-berbohong-oleh-dul.html' title=''/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-l5t7h15W3Uc/TcfJLXZAC6I/AAAAAAAAACI/cMU0dqjqiGE/s72-c/darsastra3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-3744727234160378650</id><published>2011-04-30T05:46:00.000-07:00</published><updated>2011-04-30T05:46:56.427-07:00</updated><title type='text'>cerpen dul abdul rahman: S A B D A   L A U T</title><content type='html'>SABDA LAUT&lt;br /&gt;Oleh: dul abdul rahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subuh itu. Setelah perahu kecil kami merapat kembali di bibir Sungai Jeneberang. Aku bergegas naik ke daratan sambil membawa ikan tangkapan kami. Meski malam itu hasil tangkapan kami tidak seberapa banyak, tetapi aku menenteng ikan bak seorang nelayan ulung yang tiada takut dengan ombak yang bergulung-gulung. Ataukah aku serupa lanun yang berhasil membajak kapal laut atau perahu nelayan tanpa ampun. &lt;br /&gt;Setiba di daratan, aku tak perduli ketika angin pagi memiuh-miuh dan menantangku. Bahkan menampar-nampar wajahku. Pun aku tak khawatir masuk angin. Hembusan angin pagi itu begitu nakal mempreteli sebagian kancing bajuku. Aku tak peduli. Kubiarkan saja bajuku melambai-lambai berterima kasih kepada Pantai Barombong. Lambaian bajuku pun serupa sambutan kemenangan. Sambutan daratan buat lautan. Bagi kami anak-anak nelayan, angin dan hujan, atau bahkan sengatan mentari adalah sahabat-sahabat sejati kami. Kami tumbuh dan bersahabat dengan laut. Laut Barombong yang tak sombong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera setelah ayahku menambatkan perahunya, ia pun bergegas naik ke daratan. Angin daratan langsung menyambutnya. Ia pun tak perduli. Wajah kisutnya pastilah setiap subuh dibelai oleh angin pagi yang kadang diam-diam menusuk pori-pori. Lalu kami berdua pun berjalan beriringan menuju Jembatan Barombong. Di pinggir jembatan yang terpanjang di Kota Makassar itulah kami selalu menjual ikan-ikan hasil tangkapan kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya di Jembatan yang megah itu, aku serupa penjual ikan profesional meletakkan ikan tangkapan kami di sebuah bangku panjang yang mulai lapuk. Selain aku berdua dengan ayahku, ada juga nelayan kecil lainnya menjajakan ikan hasil tangkapan mereka. Sebenarnya bisa saja kami cepat pulang ke rumah dengan menjual langsung semua hasil tangkapan kami kepada para pagandeng1, tetapi kami ingin mendapatkan sedikit uang lebih. Atau mungkin uang letih. Pagandeng hanya mau menghargai ikan kami terlalu murah. Padahal kami menangkapnya dengan lelah. Bahkan kami harus berkelahi dengan angin dan ombak yang terkadang pongah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi subuh itu rupanya dewi fortuna tidak bersahabat dengan kami. Sudah sejam kami menjajakan ikan kami tapi tak ada seorang pun yang singgah membelinya. Hanyalah penjual ikan di samping kami yang kedatangan pembeli, itupun sekira dua orang saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Juku sambalo!”2 Aku dan ayahku menyapa bergantian setiap orang yang lewat tetapi tetap saja tak ada peduli dengan ikan-ikan kami. Ya, tak ada yang peduli dengan nasib-nasib kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah matahari keluar dari persembunyiannya, dan nampak tersenyum di kaki langit. Lalu cahayanya membentuk siluet dan mengirimkan pesan pada kami lewat permukaan air Sungai Jeneberang. Seolah ia ingin berkata kepada kami, hari baru bersama harapan baru telah datang. Tetapi tetap saja belum ada pembeli yang menghampiri lapak ikan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seteluh berpeluh karena berteriak-teriak mempromosikan ikan-ikan kami. Akhirnya seseorang pembeli mendekat. “Wah! Ikannya mahal sekali Daeng, padahal ikannya tidak segar lagi!” Pembeli itu menawar ikan kami dengan kalimat yang meneror. Masakan ia menyebut ikan kami tidak segar lagi padahal baru saja kami menangkapnya di laut. Apakah ia menganggap ayahku sangat bodoh soal ikan? Padahal ayahku puluhan tahun kerjanya hanyalah sebagai nelayan. Meski hanya nelayan kecil, tapi aku yakin tetek-bengek soal ikan pastilah ayahku sudah mengetahuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pembeli itu menawar berkali-kali. Kulihat ayahku merasa kasihan. Dalam hati aku membatin, mungkin saja orang itu kehabisan uang. Ayahku lalu memberi harga terendah. “Bapak tidak bisa lagi mendapatkan ikan begini di bawah harga yang saya berikan.” Pembeli itu mengambil ikan yang disodorkan oleh ayahku dan membayarnya dengan senyum kemenangan. Ia pun bergegas menuju mobilnya yang terparkir di ujung jalan. Aku dan ayahku hanya geleng-geleng kepala melihat pembeli itu yang ternyata mengendarai mobil pribadi merek CR-V. Tetapi kami tetap kagum pada orang kaya itu, ia mau berbelanja pada kami. Lalu kami cepat melupakan pembeli yang naik mobil mewah tersebut ketika seorang pembeli lainnya datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nak Samad tidak pergi ke sekolah?” Ujar pembeli itu yang ternyata guru matematikaku di SD Negeri Barombong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebentar lagi ia akan berangkat ke sekolah Pak Guru.” Ayahku cepat menjawab pertanyaan guruku. Ayahku juga sibuk memilihkan ikan buat guruku tersebut. Setelah ia menyodorkan uang sesuai dengan kesepakatan harga. Bahkan aku hanya mendengarkan ayah dan guruku sekali saja saling menawar lalu saling deal dan tersenyum. Guruku dengan motor vespa bututnya pun meraung-raung meninggalkan kami. Raungan vespa butut guruku mungkin sebagai raungan nasibnya yang konon katanya bertahun-tahun jadi guru honorer. Tetapi kami tetap mengantarnya dengan tatapan berbinar-binar hingga vespa butut itu menghilang ditelan mobil-mobil pribadi milik orang-orang berduit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar kata orang, hanyalah orang-orang kecil yang sangat tahu nasib orang kecil.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah menggumam setelah vespa butut guruku benar-benar menghilang. Aku tidak begitu mengerti dengan pernyataan ayahku. Tetapi tatapan mata ayahku seolah mengirimkan doa semoga guru matematikaku selamat sampai tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari sudah merangkak naik. Air sungai Jeneberang pun kian berkilau-kilau dan tersenyum manis serupa perempuan belia yang kasmaran karena terus ditatap oleh sang pangeran matahari. Kami para penjual pun menatap setiap orang yang lalu lalang dan berharap mereka singgah membeli ikan-ikan kami. Aku sibuk memercik ikan-ikan kami dengan air tawar agar nampak semakin segar dan tidak mengantuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nak! Cukuplah ayah saja yang menjajakan ikan di sini. Engkau bergegaslah pulang ke rumah mengganti pakaianmu lalu berangkat ke sekolah.” Ujar ayah kepadaku ketika ia melihat iring-iringan murid sekolah dasar menuju sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba tak menghiraukan kalimat ayahku. Hari itu memang aku berniat untuk tidak pergi bersekolah. Aku ingin menemani ayahku melaut dan menjual ikan. Aku tak bercita-cita muluk-muluk. Cukuplah kelak aku bisa seperti ayahku, melaut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihatlah teman-teman sekolahmu, Nak! Mereka sudah berangkat ke sekolah.” Ayahku mengulangi lagi kalimatnya setelah melihatku hanya terpaku pada ikan-ikan kami. &lt;br /&gt;Melihat aku tidak begitu bersemangat, ayahku langsung menasehatiku. “Manna majai tedongnu, mattambung barang-barangnu, susajakontu punna tena sikolamu.”3 Meski secara formal ayahku hanya tamat sekolah dasar tapi aku kagum sama ayahku yang banyak tahu dan selalu menasehatiku dengan filosofi-filosofi Bugis-Makassar.&lt;br /&gt;Kulihat mata ayahku berkaca-kaca mengucapkan kalimat itu. Di matanya seperti tersimpan berjuta-juta penyesalan. Aku memang pernah mendengar cerita bahwa sesungguhnya dulu kakekku adalah orang berada di daerah Barombong. Daerah yang berada dipinggiran Kota Makassar. Tempo itu ayah tidak berkehendak sekolah karena ia merasa tanpa bersekolah pun mereka bisa hidup layak. Bahkan ia hidup berfoya-foya karena merasa sangat bergelimang harta. Untuk ukuran kampung Barombong, kekayaan kakek tempo itu sangatlah diperhitungkan. Tetapi setelah usaha bisnis kakek bangkrut karena terbelit masalah utang sehingga kekayaan kakek melewati titik nol dan berada di titik minus dengan utang yang bertumpuk, barulah ayah menyadari betapa pentingnnya sekolah untuk mengadu nasib di kota. Nasib telah menjadi bubur, masa depan ayah menjadi kabur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ayah tetap bersemangat, ia tak mau nasibnya menghablur dan menular pada anak-anaknya. Itulah sebabnya, meski hanyalah nelayan kecil, tetapi ayah selalu bertekad untuk menyekolahkan aku. Semangat ayah seperti semangat Laut Barombong. Laut yang tidak pernah berhenti menawarkan gelombang kehidupan. Gelombang harapan.&lt;br /&gt;Mengingat semua keterpurukan kakekku tempo dulu yang berimbas pada ayahku yang semasa kecilnya menganggap sekolah tidak penting. Pun aku bisa menangkap makna dari pesan ayahku bahwa manusia hendaknya mengutamakan pendidikan agar tidak kesulitan dalam hidup, harta yang bertumpuk tidak akan menyelesaikan persoalan dunia. Maka aku pun bergegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku harus pergi ke sekolah.” Ujarku sambil berlari menuju rumah kami di pinggiran Sungai Jeneberang. Aku masih sempat menengok sesaat pada ayahku. Ia tersenyum melihat kesungguhanku. Senyumnya masih seperti dulu. Senyum setulus Sungai Jeneberang. Tetapi tetap ada bias penyesalan. Sebagaimana Sungai Jeneberang yang menyesali nasibnya karena pohon-pohon di hulunya sering ditebang secara kasar oleh penebang-penebang liar. Mungkin ayahku juga menyesal mengapa ia tidak bersekolah sewaktu muda dulu dan sewaktu kakek belum bangkrut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang paling membuatku bangga pada ayahku. Karena aku masih sempat mendengar seorang penjual ikan berujar pada ayahku, “Daeng Rewa! Anak-anakku juga harus bersekolah seperti Samad.” Ayahku hanya tersenyum kepada penjual ikan itu. Lalu ayahku pun masih sempat berujar kepadaku, “Cepat ke sekolah anakku. Pendidikan adalah nomor satu buatmu. Ayah berjanji akan mewariskan pendidikan kepadamu.” Ketika kulihat mata ayahku berkaca-kaca, aku terus berlari menuju rumahku yang reot. Airmata ayahku adalah airmata penyesalan karena dulu tidak bersungguh-sungguh sekolah. Pun airmata ayahku adalah airmata doa dan harapan buatku untuk menggapai pendidikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kian berlari sekencang-kencangnya di bibir Sungai Jeneberang. Tetapi celakanya kakiku terpeleset dan aku jatuh terguling-guling hingga masuk Sungai Jeneberang. Untungnya pinggir Sungai tersebut tidaklah dalam dan aku biasa bermain-main di pinggir sungai itu bersama teman-temanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat aku terjatuh, ayahku dan para penjual ikan hanya bertepuk tangan. Ayahku bahkan mengacungkan tangannya. Aku tahu mereka memberiku semangat. Bahkan kebiasaan ayahku mengacungkan tangan kuat-kuat buatku selalu kuartikan “Anakku Samad! Engkau harus kuat, engkau anak hebat, engkau anak laut, engkau sabda laut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku sedikit meringis karena jari-jari kakiku tertusuk kulit kerang. Tetapi ketika aku melihat murid-murid sekolah dasar yang lewat yang umumnya perempuan menutup mulutnya dengan sapu tangan, mungkin mereka menahan ketawanya karena melihatku terjatuh berguling-guling di sungai, maka aku pun bergegas merangkak naik ke bibir Sungai Jeneberang. Lalu kembali aku berlari sekencang-kencangnya menuju rumahku. Air Sungai Jeneberang yang mengalir menuju Laut Barombong juga seolah mengejarku, bahkan aku seperti mendengar bisikan Sungai Jeneberang, “Duhai lelaki penguasa hilir Sungai Jeneberang! Duhai lelaki Pantai Barombong! Berlarilah terus meraih impian dan cita-citamu! Jatuh bangun adalah hal biasa. Engkau harus bisa!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku tiba di rumahku dengan nafas yang tak sempurna. Seluruh kancing bajuku lepas satu-satu. Tapi aku tak peduli. Dan yang paling membuatku kian bersemangat, pagi itu seolah aku mendengar lagi bisikan, tapi kali itu bisikan dari Laut Barombong, “Hari ini dan hari-hari selanjutnya, engkau harus pergi ke sekolah walaupun badanmu bau ikan. Engkau memang anak nelayan!”&lt;br /&gt;     Pantai Barombong, Makassar, 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;1. Penjual ikan keliling dengan sepeda motor&lt;br /&gt;2. “Ikan, Langgananku!”&lt;br /&gt;3. “Walau banyak kerbaumu, bertumpuk hartamu, engkau tetap susah jika tak ada sekolahmu.”&lt;br /&gt;FAJAR, 21 Nopember 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-3744727234160378650?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/3744727234160378650/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/04/cerpen-dul-abdul-rahman-s-b-d-l-u-t.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/3744727234160378650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/3744727234160378650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/04/cerpen-dul-abdul-rahman-s-b-d-l-u-t.html' title='cerpen dul abdul rahman: S A B D A   L A U T'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-1823125261847070893</id><published>2011-04-05T03:24:00.000-07:00</published><updated>2011-04-05T03:24:59.229-07:00</updated><title type='text'>CERPEN dul abdul rahman: SAM PARA DAN SAMARA</title><content type='html'>SAMPARA DAN SAMARA1&lt;br /&gt;Cerpen: dul abdul rahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mujur benar nasib Sampara dan Samara. Sepasang suami isteri tersebut tidak jadi berangkat ke Malaysia sebagai TKI dan TKW. Keluarga Pak Fatih dan Ibu Fatimah mengangkat keduanya jadi pembantu sekaligus. Jadilah Sampara dan Samara tetap satu rumah dan berumah tangga. Berarti program untuk mendapatkan momongan secepatnya tetap terlaksana dengan baik. Sampara dan Samara adalah pasangan muda yang telah menikah selama lima tahun tetapi belum dikaruniai anak. Keduanya bertetangga di kampungnya, kedua orang tua mereka berprofesi sebagai petani. Sampara dan Samara hanya bersekolah sampai sekolah dasar. Mereka belum sempat mengikuti program pendidikan sembilan tahun, bukan berarti mereka tidak mau, tetapi kedua orang tua mereka memang tak sanggup menyekolahkan mereka. Sedangkan pendidikan gratis masih sebatas janji manis penghias kampanye pilkada. Boro-boro bersekolah, makan saja susah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Meski hanya tamatan sekolah dasar, rupanya Sampara dan Samara punya visi yang baik. Mereka berdua berniat jadi TKI dan TKW bersama-sama. Mereka akan menabung gajinya sebagai modal usaha kelak. Cita-citanya yang paling mulia adalah menyekolahkan anak-anaknya kelak. Mereka sangat ingin anak-anaknya menjadi guru. Dulu, Sampara sangat mengidolakan sosok Pak Fatih, guru Bahasa Indonesianya di sekolah dasar. Pak Fatih begitu gagah perkasa dengan pakaian safari sambil mendongeng atau membaca puisi. Pun Samara sangat mengidolakan Ibu Fatimah, guru kesenian yang pintar menyanyi, tidak seperti Ibu Ros yang guru kesenian tapi tak bisa menyanyi. Ibu Fatimah juga cantik sehingga Samara selalu membayangkan dirinya sebagai Ibu Fatimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kini. Pak Fatih dan Ibu Fatimah telah pindah ke ibukota propinsi, posisinya pun kian bagus. Setempo jadi guru di kampung, mereka hanya tinggal di kampus sekolah. Karena prestasi mereka yang bagus, sepasang suami isteri itu mendapat promosi, posisi yang lebih tinggi plus fasilitas yang memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Laiknya orang-orang yang sudah punya jabatan, keluarga Pak Fatih dan Ibu Fatimah tergolong orang kaya. Mereka sudah punya rumah yang besar dan mewah, berlokasi di perumahan elit, kendaraan pribadi, pun fasilitas lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sampara dan Samara bisa jadi pembantu di rumah Pak Fatih dan Ibu Fatimah, karena keluarga guru tersebut sudah mengenal Sampara dan Samara sejak di sekolah dasar. Mereka menilai Sampara dan Samara adalah murid yang jujur dan pintar dulu yang kebetulan berjodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sampara dan Samara sangat senang karena kedua majikannya adalah gurunya. Mereka tetap memanggil keduanya Pak Guru dan Ibu Guru. Tidak ada memang mantan guru. Buat Sampara dan Samara, semua guru yang mengajarnya di sekolah dasar dulu dianggapnya sebagai gurunya, mereka tak pernah bilang, “Ia mantan guruku.” Mereka selalu bilang “Ia guruku di sekolah dasar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sampara bekerja sebagai sopir pribadi. Pak Fatih dan Ibu Fatimah berbeda kantor. Pak Fatih bisa berkendara sendiri dan tidak bisa selalu mengantar isterinya, apalagi kantor Pak Fatih terletak di timur kota, sedangkan Ibu Fatimah di barat kota. Ibu Fatimah takut mengendarai mobil, ia trauma sewaktu tabrakan setahun silam. Sampara mengantar-jemput Ibu Fatimah. Di sela-sela waktu, Sampara mengurusi kebersihan pekarangan rumah. Samara mengurusi urusan rumah tangga. Dari mencuci hingga urusan masak-memasak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di sela-sela pekerjaan mereka, Sampara dan Samara juga bercinta. Mereka sangat bahagia bisa bercinta dengan buas di kasur empuk serta kamar yang luas. Sampara dan Samara benar-benar puas. Bila kedua majikannya berangkat ke kantor, tinggallah mereka berdua di rumah. Kedua putra-putri Pak Fatih dan Ibu Fatimah tinggal di pesantren putra dan pesantren putri. Biasanya mereka pulang ke rumah sebulan sekali. Mungkin karena bersekolah di pesantren, kedua anak majikannya berlaku sopan kepada pembantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt; “Asyik ya Mama, bekerja disini seperti di rumah sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Betul Papa, Pak Guru dan Ibu Guru baik sekali.” Samara mengamini suaminya. Laiknya suami isteri lainnya, Sampara dan Samara selalu berpapa-mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Pak Guru dan Ibu Guru benar-benar baik Mama, mereka memberi kita kasur empuk agar kometku semangat menerjang rembulan Mama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Papa!” Samara mencubit suaminya. Sampara memang suka menggunakan metafora sebagaimana yang diajarkan oleh Pak Fatih dulu di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Mama! itu bukan bahasa papa, tetapi bahasa Pak Guru Fatih dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sampara dan Samara bila menyebut nama Pak fatih dan Ibu Fatimah selalu diikuti oleh nama “guru”. Padahal para tetangga selalu tercengang kalau menyebut nama guru. Mungkin para tetangga berpikir bahwa guru tak bisa memiliki rumah seperti itu. Guru biasanya hanya mampu membeli rumah sederhana dengan sistem kredit. Para tetangganya mungkin tidak tahu bahwa Pak Fatih dan Ibu Fatimah tidak lagi sebagai guru, tetapi mereka hanya mengurusi para guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Papa…!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Mama…!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sampara dan Samara berandai-andai. Kelak anak-anaknya cakep, cantik, pintar seperti anak-anak majikannya, karena mereka juga bercinta di kasur empuk dan di rumah mewah seperti Pak Fatih dan Ibu Fatimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Rupanya, Sampara dan Samara semakin punya visi bervariasi. Dulu, yang penting anak-anaknya bisa bersekolah. Sekarang macam-macam dan terkadang seperti punguk merindukan bulan. Padahal peribahasa itu sering diungkapkan dulu oleh Pak Fatih pada Sampara di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sampara dan Samara ingin mempunyai anak laki-laki yang berbadan tinggi, berhidung mancung dan rambut lurus seperti putra Pak Fatih dan Ibu Fatimah. Atau seperti artis mandarin yang sering mereka tonton di teve, padahal Sampara berhidung penyok seperti sudah diseruduk mobil, pun rambut keriting serupa indomie. Lalu mereka menginginkan anak perempuan berparas cantik, kulit putih bersih, serti bibir tipis seperti putri Pak Fatih dan Ibu Fatimah, padahal Sampara dan Samara berkulit gelap dan berdower.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sejak tinggal di rumah Pak Fatih dan Ibu Fatimah, mereka tak ketinggalan informasi. Bahkan Sampara dan Samara menghafal semua jadwal acara teve. Pun keduanya sudah menghafal gosip seputar selebriti, keduanya pun sudah paham makna berselingkuh. Sampara sangat mengidolakan artis Beby Silvia yang mirip Ibu Fatimah. Samara mengidolakan aktor Hengky Tornando yang mirip Pak Fatih. Kalau Hengky Tornando dan Beby Silvia selalu akur karena memang pasangan suami isteri, atau tentu saja Pak Fatih dan Ibu Fatimah, Sampara dan Samara terkadang sudah berani mengejek pasangan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Andaikan hidung papa mancung seperti hidung Pak Fatih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Andaikan bibir mama seperti bibir Ibu Fatimah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ih papa! Tidak berkaca.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Mama yang tidak berkaca.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Papa yang mulai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Mama yang mulai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Sudahlah, Pa! Iklannya sudah selesai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mungkin ada juga manfaatnya keduanya selalu bertengkar di setiap jeda iklan. Karena jika iklan pun dilahapnya, entah bagaimana lagi mimpi-mimpi Sampara dan Samara. Mungkin keduanya berlomba-lomba mau di rebounding, atau Samara selalu ingin memakai sabun Giv biar kulitnya seputih Santi atau Sinta. Atau Sampara ingin pakai rexona, agar ada cewek secantik Cut Tari mendekatinya.  &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt; “Pak Fatih!” Samara setengah menjerit. Sampara melompat segera membuka pintu garasi. Samara cekikikan. Sampara pun gusar dibuatnya karena Pak Fatih belum datang, ternyata artis Hengky Tornando yang mirip Pak Fatih muncul di teve.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Hati-hati menyebut nama Pak Fatih!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Papa juga hati-hati menyebut nama Ibu Fatimah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Akhirnya, karena mengidolakan Hengky Tornando, Samara senang melihat Pak Fatih. Sampara yang mengidolakan Beby Silvia, sangat deg-degan bila dekat dengan Ibu Fatimah.&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt; “Oh Fatimah, Sayang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Oh Fatih, Sayang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Sudah lama aku merindukanmu Fatimah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Sudah lama aku mengimpikanmu Fatih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Keduanya berpelukan erat. Lekat. Keduanya benar-benar bernafsu. Mereka tak menghiraukan sekitarnya. Kasur empuk seolah menjelma dunia yang hanya milik mereka berdua. Malam itu memang gelap. Terjadi pemadaman listrik secara bergiliran oleh pihak PLN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tiba-tiba lampu di kamar yang hanya terdengar nama Fatih dan Fatimah menyala. Kedua pasangan pembantu rumah tangga itu bersitatap malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Mengapa mama menyebut nama Pak Fatih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Nuduh, papa yang selalu menyebut nama Ibu Fatimah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Mama tidak mencintaiku lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Papa yang tidak mencintaiku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ssst! Nanti kedengaran oleh Pak Fatih dan Ibu Fatimah.” Sampara meletakkan jari telunjuk di hidungnya karena mendengar ada gerak langkah mendekati kamarnya. Sampara dan Samara semakin deg-degan, langkah itu kian dekat. Mereka berdua bersegera berkemas sesopan mungkin. Dan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Tok! Tok! Tok!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sampara membuka pintu. Wajah Sampara dan Samara memucat karena majikannya sudah berdiri di depannya. Sampara dan Samara tak berani melihat majikannya. Keduanya hanya menunduk seolah sudah tahu apa kesalahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Sampara!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Samara!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Cintailah diri sendiri! Cintailah isterimu! Cintailah suamimu! Jangan mimpi macam-macam! Besok tidak boleh lagi nonton teve.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Awas kalau kamu mengganggu suamiku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Awas kalau kamu mengganggu isteriku.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sampara dan Samara semakin ketakutan dan tak berani mengangkat kepala. Tapi hati keduanya berangsur tenang karena kedua majikannya bergegas meninggalkan mereka setelah mengancamnya. Pak Fatih dan Ibu Fatimah hanya bisa menggeleng-geleng kepala sambil tersenyum. Ternyata diam-diam, para pembantunya mengidolakan mereka berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Papa memang cakep, mirip Hengky Tornando.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ah mama! Mama yang mirip Beby Silvia.”&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Pqdy5X3bGc8/TZrt8bbBvLI/AAAAAAAAACA/n6Po7Zm8DMs/s1600/GAYA%2BMALAYSIA.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="206" width="182" src="http://3.bp.blogspot.com/-Pqdy5X3bGc8/TZrt8bbBvLI/AAAAAAAAACA/n6Po7Zm8DMs/s320/GAYA%2BMALAYSIA.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pak Fatih dan Ibu Fatimah bersitatap mesra. Tapi kemiringan tatapannya seperti pura-pura. Lalu keduanya bergegas masuk kamar. Pak Fatih sudah tak tahan ingin membayangkan wajah sekretarisnya di kantor yang selalu sok sibuk keluar masuk ruang kerjanya. Ibu Fatimah bahkan sudah merinding membayangkan pelukan teman sekantornya yang selalu menemaninya makan siang di luar kantor walau masih jam sepuluh pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Cerpen “SAMPARA DAN SAMARA” dimuat Harian Fajar, Ahad 18 Juli 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-1823125261847070893?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/1823125261847070893/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/04/cerpen-dul-abdul-rahman-sam-para-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/1823125261847070893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/1823125261847070893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/04/cerpen-dul-abdul-rahman-sam-para-dan.html' title='CERPEN dul abdul rahman: SAM PARA DAN SAMARA'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-Pqdy5X3bGc8/TZrt8bbBvLI/AAAAAAAAACA/n6Po7Zm8DMs/s72-c/GAYA%2BMALAYSIA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-1880690667580621584</id><published>2011-03-17T23:47:00.000-07:00</published><updated>2011-03-17T23:47:16.647-07:00</updated><title type='text'>dul abdul rahman, MELESTARIKAN HUTAN DALAM SASTRA</title><content type='html'>Oleh : Dul Abdul Rahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak bisa dipungkiri bahwa lingkungan kita saat ini masuk dalam kategori krisis. Banyaknya bencana alam yang menimpa negeri ini karena alam dijamah dengan serakah oleh manusia yang berwajah tak ramah. Jamak manusia terlalu tamak mengeruk hasil hutan untuk kepentingan pribadi. Mereka tidak sadar bahwa ulahnya itu akan menimbulkan amarah alam di kemudian hari. Banjir bandang, erosi, longsor, adalah bahasa alam untuk menegur manusia yang kadang tak berperikemanusiaan dan berperikealaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan amarah alam itu, maka krisis lingkungan terjadi di berbagai aspek, seperti krisis air, tanah, udara, bahkan krisis iklim. Bukan hanya itu, pun terjadi krisis lingkungan biologis dan lingkungan sosial. Krisis lingkungan biologis terjadi dengan tidak produktifnya lahan-lahan pertanian, pun punahnya flora dan fauna berupa satwa-satwa langka disekitar kita seiring dengan semakin menipisnya hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah akibat dari eksploitasi lingkungan yang semena-mena tanpa memikirkan efek yang akan ditimbulkannya kelak. Fenomena seperti ini seharusnya menyadarkan kita akan pentingnya menjaga dan “menghormati” lingkungan sekitar kita. Semua pihak seharusnya berperan mendorong sikap menjaga lingkungan, termasuk para sastrawan.&lt;br /&gt;Untuk itu, saya mencoba mengemukakan gagasan-gagasan pelestarian hutan dalam novel saya Pohon-Pohon Rindu(PPR). Ada beberapa hal yang dikemukakan dalam novel tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama. Kampanye mencintai hutan dan lingkungan sekitar seharusnya dilakukan secara dini. Kalau di perguruan tinggi dikenal organisasi pencinta alam semisal KORPALA (Korps Pencinta Alam), MAPALA (Mahasiswa Pencinta Alam), atau apapun namanya. Maka sebaiknya organisasi semacam ini harus diaktifkan pada siswa-siwa SMU. Hal ini dimaksudkan agar gerakan mencintai alam dan lingkungan mengakar di daerah-daerah dimana terletak hutan-hutan yang perlu dijaga dan dilestarikan. Dalam PPR, sekolompok siswa membentuk kelompok pencinta alam yang disebut Kompita. Program utamanya adalah menjaga hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Kami peduli Hutan Lindung Balang. Setiap hari minggu, kami menyusuri Hutan Lindung Balang. Setiap ketemu warga, kami memberikan pengarahan mengenai betapa pentingnya menjaga kelestarian hutan. Kami menjelaskan bahwa hutan sangat berperan dalam menjagaa ekosistem alam. Hutan berfungsi sebagai paru-paru dunia. Hutan menjaga kestabilan udara. Di samping itu, hutan mencegah terjadinya banjir bandang. Intinya merusak hutan berarti merusak kehidupan itu sendiri.” (PPR hal 89)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua. Local wisdom (kearifan lokal) harus diperhatikan. Termasuk penamaan dari hutan itu sendiri menjadi “hutan lindung”. Istilah ini sebaiknya diganti menjadi “hutan adat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Menurut pendapatku, sebaiknya pemerintah tidak lagi memakai istilah hutan lindung, tetapi diganti saja dengan istilah hutan adat. Nama hutan adat lebih sakral daripada hutan lindung. Aku yakin, masyarakat takut membabat hutan adat karena terkait dengan hukum adat dan mitos setempat, sedangkan hutan lindung cuma penamaan saja, bahkan kadang tidak terlindungi.” (PPR hal 205)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga. Belajar pada kearifan orang Kajang di Bulukumba dalam menjaga dan memperlakukan hutannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Masyarakat boleh menebang pohon di hutan, tetapi harus ada izin dan pertimbangan dari ammatoa dulu, karena hutan dan pohon terkait pasang, pertimbangan dari ammatoa mencakup jumlah, ukuran, tujuan penggunaan, serta jenis kayu yang akan diambil. Masyarakat yang menebang pohon harus menggantinya. Setiap penebangan satu pohon harus diganti dengan menanam dua pohon yang sejenis di lokasi yang ditentukan oleh ammatoa. Masyarakat yang sudah diberi izin menebang pohon diawasi oleh orang-orang kepercayaan ammatoa, tetapi ada kawasan hutan yang tak boleh ditebang sama sekali yaitu borong karamaya.” (PPR, hal 194)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat. Memaknai bahwa bumi adalah ibu yang harus dicintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Ibu dan ibu pertiwi adalah dua hal yang harus disayang karena dari keduanyalah sumber cinta dan kasih sayang yang suci. Agar seorang anak tumbuh dengan sehat dan cerdas, ia harus menyusu pada ibu. Dan, bila anak itu sudah dewasa dan ingin hidup bahagia dan sejahtera, maka ia harus menyusu pada ibu pertiwi. Bila ibu dan ibu pertiwi murka, maka tidak ada lagi kehidupan. Dan, yang paling harus dicamkan oleh semuanya adalah bahwa murka ibu dan murka ibu pertiwi merupakan murka Tuhan.” (PPR hal 237)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima. Mengkampanyekan bahwa bumi itu adalah perempuan yang harus dijunjung tinggi. Sehingga seorang perempuan menjaga hutan karena sama dengan menjaga eksistensi dirinya sendiri. Pun kaum adam menjaga hutan karena sama dengan menjaga isteri, ibu, atau kekasihnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Perempuan lebih menjiwai perannya sebagai anggota Kompita (Kelompok Pencinta Alam) karena alam identik dengan perempuan. Umar mengatakan bahwa alam memang berjenis kelamin perempuan. Buktinya, kita hanya menyebut ibu pertiwi bukan bapak pertiwi, atau ibu kota bukan bapak kota.” (PPR hal 95-96)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam. Memaknai secara filosofis bahwa hutan adalah sosok kekasih yang harus dicintai dan dijaga keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Aku berjanji akan menjaga dan melestarikan kawasan Hutan Lindung Balang sebagai tempat peristirahatanmu yang terakhir duhai cintaku. Aku akan menjaga seluruh hutan di Sinjai, bahkan di seluruh Indonesia dan dunia yang akan aku kunjungi kelak. Jangan lagi ada penggundulan hutan di sini. Jangan lagi ada penggundulan hutan di sana. Jangan lagi ada banjir bandang di sini. Jangan lagi ada banjir bandang di sana. Jangan lagi ada air mata yang membandang karena tertimpa banjir bandang. Maka tersenyumlah duhai pepohonan. Tersenyumlah duhai hutan. Tersenyumlah duhai kekasihku.” (PPR hal 349) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, semoga saja poin-poin yang penulis ungkapkan di atas bisa menjadi bahan pertimbangan bagi siapa saja. Karena peran sebagai penjaga lingkungan seharusnya menjadi tanggung jawab bersama sehingga kita bisa mendapatkan lingkungan yang baik sebagaimana tertera dalam UU RI No.23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Setiap orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.&lt;br /&gt;    * Setiap orang mempunyai hak atas informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dan pengelolaan lingkungan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menutup tulisan ini, sebagai “penjaga lingkungan”, mari mencamkan dialog Tuhan dengan Malaikat yang tertera dalam Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 30: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman pada malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Malaikat berkata: “Mengapa Engkau akan menjadikan khalifah di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau”. Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga saja kita bukan khalifah yang sejak awal sudah diwanti-wanti oleh malaikat untuk membuat kerusakan di bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sastrawan dan peneliti budaya, Pengarang novel bertema lingkungan “Pohon-Pohon Rindu” aktif bersastra di Makassar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Tulisan:&lt;br /&gt;- www.aceh.tribunnews.com&lt;br /&gt;- www.publiksastra.com&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-vQVzl-Ym5oY/TYL_63vkg-I/AAAAAAAAAB4/fFbgRufpbUg/s1600/BUKU%2B2%2BPOHON-POHON%2BRINDU.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="226" src="http://4.bp.blogspot.com/-vQVzl-Ym5oY/TYL_63vkg-I/AAAAAAAAAB4/fFbgRufpbUg/s320/BUKU%2B2%2BPOHON-POHON%2BRINDU.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-1880690667580621584?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/1880690667580621584/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/03/dul-abdul-rahman-melestarikan-hutan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/1880690667580621584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/1880690667580621584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/03/dul-abdul-rahman-melestarikan-hutan.html' title='dul abdul rahman, MELESTARIKAN HUTAN DALAM SASTRA'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-vQVzl-Ym5oY/TYL_63vkg-I/AAAAAAAAAB4/fFbgRufpbUg/s72-c/BUKU%2B2%2BPOHON-POHON%2BRINDU.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-554395931454475763</id><published>2011-03-14T05:27:00.000-07:00</published><updated>2011-03-14T05:27:52.129-07:00</updated><title type='text'>DUL ABDUL RAHMAN, MENULIS UNTUK KEBANGKITAN BUDAYA SULAWESI-SELATAN</title><content type='html'>OLEH: MUHAMMAD NURSAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MESKIPUN kamu tidak punya apa-apa, tidak punya banyak uang. Tapi, jika kamu punya sesuatu yang bisa diwariskan dan bisa membuatmu dikenang, itu sudah lebih dari cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata itu meluncur dari mulut Dul Abdul Rahman. Sekira pukul 10 pagi, saya baru tiba di kediaman pribadi novelis Sulsel yang cukup produktif ini. Suasana di kediamannya cukup sepi. Dia tinggal seorang diri. Namun kesendiriannya itu terobati oleh buku-buku yang terpajang di rak pada kedua sisi dinding di rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengamati rak buku tersebut. Didominasi oleh buku sastra dan budaya. Ada pula buku agama serta filsafat. Beberapa buku yang terpajang mencolok merupakan karyanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama lengkapnya Abdul Rahman R, namun dia lebih dikenal di dunia sastra sebagai Dul Abdul Rahman. Bagi pembaca setia Halaman Budaya FAJAR, tentu sudah tak asing lagi dengan nama ini. Saking produktifnya menulis tentang sastra dan budaya, nyaris tiap bulan tulisannya muncul di halaman tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bang Dul, demikian sapaannya, mengaku mulai aktif menulis sejak masih duduk di bangku SMA. Saat itu karya-karyanya sudah dimuat di Surat Kabar Harian (SKH) Mimbar Karya. Kemudian pada tahun 1993 dia terdaftar sebagai mahasiswa Unhas. Pada kurun waktu 1993 hingga 1997, dia cukup produktif menulis cerpen dan puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seusai kuliah, saya menjadi dosen yayasan di STIMIK AKBA. Hingga lima tahun setelahnya, saya hanya fokus bekerja sebagai dosen dan vakum berkarya," tuturnya mengenang kembali masa-masa paceklik karya yang dialaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, Harian FAJAR punya andil besar membangkitkan kembali semangat Dul Abdul Rahman untuk menulis. Dia kembali menggeluti dunia tulis menulis setelah terpilih sebagai Dewan Pembaca Harian FAJAR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Awal kebangkitan saya menulis, ketika menjadi anggota Dewan Pembaca Harian FAJAR pada 2002 silam. Ketika itu, saya diberi tugas membaca dan mengamati Harian FAJAR edisi Minggu. Di situ saya melihat, banyak yang menulis asal saja, tanpa menggali nilai-nilai budaya yang ada di Sulsel. Sejak itu hingga sekarang, saya bertekad menekuni dunia sastra dan budaya," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang penulis dan pekerja budaya, Dul Abdul Rahman bertekad memperkenalkan Epos La Galigo melalui novel. "Proyek besar"-nya saat ini adalah berusaha menovelkan kitab La Galigo dengan bahasa populer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"La Galigo adalah karya besar serupa Mahabarata dari India. Sayang sekali tidak ada gaungnya karena tidak ada pembacanya. Saya sedang menyiapkan novel trilogi tentang La Galigo," terang alumni SMA Negeri 1 Bikeru Sinjai ini. (muhammadnursam@ymail.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Harian Fajar, Ahad 13 Maret 2011&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-_jlcmZzwYdk/TX4Jv-ICnLI/AAAAAAAAABw/mlA6BQHsg9c/s1600/dul%2B3.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="173" width="300" src="http://2.bp.blogspot.com/-_jlcmZzwYdk/TX4Jv-ICnLI/AAAAAAAAABw/mlA6BQHsg9c/s320/dul%2B3.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-554395931454475763?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/554395931454475763/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/03/dul-abdul-rahman-menulis-untuk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/554395931454475763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/554395931454475763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/03/dul-abdul-rahman-menulis-untuk.html' title='DUL ABDUL RAHMAN, MENULIS UNTUK KEBANGKITAN BUDAYA SULAWESI-SELATAN'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-_jlcmZzwYdk/TX4Jv-ICnLI/AAAAAAAAABw/mlA6BQHsg9c/s72-c/dul%2B3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-4615528397617591281</id><published>2011-03-14T05:24:00.000-07:00</published><updated>2011-03-14T05:24:20.018-07:00</updated><title type='text'>DUL ABDUL RAHMAN, BELAJAR SASTRA DARI SANG AYAH</title><content type='html'>ANAK tertua dari enam bersaudara ini, semasa kecil hingga tamat SMA, bermukim di Kabupaten Bulukumba bersama kelima saudara dan orang tuanya. Ayahnya bernama Rappe Nangko Daeng Patahang, dan ibunya bernama Suleha. Dia memiliki nama kecil Beddu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dul mengisahkan, sejak kecil ayahnya sering mendongeng untuknya dan adik-adiknya sehabis mengaji. Dongeng tersebut merupakan hadiah ayahnya karena telah melaksanakan salah satu ibadah Islam, mengaji. Dongeng itu ternyata adalah sastra lisan I La Galigo yang telah dihafal luar kepala oleh ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memperlihatkan rekaman gaya bercerita Sang Ayah yang merupakan asli Bone dan Bulukkumba. Kisah dongeng tersebut berbahasa Bugis asli. "Dari kisah yang diceritakan oleh ayah saya itu, saya yakin I La Galigo adalah sastra lisan. Awalnya kisah ini sifatnya inklusif. Hanya diwariskan buat mereka yang berdarah bangsawan," bebernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa kitab La Galigo tidak top seperti kisah Mahabarata dan Ramayana? Itu kata Dul karena kedua kitab tersebut merupakan kitab setengah suci agama Hindu. Sedangkan Kitab I La Galigo sesungguhnya adalah kitab agama Tolotang di Sidrap. Agama ini sangat berbeda dengan Hindu, tapi sayang pemerintah kita menganggapnya sebagai bagian agama Hindu. "Sebagai seorang budayawan, saya berharap agama ini dianggap sebagai agama tersendiri dan diakui," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolotang merupakan agama Bugis Kuno. Pendeta mereka disebut Bissu dan nabi mereka adalah Sawerigading, salah seorang tokoh I La Galigo. "Meskipun ayah saya hanya lulusan SMP, namun beliau sangat cerdas. Dia menghafal isi kitab I La Galigo. Dan itu yang ingin saya tuliskan saat ini," ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alumni Sastra Inggris Unhas ini mengaku, orangtuanya tak memiliki biaya untuk menjadikannya sarjana. Karena itu, sejak kecil dia dan kelima saudaranya telah dibagikan tanah. "Ketika saya hendak kuliah, tanah tersebut dijual untuk pendidikan. Karenanya saya kuliah dengan sungguh-sungguh. Jika saya kuliah lantas tidak mendapatkan apa-apa, sama saja saya mati konyol," tuturnya, mencoba bercanda. (muhammad nursam)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Harian Fajar, Ahad 13 Maret 2011&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-AKKRIl2ZY9E/TX4I7fwDCKI/AAAAAAAAABo/_mbfcKNjAqM/s1600/dul%2B2.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="169" width="300" src="http://1.bp.blogspot.com/-AKKRIl2ZY9E/TX4I7fwDCKI/AAAAAAAAABo/_mbfcKNjAqM/s320/dul%2B2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-4615528397617591281?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/4615528397617591281/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/03/dul-abdul-rahman-belajar-sastra-dari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/4615528397617591281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/4615528397617591281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/03/dul-abdul-rahman-belajar-sastra-dari.html' title='DUL ABDUL RAHMAN, BELAJAR SASTRA DARI SANG AYAH'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-AKKRIl2ZY9E/TX4I7fwDCKI/AAAAAAAAABo/_mbfcKNjAqM/s72-c/dul%2B2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-838156767346158130</id><published>2011-03-14T05:20:00.000-07:00</published><updated>2011-03-14T05:20:18.951-07:00</updated><title type='text'>DUL ABDUL RAHMAN, BULUKUMBA MENGINSPIRASI KARYANYA</title><content type='html'>DIBANDING beberapa kabupaten lainnya di Sulawesi Selatan, termasuk Sulawesi Barat, Bulukumba termasuk daerah yang menurut Dul Abdul Rahman, merupakan gudangnya penulis-penulis bertalenta. Bahkan fiksi pertama yang dibacanya sebuah novel berjudul "Pulau" yang ditulis sastrawan asal Bulukumba, Aspar Paturusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini lanjut Dul, penulis-penulis Bulukumba semakin menggeliat. Regenerasi penulis tersebut, terlihat dari munculnya dua sastrawan muda asal Butta Panrita Lopi tersebut, Anis Kurniawan dan Andhika Mappasomba. "Saya yakin geliat sastra akan semakin kentara di Bulukumba. Dua anak muda itu memang sangat mencintai setengah mati Bulukumba. Semoga Bulukumba juga kian menyayanginya," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Bang Dul, sapaannya, Bulukumba membuatnya selalu meluah hibah, meluah rindu yang tiada terperikan. Bahkan, katanya, ketika menjalani studi S1 di Malaysia, khususnya di Kedah bagian utara, dia serasa berada di Bulukumba. Pohon-pohon karet di Kedah Darul Aman baginya serupa pohon-pohon karet di Bulukumba. Bedanya sebut dia, pohon-pohon karet di Bulukumba kadangkala kejam dan tidak bersahabat dengan para petani. Sewaktu kejadian tragis meninggalnya dua petani di Bulukumba pada tragedi Senin Berdarah 21 Juli 2003 saya berada di Kedah Darul Aman dan menangis mendengar Bulukumba menjadi Darul "tak" aman. "Mengenai gugurnya dua pahlawan petani Barra bin Badulla dan Ansu bin Musa menginspirasiku menulis novel berjudul Pohon-Pohon Meranggas," kisahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dul sendiri, agak membagi cinta, karena meski dilahirkan dari "rahim" Bulukumba, dirinya dibesarkan di Sinjai dari usia 9 tahun. Bahkan pernah menimba ilmu diMalaysia beberapa tahun lamanya. Daerah-daerah tersebut lanjut Dul sangat dia sayang. Dul adalah lelaki Bugis yang menganut filosofi air. Dia sering teringat pesan kakeknya. "Engkau lelaki Bugis anakku. Orang Bugis itu identik dengan air. Air itu akan membentuk seperti tempatnya. Ditaruh di baskom membentuk baskom, ditaruh di bejana bundar membentuk bundar, ditaruh di kolam segiempat membentuk segiempat, ditaruh di tempat yang lonjong membentuk lonjong," ujar Dul menukil pesan kakeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, tanah, air, angin, jagung, padi Bulukumba membentuk embrio tubuhnya. Tubuh yang kemudian mengikuti jejak kisah orang-orang Bugis, sebagai Pasompe' atau perantau. (muhammad nursam)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: HARIAN FAJAR, Ahad 13 Maret 2011&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-zB8kY59JTaU/TX4H_JC_GsI/AAAAAAAAABg/jikr2t3iPqg/s1600/dul%2B1.JPG" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="163" width="300" src="http://4.bp.blogspot.com/-zB8kY59JTaU/TX4H_JC_GsI/AAAAAAAAABg/jikr2t3iPqg/s320/dul%2B1.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-838156767346158130?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/838156767346158130/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/03/dul-abdul-rahman-bulukumba.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/838156767346158130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/838156767346158130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/03/dul-abdul-rahman-bulukumba.html' title='DUL ABDUL RAHMAN, BULUKUMBA MENGINSPIRASI KARYANYA'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-zB8kY59JTaU/TX4H_JC_GsI/AAAAAAAAABg/jikr2t3iPqg/s72-c/dul%2B1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-2526484020701626145</id><published>2011-03-11T02:06:00.001-08:00</published><updated>2011-03-11T02:06:31.070-08:00</updated><title type='text'>CERPEN dul abdul rahman: RAKSASA LOMPOBATTANG</title><content type='html'>RAKSASA LOMPOBATTANG&lt;br /&gt;Cerpen: dul abdul rahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabut masih membungkus pagi di Kampung Pulosandi. Tetapi warga terlihat sudah ramai beraktifitas. Nun jauh di sana terlihat halimun masih setia menyelimuti puncak Gunung Lompobattang dan Gunung Bawakaraeng yang masih terlelap. Semalaman memang hujan turun lebat yang membuat kedua puncak gunung yang dikeramatkan oleh warga Sulawesi Selatan tersebut nampak kedinginan. Lalu perlahan-lahan halimun tersingkap kemudian menghilang ketika sang raja siang muncul menyapa kedua puncak gunung tersebut. Sang raja siang dengan sinarnya menepati janjinya untuk selalu membangunkan kedua raksasa yang setia tidur berdampingan selama ribuan tahun. &lt;br /&gt;Warga di Kampung Pulosandi percaya bahwa mereka harus bangun sebelum matahari membangunkan Raksasa Lompobattang. Menurut kepercayaan mereka yang diwariskan secara turun temurun, apabila mereka didahului bangun oleh Raksasa Lompobattang, maka rezekinya akan menghilang diambil oleh Raksasa Lompobattang tersebut.&lt;br /&gt;Konon, Gunung Lompobattang pada mulanya adalah seorang raksasa sakti yang berperut besar. Raksasa itu sangat kejam. Ia selalu memangsa manusia dan semua hasil tanaman yang ada di wilayah kekuasaannya. Pada suatu ketika Raksasa Lompobattang terlalu kekenyangan dan sangat mengantuk. Lalu raksasa itu tertidur dan hanya akan terbangun sebentar mencari makanan bersama munculnya matahari pagi. Ketika matahari naik sepenggalah maka raksasa itu tertidur kembali. Tapi sebelum tertidur, raksasa lompo battang1 tersebut bersumpah tidak mau lagi memakan daging manusia. Raksasa itu hanya akan memakan hasil tanaman manusia, tetapi raksasa tersebut hanya akan memakan tanaman yang tidak dijaga oleh pemiliknya. Konon Lompobattang memakan tanaman dengan cara mengambil sumange2 tanaman tersebut sehingga tanaman tersebut tidak berbuah dengan baik. Bila Raksasa Lompobattang telah mengambil sumange buah semangka maka buah itu tidak terasa manis lagi, ataukah kalau Lompobattang telah mengambil sumange padi maka bulir-bulir padi tidak padat berisi. Bahkan bila Lompobattang mengambil sumange pohon pisang, maka daun pisang itu langsung memerah kemudian mati, bila pisang sudah berbuah maka buahnya akan menjadi layu, atau warga setempat menyebutnya utti ujaneng3&lt;br /&gt;Warga tidaklah terlalu khawatir dengan kepercayaan akan datangnya raksasa yang akan mengganggu tanaman setiap pagi tersebut, karena mereka adalah pemeluk Islam yang taat yang harus bangun di awal pagi untuk menunaikan sholat Subuh. Maka sesudah menunaikan shalat Subuh, warga langsung beraktifitas seolah berebutan menyambut munculnya matahari dan Raksasa Lompobattang yang datang menawarkan sumange kehidupan. Warga memang juga percaya bahwa Lompobattang juga adalah raksasa yang baik, bila pagi-pagi sekali ingin mengambil sumange tanaman petani, tetapi petani tersebut sudah ada di kebunnya maka sebaliknya Lompobattang akan memberikan tambahan sumange untuk tanaman tersebut. &lt;br /&gt;Pagi yang sejuk kali itu aktifitas warga Kampung Pulosandi terlihat lebih ramai daripada hari biasanya. Hari itu memang dianggap hari baik oleh warga petani jagung untuk acara selamatan memulai memanen buah jagung muda.&lt;br /&gt;Salah seorang petani yang terlihat sangat sibuk mempersiapkan acara selamatan tersebut adalah Mappiasse. Ia adalah tokoh masyarakat di kampung itu sekaligus dianggap sebagai orang yang berada.&lt;br /&gt;Hari itu acara selamatan dimulai dari rumah Mappiasse sebagai tokoh masyarakat. Acara itu dipimpin langsung oleh seorang imam kampung. Imam kampung tersebut yang mengunjungi rumah warga secara bergilir untuk memimpin acara dan doa selamatan. Meski warga melakukan acara selamatan di rumah masing-masing tetapi mereka tetap berkumpul dan berbondong-bondong dari rumah ke rumah mengikuti langkah sang imam kampung.&lt;br /&gt;Di rumah Mappiasse terlihat warga bercengkerama sambil menikmati barobbo4 dan jagung muda. Rumah pertama yang mendapat giliran selamatan biasanya memang mendapat proporsi waktu yang lebih besar karena di tempat itulah awal mula menghadirkan dan mendoakan sumange jagung. Bahkan kalau imam kampung tak mampu mengunjungi rumah-rumah warga, maka cukuplah salah satu rumah yang mewakili saja. Tetapi warga selalu ngotot agar rumahnya dikunjungi oleh sang imam dan warga lainnya agar berkah di rumah mereka semakin melimpah ruah.&lt;br /&gt;Setelah berdoa untuk keselamatan warga dan keberhasilan tanaman jagung, imam kampung tersebut bercerita kepada warga. &lt;br /&gt;“Sebaiknya kita harus berjaga-jaga dan waspada di Kampung Pulosandi ini.”&lt;br /&gt;“Ada apa Pak Imam?” Sergah Mappiasse heran.&lt;br /&gt;“Tadi malam saya bermimpi agak aneh yang mungkin sebagai tanda-tanda akan datangnya suatu musibah secara tiba-tiba di kampung kita ini.”&lt;br /&gt;“Musibah?” Koor warga mendengar cerita imam kampung. Tentu saja warga sangat heran dan ketakutan karena mereka yakin bahwa tidak mungkinlah seorang imam berbohong.&lt;br /&gt;“Begini!” Imam kampung berhenti sejenak untuk memperbaiki letak duduknya. Dengan mimik penuh kesungguhan, ia bercerita. &lt;br /&gt;“Dalam mimpi tersebut, saya melihat Gunung Lompobattang menangis tersedu-sedu di hadapan para gunung yang ada di Sulawesi Selatan, ada Gunung Bawakaraeng, Gunung Latimojong, Gunung Bulusaraung, Gunung Baliase, serta gunung-gunung kecil lainnya di Pulau Sulawesi. Ketika Gunung Latimojong bertanya mengapa ia menangis, Gunung Lompobattang menjawab bahwa ia sangat bersedih hati melihat wilayah kekuasaannya berhasil dikuasi oleh raksasa yang lain. Raksasa tersebut sangatlah kejam dan lalim. Pun raksasa tersebut tidak berperikemanusiaan. Tapi Gunung Lompobattang tak bisa melawannya.”&lt;br /&gt;“Siapa raksasa itu?” Mappiasse memintas pembicaraan imam kampung. Sementara hadirin yang lain sangat serius mendengarkan cerita imam kampung yang agak berbau horror tersebut .&lt;br /&gt;“Saya tidak sempat mendengar penjelasan Gunung Lompobattang selanjutnya karena saat itu tiba-tiba saya berlari menuju rumah saya karena rumah saya tersebut dikepung oleh  raksasa-raksasa bertopeng dan bersenjata yang akan merobohkannya.”&lt;br /&gt; “Apakah mungkin akan ada raksasa-raksasa bersenjata yang akan menembaki kampung halaman kita?” Seorang warga terlihat serius bertanya.&lt;br /&gt;“Ini hanya sekedar mimpi saja,” jawab imam kampung mencoba meredakan ketegangan dan keingintahuan warga tersebut.&lt;br /&gt;“Tapi bukankah mimpi adalah sebuah tafsir kehidupan, Pak Imam?” Seorang warga lainnya nyeletuk.&lt;br /&gt;“Ya, makanya kita harus berhati-hati dan berjaga-jaga di kampung ini. Kuncinya adalah kita harus bersatu padu. Mali siparappe, rebba sipatokkong, malelu sipakainge. Padaidi padaelo, sipatuo sipatokkong.” (Jika hanyut aku akan menolongmu, jika tumbang aku akan menegakkanmu, jika lupa aku akan menyadarkanmu. Seia sekata saling membantu dan saling memajukan). Mappiasse ikut menjelaskan sambil mengutip pepatah Bugis dari kita lontarak5.&lt;br /&gt;Warga terlihat mengangguk-angguk sambil tersenyum-senyum mendengar penjelasan Mappiasse yang sangat mengena di hati mereka. Kemudian mereka melanjutkan acara selamatan sambil berkeliling dari rumah ke rumah dengan dikomandoi oleh imam kampung dan Mappiasse. Meski dihimpit oleh mimpi ditembaki oleh orang-orang bertopeng dan bersenjata, imam kampung tetap bersemangat mengunjungi rumah-rumah warga, saat-saat seperti itu memang ia mendapatkan tambahan uang karena pada acara selamatan tersebut terdapat lipatan daun waru yang berisikan uang dari yang punya hajatan. Daun waru itu diserahkan oleh yang berhajat kepada sang imam pada saat sang imam selesai membaca doa selamatan. Jumlah uang yang diisikan tergantung pada keikhlasan warga. Tapi sekali lagi imam kampung sangat senang karena warga sangat percaya bahwa semakin banyak ‘keikhlasan’ semakin banyak pula rezeki yang akan datang. Untuk perkara ini imam kampung sangat mendukung kepercayaan warga. Bahkan imam kampung merasa tidak afdal ceramahnya tanpa menyinggung makna keikhlasan dalam kaitan ini.&lt;br /&gt;Meski begitu, kebanyakan warga Kampung Pulosandi terlihat murung karena masih terbawa oleh arus cerita imam kampung. Sebagian warga menyesali imam kampung yang menceritakan mimpinya yang dianggap meresahkan warga Kampung Pulosandi. Tetapi sebagian besar warga senang karena cerita tersebut sebagai peringatan buat mereka untuk lebih berhati-hati dan berjaga-jaga. Bahkan selama perjalanan dari rumah ke rumah, Mappiasse sudah merencanakan akan mengaktifkan kembali ronda malam. Ronda malam memang tidak diaktifkan di kampung itu karena selama itu kampung itu aman dan tenteram. Tak ada pencurian, pun tak ada perselisihan. Warga selalu akur dan tafakur.&lt;br /&gt; “Benarkah Raksasa Lompobattang akan bangkit lagi lalu memporak-porandakan rumah dan tanaman-tanaman kita?” Seorang warga kembali bertanya pada Mappiasse.&lt;br /&gt;Sejenak mereka terdiam. Firasat mereka refleks menangkap sesuatu. Sebagai orang desa, biasanya mereka memiliki indera keenam untuk menangkap sesuatu yang akan merugikan mereka. Lalu Mappiase mencoba memecah kesunyian.&lt;br /&gt;“Raksasa Lompobattang itu…” Mappiasse menghentikan kalimatnya karena semua yang hadir mengalihkan perhatian pada seorang warga yang tiba-tiba berlari ke arah rumah Mappiasse. &lt;br /&gt;“Apa yang terjadi Beddu Rassa?” Tanya Mappiasse.&lt;br /&gt;“Di…di bagian u…u…utara, ke…ke…kebun-kebun jagung milik pe…petani di…dibuldozer.”&lt;br /&gt;“Siapa yang membuldozer?” Warga menatap Beddu Rassa dengan heran.&lt;br /&gt;“Ta…tanah pe…petani di…dibuldozer oleh ee…eeee.”&lt;br /&gt;“Oleh raksasa?” Seorang warga yang terus mengingat mimpi imam kampung mencoba menebak.&lt;br /&gt;“Oo…oleh Pe…pe…” Beddu Rassa masih terengah-engah. Tapi warga sudah paham dengan maksud Beddu Rassa.&lt;br /&gt;Warga terlihat kasak-kusuk, Mappiasse terlihat berbincang-bincang dengan imam kampung dan seorang warga yang juga dituakan. Sesaat kemudian, Mappiasse berkata, “Kawan-kawan! Cepat hubungi semua warga yang ada di Kampung Pulosandi ini supaya berkumpul sekarang ini juga.” Semua warga terpencar mengikuti instruksi Mappiasse. Tidak berapa lama kemudian terlihat ratusan warga berkumpul di depan rumah Mappiasse. Mereka membawa apa saja yang mereka anggap bisa membela diri. Parang, batang kayu, batang bambu, bahkan ada juga yang membawa cangkul karena sedang berada di kebun ketika menerima panggilan.&lt;br /&gt;“Ayo semuanya, kita berangkat menuju kebun jagung yang dibuldozer.” Mappiasse memberi aba-aba.&lt;br /&gt;Ketika mereka tiba di lokasi dimana kebun-kebun mereka dibuldozer, mereka langsung dicegat oleh sekumpulan massa yang berpakaian ninja. Pasukan ninja tersebut langsung menyerang rombongan petani yang ingin mempertahankan kebun-kebunnya. Agar tidak terjadi korban di pihak petani, Mappiasse langsung memberi aba-aba.&lt;br /&gt;“Cepat tinggalkan tempat ini! Pasukan Raksasa Lompobattang benar-benar menyerang kita.”&lt;br /&gt;“Bukankah Raksasa Lompobattang muncul di kampung kita hanya pada pagi hari sebelum matahari terbit.” Ujar Beddu Rassa.&lt;br /&gt;“Raksasa Lompobattang sudah menjelma jadi manusia.” Jawab Mappiasse memerintahkan teman-temannya segera meninggalkan lokasi itu.&lt;br /&gt;“Atau mungkin manusia yang menjelma jadi raksasa.”&lt;br /&gt;Tidak ada yang perduli dengan pernyataan Beddu Rassa. Mereka semua berlari menyelamatkan diri.&lt;br /&gt;Sinjai-Bulukumba, 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. lompo battang (Bahasa Makassar) = perut besar&lt;br /&gt;2. sumange (Bahasa Bugis) = spirit&lt;br /&gt;3. utti ujaneng (Bahasa Bugis) = pisang gila&lt;br /&gt;4. barobbo = bubur yang terbuat dari jagung muda&lt;br /&gt;5. lontarak = tulisan yang berisi petuah-petuah dalam bahasa Bugis-Makassar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Koran Fajar, Ahad 6 Maret 2011&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-90bdqQuLVgk/TXn0IcYN4AI/AAAAAAAAABY/VOAxQAGStoY/s1600/RAKSASA%2BLOMPOBATTANG.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="186" width="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-90bdqQuLVgk/TXn0IcYN4AI/AAAAAAAAABY/VOAxQAGStoY/s320/RAKSASA%2BLOMPOBATTANG.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-2526484020701626145?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/2526484020701626145/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/03/cerpen-dul-abdul-rahman-raksasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/2526484020701626145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/2526484020701626145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/03/cerpen-dul-abdul-rahman-raksasa.html' title='CERPEN dul abdul rahman: RAKSASA LOMPOBATTANG'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-90bdqQuLVgk/TXn0IcYN4AI/AAAAAAAAABY/VOAxQAGStoY/s72-c/RAKSASA%2BLOMPOBATTANG.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-7443966254528191960</id><published>2011-03-11T01:41:00.001-08:00</published><updated>2011-03-11T01:41:36.477-08:00</updated><title type='text'>TENTANG dul abdul rahman</title><content type='html'>Dul Abdul Rahman. Bekerja sebagai sastrawan dan peneliti. Ia menamatkan pendidikan menengahnya di SMA Negeri Bikeru Sinjai Selatan pada 1993. Pernah mengenyam bangku kuliah, yakni  Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (1993-1998), Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar (2001-2002), Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin (2004-2009). Aktif bersastra di Indonesia dan Malaysia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan-tulisannya berupa karya sastra, kritik sastra, dan artikel budaya dimuat koran lokal dan nasional di Indonesia dan Malaysia. Buku sastranya yang sudah terbit:&lt;br /&gt;1. Lebaran Kali Ini Hujan Turun (Kumpulan cerpen, Nala Makassar, 2006)&lt;br /&gt;2. Pohon-Pohon Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2009). &lt;br /&gt;3. Daun-Daun Rindu (Novel, Diva Press Yogyakarta, 2010)&lt;br /&gt;4. Perempuan Poppo (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010)&lt;br /&gt;5. Sabda Laut (Novel, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novelnya yang segera terbit:&lt;br /&gt;- Pohon-Pohon Meranggas&lt;br /&gt;- Hutan Rindu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karyanya dijadikan bahan penelitian oleh mahasiswa untuk meraih gelar sarjana bahkan pascasarjana. Novelnya Daun-Daun Rindu dijadikan bahan rujukan oleh banyak mahasiswa di Malaysia dari program diploma hingga doktoral untuk meneliti hubungan Indonesia-Malaysia.&lt;br /&gt;Alamat surat elektronik: dulabdul@gmail.com&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-pRqHzS4Nek0/TXnuR2FohuI/AAAAAAAAABQ/ogVEpRW9ZO4/s1600/darsastra4.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="312" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-pRqHzS4Nek0/TXnuR2FohuI/AAAAAAAAABQ/ogVEpRW9ZO4/s320/darsastra4.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-7443966254528191960?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/7443966254528191960/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/03/tentang-dul-abdul-rahman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/7443966254528191960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/7443966254528191960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/03/tentang-dul-abdul-rahman.html' title='TENTANG dul abdul rahman'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-pRqHzS4Nek0/TXnuR2FohuI/AAAAAAAAABQ/ogVEpRW9ZO4/s72-c/darsastra4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-3855041253823450679</id><published>2011-03-09T04:42:00.000-08:00</published><updated>2011-03-09T04:42:48.247-08:00</updated><title type='text'>Tentang Novel: SABDA LAUT</title><content type='html'>SINOPSIS&lt;br /&gt;SABDA LAUT&lt;br /&gt; Samad adalah anak nelayan kecil yang mempunyai cita-cita untuk bersekolah tinggi-tinggi. Samad bercita-cita ingin bersekolah di sekolah pelayaran BP2IP Barombong selepas menamatkan pendidikan dari SMP Negeri 15 Makassar. Daeng Marewa, ayah Samad, memang sangat mendukung anaknya untuk bersekolah tinggi-tinggi. Daeng Marewa sangat menyesal karena semasa muda dulu ia tidak bersekolah tinggi-tinggi padahal dulu orang tuanya termasuk orang terkaya di daerah Barombong sebelum bangkrut.&lt;br /&gt; Samad mempunyai teman sepermainan bernama Sapri. Ayah Sapri bernama Daeng Bollo juga adalah nelayan kecil yang merupakan teman baik Daeng Marewa, ayah Samad. Tetapi awalnya Daeng Bollo menganggap pendidikan tidak penting karena ia melihat banyak anak yang sudah sekolah tetapi ujung-ujungnya tetap jadi nelayan. Itulah sebabnya Daeng Bollo tidak menyekolahkan anak laki-lakinya Sapri. Padahal Sapri ingin sekali bersekolah seperti halnya Samad.&lt;br /&gt; Akhirnya pada suatu ketika Daeng Bollo sadar akan pentingnya sekolah. Ia mendapatkan pencerahan dari Daeng Marewa. Sapri pun sangat senang bisa bersekolah kembali. Ia pun sangat berterima kasih kepada Samad karena ayah Samadlah yang menasehati ayahnya agar ia disekolahkan.&lt;br /&gt; Samad dan Sapri bisa kembali bersama bersekolah. Tetapi karena Sapri sudah menganggur satu tahun, ia menjadi adik kelas Samad di sekolah. Tetapi kedua anak nelayan kecil ini saling memotivasi dan saling bersaing positif dalam belajar.&lt;br /&gt; Untuk menunjukkan eksistensi mereka sebagai anak nelayan miskin tetapi pintar dan mempunyai tekad untuk bersekolah tinggi-tinggi. Mereka memperdalam bahasa Inggeris mereka dengan belajar otodidak. Bahkan keduanya selalu menggunakan bahasa Inggeris bila bertemu di Sungai Je’neberang atau Pantai Barombong. Hingga akhirnya masyarakat sekitar pun memberi gelar “Bule Pantai Barombong.”&lt;br /&gt; Untuk lebih memacu semangat mereka untuk belajar, mereka juga bertanding untuk mendapatkan ranking tertinggi di kelasnya masing-masing. Yang kalah akan mentraktir yang menang untuk menikmati coto Makassar sesuai dengan kesepakatan mereka.&lt;br /&gt; Sebagai anak muda, bukan hanya bersaing dalam pelajaran, pun mereka bersaing dalam mendapatkan hati perempuan. Perempuan yang menjadi incaran mereka adalah Subihawati, anak seorang haji yang kaya di kampung Barombong. Samad yang merasa lebih senior mengaku kepada Sapri bahwa ia sudah berpacaran dengan Subihawati. Pengakuannya secara sepihak tersebut membuat Samad kian belajar dengan giat. Karena menurutnya, untuk membuat hati Subihawati tertarik padanya, ia harus punya prestasi bahkan kalau perlu ia mengalahkan prestasi Subihawati. Subihawati memang adalah cewek primadona, selain kaya dan cantik, ia juga selalu ranking satu. Samad merasa satu-satunya yang ia bisa andalkan di depan Subihawati adalah prestasi.&lt;br /&gt; Meski bersaing mendapatkan perempuan idamannya, Samad dan Sapri tetap akur dan rukun, bahkan keduanya semakin termotivasi untuk belajar. Mereka ingin membuktikan bahwa anak nelayan miskin pun bisa berprestasi. Kedua ayah mereka pun sangat mengapresiasi anak-anak mereka. Pada suatu ketika Samad dan Sapri mendapatkan hadiah sepeda kumbang dari ayah mereka. Awalnya Samad malu dengan sepeda itu karena teman-temannya di sekolah memakai sepeda keluaran terbaru yang keren seperti sepeda merek United atau Polygon. Tetapi akhirnya Samad bergembira dengan sepeda tersebut.&lt;br /&gt; Hari-hari berlalu, Samad dan Sapri semakin menunjukkan perestasinya, bahkan keduanya menjadi ikon bagi anak-anak nelayan miskin.&lt;br /&gt; Namun terjadi suatu peristiwa yang membuat cita-cita Samad seolah kandas. Ayah Samad, Daeng Marewa mengalamai musibah di laut. Perahunya tenggelam, ia pun meninggal dunia. Samad sangat terpukul dengan musibah yang menimpa ayahnya. Yang membuat Samad semakin masygul karena ibunya juga menderita kelumpuhan. Namun Samad mencoba bangkit. Ia memang sudah mendapatkan doktrin laut dari almarhum ayahnya bahwa ia adalah anak laut. Ia adalah sabda laut. Anak laut bukan sosok penakut apalagi pengecut untuk menjalani hidup.&lt;br /&gt; Lalu untuk menopang kehidupannya, Samad berusaha mengganti peran ayahnya. Tapi ia juga bertekad untuk tetap bersekolah. Samad akhirnya menjadi penjual kue jalangkote keliling kampung Barombong. Kue tersebut dibuat sendiri oleh Samad bersama ibunya. Meski lumpuh, ibunya tetap bisa membuat kue. Samad bertekad untuk membantu ibunya dan adik-adiknya. Tentu saja, sejak menjadi penjual kue keliling dengan sepeda kumbang, prestasi Samad agak menurun. Ia memang harus membagi waktu antara belajar dan bekerja. Tapi Samad tetap senang karena ia mempunyai teman baik yang selalu memotivasinya. Sapri dan ayahnya memang sangat perhatian kepada Samad  &lt;br /&gt; Karena keadaannya itulah, Samad sudah melupakan mimpi-mimpinya untuk mendapatkan Subihawati, anak pak haji. Samad merasa ia tidak pantas lagi mendambakan gadis manis tersebut.&lt;br /&gt; Adalah waktu yang terus berjalan hingga akhirnya tibalah saat pengumuman kelulusan ujian nasional SMP. Menjelang pengumuman kelulusannya, Samad sangat sedih karena ia tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Tetapi ia bertekad bersekolah pada tahun-tahun berikutnya karena selama ia menganggur sekolah, ia akan bekerja keras untuk mengumpulkan uang. Bahkan cita-cita utamanya ingin bersekolah di BP2IP Barombong. Sekolah pelayaran tersebut memang sudah melahirkan ribuan pelaut-pelaut ulung.&lt;br /&gt; Pada hari H pengumuman kelulusan, Samad mengunjungi pusara ayahnya untuk mendoakan arwah ayahnya. Pun ia ingin memohon maaf pada ayahnya karena ia tidak bisa melanjutkan sekolah tahun itu. Tetapi untuk mewujudkan cita-cita almarhum ayahnya, ia bertekad untuk sekolah di tahun ajaran berikutnya. Setelah menerima amplop pengumuman kelulusan, Samad bermaksud membuka amplop tersebut di depan pusara ayahnya. Tetapi lokasi makam ayahnya sangat ramai karena kebetulan lokasi pemakaman tersebut terletak di depan sekolahnya. Padahal hari itu banyak orang tua siswa berdatangan untuk melihat kelulusan anak-anak mereka.&lt;br /&gt; Akhirnya Samad mengayuh sepeda kumbangnya menuju Pantai Barombong. Ketika berada di Pantai Barombong, Samad memang merasa seolah-olah bertemu dengan ayahnya. Samad pun menangis sejadi-jadinya ketika ia membuka pengumuman kelulusan. Ia pun lulus dengan angka tertinggi di sekolahnya mengalahkan prestasi Subihawati.&lt;br /&gt; Samad sedih. Ia menghadap laut. Ia seolah ingin berkeluh kesah pada ayahnya. Airmatanya pun menyatu dengan air laut. Di saat itu tiba-tiba datang seorang perempuan. Perempuan itu adalah Subihawati. Ia datang bersama dengan kakaknya untuk menjemput Samad. Subihawati memang tahu bahwa Samad pergi ke Pantai Barombong.&lt;br /&gt; Subihawati dan kakaknya memang sengaja menjemput Samad atas perintah ayah mereka. Haji Daeng Manaba yang memang dermawan dan kaya bermaksud ingin membiayai sekolah Samad. Setelah Subihawati mengabarkan niat baik ayahnya, Samad menangis karena sangat berbahagia. Tiba-tiba di pelupuk matanya cita-citanya nampak cerah lagi. Pun rasa cintanya pada Subihawati yang memang tidak pernah sirna kian berbunga-bunga kembali. Tapi Samad tidak mau memikirkan tentang perasaannya. Ia sangat menghormati Haji Daeng Manaba dan keluarganya.&lt;br /&gt; Sebelum pulang bersama Subihawati dan kakaknya. Samad pun membasuh wajahnya di Pantai Barombong. Saat itu ia merasa seolah ayahnya tersenyum kepadanya.&lt;br /&gt; “Terima kasih ayahku! Terima kasih lautku” Begitu batin Samad. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-h03ZGrq3TMU/TXd1uhoJsII/AAAAAAAAABI/fjOEw81ytDc/s1600/BUKU%2B5%2BSABDA%2BLAUT.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="213" src="http://1.bp.blogspot.com/-h03ZGrq3TMU/TXd1uhoJsII/AAAAAAAAABI/fjOEw81ytDc/s320/BUKU%2B5%2BSABDA%2BLAUT.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-3855041253823450679?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/3855041253823450679/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/03/tentang-novel-sabda-laut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/3855041253823450679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/3855041253823450679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/03/tentang-novel-sabda-laut.html' title='Tentang Novel: SABDA LAUT'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-h03ZGrq3TMU/TXd1uhoJsII/AAAAAAAAABI/fjOEw81ytDc/s72-c/BUKU%2B5%2BSABDA%2BLAUT.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-1934057774140376550</id><published>2011-03-07T19:38:00.000-08:00</published><updated>2011-03-07T19:38:50.904-08:00</updated><title type='text'>CERPEN dul abdul rahman: PERCAKAPAN BURUNG-BURUNG</title><content type='html'>PERCAKAPAN BURUNG-BURUNG&lt;br /&gt;Cerpen: Dul Abdul Rahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Suatu ketika, berkumpullah segala jenis burung dari seantero mayapada. Mereka ingin membicarakan habitatnya yang mulai terancam. Konon, pertemuan berskala internasional tersebut  diadakan di puncak gunung Bawakaraeng. Ada beberapa alasan mengapa mereka mengadakan pertemuan disana. Mereka memperkirakan jika pembabatan hutan di kawasan gunung itu terus berlangsung, diperkirakan seratus tahun kemudian gunung Bawakaraeng akan menjadi daratan. Erosi dan banjir bandang meluluhlantakkan daerah-daerah sekitarnya. Sementara lempeng Australia yang terus bermesraan dengan pulau Nusa Tenggara akan dikutuk oleh gempa bumi berkekuatan di atas 10 skala richter.&lt;br /&gt; Prediksi tersebut cukup meresahkan bangsa burung. Karena gempa yang hanya berkekuatan 8,9 skala richter mampu memorak-morandakan sebagian negara di kawasan Asia dan Afrika Timur lewat senjata tsunaminya. Apalagi bila berkekuatan di atas 10 skala richter, maka bangsa burung memperkirakan pulau Sulawesi akan tenggelam tanpa senjata perisai yang bernama gunung dan hutan.&lt;br /&gt; Hipotesis bangsa burung mulai menemukan titik-titik kebenaran ketika beberapa sungai yang berhulu di gunung Bawakaraeng ngambek dan mengencingi kawasan sekitarnya. Yang paling emosi adalah sungai Mangottong di Sinjai, karena selain pasirnya dikeruk tanpa permisi lalu diangkut dengan kendaraan plat merah. Pun wajahnya selalu ditampar dengan sampah yang dibawa oleh kendaraan plat merah. Merah berarti darah. Darah harus dibalas dengan darah. Begitulah kemasygulan sungai Mangottong.&lt;br /&gt; Dan. Alasan utama pertemuan diadakan di puncak Bawakaraeng, karena para bangsa burung merasa tempat itulah paling aman saat ini. Apalagi disana sudah bermukim burung Hud-hud yang bermigrasi dari tanah Libanon karena tak kuat menahan kekejaman serdadu Israel yang membumihanguskan kawasan hutan yang subur di kota Tyre. Burung Hud-hud kecintaan Nabi Sulaeman, memang telah diangkat menjadi sekjen Perserikatan Bangsa Burung secara aklamasi. Ia dianggap cakap dan mampu memperjuangkan hak-hak asasai bangsa burung yang selalu terdzalimi.&lt;br /&gt; Laiknya pimpinan sidang, burung Hud-hud mulai membuka sidang dengan mengepakkan sayapnya tiga kali. Semua yang hadir memberikan aplaus panjang dengan berbunyi nyaring. Saking banyaknya burung yang datang, maka sebagian menginap di kawasan gunung Lompobattang. Bagi beberapa burung, menginap di kedua puncak gunung tersebut laiknya menginap di hotel berbintang lima.&lt;br /&gt; ”Hadirin para bangsa burung yang berbahagia. Sebelum kita mengambil kebijakan-kebijakan akan masa depan kita, terlebih dahulu saya memberikan kesempatan kepada kalian untuk menumpahkan segala uneg-uneg. Ingat, ini pertemuan internasional, harap menyebutkan nama asli.” Ujar burung Hud-hud yang bermahkota itu.&lt;br /&gt; Serempak seluruh burung berbunyi gegap gempita pertanda ingin menumpahkan segala keresahannya. Namun burung Hud-hud yang bijak memberi kesempatan pertama kepada burung Penguin. Karena ia adalah burung yang paling jauh kampung halamannya di kutub selatan. Ia juga burung yang paling patah hati karena tidak bisa memeluk angkasa. Maksud hati memeluk angkasa apa daya sayap tak sampai. Selalu bagitulah keluh kesah burung Penguin.&lt;br /&gt; ”Saudaraku sekalian, nama saya sphenisciformes,” Penguin memperkenalkan diri. ”Saya sangat senang berada disini, apalagi ini pengalaman pertama saya berada di gunung. Saya kemari dengan berenang melintasi lautan Atlantik yang ganas. Sebelumnya saya singgah di suatu tempat yang bernama New York.”&lt;br /&gt; ”Wow, sungguh menarik.” Burung yang lain menyela.&lt;br /&gt; ”Nah inilah yang saya mau ceritakan. Di kota New York itu ada tempat perkantoran yang menyontek nama perkumpulan kita. Kalau tak salah, namanya Perserikatan Bangsa Bangsa, mirip dengan nama perkumpulan kita PBB. Yang menjadi persoalan sekarang karena penggunaan nama itu merusak citra nama perkumpulan kita.” Burung Penguin rupanya kelelahan. Wajar memang karena ia melakukan perjalanan yang maha jauh.&lt;br /&gt; ”Teruskan!” Ketua sidang memberi semangat.&lt;br /&gt; ”Begini, ternyata lembaga itu hanya kaki tangan Amerika untuk menggenggam dunia dengan tangan kotornya. Lihatlah lembaga itu impoten tatkala Amerika mengalirkan darah orang-orang Iraq yang tak berdosa. Lihatlah sekarang! Betapa lembaga yang menamakan diri PBB itu sengaja memberi waktu kepada Israel yang notabene teman main Amerika untuk menghancurkan Palestina dan Libanon. Lihatlah! Airmata darah anak-anak Palestina yang tak berdosa dijadikan obat awet muda oleh serdadu Israel.”&lt;br /&gt; ”Buset...! Buset...!” Gemuruh para burung mengutuk kekejaman Israel. Pun pepohonan tak kalah geramnya. Seluruh dahan-dahannya bergoyang kesana kemari seperti menampar serdadu Israel.&lt;br /&gt; ”Hadirin dimohon tenang. Kita sebaiknya berpikir dengan kepala dingin. Kekejaman Israel memang sudah tak bisa lagi ditolerir, tapi....”&lt;br /&gt; ”Huuu....” Belum juga selesai penjelasan burung Hud-hud, burung yang lain memprotes.&lt;br /&gt; ”Baiklah hadirin, sebaiknya masalah ini tak usah kita permasalahkan panjang lebar. Ini masalah politik. Kita harus waspada, jangan sampai kita ikut terjerumus. Baiklah kita persilahkan lagi burung yang lain menceritakan pengalamannya. Burung Hud-hud memang terkenal jago bersilat lidah tapi agak pengecut.&lt;br /&gt; ”Nama saya Leptoptilos Javanicus.” Burung Bangau memperkenalkan diri. ”Saat ini saya menetap di Pulau Jawa, tapi akhir-akhir ini kami sekeluarga resah karena habitat kami tergenang oleh lumpur beracun. Manusia sangat rakus membangun industri tanpa memperhatikan amdal.” Burung Bangau memaparkan penuh haru karena sebagian keluarga mereka menjadi korban lumpur panas nan ganas.&lt;br /&gt; Hadirin terdiam. Pertanda keprihatinan mendalam atas segala musibah yang menimpa. Airmata pepohonan mulai bertitik-titik, tapi ia masih menahan airmatanya sampai mewujud jadi embun esok hari. Dalam diam, angin nan sejuk mencoba menghibur para burung. Ia merayu pepohonan agar dahannya sudi meniup biola walau tanpa dawai.&lt;br /&gt; ”Nama saya Geopelia Striata.” Burung perkutut membelah kesunyian. ”Saya tinggal di pedalaman hutan Kalimantan, tapi hutan Kalimantan sekarang kurang nyaman. Pembalakan liar terjadi dimana-mana.”&lt;br /&gt; ”Krghhh... Dimana-mana manusia memang serakah.” Burung Kondor dari pegunungan Andes terlihat emosi dengan mengerkau ranting pepohonan. Ia terlihat kedinginan karena dari sononya memang leher dan kepalanya tidak berbulu.&lt;br /&gt; Angin barubu dari arah selatan gunung Bawakaraeng terus berkesiur memberi hiburan gratis kepada peserta rapat. Sementara titik-titik embun merintih lirih di dedaunan menunggu pagi. Mereka meratapi kemalangan nasib bangsa burung.&lt;br /&gt; ”Apa kareba? Nama saya Graculla Religiosa.” Burung Beo kelihatan malu-malu memperkenalkan diri. Suaranya serak-serak basah.&lt;br /&gt;  Semua tercengang mendengar penuturan burung Beo. Logat bicaranya terdengar asing. ”Ada apa denganmu burung Beo? Logat bicaramu aneh.” Burung Enggang yang sering disapa Mr. Bucerass Rhinoceros bersuara parau. Ia memang termasuk burung yang disegani karena tubuhnya yang besar.&lt;br /&gt; ”Saya korban perdagangan gelap yang dilakukan manusia. Saya terdampar di sebuah rumah mewah di Makassar. Urat leher saya pecah karena dipaksa bersuara seperti manusia. Manusia sangat egois, hanya memperjuangkan dirinya sendiri dengan embel-embel perikemanusiaan, mereka tidak mengenal arti perikeburunan. Meskipun kata perikemanusiaan dan perikeburunan memang beda tapi maknanya sama, saling menyayangi.” Airmata burung Beo menganak sungai menuju sungai Mangottong, pertanda ia menahan penderitaan yang amat mendalam.&lt;br /&gt; Diam. Tak ada suara. Pun angin, pepohonan terpaku. Hanya bulan sesekali mengintip lewat celah pepohonan. Bintang mengantuk. Langit pucat, seperti tak sanggup lagi menerima bisikan kabut yang menggendong asap hasil pembakaran hutan pulau Sumatra dan Kalimantan.&lt;br /&gt; ”Ceritakanlah kepada kami bagaimana burung Beo bisa lepas dari cengkeraman manusia.” Burung Camar yang biasa dipanggil Thalasseus Bengalensia rupanya sangat tertarik dengan cerita burung Beo.&lt;br /&gt; ”Untungnya, senjata avian influenza yang pernah kita uji cobakan di Inggris dan Cina nyasar ke Indonesia. Karena tuan saya takut terjangkiti firus flu burung, maka ia melepaskan saya.”&lt;br /&gt; ”Bagus! Bagus! Sebelum kita menciptakan senjata yang lebih dahsyat dari flu burung untuk melawan keserakahan manusia, kita dengar dulu cerita burung parkit.” Burung Hud-hud memberi arahan.&lt;br /&gt; ”Nama saya Psitacula Passerina.” Burung parkit memperkenalkan diri. Burung ini memang yang paling kecil di antara burung-burung yang hadir, tapi semangatnya sebesar gunung Bawakaraeng. Cericitnya saja seolah membelah gunung Lompobattang, bahkan menggetarkan gunung Latimojong yang jauh.&lt;br /&gt; ”Keluarga kami tersebar dimana-mana, dari puncak Himalaya sampai lembah sungai Nil. Tapi keluarga kami lebih suka tinggal di pegunungan Jayawijaya Papua. Sayang, hutan disana mulai rusak, bahkan polusi udara tak kalah kejamnya, muntahan mulut Freeport.” Kelompok burung parkit tersedu dalam tangis.&lt;br /&gt; ”Hadirin yang berbahagia, setelah mendengarkan penuturan beberapa teman, tibalah saatnya kita menciptakan senjata ampuh peredam ketamakan manusia.” Burung Hud-hud mengepakkan sayap dua kali.&lt;br /&gt; ”Interupsi ketua sidang.” Teriak buruk Elang.&lt;br /&gt; ”Silakan Mr. Microhierax Caeralescens.”&lt;br /&gt; ”Saya tidak setuju kalau kita menciptakan lagi senjata yang menakutkan manusia. Senjata flu burung sudah membuat mereka ketar-ketir.” Burung Elang nampaknya tak punya rasa dendam.&lt;br /&gt; ”Huuu... ” Koor burung-burung lainnya pertanda tidak setuju dengan burung Elang.&lt;br /&gt; ”Ingat kawan-kawan! Bukankah dengan penyakit flu burung korbannya yang paling banyak adalah kita sendiri,” burung elang tak mau kalah. Pro-kontra pun terjadi. Akhirnya voting pun tak terelakkan. Hasilnya, akan diciptakan senjata ampuh untuk melaknat manusia-manusia yang berlumuran dosa.&lt;br /&gt; ”Baiklah saya persilakan burung Kakatua mengumumkan jenis senjata yang mematikan itu.” Ketua sidang mengarahkan kembali.&lt;br /&gt; Burung Kakatua yang bernama asli Cacatua menjelaskan, ”Baiklah saya akan mengemukakan jenis senjata ampuh itu yang lebih dahsyat dibandingkan dengan flu burung. Tapi jenis senjata itu diperuntukkan untuk kaum pria yang tidak setia kepada istrinya, yang selalu berhubungan dengan perempuan yang bukan istrinya. Gejalanya begini, setiap selesai berhubungan maka alat kelaminnya melepuh dan tak bisa berfungsi lagi.”&lt;br /&gt; ”Lalu apa hubungannya dengan kita?” Burung Punai menyela.&lt;br /&gt; ”Ada hubungannya Mr. Treron Curvirostra, karena ternyata manusia itu melecehkan nama kita, nama burung selalu dipelesetkan.” Burung Kakatua mengakhiri penjelasannya.&lt;br /&gt; ”Tapi mengapa kita begitu kejam, bukankah rasa perikeburunan itu intinya adalah kasih sayang sesama makhluk hidup.” Rupanya burung Elang masih kasihan pada manusia.&lt;br /&gt; ”Kita sebenarnya tidak kejam, kita cuma memberi pelajaran kepada manusia. Penyakit flu burung tidak akan mengjangkiti manusia bila mereka selalu menjaga lingkungannya yang notabene habitat kita juga. Manusia juga jangan asal mengkomsumsi daging burung, bukankah agama mereka mengajarkan konsep halalan tayyiban? Selanjutnya senjata ampuh yang kita akan kirimkan tidak akan mengjangkiti mereka asal selalu menjaga kehormatannya, tidak bergaul bebas.” Burung Hud-hud berusaha meyakinkan rekan-rekannya.&lt;br /&gt; ”Lalu apa nama senjata pamungkas yang baru itu?” Burung Punai penasaran.&lt;br /&gt; ”Kalau flu burung nama aslinya avian influenza karena kita mengadakan uji coba pertama kali di negara Inggris. Sementara penyakit ini kita akan uji cobakan pertama kali di Makassar. Jadi nama aslinya adalah Flu Burung Daeng.&lt;br /&gt; Aplaus panjang. Pertanda setuju dengan nama penyakit yang akan diujicobakan di Makassar. Sementara burung Beo hanya terkekeh-kekeh. Ia mengingat mantan tuannya yang tinggal di Makassar yang pernah membawanya  bertamasya ke jalan Nusantara. Tempat para pasangan selingkuh menghempas birahi.&lt;br /&gt; Akhirnya rapat ditutup dengan seruling angin barubu yang bernada Angin Mammiri ditingkahi goyangan pepohonan berirama Pakkarena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinjai-Makassar,  2006   &lt;br /&gt;1. Cerpen ”PERCAKAPAN BURUNG-BURUNG” dimuat Harian Fajar, Ahad 18 Maret 2007                &lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-aZwaaZ1zapA/TXWkwmpFcVI/AAAAAAAAABA/zi6BDlTnWlM/s1600/darsastra4.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="312" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-aZwaaZ1zapA/TXWkwmpFcVI/AAAAAAAAABA/zi6BDlTnWlM/s320/darsastra4.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-1934057774140376550?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/1934057774140376550/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/03/cerpen-dul-abdul-rahman-percakapan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/1934057774140376550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/1934057774140376550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/03/cerpen-dul-abdul-rahman-percakapan.html' title='CERPEN dul abdul rahman: PERCAKAPAN BURUNG-BURUNG'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-aZwaaZ1zapA/TXWkwmpFcVI/AAAAAAAAABA/zi6BDlTnWlM/s72-c/darsastra4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-3935941564989568760</id><published>2011-03-05T18:57:00.000-08:00</published><updated>2011-03-05T18:57:24.926-08:00</updated><title type='text'>cerpen dul abdul rahman: BANGSAL 076</title><content type='html'>BANGSAL 076&lt;br /&gt;OLEH: dul abdul rahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Triiiiit…Triiiiit…Triiiiit…”&lt;br /&gt; Aku terperanjat. Bunyi itu lagi. Aku hafal betul. Aku sengaja memberi ring tone khusus pada nomor tersebut di HP-ku. Entah siapa. Ia hanya mengaku Bangsal 076. Awalnya aku menganggapnya iseng. Tapi nomor itu hampir tiap malam mengunjungiku. Oleh-olehnya pun selalu menyudutkanku. Seperti malam ini SMS-nya berbunyi: “Beddu. Berhentilah mendendangkan lagu cinta buatku. Cinta bukan khayalan. Cinta adalah realita. Cinta adalah pemenuhan nafkah lahir batin. Ingat! Hidup tak seindah puisi.”&lt;br /&gt; Harga diriku seolah-olah ditelanjangi. Perasaan jengkel berkecamuk di benakku. Sejauh ini aku berusaha memenuhi kebutuhan isteriku. Tiba-tiba ada orang iseng. “Akh, mungkin ada lelaki yang iri melihat kecantikan isteriku,” aku mencoba menenankan batinku. &lt;br /&gt;Isteriku memang amat memesona. Ia blasteran Arab-Ambon. Meski sedikit hitam tapi manisnya melebihi madu Arab. Senyum simpulnya membuat perasaan lelaki berdesir-desir bagai tertiup angin malam yang beraroma birahi.&lt;br /&gt; Meski tiga bulan terakhir, roda ekonomiku carut-marut karena aku di-PHK, perusahaan tempatku mengais rezeki bangkrut sebagai imbas dari krisis ekonomi yang tiada henti. Isteriku tak pernah mengeluh. Soal nafkah batin. Jangan tanya. Setiap selesai aku mainkan lakon-lakon asmaradana, ia selalu mengangkat dua jempol pertanda puas.&lt;br /&gt; “Abang memang striker haus gol.” Selalu demikian bisiknya. Ia tak pernah tahu bahwa aku selalu memesan serbuk Dhab masri pada tetanggaku yang kebetulan naik Tanah Suci. Dhab masri adalah kadal Mesir, berkhasiat untuk obat kuat, yang khasiatnya lebih dahsyat dari sanrego. Telah digunakan oleh para bangsawan Mesir Kuno.&lt;br /&gt; Menurut pengakuan isteriku, aku adalah lelaki pencinta sejati. Romantis. Simpatik. Ia tak pernah tahu bahwa aku telah hafal luar kepala berjilid-jilid mantra kakekku, yang telah menikah empat puluh kali. Sayang, Jaya Suprana dan Muri-nya belum ada waktu itu.&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt; Sejak di-PHK, aku bekerja sebagai satpam di sebuah perusahaan multilevel yang ternama di Makassar. Apa boleh buat. Pekerjaan ini harus kulakoni untuk menopang denyut kehidupanku. Meski pamorku turun, yang penting halal.&lt;br /&gt; Di mata masyarakat, profesiku dianggap kelas gurem. Aku membayangkan mertuaku pasti menolakku mentah-mentah andai ketika kulamar anak gadisnya dulu aku berprofesi sebagai satpam. Untung waktu itu, aku bekerja di sebuah perusahaan. Isteriku apalagi. Pasti ia sangat malu dilamar seorang satpam.&lt;br /&gt; Aku ingat ketika masih kuliah dulu bersama isteriku. Ia pernah bilang, “tampang sih oke, tapi amit-amit deh cuma satpam, gengsi dong.” &lt;br /&gt;Selalu demikian jawabnya ketika kujodoh-jodohkan dengan seorang satpam muda di kampusku. Padahal  wajah Satpam itu lumayan. Sekarang suasananya sudah lain. Aku. Suaminya. Seorang Satpam. Apakah ucapannya dulu masih terekam di file-nya?&lt;br /&gt; Sebenarnya aku telah berusaha mencari pekerjaan lain yang lebih bergengsi. Tapi semua perusahaan yang kukunjungi selalu “No V”(Tidak ada lowongan). Bukan hanya aku yang bernasib demikian. Ribuan pelamar pun gigit jari. Aku sedikit lebih beruntung bisa jadi satpam. Itupun atas rekomendasi isteriku. Ia memang kukenal supel dalam bergaul. Ia kenal baik dengan bos-ku. Itulah sedikit pereda kegelisahanku, karena ia merestuiku jadi satpam. Namun aku tetap berharap dan berusaha suatu saat akan mendapatkan pekerjaan yang lebih bergengsi di mata isteriku.&lt;br /&gt; Sebagai satpam, tentu saja roda ekonomiku tidak semulus dahulu. Itulah sebabnya ketika isteriku merengek untuk ikut bekerja terpaksa kukabulkan. Padahal sejak dulu aku berprinsip, isteri sebaiknya di rumah saja. Cukup aku sebagai suami yang bekerja. Ataupun kalau isteri mau bekerja, cukup di rumah saja, semacam home-industri-lah.&lt;br /&gt; Pak Bora. Bos perusahaan tempatku bekerja sangat senang isteriku bekerja di kantornya. &lt;br /&gt;“Pak Beddu, aku senang isteri Bapak bekerja disini. Ia sangat teliti dan ulet.”&lt;br /&gt;Seingatku, isteriku memang menguasai seluk beluk akuntansi. Bahkan dulu pernah menjadi bendahara di kampus.&lt;br /&gt;Sejak isteriku bekerja, aku terpaksa tugas malam. Isteriku mengusulkan demikian, agar ada yang mengurus anak  Berarti ketika isteriku bekerja aku di rumah. Ketika aku bekerja ia di rumah. Ketika kukonsultasikan pada Pak Bora. Ia bahkan teramat menyetujuinya.&lt;br /&gt;Kini isteriku lebih ceria. Ia sudah bekerja. Aku sangat mendukungnya. Namun, sejak itu badai kegelisahan melanda batinku. Karena sama-sama kerja, kami hanya bisa menikmati malam bersama hanya pada malam minggu saja. Itupun tidak seperti dulu lagi. Isteriku begitu dingin setiap kali aku membuka layar untuk mendayung bersama.&lt;br /&gt;Tapi. Sekali lagi. Badai kegelisahanku laksana Tsunami ketika SMS gelap yang mengaku Bangsal 076 nongol di HP-ku. “Apa yang diharapkan dari lelaki Satpam sepertimu Beddu? Amit-amit deh.”&lt;br /&gt;Rona merah terlukis di wajahku membacanya. ”Penghinaan ini sudah sangat keterlaluan,” pikirku. Tapi siapa? Aku selalu berusaha menghubungi-nya, tapi tak pernah diangkat. Pernah aku menghubunginya, tapi tak pernah diangkat.&lt;br /&gt;Pernah aku menghubunginya lewat wartel, tapi tetap tidak diangkat. Kejadian ini tak pernah kuberitahu isteriku. Aku takut ia salah sangka. Aku takut ia curiga bahwa aku jatuh cinta pada wanita lain. Meski wanita itu menolakku, tapi setidaknya di mata isteriku, aku sudah mencoba menduakannya. Aku tak mau hal itu terjadi.&lt;br /&gt;Aku mencoba melacak sendiri nomor misterius yang mengaku Bangsal 076, tapi aku tak menemukan titik terang. Aku mencoba meraba-raba beberapa kemungkinan. Akhirnya aku membuat kemungkinan yang menurutku paling mungkin. Ia menggunakan angka 076, bila dijumlah menjadi angka 13. Ia berusaha menakuti-nakuti aku. Mungkin ia salah satu cowok yang ditolak oleh isteriku dulu. Aku mencoba membesarkan hatiku.&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;Malam itu tidak seperti biasanya. Aku terlalu lelah. Rasa bosan menggerogoti-ku. Menghabiskan malam dengan melawan rasa ngantuk, telah mengikis tanggul-tanggul tenaga-ku. Aku merasa tak seperti dulu lagi. Kalau dulu aku merasa seperti kadal Mesir yang mampu jungkir-balik memorak-porandakan targetku. Sekarang aku merasa seperti cecak hitam yang hanya mampu menatap iba ekor buntung akibat dipreteli oleh musuh.&lt;br /&gt;Bahkan isteriku yang hobi nonton bola, pernah menyindirku. “Ingat Bang! Biar main cantik tapi kalau tak ada gol, mainnya sia-sia dong. Tandukan Abang tidak sedahsyat dulu lagi.” Isteriku memang ceplas-ceplos. Selalu berterus terang. &lt;br /&gt;Aku memutuskan untuk free malam ini. Aku pikir masih ada temanku satu orang yang jaga. Aku pesan padanya agar Pak Bora tak sampai tahu. “Aku ingin mencoba lagi Dhab masri-ku,” aku tersenyum pada diri sendiri.&lt;br /&gt;“Kok Abang pulang? Biasanya kan pulang pagi.”&lt;br /&gt;Isteriku menyambut kedatanganku begitu dingin, sedingin malam yang menyapa embun-embun yang mulai bertitik-titik.&lt;br /&gt;“Aku ingin bersamamu, Sayang.”&lt;br /&gt;“Malam ini?”&lt;br /&gt;“Ya, malam ini, Sayang.”&lt;br /&gt;“Ta… tapi, malam ini aku ada undangan, Bang.”&lt;br /&gt;“Undangan???”&lt;br /&gt;“Ya, sebagai staf, aku ditunjuk menemani Pak Bora menemui rekan bisnisnya dari Singapura. Pertemuan tersebut tak boleh ditunda-tunda. Katanya ini peluang emas, tidak boleh disia-siakan.”&lt;br /&gt;Hening sesaat. Aku terdiam. Pikiran-ku berkecamuk. Aku merasa tak berharga lagi. Isteriku lebih mengutamakan pekerjaannya daripada aku. Apalagi malam ini ia bersama dengan Pak Bora. Bos-ku sendiri yang selalu tampil parlente. Sedangkan aku? Aku cuma seorang satpam yang tak bisa berpenampilan parlente. Mungkinkah isteriku sudah bosan dengan kehidupanku?&lt;br /&gt;“Kata Pak Bora, cuma tiga jam, Bang.”&lt;br /&gt;“Tiga jam???”&lt;br /&gt;Isteriku segera berangkat. Ia nampak anggun nan memesona. Ada rasa cemburu membuncah-buncah di kelopak hatiku. Tak lupa ia memamerkan senyum simpulnya. Namun aku merasakan tak setulus dulu lagi. Sorot matanya yang dulu polos, tak ada api pencipta segala derita. Kini titik-titik bara menghiasi bola matanya, sepertinya siap menghanguskan sendi-sendi kehidupan-ku. &lt;br /&gt;“Akh, kenapa aku terlalu berburuk sangka pada isteriku? Mengapa aku harus cemburu buta padanya? Bukankah ia isteri yang baik?,” aku membatin.&lt;br /&gt;“Triiiiit…Triiiiit…Triiiiit…”.&lt;br /&gt;Aku terperanjat. Bunyi itu lagi. Aku mengecek HP-ku. Tidak aktif. Aku menoleh ke dalam. Aku terkejut melihat HP Nokia 8800. “Mungkin HP isteriku yang ketinggalan, tapi kapan ia beli HP semahal itu?” Pikirku.&lt;br /&gt;Dengan hati tak karuan, aku mencoba mengangkatnya.&lt;br /&gt;“Bangsal 076 sayangku, aku menunggumu penuh kerinduan, aku sudah tak tahan lagi ingin menikmati malam bersamamu,” suara baritone Pak Bora nyerocos tanpa ba-bi-bu disana.&lt;br /&gt;Tubuhku mendadak lemas. Seluruh persendian-ku kaku. Tulang-tulangku remuk redam. Darahku terasa membeku seolah-olah aku berada di puncak Bawakaraeng di bulan September. Perasaanku yang memang belakangan ini tak karuan, kini semakin tercabik-cabik serupa anak ayam malang yang dicincang oleh sekawanan burung gagak. Di luar, embun yang bertitik-titik yang ikhlas menghias malam menghilang begitu saja, diganti dengan rintihan air hujan. Gulita menyergap malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinjai-Makassar, Agustus 2005    &lt;br /&gt;1. Cerpen “BANGSAL 076” dimuat Harian Fajar, Ahad 18 September 2005                                        &lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-LO7lBovRx6I/TXL4DrG2k5I/AAAAAAAAAA4/lrsxyPmOprg/s1600/darsastra3.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="255" src="http://1.bp.blogspot.com/-LO7lBovRx6I/TXL4DrG2k5I/AAAAAAAAAA4/lrsxyPmOprg/s320/darsastra3.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-3935941564989568760?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/3935941564989568760/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/03/cerpen-dul-abdul-rahman-bangsal-076.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/3935941564989568760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/3935941564989568760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/03/cerpen-dul-abdul-rahman-bangsal-076.html' title='cerpen dul abdul rahman: BANGSAL 076'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-LO7lBovRx6I/TXL4DrG2k5I/AAAAAAAAAA4/lrsxyPmOprg/s72-c/darsastra3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-6588029987792231991</id><published>2011-03-03T18:59:00.000-08:00</published><updated>2011-03-03T18:59:07.790-08:00</updated><title type='text'>CERPEN dul abdul rahman: P I N I S I</title><content type='html'>P I N I S I&lt;br /&gt;Oleh: dul abdul rahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kedatangan perahu pinisi dari Tanah Bugis di Pantai Acapulco yang yang akhirnya karam pada awal abad XV, orang-orang Indian yang mendiami kawasan pantai itu mempunyai ritual khusus. Setiap kali mereka melihat benda asing terapung di laut. Mereka akan membuat ritual khusus di pinggir Pantai Acapulco. Ataukah mereka merasakan angin bertiup sangat kencang yang membuat gelombang tinggi di pinggir pantai itu. Ritual mereka adalah berjoget ria sambil mengacung-acungkan senjata mereka mengarah ke laut. Mereka bermaksud mengusir dan menghalau orang-orang yang akan mendekat yang kemudian akan berbuat jahat kepada mereka. Meski dianggap bangsa primitif, tetapi mereka juga adalah bangsa yang akan menghormati tamu yang datang, asalkan tamu tersebut tidak mengganggu mereka.&lt;br /&gt; Masih pagi-pagi buta ketika kepala suku Indian membunyikan terompetnya. Maka tiba-tiba seperti semut orang-orang berdatangan dengan pakaian khas mereka. Ketika berada tepat di Pantai Acapulco, suku Indian berjoget dan berdendang ria sambil mengacung-acungkan berbagai macam senjata mereka ke arah laut. &lt;br /&gt;Terdengar nyanyian khas mereka. Mereka meniru ucapan orang-orang yang mereka anggap aneh dulu yang pertama kali mengunjungi wilayah mereka.&lt;br /&gt;“Ammiriko!”&lt;br /&gt; “Maksikko!”&lt;br /&gt; Sementara itu pimpinan kapal Portugis yang mencoba mendekati pulau itu memperhatikan tingkah orang-orang Indian tersebut. “Tarian dan nyanyian apakah gerangan? Apakah kawasan ini sudah pernah dikunjungi oleh bangsa lain?” Batin Columbus, pimpinan armada Portugis. &lt;br /&gt;“Apa nama tempat ini?” Columbus bertanya kepada anak buahnya. Tak ada anak buahnya yang menyahut karena mereka juga tidak mengetahui nama wilayah itu.&lt;br /&gt;Anak buah Columbus terus memperhatikan tingkah orang-orang Indian yang aneh dan lucu. Mereka asyik mendengar nyanyian suku Indian tanpa peduli dengan pertanyaan pimpinan armada mereka.&lt;br /&gt; “Hohohoooo…Ammiriko!”&lt;br /&gt; “Hohohoooo…Maksikko!”&lt;br /&gt; Melihat anak buahnya asyik memperhatikan tarian suku Indian, Columbus agak berang. Yang paling membuat Columbus jengkel karena anak buahnya juga berteriak-teriak, “Ammiriko! Maksiko!”&lt;br /&gt;Columbus lalu berdiri dan berkacak pinggang di tengah-tengah anak buahnya. “Ammiriko! Maksikko!” Columbus bergumam. Lalu bertanya lagi kepada seorang anak buahnya. “Vespucci! Apakah kamu adalah musuh mereka?”&lt;br /&gt;“Mengapa tuan bertanya begitu pada saya? Sungguh saya tidak mengenal mereka. ini juga pertama kali saya terdampar di pulau ini bersama tuan.”&lt;br /&gt;“Bukankah mereka terus meneriakkan namamu Ammiriko?” Columbus masih berkacak pinggang..&lt;br /&gt;“Tuan Columbus! Mereka menyebut kata ammiriko, bukan namaku Americo.” Jawab Americo Vespucci.&lt;br /&gt;“Ya sama sajalah, Vespucci. Itu hanyalah penyebutan mereka saja.” Columbus menatap Americo Vespucci. &lt;br /&gt;Americo Vespucci terdiam. Ia nampak mengernyitkan alisnya. Ia seperti berpikir keras. Lalu ia menjawab, “Mungkin saja nama benua ini  bernama Benua Ammiriko.”&lt;br /&gt;“Hah? Benarkah?” Columbus begitu terkejut dengan jawaban Americo Vespucci. Ia cepat bertanya kembali. “Lalu mengapa mereka juga menyebut nama Maksikko?”&lt;br /&gt;“Mereka mungkin menyebut nama daerah ini, Tuan Columbus.” Jawab Americo Vespucci.&lt;br /&gt;Columbus dan seluruh awak kapal mengangguk-angguk dengan jawaban Americo Vespucci akan makna nyanyian orang-orang Indian tersebut.&lt;br /&gt;Columbus dan seluruh awak kapal memandang tingkah orang-orang Indian dari kejauhan. Tiba-tiba Columbus mengepalkan kedua tangannya sambil berteriak-teriak.&lt;br /&gt;“Eureka!” Kita sudah menemukan benua ini, namanya Benua Ammiriko (baca: Amerika). Pun negara yang kita jumpai ini kita beri nama Maksikko (baca: Meksiko).”&lt;br /&gt;“Eureka!!!” Columbus dan pasukannya terus berteriak-teriak dan bernyanyi riang. Mereka sangat yakin, merekalah orang luar pertama yang berkunjung ke daerah itu.&lt;br /&gt;“Vespucci! Tolong dicatat baik-baik lalu disiarkan ke seluruh dunia bahwa kitalah orang Portugis yang pertama kali berkunjung di daerah ini.”&lt;br /&gt;“Maksud Tuan Columbus?”&lt;br /&gt;“Catat baik-baik bahwa Bangsa Portugis yang pertama kali menemukan benua ini. Ini penting! Jangan sampai orang-orang Eropa lainnya mengklaim bahwa merekalah penemu benua ini. Apalagi sekarang sudah banyak orang Eropa yang melakukan pelayaran, khususnya Bangsa Belanda, Spanyol, Perancis, dan Inggris.”&lt;br /&gt;“Baiklah Tuan Columbus.” Jawab Americo Vespucci.&lt;br /&gt;Sementara mereka berdiskusi bagaimana mengabarkan ke seluruh penjuru dunia tentang penemuan benua baru mereka. Orang-orang Indian semakin banyak berdatangan dengan senjata khas mereka. Mereka terus berteriak-teriak, “Ammiriko! Maksikko!”&lt;br /&gt;“Bagaimana ini? Apakah kita mendarat di pulau ini?” Tanya nakhoda kapal.&lt;br /&gt;“Saya pikir, kita mendarat saja. Kita akan membuat tugu sebagai bukti bahwa kita berhasil mendarat dan menemukan benua ini.” Jawab Americo Vespucci.&lt;br /&gt;“Jangan sekarang! Misi ini sangat berbahaya. Lihatlah! Orang-orang disana terus mengacung-acungkan senjata.” Columbus menatap Americo Vespucci.&lt;br /&gt;“Mungkin itu hanya tarian khas mereka untuk menyambut kita sebagai tamu.” Americo Vespucci menimpali.&lt;br /&gt;“Tapi kita harus berhati-hati, tujuan utama kita bukan di kawasan ini. Kita akan mencari sebuah negeri yang kaya akan rempah-rempah. Negeri ini nun jauh disana (baca: Indonesia).”&lt;br /&gt;Semua terdiam mendengar pernyataan Columbus. Mereka berhayal akan mendarat di sebuah pulau yang kaya akan rempah-rempah. Melihat semua bawahannya terdiam, Columbus melanjutkan pembicaraannya.&lt;br /&gt;“Sebaiknya kita berlayar lagi. Kita akan mencari pulau yang kaya akan rempah-rempah sebagaimana perencanaan kita semula.”&lt;br /&gt;Sebagai komandan pasukan di bawah arahan sang pemimpin utama Columbus, Americo Vespucci tidak berani membantah lagi. Ia cepat memerintahkan nakhoda kapal untuk meninggalkan Pulau Acapulco. &lt;br /&gt;Armada mereka perlahan-lahan meninggalkan pulau itu menuju arah lain. Orang-orang Indian semakin berteriak histeris karena tamu yang disambutnya tidak mendekat. Columbus dan rekan-rekannya pun meladeni ucapan orang-orang Indian yang nampak marah. “Ammiriko! Maksikko!” Kedua kosa kata tersebut terus membahana. Namun sang nakhoda kapal tiba-tiba berteriak, “Ada bangkai kapal di depan kita.”&lt;br /&gt;Columbus dan Americo Vespucci segera melihat ke arah depan. “Benar, ada bangkai perahu yang terdampar di sini.” Teriak Columbus.&lt;br /&gt;“Berarti sudah ada orang yang mendahului kita menemukan benua ini.” Ujar Americo Vespucci.&lt;br /&gt;“Jangan bicara keras-keras Vespucci! Jangan sampai orang-orang itu mengetahui pembicaraan kita. Kalau pun sudah ada orang lain yang lebih duluan mengunjungi atau mendarat di pulau ini, tetapi mereka sudah meninggal dibunuh oleh orang-orang barbar tersebut. Artinya mereka belum mengumumkan ke seluruh dunia bahwa mereka mencapai Benua Ammiriko (baca amerika) ini. Jadi tugas Anda sekarang adalah kabarkan ke seluruh dunia bahwa kita telah menemukan benua baru.”&lt;br /&gt;“Baik Tuan Columbus!”&lt;br /&gt;“Ayo cepat kita tinggalkan pulau ini, lihatlah orang-orang barbar itu semakin ramai, nanti kapal kita karam seperti perahu itu.” Ujar Columbus sambil menunjuk bangkai perahu yang terbuat dari kayu tersebut.&lt;br /&gt;“Qua vadis?” Columbus berteriak-teriak kepada nakhoda kapal. Ia geram karena semestinya kapal memutar haluan, tapi nakoda seolah ingin membawanya ke pinggir Pantai Acapulco.&lt;br /&gt;“Angin bertiup kencang Tuan, kapal kita sepertinya terbawa oleh arus.” Jawab nakhoda kapal.&lt;br /&gt;Columbus dan Americo Vespucci terlihat tegang. Wajahnya memucat, mereka membatin, “Kemungkinan saja perahu yang karam itu karena hempasan angin.”&lt;br /&gt;Seluruh awak kapal yang ditumpangi Columbus terlihat ketakutan karena gelombang yang tinggi perlahan-perlahan menghempaskan mereka  ke pinggir pantai, padahal orang-orang Indian terus bernyanyi yang membuat mereka ketakutan. Columbus dan rekan-rekannya tidak mau lagi mengikuti nyanyian orang-orang Indian itu yang terus berteriak, “Ammiriko! Maksikko!”&lt;br /&gt;Di tengah-tengah ketakutan mereka tiba-tiba Americo Vespucci berujar, “Kok lagu-lagu mereka terdengar lain lagi?”&lt;br /&gt;“Ammiriko! Maksikko! Angingmammiri! Pinisi!” Begitulah nyanyian orang-orang Indian.&lt;br /&gt;Tak seorangpun di antara mereka yang mengerti nyanyian orang Indian tersebut. Tapi perlahan-lahan angin mulai reda. Perlahan-lahan pula kapal Columbus meninggalkan Pantai Acapulco. Mereka nampak senang. Lalu di antara awak kapal ada yang berteriak, “Pinisi!”&lt;br /&gt;“Apa maksudmu?” Tanya Columbus.&lt;br /&gt;“Sekedar ungkapan kesenangan saja, Tuan. Bukankah ketika angin berhembus kencang tadi, orang-orang barbar mengucapkan kata itu lalu tiba-tiba angin reda?”&lt;br /&gt;“Mungin kata ‘pinisi’ adalah sebuah mantra agar angin tidak mengamuk?” Columbus mengangguk-angguk.&lt;br /&gt;“Atau bisa saja Pinisi adalah nama perahu yang karam di pantai tersebut.” Ujar Americo Vespucci.”&lt;br /&gt;“Benarkah sudah ada perahu yang bernama Perahu Pinisi pertama kali mengunjungi benua ini?” Ujar seorang awak kapal.&lt;br /&gt;“Hahaha! Itu cuma dongeng belaka! Yang pertama kali menemukan benua ini adalah kita.” Columbus tertawa terbahak-bahak.&lt;br /&gt;“Dongeng? Bukankah ada bukti bangkai perahunya?” Awak kapal tersebut membatin. Ia lebih percaya pada bukti fisik perahu tersebut daripada ucapan Columbus atau Americo Vespucci.&lt;br /&gt;Sementara itu Columbus dan Americo Vespucci terus memikirkan maksud kata pinisi yang diucapkan oleh orang-orang Indian tersebut. &lt;br /&gt;“Vespucci! Mungkin saja ada kaitan antara kata pinisi yang diucapkan oleh orang barbar tersebut dengan nama sebuah bandar di lautan tengan di Italia bernama Venice.” Ujar Columbus.&lt;br /&gt;“Mungkin saja, Tuan. Tapi saya pernah mendengar cerita bahwa Bandar Venica banyak dikunjungi oleh saudagar-saudagar dari berbagai penjuru dunia. Yang paling ramai dibicarakan adalah saudagar-saudagar yang berasal dari benua Asia. Mereka berani menentang lautan hanya dengan perahu yang terbuat dari kayu. Bahkan saudagar-saudagar tersebut membawa rempah-rempah yang sangat kita butuhkan.”&lt;br /&gt;“Hah? Apakah saudagar-saudagar tersebut yang pertama menemukan benua Amerika dan perahu mereka terdampar di Pantai Acapulco?” Columbus resah.&lt;br /&gt;“Bisa saja, Tuan Columbus.”&lt;br /&gt;“Tidak bisa, Vespucci. Benua Amerika ditemukan oleh bangsa Portugis.” Jawab Columbus tegas. Tapi mimiknya resah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;- Ammiriko (Bugis-Makassar) = Bertiup &lt;br /&gt;- Maksikko (Makassar)  = Mengikat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-MvWg4L3IjHQ/TXBVQ74B_gI/AAAAAAAAAAo/EsEOAAt9c7c/s1600/PINISI.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="250" src="http://3.bp.blogspot.com/-MvWg4L3IjHQ/TXBVQ74B_gI/AAAAAAAAAAo/EsEOAAt9c7c/s320/PINISI.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-BZDmO_8v6_s/TXBVbor0lyI/AAAAAAAAAAw/D1NUYbJYZLw/s1600/darsastra1.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="292" width="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-BZDmO_8v6_s/TXBVbor0lyI/AAAAAAAAAAw/D1NUYbJYZLw/s320/darsastra1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-6588029987792231991?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/6588029987792231991/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/03/cerpen-dul-abdul-rahman-p-i-n-i-s-i.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/6588029987792231991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/6588029987792231991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/03/cerpen-dul-abdul-rahman-p-i-n-i-s-i.html' title='CERPEN dul abdul rahman: P I N I S I'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-MvWg4L3IjHQ/TXBVQ74B_gI/AAAAAAAAAAo/EsEOAAt9c7c/s72-c/PINISI.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-6247280794634997549</id><published>2011-02-24T21:38:00.000-08:00</published><updated>2011-02-24T21:38:22.025-08:00</updated><title type='text'>CERPEN dul abdul rahman: W A R I S A N</title><content type='html'>WARISAN1&lt;br /&gt;CERPEN:  dul abdul rahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski malam baru saja menghalau cahaya siang, namun kali ini terasa sunyi sekali. Mendung yang sedari sore datang menyapa sepertinya enggan menyentuh kulit bumi. Hanya sesekali terdengar titik hujan gemercik malu-malu di atap seng yang mulai berlubang. Sayup-sayup terdengar gemerusuk daun-daun tertiup angin. Affif  Hopping terjaga. Matanya awas memandang sekelilingnya. Beribu macam gelisah bercampur sesak bergemuruh di dadanya.&lt;br /&gt;Affif Hopping memandangi adiknya Sitti Delicia. Adik satu-satunya yang menjadi pengharapannya. Andai bukan karena adiknya, mungkin ia telah mengakhiri kembara hidupnya. Ia teramat lelah.&lt;br /&gt;Gemuruh hati Affif Hopping seirama dengan gemuruh angin barubu dari arah Gunung Bawakaraeng. Matanya tertuju pada sebilah keris tua peninggalan ayahnya yang terselip di dinding. Lalu ia pandangi wajah adiknya yang sangat mirip almarhumah ibunya, Radevi. Ibu yang selalu mendekapnya sambil mendendangkan irama lagu khas tanah Ambon. “Aku tak mungkin melukai ibu,” gumamnya.&lt;br /&gt;Affif Hopping kembali menatap keris berhulu tanduk kerbau itu. Ia  menengadah sambil menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya, wajah yang mirip almarhum ayahnya, La Beddu. Ayah yang selalu bercerita setiap menjelang tidur. Cerita tentang kakeknya  yang mempunyai empat puluh isteri. Cerita yang unik karena kakeknya menikahi seekor kerbau sebagai isteri terakhir kemudian menyembelihnya sebagai ungkapan nazar. Kemudian cerita kasmaran Sawerigading yang mencintai I We Tenriabeng. Cerita cinta Romeo dan Juliet yang melegenda. Dan yang tak kalah mengharukannya kisah percintaan antara ayah dan ibunya. “Tidaaak, aku tak mungkin melukai ayah, aku sangat mencintai ayah,” gumamnya sekali lagi.&lt;br /&gt;Gemuruh dalam dada Affif Hopping belum juga reda, namun kali ini ia mulai ragu menancapkan matanya pada keris tua itu. Ia melekatkan matanya pada bingkai foto kedua orang tuanya. Bingkai yang juga penggambaran dirinya dan adiknya.&lt;br /&gt;Affif Hopping mencoba menarik nafas panjang. “Akh pantas saja ayah tergila-gila pada ibu, ibu sangat memesona. Sorot matanya polos, tak ada api pencipta segala benci. Senyumnya ikhlas, tak ada dusta pencipta segala derita. Wajahnya yang keibuan laksana danau jingga, tempat berlabuh segala hati yang resah.”&lt;br /&gt;Gemuruh dalam dada  Affif Hopping sedikit mereda seirama dengan angin barubu yang tak mampu menerobos Gunung Lompobattang. Puas memelototi potret ibunya, ia merasa tak adil kalau tak singgah ke potret ayahnya, namun ia merasa sangat malu ketika melihat sosok ayahnya tersenyum meski goresan-goresan kesedihan bias di wajahnya. &lt;br /&gt;“Akh pantas saja ayah didaulat sebagai pelanjut marga kakek meski saudara-saudara ayah banyak yang cemburu. Ayah sangat mencintai dan mengasihi istri dan anak-anaknya. Ayah sangat bertanggung jawab. Sebagai anak sulung, ayah sosok yang mandiri dan tak bergantung pada kakek. Kadangkala memang ayah nampak egois tapi alasan ayah demi kebaikan kami. Ayah juga adalah sosok pencinta sejati, cinta ayah pada ibu tak pernah pudar meski gelombang-gelombang kehidupan yang menerpanya laksana Tsunami. Menurut cerita ibu, ia menerima cinta ayah setelah dua tahun ayah terus mengejarnya, sungguh sebuah perjuangan.”&lt;br /&gt;Affif Hopping tak sekalipun berpaling dari bingkai foto kedua orang tuanya. Keris yang sedari tadi mengacaukan pikirannya tak digubrisnya, sementara wajah adiknya dan wajahnya sendiri telah menyatu dengan potret kedua orang tuanya.&lt;br /&gt;“Ayah juga sosok yang sangat matang dalam perencanaan, sebelum menikah dengan ibu, ia sudah punya persiapan nama untuk anak-anaknya. Affif Hopping kata ayah bermakna harapan untuk berubah, Sitti Delicia, mungkin nama itu sangat berkesan di hati ayah ketika kuliah dan jatuh cinta pada ibu dulu. Ketika kutanya mengapa nama kami ke-Inggrisan, ayah menjawab bahwa itulah awal perubahan. Akh! Ayah.”&lt;br /&gt;Tiba-tiba gemuruh di dada Affif Hopping berkecamuk lagi ketika ia mencoba menelusuri bait-bait kehidupan kedua orang tuanya. Dan inilah segala pangkal gelisah yang kadangkala membuat mata hatinya tak mampu menangkap cahaya.&lt;br /&gt;“Ayah menikah dengan ibu tanpa persetujuan keluarga ayah. Keluarga ayah terlalu mendewakan marga. Namun cinta ayah pada ibu sekokoh Gunung Bawakaraeng yang tak pernah berpisah dari Gunung Lompobattang. Ayah memilih menikah tanpa taburan beras warna warni. Ayah dan ibu memilih hidup terkucil  dari segala simbol kehidupan dengan beribu macam sabda tabu dan pamali. Ayah tak pernah menyesal.”&lt;br /&gt;Affif Hopping mencoba memejamkan mata. Ia mencoba menghapus segala bayang-bayang duka yang melintas di benaknya ketika orang tuanya dibantai oleh warga atas perintah keluarganya. Ayah dianggap telah mencemarkan nama baik marga. Namun ada tanda tanya menggelayut di benak Affif Hopping. Mengapa warga membiarkan adik dan dirinya hidup? Beribu macam pertanyaan bercampur gelisah mulai berkecamuk di benaknya.&lt;br /&gt;Affif Hopping mencoba membuka matanya sambil berharap ada bayangan cerah hinggap di benaknya, “Andai saja Haji Bandu adalah orang tuaku.” Pikirannya hinggap pada tokoh anutan di kampungnya, seorang guru barzanji yang mempunyai ratusan ekor ternak. Lalu ingatannya kembali hinggap pada sosok Petta Bodde, kepala adat pengganti kakeknya yang tak pernah bijak dalam bertitah.&lt;br /&gt;Angin barubu yang sedari tadi meliuk-liuk mencari celah menembus Gunung Lompobattang mulai mengamuk. Ia merobohkan segala pohon-pohonan yang dijumpainya seirama dengan gemuruh  dalam dada Affif Hopping yang tak mampu menyingkirkan berkilo-kilo batu gunung yang menggelinding di benaknya.&lt;br /&gt;Ada kengerian yang menyeruak ke dalam benak Affif Hopping, matanya terbelalak memandangi potret kedua orang tuanya yang tiba-tiba memegang keris dan siap menghunjam ke dada mereka sendiri.&lt;br /&gt;Affif Hopping melompat dengan sejuta harapan. “Aku harus menyelamatkan marga ayah. Aku harus menjunjung marga ibu,” pekiknya tertahan.&lt;br /&gt;Namun keris telah terhunjam pada potret kedua orang tuanya. Wajah garang penuh kebencian Haji Bandu dan Petta Bodde yang notabene adalah pamannya sendiri dibantu oleh warga desa telah menyatukan potret kedua orang tuanya, adiknya dan dirinya. Sambil mengikhlaskan darah muncrat dari dadanya, ia komat-kamit, ada senyum mengambang di bibirnya, ada rona bahagia menghiasi wajahnya karena kembara kepedihannya telah berakhir tanpa melukai kedua orang tuanya. Senyumnya telah menyatu dengan senyum kedua orang tuanya yang sangat ia rindukan. Inilah malam yang terakhir sekaligus malam terindah buatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinjai, Juni 2005 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Cerpen ”WARISAN” dimuat Harian Fajar, Ahad 17 Juli 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-UT-j-rAwymA/TWdARc4oOVI/AAAAAAAAAAg/SfVl1jvGQNQ/s1600/Persona%2B1.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="211" src="http://3.bp.blogspot.com/-UT-j-rAwymA/TWdARc4oOVI/AAAAAAAAAAg/SfVl1jvGQNQ/s320/Persona%2B1.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-6247280794634997549?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/6247280794634997549/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/02/cerpen-dul-abdul-rahman-w-r-i-s-n.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/6247280794634997549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/6247280794634997549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/02/cerpen-dul-abdul-rahman-w-r-i-s-n.html' title='CERPEN dul abdul rahman: W A R I S A N'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-UT-j-rAwymA/TWdARc4oOVI/AAAAAAAAAAg/SfVl1jvGQNQ/s72-c/Persona%2B1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-6991653008373997077</id><published>2011-02-18T01:52:00.005-08:00</published><updated>2011-02-18T01:52:34.679-08:00</updated><title type='text'>cerpen dul abdul rahman: SPANDUK KERTAS</title><content type='html'>SPANDUK KERTAS&lt;br /&gt;Cerpen: dul abdul rahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebentar lagi pemilihan kepala desa diadakan. Geliat spanduk berkejaran dengan iklan rokok benar-benar telah menyesaki jalanan di pusat desa. Gambar-gambar para kandidat berukuran raksasa mengumbar senyum, seolah menyapa siapa saja yang lewat.&lt;br /&gt; “Bersama kami pendidikan gratis.”&lt;br /&gt; “Pemimpin yang jujur dan amanah.”&lt;br /&gt; “Saatnya kita berubah.”&lt;br /&gt; Begitulah teriakan-teriakan spanduk tanpa lelah mewakili para kandidat kepala desa. Ada juga spanduk berlarian bersama mobil-mobil pribadi, angkutan umum, pun truk-truk yang lalu lalang mengangkut bahan bangunan. Di desa itu benar-benar dilanda demam pilkades, laiknya demam piala dunia, pembicaraan tentang siapa yang paling pantas jadi kepala desa terdengar dimana-mana. Di pasar-pasar, pemandian umum, pun di rumah-rumah penduduk.&lt;br /&gt; “Sudahlah Ma, kita pilih saja Pak Tore.”&lt;br /&gt; “Kita pilih saja Pak Tahir, Pak. Beliau kan sudah turun temurun memimpin desa ini.”&lt;br /&gt; “Lebih bagus Pak Tore.”&lt;br /&gt; “Lebih bagus Pak Tahir.”&lt;br /&gt; Sepasang suami isteri pun tak kalah ramainya memperbincangkan pilihan mereka. Masing-masing berargumen pilihan merekalah yang lebih patut dan bagus.&lt;br /&gt; “Tidak Ma. Pak Tore kan sudah sarjana, lagipula ia sangat peramah. Kalau Pak Tahir kan orangnya pemarah.”&lt;br /&gt; “Tidak Pak, justru Pak Tore lah yang pemarah. Sekarang ia memang peramah demi menarik simpati masyarakat.”&lt;br /&gt; “Tapi….”&lt;br /&gt; “Sudahlah Pak! Pak Tahir kan sudah berpengalaman memimpin desa ini.”&lt;br /&gt; “Tapi, Pak Tahir kan sudah lama jadi kepala desa Ma, katanya kekuasaan yang terlalu lama cenderung korupsi.”&lt;br /&gt; “Papa! Jangan terhasut. Itu cuma teori Pak Tore untuk menggembosi Pak Tahir.”&lt;br /&gt; “Mama!”&lt;br /&gt; “Begitulah Pak.”&lt;br /&gt; “Mama curang.”&lt;br /&gt; “Papa yang curang.”&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt; Ramai orang berkumpul di kediaman Pak Tore. Pak Tore memang lagi mengkonsolidasikan tim kampanye. Ia sangat berharap bisa jadi kepala desa di kampungnya. Pak Tore selalu memanfaatkan setiap peluang yang ada. Namun sampai saat ini, ia belum memperoleh satu pun jabatan yang ia inginkan. Setelah gagal jadi anggota dewan perwakilan rakyat daerah, ia mencoba lagi peruntungan selanjutnya, kepala desa.&lt;br /&gt; “Baiklah! Hadirin yang kami muliakan, sebagai ketua tim pemenangan pilkades, saya menunjuk Pak Sam. Saya pikir Pak Sam mampu mewujudkan keinginan kita semua.” Pak Tore mengumumkan tim suksesnya.&lt;br /&gt; “Setuju! Setuju!”&lt;br /&gt; Koor peserta rapat memberi aplaus. Sementara Pak Sam hanya tersenyum-senyum. Keyakinan terpancar di wajahnya. Ia memang punya massa yang banyak. Hanya satu kendala baginya. Ia harus meluluhkan hati isterinya yang punya massa yang banyak pula yang sudah terlanjur jadi pendukung utama Pak Tahir. Pak Sam dan isterinya memang berbeda partai.&lt;br /&gt; “Bagaimana kalau kita meminta kesediaan Pak Sam dulu.” Seorang peserta rapat mengusul.&lt;br /&gt; “Baik! Kita persilakan Pak Sam.” Pak Tore merespons peserta rapat.&lt;br /&gt; “Saya selalu siap memenangkan Pak Tore.” Pak Sam berapi-api.&lt;br /&gt; “Hidup Pak Tore!”&lt;br /&gt; “Hidup Pak Sam!”&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt; “Hidup Pak Tahir!”   &lt;br /&gt; “Semoga Pak Tahir terpilih lagi!”&lt;br /&gt; Riuh rendah pendukung menyambut kedatangan Pak Tahir pada apel akbar di alun-alun desa. Apel akbar ini sekaligus membentuk tim pemenangan Pak Tahir. Pak Tahir sangat yakin terpilih lagi untuk kesekian kalinya. Disamping karena memang keluarganya yang turun temurun memimpin desa ini, ia memiliki pendukung yang banyak, pun ia memiliki harta yang lumayan banyak untuk mendukung segala keperluan kampanye.&lt;br /&gt; Berbeda dengan Pak Tore yang menunjuk langsung ketua tim suksesnya, Pak Tahir mencoba melibatkan massa pendukungnya. Kali ini ia ingin dicap sebagai demokratis. Yang terpenting baginya bagaimana caranya bisa mempengaruhi rakyat.&lt;br /&gt; “Hadirin yang kami cintai. Siapa kira-kira yang paling tepat menjadi ketua tim kampanye?” Jelas terdengar suara Pak Tahir lumayan lembut dan bijak.&lt;br /&gt; “Bagaimana kalau Ibu Nursiah?” Seorang tokoh masyarakat desa mengusul.&lt;br /&gt; “Kami setuju dengan Ibu Nursiah.” Koor peserta apel akbar di sebelah kiri.&lt;br /&gt; “Bagus! Bagus!” Pak Tahir kelihatan puas. Sebenarnya sejak awal ia menginginkan Ibu Nursiah jadi ketua tim sukses. Ibu Nursiah memang masih ponakan Pak Tahir. Dan alasan yang paling tepat karena suami Ibu Nursiah, Pak Sam sudah diangkat menjadi ketua tim sukses pesaingnya. Tentu saja Pak Tahir bermaksud menggembosi Pak Tore.&lt;br /&gt; “Bagaimana dengan yang lain? Pak Tahir menoleh ke sebelah kanan.&lt;br /&gt; “Sebaiknya kita minta kesediaan Ibu Nursiah dulu.”&lt;br /&gt; “Benar Pak, kita harus mendengar kesediaan Ibu Nursiah dulu, karena kami mendengar kabar suami Ibu Nursiah mendukung calon yang lain.”&lt;br /&gt; “Baiklah, kita meminta tanggapan Ibu Nursiah.” Pak Tahir melirik ke arah Ibu Nursiah. Tapi ia tidak was-was, karena sebelumnya memang sudah ada pembicaraan.&lt;br /&gt; “Saya sangat senang dan bangga menerima amanah ini. Saya berjanji semaksimal mungkin untuk memenangkan Pak Tahir. Soal suami saya yang menjadi pendukung calon lain, saya bisa mengatasinya dengan cara saya sendiri.” Ibu Nursiah bak srikandi.&lt;br /&gt; “Hidup Pak Tahir!”&lt;br /&gt; “Hidup Ibu Nursiah!”&lt;br /&gt; Aplaus panjang menutup apel akbar pemenangan Pak Tahir.&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt; Kesibukan Pak Sam dan Ibu Nursiah menjelang pemilihan kepala desa benar-benar kian meningkat. Sebagai pasangan suami isteri yang masing-masing menjadi ketua tim pemenangan kandidat yang bersaing benar-benar menciptakan dilema. Pak Sam berusaha menarik isterinya dan menggembosi Pak Tahir. Sebaliknya Ibu Nursiah mencoba meyakinkan suaminya dengan pilihannya, lalu menggembosi Pak Tore. Tentu saja yang menjadi korban adalah anak-anak mereka.&lt;br /&gt; “Mengapa ya kak, ayah dan mama selalu berdebat saja akhir-akhir ini.” Si kembar Hayati dan Hayani yang masih duduk di kelas lima sekolah dasar mencoba mengadu kepada kakaknya.&lt;br /&gt; “Ayah dan mama itu berpolitik, jadi mereka harus saling mendebat.”&lt;br /&gt; “Apa itu berpolitik kak?”&lt;br /&gt; “Seperti di teve, saling berdebat, saling mengibarkan spanduk.” Hamid yang duduk di kelas dua SMP kelihatannya cerdas memberi penjelasan kepada adik-adiknya. Ia memang ranking satu di kelasnya.&lt;br /&gt; “Tapi kak, seperti di teve itu, biasanya membawa spanduk lalu berkeliling, berteriak-teriak, kadang-kadang berkelahi.” Hayati menelisik.&lt;br /&gt; “Jadi ayah dan mama nanti juga berkelahi?” Hayani tak mau kalah.&lt;br /&gt; “Ih! Jangan!” Hayati tak menginginkan kedua orang tuanya bermusuhan.&lt;br /&gt; Hamid, anak sulung Pak Sam dan Ibu Nursiah yang terkenal cerdas di sekolah terdiam. Seperti terbawa arus pikiran adik-adiknya yang mengalir begitu saja setelah mendengar penjelasan kakaknya soal politik.&lt;br /&gt; Mendadak Hamid memeluk kedua adik kembarnya. Kelihatan mereka bertiga berbisik-bisik. Entah apa yang dibicarakan. Tapi sepertinya rapat kecil, karena Hamid membisiki kedua adiknya bergantian. Lalu ada juga tos bersama. Mereka bertiga kelihatan cerah. Mungkin begitulah cara anak-anak berpolitik.&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt; Berita politik benar-benar mendominasi berita malam stasiun teve ini malam. Para kandidat saling tuduh, saling tuding, masing-masing merasa yang paling amanah, paling jujur, paling pintar, paling dekat dengan rakyat miskin. Berita teve seirama dengan perdebatan antara sepasang suami isteri yang berbeda pendapat.&lt;br /&gt; “Pak Tore yang paling amanah, Ma.”&lt;br /&gt; “Pak Tahir yang paling amanah,Yah.” Ibu Nursiah tak mau kalah.&lt;br /&gt; “Mama! Pak Tore sudah punya program untuk memajukan desa kita.”&lt;br /&gt; “Pak! Pak Tahir juga sudah punya program sejak dulu. Periode kali ini Pak Tahir berjanji melaksanakan programnya dengan sungguh-sungguh.&lt;br /&gt; Perdebatan Pak Sam dan isterinya semakin meninggi mengikuti irama debat calon kepala daerah di teve.&lt;br /&gt; “Saya yakin Pak Tore yang akan terpilih.”&lt;br /&gt; “Tidak. Pak Tahir yang bakal terpilih.&lt;br /&gt; “Tidak Ma….”&lt;br /&gt; “Ayah!”&lt;br /&gt; “Mama!”&lt;br /&gt; Tiba-tiba dari dalam kamar terdengar ketiga anaknya memanggil. Sejurus kemudian ketiganya muncul bersamaan. Pak Sam dan Ibu Nursiah hanya bisa melongo bercampur malu. Ketiga anaknya membawa spanduk-spanduk kecil yang terbuat dari kertas.&lt;br /&gt; “Ayah dan Mama tidak boleh berpolitik.” Hayati mengangkat spanduknya.&lt;br /&gt; “Ayah dan Mama tidak boleh berkelahi.” Hayani juga mengangkat spanduknya.&lt;br /&gt; “Ayah dan Mama! We are a big family.” Hamid yang juara pidato Bahasa Inggris tingkat kabupaten membentangkan spanduknya.&lt;br /&gt; Pak Sam dan Ibu Nursiah tak bisa berkata apa-apa. Diam. Diam-diam keduanya membatin, “Bunyi spanduk anak-anak kami benar-benar tulus. Bukan kampanye, bukan janji-janji seperti spanduk-spanduk yang kami buat, spanduk yang selalu menawarkan janji, yang selalu saja pemenang kelak punya alibi untuk tak memenuhi janji.” Lalu keduanya bertatapan. Ramah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinjai-Makassar, 2008 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Cerpen “SPANDUK KERTAS” dimuat Harian Fajar, Ahad 10 Agustus 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-6991653008373997077?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/6991653008373997077/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/02/cerpen-dul-abdul-rahman-spanduk-kertas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/6991653008373997077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/6991653008373997077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/02/cerpen-dul-abdul-rahman-spanduk-kertas.html' title='cerpen dul abdul rahman: SPANDUK KERTAS'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-2881284942321527471</id><published>2011-02-12T01:33:00.001-08:00</published><updated>2011-02-12T01:33:51.698-08:00</updated><title type='text'>Cerpen dul abdul rahman: S A R I F A H</title><content type='html'>SARIFAH&lt;br /&gt;Cerpen: dul abdul rahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, aku tak bersalah Pak Hakim.”&lt;br /&gt;“Bagaimanapun, saudara sudah menghilangkan nyawa orang. Anda terjerat pasal pembunuhan berencana. Hukuman pancung mungkin terlalu ringan bagi saudara, apalagi saudara berasal dari negeri seberang.” Hakim menyudahi persidangan ini hari. Amar putusan hakim akan dibacakan pada persidangan terakhir minggu depan, sambil menunggu penasehat hukum terdakwa dari Indonesia.&lt;br /&gt;Ia hanya bisa terpekur. Ia dikepung beribu kecemasan. Awalnya ia mengira gurun pasir adalah ladang emas, ternyata cuma ladang cemas baginya. Tubuhnya mendadak lemas, membayangkan seminggu lagi detik-detik menentukan. Apakah ia akan mengakhiri nasib sialnya di tiang gantungan, atau beroleh ampunan. Padahal berkali-kali ia memelas pada konsuler KBRI supaya nasibnya diperjuangkan. Tapi jawaban yang ia terima sungguh memiriskan.&lt;br /&gt;”Tak ada jalan untuk membebaskan anda, hakim sudah punya alat bukti serta saksi-saksi bahwa anda memang benar-benar menghilangkan nyawa orang, apalagi ini majikan anda. Di negara manapun, ini digolongkan pembunuhan. Karena melakukan pembunuhan disini, maka anda harus diadili disini, tidak mungkin di tanah air.”&lt;br /&gt;Jawaban staf konsuler KBRI serasa hanya menyodorkan aroma maut baginya. Padahal andaikan konsuler KBRI mau ngotot memperjuangkan nasibnya atau pemerintah memperjuangkan lewat jalur diplomatis mungkin hukuman yang akan ia terima lebih ringan.&lt;br /&gt;Berkali-kali ia mengirim surat kepada pemerintah pusat di tanah air agar nasibnya diperjuangkan, tapi yang ia terima hanyalah janji plus doa agar pemerintah disini bisa mengampuninya. Janji dan doa yang mungkin beraroma kematian baginya. Namun ada secercah harapan menggantung di wajahnya ketika ia dengar kabar bahwa ada sebuah LSM di tanah air yang peduli akan nasibnya dengan mengirimkan penasehat hukum. Semoga bisa membantu. Ia amat mengharap.&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;Sarifah. Ia memang bukan siapa-siapa. Ia hanyalah perempuan desa. Pun pendidikannya hanya tamat SLTP. Sebenarnya ia cukup cerdas untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Tapi ia harus mengalah pada kakak laki-lakinya. Meski ia menangis sejadi-jadinya. Merengek-rengek untuk melanjutkan sekolahnya ke jenjang SLTA.&lt;br /&gt;”Ayah tak bisa membiayai sekolahmu Nak. Lihatlah biaya pendidikan makin mahal. Padahal dulu ayah sangat antusias memilih presiden karena katanya bila beliau terpilih pendidikan akan digratiskan.”&lt;br /&gt;”Tapi aku tak mau jadi pengangguran Yah.” Ia terus merajuk&lt;br /&gt;”Nak! Ayah hanya sanggup membiayai sekolah kakakmu, itupun ayah sudah menjual sebidang tanah. Kalau ayah menjual tanah lagi untuk biaya sekolahmu, lalu apa yang harus kita makan nanti?”&lt;br /&gt; Ia hanya bisa terdiam. Tak mungkin ia memaksakan ayahnya dalam kondisi yang sulit seperti sekarang ini. Ia tahu ayahnya hanyalah petani kecil yang harus menanggung hidup keluarganya. Sebagai anak perempuan, cukuplah ia pintar membaca dan menulis saja. Selalu begitu pendapat yang ia selalu dengar di kampungnya. Ia tak kuasa menolak, karena memang alasan ekonomi juga sangat tidak mendukung untuk sekolah tinggi-tinggi.&lt;br /&gt; Meski tak bisa sekolah, ia punya tekad. Kelak ia berjanji untuk menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi. Ia tak akan membeda-bedakan laki-laki atau perempuan. Tapi ia resah, tinggal di kampungnya berarti cuma satu yang ia tunggu. Jodoh. Kalau ada yang melamarnya dan orang tuanya setuju, ia pasti tak kuasa menolak. Sesungguhnya ia tak menampik jodoh, tetapi kalau yang melamarnya hanyalah anak tetangga sebelah, mungkin hidupnya tak jauh beda dengan orang tuanya yang tak mampu menyekolahkan anak.&lt;br /&gt; ”Akh jadi TKW, mungkin ini adalah pilihan terbaik bagiku.” Ia membatin. Dan akhirnya memang ia harus memilih. TKW. Kelak bila ia sudah punya modal, ia akan kembali ke kampung halamannya untuk berbisnis. Pun mungkin yang datang melamarnya bukan lagi anak tetangga sebelah yang kere, tetapi anak juragan dari kampung sebelah. Benak Sarifah pun penuh sesak impian mata uang ringgit Malaysia, atau dollar Hongkong, dan yang paling menyilaukan matanya adalah riyal Saudi. Apalagi yang ia dengar majikan Arab itu paling gampang melayaninya, tapi paling menjanjikan bayarannya.&lt;br /&gt; ”Begitulah Sarifah, laki-laki Arab itu paling suka dipijitin. Mereka tak macam-macam. Karena asal dielus-elus sedikit langsung tertidur. Tapi kamu harus jaga diri.” Begitulah nasehat tetangganya yang pernah jadi TKW di luar negeri melepas keberangkatan Sarifah.&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;Ini hari adalah persidangan terakhir. Mungkin saat-saat menjelang kematiannya. Lembaran-lembaran hidupnya sejak kecil sampai ia dipenjara di negeri gurun pasir itu terekam dalam benaknya. Dalam kepengapan ruang sidang, nafasnya seperti tertahan bersama sesosok lelaki tinggi besar berewok yang mencoba melucuti pakaiannya secara paksa.&lt;br /&gt;Malam itu memang tidak seperti biasanya. Majikan laki-lakinya minta dipijit di kamarnya sendiri. Majikan perempuannya memang lagi keluar kota bersama dua orang anaknya menghadiri acara keluarga.&lt;br /&gt;”Awas! Kubunuh kau bila macam-macam.” Lelaki berewok itu kian beringas.&lt;br /&gt;Sarifah, perempuan desa yang sangat menjaga kesuciannya mencoba mempertahankan diri dengan meronta-ronta. Namun cengkereman lelaki berewok yang bertenaga unta itu teramat kuat baginya.&lt;br /&gt;Di tengah ketidakberdayaannya, serta tekad untuk mempertahankan kesuciannya, ia pun kalap. Ia meraih pisau yang tadi ia gunakan mengelupas buah untuk majikannya. Cresss...!&lt;br /&gt;”Pembunuh! Pembunuh!”&lt;br /&gt;”Gantung! Pancung!&lt;br /&gt;”Perempuan laknat. Jahanam. Tak tahu diri.”&lt;br /&gt;Teriakan dan hujatan dari orang-orang  yang menghadiri sidang membuyarkan lamunan Sarifah. Mereka adalah para keluarga almarhum majikannya, termasuk isteri dan anak-anaknya.&lt;br /&gt;”Bagaimana saudara terdakwa? Apakah saudara memang benar-benar sengaja membunuh majikan saudara?” Hakim mempersilakan terdakwa.&lt;br /&gt;”Sungguh aku tak bermaksud membunuhnya Pak Hakim, aku hanya mempertahankan kehormatan diri dan harga diri.”&lt;br /&gt;”Kehormatan diri? Harga diri?”&lt;br /&gt;”Ya Pak Hakim, ia mencoba....”&lt;br /&gt;”Cukup!” Hakim langsung memotong penjelasan terdakwa.&lt;br /&gt;”Rupanya saudaralah yang tak tahu diri. Padahal saudara sangat beruntung ada majikan disini yang siap mempekerjakan saudara. Pun pemerintah disini menerima saudara dengan tangan terbuka.” Jaksa penuntut umum memberikan pendapatnya.&lt;br /&gt;Sarifah tak bisa berkata apa-apa. Detak jantungnya kini ibarat derap langkah malaikat maut yang menjemputnya.&lt;br /&gt;Kini ia baru sadar akan kebenaran cerita rekan-rekannya bahwa jarang sekali ada TKI yang berperkara dengan majikan disini terbebas dari hukuman. Apalagi kalau soal pembunuhan. Hukum kisas berlaku. Apalagi memang diplomasi Indonesia sangat lemah. Sehingga majikan disini merasa aman-aman saja bila memperkosa perempuan dari Indonesia.&lt;br /&gt;”Baiklah! Sebelum memutuskan perkara, terlebih dahulu hakim mempersilahkan terdakwa berkonsultasi dengan penasehat hukum dari negaranya.” Suara hakim memberi sejumput asa buat Sarifah.&lt;br /&gt;”Cuma satu cara untuk menyelamatkan jiwa anda. Dulu, pernah ada perempuan berdarah Amerika yang membunuh seorang lelaki Arab yang hendak memperkosanya. Ia terbebas dari hukuman kisas, karena ternyata disini memperkosa adalah perbuatan laknat yang harus dihukum.”&lt;br /&gt;”Maksud bapak?”&lt;br /&gt;”Begini, anda harus mengaku bukan orang Indonesia.” Penasehat hukum bantuan dari LSM di Indonesia cukup jeli menemukan ide. Apalagi memang wajah Sarifah agak Indo dengan hidung mancungnya, plus kulit putih bersih. Belanda memang bukan hanya menjajah Indonesia dulu, tapi juga menjamah perempuan Indonesia.&lt;br /&gt;” Tapi aku orang Indonesia asli, Pak.”&lt;br /&gt;”Anda hanya berpura. Nama Indonesia buat mereka para hakim tak menakutkan  sama sekali.”&lt;br /&gt;”Bagaimana pun aku sangat mencintai tanah air, Pak.” Sarifah bak srikandi.&lt;br /&gt;”Makanya, kalau anda masih ingin kembali ke tanah air dengan selamat, lakukan apa yang kusarankan.” Penasehat hukum dari Indonesia bergegas meninggalkan jejak kengerian yang akan menginjak-injak tubuh Sarifah bila ia tak mau menuruti nasehatnya.&lt;br /&gt;”Aku bukan orang Indonesia?” Sarifah terus membatin.&lt;br /&gt;“Mungkin memang aku bukan orang Indonesia saat ini, tetapi suatu saat aku bisa benar-benar jadi orang Indonesia. Sekaligus menjadikan nama Indonesia tidak dilecehkan di luar negeri.”&lt;br /&gt;Kali ini Sarifah mengikuti seluruh saran penasehat hukumnya. Ia seolah diliputi sejuta mimpi dan harapan. Ia teringat bahwa banyak pemimpin-pemimpin negara saat ini dipegang oleh kaum buruh. Tapi ia tidak muluk-muluk. Ia hanya teringat masa kecilnya yang bercita-cita memperjuangkan nasib perempuan Indonesia. Mungkin ia tidak tahu, bahwa sesungguhnya di Indonesia ada yang namanya Menteri Pemberdayaan Perempuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makassar, 22 Desember 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Cerpen ”SARIFAH” dimuat Harian Fajar, Ahad 17 Juni 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-2881284942321527471?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/2881284942321527471/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/02/cerpen-dul-abdul-rahman-s-r-i-f-h.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/2881284942321527471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/2881284942321527471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/02/cerpen-dul-abdul-rahman-s-r-i-f-h.html' title='Cerpen dul abdul rahman: S A R I F A H'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-2713864397920038180</id><published>2011-02-05T22:08:00.000-08:00</published><updated>2011-02-05T22:08:07.886-08:00</updated><title type='text'>KOMUNITAS PENA HIJAU</title><content type='html'>KOMUNITAS PENULIS TERBENTUK DI TAKALAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya animo kesusastraan dan kepengarangan di Sulawesi Selatan lebih membara dari daerah-daerah lainnya di Indonesia. Sulawesi Selatan memang punya sejarah besar dalam hal kepenulisan. Lontara atau aksara lontarak menjadi trademark kepenulisan nenek moyang Sulawesi Selatan. Pun kitab sastra La Galigo yang menurut sejarawan ternama Belanda R.A.Kern sebagai kitab sastra terpanjang di dunia. Kern menempatkan kitab La Galigo setara dengan kitab Mahabharata dan Ramayana dari India atau sajak-sajak Homerus dari Yunani.&lt;br /&gt;Benang-benang sejarah panjang itulah yang membalut hati Muhammad Kasman (Kasman Daeng Matutu) sehingga ia memprakarsai pembentukan komunitas penulis di Takalar pada hari Sabtu 5 Februari 2011. &lt;br /&gt;Acara pendeklarasian “Komunitas Pena Hijau” yang umumnya beranggotakan para pelajar di Kabupaten Takalar dirangkaikan dengan kegiatan seminar nasional pendidikan dengan tema “Mari Menulis Untuk Kemajuan Bersama” dengan menghadirkan tiga orang pembicara, yaitu: Khrisna Pabichara (Sastrawan, sekaligus direktur eksekutif Rumah Kata Institute Jakarta); Dul Abdul Rahman (Sastrawan, editor dan penyunting buku-buku sastra penerbit Ombak Yogyakarta); dan Muhammad Ridwan Tiro, SE,MM (Kepala Dinas Dikpora Kabupaten Takalar).&lt;br /&gt;Khrisna Pabhicara dan Dul Abdul Rahman memberikan tips-tips dan motivasi menulis kepada para peserta yang terdiri dari pelajar dan guru-guru di Kabupaten Takalar. Khrisna Pabhicara yang malang melintang di seluruh Indonesia sebagai motovator penulisan sekaligus pengarang buku best-seller nasional “Rahasia Melatih Daya Ingat: Cara Revolusioner Meningkatkan Kecerdasan Otak dalam Waktu Sekejap” menekankan perlunya anak-anak didik diajarkan menulis dengan baik sejak dini. Khrisna yang sejauh ini sudah menulis 12 buku juga menambahkan bahwa yang paling penting adalah bagaimana cara guru mengajari anak-anak didiknya untuk menulis, tentu saja guru juga harus berkompeten. &lt;br /&gt;Sedangkan Dul Abdul Rahman, yang sejauh ini sudah mengeluarkan empat novel yang semuanya terbit di Yogyakarta memberikan tips bahwa menulis itu gampang. Yang penting seorang penulis atau calon penulis harus berusaha berlatih terus untuk menulis. Tentu saja aktifitas menulis tidak bisa dilepaskan dari aktifitas membaca. Jadi seorang penulis yang baik juga adalah seorang pembaca yang baik.&lt;br /&gt;Sayangnya sampai seminar nasional tersebut berakhir, pemateri lainnya Muhammad Ridwan Tiro yang sekaligus Kepala Dinas Dikpora Kabupaten Takalar, tidak menampakkan batang hidungnya. Entah apa yang membuat sang kepala dinas tersebut tidak memenuhi undangan panitia. Padahal panitia seminar telah jauh-jauh hari mengundangnya. “Semestinya Pak Kepala Dinas datang sebagai bentuk apresiasi dan dukungan kepada peserta dan Komunitas Pena Hijau yang terbentuk.” Ujar seorang panitia. “Mungkin saja acara ini tidak ‘seksi’ jadi Pak Kadis tidak datang.” Ujar panitia lainnya.&lt;br /&gt;Meski tanpa kehadiran dan tanpa dukungan kepala dinas dikpora Kabupaten Takalar, acara seminar nasional yang dirangkaikan pendeklarasian Komunitas Pena Hijau tetap berlangsung dengan baik. Bahkan para peserta seminar yang juga tergabung dengan Komunitas Pena Hijau begitu bersemangat memasuki rumah baru, rumah kepenulisan. Selamat berkarya buat Komunitas Pena Hijau!      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dul Abdul Rahman; Novelis, motivator penulisan)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_eTga3yPii3A/TU46wHUU9vI/AAAAAAAAAAY/mwGkeUPCvxg/s1600/krisna%2Bdul.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://1.bp.blogspot.com/_eTga3yPii3A/TU46wHUU9vI/AAAAAAAAAAY/mwGkeUPCvxg/s320/krisna%2Bdul.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-2713864397920038180?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/2713864397920038180/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/02/komunitas-pena-hijau.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/2713864397920038180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/2713864397920038180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/02/komunitas-pena-hijau.html' title='KOMUNITAS PENA HIJAU'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_eTga3yPii3A/TU46wHUU9vI/AAAAAAAAAAY/mwGkeUPCvxg/s72-c/krisna%2Bdul.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-6127720579940138998</id><published>2011-02-03T21:33:00.000-08:00</published><updated>2011-02-03T21:33:58.637-08:00</updated><title type='text'>Diskusi Novel "Sabda Laut" Membedah Nuansa Lokal Laut Hemingway Sarat Filosofi, Laut Rahman Kaya Petuah</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_eTga3yPii3A/TUuPrGnTvoI/AAAAAAAAAAQ/mAf_rYIyKy4/s1600/GAMBAR%2BDUL%2BDI%2BFAJAR.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="226" width="320" src="http://1.bp.blogspot.com/_eTga3yPii3A/TUuPrGnTvoI/AAAAAAAAAAQ/mAf_rYIyKy4/s320/GAMBAR%2BDUL%2BDI%2BFAJAR.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEDAH NOVEL. Penulis novel Dul Abdul Rahman (kanan), Supa Atha’na, Burhanuddin Arafah (kedua dari kiri), serta Basri (moderator; kiri) pada bedah novel di Studio Mini Redaksi FAJAR, Sabtu 4 Desember.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DALAM tempo dua tahun, dul abdul rahman (Rahman) melahirkan empat novel. Pria kelahiran Sinjai ini bahkan siap-siap lagi meluncurkan dua novel terbarunya. Untuk mengapresiasi prestasi novelis ini, Simpul Sastra FAJAR bekerja sama Fakultas Ilmu Budaya Unhas membedah salah satu novel Rahman berjudul, "Sabda Laut". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NUANSA lokal (local wisdom) dalam novel "Sabda Laut" menarik perhatian Prof Dr Burhanuddin Arafah untuk membicarakannya lebih lanjut dalam bedah novel di Studio Mini Redaksi FAJAR, Sabtu, 4 November. Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unhas ini didampingi pembicara lainnya, Direktur Iranian Corner Unhas, Supa Atha'na. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitannya dengan nuansa lokal, terutama tradisi melaut, Burhanuddin membandingkan "Sabda Laut" dengan "The Old Man and the Sea" (Lelaki Tua dan Laut) karya Ernest Hemingway. "The Old Man and the Sea" adalah sebuah novella (novel pendek) yang ditulis jurnalis Amerika Serikat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel yang ditulis pada 1951 dan diterbitkan di Kuba pada 1952 itu bercerita tentang Santiago. Karakter utama terdapat pada tokoh nelayan lelaki tua yang bersusah-payah berjuang untuk menangkap seekor ikan marlin raksasa jauh di tengah arus Teluk Meksiko. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua dan Laut mengisahkan ulang tentang perjuangan kepahlawanan antara seorang lelaki nelayan tua yang berpengalaman dengan seekor ikan marlin raksasa yang disebut sebagai tangkapan terbesar dalam hidupnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alur diawali dengan cerita bahwa nelayan yang bernama Santiago tersebut telah melewati 84 hari tanpa menangkap seekor ikan pun (kemudian disebutkan dalam cerita ternyata 87 hari). Dia tampaknya selalu tidak beruntung dalam menangkap ikan sehingga murid mudanya, Manolin dilarang oleh orang tuanya untuk berlayar dengan si lelaki tua dan diperintahkan untuk pergi dengan nelayan yang lebih berhasil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih berbakti kepada si lelaki tua tersebut, Manolin mengunjungi gubuk Santiago setiap malam, mengangkat peralatan nelayannya, memberinya makan dan membicarakan olah raga bisbol Amerika dengan si lelaki tua. Santiago berkata pada Manolin bahwa di hari berikutnya dia akan berlayar sangat jauh ke tengah teluk untuk menangkap ikan, dan dia yakin bahwa gelombang nasibnya yang kurang beruntung akan segera berakhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggalan cerita yang dikemukakan Burhanuddin itu sesungguhnya ingin menampilkan kaitan latar kehidupan laut novel "Sabda Laut" dan "The Old Man and the Sea". Jarak pembuatan dan asal wilayah kedua novel ini memang sangat jauh. "Sabda Laut" ditulis pada 2010, sedangkan "The Old Man and the Sea" pada 1951. Penulisnya pun berada di antara dua benua yang berbeda. Rahman di Sinjai (pedalaman Sulsel), sedangkan Ernest Hemingway di Amerika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas bagaimana keterkaitan latar dan tokoh kedua novel tersebut? "Kendati keduanya mengeksplorasi kehidupan laut, masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda," kata Burhanuddin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unhas ini menekankan bahwa nasihat-nasihat lokal mestinya dikaji lebih dalam lagi agar menjadi kekuatan tersendiri dalam "Sabda Laut". Pada gilirannya, ia akan menjadi bagian utuh secara simbolik dalam karya sastra itu. Pada tataran pengkajiannya pun, simbol-simbol itu bisa dimaknai secara utuh pula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Inilah yang tak kalah pentingnya untuk kita kaji bersama, bagaimana mendapatkan nilai-nilai kehidupan dari sebuah karya sastra yang kaya dengan kearifan-kearifan lokal," kata guru besar Unhas yang menyelesaikan S-2 di Amerika Serikat dan S-3-nya di Australia itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Burhanuddin kemudian menyarankan agar Rahman tidak ragu-ragu apalagi malu-malu menggunakan idom-idiom lokal dalam karya-karyanya. Ia mencontohkan beberapa diksi etnik dalam "The Old Man and the Sea" yang bahkan tidak dijelaskan pengertiannya oleh Hamingway. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Rahman yang menjelaskan hampir semua istilah/idiom lokal yang digunakan. "Penjelasan itu tidak perlu," kata Burhanuddin sambil menjelaskan kedudukan dan peran pembaca dalam memaknai idiom-idiom lokal tersebut, sekaligus menjawab pertanyaan peserta diskusi, dra Siti Nursaadah M Hum tentang perbedaan karakteristik "Sabda Laut" dan "The Old Man and the Sea". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahman pada kesempatan mengemukakan proses kreatifnya, menjawab, bahwa penjelasan idiom-idiom lokal itu dilakukan karena terkait dengan "pesan sponsor". Hal itu berkaitan erat dengan kemauan penerbit yang notabene berada di luar Sulsel. "Apalagi karya-karya saya ini lebih banyak berdedar di Jawa," kata novelis yang pernah menjadi anggota Dewan Pembaca Fajar tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supa Atha'na juga menggarisbawahi nilai-nilai lokal dalam "Sabda Laut". Kehadiraan novel Rahman ini menginspirasi sebuah fenomena menarik tentang eksplorasi laut. Laut sebagaimana umumnya objek kajian yang ada pada realitas kita, tidak membatasi orang-orang dan latar belakang tertentu untuk bisa akrab dengannya, karena kedalaman semua objek termasuk laut sangat kaya untuk hanya disentuh oleh seseorang, segolongan, dan keahlian tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan pernah ada perasaan dan cetusan pikiran bahwa laut akan habis bila banyak orang yang memanfaatkannya. Alquran menyebutkan banyak variabel yang bisa didapatkan dari laut. Ketika Tuhan sudah membahasakan sesuatu yang banyak maka dalam ukuran manusia tidak ada lagi habisnya. Tuhan telah menjamin ada banyak manfaat yang bisa diperoleh dari laut," kata dosen yang pernah mendalami Sastra Persia empat tahun di Iran itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supa kemudian memaparkan bahwa kehadiran beberapa novel Rahman telah menambah khasanah karya sastra yang turut memperkuat dan menumbuhkan kebudayaan Sulsel di tengah semakin kurangnya perhatian terhadap kebudayaan lokal. Itu pula sebabnya, Supa melontarkan gagasan ironik mengenai semakin menurunnya perhatian terhadap kebudayaan tersebut. "Kalau mau kebudayaan Sulsel maju, maka pindahkan pusat dokumentasi sejarah dan kebudayaan Sulsel yang ada di Leiden, Belanda itu ke Sulsel," katanya disambut aplaus oleh hadirin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, pilihan sikap Rahman untuk bertahan pada wilayah kearifan lokal dalam novel-novelnya harus diapresiasi dengan layak. Setidaknya berupa dukungan moral dengan harapan, agar Rahman tetap selalu bisa bertahan menuliskan karya-karyanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedah buku yang dimoderatori Redaktur Budaya FAJAR, Basri itu menambah nuansa lokal jalannya diskusi ketika kelompok Jaya Musik menyelingi dengan lantunan lagu-lagu daerah. Drummer cilik (kelas VI SD), Jaya, sempat menarik perhatian peserta diskusi pada sesi penutup ketika bersama tiga pemain lainnya, memainkan instrumentalia jaz. (*) LAPORAN BASRI, REDAKTUR BUDAYA HARIAN FAJAR&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-6127720579940138998?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/6127720579940138998/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/02/diskusi-novel-sabda-laut-membedah.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/6127720579940138998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/6127720579940138998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/02/diskusi-novel-sabda-laut-membedah.html' title='Diskusi Novel &quot;Sabda Laut&quot; Membedah Nuansa Lokal Laut Hemingway Sarat Filosofi, Laut Rahman Kaya Petuah'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_eTga3yPii3A/TUuPrGnTvoI/AAAAAAAAAAQ/mAf_rYIyKy4/s72-c/GAMBAR%2BDUL%2BDI%2BFAJAR.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-1331539887827545152</id><published>2011-02-02T21:30:00.001-08:00</published><updated>2011-02-02T21:30:28.050-08:00</updated><title type='text'>cerpen dul abdul rahman: PERNIKAHAN MALAM</title><content type='html'>PERNIKAHAN MALAM&lt;br /&gt;Cerpen: Dul Abdul Rahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Seperti Rama dan Sinta.”&lt;br /&gt; “Benar-benar pasangan serasi.”&lt;br /&gt; Silih berganti ucapan bernada pujian menari-nari di telinga Beddu. Berulas-ulas senyuman terus tersungging di bibirnya sebagai jawaban dari seribu pujian dari para tetamu yang hadir. Kilatan blits dari segala penjuru ruangan terus menyorot kearahnya. Benar-benar sebuah peristiwa yang luar biasa bagi Beddu. Sebuah pesta pernikahan di hotel berbintang, dulu hanyalah mimpi buatnya, tapi sekarang benar-benar terjadi. Biasanya kalau ada keluarganya yang menikah, paling-paling memasang tenda di depan rumah, lalu menutup jalan untuk sementara, lalu mengundang elektone, lalu undangan boleh berdangdut ria.&lt;br /&gt; Beddu sangat bahagia. Impiannya untuk mempersunting gadis pujaannya bukan angan-angan semata. Padahal awalnya ia disemat keraguan, ketika orang tua Jamilah menolaknya jadi mantu. Namun karena kecintaannya pada Jamilah, dan Jamilah juga memang mencintainya, ia nekad melakukan apa saja. Dan buat Beddu, selalu ada peluang di setiap bahaya. Ia memang sering membaca biografi orang-orang terkenal yang selalu memahat harapan di setiap peluang. Ia hafal biografi tokoh dunia macam Winston Churchill.&lt;br /&gt; “Apa? Kau mau melamar anak saya?” Orang tua Jamilah menatapnya lekat-lekat.&lt;br /&gt; “Saya mencintai anak bapak.” Beddu begitu tegar, tetapi tetap saja tak bisa menatap wajah garang ayah Jamilah.&lt;br /&gt; “Lalu, apakah kau sanggup memberi makan anak saya?”&lt;br /&gt; Pertanyaan ayah Jamilah benar-benar menusuk hati Beddu. Seakan ayah Jamilah mengatakan padanya “Kau miskin Beddu.” Padahal salah satu alasan Beddu ingin menikah dengan Jamilah karena orang tua Jamilah kaya raya. Dengan menikahi Jamilah, Beddu berharap ketularan kaya. “Tapi ayah Jamilah menuntut saya memberi makan anaknya, bukankah mereka bisa makan apa saja? Beddu membatin.&lt;br /&gt; “Bagaimana anak muda? Kalau kau tak sanggup memberi sesuatu kepada anak saya, saya tak akan menerima lamaranmu.”&lt;br /&gt; “Tapi Pak, kami saling mencintai.”&lt;br /&gt; “Aha! Cinta bukan sekedar perasaan, cinta adalah pemenuhan nafkah lahir batin.” Ayah jamilah lalu meninggalkan Beddu seorang diri. Beddu menangis. Jamilah, gadis cantik, teman kuliahnya yang begitu ia cintai tak bisa ia miliki.”&lt;br /&gt; “Eh pengantin meneteskan air mata.”&lt;br /&gt; “Ia pasti bahagia sekali bisa mempersunting anak pengusaha besar.”&lt;br /&gt; “Pasti ia akan mewarisi kekayaan mertuanya karena Jamilah adalah anak tunggal.”&lt;br /&gt; Celotehan para tetamu menyadarkan lamunan Beddu. Ia memang tak bisa melupakan saat ayah Jamilah menolaknya mentah-mentah jadi mantu. Beddu bergegas mengembalikan perasaannya, tak mau ia larut pada kesedihan, bukankah sekarang ia teramat bahagia karena ayah Jamilah akhirnya menerimanya, tetapi selalu ada keraguan di hati Beddu. Entah, ia merasa ayah Jamilah belum benar-benar ikhlas menerimanya.&lt;br /&gt; Beddu terus menyambut kedatangan para tamu yang ingin mengucapkan selamat kepada mereka berdua. Laiknya ia menyambut hamparan-hamparan kebahagiaan yang terpampang lebar di hadapannya. Buat Beddu, pernikahannya dengan Jamilah adalah sebuah rangkuman kebahagiaan yang teramat indah. Meski ia hanyalah anak seorang pedagang kaki lima, tapi berhasil menggaet gadis sekelas Jamilah. Gadis ayu nan memesona. Turunan keluarga ningrat yang kaya raya.&lt;br /&gt; Awalnya, ibu Beddu juga tak merestui anaknya menjalin hubungan dengan Jamilah. Ibu Beddu merasa orang tua Jamilah akan menolak anaknya, karena orang tua Jamilah yang kaya raya pastilah tak mau berbesanan dengannya yang hanya pedagang kaki lima.&lt;br /&gt; “Mengapa ibu menolak saya dekat dengan Jamilah. Jamilah itu anak orang kaya.”&lt;br /&gt; “Justru itulah Nak. Ibu tak mau melihatmu kecewa kelak.”&lt;br /&gt; “Kecewa?”&lt;br /&gt; “Ya, kamu akan kecewa Nak.”&lt;br /&gt; “Tapi saya dan Jamilah saling mencintai Bu.” Beddu terus meyakinkan ibunya.&lt;br /&gt; “Tapi menikah bukan urusan kamu saja berdua, urusan saya juga, pun urusan orang tua Jamilah.”&lt;br /&gt; “Makanya ibu harus merestui kalau saya mau menikah dengan Jamilah.”&lt;br /&gt; “Beddu! Beddu! Ibu sebenarnya sangat merestui, tapi orang tua Jamilah? Mereka tidak akan merestui anaknya bersuamikan orang miskin.”&lt;br /&gt; “Kita tidak boleh minder Bu, saya akan meyakinkan orang tua Jamilah.” Beddu segera meninggalkan ibunya seorang diri di kamar.&lt;br /&gt; Ibu Beddu hanya bisa menggeleng-geleng kepala melihat kenekatan anak laki-lakinya. Meski begitu, ia tetap bangga punya anak laki-laki yang punya kemauan keras. Beddu adalah tetesan darah almarhum suaminya yang selalu tegar menghadapi hidup. Beddu juga adalah anak satu-satunya. Meski hanya pedagang kecil-kecilan, tapi ibu Beddu sangat bahagia karena bisa menyekolahkan anaknya, bahkan Beddu bisa kuliah.       &lt;br /&gt;…&lt;br /&gt; Pesta pernikahan Beddu dan Jamilah benar-benar ramai. Karena Jamilah adalah anak satu-satunya, maka keluarga pihak Jamilah mengadakan pesta yang benar-benar meriah. Tentu saja keluarga Jamilah yang lebih berperan mengurusi pesta karena keluarga Beddu adalah keluarga pas-pasan. Keluarga Jamilah tetap bersemangat dan berbahagia atas pernikahan Jamilah, hanyalah ayah Jamilah yang kelihatan kurang merestui.&lt;br /&gt; Beddu dan Jamilah menyambut tamu seramah mungkin. Namun terkadang ada gelisah di hati mereka. &lt;br /&gt; “Tidak Jamilah, kau anak ayah satu-satunya. Harapan ayah satu-satunya.”&lt;br /&gt; “Tapi ayah…”&lt;br /&gt; “Tidak ada tapi-tapian Jamilah, pokoknya ayah tidak akan merestui kau menikah dengan Beddu.” Ayah Jamilah segera  memotong kalimat anaknya.&lt;br /&gt; “Ayah! Beddu adalah anak yang baik dan bertanggung jawab.”&lt;br /&gt; “Memang baik, karena ingin memiliki harta ayah.”&lt;br /&gt; “Apa salahnya ayah, kalau Beddu memilikinya kan saya juga yang ikut memilikinya.” Jamilah mencoba meyakinkan ayahnya.&lt;br /&gt; “Ooo…, jadi kamu kuliah hanya untuk mendapatkan laki-laki itu.” Ayah Jamilah segera meninggalkan anaknya. Tak mau ia mendengar lagi Jamilah memelas restu darinya hanya untuk menikah dengan lelaki miskin. Ayah Jamilah memang sudah memilihkan jodoh anaknya dengan seorang putra pengusaha, rekan bisnisnya. Ayah Jamilah berpikir dengan menikahkan putrinya dengan anak seorang pengusaha, berarti ia menyatukan dua kekayaan. Tetapi kalau menikah dengan Beddu ia merasa usahanya akan tergerogoti.&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt; Pesta sudah usai. Beddu dan Jamilah nampak kelelahan. Namun keduanya tetap nampak bahagia. Mereka sudah resmi jadi pasangan suami isteri. Artinya tak ada lagi sekat. Maka bila keduanya berpelukan erat, tak ada lagi jerat buat mereka.&lt;br /&gt; Di kamar pengantin. Beddu memeluk isterinya. Tapi tidak laiknya seperti pengantin baru, Beddu dan Jamilah tidak begitu mengsakralkan malam ini, malam pertama ini. Beddu hanya membelai-belai perut isterinya.&lt;br /&gt; “Coba jawab sayang, siapa laki-laki yang paling jantan di dunia ini?”&lt;br /&gt; “Pasti abang Beddu.”&lt;br /&gt; “Alasannya?”&lt;br /&gt; “Gaya bercinta abang sangat dahsyat, baru beberapa jam menikah, saya sudah hamil tiga bulan.”&lt;br /&gt; Beddu segera memeluk isterinya. Lalu keduanya terkekeh-kekeh mengingat pengalaman malam pertama mereka tiga bulan yang lalu. Tentu saja para keluarga yang menginap di rumah Jamilah tidak mendengar mereka. Karena kekehan keduanya menjelma desahan, karena mulut Jamilah tertutup oleh mulut Beddu.&lt;br /&gt; “Malam pertama tiga bulan lalu benar-benar membawa berkah ya Bang.”&lt;br /&gt; “Happy ending sayang, gara-gara malam pertama yang dahsyat itu, akhirnya ayahmu mau menerimaku jadi mantu.”&lt;br /&gt; “Tapi abang berdosa.”&lt;br /&gt; “Berdosa, tapi niatnya baik, cuma itu jalan satu-satunya.”&lt;br /&gt; Beddu sebenarnya tak mau melakukan hubungan suami isteri di luar nikah, tapi Beddu melakukannya hanya untuk mendapatkan Jamilah yang sangat dicintainya. Ia sengaja menghamili Jamilah agar ayah Jamilah tak bisa lagi menolaknya. Dan benar saja, ayah Jamilah terpaksa menikahkan anaknya dengan Beddu, karena ia sangat malu bila anaknya hamil dan melahirkan tapi belum bersuami. Tapi ayah Jamilah sungguh punya perhitungan, dan ia juga punya taktik seperti taktik Beddu untuk mendapatkan anaknya.&lt;br /&gt; “Jamilah sayang, mungkinkah kita bisa bersama selamanya?” Beddu menggumam ragu.&lt;br /&gt; “Tentu saja Bang, kita sudah resmi jadi pasangan suami isteri.”&lt;br /&gt; “Tapi saya masih ragu, tatapan ayahmu kepadaku sepertinya masih tersimpan rasa benci.”&lt;br /&gt; “Sabarlah Bang! Lambat laun ayah pasti berubah.”&lt;br /&gt; “Kau yakin sayang?”&lt;br /&gt; “Saya yakin. Ayah…”&lt;br /&gt;  “Tok! Tok! Tok!”&lt;br /&gt; Belum juga Jamilah menyelesaikan kalimatnya, pintu mendadak diketuk. Lalu terdengar suara memanggil Jamilah dan Beddu untuk bertemu dengan ayah Jamilah.&lt;br /&gt; Beddu dan Jamilah segera menemui ayahnya di ruang tamu. Jamilah tak tahu apa maksud ayahnya. Beddu nampak was-was. Di ruang tamu sudah duduk empat orang, ayah Jamilah, rekan bisnis ayah Jamilah, serta dua orang berpakaian rapi memakai dasi.&lt;br /&gt; Beddu terlihat canggung meski sebenarnya ia tidak akan ketemu dengan orang lain, tetapi dengan mertuanya sendiri. Jamilah mendadak deg-degan, karena ia tahu ayahnya sangat tegas pendirian.&lt;br /&gt; “Duduklah!”&lt;br /&gt; “Dan kau Beddu, silakan tanda tangani surat ini, kalau kau tidak mau tanda tangan, kau pun keluargamu akan beroleh celaka.”&lt;br /&gt; Mendadak Beddu lemas. Karena surat yang disodorkan oleh ayah Jamilah adalah surat cerai antara Beddu dan Jamilah. Buat ayah Jamilah, tidak ada yang susah di dunia ini. Dengan uang, semua urusan bisa beres. Termasuk membereskan orang-orang yang berani menantangnya. Ayah Jamilah tersenyum, ia tak malu lagi anaknya hamil dan melahirkan kelak karena memang anaknya telah bersuami. Predikat janda untuk sementara tak masalah. &lt;br /&gt; Setelah menandatangani surat perceraian, Beddu kian pusing, dibius mimpi-mimpi yang jalang. Ia menatap langit-langit tak berbintang. Ada ratapan dalam tatapan matanya yang kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konawe Selatan, 2007 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Cerpen “PERNIKAHAN MALAM” dimuat Harian Fajar, Ahad 19 Oktober 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-1331539887827545152?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/1331539887827545152/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/02/cerpen-dul-abdul-rahman-pernikahan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/1331539887827545152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/1331539887827545152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/02/cerpen-dul-abdul-rahman-pernikahan.html' title='cerpen dul abdul rahman: PERNIKAHAN MALAM'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-3283451522866984600</id><published>2011-02-01T03:09:00.001-08:00</published><updated>2011-02-01T03:09:20.286-08:00</updated><title type='text'>cerpen: SEORANG PENULIS DAN KOMPUTER  TUANYA</title><content type='html'>SEORANG PENULIS DAN KOMPUTER TUANYA1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen: dul abdul rahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Larut malam. Lam bergegas memulai tulisannya. Ia harus menyelesaikannya ini malam. Besok ia harus kirim ke redaktur budaya di sebuah koran harian yang memesan tulisannya.&lt;br /&gt;Tadi sore Lam harus menemani isterinya berbelanja bahan-bahan untuk membuat kue buat jualan esok hari. Isteri Lam memang berusaha meringankan beban suaminya dengan berjualan penganan di depan rumah. Apalagi rumah mereka berhadapan dengan sekolah dasar sehingga anak-anak sekolah selalu menyerbu jualannya selepas pulang sekolah atau istirahat.&lt;br /&gt;Tadi petang, Lam harus mengawasi dan menemani putranya belajar matematika. Ia berharap kelak anaknya bisa kuliah di fakultas kedokteran, bukan di fakultas sastra seperti dirinya. Ia tidak tertarik mengarahkan anaknya jadi penulis. Sebenarnya Lam sangat mencintai profesinya, tetapi ia tak bisa menutup mata pendapat masyarakat tentang profesinya tersebut. Bahkan mertuanya dulu pernah mencapnya pengangguran. Lam ingat, ia geragapan menjawab pertanyaan calon mertuanya dulu tentang kantornya.&lt;br /&gt;“S…saya tak punya kantor, Pak.”&lt;br /&gt;“Lha, katanya sudah bekerja.”&lt;br /&gt;“I…iya Pak, tapi…”&lt;br /&gt;“Maksudnya kantornya digusur?”&lt;br /&gt;“Memang sejak dulu tak punya kantor Pak.”&lt;br /&gt;“Aneh!”&lt;br /&gt;“Saya seorang penulis Pak.” Lam cepat menyebut jenis profesinya. Takut kalau calon mertuanya menyebutnya orang aneh. Padahal ia sangat mencintai anak gadisnya.&lt;br /&gt;“Penulis?”&lt;br /&gt;“Ya, saya seorang penulis Pak.”&lt;br /&gt;Lam terus meyakinkan. Sementara calon mertuanya mengernyitkan alis seolah penulis bukan bagian dari profesi yang ia pahami. Ia memang seorang kepala desa yang selalu mengurusi KTP buat warganya. Selama ia menangani KTP, belum pernah ia melihat profesi seseorang tertulis penulis. Biasanya adalah dokter, polisi, PNS, wiraswasta, petani, atau yang lainnya.&lt;br /&gt;“Nak! Kalau profesi penulis itu tertulis apa di KTP, soalnya pada draft biodata KTP tidak ada penulis.”&lt;br /&gt;Lam kian geragapan. Ia membatin tidak karuan. Ia ragu, calon mertuanya memang tidak tahu menahu soal penulis. Atau calon mertuanya sengaja mau menjebaknya bahwa ia benar-benar pengangguran. Lalu menolaknya jadi mantu.&lt;br /&gt;Lam tersenyum-senyum mengingat pengalamannya waktu melamar dulu. Untungnya, tempo itu ia bisa meyakinkan calon mertuanya bahwa meskipun ia cuma seorang penulis tapi ia yakin mampu menafkahi isteri dan anak-anaknya kelak.&lt;br /&gt;Lam bergegas menyalakan komputernya. Tapi ia harus menunggu bermenit-menit. Mungkin komputer miliknya sudah mulai kelelahan. Ia sepertinya tak sanggup lagi mengikuti jejak-jejak pikiran Lam yang tidak dibatasi oleh makhluk yang bernama pentium.&lt;br /&gt;“Yah! Apakah Lapundarek* jadi menikah dengan putri raja?”&lt;br /&gt;Lam terperanjat. Kaget. Ternyata putranya belum jua tidur. Padahal tadi ia berhenti bercerita karena menyangka putranya sudah tidur. Sudah menjadi kebiasaan Lam mendongeng sebagai pengantar tidur anak-anaknya.&lt;br /&gt;“Lapundarek menikah dengan siapa, Yah? Yang bungsu, yang tua, atau yang tengah.”&lt;br /&gt;“Yang bungsu, Sayang.” &lt;br /&gt;Lam segera melayani pertanyaan putranya. Ia memang selalu ingin tahu setiap cerita yang diutarakan ayahnya. Lam bahagia. Lam senang. Dengan bercerita, ia mencoba meningkatkan keingintahuan serta cara merespons anak-anaknya. Biasanya Lam membuat cerita bersambung laiknya sinetron di teve.&lt;br /&gt;“Horeee! Lapundarek menikah dengan yang paling cantik.”&lt;br /&gt;“Bukan hanya itu, tapi baik pula budinya.”&lt;br /&gt;“Beruntung sekali Lapundarek ya, Yah?”&lt;br /&gt;“Lapundarek kan orang tabah dan sabar.”&lt;br /&gt;“Tapi Yah, masa putri raja yang cantik mau sama Lapundarek. Lapundarek kan jelek dan bau.”&lt;br /&gt;“Hush! Tak boleh menghina.”&lt;br /&gt;“Maaf, saya lupa. Lanjutkan ceritanya Yah!”&lt;br /&gt;“Tidurlah sayang, besok malam ayah lanjutkan ya.”&lt;br /&gt;“Tapi ayah harus janji.”&lt;br /&gt;“Ayah berjanji, Sayang.”&lt;br /&gt;Lam kembali menatap komputernya. Malam ini ia akan menulis tentang seorang penulis yang hidupnya pas-pasan. Meskipun demikian, sang penulis tersebut tetap setia pada profesinya. Mungkin Lam mencoba melukis dirinya lewat tulisan itu. Entah.&lt;br /&gt;Lam terus memilih dan memilah kata yang tepat. Lalu merangkainya menjadi kalimat yang mendayu-dayu. Salah satu kelebihan Lam memang adalah penggunaan diksi yang benar-benar bisa mengharubirukan perasaan pembaca. Bahkan tidak sah rasanya membaca tulisan Lam tanpa ditemani sapu tangan penyeka airmata. Begitulah pengakuan salah seorang fans Lam.&lt;br /&gt;“Istirahat dululah Bang!”&lt;br /&gt;Kali ini suara isterinya yang lembut membuyarkan pikiran Lam. Tapi tidak masalah. Lam sangat mencintai isterinya. Bahkan sebentuk perhatian, pun pengabdian dari isterinya adalah sebuah inspirasi Lam untuk terus menulis.&lt;br /&gt;Lam memang sangat beruntung. Ia bisa mempersunting anak kepala desa di kampungnya yang baik budi bahasanya, cantik pula. Mata bening isterinya, serta wajah yang ayu, senyum yang menawan selaksa sketsa Siti Nurhaliza, penyanyi dari negeri seberang yang memang menjadi idola Lam&lt;br /&gt;“Tidak capeklah, Sayang.”&lt;br /&gt;“Abang harus jaga kesehatan.”&lt;br /&gt;“Abang sehat-sehat selalu, Sayang.”&lt;br /&gt;“Tapi jangan terlalu memforsir diri Bang.”&lt;br /&gt;Lam bangkit. Ia mengecup kening isterinya sebagai tanda sayang. Pun ia tak lupa mencium anak-anaknya yang sudah pulas terbawa cerita Lapundarek yang sangat mereka suka. Lam berharap, semoga orang-orang yang sangat ia cintai dan kasihi bisa istirahat dengan tenang. Pun ia tidak mendapat gangguan lagi supaya tulisannya bisa selesai ini malam. Honor tulisannya kali ini buat beli replika cincin pernikahan buat isterinya menjelang ulang tahun pernikahan yang kesepuluh.&lt;br /&gt;Isteri Lam memang terpaksa menjual cincin pernikahan sebagai modal usaha jual-jualan. Sebenarnya isteri Lam tak pernah menuntut suaminya menggantinya, cuma Lam selalu ingin membuat isterinya bahagia.&lt;br /&gt;Lam duduk kembali. Ia melanjutkan tulisannya. Di luar, angin malam berhembus pelan menyanyikan lagu alam. Malam merilis lirik buat Lam seirama dengan ayunan pulpennya.&lt;br /&gt;Lam tersenyum-senyum. Tokoh utama dalam cerpennya ia beri nama Lampe. Lampe sebenarnya adalah nama bapaknya. Lampe dalam bahasa Bugis berarti panjang. Kakek Lam dulu memberi nama Lampe pada anaknya supaya panjang umur, panjang angan-angan(tinggi cita-cita), atau panjang rezeki(banyak rezeki). Selanjutnya ayah Lam memberi nama anaknya Lampugu. Meski nama Lampugu terkesan Bugis, tapi sesungguhnya meng-Indonesia, Lampugu berarti lampu penerang di gelap gulita. Itulah nama lengkap Lam. Dan begitulah orang-orang tua dulu memberi nama. Selalu terselip doa dibalik nama.&lt;br /&gt;Sebenarnya yang membuat Lam tersenyum-senyum, karena yang ia maksudkan Lampe adalah diri Lam sendiri. Lam penulis. Begitulah nama Lampe versi Lam. Lam memang selalu mengangkat tema-tema berkenaan dengan dirinya sehingga banyak pembaca mencap dirinya sebagai penulis soliloquist.&lt;br /&gt;Lam berhenti sejenak. Ada virus bergambar tengkorak mendadak mengangkangi tulisannya. Ia cepat memprogram program anti virus yang ia beli tadi. Klik. Gambar tengkorak menghilang seketika. Namun perasaan deg-degan Lam belum hilang. Ia takut datanya hilang. &lt;br /&gt;Lam kembali melanjutkan tulisannya. Kali ini ia agak berhati-hati, tapi sedikit tergesa-gesa. Ia ingin secepatnya menyudahi tulisannya. Ia memang mengantuk dan lelah karena seharian menemani isteri dan anak-anaknya. Lam menutup cerita dengan kejutan-kejutan sekaligus menyedihkan.&lt;br /&gt;Larut malam. Akhirnya, setelah dua jam lamanya Lam mengutak-atik kalimat menjadi paragraph-paragraf, tulisnnya selesai jua. Meski Lam belum memberi judul, tapi ia yakin tulisannya kali ini benar-benar membuat pembaca terharu atas kegigihan dan ketabahan seorang penulis yang sangat mencintai profesinya, seluruh honor tulisannya buat isteri dan ank-anaknya yang ia sangat cintai. Dari cinta untuk cinta. Begitulah Lam mengangkat tema cerita kali ini.&lt;br /&gt;Tapi mendadak Lam cemas. Virus tengkorak kembali mengangkangi tulisannya. Lalu. Klik. komputer Lam mati seketika. Lam mendadak lemas. Karena ia tahu datanya ini kali tidak terselamatkan. Komputer tua miliknya tidak bisa lagi mengamankan data-data bila mati seketika.&lt;br /&gt;Lam beranjak. Ia masuk kamar. Mengecup kening isteri dan anak-anaknya. Lalu tidur di sampingnya. Besok ia akan mengetik ulang lagi cerpennya. Ada senyum mengembang di wajahnya. Karena ia sudah menemukan judul yang cocok buat cerpennya. Seorang penulis dan komputer tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makassar-Jakarta, Juli 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan;&lt;br /&gt;Lapundarek : Cerita rakyat Sulawesi Selatan  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Cerpen “SEORANG PENULIS DAN KOMPUTER TUANYA dimuat Harian Fajar, Ahad, 9 Desember 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-3283451522866984600?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/3283451522866984600/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/02/cerpen-seorang-penulis-dan-komputer.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/3283451522866984600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/3283451522866984600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/02/cerpen-seorang-penulis-dan-komputer.html' title='cerpen: SEORANG PENULIS DAN KOMPUTER  TUANYA'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-8853391087436013994</id><published>2011-01-30T21:05:00.003-08:00</published><updated>2011-01-30T21:05:35.493-08:00</updated><title type='text'>cerpen: REPUBLIK INDONESIANA</title><content type='html'>REPUBLIK INDONESIANA&lt;br /&gt;Oleh: Dul Abdul Rahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata kepulauan nusantara yang bernama Indonesia bukan hanya dihuni oleh bangsa manusia saja. Bahkan jauh sebelumnya, sebuah bangsa telah membangun peradaban di sana. Bukan bangsa manusia tetapi bangsa binatang. Tak tanggung-tanggung, untuk menunjukkan bahwa mereka bangsa yang beradab, mereka menamai negaranya Republik Beradab Indonesiana. Indonesiana berasal dari kata Indonesia dan fauna. Sedangkan republik berarti rakyat ber-empati pada publik dan lingkungan. Filosofinya, seluruh rakyat yang menghuni negeri itu harus saling menyayangi antar warga serta bersahabat dengan alam.&lt;br /&gt; Alhasil, Republik Indonesiana menjadi negeri yang aman tenteram, makmur, bersahaja, bersahabat. Namun itu beberapa tahun silam. Kini para warga binatang resah. Silih berganti negerinya dilanda bencana. Seperti drama-drama berseri, bencana sambung-menyambung. Banjir lumpur panas, banjir bandang, gempa bumi, gelombang tsunami, kebakaran hutan. Kecelakaan transportasi darat, laut, udara pun tak kalah ganasnya.&lt;br /&gt; Inilah yang sangat merisaukan bangsa binatang. Tak mau negeri mereka seperti Sodom dan Gomorrha. Maka berkumpullah para pakar dari bangsa binatang. Binatang darat diwakili oleh Kambing dan Bunglon. Binatang laut(air) diwakili oleh Buaya dan Lintah. Binatang udara diwakili oleh Kupu-kupu dan burung Beo. Dewan pakar ini dipimpin oleh Kerbau. Sudah menjadi kebiasaan di Republik Indonesiana bahwa selalu dewan kepakaran dipegang oleh binatang darat.&lt;br /&gt; Sebagai wujud keprihatinan yang mendalam. Pertemuan dewan pakar bangsa binatang diadakan di kawasan Porong Sidoarjo. Menurut mereka, tragedi lumpur lapindo diakibatkan seratus persen ketamakan manusia.&lt;br /&gt; “Hadirin para anggota dewan pakar bangsa binatang yang berbahagia! Kita sengaja memilih kawasan lumpur lapindo sebagai tempat sidang sebagai wujud keprihatinan kita. Ini pertemuan keprihatinan. Disini benar-benar memprihatinkan.” Kerbau yang bertubuh besar itu mulai membuka sidang.&lt;br /&gt; Para anggota dewan pakar bangsa binatang terdiam beberapa jenak. Mereka sangat sedih atas segala musibah yang menimpa negerinya. Dan yang menjadi korban bukan hanya dari kaumnya saja, tapi seluruh makhluk yang menghuni nusantara.&lt;br /&gt; “Baiklah hadirin. Sebelum kita membuat suatu rumusan untuk mencegah terjadinya lagi musibah di tanah air kita, sebaiknya kita terlebih dulu mengidentifikasi kesalahan-kesalahan apa saja yang terjadi di negeri ini yang bisa mengundang bencana dan kemurkaan Tuhan.”&lt;br /&gt; “Kesalahan manusia.” Koor peserta sidang.&lt;br /&gt; “Hadirin yang terhormat. Harap jangan melimpahkan kesalahan pada manusia sebelum ada bukti-bukti konkrit. Ingat! Kita bangsa beradab.” Kerbau mengajak rekan-rekannya bersikap bijak.&lt;br /&gt; “Ketua sidang yang terhormat! Kami punya bukti-bukti bahwa manusia itu banyak berbuat dosa.” Buaya setengah berteriak diamini oleh Kambing dan Kupu-kupu.&lt;br /&gt; “Manusia juga curang. Bila mereka berbuat jahat, kejahatannya atas nama bangsa binatang.” Teriak Lintah diamini oleh Bunglon. Sementara burung Beo yang agak dekat dengan manusia hanya terkekeh-kekeh.&lt;br /&gt; “Kejahatan apa yang diperbuat manusia mengatasnamakan binatang?” Kerbau penasaran.&lt;br /&gt; “Ketika mereka menipu, mereka bilang lintah darat.” Hadirin terbahak-bahak mendengar penuturan Lintah. Sementara Lintah hanya cemberut mengkerut dihimpit lumpur lapindo.&lt;br /&gt; “Baiklah. Supaya perkaranya jelas, saya persilakan satu persatu untuk memperjelas duduk perkaranya. Pengadilan bangsa binatang memiliki asas praduga tak bersalah. Yang pertama, silakan Bung lintah!” Ketua sidang rupanya kasihan melihat Lintah yang cemberut mengkerut.&lt;br /&gt; “Tuan-tuan yang terhormat! Lihatlah ketamakan dan kelicikan manusia. Setelah banyak menipu dengan dalih sebagai lintah darat, ketamakannya pula membuat kawasan porong berlumpur.” Suara Lintah terserak dalam kesedihan.&lt;br /&gt; “Tapi bukankah lumpur adalah berkah buat Lintah.” Burung Beo menyela. &lt;br /&gt; “Iya. Asalkan lumpurnya tidak beracun.” Lintah makin sedih.&lt;br /&gt; “Selanjutnya saya persilakan Bung Buaya.” Ketua sidang rupanya tak mau larut dalam kesedihan yang dihembuskan oleh Lintah.&lt;br /&gt; “Pokoknya saya benci pada manusia yang bermerek laki-laki. Benci…!” Buaya terlihat geram. Ekornya menampar-nampar lumpur.&lt;br /&gt; “Ada apa Bung Buaya?” Kupu-kupu tak begitu senang Buaya memercik lumpur, takut kalau sayap-sayapnya yang mungil kena lumpur beracun.&lt;br /&gt; “Manusia yang bermerek laki-laki itu tidak bertanggung jawab. Tidak jantan. Mereka selalu memperkosa namaku dengan sebutan buaya darat. Mereka seenakya saja mempermainkan perempuan. Kawin sana-sini tanpa peduli tanggung jawabnya sebagai suami, pun ayah.”&lt;br /&gt; “Kasihan amat bangsa manusia yang bermerek perempuan.” Bunglon menyela.&lt;br /&gt; “Tunggu dulu! Bangsa manusia tak perlu dikasihani. Laki-laki atau perempuan sama saja.” Kupu-kupu tidak senang dengan pernyataan Bunglon.&lt;br /&gt; “Baik! Baik! Silakan dilanjutkan Bung Kupu-kupu!” Ketua sidang mencoba mengarahkan.&lt;br /&gt; “Kalau Bung Buaya benci pada manusia yang bermerek laki-laki, saya sebaliknya. Saya benci merek perempuan. Mereka menjajakan dirinya di tempat-tempat pelacuran dengan menyebut dirinya sebagai kupu-kupu malam. Ih najis.” Kupu-kupu kelihatan bergidik dengan sayap berkepak-kepak.&lt;br /&gt; “Wow! Menarik sekali. Bagaimana kalau Buaya bertemu dengan Kupu-kupu.” Burung Beo berkomentar bermaksud mencairkan suasana.&lt;br /&gt; “Husy! Jaga mulutmu Beo!” Kompak Buaya dan Kupu-kupu memprotes.&lt;br /&gt; “Maaf Bung Buaya dan Bung Kupu-kupu. Maksud saya bukan Buaya dan Kupu-kupu, tetapi lelaki buaya darat dan perempuan kupu-kupu malam.” Burung Beo membela diri.&lt;br /&gt; Binatang lain tersenyum-senyum saja mendengarkan perdebatan burung Beo dengan Buaya dan Kupu-kupu. Sementara Kambing hanya terbengong-bengong. Ia memang tidak suka berbasah-basah apalagi dengan lumpur beracun. Tapi ketika ia bisa memahami maksud percakapan burung Beo, tiba-tiba ia kangen dengan betinanya yang jauh.&lt;br /&gt; “Untuk mempersingkat waktu, selanjutnya saya persilakan Bung Bunglon.” Ketua sidang kembali mengarahkan sidang. &lt;br /&gt; “Manusia memang selalu berkedok dengan kepalsuan dan kebohongan. Tidak bisa dipercaya. Hari ini bilang hijau. Kemarin bilang merah. Besok bilang abu-abu. Dasar manusia!” Bunglon terlihat emosi tapi ia cepat mengendalikan diri. Ia memang binatang yang gampang berubah bentuk.&lt;br /&gt; “Apa maksudmu Bung Bunglon?” Lintah yang sedari tadi sangat sedih tertarik dengan cerita Bunglon.&lt;br /&gt; “Begitulah manusia yang tidak punya pendirian lalu menamakan diri mereka sebagai bunglon. Saya kan berubah bentuk supaya yang berniat jahat padaku tidak mengenaliku. Saya cuma menghindar dari maut. Manusia? Mereka berubah-berubah sesuai dengan arah angin demi kekuasaan dan jabatan. Lalu, ketika mereka mendapatkan kekuasaan dan jabatan, mereka memperalat namamu Bung Lintah menjadi lintah darat.”&lt;br /&gt; “Ketua sidang! Mohon dipercepat sidang, saya tak tahan dengan lumpur beracun.” Kambing menginterupsi.  &lt;br /&gt; “Baiklah. Selanjutnya saya persilakan burung Beo.” Kerbau kelihatan tidak begitu mahir memimpin sidang. Terkadang ia larut, bahkan hanyut terseret cerita peserta sidang.&lt;br /&gt; “Manusia sangat kejam dan egois, mereka tahu bahwa burung Beo itu binatang, eh mereka malah memaksa kami berbicara dengan manusia….”&lt;br /&gt; “Pantas saja nada bicaramu tadi memojokkan saya, ternyata kau dekat dengan bangsa manusia.” Buaya memotong pembicaraan burung Beo. Rupanya Buaya masih sedikit mendendam.&lt;br /&gt; “Dengar dulu Buaya! Manusia itu curang. Kalau mereka berbicara dengan sesamanya, lalu salah satu dari mereka diam membisu, mereka menyebutnya mem-beo. Saya? Saya tidak pernah diam membisu kalau saya diajak berbicara sesama binatang. Dengan manusia? Pasti aku diam dong, karena saya tidak paham bahasa mereka.&lt;br /&gt; “Oo…” Buaya rupanya sudah bisa memahami penjelasan burung Beo.&lt;br /&gt; “Nah, kini tibalah saatnya kita mendengarkan pemaparan terakhir dari Bung Kambing.” Ternyata bukan hanya Kambing yang berharap sidang cepat selesai, Kerbau pun susah bernafas di lumpur beracun.&lt;br /&gt; “Mungkin apa yang akan saya sampaikan ini adalah simpulan dari dosa-dosa manusia. Mereka mendzalimi bangsa binatang, terutama kita yang hadir disini dengan memakai nama kita sebagai tempat persembunyian kebohongan mereka. Mereka mengkambinghitamkan kita.” &lt;br /&gt; “Tunggu dulu Bung Kambing, sayalah satu-satunya disini yang tidak dizalimi manusia.” Ketua sidang merasa namanya suci di mata manusia.&lt;br /&gt; “Hehehe…siapa bilang Bung Kerbau. Manusia yang dulu memaksaku berbicara dengan manusia hidup serumah dengan pasangannya, padahal mereka bukan pasangan suami isteri. Lalu mereka menyebutnya kumpul kerbau (baca kumpul kebo).” Penuturan burung Beo seolah menusuk Kerbau.&lt;br /&gt; Hadirin terkekeh-kekeh mendengar penuturan burung Beo. Sementara Kerbau hanya terdiam. Malu. Namun diam-diam ia membatin, “Dasar manusia!”&lt;br /&gt; “Lalu hukuman apa yang kita timpakan pada manusia agar mereka jera bermaksiat? Kasihan negeri kita yang kena musibah akibat dosa-dosa manusia.” Kerbau kembali tegar mengarahkan sidang.   &lt;br /&gt; Hadirin terdiam. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Mereka hendak menghukum manusia, tapi disisi lain mereka juga kasihan. Lalu burung Beo memberikan pendapatnya.&lt;br /&gt; “Begini kawan-kawan! Bagaimanapun kita adalah bangsa yang beradab dan bertuhan. Olehnya itu, kita harus tunduk pada peraturan Tuhan. Kita harus tunduk dan rela dikuasai bangsa manusia. Semoga bangsa manusia juga mau tunduk pada peraturan Tuhan, serta mempergunakan akal sehatnya. Bukankah Tuhan telah memberikan banyak cobaan pada mereka dengan perantaraan kita. Penyakit tipes yang dikirim oleh Tikus. Penyakit demam berdarah yang dibiakkan oleh Nyamuk. Dan masih banyak lainnya. Termasuk yang paling menakutkan saat ini, flu burung.”&lt;br /&gt; “Pendapat yang bagus dan bijak.” Kambing mengangguk-angguk sambil mengusap jenggotnya dengan kaki depan.&lt;br /&gt; “Bagus! Bijak!” Koor yang lain.&lt;br /&gt; “Bagus! Bagus!”&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt; “Bagus! Bagus ceritanya Bu.”&lt;br /&gt; “Ibu! Ibu! Aku mau pindah sekolah di Republik Indonesiana.”&lt;br /&gt; Aku tergeragap. Tapi cepat aku menguasai keadaan. Segera kupeluk putraku tercinta. “Mengapa mau pindah sekolah di sana Nak? Bukankah sekolahmu di sini sekolah favorit, murid-muridnya hanyalah anak-anak pejabat dan pengusaha.”&lt;br /&gt; “Aku ingin bersekolah di negeri beradab Bu, supaya kelak aku menjadi insan yang beradab. Lagian kalau aku sekolah di sini, aku malu diantar sama ayah.”&lt;br /&gt; Aku makin tergeragap. Ternyata aku salah sangka dengan putraku. Ia begitu jauh memaknai ceritaku, padahal ia baru berumur enam tahun. Sebenarnya aku mendongeng, biar ia cepat tidur. Aku tak mau ia mengalami tekanan batin. Ia masih terlalu kecil. Ia tak boleh ikut larut dengan peristiwa yang menimpa ayahnya. Hakim memang sudah memutuskan tiga tahun penjara buat ayahnya karena kasus korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 2007&lt;br /&gt;1. Cerpen “REPUBLIK INDONESIANA” dimuat Harian Fajar, Ahad 1 Juli 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-8853391087436013994?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/8853391087436013994/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/01/cerpen-republik-indonesiana.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/8853391087436013994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/8853391087436013994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/01/cerpen-republik-indonesiana.html' title='cerpen: REPUBLIK INDONESIANA'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-6132107088514295842</id><published>2011-01-29T19:33:00.001-08:00</published><updated>2011-01-29T19:33:51.120-08:00</updated><title type='text'>Cerpen: B U N G A  B U N D A</title><content type='html'>BUNGA BUNDA&lt;br /&gt;Cerpen: dul abdul rahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pagi masih bening ketika rombongan satuan Polisi Pamong Praja datang merazia para pengemis dan anak jalanan. Melihat kedatangan kami, mereka berhamburan menyelamatkan diri masing-masing. Bayi-bayi dalam gendongan sebagai peluruh ngemisan menjerit-jerit miris. Sementara ibu mereka meraung-raung. Raungan mereka seperti menggaung menusuk hatiku. Entah anggota Polisi Pamong Praja yang lain.&lt;br /&gt; “Jangan tangkap kami!”&lt;br /&gt; “Kami tak mau mati kelaparan.”&lt;br /&gt; “Kami butuh sesuap nasi.”&lt;br /&gt;  “Tenang! Tenang Bu! Kami tidak menangkap ibu, kami hanya mau menyelamatkan ibu, kami akan membawa ibu ke panti sosial.”&lt;br /&gt; Rombongan satpol PP terus mengejar para ibu-ibu dan anak-anak yang berlarian. Saat-saat seperti ini memang satpol PP kelihatan lebih gagah perkasa menangkapi para orang-orang pinggiran, atau kami dari unsur pemerintah mencapnya sebagai sampah masyarakat.&lt;br /&gt; “Jangan! Jangan!” Seorang ibu yang usianya sekitar lima puluhan meraung-raung saat petugas memegang kedua tangannya.&lt;br /&gt; “Kami hanya akan membawa ibu ke panti sosial.”&lt;br /&gt; “Jangan! Jangan pisahkan saya dengan anak-anakku!” Ibu itu terus meronta-ronta penuh derita.&lt;br /&gt; “Kami juga sudah menangkap anak-anak ibu.”&lt;br /&gt; “Tidak. Kalian bohong kalau menangkap anak-anakku karena pagi-pagi begini anakku belum mengemis.”&lt;br /&gt; “Anak ibu dimana?”&lt;br /&gt; “Masih di sekolah.”&lt;br /&gt; “Sekolah?”&lt;br /&gt; Entah. Mendadak tanganku lemas. Tak berdaya menangkap perempuan tua itu. Ia benar-benar kuat. Sekuat kemauannya untuk tetap menyekolahkan anaknya. Ia benar-benar perempuan yang berkemauan sekeras baja untuk melihat anaknya maju. Ia hanya mengemis karena memang mungkin hanya itu yang bisa ia lakukan. Hatiku mendadak trenyuh. Mendadak siluet kisah pilu membayang di mataku. Perempuan itu menatapku. Aku tak kuasa. Aku menunduk. Perasaanku kian teraduk-aduk.&lt;br /&gt; “Ayo! Ikut kami perempuan tua, jangan lari!” Tiba-tiba seorang temanku datang menangkap perempuan tua yang meluah hiba di depanku itu.&lt;br /&gt; “Jangan! Jangan!”&lt;br /&gt; Perempuan tua itu terus ditarik kasar. Ia melirik ke arahku seakan minta tolong. Hatiku melolong. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku makin tak kuasa menatapnya. Aku menangis. Wajah almarhum bundaku yang pias bias di wajahnya.&lt;br /&gt; “Jangan menangis ibu!”&lt;br /&gt; Ucapku lemah. Nyaris tak terdengar. Tapi aku yakin perempuan tua itu bisa mendengar ucapanku. Kulihat ada semangat di matanya, semangat baja untuk masa depan anak-anaknya yang cerah. Lalu perempuan tua itu tersenyum kepadaku. “Luar biasa, ia masih bisa tersenyum meski terbias duka.” Batinku.&lt;br /&gt; Tiba-tiba aku bangkit. Mengejar beberapa anak jalanan yang masih belum tertangkap. Aku harus menjalankan tugasku sebagai satpol PP bersama rekan-rekanku. “Bagaimanapun ini tugasku”, aku membatin menguatkan diri.&lt;br /&gt; “Jangan tangkap kami Pak!”&lt;br /&gt; Anak-anak it terus berlarian. Mereka sepertinya sudah terbiasa menghadapi kondisi seperti ini. Bahkan kelihatan wajah mereka tetap ceria, tak takut sama sekali. Berlari, menari, menyelinap di antara kerumunan orang. Aku tahu, dikejar-kejar petugas keamanan adalah seni anak jalanan. Bahkan belum sah rasanya jadi anak jalanan kalau belum pernah berkelit dari kejaran petugas keamanan. Maka tak heran banyak anak jalanan hanya tertawa-tawa ketika kukejar. Mendadak aku berhenti mengejar. Wajahku seperti dibawa berlari. Dan terus berlari ke masa aku masih kecil dan dekil. Tiba-tiba aku menggigil.&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt; Ini hari, aku sedikit lelah bercampur resah. Aku ditugaskan kembali untuk merazia pedagang kaki lima di bibir jalan poros. Tetapi sebagai satpol PP, aku tak bisa membantah perintah atasan. Terpaksa aku melaksanakan tugas dengan setengah hati. Setengah hati lagi mengutuki diri. Aku tak mampu melihat wajah ibu-ibu yang meraung-raung atau berguling-guling supaya lapaknya tidak dirobohkan. Atau anak-anak menjerit sambil memeluk ibunya, karena takut menatap mata aparat keamanan yang galak.&lt;br /&gt; “Jangan robohkan lapak kami!”&lt;br /&gt; “Jangan angkut gerobak kami!”&lt;br /&gt; “Tapi kalian melanggar peraturan.”&lt;br /&gt; “Kami hanya mampu menjual disini. Kami tak bisa masuk mall. Kami tak mampu membayar retribusi.”&lt;br /&gt; “Jangan hiraukan mereka, cepat angkat gerobak-gerobak mereka ke atas mobil.” Terdengar suara gemuruh komandan.&lt;br /&gt; Tangisan, pun raungan ibu-ibu dan anak-anak mereka tak membuat para satpol PP kasihan, malahan mereka kesetanan, titah komandan harus dilaksanakan. Mereka meratakan lapak-lapak pedagang kaki lima. Tak tersisa.&lt;br /&gt; Aku tak sanggup menyaksikan semua itu. Selalu saja saat-saat aku merazia para orang-orang pinggiran, selalu wajah almarhum bunda seolah menatapku. Seolah ia tak ikhlas dengan profesiku. Aku mencoba mendekati perempuan tua itu.&lt;br /&gt; “Maafkan kami Ibu!”&lt;br /&gt; “Semuanya perampok.” Perempuan tua itu masih emosi.&lt;br /&gt; “Aku tak bermaksud melakukan semua itu Bu,” Ujarku lemah. &lt;br /&gt; “Apa? Tak bermaksud? Pembohong, kalian sudah menghancurkan kehidupan kami.” Perempuan tua itu tersedu dalam tangis.&lt;br /&gt; “Aku hanya menjalankan tugas Bu.” Aku tak sanggup menatap perempuan itu.&lt;br /&gt; “Kalian telah menjadikan kami pengemis.”&lt;br /&gt; “Pengemis?”&lt;br /&gt; “Ya, kalian telah menghancurkan mata pencaharian kami, kami tak punya pilihan selain mengemis.”&lt;br /&gt; Perempuan tua itu semakin meraung-raung. Aku semakin tak sanggup melihat perempuan itu. Refleks aku memeluknya.&lt;br /&gt; Jangan menangis Ibu!”&lt;br /&gt; Perempuan tua itu tiba-tiba terdiam. Ia seperti dipeluk oleh anaknya yang telah merantau jauh. Aku memang memeluknya penuh perasaan serupa aku memeluk bundaku dulu di peristiwa yang sama.&lt;br /&gt; “Baiklah Nak. Tapi jangan tangkapi kami bila mengemis di jalanan.” Mendadak suaranya melembut. Benar-benar seperti suara bundaku.&lt;br /&gt; Kali ini aku yang menitiskan airmata. Aku telah membuat perempuan itu jadi pengemis? Aku membatin dalam tangis. Untungnya rekan-rekan para satpol PP tidak melihatku. Kalau mereka melihatku mungkin mereka akan mencapku sebagai satpol pengkhianat. Tak taat pada amanat.&lt;br /&gt; Akhirnya, penggusuran pedagang kaki lima selesai. Kami sukses menggusur lapak-lapak mereka tanpa ada perlawanan berarti. Rekan-rekanku sangat bahagia. Kami pasti akan mendapatkan tips dari pemerintah kota. Kami adalah adalah pahlawan-pahlawan di bidang ketertiban kota. Mungkin anggota satpol PP yang tidak begitu bahagia hanyalah aku. Dua hari jadwal menggusur dan merazia sangat menyiksaku. Aku seperti telah mengkhianati bunda, menyiksa bunda, menyiksa diriku sendiri. Padahal dulu sebelum jadi satpol PP, aku berjanji untuk tidak melakukan penggusuran.&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt; Pagi masih bening ketika aku tiba di pemakaman bunda. Mendadak saja setelah kami mendapatkan penghargaan dari pemerintah kota karena sukses merazia para pengemis dan menertibkan pedagang kaki lima, aku kangen bundaku. &lt;br /&gt; Di pusara bunda. Aku memohonkan ampun atas dosa-dosa bunda. Dosa-dosaku pada bunda. Aku menangis tersedu-sedu. Dalam hujan airmataku, terkenang masa-masa silam. Saat-saat hujan turun ketika para satpol PP menertibkan lapak bunda.&lt;br /&gt; “Jangan dihancurkan lapak kami, kasihani kami, kami hanyalah seorang janda miskin yang menggantungkan hidup disini. Kasihan anak kami.”&lt;br /&gt; “Jangan macam-macam perempuan tua! Kalau melawan, kami tak segan-segan menangkap kamu dan anakmu.”&lt;br /&gt; “Kasihanilah kami.” Bunda meraung-raung. Aku yang saat itu tak tahu apa-apa hanya bisa memeluk bunda dalam tangis.  &lt;br /&gt; Tempo itu aku sangat membenci satpol PP. Aku merasa satpol PP lah yang paling kejam di dunia. Satpol PP yang membuat bunda jadi pengemis. Menurut bunda hanya profesi itulah yang bisa ia lakukan. Meski tetap akan dirazia lagi, tapi tak apa-apa kata bunda karena tidak ada kerugian apa-apa. Yang bunda waspadai jangan sampai ditangkap lalu dibawa ke panti sosial. Bunda takut berpisah denganku. Bunda akan menyekolahkan aku.&lt;br /&gt; “Kamu harus sekolah Nak.”&lt;br /&gt; “Tapi aku kasihan sama bunda.”&lt;br /&gt; “Tidak. Kamu harus sekolah. Bunda sudah menabung untuk biaya sekolahmu, walau hanya sampai sekolah menengah, bunda rasa cukuplah modal buat cari kerja.”&lt;br /&gt; “Biarlah bunda jadi pengemis saja, biar ada tambahan uang untuk keperluan sehari-hari. Bunda tak mau mengganggu biaya sekolahmu.” Bunda menghela napas. Meski napas bunda tersengal-sengal karena asma yang dideritanya kian akut, ia tetap kuat, sekuat kemauannya untuk menyekolahkan aku.”&lt;br /&gt; Takdir telah membawaku sampai kesini. Sampai saat ini. Sebelum aku tamat SMU, bunda yang sangat kucinta meninggalkan aku untuk selama-lamanya. Aku sedih. Tapi aku berjanji untuk selalu mengingat pesan bunda. Dengan ijazah SMU disertai tekad yang membaja sebagai warisan dari almarhum ayah dan bunda, akhirnya aku diterima sebagai anggota satpol PP. &lt;br /&gt;Aku menyeka airmataku, seperti aku menyeka airmata bunda. Kudekap pusara bunda penuh haru. Kucium bunga-bunga yang bermekaran di pusara bunda. Bunga-bunga itu akan selalu harum di hatiku. Mekar dijiwaku.&lt;br /&gt; “Jangan menangis bunda!”&lt;br /&gt; Aku melangkah jauh menuju kantor. Aku menoleh. Seolah batu nisan bunda tersenyum kepadaku. Tapi hatiku tetap galau. Takut hari ini ada jadwal menggusur atau merazia lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendari-Makassar, 2008&lt;br /&gt;1. Cerpen “BUNGA BUNDA” dimuat Harian Fajar, Ahad 1 Februari 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-6132107088514295842?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/6132107088514295842/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/01/cerpen-b-u-n-g-b-u-n-d.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/6132107088514295842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/6132107088514295842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/01/cerpen-b-u-n-g-b-u-n-d.html' title='Cerpen: B U N G A  B U N D A'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-2069376372340998305</id><published>2011-01-29T01:21:00.001-08:00</published><updated>2011-01-29T01:21:55.273-08:00</updated><title type='text'>CERPEN: KELELAWAR</title><content type='html'>KELELAWAR&lt;br /&gt;Cerpen: dul abdul rahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak mungkin saya akan mendapatkan jodoh lagi, Bondeng.”&lt;br /&gt;“Bisa saja.”&lt;br /&gt;“Mana ada laki-laki yang mau sama saya.”&lt;br /&gt;“Kalau ada?”&lt;br /&gt;“Tak mungkinlah.”&lt;br /&gt;“Mungkin saja.”&lt;br /&gt;Rabatang terus mengucek beberapa lembar pakaian. Sementara Bondeng tinggal membilasnya. Pagi ini Rabatang memang agak terlambat ke pancuran, tempat mandi dan cuci bersama di kampung itu.&lt;br /&gt; Hari-hari terakhir ini memang Rabatang gelisah. Tiga hari berturut-turut ia mimpi berjalan di hutan, ia diberaki kelelawar. Menurut kepercayaan orang-orang di kampung itu, apabila seorang perempuan diberaki kelelawar berarti ia akan mendapatkan jodoh. Jodoh? Buat Rabatang, saat ini bukan jodoh yang ia tunggu-tunggu. Meski memang terkadang ada niat buat menikah lagi. Tapi dibenaknya saat ini hanyalah bagaimana ia bisa membesarkan dan berusaha menyekolahkan dua anak perempuannya. Buah cinta dari almarhum suaminya tercinta.&lt;br /&gt; “Tapi itu cuma mimpi Bondeng. Menurut kepercayaan orang tua, nanti kita akan dapat jodoh kalau benar-benar diberaki.” Rabatang masih penasaran dengan mimpinya.&lt;br /&gt; “Kalau begitu, mungkin laki-laki yang ingin melamarmu masih pikir-pikir dulu, ataukah….” Kalimat Bondeng menggantung.&lt;br /&gt; “Atau apa?”&lt;br /&gt; “Atau anakmu yang mau dilamar.”&lt;br /&gt; “Anakku?”&lt;br /&gt; Rabatang agak gelagapan. Ia memang tak pernah menghubungkan mimpi-mimpinya dengan anaknya. Ia ingin kedua anak perempuannya bersekolah dulu. Rasmitang, anaknya yang pertama sudah kuliah di Makassar. Sementara anak keduanya masih di bangku SMP yang kini menemaninya di kampung.&lt;br /&gt; Rabatang memang beruntung. Almarhum suaminya yang meninggalkannya lima tahun silam  meninggalkan tanah warisan yang cukup untuk menghidupi Rabatang dan kedua anaknya. Bahkan karena keuletannya berdagang coklat, kehidupan Rabatang lumayan cukup.&lt;br /&gt; “Mungkin saja ada yang mau melamar anakmu. Rasmitang kan sudah besar, cantik pula.” Bondeng terus berceloteh. Soal gosip-bergosip, Bondeng memang jagonya. Ia bahkan digelari Bocar di kampungnya. Alias Bondeng Paccarita.&lt;br /&gt; “Tidak Bondeng. Saya tidak mau menikahkan anakku dulu. Biar ia selesai dulu kuliahnya.”&lt;br /&gt; “Kalau misal orang tua pacarnya datang melamar?” Bondeng terus mencecar.&lt;br /&gt; “Saya jamin anakku belum berpacaran. Ia bukan perempuan kota yang begitu gampang berkenalan dengan laki-laki.”&lt;br /&gt; “Eh, jangan salah! Anakmu sekarang bukan lagi perempuan desa.”&lt;br /&gt; “Maksudmu?” Rabatang meresah.&lt;br /&gt; “Sekarang ia tinggal di kota, berarati ia sudah jadi perempuan kota.”&lt;br /&gt; “Tapi anakku tak mungkin berubah. Ia anak yang taat beragama. Lagian setiap bulan aku menelpon untuk menasehatinya.”&lt;br /&gt; “Semoga anakmu tetap seperti yang dulu.” &lt;br /&gt; Bondeng bergegas meninggalkan pancuran. Ia meniggalkan Rabatang seorang diri. Sementara Rabatang masih membilas cuciannya. Dalam hatinya ia berdoa, semoga anaknya di Makassar tidak macam-macam seperti yang diperkirakan Bondeng. “Dasar Bondeng, bocor bocar.” Ia tak suka dengan Bondeng yang selalu berprasangka jelek kepada anaknya.&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt; Sudah dua tahun Rasmitang tinggal di kota. Tinggal setahun lagi ia akan menyelesaikan kuliahnya pada diploma kesehatan di sebuah perguruan tinggi swasta di Makassar.&lt;br /&gt; Ada yang berubah pada diri Rasmitang sejak ia tinggal di sebuah rumah kost dekat kampusnya. Sebelumnya ia tinggal di rumah pamannya. Saudara kandung almarhum ayahnya. Tapi ia tida tahan. Ia ingin menikmati kebebasan tinggal di tempat kost seperti teman-temannya yang lain.&lt;br /&gt; “Kasihan kamu Rasmi, masa tinggal di rumah paman, dipingit lagi.”&lt;br /&gt; “Kamu tidak menikmati kehidupan mahasiswa ala anak kost, ceria selalu, bersama selalu, bersama….”&lt;br /&gt; Propaganda  teman-temannya, akhirnya membuat Rasmitang ngotot untuk tinggal di rumah kost. Meski pamannya melarang, tetapi ia tetap ingin tinggal di rumah kost dengan alasan dekat kampus plus menikmati kebersamaan.&lt;br /&gt; Paman Rasmitang tak rela jika ponakannya tinggal di rumah kost. Selain karena ia tidak bisa mengawasinya, Rasmitang akan mengeluarkan lagi biaya, padahal ia tahu ponakannya hanya dibiayai seorang ibu, isteri almarhum adiknya. Tapi tatkala Rasmitang mendapatkan lampu hijau dari ibunya di kampung, paman Rasmitang hanya pasrah.&lt;br /&gt; “Ibu percaya kamu Nak, yang penting jaga diri baik-baik.”&lt;br /&gt; Rasmitang senang. Ibunya percaya kepadanya. Rabatang memang sangat percaya pada anaknya. Ia tahu Rasmitang adalah gadis pemalu pada laki-laki. Jadi tak mungkinlah ia akan macam-macam seperti yang dikhawatirkan oleh pamannya.&lt;br /&gt; “Akh! Paman Rasmitang persis sama dengan adiknya mendidik anak, keras dan disiplin. Masa orang kota begitu caranya mendidik anak.” Celoteh Rabatang dalam hati. Sepertinya dialah yang lebih jago mendidik anak daripada almarhum suaminya dan iparnya. &lt;br /&gt; Rasmitang benar-benar menikmati kehidupan barunya sebagai anak kost. Dulu, waktu masih tinggal bersama pamannya, biasanya jam sepuluh sudah tidur. Sekarang, ia menghabiskan waktu sampai larut malam. Bercanda ria, tertawa lepas. Tak ada lagi sikap tegas dari pamannya. &lt;br /&gt; Sejak tinggal kost pula, biaya kuliah Rasmitang bertambah. Tak segan-segan ia meminta uang yang banyak pada ibunya.&lt;br /&gt; “Biasalah Bu. Yang namanya mahasiswa semakin mau selesai semakin banyak dibayar. Ada acara praktek lapangan, acara pelatihan, acara….”&lt;br /&gt; “Baiklah Nak, tapi kamu harus menghemat, dagangan coklat tidak seperti dulu lagi, di kampung sekarang sudah banyak tengkulak coklat dari kota.”&lt;br /&gt; “Percayalah Bu.”&lt;br /&gt; “Ibu percaya Nak. Yang penting berhemat, juga jaga diri baik-baik.” Nasehat klise Rabatang mengakhiri percakapan dengan anaknya.&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt; Akhirnya Rabatang percaya omongan Bondeng bahwa bila perempuan diberaki kelelawar berarti ia akan berjodoh. Kalau hanya bermimpi saja, mungkin keluarganya yang akan berjodoh.&lt;br /&gt; “Benar Bondeng, anakku memberitahu bahwa minggu depan ada yang akan melamarnya langsung di kampung ini.”&lt;br /&gt; “Benarkah?”&lt;br /&gt; “Pamannya juga mengatakan begitu.”&lt;br /&gt; “Tak selesai kuliahnya dulu?”&lt;br /&gt; “Maunya saya begitu, tapi pamannya bilang Rasmitang harus dinikahkan, dari dulu memang pamannya begitu. Maunya saja yang mau diikuti.”&lt;br /&gt; “Benar-benar jodoh.” Bondeng bergegas meninggalkan pancuran. Hari sudah merangkak sempurna.&lt;br /&gt; Ramai orang memperbincangkan berita pernikahan Rasmitang.&lt;br /&gt; “Kalau sudah ada laki-laki yang mau, masa ditolak.”&lt;br /&gt; “Kan ia masih kuliah.”&lt;br /&gt; “Mungkin…”&lt;br /&gt; “Mungkin apa?”&lt;br /&gt; “Hush, nanti kedengaran sama Rabatang.”&lt;br /&gt; Rabatang terus bergegas. Ia tak menghiraukan omongan para ibu-ibu yang mencuci di pancuran umum. Yang ia ingat sekarang, bagaimana mengambil keputusan nanti. Hatinya bimbang. Tapi akhirnya ia bersikeras bulat. Anaknya harus selesai kuliah dulu. Lelaki yang melamarnya harus bersabar. Titik. Rabatang tak mau kompromi.&lt;br /&gt; Hari yang ditunggu Rabatang datang jua. Orang tua calon suami anaknya benar-benar datang. Yang membuat Rabatang sedikit kaget, karena paman Rasmitang datang bersama calon besannya.&lt;br /&gt; “Dik Rabatang, saya bersama calon besanmu datang untuk membicarakan pernikahan anakmu.”&lt;br /&gt; “Tapi saya belum mau menikahkan ponakanmu Daeng, nantilah kalau kuliahnya selesai.”&lt;br /&gt; Paman Rasmitang terdiam. Begitu pula calon besan Rabatang. Tapi dicobanya untuk menyusun kata-kata yang tepat untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Semoga Rabatang bisa menerima kenyataan ini. Harapnya.&lt;br /&gt; “Tapi Dik, pernikahan ini harus diadakan secepatnya sebelum….” Kalimat paman Rasmitang menggantung.&lt;br /&gt; “Sebelum apa?” Rabatang tak mengerti.&lt;br /&gt; “Sebelum anakmu melahirkan.”&lt;br /&gt; “Me…me…melahirkan?” &lt;br /&gt; “Kandungannya sudah tujuh bulan.”&lt;br /&gt; “Tu..tu…tujuh…” &lt;br /&gt;Kalimat Rabatang menggantung di kerongkongan karena ia mulai pingsan. Lalu gelap. Yang terbayang olehnya hanyalah sepasang kelelawar bercinta lalu menimpuki mukanya dengan tahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Makassar, 30.06.07 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Cerpen “KELELAWAR” dimuat Harian Fajar, Ahad 6 Juli 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-2069376372340998305?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/2069376372340998305/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/01/cerpen-kelelawar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/2069376372340998305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/2069376372340998305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/01/cerpen-kelelawar.html' title='CERPEN: KELELAWAR'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-5879476467279639646</id><published>2011-01-26T23:37:00.005-08:00</published><updated>2011-01-26T23:37:52.399-08:00</updated><title type='text'>Cerpen: LELAKI PEMATANG</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Times New Roman","serif";}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; line-height: 150%;"&gt;LELAKI PEMATANG&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;"&gt;Cerpen: dul abdul rahman&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Bersama matahari pagi seorang lelaki berada di pematang memandangi bulir-bulir padi. Matanya menyapu hamparan persawahan yang membentang luas diantara lereng pegunungan. Tanah yang landai membuat pemandangan sawah seperti anak tangga yang menjulur ke bawah. Lelaki itu berdiri tepat di pematang paling atas. Matanya tak pernah berkedik. Sepertinya ia takut kehilangan panorama hamparan sawah yang indah walau sedetikpun.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Ia berdiri tegak. Seperti memberi hormat kepada Dewi Sri agar bulir-bulir padi padat berisi. Ia mematung. Mutung. Angin pagi yang hanya sepoi-sepoi mengibarkan helai rambutnya yang tak pernah tersentuh sisir. Wajahnya tirus. Tak terurus. Kelihatan pakaiannya agak basah. Embun pagi telah memandikannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Aku mengawasinya dari jauh. Aku tak berani mendekatinya seorang diri. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Apakah orang itu waras?” Tanyaku pada seorang petani yang kujumpai.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Yang mana?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Lelaki yang di ujung sana.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Lelaki yang menghadap ke timur itu?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Benar.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Oo…orang disini mengenalnya sebagai lelaki pematang.” Petani itu menjawab geragapan. Seperti ada rahasia.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Ada apa Pak?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Ta…tak apa-apa Nak. Tapi jangan tanya saya, tanya pada orang itu.” Katanya menjauh sambil menunjuk seseorang tetua yang datang ke tempat kami berada.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Rupanya yang datang adalah seorang tetua yang cukup disegani di kampung itu. Dari raut wajahnya, jenggot yang sudah memutih dan memanjang, aku bisa meraba-raba seperti apa orang tua itu. Ia memang dikenal pintar dan menguasai ilmu gaib. Syukurlah. Ada tempatku bertanya mengenai lelaki yang misterius itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Sudah sepuluh hari aku melihatnya mematung di situ Pak.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Berarti baru sepuluh hari disini Nak.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Maksud Bapak?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Lelaki itu sudah bertahun-tahun disitu.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Bertahun-tahun?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Sudah sepuluh tahun.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Setiap hari?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Setiap hari disaat padi berbuah. Lelaki itu hanya datang bersamaan munculnya bulir-bulir padi. Ia datang menjelang matahari terbit. Lalu menghilang ketika matahari naik sepenggalah. Esoknya datang lagi lalu menghilang. Terus menerus. Hingga menjelang panen, ia benar-benar menghilang. Tapi musim berikutnya, ia akan muncul bersamaan munculnya bulir-bulir padi.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Apakah orang-orang disini tidak takut Pak?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Ada yang takut, ada juga tidak.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Jadi?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Jadi begitulah. Biasanya petani yang takut akan turun melihat sawahnya selesai sholat dhuha disaat lelaki itu sudah menghilang. Bagi yang tidak takut tetap seperti biasa. Mereka menganggap biasa lelaki itu.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Tapi mengapa orang disini tidak berusaha mengusir lelaki itu Pak?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Diam. Orang tua itu hanya mengangkat jari telunjuk ke mulutnya. Aku tahu maksudnya. Orang tuaku berlaku serupa bila aku menanyakan hal-hal yang berbau pamali. Aku juga diam. Beberapa jenak kemudian, orang tua itu melanjutkan ceritanya dengan suara yang melemah.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Nak! Kami sudah menganggap lelaki itu adalah utusan Dewi Sri.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Dewi Sri?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Ya, bahkan seandainya ia adalah perempuan, kami pasti sudah menganggapnya jelmaan Dwi Sri.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Mungkin Dewa Sri, Pak.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Aku tak bisa menahan keceplas-ceplosanku. Tapi kulihat orang tua itu tak terpengaruh dengan omonganku. Ia melanjutkan ceritanya. Aku semakin tertarik mendengarnya. Amat tertarik. Gaya bertutur orang tua itu mengingatkan aku pada almarhum kakek yang bijaksana. Tidak seperti ayah, yang setiap ucapannya bagaikan titah dan sabda bercampur pamali. Bahkan suara orang tua yang lembut itu bagaikan angin sepoi-sepoi yang menyingkap tirai hidupku.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Kami benar-benar menganggapnya utusan Dewi Sri, Nak.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Pernah dulu kami bermufakat untuk mengusir lelaki itu. Tapi kami baru berencana, lelaki itu sudah menghilang. Semusim lelaki itu menghilang. Tapi kami semua beroleh celaka. Selama musim itu panen kami gagal total. Padi diserang hama yang mengganas. Burung pipit, wereng, pun tikus memorak-morandakan padi kami. Kami tak bisa mengatasinya meski kami melakukan penjagaan ketat. Lalu…” Orang tua itu kelihatan sedih mengingat masa-masa gagal panen.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Lanjutkan Pak!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Musim selanjutnya kami berkumpul memohon kepada Yang Maha Kuasa agar panen kami tidak gagal lagi. Agar kami tidak kelaparan lagi. Kami berjanji akan menjadi warga yang baik, tidak mengusir siapa saja yang datang ke kampung kami, akan menjaga kelestarian alam kami. Akhirnya kami semua bersyukur, panen padi kami semakin melimpah seiring dengan munculnya juga lelaki itu. Kami benar-benar berterima kasih pada lelaki itu.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Orang tua itu melirik kepada lelaki yang berdiri mematung di sana. Aku juga melirik. Kami sama-sama kaget.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Matahari memang sudah naik sepenggalah.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Aku mengerti maksud orang tua itu. Tapi aku masih sedikit penasaran dengan lelaki itu. Seberapa hebatkah ia, lalu bisa menentukan baik-buruknya panen. Mungkinkah aku bisa mengenalnya? Mengapa penduduk disini tidak berusaha mendekati dan mengenalnya. Aku memang sudah membaca dongeng Dewi Sri sebagai dewi padi, dewi kesuburan. Tapi bukankah itu hanya dongeng?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Nak! Saat-saat seperti ini, ketika matahari naik sepenggalah, pendududk akan turun memeriksa sawahnya, membersihkan rumput yang tumbuh di pematang, termasuk saya Nak.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Tapi mohon waktunya sebentar lagi Pak.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Apa belum jelas tadi Nak?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Begini Pak, apakah aku boleh mengenalnya secara dekat. Kalau boleh biarlah besok aku langsung menemuinya.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Hush!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Sekali lagi orang tua itu meletakkan telunjuk di mulutnya. Orang-orang memang sudah mulai berdatangan ke sawah.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Nak! Lelaki itu tak mungkin didekati. Ia akan menghilang kalau kita dekat. Ia hanya nampak dari kejauhan.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Seperti pelangi Pak?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Mungkin Nak. Tapi jangan coba-coba berniat mendekatinya, nanti kau beroleh celaka.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Orang tua itu menjawab sambil bergegas meninggalkan aku. “Ih!” Aku juga bergidik mendengar cerita orang tua itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Matahari telah merangkak lewat sepenggalah. Ramai orang bekerja di hamparan sawah itu. Ada yang mencabuti rumput. Ada yang mengecek lubang, takut kalau ada tikus yang bersarang. “Akh!” Pantas saja desa ini surplus beras karena penduduknya tiap hari mendekam di sawah.” Aku membatin memuji sambil meninggalkan area persawahan yang luas itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;…&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Meski aku seorang perempuan, aku tetap menikmati profesiku sebagai penyuluh pertanian di desa ini. Senang rasanya aku bisa mengenal lingkungan pedesaan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Sepuluh tahun berjalan aku tinggal di desa ini. Aku begitu bahagia. Lahan-lahan pertanian menghijau, menghampar. Benarlah kata orang-orang Eropa sana bahwa apapun yang ditanam di negeriku akan tumbuh subur. Ya benar.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Hanya satu hal yang belum berubah di kampung ini. Kuasa orang tua terhadap anak gadisnya begitu mengcengkeram. Geram aku bila mengingatnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Ia tidak sepadam denganmu Halimah, kau anak ayah, pemangku adat di kampung ini.” Nada ayah begitu meninggi ketika kuberitahu tentang kekasihku yang ingin melamarku.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Tempo itu aku diam saja. Tak berani menentang ayah.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Tapi kalau memang ia mau melamarmu, beritahu ia supaya menyiapkan uang panai lima puluh juta serta satu hektar sawah. Kalau ia tidak bisa memenuhi persyaratan itu, jangan coba-coba ia datang kemari.” Titah ayah kala itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Terpaksa kuberitahu kekasihku, biar ia menyiapkan segalanya. Keperluan menikah. Aku menunggunya datang melamarku. Terus menunggu. Sebulan kemudian aku mendengar berita. Seorang pemuda bunuh diri di pematang sawah. Pemuda itu berencana menikah dengan gadis pujaannya, namun ia tidak bisa memenuhi persyaratan yang diajukan ayah dari perempuan yang dicintainya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Akh! Semuanya telah berlalu. Dan terus berlalu. Membawaku. Menjemputku. Kembali di desa ini untuk mengabdi. Sampai nanti. Mungkin sampai mati.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Sekarang aku sudah tua, bukan seperti dua puluh tahun yang lalu, ketika aku menjadi rebutan para mahasiswa di kampusku. Mungkin memang orang menganggapku sangat kesepian hidup sendiri. Mereka salah. Memang ketika aku masih dinas di kota, aku kesepian. Makanya aku pindah berdinas di desa ini. Membangun desa ini. Pun, untuk menemani almarhum kekasihku. Aku yakin ia tidak bunuh diri. Ia cuma menjelma jadi Dewa Sri. Kelak aku ingin menjelma jadi Dewi Sri. Biar kami menyatu seperti dulu. Bersatu memakmurkan desa ini. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Sinjai, Desember &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;2007 &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;1. Cerpen “LELAKI PEMATANG” dimuat Harian Fajar, Ahad 30 Maret 2008&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3268052401121910340-5879476467279639646?l=darsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://darsastra.blogspot.com/feeds/5879476467279639646/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/01/cerpen-lelaki-pematang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/5879476467279639646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3268052401121910340/posts/default/5879476467279639646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://darsastra.blogspot.com/2011/01/cerpen-lelaki-pematang.html' title='Cerpen: LELAKI PEMATANG'/><author><name>DAR SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06914048382527016669</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3268052401121910340.post-556310787247127041</id><published>2011-01-25T04:48:00.001-08:00</published><updated>2011-01-25T04:48:22.839-08:00</updated><title type='text'>Cerpen: BILAKKADDARO</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="f
